cover
Contact Name
I Made Gami Sandi Untara
Contact Email
gamisandi@gmail.com
Phone
+62362-21289
Journal Mail Official
gamisandi@gmail.com
Editorial Address
Jl. Pulau Menjangan No 27, Banyuning, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng – Bali 81119
Location
Kab. buleleng,
Bali
INDONESIA
Vidya Darśan : Jurnal Mahasiswa Filsafat Hindu
ISSN : -     EISSN : 27155447     DOI : -
Vidya Darśan: Jurnal Mahasiswa Filsafat Hindu merupakan jurnal ilmiah yang fokus publikasi ilmiahnya pada bidang ilmu Filsafat. Segala pemikiran ilmiah dalam jurnal diharapkan mampu memberikan kontribusi positif bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya bidang ilmu Filsafat dan Filsafat Hindu. Jurnal Vidya Darśan terbit setahun dua kali yakni edisi Mei dan November. Dikelola dan dikembangkan oleh Program Studi Filsafat Hindu STAH Negeri Mpu Kuturan Singaraja.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 2 (2023)" : 10 Documents clear
Filosofi Rerajahan Dalam Konteks Ilmu Agama Hindu Made Sudarma Widiada
Vidya Darsan: Jurnal Mahasiswa Filsafat Hindu Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/vidyadarsan.v4i2.2999

Abstract

Abstrak: Bali Merupakan sebuah Pulau dengan pesona dan eksotis pemandangan alam yang indah. Tidak hanya terkenal dengan pemandangan alamnya saja Bali juga terkenal dengan beragam budaya dan seni keanakaragaman, salah satu produk seni Bali yang terkenal adalah rerajahan. Rerajahan merupakan suatu goresan atau tulisan yang di buat dalam bentuk gambar dan Gabungan aksara suci, masyarakat Bali percaya bahwa rerajahan memiliki kekuatan magis dan mistis. Rerajahan seringkali digunakan dalam pelaksanaan upacara Yadnya tujuanya adalah sebagai sarana pelengkap, didalam brntuk dari rerarajahan sendiri juga terdapat nilai-nilai yang terkadung didalamnya, yang pertama itu adalah nilai sakral, menggambarkan betapa sucinya rerajahan sebagai penggambara dari alam semesta sendiri melalui perwujudan kekuatan-keuatan yang ada di dalamnya, yang kedua adalah adalah nila estetika atau keindahan tidak hanya sakral tetapi rerajahan juga bisa dikategorikan sebagai karya seni, dimana penggambarannya mewakili seniaman-seniman bali lewat lukisan ini dan yang terakhir adalah nilai agama,rerajahan di dalam nilai agama mempunyai keterkaitan sendiri terutama bagi agama Hindu di Bali dari tata cara pembuatanya dan bagaimana seharusnya diguanaka untuk upacara-upacara tertentu. Tidak hanya itu rerajahan juga dimunculkan dalam bentuk visual yang macam-macam sehingga orang-orang akan mudah memahami apa yang terkandung diadalamnya, sehingga tidak hanya nilainya saja tetapi juga kegunaan juga bermanfaat bagi orang lain Kata Kunci: Filosofi, Rerajahan, Filosofi dan Filsafat Seni.
Konsep Relativitas dalam Kaitannya dengan Ruang dan Waktu Menurut Albert Einstein Rivaldo Benediktus Talemba
Vidya Darsan: Jurnal Mahasiswa Filsafat Hindu Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/vidyadarsan.v4i2.3244

Abstract

The concept of space and time is a complex theory, which is studied from various perspectives. Albert Einstein, a physicist who studied the concept of space and time in the perspective of physics, through his theory of relativity. The theory of relativity describes a unity in space and time. Einstein's relativity rejects some previous views on the absoluteness and absoluteness of things. Einstein used gravity to generalize the theory of uniform linear motion to arbitrary motion. In special relativity, forces are dealt with by ignoring the philosophical problem that forces produce acceleration, which does not allow velocity to remain constant. One can argue that only objects and not observers are accelerated. However, with relativity, objects are equally good observers. We can say that in the view of special relativity, all forces are equal. However, in the view of gravitational relativity, irregular motion is also said to be motion, but only gravity is "good" and the other forces remain "bad". All forces are equal, but gravity is the most equal force.
KRITIK EVERETT REIMER TERHADAP LEMBAGA SEKOLAH DAN KONTRIBUSI PEMIKIRANNYA DALAM REDEFINISI MAKNA PENDIDIKAN Gede Agus Siswadi
Vidya Darsan: Jurnal Mahasiswa Filsafat Hindu Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/vidyadarsan.v4i2.2815

Abstract

Basically, humans need the education to be able to improve their quality of life and be able to develop all the competencies possessed by each individual. Thus, education becomes an important part of human life. Education actually has a very broad meaning and significance. However, in the view of society, education is always associated with schools. Even though school is just one part of education. This study aims to explore Everett Reimer's criticism of educational institutions, as well as Reimer's efforts to redefine the meaning of education. The method in this study is a qualitative method with a philosophical hermeneutic approach. The results of this study indicate that Reimer criticizes school institutions as having an attitude to realize that education is not narrowly defined only as a school. Reimer also succeeded in dismantling the establishment of schools in which there were forms of dehumanization. As an effort to redefine the meaning of education, Reimer offers an alternative school, namely a network of objects, a network of people, a network of peers, and also a network of educators.
Ajaran Kepemimpinan Hindu dalam Kekawin Ni Putu Sri Artiningsih; I Nyoman Raka; Ida Bagus Wika Krishna
Vidya Darsan: Jurnal Mahasiswa Filsafat Hindu Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/vidyadarsan.v4i2.2909

Abstract

Y
Kajian Filosofis Tradisi Mabuu-buu Pada Piodalan Di Pura Dalem Purwa Kelurahan Penarukan Kecamatan Buleleng Kabupaten Buleleng Desak Ketut Wismayani; I Made Gami Sandi Untara; Ni Putu Yuliani Dewi
Vidya Darsan: Jurnal Mahasiswa Filsafat Hindu Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/vidyadarsan.v4i2.2906

Abstract

Abstrak Tradisi mabuu-buu merupakan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun yang dilaksanakan pada rangkaian piodalan di Pura Dalem Purwa Kelurahan Penarukan dan diyakini memiliki makna yang dapat dijadikan pedoman bagi masyarakat Kelurahan Penarukan. Tradisi ini dilaksanakan malam hari sehingga masih banyak masyarakat yang belum mengetahui dan memahami terkait pelaksanaan serta makna yang terkandung dalam tradisi mabuu-buu. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan permasalahannya yakni: (1) Apa landasan dilaksanakannya tradisi mabuu-buu pada piodalan di Pura Dalem Purwa Kelurahan Penarukan Kecamatan Buleleng Kabupaten Buleleng?, (2) Bagaimana fungsi dari pelaksanaan tradisi mabuu-buu pada piodalan di Pura Dalem Purwa Kelurahan Penarukan Kecamatan Buleleng Kabupaten Buleleng?, (3) Apa makna filosofis tradisi mabuu-buu pada piodalan di Pura Dalem Purwa Kelurahan Penarukan Kecamatan Buleleng Kabupaten Buleleng?. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kualitatif dengan metode pengumpulan data melalui metode observasi, metode wawancara, metode kepustakaan, dan metode dokumentasi. Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: (1) Teori Religi, (2) Teori Fungsional Struktural, dan (3) Teori Simbol. Hasil yang didapatkan melalui penelitian ini antara lain: (1) Landasan pelaksanaan tradisi yaitu landasan geografis, landasan historis dan landasan religius serta bentuk pelaksanaan tradisi mabuu-buu. (2) Fungsi tradisi mabuu-buu yakni: fungsi sosial, fungsi religius, dan fungsi pelestarian budaya. (3) Makna filosofis yang terkandung dalam tradisi mabuu-buu yakni: makna keharmonisan, makna kebersamaan, makna penolak bala, makna etika, serta makna pendidikan. Kata Kunci: Tradisi Mabuu-buu, Filosofis
STRATEGI PENYULUHAN AGAMA HINDU MELALUI PROGRAM SIARAN DI STASIUN TELEVISI BALI TV Kadek Ria Parwati; Gede Agus Jaya Negara; I Kadek Edi Palguna
Vidya Darsan: Jurnal Mahasiswa Filsafat Hindu Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/vidyadarsan.v4i2.3007

Abstract

Hindu religious counseling is a method of explaining the Hindu religion which aims to foster Hindu religious people. In everyday life, people still need guidance related to the teachings of Hinduism to be used as a way of life in order to achieve life goals. In the current era of digitalization, religious counseling has been packaged through mass media such as television. This is done by the television station BALI TV to provide education on Hinduism through constructive and educational broadcasts and impart knowledge to the wider community. The problems in this research are: (1) What are the broadcast programs on BALI TV that are used as a medium for teaching Hinduism? (2) What is the strategy of BALI TV in providing counseling on Hinduism? (3) What are the implications of the Hindu religious counseling program broadcast by BALI TV? To answer these problems, this study used a qualitative research method with a descriptive approach system. The theory used is Informative Theory and TheoryUses and Effects. The results of this study indicate (1) The broadcast program owned by BALI TV in providing counseling on Hinduism is the Dharma Wacana broadcast program and the Istadewata broadcast program (2) The strategy carried out by BALI TV in providing Hindu religious counseling is very good by considering the community's need to consume interesting program. (3) The implications of the existence of broadcast programs related to Hindu religious education are positive and constructive and are felt by various parties, both for the BALI TV television station and the community from various groups.
Kajian Filosofi Tata Letak Pekarangan Rumah Menurut Lontar Asta Bhumi Putu Sri Purnama Dewi
Vidya Darsan: Jurnal Mahasiswa Filsafat Hindu Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/vidyadarsan.v4i2.2907

Abstract

Sesuai dengan fakta di lapangan juga berdasarkan pengamatan di lingkungan keluarga masih mengikuti pedoman-pedoman untuk proses pembangunan rumah agar mendapatkan kehidupan yang baik. Tulisan tersebut bertujuan memberikan tahu masyarakat juga mahasiswa untuk mengikuti tatanan pembangunan yang ditentukan dalam Agama Hindu. Yang berisikan Nilai-nilai Filosofis seperti filosofi amaran Tri Hita Karana, Tri Angga atau Tri Mandala dan Tri Ker angka Dasar Agama Hindu.
KAJIAN FILSAFAT MANUSIA UPACARA PAWIWAHAN DI DESA ADAT SEMBIRAN, KECAMATAN TEJAKULA, KABUPATEN BULELENG Luh putu Santi pradnyayanti; I Wayan Gata; Ketut Agus Nova
Vidya Darsan: Jurnal Mahasiswa Filsafat Hindu Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/vidyadarsan.v4i2.3071

Abstract

upacara pawiwahan terdiri dari 3 tahap yakni tahap 1, ngidih/memadik, tahap 2, Kepus Pusar, Nelubulanin, Mitubulanin dan Ngotonin, tahap 3, Bebas/Mepenyari. 1. prosesi ngidih/memadik itu tentang kesiapan antara dua mempelai untuk membangun rumah tangga, prosesi ini disaksikan dan didengarkan oleh orang banyak yaitu dari keluarga besar dari kedua mempelai, 2. kepus Pusar, Nelubulanin, Mitubulanin dan Ngotonin upacara yang dilakukan kembali agar mempelai wanita terlahir sebagai orang sembiran, 3. prosesi bebas/mepenyari terdiri dari beberapa tahapan diantaranya mabyakala, upacara yang dilakukan untuk pembersihan dari kedua mempelai, nunas yaitu prosesi mepamit yang dilaksanakan di sanggah/merajan mempelai wanita, natab banten dibale yaitu prosesi yang dilaksanakan untuk memohon keselamatan dari kedua mempelai agar kedua mempelai langgeng dan dikaruniai anak yang suputra dan suputri.
Komparasi Filsafat Cinta Mahatma Gandhi Dengan Erich Fromm Dilla Sasmita
Vidya Darsan: Jurnal Mahasiswa Filsafat Hindu Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/vidyadarsan.v4i2.2996

Abstract

Abstrack Cinta memberikan keindahan dan juga kepedihan ibarat dua mata pisau. Dalam konteks filosofis cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, cinta kasih, belas kasih, dan juga kasih sayang. Lalu apa itu cinta? Dengan apa dan bagaimana kita mengetahui itu cinta? Apa arti sesungguhnya cinta itu? Biasanya cinta didahului dengan rasa ketertarikan dan kekaguman, baik itu karena sifat, fisik,kemampuan atau materi, tetapi apakah itu sudah bisa dikatakan cinta yang sebenarnya? Kata cinta keluar dari semua kata manusia, dari tingkah laku, keadaan, perasaan bahkan suatu kisah yang terjadi. Tidak asing lagi dengan kisah atau legenda-legenda yang menggambarkan cinta, seperti kisah Romeo dan Juliet di Barat, Qais dan Laila di Timur, Galuh dan Ratna di Indonesia, Roro Mendut dan Pronocitro di pulau Jawa, bahkan ada dalam kisah radha krishna mencerminkan bahwa cinta bukanlah perkara parsial seorang anggota bangsa, tetapi perkara universal yang selalu dirasa oleh individu setiap benua. Dari gambaran sederhana bukti atau kenyataan yang terjadi Erich Fromm dan Mahatma Gandhi memiliki pandangan mengenai apa dan bagaimana cinta itu? Berasal dari lapangan yang berbeda tetapi dipertemukan dalam satu hal yang berkesinambungan yaitu tentang cinta. Erich Fromm berpandangan cinta itu selayaknya seni , bagaimana cara mencintai atau seni mencintai dan Mahatma Gandhi berpandangan bahwa cinta itu anti akan kekerasan,siksaan dan rasa sakit yang ditimbulkan. Dari kedua pandangan tokoh filsuf ini kita akan tau lebih apa itu cinta dan terhindar dari kegagalan cinta. Keywords: Filsafat, Cinta, Mahatma Gandhi, Erich Fromm.
Kajian Filosofis Tradisi Nawur Pelebuh Bagi Krama Tri Datu Di Desa Adat Buleleng Kecamatan Buleleng Kabupaten Buleleng Ketut Sudiartha; Ida Bagus Putu Eka Suadnyana; Ayu Veronika Somawati
Vidya Darsan: Jurnal Mahasiswa Filsafat Hindu Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/vidyadarsan.v4i2.3243

Abstract

Abstrak Tradisi Nawur Pelebuh dilaksanakan khusus bagi Krama Tri Datu sehingga masih banyak masyarakat yang belum memahami terkait pelaksanaan serta makna filosofis dari tradisi Nawur Pelebuh. Berdasarkan latar belakang tersebut, terdapat tiga permasalahan yang akan dibahas antara lain: (1) Apa landasan tradisi Nawur Pelebuh bagi Krama Tri Datu di Desa Adat Buleleng Kecamatan Buleleng Kabupaten Buleleng, (2) Bagaimana bentuk pelaksanaan tradisi Nawur Pelebuh bagi Krama Tri Datu di Desa Adat Buleleng Kecamatan Buleleng Kabupaten Buleleng, (3) Apa makna filosofis tradisi Nawur Pelebuh bagi Krama Tri Datu di Desa Adat Buleleng Kecamatan Buleleng Kabupaten Buleleng? Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah: metode observasi, metode wawancara, dan metode kepustakaan. Data yang telah terkumpul dianalisis dengan metode analisis deskriptif kualitatif dengan langkah-langkah pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penyimpulan data. Hasil penelitian dan analisis data menunjukan: (1) Dasar pelaksanaan tradisi Nawur Pelebuh dapat dilihat dari segi landasan historis, landasan religius, dan landasan sosial kemasyarakatan. (2) Bentuk tradisi Nawur Pelebuh terdiri dari waktu dan tempat pelaksanaan tradisi, sarana tradisi, tahapan awal, tahapan inti, serta tahapan akhir. (3) Makna filosofis yang terkandung dalam tradisi Nawur Pelebuh ini yaitu makna keharmonisan, makna kebersamaan, makna etika, dan makna pelestarian budaya. Kata Kunci: Tradisi Nawur Pelebuh, Filosofis

Page 1 of 1 | Total Record : 10