cover
Contact Name
JOKO SANTOSO
Contact Email
ps.johnsantoso@gmail.com
Phone
+6287836107190
Journal Mail Official
jurnalberitahidup@gmail.com
Editorial Address
Jl. Solo-Kalioso KM.7.Solo
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Transformasi Fondasi Iman Kristen dalam Pelayanan Pastoral di Era Society 5.0
ISSN : 26564904     EISSN : 26545691     DOI : https://doi.org/10.38189/jtbh.v4i1.181
Core Subject : Religion,
Focus & Scope Jurnal Teologi Berita Hidup adalah: Teologi Biblikal Teologi Sistematika Teologi Pastoral Kepemimpinan Kristen Pendidikan Agama Kristen
Articles 293 Documents
Analisis Grammatical-Exegetical Wahyu 3:20 dan Implikasinya Terhadap Relevansi Penggunaan Wahyu 3:20 Dalam Model Penginjilan Kontemporer Jhon Leonardo Presley Purba; Riang Hati Waruwu; Amran Manullang; Robinson Rimun
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 2 (2022): Maret 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i2.195

Abstract

Revelation 3:20 is a popular verse that used in contemporary evangelism to encourage the unbelievers to believe in Jesus. Nevertheless, is such usage relevant to the text and context of Revelation 3:20? Using a descriptive qualitative research form with an interpretative model of Grammatical-Exegetical analysis, the aims of this study is to find the theological meaning of Revelation 3:20 and its implications for the relevance of the using of Revelation 3:20 in contemporary evangelistic models. The results of this study conclude that based on the text and context of Revelation 3:20, the usage of this verse in contemporary evangelism toward unbelievers is irrelevant to the text and its context, the meaning of "the door that knocks" by Jesus in this verse does not refer to the door of an individual's heart who do not know Christ but the "spiritual door" of the church or community of believers who have known Christ who are asked to repent from self-satisfied and lukewarmness because of physical wealth, this is also the true theological meaning of Revelation 3:20 which is very relevant with the moral and spiritual state of the church in the modern era which also tends to be self-satisfied and spiritually lukewarm so the implication for believers and the church today is the church need to repent from its self-satisfied, spiritual lukewarmness and "open its doors" for Christ so that Christ can come in to His church and live with His church.  Wahyu 3:20 merupakan ayat yang populer digunakan dalam penginjilan kontemporer untuk mendorong individu yang belum percaya menjadi percaya kepada Yesus. Namun, apakah penggunaan demikian relevan dengan teks dan konteks Wahyu 3:20? Menggunakan bentuk penelitian kualitatif deskriptif dengan model penafsiran analisa Grammatical-Eksegetical, penelitian ini bertujuan untuk menemukan makna teologis Wahyu 3:20 dan implikasinya terhadap relevansi penggunaan Wahyu 3:20 dalam model penginjilan kontemporer. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa berdasarkan teks dan konteks Wahyu 3:20, penggunaan ayat ini dalam penginjilan kontemporer terhadap orang yang belum percaya tidak relevan dengan teks dan konteksnya, makna “pintu yang diketuk” oleh Yesus dalam ayat ini bukan merujuk pada pintu hati seorang individu yang belum mengenal Kristus melainkan “pintu rohani” gereja atau komunitas orang percaya yang telah mengenal Kristus yang diminta untuk bertobat dari berpuas diri dan suam-suam rohani karena kekayaan jasmani, inilah juga yang menjadi makna teologis yang sebenarnya dari Wahyu 3:20 yang sangat relevan dengan keadaan moral dan kerohanian gereja di era modern yang juga cenderung berpuas diri dan suam-suam secara rohani sehingga implikasinya bagi orang percaya dan gereja masa kini adalah agar gereja bertobat dari sifat berpuas diri, suam-suam rohani dan “membuka pintunya” bagi Kristus agar Kristus dapat datang kepada gereja-Nya dan tinggal bersama dengan gereja-Nya.
Pergeseran Nilai dalam Pola Pelayanan Ibadah Raya di Gereja Akibat Pandemi Covid-19 Jakson Sespa Toisuta
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 5, No 1 (2022): September 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v5i1.109

Abstract

Keadaan dunia tidak sama lagi seperti sebelum munculnya pandemi Covid-19. Virus yang begitu cepat penyebarannya dan dapat menyebabkan kematian pada manusia menjadi momok yang menakutkan bagi seisi dunia, yang akhirnya membuat seluruh dunia harus melakukan pembatasan pergerakan sosial secara massal untuk mencegah penyebaran virus tersebut. Hal ini akhirnya memberi dampak yang kurang baik bagi gereja dan pelayanannya. Gereja harus ditutup dan pemerintah menganjurkan untuk beribadah di rumah saja. Beberapa waktu kemudian setelah ditemukannya vaksin pencegahan Covid-19 ini, akhirnya gereja diperbolehkan dibuka kembali untuk umat Tuhan bisa beribadah kembali di gereja. Namun di dalam masa pandemi ini, pelaksanaan kegiatan ibadah raya di gereja telah mengalami perubahan-perubahan yang signifikan dalam pola pelayanan ibadah raya tersebut. Berdasarkan hal itu, kemudian dilakukanlah penelitian  ini  dengan menggunakan  metode  kualitatif deskriptif dengan  pendekatan studi  pustaka untuk mengkaji, memaparkan secara empiris dan teologis mengenai pergeseran nilai dalam pola pelayanan ibadah raya di gereja, yang terjadi akibat dampak pandemi covid-19. Sumber data diperoleh dari observasi di lapangan, di mana penulis bertindak sebagai observasi partisipan. Data sekunder bersumber dari Alkitab, buku referensi dan jurnal ilmiah. Data yang diperoleh dideskripsikan, kemudian di-display, lalu membuat kesimpulan. Hasil yang diperoleh adalah pola pelayanan di ibadah raya telah mengalami perubahan yang signifikan, dari persiapan ibadah, pelaksanaan ibadah, bahkan sampai selesainya ibadah raya, pola pelayanannya telah mengalami pergeseran nilai akibat pandemi Covid-19.
Korelasi Pendidikan Agama Kristen dan Pembentukan Pribadi Unggul Peserta Didik Berdasarkan 2 Korintus 4: 1-6 Sefiani Gulo; Mujiono Mujiono; Olis Olis
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 5, No 2 (2023): Maret 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v5i2.202

Abstract

Pembentukan pribadi seorang anak pertama kalinya didapatkan di dalam keluarga, jadi melalui pendidikan di sekolah lebih menambahkan pembentukkan serta pengetahuan dalam memantapkan pribadinya. Sebab di sekolah seorang anak belajar dalam tiga ranah yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik, kerjasama, bertanggung jawab, menghargai dan bahkan untuk mengenali dirinya. Realitanya siswa belajar tidak memiliki keunggulan dan keunikan secara pribadi tetapi sebaliknya prestasi siswa menurun, tidak melakukan kewajibannya sebagai siswa untuk belajar dan tidak mengenal dirinya sendiri. Berdasarkan Wawancara yang dilakukan oleh pengamat pada tanggal 17 Februari 2020, kepada Ibu Sita Lombantoran S.Pd., kepala sekolah SMPK Pelita Bangsa Bandung, ada beberapa yang menjadi masalah di sekolah SMPK Pelita Bangsa Bandung yaitu sebagai berikut: Pertama kurangnya tenaga pendidik Pendidikan Agama Kristen, dalam jenjang SMP siswa mulai mempertajam kepercayaannya kepada Tuhan, sehingga seorang siswa sangatlah membutuhkan seseorang yang dapat siswa teladani, sebab kurangnya tenaga Pendidikan Agama Kristen akan sulit bagi siswa untuk mempelajari Pendidikan Agama Kristen dengan sendirinya tanpa bantuan dari gurunya, siswa akan beranggapan bahwa pengetahuan tentang Tuhan yang telah didapatkannya sudah benar tetapi sebenarnya pengetahuannya akan Tuhan masih perlu dipertajam, dengan adanya tenaga pendidik Pendidikan Agama Kristen maka siswa tersebut akan ditegur, diperbaiki kesalahannya, dan dididik dalam kebenaran
Makna Logos dan Logika dalam Yohanes 1:14 bagi Pertumbuhan Iman Kristen Masa Kini Josapat Bangun; Suhadi Suhadi
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 5, No 2 (2023): Maret 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v5i2.387

Abstract

Today's Christian faith is mostly built without Logos and logic, as a result there is a deviation of faith growth, not towards Christ as the Head of the Church, but growing towards faith in oneself, faith in material things, faith in miracles, and faith without a solid foundation. Many studies on the Logos have been done, as well as on logic, especially in philosophy. However, the study of the meaning of Logos and logic associated with the growth of Christian faith with qualitative methods is something new, the results are expected to add to the treasures of academic scientific literature. It turns out that the growth of Christian faith will not occur in a healthy and balanced manner if only through reading the Logos alone and also if only relying on limited logic. The growth of Christian faith is very dependent on the balance of studying the Logos as a Person and the graphe Logos critically and analytically by using the logic of God's gift properly and correctly, in the help, guidance, and being led by the Holy Spirit. As it turns out, the growth of true Christian faith only occurs if the Logos and Logos become the leading subject, while logic becomes a limited instrument that must always thirst and hunger for true truth. Always realize that the logic that has been updated must always be subject to the guidance of the Holy Spirit so as not to go astray. All learning outcomes to the Logos and Logos should be realized in concrete actions (operibus) as a sign of faith growth and spiritual maturity in the Logos, the goal is that the growth of Christian faith has a significant impact on the world where Christian faith is present as a manifestation of the incarnation of the Logos in the Logos. believer's life today.
Teladan Yesus Kristus Sebagai Pembentuk Karakter Siswa Guna Mencapai Pembelajaran Yang Holistis Priska Pebrianti Liu; Wiyun Philipus Tangkin
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 5, No 2 (2023): Maret 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v5i2.378

Abstract

Pandemi covid-19 memengaruhi tatanan hidup manusia termasuk dunia pendidikan, salah satunya dalam konteks pembentukan karakter. Siswa mulai kehilangan role model yang dapat diteladaninya khususnya dalam pembentukan karakter, salah satunya karena keterbatasan pembelajaran, yaitu guru dan siswa tidak bertemu secara langsung, serta orang tua yang disibukkan dengan pekerjaan. Hal ini penting untuk dibahas karena saat ini memasuki masa peralihan pembelajaran daring ke pembelajaran luring, sehingga permasalahan karakter perlu dibenahi. Dalam pembentukan karakter diperlukan suatu teladan yang dapat mengarahkan untuk memiliki karakter yang baik. Teladan yang dimaksudkan adalah teladan Yesus Kristus. yang direpresentasikan oleh guru dan orang tua. Hal ini dibahas dalam 3 filsafat, yaitu guru dan orang tua perlu melihat realitas keberadaan Allah dengan meneladani Yesus (metafisika). Teladan kepada Yesus didasari dengan melakukan nilai-nilai karakter yang benar (aksiologi) di mana bersumber dari kebenaran Alkitabiah (epistemologi), sehingga pada akhirnya dapat mewujudkan pembelajaran yang holistis.
Sion sebagai Pusat Kerajaan (tidak) Damai: Membaca Yesaya 2:1-4 dari Konteks Indonesia Jusuf Haries Kelelufna
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 5, No 2 (2023): Maret 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v5i2.270

Abstract

Various interpretive tendencies towards the text of Isaiah 2:1-4 that exist today emphasize the physical and eschatological aspects of Israel's restoration. Efforts to realize the prophecy in Israel have contributed to the rise of radicalism in Indonesia. This paper aims to answer several questions in the text read from the Indonesian context, namely: what is the relevance of rebuilding the Temple? What is the truth of God's word? And is Jerusalem really the center of peace? This research was conducted with an exegesis approach and library research. The results of exegesis are critically reciprocally dialogued with the Indonesian context using related literature studies. The results of the analysis show the relationship between rebuilding the temple of God and building churches in Indonesia, the validity of the truth of God's word in Indonesia is based on pragmatic proof of the truth, and Indonesia as a Center for Peace. The findings of this study encourage action plans, among others; intensify inter-religious dialogue starting from the level of religious figures to the lower level of the community and encourage moderate religious life. It needs the openness of various parties in the development of the study of Bible interpretation as well as adjustments to various methods of interpretation that continue to develop, as well as seeking practical forms of Indonesia's involvement in creating world peace.
Challenges and Required Competencies toward Effective Academic Leadership in Indonesian Theological Institution Bakhoh Jatmiko; Sherly Ester Kawengian
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 5, No 2 (2023): Maret 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v5i2.235

Abstract

Law No. 20 of 2003 concerning the National Education System is the ground of conveying a professional and accountable education model system in Indonesia. This also applies to higher theological education institutions (THEI) that want to get recognition and accreditation from the government. The obligation to comply with this regulation presents its own challenges for theological institutions which are generally established as one of the ministry training entities for the church. Therefore, this study was conducted to obtain information related to particular challenges and competencies of an academic leader in THEI in Indonesia. The study employs a qualitative, systematic grounded theory approach to explore leadership challenges and characteristics in Theological institutions. This study found that factors contributing to effective leadership in dealing with legal and accreditation issues are personal, managerial, practical, administrative, and relational skills. This finding shows that in general, leadership at THEI still needs strengthening in various areas.
Studi Mengenai Karakteristik Budaya dan Multi Wajah Model Teologi Kontekstualisasi Injil Marde Christian Stenly Mawikere; Sudiria Hura
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 5, No 2 (2023): Maret 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v5i2.342

Abstract

AbstractThis research is a conceptual study of the discourse on cultural characteristics for the contextualization of the evangelism and the multifaceted model of contextual theology. The research was carried out with a qualitative approach that was built through a literature review that was relevant to the matters being discussed. This study describes a discussion that will enrich the evangelist to identify and analyze the characteristics or traits of human culture as well as to consider the various models or styles/forms of contextual theology that are relevant in preaching the Gospel to humans and the multi-context society. In the end, the results of the study indicate that the contextualization process needs to pay attention to efforts to identify, analyze and empower culture and its characteristics as a potential for an evangelist to preach the gospel and renew society with gospel values where the gospel is an incomparable culture. Likewise, the contextualization process will be effective if the evangelist considers various models of contextual theology that are relevant in preaching the gospel, and can even be developed for a holistic ministry that touches humans and society from a spiritual, economic, political and social perspective.AbstrakPenelitian ini merupakan studi konseptual mengenai diskursus karakteristik budaya bagi Kontekstualisasi Injil dan multi wajah model teologi kontekstual. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan model kualitatif yang dibangun berdasarkan telaah literatur yang relevan dengan hal-hal yang menjadi pembahasan. Penelitian ini menguraikan pembahasan yang akan memperkaya pemberita Injil untuk mengidentifikasi dan menganalisis karakteristik atau sifat-sifat budaya manusia maupun mempertimbangkan ragam model atau corak/bentuk teologi kontekstual yang relevan dalam pemberitaan Injil kepada manusia dan masyarakat multi-konteks tersebut. Pada akhirnya, hasil penelitian menyatakan bahwa proses kontekstualisasi perlu member perhatian bagi upaya mengidentifikasi, menganalisis dan memberdayakan budaya dan karakteristiknya sebagai potensi bagi seorang penginjil untuk memberitakan Injil serta membaharui masyarakat dengan nilai-nilai Injil yang mana Injil adalah budaya yang tak tertandingi. Demikian pula proses kontekstualisasi akan efektif pula jikalau pemberita Injil mempertimbangkan ragam model teologi kontekstual yang relevan dalam pemberitaan Injil, bahkan dapat dikembangkan kepada pelayanan holistik yang menyentuh manusia dan masyarakat dari sisi spiritual, ekonomi, politik dan sosial. 
Telaah Teologis Pelayanan Diakonia Berdasarkan Kisah Para Rasul 6:1-7 Serta Relevansinya Bagi Pelayanan Gereja di Era Disrupsi Andreas Budi Setyobekti
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 5, No 2 (2023): Maret 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v5i2.274

Abstract

Masalah kemiskinan di Indonesia hingga saat ini belum menemukan jalan keluarnya. Berbagai faktor menjadi penyebab masalah ini, antara lain sosial, pendidikan, dan sumber daya permodalan. Masalah kemiskinan menjadi tanggung jawab semua pihak, termasuk gereja. Selama ini gereja mencari bentuk bagaimana agar pelayanan diakonia relevan di era disrupsi? Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep pelayanan diakonia berdasarkan Kisah Para Rasul 6:2 dan relevansinya dengan pelayanan gereja di era disrupsi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif implementatif dari eksegesis Kisah Para Rasul 6:2 sebagai prinsip dan formula. Hasil penelitian menyatakan bahwa pelayanan diakonia memiliki hubungan dengan pertumbuhan jemaat jika pelayan dipenuhi dengan Roh Kudus. Oleh karena itu, perlu dipilih seorang diaken yang fungsinya membantu pelayanan, terutama bagi jemaat yang kurang mampu secara ekonomi. Model yang diterapkan adalah diakonia karikatif, reformatif dan transformatif. Bentuk relevansi layanan diakonia pada era disrupsi adalah layanan digital, seperti transfer e-banking, grab food dan gofood, dan diakonia non-digital yaitu pengiriman melalui jasa kurir seperti Jalur Nugraha Ekakurir (JNE), Titipan Kilat, Sicepat, Pos Kilat. Kajian ini memberikan konsep pelayanan gereja yang berorientasi pada tingkat ekonomi seseorang. Melalui penelaahan Kisah Para Rasul 6:2, gereja dapat mengambil tanggung jawab untuk memecahkan masalah ekonomi jemaat.
Nilai Diri Disabilitas terhadap Dirinya Sendiri dalam Model Disabilitas Imanuel Teguh Harisantoso
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 5, No 2 (2023): Maret 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v5i2.372

Abstract

The study's objective is to explore the self-value of disability from a disability perspective. The model as an approach to disability studies has been categorically stigmatic. Looking at disability only at the model level, it falls into an understanding that tends to bring disability into categories, victims who deserve to be pitied (Charity model), the sick (medical model), not potential (social model), and stigmatized by negative identification by cultural models. The disability approach descriptively becomes an analytical knife to unravel the existence of disability problems, thus generating a new perspective on seeing disability. The study's results show that other new constructions of disability models that go beyond internal (self-medical) and external (socio-cultural) problems show that disability is not viewed from a negative perspective but from a different point of view. The relational model will bring disability in the I-Thou Buber relation and philosophically-theologically in the perichoresis relation. The relation is built on the principle of trinitarian relations: Father, Son, and Holly Spirit.