cover
Contact Name
Indra Setia Bakti
Contact Email
indrasetiabakti@unimal.ac.id
Phone
+6285261340228
Journal Mail Official
jspm@unimal.ac.id
Editorial Address
Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh. Kampus Bukit Indah Jln. Sumatera No.8, Kec. Muara Satu Kota Lhokseumawe, Prov. Aceh, Indonesia
Location
Kota lhokseumawe,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM)
ISSN : -     EISSN : 27471292     DOI : 10.29103/jspm
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) is an open access, and peer-reviewed journal. Our main goal is to disseminate current and original articles from researchers and practitioners on various contemporary social and political issues: 1) inclusive education, 2) sustainable development, 3) conflict and peace building, 4) elite and social movement, 5) gender politics and identity, 6) digital society and disruption, 7) civil society, 8) e-commerce and new market, 9) community development, 10) politics, government, and public policy, 11) media and social transformation, 12) democracy, globalization, radicalism, and terrorism, 13) local culture, 14) lifestyle and consumerism, 15) revolution of industry 4.0
Articles 233 Documents
WALI NANGGROE ACEH : Transformasi, Eksistensi dan Model Penguatan Kelembagaan M. Nazaruddin; Nirzalin Nirzalin; Ade Ikhsan Kamil; Abdullah Akhyar Nasution; Rizki Yunanda
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Vol 2, No 2 (2021): Multidimensi Problematika Masyarakat
Publisher : FISIP Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jspm.v2i2.5649

Abstract

Artikel ini mengkaji tentang eksistensi dan transformasi Lembaga Wali Nanggroe dan perkembangannya dari peran dan fungsi Wali Nanggroe secara kultural kepada institusi formal dalam ketatanegaraan Republik Indonesia. Artinya tulisan ini ingin melihat lebih jauh bagaimana imajinasi sosiologis ideal Lembaga Wali Nanggroe dalam dualitas kedudukan saat ini antara hukum formil sebagai pemangku adat dan pemimpin ideologi dan politik secara sosiologis dalam meraih harkat , marwah dan kesejahteraan masyarakat Aceh. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, peneliti menemukan bahwa Lembaga Wali Nanggroe dapat menjadi salah satu pilar kelembagaan sosial politik dalam konsepsi kuadra politika sehingga tidak saja dapat berperan pada wilayah kultural tetapi juga pada wilayah sosial politik. Keywords: Eksistensi, Transformasi Kelembagaan,Wali Nanggroe, Dualitas Fungsi, Kuadra Politika. 
Cultural Pluralist Perspective: Assessing the Functions of Ethno-Religious Politics in the Philippines Shamsuddin L Taya; Mocamad M Macasayon; Abdul M Lantong; Abubakar L Ali
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Vol 2, No 2 (2021): Multidimensi Problematika Masyarakat
Publisher : FISIP Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jspm.v2i2.4766

Abstract

Any general effort to account for the role of ethno-religiosity in the Philippines raises the question of the dominant role ethnoreligious politics has taken. Thus, the purpose of this article is to examine and analyze the role of ethnoreligious politics in the Philippines, using the Cultural Pluralist perspective. To this theory, the melting pot has never eradicated ethnoreligious politics in any given country.  It is divided into three parts. Firstly, it deals with the economic function of ethnoreligious politics in the region. Secondly, it looks into the psychological role of ethnoreligious politics. Lastly, examines the civic role of ethnoreligious politics in the Philippines. As shown in this article, many people in the Philippines have been unified from time to time by ethnoreligious bonds and used politics to secure material goals, to satisfy their psychic needs, and on occasion, to bring about fundamental changes in their civic values. Therefore, it is clearly indicated that ethnoreligious politics serves as a tool in achieving their material desires, psychological needs and recognition of their civic values.AbstrakSetiap upaya umum dalam menjelaskan pengaruh etnoreligiusitas di Filipina menimbulkan pertanyaan mendasar tentang peran dominan yang diambil oleh politik etnoreligius. Dengan demikian, tujuan artikel ini adalah mengkaji dan menganalisis peran politik etnoreligius di Filipina dengan menggunakan perspektif Kultural Pluralis. Menurut teori ini, politik etnoreligius tidak dapat dihapuskan di negara mana pun. Hal ini berhubungan dengan tiga hal pokok. Pertama, berkaitan dengan fungsi ekonomi politik etnoreligius di wilayah tersebut. Kedua, melihat peran psikologis politik etnoreligius. Terakhir, mengkaji peran politik sipil etnoreligius di Filipina. Seperti yang ditunjukkan dalam artikel ini, banyak orang Filipina telah dipersatukan dari waktu ke waktu oleh ikatan etnoreligiusitas dan menggunakan politik etnoreligius untuk mengamankan tujuan material, memenuhi kebutuhan psikis, dan kadangkadang membawa perubahan mendasar dalam nilai-nilai kewarganegaraan mereka. Oleh karena itu, diindikasikan bahwa politik etnoreligius berfungsi sebagai alat untuk mencapai berbagai kepentingan dari para penganutnya.
Performance of Pamong Praja Police Units in Disciplining Students in Timang Gajah District Bener Meriah Regency Muklir Muklir; Susi Diana Mustika
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Vol 1, No 2 (2020): Kebudayaan, Keberagaman, dan Pembangunan
Publisher : FISIP Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jspm.v1i2.3143

Abstract

Satpol PP is an element that supports the duties of the Regional Government in securing and implementing Regional Government policies that are specified in the field of public order and peace. The level of discipline of students in Bener Meriah Regency is decreasing at this time. Many students are truant and wandering around during study hours. This study aims to describe how the performance of Satpol PP in controlling students, what efforts are made to improve discipline, and how students’ attitudes and behavior change after policing. This study uses a descriptive qualitative approach. The results showed that the performance of Satpol PP in controlling student discipline was good because Satpol PP always routinely patrols 8 times a month. However, there are several obstacles, such as the minimum budget and inadequate facilities and infrastructure so that the performance of Satpol PP is not optimal. The efforts made by Satpol PP to improve discipline, namely in collaboration with the Education Office and school officials, as well as socializing and providing appeals to cafe owners. Meanwhile, we found variations in changes in student attitudes and behavior. AbstrakSatpol PP merupakan unsur pendukung tugas Pemerintah Daerah dalam mengamankan dan melaksanakan kebijakan Pemerintah Daerah yang bersifat khusus di bidang ketentraman dan ketertiban umum. Pada saat ini tingkat kedisiplinan pelajar di Kabupaten Bener Meriah menurun dan banyak sekali dijumpai siswa yang membolos dan berkeliaran pada saat jam belajar berlangsung. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan bagaimana kinerja Satpol PP dalam penertiban pelajar, upaya apa saja yang dilakukan dalam meningkatkan kedisiplinan, dan bagaimana perubahan sikap dan perilaku pelajar setelah dilakukan penertiban. Penelitian ini menggunakan pendektan kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja Satpol PP dalam penertiban kedisiplinan pelajar sudah baik karena Satpol PP selalu rutin melakukan patroli selama 8 kali sebulan. Akan tetapi ada beberapa kendala seperti minimnya anggaran dan sarana prasarana yang belum memadai sehingga kinerja Satpol PP menjadi kurang maksimal. Adapun upaya yang dilakukan Satpol PP untuk meningkatkan kedisiplinan yaitu bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan pihak sekolah, serta melakukan sosialisasi dan memberikan himbauan kepada pemilik caffe dan warnet. Sedangkan untuk perubahan sikap dan perilaku pelajar sangat variatif.
DYNAMIC GOVERNANCE DALAM IMPLEMENTASI PROGRAM BANTUAN PANGAN NON TUNAI BAGI KELUARGA PENERIMA MANFAAT Maudy Fatimah; Budi Hasanah; Ahmad Sururi
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Vol 3, No 1 (2022): Memperkuat Politik Kebangsaan dan Keindonesiaan
Publisher : FISIP Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jspm.v3i1.4939

Abstract

The complexity of problems such as traditional local culture, low education factors and lack of community motivation are some of the problems that must be faced by the Serang City Government in implementing the BPNT program for KPM in Kasemen District, Serang City. The purpose of this study is to discuss the implementation of the BPNT program for KPM in Kasemen District, Serang City based on dynamic governance analysis. This study used a case study approach and informant retrieval was carried out by purposive sampling through interview and observation data collection techniques. The data were analyzed using the process of data classification, labeling and category arrangement based on research questions and interview transcripts for further data analysis. The results showed that the implementation of the BPNT program for KPM in Kasemen District, Serang City has not been fully implemented effectively and based on dynamic governance analysis, it is necessary to strengthen culture, capabilities and the three cognitive abilities as well as encourage effective government support, social capacity and public private partnerships. efforts to recommend policies in the BPNT program for KPM in Kasemen District, Serang CityKompleksitas permasalahan seperti budaya tradisional lokal, faktor pendidikan yang rendah dan kurangnya motivasi masyarakat menjadi beberapa permasalahan yang harus dihadapi oleh Pemerintah Kota Serang dalam melaksanakan program BPNT untuk KPM di Kecamatan Kasemen Kota Serang. Tujuan penelitian ini adalah untuk membahas implementasi program BPNT untuk KPM di Kecamatan Kasemen Kota Serang berdasarkan analisis tata kelola dinamis. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dan pengambilan informan dilakukan secara purposive sampling melalui teknik pengumpulan data wawancara dan observasi. Analisis data menggunakan proses klasifikasi data, pelabelan dan penyusunan kategori berdasarkan pertanyaan penelitian dan transkrip wawancara untuk analisis data selanjutnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi program BPNT untuk KPM di Kabupaten Kasemen Kota Serang belum sepenuhnya terlaksana secara efektif dan berdasarkan analisis tata kelola yang dinamis maka perlu dilakukan penguatan budaya, kapabilitas dan ketiga kemampuan kognitif serta mendorong pemerintahan yang efektif. dukungan, kapasitas sosial dan kemitraan publik swasta. upaya merekomendasikan kebijakan dalam program BPNT bagi KPM di Kecamatan Kasemen Kota Serang.
PENERAPAN PENDIDIKAN KARAKTER DALAM MENGURANGI PERILAKU MENYIMPANG SISWA DI SMA NEGERI 2 LHOKSEUMAWE A Marliah; M Nazaruddin; M Akmal
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Vol 1, No 1 (2020): Karakter Bangsa dalam Era Revolusi Industri 4.0
Publisher : FISIP Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jspm.v1i1.3020

Abstract

This study focuses on two discussions. First, to describe the application of character education at SMA Negeri 2 Lhokseumawe. Second, to describe the obstacles in the application of character education so that it is not effective in overcoming student deviant behavior. By using a qualitative approach, this study comes to an understanding that the implementation of character education in SMA Negeri 2 Lhokseumawe is carried out through several strategies, including: a). providing outreach to teachers; b). preparation of syllabus and lesson plans based on character education; c). integrating and applying values in the teaching and learning process in the classroom; d) creating a school culture; e) habituation; and f) teacher exemplary. The implementation of character education in order to reduce students' deviant behavior has not been optimal because it faces a number of obstacles, such as a) minimal family contribution; b) inconsistency of values and norms at school and outside school; and c) teachers' difficulties in adapting to curriculum changes. In addition, the definition of deviant behavior and social dysfunction has so far only relied on "blaming deviant individual behavior", but ignores problems at the school structure level that can lead students to deviant behavior and anomie states. ABSTRAKStudi ini berfokus pada dua hal. Pertama melihat penerapan pendidikan karakter di SMA Negeri 2 Lhokseumawe. Kedua, menggambarkan hambatan dalam penerapan pendidikan karakter sehingga tidak efektif dalam mengatasi perilaku menyimpang siswa. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, studi ini sampai pada pemahaman bahwa penerapan pendidikan karakter di SMA Negeri 2 Lhokseumawe dilakukan melalui beberapa strategi, diantaranya: a). pemberian sosialisasi kepada guru; b). penyusunan Silabus dan RPP yang berbasis pendidikan karakter; c). pengintegrasian dan penerapan nilai-nilai dalam proses belajar mengajar di kelas; d) penciptaan budaya sekolah; e) pembiasaan; dan f) keteladanan guru. Penerapan pendidikan karakter dalam rangka mengurangi perilaku menyimpang siswa belum berjalan optimal karena menghadapi sejumlah kendala, seperti a) minimnya kontribusi keluarga; b) inkonsistensi nilai dan norma di sekolah dan di luar sekolah; dan c) kesulitan guru beradaptasi dengan perubahan kurikulum. Selain itu, pendefinisian perilaku menyimpang dan disfungsi sosial selama ini hanya bertumpu pada “menyalahkan perilaku individu yang menyimpang”, tetapi mengabaikan masalah pada level struktur sekolah yang dapat mendorong siswa ke arah perilaku menyimpang dan keadaan anomie.
Strategi Komunikasi Budaya Mahasiswa Papua dalam Interaksi dengan Mahasiswa Aceh di Universitas Malikussaleh Mirza Muhajir; Anismar Anismar
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Vol 2, No 2 (2021): Multidimensi Problematika Masyarakat
Publisher : FISIP Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jspm.v2i2.6080

Abstract

Intercultural communication is the process by which the ideas of one culture are transferred to another culture. The purpose of this study is to explain the strategy of cultural communication between students from Papua and Aceh students in forming harmonious social interactions at Malikussaleh University. This study uses a descriptive qualitative approach using the theory of William Gudykunts. In obtaining complete and accurate data and information in the study, the data collection used in this study was observation and interviews. The data analysis technique used in this research is data reduction, data presentation, and data inference. The results showed that there were three strata of cultural communication strategies carried out by Papuan students with Acehnese students. First, understand and use good language. Second, understand the norms and character of the interlocutor. Third, positive prejudice against the interlocutor and promote good values.
Pesan Simbolik dalam Prosesi Petawaren Adat Gayo Lues Harinawati Harinawati; Nurhasanah Syafrimayanti; Anismar Anismar
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Vol 2, No 2 (2021): Multidimensi Problematika Masyarakat
Publisher : FISIP Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jspm.v2i2.5517

Abstract

This study identifies and analyzes symbolic messages in the petawaren tradition in Blangkejeren District, Gayo Lues Regency. The research method used is descriptive qualitative. Data collection techniques include observation, interviews, and documentation. The results of the study indicate that the petawaren tradition is one part of Gayo culture which is carried out in welcoming various important events in life. Petawaren is carried out by inviting village elders. The procession of the petawaren tradition requires several main equipment which is prepared by the party who has the intention. The equipment used in this petawaren procession has been mutually agreed upon since time immemorial, including rice and water in a container mixed with celala, dedingin, bebesi, batang teguh, sesampi, and other flowers in an odd number and tied in one knot. The petawaren tradition means prayer and hope so that Allah SWT will always be given safety, blessings, and prosperity.ABSTRAKStudi ini mengidentifikasi dan menganalisis pesan simbolik dalam tradisi petawaren di Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data antara lain observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi petawaren adalah salah satu bagian budaya Gayo yang dilakukan dalam menyambut berbagai peristiwa penting dalam kehidupan. Petawaren dilaksanakan dengan mengundang tetua kampung. Prosesi tradisi petawaren membutuhkan beberapa perlengkapan utama yang dipersiapkan oleh pihak yang mempunyai hajat. Perlengkapan yang digunakan dalam prosesi petawaren ini telah disepakati bersama sejak dahulu kala, antara lain beras dan air dalam wadah yang dicampur celala, dedingin, bebesi, batang teguh, sesampi, dan bunga lainnya yang berjumlah ganjil dan diikat dalam satu ikatan. Tradisi petawaren bermakna doa dan harapan agar senantiasa diberi keselamatan, keberkatan, dan kesejahteraan oleh Allah SWT.
PERAN PEREMPUAN DALAM MENDUKUNG EKONOMI KELUARGA: STUDI PADA KELUARGA NELAYAN DI DEWANTARA ACEH UTARA Muhammad Zawil Kiram; Zamzami Zamzami
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Vol 2, No 1 (2021): Tantangan Pengembangan Masyarakat dan Pemberdayaan Perempuan
Publisher : FISIP Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jspm.v2i1.3985

Abstract

The aim of this study is to explore women’s roles in supporting the economic needs in fishermen's families in Dewantara Aceh Utara, focusing on two questions. Firstly, what are the reasons for women to work and earn a living? Secondly, how women support the family’s economy and in what sectors they work? This research was conducted through a qualitative method with primary data collection techniques including socio-economic surveys, participant observations, and interviews. Furthermore, the research data was compiled with a comprehensive secondary literature review that correlates with the research topic. The result of this study showed that the reasons for women to work and earn living are to increase family income, to reduce family burdens, to make friends/socialize, to uphold the belief that both men and women are responsible for working in the family, and play an active role in village/regional and national development. Most of the women from fishermen's families work in the brick-making sector, salt farming, wholesaler, cake making, and laundry. The contributions that women give to their families are to help fulfill their daily needs and also pay for school fees.AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peran perempuan dalam mendukung kebutuhan ekonomi keluarga nelayan di Dewantara Aceh Utara, dengan fokus kepada dua pertanyaan. Pertama, apa alasan perempuan untuk bekerja dan mencari nafkah? Kedua, bagaimana perempuan mendukung ekonomi keluarga dan di sektor apa saja mereka bekerja? Penelitian ini dilakukan melalui metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data primer meliputi survei sosial ekonomi, observasi partisipan, dan wawancara. Sedangkan data penelitian sekunder dilengkapi dengan studi pustaka yang komprehensif dengan mempelajari buku-buku dan artikel yang memiliki keterkaitan dengan topik penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa alasan perempuan bekerja dan mencari nafkah adalah untuk meningkatkan pendapatan keluarga, mengurangi beban keluarga, untuk berteman/bersosialisasi, serta bekerja sebagai tanggung jawab laki-laki dan perempuan, dan berperan aktif dalam pembangunan desa/daerah/nasional. Sebagian besar perempuan dari keluarga nelayan bekerja di sektor pembuatan batu bata, petani garam, pedagang grosir, pembuat kue, dan tukang cuci. Kontribusi yang diberikan perempuan kepada keluarganya adalah dengan membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari dan juga membayar biaya sekolah anak-anak.
Eksistensi Hiburan Kibot pada Acara Resepsi Pernikahan Masyarakat Tamiang Abdul Robby; Rakhmadsyah Putra Rangkuty
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Vol 1, No 2 (2020): Kebudayaan, Keberagaman, dan Pembangunan
Publisher : FISIP Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jspm.v1i2.3115

Abstract

This research focuses on the causes of kibot entertainment still exist in Tamiang society and the motives of people choosing kibot as entertainment. Coleman's rational choice theory was used in analyzing research data. The research method is a qualitative approach with data collection techniques such as observation, interviews, and documentation. Meanwhile, the data analysis technique in this study used an interactive analysis method. The research findings illustrate that people see kibot as a rational choice based on economic value considerations because of its affordable prices. Kibot entertainment also has social value as a prestige that is given through the recognition of others. In addition, the existence of kibot entertainment is based on the guidance of people around them who help them with their work at the wedding reception. On the basis of these motives, kibot entertainment continues to exist in demand by the Tamiang community, especially the people of Kampung BaboAbstrakPenelitian ini berfokus pada penyebab hiburan kibot masih eksis di tengah masyarakat dan motif masyarakat memilih kibot sebagai hiburan. Teori pilihan rasional Coleman digunakan dalam menganalisis data penelitian. Metode penelitian yaitu pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sementara teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode analisis interaktif. Temuan penelitian menggambarkan masyarakat melihat kibot sebagai sebuah pilihan rasional atas pertimbangan nilai ekonomi karena harga yang terjangkau. Hiburan kibot juga memiliki nilai sosial sebagai sebuah prestise atau gengsi yang diberikan melalui pengakuan orang lain. Selain itu, eksistensi hiburan kibot dilandasi oleh tuntunan dari orang-orang sekitar yang membantu pekerjaan mereka dalam acara resepsi pernikahan. Atas dasar motif-motif tersebut menjadikan hiburan kibot tetap eksis diminati oleh masyarakat Tamiang khususnya masyarakat Kampung Babo.
Tradisi dan Status Sosial dalam Penetapan Mahar Perkawinan di Gampong Mamplam Aceh Utara M. Husen M. R.; Hamdani Hamdani; Ratri Candrasari
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Vol 3, No 1 (2022): Memperkuat Politik Kebangsaan dan Keindonesiaan
Publisher : FISIP Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jspm.v3i1.6224

Abstract

This study discusses the procedure for determining the dowry in the Acehnese marriage tradition. Then the influence of social status on the value of the dowry for women in Mamplam Village, Nibong District, North Aceh Regency. We have used a qualitative approach in this study. Some data was collected by interview techniques. Analysis techniques use data reduction, data presentation, and draw conclusions or verification. The results showed that the procedure for determining the dowry in Gampong Mamplam was carried out by an application process mediated by Seulangke. Seulangke serves as a liaison between the groom and the bride. If the application from a man is accepted by the woman and her family, then after a while the process is followed up to the delivery of a dowry for the woman from the family of the man who is applying. The dowry in marriage is determined by the parents of the woman or based on the results of family deliberation. Then the value of the dowry is also strongly influenced by social status, namely the level of education and the level of wealth. If the woman comes from a rich family then the amount of dowry is quite high, it can reach the value of 20-25 mayam gold. Meanwhile, for women who come from simple families, the amount of dowry is relatively less, only around 10-15 mayam gold.

Page 7 of 24 | Total Record : 233