cover
Contact Name
Tonni Limbong
Contact Email
tonni.budidarma@gmial.com
Phone
+6281267058001
Journal Mail Official
alexander_naununu@ust.ac.id
Editorial Address
Jl. Setiabudi No. 479 F Tanjungsari, Medan, Provinsi Sumatera Utara, 20132
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Logos
ISSN : 14125943     EISSN : 27767485     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Jurnal Logos memuat artikel hasil penelitian tentang ilmu Filsafat dan Teologi yang dikaji secara empiris dan sesuai kaidah ilmiah sebagai refleksi kritis yang sistematis atas iman khususnya iman Katolik dengan fokus kajian Teologi, Filsafat, Kajian Sosial, Naluri dan Iman, Teknologi pada Teologi dan Filsafat, Pendidikan Agama dan kepercayaan tentang kebenaran pokok-pokok iman Katolik dalam terang wahyu Ilahi, yaitu tradisi dan Kitab Suci, selanjutnya mengenai pelaksanaan iman dalam hidup sehari-hari.
Articles 230 Documents
THE PEOPLE OF GOD AS PILGRIM : An Interpretation on Constitution of Lumen Gentium Sipayung, Kornelus
LOGOS Vol 5 No 1 (2007): Januari 2007
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v5i1.401

Abstract

Konstitusi Dogmatik Konsili Vatikan II, Lumen Gentium, secara jelas menguraikan bahwa Gereja sebagai umat Allah, Israel baru adalah peziarah dan musafir yang masih dalam perjalanan, belum sampai ke tempat tujuan yang definitif. Gereja masih harus berjuang untuk mencapai kota abadi. Statusnya sebagai peziarah dan musafir yang masih dalam perjalanan dan belum sampai pada tujuan final, mengharuskan Gereja untuk senantiasa membaharui diri, mengevaluasi diri, dan melakukan pertobatan terus-menerus, baik dalam ajaran maupun dalam hidup, untuk dapat semakin mendekati pendirinya, yakni Yesus Kristus, Sang Guru.
A PERSONAL GOD IN NEWMAN'S THOUGHT Ola, Dominikus Doni
LOGOS Vol 5 No 1 (2007): Januari 2007
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v5i1.402

Abstract

Gagasan manusia tentang Allah mengalami perkembangan dalam sejarah, karena gagasan itu selalu mempunyai arti yang sedikit berbeda bagi setiap kelompok manusia yang menggunakannya di berbagai zaman yang berbeda. Pada zaman tertentu Allah yang maha agung itu diperkenalkan sebagai Allah yang menakutkan dan penghukum. Pada zaman lain Allah dihayati sebagai kasih. Setiap generasi memang dapat menciptakan citra Allah yang sesuai bagi generasinya, walau Allah melampaui segala ekspresi anak zaman. Newman yakin bahwa Allah yang diwahyukan Yesus adalah Allah yang dekat, yang berbicara dari hati ke hati dengan insan ciptaan-Nya. Ia adalah Pribadi dan hanya dalam Dialah manusia dapat memenuhi segala kerinduan batinnya yang terdalam.
PANENTEISME : Refleksi Ekologis Atas Kristus Raja Alam Semesta Nadeak, Largus
LOGOS Vol 10 No 2 (2013): Juni 2013
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v10i2.875

Abstract

cPeristiwa ekologis dewasa ini sering mengancam hidup bersama di alam ini. Beberapa ancaman yang terjadi bukan bencana alam tetapi bencana manusiawi. Manusia yang memiliki kesadaran kadang tidak menghormati tata alam ilahi. Perayaan Kristus Raja Alam Semesta menjadi satu kesempatan berharga untuk memahami kehadiran Pencipta di alam ciptaan-Nya. Paham Panenteisme diutarakan dengan singkat agar manusia menata tindakan agar peristiwa ekologi bukan sebagai ancaman lagi, tetapi sebagai dinamika berada bersama Pencipta dan sesama ciptaan. Ide Panenteisme yang menarik adalah the presence of creation in God dan the presence of God in Creation. Allah yang memiliki rahim besar (Maharahim) mengandung ciptaan, dan ciptaan mengandung Allah. St. Fransiskus Assisi menghayati ide panenteisme dan Teilhard de Chardin menerangkan dengan ilmiah dan spiritual ide tersebut. Kristus Raja Alam Semesta adalah Allah yang hadir bersama ciptaan sehingga alam ini menyimpan misteri yang perlu diungkap dan dilindungi. Menghidupi tata hidup bersaudara serahim merupakan tangung jawab manusia sebagai penghuni Kerajaan Allah di alam semesta.  
KEMBALI MENJADI TANAH : Satu Refleksi Ekologis Prapaska Nadeak, Largus
LOGOS Vol 10 No 1 (2013): Januari 2013
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v10i1.880

Abstract

Fenomena manusia yang terasing dari tanah, terasing dari bumi, terasing dari Allah bisa kita amanti di data ekologis dan perilaku manusia dewasa ini. Di  beberapa tempat tanah jadi tandus sulit hidup tanam-tanaman kerena sudah rusak oleh pestisida dan pupuk kimia; di beberapa kota dan daerah banjir makin sering karena hutan dan air tanah tidak dikelola dengan baik; di bumi manusia tidak peduli dengan tata ciptaan yang dikehendaki Allah Pencipta. Pandangan manusia atas statusnya yang bukan bagian bumi, dan tindakan yang berhubungan dengan pandangannya atas statusnya tersebut, turut memengaruhi keterasingan yang terjadi. Kembali menjadi tanah! Seruan ini yang disampaikan pada hari Rabu Abu, merupakan ajakan agar umat Kristen berubah dan bertobat, kembali menata hidup, kembali menata relasi dengan sesama dan dengan ciptaan lain di bumi, dan juga dengan Allah yang sudah memilih tinggal di bumi ini. Kembali menjadi tanah, merupakan proses perjalanan pengolahan tanah, pengolahan hidup sehingga manusia merasa damai sebagai tanah, dan bersama komunitas ciptaan Allah mengalami at home on earth.
THE CONSTITUTION OF THE SISTERS OF CHARITY: A DOCUMENT OF THE ENFLESHED SPIRIT Purba, Mida
LOGOS Vol 10 No 1 (2013): Januari 2013
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v10i1.881

Abstract

We are going to examining Vincentian spiritual heritage of the Congregation of the Sisters of Charity (SC) in North Sumatra, as enshrined in the words of their Constitution. It will become clear that spiritualities expressed in the words of documents are enfleshed spiritualities: moulded, influenced, and shaped by concrete and particular human historical situations. This section begins with a brief account of the sequential development of the SC Constitution. A thorough discussion and subsequent analysis will focus on the latest version of the foundational document published in 2003. A concluding section will close this examination.  
BUKTI PENYERTAAN TUHAN MELALUI PERJALANAN BANGSA ISRAEL MENYEBERANGI LAUT TEBERAU BERDASARKAN KELUARAN 13:17 – 14:1-31 Sinaga, Janes; Kurniawan, Raden Deddy; Sinambela, Juita Lusiana
LOGOS Vol. 19 No. 2 (2022): Juli 2022
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v19i2.1985

Abstract

Bukti penyertaan Tuhan dalam kehidupan bangsa Israel sungguh nyata. Tuhan bukan saja memperkenalkan diri-Nya sebagai Tuhan, Allah pembebas, namun juga Tuhan, Allah yang menyertai kehidupan mereka. Sementara itu bagi Firaun, seharusnya peristiwa ini adalah pelajaran penting dalam sejarah kehidupannya dan bangsanya. Bahwa berperkara dengan Tuhan, Allah Israel adalah sebuah kesia-siaan. Baik bangsa Israel dan Firaun sama-sama diajarkan akan sifat dan karakter Tuhan, Allah yang adil dan penuh kasih. Ini pula yang seharusnya menjadi pelajaran bagi umat-umat Tuhan sepanjang zaman. Bahwa penting percaya dengan segenap hati kepada tuntunan dan pemeliharaan Tuhan di dalam setiap jalan-jalan kehidupan. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan mengumpulkan data-data dari berbagai sumber Pustaka, sehingga setiap orang percaya akan penyertaan Tuhan melalui pengalaman bangsa Israel keluar dari Mesir dan menyeberangi Laut Teberau.
MENUJU KEBERAGAMAAN YANG RASIONAL Simorangkir, Hieronymus
LOGOS Vol. 19 No. 2 (2022): Juli 2022
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v19i2.2014

Abstract

Pentingnya sejumlah metode yang lengkap dalam memahami agama, khususnya untuk mengerti fenomen religius yang beraneka ragam di semua bidang, terkait hubungan agama dengan ekonomi, politik, psiko-pedagogi, antropologi, sosiologi, komunikasi, lingkungan hidup serta kultur, dan hubungan agama dengan nilai-nilai kemanusiaan seperti hak-hak asasi, kebebasan, keadilan, jender dan keluarga, dalam rangka pemahaman beragama yang berakal budi. Karena itu, metode-metodenya haruslah ilmiah dan dapat diuji. Ilmiah atas fakta religius yang memuat cara berkepercayaan (modus credendi) dan cara menghidupinya (modus vivendi); dan dapat diuji dalam dimensi metafisik atau teologis maupun dalam relevansi historis, kultural dan sosial, dan dalam relasi dengan fenomen-fenomen religius. Lebih tepat bila segenap metode yang dibutuhkan itu, kita sebut “pendekatan antropologis yang utuh menyeluruh”, yang berpeluang masuk ke dalam konteks keseharian kultural, untuk pertama-tama berefleksi atas keaneka-ragaman fenomen keberagamaan dan kebenaran agama dalam pengertian metafisik. Maka, tulisan ini akan bertitik-tolak dari antropologi holistik, kemudian disusul oleh peran disiplin ilmu fenomenologi, dan diakhiri dengan perlunya pengajuan filsafat hermeneutika untuk menjodohkan keyakinan dengan kritik, iman dengan filsafat, demi pemahaman rasional atas berbagai fenomen religius yang kompleks dan rumit
KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA: ANGIN PUTING BELIUNG BAGI HIDUP BERKELUARGA Utama, Ignatius L. Madya
LOGOS Vol. 19 No. 2 (2022): Juli 2022
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v19i2.2015

Abstract

Christians who got married want to have a happy family life. They also want their family life become a sacrament. Yet, their dreams do not always come true. One of the obstacles that prevent their dreams become a reality is domestic violence that takes place in their family life. On the one hand, the ones doing the violence sometimes even justify their behavior by quoting some teachings from the Scriptures and other Church’s documents. Other factor that supports domestic violence is patriarchical and kyriarchical culture. On the other hand, the life of Jesus, the practice of early Christian communities, as well as other teachings of the Church, especially since the second Vatican Council, challenge us to eracidicate domestic violence as a very serious threat for a happy family life.
SPIRITUALITAS PELAYANAN KAUM TERTAHBIS DALAM GEREJA PERDANA Situmorang, Sihol
LOGOS Vol. 19 No. 2 (2022): Juli 2022
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v19i2.2016

Abstract

Di tengah umat beriman, yang menerima martabat imamat umum, eksistensi kaum tertahbis merupakan unsur yang sangat hakiki. Kaum tertahbis mengemban imamat ministerial, karena dipanggil untuk melayani seperti Kristus yang datang untuk menjadi hamba dan melayani. Kaum tertahbis melanjutkan pelayanan Kristus untuk keselamatan seluruh umat manusia. Spiritualitas pelayanan mereka bersumber dan berpusat pada kehidupan Kristus sendiri. Cara hidup Kristus menjadi motif dan modalitas pelayanan kaum tertahbis. Kendati ditinggikan pada martabat luhur sebagai alter Christus dan tergolong dalam hirarki, dengan otoritas yang mereka miliki, mereka diutus untuk menampakkan hidup Kristus sendiri. Para Bapa Gereja dengan tegas dan lantang mendeskripsikan spiritualitas pelayanan kaum tertahbis. Mereka dipanggil, dikuduskan dan disucikan untuk keperluan Gereja dan seluruh umat manusia
“PERKAWINAN” PASANGAN HOMOSEKSUAL: Tidak Sesuai dengan Ajaran Gereja Katolik Nadeak, Largus; Maduwu, Bernardus C.G.
LOGOS Vol. 19 No. 2 (2022): Juli 2022
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v19i2.2017

Abstract

Secara alami dan biologis, jenis kelamin manusia jelas, yaitu laki-laki dan perempaun. Secara tradisoonal diterima oleh masyarakat bahwa ketertarikan seksual bersifat heteroseks, yaitu laki-laki tertarik berelasi seksual dengan perempaun dan perempuan tertarik berelasi seksual dengan pria. Sekarang sebagian masyarakat menerima bahwa ketertarikan seksual bukan hanya bersifat heteroseks, tetapi bisa juga bersifat homoseks, yaitu laki-laki tertarik secara seksual dengan pria (gay), dan perempuan tertarik secara seksual dengan perempuan (lesbi). Orientasi seksual yang bukan hanya heteroseks makin mendapat perhatiaan saat ini. Perhatian makin serius karena sebagian masyarakat menerima dan mengesahkan perkawinan homoseksual. Gereja Katolik tidak menerima “perkawinan” homoseksual karena tidak sesuai dengan ajaran dan aturan yang melindungi nilai kemanusiaan dan martabat keluarga. Perkawinan sakramental dalam Gereja Katolik terjadi antara laki-laki dan perempuan (heterokseksual) yang berhubungan dengan ketahanan lembaga keluarga, prokreasi dan keturunan