cover
Contact Name
JOKO SANTOSO
Contact Email
ps.johnsantoso@gmail.com
Phone
+6287836107190
Journal Mail Official
jurnalberitahidup@gmail.com
Editorial Address
Jl. Solo-Kalioso KM.7.Solo
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Transformasi Fondasi Iman Kristen dalam Pelayanan Pastoral di Era Society 5.0
ISSN : 26564904     EISSN : 26545691     DOI : https://doi.org/10.38189/jtbh.v4i1.181
Core Subject : Religion,
Focus & Scope Jurnal Teologi Berita Hidup adalah: Teologi Biblikal Teologi Sistematika Teologi Pastoral Kepemimpinan Kristen Pendidikan Agama Kristen
Articles 293 Documents
Perumpamaan Tentang Penabur Sebagai Kunci Memahami Esensi Kerajaan Allah The Theo Christi
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 2 (2022): Maret 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i2.266

Abstract

Ada begitu banyak pandangan yang berbeda tentang Kerajaan Allah di benak semua orang percaya, terutama di antara banyak denominasi, dan beberapa denominasi bahkan bertentangan satu sama lain. Akibatnya, gereja-gereja kurang memiliki dorongan untuk mencari substansi Kerajaan Allah. Dalam Injil sinoptik, peneliti menemukan sepuluh dari empat puluh lima perumpamaan yang berbicara tentang esensi Kerajaan Allah. Dalam kajian ini, menyajikan salah satunya, yaitu “perumpamaan tentang penabur”, yang membahas tentang empat tanggapan hati manusia terhadap firman Kerajaan Allah. Ketika peneliti membaca temuan penelitian sebelumnya dalam pencarian tentang esensi Kerajaan Allah, ternyata para peneliti belum membahas kaitan “benih yang ditabur dengan Kerajaan Allah”. Untuk itu,, peneliti menemukan ruang kosong untuk diteliti yaitu mencari tahu apa arti buah dan kelimpahan dalam perumpamaan tentang penabur ini dalam kaitannya dengan esensi Kerajaan Allah. Dengan menggunakan metode studi literatur, peneliti memaparkan arti Kerajaan Allah dan makna berbuah dalam kelimphaan dengan Kerajaan Allah dengan mengkaji artikel ilmiah dan buku-buku yang berkaitan dengan judul penelitian ini. Hasil penelitian menemukan bahwa esensi Kerajaan Allah itu dipahami sebagai buah dari kehidupan seseorang  yang telah mengalami transformasi hati setelah ditaburi dengan benih firman Allah. Hasilnya secara kuantitas dapat  berbeda untuk setiap orang Kristen namun secara kualitas layak dihargai sebagai bukti eksistensi Kerajaan Allah dalam hidup seorang pengikut Kristus yang sejati, 
Sumbangan Teologi Penciptaan Kristiani Dalam Ensiklik Laudato-Si Artikel 62-75 Bagi Persoalan Ekologis Mathias Jebaru Adon; FX Armada Riyanto; Pius Pandor
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 5, No 1 (2022): September 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v5i1.224

Abstract

This study aims to explain the concept of creation theology according to the Catholic Church's view as stated in the Encyclical Laudato-Si articles 62-75. This is motivated by the complexity of ecological problems with various causes. So the solution is not only from one way of interpreting and changing reality. It is also necessary to ask for help from various cultural treasures of the nation, especially religion if you want to develop a complete ecology. In this regard, the Catholic Church as a religious institution is very open to dialogue with philosophical thought and the scientific sciences, and this has enabled the Church to produce various syntheses between faith and reason. This research uses the method of literature study and critical reading of the creation story in the Book of Genesis. This research finds that the Catholic Church based on the Bible from the beginning has a solid view of the concept of creation that humans are called to care for and preserve the created nature. Pope Francis emphasized this in his encyclical Laudato-Si articles 62-75. Therefore, the task of caring for the created world is the call and duty of the Christian faith. By realizing this the complexity of environmental problems can be overcome.
Makna dan Penerapan Frasa Mata Hati yang Diterangi dalam Efesus 1:18-19 Joseph Christ Santo
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 1, No 1 (2018): September 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v1i1.1

Abstract

The Bible shows that the Ephesians who should have understood the God they worshiped were in fact still prayed by Paul so that they would have an illuminated eye of heart to know God. The focus of this research is to find out what Paul means about the enlightened eyes of the heart, why the reader of this letter needs to have the enlightened eyes of the heart, how the process of the eyes of the heart is enlightened, and what is the reason for the church today. This study used an exegesis method, by analyzing the elements of the word in the original language and in its context, so that found a principle that can be applied in today’s life. Some conclusions of this study are: Firstly, the phrase “enlightened eyes of the heart” means “it has illuminated the innermost part of man to be able to understand”. Secondly, the enlightened eyes of the heart are needed so that the reader of Ephesians grows in three ways: the hope of the call, the richness of the glory of the inheritance of the saints, and the great power of God for believers. Thirdly, to experience the enlightened eyes of the heart, one must first accept the gospel so that the Holy Spirit inhabits his heart; It is this indwelling Holy Spirit that makes the eyes of the person’s heart enlightened. Fourthly, Christians are not enough to stop accepting the gospel and their recognition of Christ, he needs to know God more deeply; for that he needs the Holy Spirit which enables him to understand his relationship with God so that he has an attitude of life in accordance with the available grace.AbstrakAlkitab menunjukkan bahwa jemaat Efesus yang seharusnya sudah mengerti tentang Allah yang mereka sembah, ternyata masih didoakan oleh Paulus agar mereka memiliki mata hati yang diterangi untuk dapat mengenal Allah. Fokus dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan apa maksud frasa: “mata hati yang diterangi”, mengapa pembaca surat ini perlu memiliki mata hati yang diterangi, bagaimana proses mata hati yang diterangi, dan apa aplikasinya bagi gereja masa kini. Penelitian ini menggunakan metode eksegesis, yaitu dengan menganalisis unsur frasa tersebut dalam bahasa aslinya dan konteks­nya. sehingga ditemukan prinsip yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan masa kini. Kesimpulan dari penelitian ini adalah: Pertama, frasa “mata hati yang diterangi” memiliki pengertian “telah di­teranginya bagian terdalam dari manusia untuk sanggup mengerti”.  Kedua, mata hati yang diterangi diperlukan agar pembaca surat Efesus bertumbuh dalam tiga hal pengetahuan, yaitu pengharapan akan panggilan, kekayaan kemulia­an warisan bagi orang-orang kudus, dan kebesaran yang luar biasa dari kekuatan kuasa Allah bagi orang-orang yang percaya. Ketiga, untuk mengalami mata hati yang di­terangi, seseorang terlebih dulu harus menerima Injil sehingga Roh Kudus mendiami hatinya; Roh Kudus yang mendiami inilah yang membuat mata hati orang tersebut diterangi. Keempat, orang Kristen tidak cukup berhenti pada penerimaan Injil dan pengakuannya akan Kristus, ia perlu mengenal Allah lebih dalam; untuk itu ia memerlukan Roh Kudus yang me­mampukannya mengerti hubung­an dirinya dengan Allah sehingga memiliki sikap hidup berpadanan dengan anugerah yang tersedia tersebut.
Potret Pemimpin Kristen Sebagai Sumber Daya Manusia Unggul Menurut Kitab Titus Iksantoro Iksantoro
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 2, No 1 (2019): September 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v2i1.24

Abstract

Theological Seminary as an Indonesian Christian Religious Higher Education Institution has the task of preparing Excellent Christian Leaders, so they can compete on the global stage. The Titus letter is one of the books that offers a image of a Excellent Christian Leader. Understanding and making such Christian leaders can help the government's vision of preparing Excellent Human Resources. The image of a Excellent Christian Leader according to Titus must have certain qualifications are family qualifications (Tit. 1: 6), personality qualifications (Tit. 1: 7), social qualifications (Tit. 1: 8), spiritual qualifications (Tit. 1: 8, 9) and professional qualifications (Tit. 1: 9, 13; 2: 1). AbstrakSekolah Tinggi Teologi sebagai Lembaga Pendidikan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia mengemban tugas untuk mempersiapkan para pemimpin Kristen yang unggul, sehingga dapat bersaing di kancah global. Surat Titus merupakan salah satu kitab yang menyodorkan potret Pemimpin Kristen yang unggul. Dengan memahami dan mencetak pemimpin Kristen yang demikian, dapat menolong visi pemerintah menyiapkan Sumber Daya Manusia Unggul. Potret pemimpin Kristen yang unggul menurut Titus harus memiliki kualifikasi tertentu, yaitu kualifikasi keluarga (Tit. 1:6), kualifikasi kepribadian (Tit. 1:7), kualifikasi sosial (Tit. 1:8), kualifikasi spiritual (Tit. 1:8, 9) dan kualifikasi professional (Tit. 1:9, 13; 2:1).  
Tujuan Penciptaan sebagai Cara Memahami Keberagaman Etika dalam Kekristenan Tony Salurante; Aprianus Moimau; Filmon Berek
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 3, No 2 (2021): Maret 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v3i2.91

Abstract

Moral diversity can be a problem and has presented challenges and opportunities for Christian ethics, especially as it relates to the spirituality of the congregation. The prevalent moral pluralism shows a different understanding of the Bible's contents and the process of understanding God's will, coupled with the emergence of theories that want to make a certain viewpoint. In the process of exploring these issues, the article offers a reflection based on the teleological approach to creationism. The thesis of this article states that the doctrine of creation can be one of the important foundations in shaping Christian ethics in contemporary era.Keragaman moral bisa menjadi masalah dan telah menghadirkan tantangan dan peluang bagi etika Kristen, terutama yang berkaitan dengan kehidupan spiritualitas jemaat. Pluralisme moral yang banyak terjadi menunjukkan pemahaman yang berbeda juga dalam menggali isi Alkitab dan proses memahami kehendak Allah, ditambah lagi dengan munculnya teori-teori yang ingin menyudutkan satu pandangan tertentu. Dalam proses mengeksplorasi masalah-masalah ini, artikel ini menawarkan refleksi yang didasari dengan pendekatan teleologis dari ajaran penciptaan. Tesis dari artikel ini mengatakan bahwa doktrin penciptaan bisa menjadi salah satu fondasi penting dalam membentuk etika Kristen di zaman kontemporer.
Transformasi Fondasi Iman Kristen dalam Pelayanan Pastoral di Era Society 5.0 Joko Santoso; Seri Damarwanti; I Made Priana; Teguh Bowo Sembodo; Anthoneta Taru PA
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 1 (2021): September 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i1.181

Abstract

In the Era of Society 5.0, it is very important for the church to lay down the foundation of Christian Faith for Pastoral Services in answering the problems of God's people and in solving various life challenges include social problems through the use of various information and communication technology innovations accompanied by the development of an era of disruption such as the Internet (Internet on Things), Intelligence artificial intelligence (Artificial Intelligence), and Data Banks (Big Data). This research is conducted to answer the issue of how pastoral care is  contextually working in today's digital world, which also influences changes in life styles and thus demands an adaptive pastoral care approach without losing the essence of pastoral care itself. This study proposes a foundation of Christian Faith in creative and innovative pastoral care. The research method uses a literature study approach whereas coclusion can be drawn that creative and innovative pastoral care must be done by laying the foundation for a realistic theological pastoral ministry in facing the challenges of the times. The newness of the research compared to previous similar studies lies in how the era of society 5.0 brings a new paradigm of the importance of the humanistic side to be a priority and basis, besides the need to maintain the essence of pastoral care itself.Gereja di Era Society 5.0 sangat penting meletakkan Dasar Pondasi Iman Kristen Pelayanan Pastoral guna menjawab persoalan umat Tuhan dalam menyelesaikan berbagai tantangan hidup termasuk permasalahan sosial melalui pemanfaatan berbagai inovasi teknologi informasi dan komunikasi yang dibarengi adanya perkembangan era disrupsi seperti Internet (Internet on Things), Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), dan Bank Data (Big Data). Penelitian ini dilakukan untuk menjawab issue bagaimana Pelayanan Pastoral semakin kontekstual dalam dunia digital sekarang, yang turut mempengaruhi perubahan tatanan dan gaya hidup sehingga menuntut pendekatan pelayanan pastoral yang adaptif tanpa perlu kehilangan esensi pelayanan pastoral itu sendiri. Kajian ini mengusulkan pondasi Iman Kristen dalam pelayanan pastoral yang kreatif dan inovatif. Metode penelitian menggunakan pendekatan studi literatur untuk menarik kesimpulan bahwa pelayanan pastoral yang kreatif dan inovatif dimulai dengan meletakkan dasar pondasi pelayanan pastoral yang realistis teologis dalam menyingkapi tantangan zaman. Keterbaharuan penelitian dibandingkan dengan penelitian sejenis sebelumnya terletak pada bagaimana era society 5.0 membawa paradigma baru pentingnya sisi humanistis menjadi prioritas dan dasar, disamping perlunya tetap menjaga esensi pelayanan pastoral itu sendiri.
Antara Abimelekh dan Yotam: Studi Eksegesis Hakim-Hakim 9:7-21 Yudi Jatmiko
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 1 (2021): September 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i1.94

Abstract

AbstractIn the passage of Judges 9:7-21, Jotham was described as an inferior figure compared to Abimelech who was a ruler. But, here exactly lies the beauty of the narrative writing. The narrator wished to topple down and uphold the thesis that criticize Abimelech leadership, as well as approved Jotham’s quality, i.e., a crowned leader of Israel must be a righteous leader in the eyes of God and men, not an ambitious leader. The problem statement of the research is how does the narrator interweave and prove this thesis in the passage? The research purpose is to showcase the supporting literary elements in the narration as well as to prove the narrator’s thesis statement. The method that the writer uses in this writing is literary research. The writer analyzes primary resources that discuss the text of Judges 9:7-21. Besides that, the writer exegetes the text deeply while paying close attention to text analysis, historical and cultural background, and literary analysis. The research results in the fact that the narrator has succeeded to prove his thesis through the above discussed literary elements.Keywords: Judges 9:7-21, Abimelech, Jotham, word study, historical analysis, literary analysis. AbstrakDalam narasi Hakim-hakim 9:7-21, Yotam adalah figur yang inferior dibandingkan dengan Abimelekh yang pada waktu itu tengah menjadi penguasa. Tetapi justru di sinilah letak keindahan penulisan narasi tersebut. Narator ingin membalik dan mengusung tesis yang mengkritisi kepemimpinan Abimelekh, sekaligus memuji kualitas Yotam, yaitu bahwa pemimpin yang dinobatkan menjadi raja atas Israel harus merupakan pemimpin yang benar di mata Allah dan manusia, bukan pemimpin yang ambisius. Rumusan masalah dalam penelitian ini ialah bagaimana narator mengemas dan membuktikan tesis ini dalam penulisan perikop tersebut? Tujuan penelitian ialah untuk menunjukkan elemen-elemen sastra yang mendukung dalam narasi ini sekaligus membuktikan tesis narator. Metode yang penulis tempuh dalam penelitian ini ialah penelitian pustaka. Penulis mengkaji sumber-sumber pertama yang mengulas teks Hakim-hakim 9:7-21. Selain itu, penulis juga melakukan eksegesis mendalam terhadap teks dengan memperhatikan analisis teks, latar belakang sejarah dan budaya, serta analisis sastra. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa narator berhasil membuktikan tesisnya melalui elemen-elemen sastra yang dikaji di atas.Kata-kata Kunci: Hakim-hakim 9:7-21, Abimelekh, Yotam, analisis kata, analisis sejarah, analisis sastra
Pancasila Sebagai Providensia Allah bagi Kekristenan di Indonesia Oda Judithia Widianing
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 2 (2022): Maret 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i2.210

Abstract

Anthropocentric kerap kali menjadi konklusi pemahaman doktrin Providensia. Hal ini membuat seolah-olah Allah hadir untuk melayani manusia dan kepentingannya. Alkitab tidak pernah memaksudkan seperti itu. Theocentric adalah inti dari semua pergerakan sejarah. Maka final-end dari karya providensia adalah pada diri Allah sendiri, demi kemuliaan-Nya dan penggenapan rencana kekal-Nya. Namun Allah yang maha kuasa dan kasih itu bekerja dengan berbagai sarana yang Dia tetapkan untuk memelihara apa yang telah Dia ciptakan, secara khusus bagi umat ketebusan-Nya. Demikian pula halnya dengan kekristenan di Indonesia yang sudah hidup sejak kolonialis VOC. Pancasila adalah sarana yang Allah tetapkan dalam kedaulatan-Nya untuk menjadi sarana providensia-Nya bagi orang percaya di Indonesia.  Metodologi yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan metode pengumpulan data adalah studi pustaka berpijak pada biblical perspective. Dalam artikel ini penulis akan mengkaji tentang providensia Allah yang berlaku bagi umat Kristen di negara Bhineka Tunggal Ika dengan berpijak pada historikal Pancasila dan implementasi yang seharusnya dikerjakan umat Kristen di Indonesia sebagai respon terhadap providensia Allah ini. Kebaruan dari artikel ini adalah melihat final-end providensia Allah secara kosmis dalam diri Kristus sebagai Kepala dan fakta sejarah Pancasila menjadi Common Platform yang adalah sarana providensia Allah bagi umat Kristen Indonesia
Pengaruh Rasa Memiliki, Spiritualitas Dan Pendampingan Pastoral Terhadap Keterlibatan Dalam Pelayanan GMAHK Di Batam Sandy Hasudungan Tambunan; Stimson Hutagalung; Rolyana Ferinia
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 5, No 2 (2023): Maret 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v5i2.410

Abstract

The goal of this research is to describe, first, the sense of ownership variable affects involvement in service. The second is the influence of the spirituality variable on involvement in service. The third is the effect of pastoral care on involvement in ministry. Fourth, whether the variables of belonging, spirituality and pastoral assistance have an influence on involvement in service. This study uses a stratified random sampling technique with 110 correspondent the Seventh Day Adventist congregation in Batam. The data that was successfully filtered through the validity test and the classical assumption test were processed to make the regression analysis equation as follows: Y =  0.249 X1 + 0.135 X2 + 0.132 X3 + 10.866. Where variable Y is involvement in ministry, variable X1 is sense of belonging, variable X2 is spirituality, and variable X3 is pastoral care. Hypothesis testing using the t-test proves that separately and simultaneously the sense of belonging, spirituality and pastoral care that have been studied have an effect on the involvement of church members in ministry. Hypothesis testing using the F test also proves that the variables of belonging, spirituality and pastoral assistance to the service involvement variable are 46.8%, and the rest there are other factors that influence 53.2% which were not examined. Keywords: Sense of belonging, Spirituality, Pastoral care, Church minister
Kinerja Pendidik Dalam Upaya Peningkatan Kualitas Pembelajaran David Priyo Susilo; Kalis Stevanus; Tantri Yulia
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 5, No 2 (2023): Maret 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v5i2.398

Abstract

Proses pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik perlu diciptakan. Pembahasan ini bertujuan untuk mendeskripsikan kinerja pendidikan dalam upaya peningkatkan mutu pembelajaran. Untuk menjawab tujuan tersebut, penulis memilih metode kuatif deskriptif dengan memanfaatkan kepustakaan yang relevan dengan pembahasan. Hasil analisis kajian pustakan didapati bahwa kinerja pendidik sangat dominan menentukan kualitas pembelajaran, dan memengaruhi hasil belajar peserta didik. Upaya peningkatan mutu pembelajaran dapat dicapai melalui tahap pertama adalah merencanakan pembelajaran; kedua adalah pengembangan strategi pembelajaran; ketiga adalah pengembangan media pembelajaran, dan keempat adalah pengembangan metode pembelajaran Melalui tahapan tersebut diharapkan dapat menciptakan atmosfir pembelajaran yang bermakna dan berkualitas demi menjaga mutu pembelajaran dan mencapai tujuan pembelajaran yang dapat mendorong peserta didik bukan saja menikmati proses pembelajaran yang berkualitas, tetapi peserta didik dapat melakukan aktualisasi diri dalam pembelajaran.