cover
Contact Name
Ekasatya Aldila Afriansyah
Contact Email
ekafrian@gmail.com
Phone
+628979550972
Journal Mail Official
plusminus@institutpendidikan.ac.id
Editorial Address
Jalan Terusan Pahlawan No 32, Sukagalih, Tarogong Kidul, Garut, Jawa Barat, Indonesia
Location
Kab. garut,
Jawa barat
INDONESIA
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika
ISSN : 27982904     EISSN : 27982920     DOI : -
Core Subject : Education,
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika (p-ISSN: 2798-2904 & e-ISSN: 2798-2798) mempublikasikan artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang pendidikan matematika yang belum pernah dipublikasikan. Penulis dapat berasal dari berbagai level, seperti mahasiswa (S1, S2, S3), guru, dosen, praktisi, maupun pemerhati pendidikan matematika. Plusminus terbit tiga kali dalam satu tahun, yaitu pada bulan Maret, Juli, dan November. Penerbit Plusminus adalah Program Studi Pendidikan Matematika Institut Pendidikan Indonesia.
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol. 1 No. 2 (2021): Juli" : 15 Documents clear
Upaya Meningkatkan Pemahaman Konsep Geometri Ruang pada Pembelajaran Daring dengan Model Discovery learning Wulandari, Retno; Suwarto; Novaliyosi
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 1 No. 2 (2021): Juli
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/plusminus.v1i2.895

Abstract

Online learning atau yang disebut pembelajaran daring merupakan pembelajaran yang membutuhkan jaringan internet dengan memanfaatkan aplikasi sepertimedia social, google classroom, google meet, zoom. Proses pembelajaran yang menitikberatkan peserta didik untuk dapat menyelesaikan pemecahan masalah, guna mengembangkan pengetahuan dan keterampilan merupakan model pembelajaran discovery learning. Penelitian ini bermaksud untuk menganalisis proses pembelajaran yang dilakukan secara daring dengan model pembelajaran discovery learnig. Kesimpulan yang didapat adalah penggunaan belajar secara daring masih mengalami kendala, seperti jaringan internet yang tidak stabil, kesulitan siswa dalam bergabung dengan google meet, kurang disiplin siswa dalam mengaktifkan kamera. Walaupun memiliki kendala dalam pembelajaran daring namun model pembelajaran discovery learning dapat diterapkan dengan baik, hal ini terlihat dari hasil pekerjaan siswa dalam menjawab soal dengan baik. Online learning or what is called online learning is learning that requires an internet network by utilizing applications such as social media, google classroom, google meet, zoom. The learning process that focuses on students being able to solve problem-solving, to develop knowledge and skills is a discovery learning model. This study intends to analyze the online learning process using the discovery learning model. The conclusion obtained is that the use of online learning is still experiencing problems, such as unstable internet networks, difficulties for students in joining google meet, lack of student discipline in activating the camera. Although it has obstacles in online learning, the discovery learning model can be applied well, this can be seen from the results of students' work in answering questions well.
Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa SMP pada Topik Penyajian Data di Pondok Pesantren Purnamasari, Ai; Afriansyah, Ekasatya Aldila
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 1 No. 2 (2021): Juli
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/plusminus.v1i2.896

Abstract

Siswa tidak mempunyai keberanian untuk bertanya ketika menemukan masalah yang sulit, karna itu kemampuan komunikasi matematis siswa sangat penting untuk dimiliki. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh keterangan lebih lanjut tentang kemampuan komunikasi matematis siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Subjek penelititan ini adalah 4 siswa kelas VII di Pondok Pesantren At-Taufik Ciucing. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes, wawancara, dan observasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan kondisi akhir dari kemampuan komunikasi matematis siswa, yaitu: indikator pertama sebesar 81,25% artinya sebagian kecil siswa tidak dapat merepresentasikan permasalahan yang dihadapi; indikator kedua sebesar 62,75% artinya sebagian besar siswa mengalami kesulitan dalam hal menjelaskan ide permasalahan secara lisan ataupun tulisan; indikator ketiga sebesar 93,75% artinya hampir semua siswa dapat melukiskan permasalahan pada suatu gambar/diagram; dan indikator keempat sebesar 62,5% artinya sebagian besar siswa mengalami kesulitan dalam hal ini. Students do not dare to ask questions when they find difficult problems, therefore students' mathematical communication skills are very important to have. This study aims to obtain further information about students' mathematical communication skills. The research method used is qualitative research. The subjects of this research were 4 students of class VII at Pondok Pesantren At-Taufik Ciucing. Data collection techniques used are tests, interviews, and observation. Data analysis techniques used are data reduction, data presentation, and concluding. The results of this study indicate the final conditions of students' mathematical communication skills, namely: the first indicator is 81.25%, meaning that a small number of students cannot represent the problems they face; the second indicator of 62.75% means that most students have difficulty in explaining problem ideas orally or in writing; the third indicator of 93.75% means that almost all students can describe the problem on a picture/diagram; the fourth indicator of 62.5% means that most students have difficulty in this matter.
Penerapan Model Pembelajaran Problem Posing dan Direct Instruction dalam Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Iswara, Eris; Sundayana, Rostina
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 1 No. 2 (2021): Juli
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/plusminus.v1i2.897

Abstract

Penelitian dilatarbelakangi pada permasalahan rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Sebagai alternatif pemecahan permasalahan, dilakukan penelitian dengan penerapan model pembelajaran Problem Posing dan Direct Instruction dalam pembelajaran matematika. Tujuan penelitian menganalisis peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang belajar dengan model pembelajaran Problem Posing dan Direct Instruction. Metode penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan populasi seluruh siswa kelas XI SMA Negeri di Garut. Sampel dipilih berdasarkan teknik purposive sampling, dan diperoleh dua kelas sebagai sampel penelitian. Instrumen penelitian yang digunakan adalah tes kemampuan pemecahan masalah matematis. Berdasarkan hasil analisis secara statistik diperoleh kesimpulan bahwa peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang belajar dengan model pembelajaran Problem Posing lebih baik dari model pembelajaran Direct Instruction. Model pembelajaran Problem Posing direkomendasikan untuk mengembangkan kemampuan pemecahan matematis siswa. The research was motivated by the problem of the low mathematical problem-solving ability of students. As an alternative to solving problems, research was conducted by applying the Problem Posing and Direct Instruction learning model in learning mathematics. The purpose of this research is to analyze the improvement of students' mathematical problem-solving abilities who study with Problem Posing and Direct Instruction learning models. The research method used is quasi-experimental with a population of all students of class XI SMA Negeri in Garut. The sample was selected based on the purposive sampling technique, and two classes were obtained as research samples. The research instrument used was a mathematical problem-solving ability test. Based on the results of statistical analysis, it was concluded that the improvement of students' mathematical problem-solving abilities who studied with the Problem Posing learning model was better than the Direct Instruction learning model. The Problem Posing learning model is recommended to develop students' mathematical solving abilities.
Kesulitan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa SMP di Desa Mulyasari pada Materi Statistika Nugraha, Moch Robbi; Basuki
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 1 No. 2 (2021): Juli
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/plusminus.v1i2.898

Abstract

Setiap hari kita dihadapkan dengan berbagai permasalahan yang menuntut kemampuan pemecahan masalah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kesulitan yang dialami siswa SMP dalam memecahkan masalah pada materi statistika. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan observasi, tes kemampuan pemecahan masalah, dan wawancara. Analisis data melalui beberapa tahap pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas VIII dan IX yang berada di Desa Mulyasari Kecamatan Bayongbong Kabupaten Garut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kesulitan yang dialami oleh siswa adalah: 1) menyajikan laporan statistik secara lisan, tertulis, tabel, diagram, dan grafik; 2) membuat pemodelan matematika; 3) menerapkan strategi untuk memecahkan masalah; 4) menarik kesimpulan; 5) memeriksa kembali jawaban. Faktor yang mempengaruhi kesulitan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa, antara lain: 1) kurangnya keterampilan dalam merencanakan penyelesaian; 2) siswa tidak melakukan pemeriksaan kembali; 3) hilangnya motivasi belajar; 4) tidak percaya diri; 5) penerapan model pembelajaran yang kurang tepat. Every day we are faced with various problems that require problem-solving skills. The purpose of this study was to analyze the difficulties experienced by junior high school students in solving statistical problems. This research is a qualitative descriptive study with data collection techniques using observation, problem-solving ability tests, and interviews. Data analysis went through several stages of data collection, data reduction, data presentation, and drawing conclusions. This research was conducted on students in grades VIII and IX in Mulyasari Village, Bayongbong District, Garut Regency. The results of this study indicate that the difficulties experienced by students are: 1) presenting statistical reports orally, in writing, tables, diagrams, and graphs; 2) make mathematical modeling; 3) apply strategies to solve problems; 4) draw conclusions; 5) recheck the answers. Factors that affect the difficulty of students' mathematical problem-solving abilities, among others: 1) lack of skills in planning solutions; 2) students do not re-examine; 3) loss of motivation to learn; 4) not confidence; 5) the application of an inappropriate learning model.
Perbedaan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis dan Self-Confidence Siswa antara Model TPS dan PBL Lesi, Alpia Nadia; Nuraeni, Reni
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 1 No. 2 (2021): Juli
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/plusminus.v1i2.899

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematis. Terdapat aspek penting lain juga yaitu self-confidence (kepercayaan diri), menjadi salah satu sikap yang mendapatkan perhatian. Model pembelajaran yang diduga dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis dan Self-cofidence pada siswa adalah model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share dan Problem Based Learning. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematis dan self-confidence antara siswa yang mendapatkan model TPS dan PBL. Metode penelitiannya adalah kuasi eksperimen dengan populasi seluruh siswa kelas X MAN 2 Garut. Sampel penelitian sebanyak dua kelas yaitu kelas X MIA-1 sebanyak 29 siswa dan kelas X MIA-3 sebanyak 31 siswa. Instrumen penelitian berupa tes uraian kemampuan pemecahan masalah dan angket self-confidence. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan pencapaian dan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis antara siswa yang mendapatkan model TPS dan PBL. Interpretasi self-confidence siswa model TPS dan PBL berada pada kategori cukup. This research is motivated by the low ability to solve mathematical problems. There is also another important aspect, namely self-confidence, which is one of the attitudes that get attention. The learning model that is supposed to be used to improve students' mathematical problem-solving skills and self-confidence is the Think Pair Share and Problem Based Learning cooperative learning model. This study aims to determine the differences in mathematical problem-solving abilities and self-confidence between students who received the TPS and PBL models. The research method is quasi-experimental with the entire population of class X MAN 2 Garut. The research sample consisted of two classes, namely class X MIA-1 as many as 29 students and class X MIA-3 as many as 31 students. The research instrument is a description of the problem-solving ability test and a self-confidence questionnaire. The results of the analysis showed that there was no difference in the achievement and improvement of mathematical problem-solving abilities between students who received the TPS and PBL models. The students' self-confidence interpretation of the TPS and PBL models is in the sufficient category.
Bahasa Matematis dalam Penentuan Waktu Siang - Malam menurut Tradisi Sunda Muhtadi, Dedi; Rochmad; Isnarto
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 1 No. 2 (2021): Juli
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/plusminus.v1i2.900

Abstract

Tasikmalaya merupakan wilayah Tatar Sunda yang julukannya sebagai: “Sang Mutiara Priangan Timur”, memiliki peran penting di Provinsi Jawa Barat Selatan. Peran ini sangat berpengaruh terhadap potensi masyarakat, termasuk di bidang kebudayaan. Namun seiring dengan perkembangan zaman, budaya tersebut kurang dikenal oleh generasi muda saat ini. Tujuan dari penelitian adalah untuk melestarikan budaya masyarakat Sunda khususnya di Tasikmalaya agar budaya tersebut tetap terjaga. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi yang bersumber dari studi literatur, observasi lapangan dan wawancara dengan seorang ahli budaya Sunda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat bahasa matematis dalam penentuan waktu sehari semalam yang digunakan oleh masyarakat Sunda di Tasikmalaya dan hal itu dapat menjadi sebagai titik tolak untuk acuan dalam pembelajaran matematika. Tasikmalaya is a Sundanese region whose nickname is: "The Pearl of East Priangan", an important role in South West Java Province. This role is very influential on the potential of the community, including in the field of culture. But along with the times, this culture is less well known by today's young generation. The purpose of this research is for the culture of the Sundanese people, especially in Tasikmalaya so that the culture is maintained. This study uses a qualitative approach with an ethnographic approach derived from literature studies, field observations and interviews with a Sundanese cultural expert. The results of the study indicate that there is a mathematical language in the right time of day and night that is used by the Sundanese people in Tasikmalaya and it can be a starting point to be used as a reference in learning mathematics.
Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis ditinjau dari Self-Confidence Siswa pada Materi Aljabar dengan Menggunakan Pembelajaran Daring Rosmawati, Rd. Rina; Sritresna, Teni
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 1 No. 2 (2021): Juli
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/plusminus.v1i2.901

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah kemampuan dalam memahami konsep matematis pada materi aljabar dengan menggunakan pembelajaran daring di Kecamatan Malangbong. Sumber data diambil 6 orang untuk meneliti self-confidence siswa dan 3 sampel di ambil berdasarkan teknik purposive sampling yaitu teknik pengambilan sampel dengan menentukan kriteria-kriteria tertentu yaitu berdasarkan kategori self-confidence tinggi, sedang, dan rendah. Analisis data pada penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis studi kasus. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu siswa kelas VII dan VIII yang sudah mempelajari materi aljabar. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan angket, tes tertulis, dan wawancara yang dibutuhkan untuk memperoleh data pendukung. Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa siswa dengan self-confidence tinggi lebih baik di bandingkan dengan self-confidence sedang atau rendah dalam memahami konsep matematis. This study aims to determine how the ability to understand mathematical concepts in algebraic material using online learning in Malangbong District. 6 people are taken to examine students’ self-confidence. And 3 samples were taken based on the purposive sampling technique, namely the sampling technique by determining certain criteria, namely based on the high, medium, and low self-confidence categories. Data analysis in this study used a qualitative method with a case study analysis approach. Sources of data used in this study are students of class VII and VIII who have studied algebraic material. The data collection technique used in this study is to use a self-confidence questionnaire, a written test, and interviews needed to obtain supporting data. From the results of this study, it was found that students with high self-confidence were better than those with moderate or low self-confidence in understanding mathematical concepts.
Perbandingan Kemampuan Pemahaman Matematis Siswa melalui Mood-Understand-Recall-Digest-Expand-Review dan Discovery Learning Silviana, Devi; Mardiani, Dian
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 1 No. 2 (2021): Juli
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/plusminus.v1i2.902

Abstract

Dalam pembelajaran matematika pemahaman merupakan hal yang sangat penting dan merupakan langkah dasar dalam proses pembelajaran. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui kemampuan dan peningkatan pemahaman matematis siswa yang mendapatkan model pembelajaran Mood–Understand-Recall-Digest-Expand-Review (MURDER) dan yang mendapatkan model pembelajaran Discovery Learning. Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimen di SMP Negeri 1 Cisurupan kelas VII dengan sampel dua kelas, yaitu kelas VII F sebagai kelas eksperimen dengan menggunakan MURDER dan kelas VII G dengan menggunakan Discovery Learning, serta materi yang diajarkan mengenai bangun datar segi empat. Analisis data dilakukan dengan uji normalitas dan statistic nonparametric. Berdasarkan hasil analisis, kemampuan pemahaman matematis siswa antara yang mendapatkan model pembelajaran MURDER lebih baik dari pada siswa yang mendapatkan model pembelajaran Discovery Learning. Peningkatan pemahaman matematis siswa terhadap model pembelajaran MURDER dengan model pembelajaran Discovery Learning yaitu tinggi – sedang. Students’ mathematical understanding is still low, so it is needed model learning that helps students to be active and creative in learning; including the Mood–Understand-Recall-Digest-Expand-Review (MURDER) learning model with the Discovery Learning learning model. The purpose of this study is to determine the ability and increase of mathematical understanding of students who get the MURDER learning model and those who get the Discovery Learning learning model. This research is a quasi-experimental study in Cisurupan State Middle 1 class VII with a sample of two classes, namely class VII F as an experimental class using MURDER and VII G classes using the model Discovery Learning, as well as the material taught about rectangular flat builds. Data analysis was performed with normality tests and non-parametric statistics. Based on the results of the analysis, the ability of students' mathematical understanding between those who get the learning model MURDER is better than students who get the Discovery Learning learning model. Increasing students' mathematical understanding of the MURDER learning model with the Discovery Learning model, which is high - medium.
Kemampuan Representasi Matematis Siswa Melalui Model Problem Based Learning dan Probing Prompting Learning Silviana, Suwanti; Maryati, Iyam
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 1 No. 2 (2021): Juli
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/plusminus.v1i2.903

Abstract

Kemampuan representasi matematis siswa rendah. Upaya meningkatkan kemampuan representasi matematis diantanya melakukan inovasi model pembelajaran. Tujuan penelitian untuk menganalisis perbedaan dan kualitas peningkatan kemampuan representasi matematis antara siswa yang mendapatkan model pembelajaran problem-based learning dengan probing prompting learning, beserta respon sikap siswa. Metode penelitian adalah kuasi eksperimen. Populasi adalah seluruh siswa kelas VIII salah satu SMP swasta di Garut tahun ajaran 2018/2019, sampelnya yaitu kelas VIII-A dan VIII-B. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan kemampuan representasi matematis antara siswa yang mendapatkan model pembelajaran problem-based learning dengan probing prompting learning, kualitas peningkatan kemampuan representasi matematis siswa kedua kelas berinterpretasi sedang, dan sikap siswa berinterpretasi baik. Model pembelajaran problem-based learning dengan probing prompting learning dapat digunakan dalam pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan representasi matematis. The students' mathematical representation ability is low. Efforts to improve mathematical representation skills include innovating learning models. The purpose of the study was to analyze the differences and quality of improvement in mathematical representation skills between students who received the problem-based learning model with probing prompting learning, along with student attitude responses. The research method is quasi-experimental. The population is all class VIII students of one of the private junior high schools in Garut for the 2018/2019 academic year, the samples are class VIII-A and VIII-B. The results showed that there were differences in the ability of mathematical representation between students who received the problem-based learning model with probing prompting learning, the quality of improving the mathematical representation ability of students in both classes had moderate interpretation, and students' attitudes had good interpretations. A problem-based learning model with probing prompting learning can be used in learning to improve mathematical representation abilities.
Kemampuan Representasi Matematis Siswa Melalui Model STAD dan TPS Agustina, Tri Budi; Sumartini, Tina Sri
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 1 No. 2 (2021): Juli
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/plusminus.v1i2.904

Abstract

Kemampuan representasi matematis siswa masih rendah. Upaya untuk meningkatkannya dengan menggunakan model STAD dengan TPS. Tujuan penelitian untuk menganalisis perbedaan kemampuan representasi matematis antara siswa yang mendapatkan model STAD dengan TPS. Metode penelitiannya yaitu kuasi eksperimen dengan populasinya adalah siswa kelas VII SMPN 2 Tarogong Kidul Garut. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling sebanyak dua kelas, yaitu kelas VII-F sebagai kelas eksperimen 1 dan VII-G sebagai kelas eksperimen 2, dengan banyaknya siswa yang lengkap mengikuti kegiatan mulai dari pretest, perlakuan, dan posttest untuk kelas eksperimen 1 sebanyak 32 siswa dan kelas eksperimen 2 sebanyak 32 siswa. Data yang dianalisis diperoleh dari hasil Pretest, Posttest, Gain Ternormalisasi dan penyebaran angket. Hasil penelitian diperoleh: 1) terdapat perbedaan kemampuan representasi matematis antara siswa yang mendapatkan model STAD dengan TPS, 2) interpretasi peningkatan kemampuan representasi matematis siswa kedua kelas berinterpretasi sedang, 3) sikap siswa kedua kelas terhadap masing-masing model pembelajaran berinterpretasi baik. Students' mathematical representation ability is still low. Efforts to improve it by using the STAD model with TPS. The purpose of the study was to analyze the differences in mathematical representation abilities between students who received the STAD and TPS models. The research method is quasi-experimental with the population being class VII students of SMPN 2 Tarogong Kidul Garut. Sampling was carried out by purposive sampling as many as two classes, namely class VII-F as experimental class 1 and VII-G as experimental class 2, with the number of complete students participating in activities ranging from pretest, treatment, and posttest for experimental class 1 as many as 32 students. and experimental class 2 as many as 32 students. The data analyzed were obtained from the results of Pretest, Posttest, Normalized Gain, and questionnaire distribution. The results obtained: 1) there are differences in the ability of mathematical representation between students who get the STAD model and TPS, 2) the interpretation of increasing the mathematical representation ability of students in both classes has a moderate interpretation, 3) the attitudes of students in both classes towards each learning model have good interpretation.

Page 1 of 2 | Total Record : 15