cover
Contact Name
JOKO SANTOSO
Contact Email
ps.johnsantoso@gmail.com
Phone
+6287836107190
Journal Mail Official
jurnalberitahidup@gmail.com
Editorial Address
Jl. Solo-Kalioso KM.7.Solo
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Transformasi Fondasi Iman Kristen dalam Pelayanan Pastoral di Era Society 5.0
ISSN : 26564904     EISSN : 26545691     DOI : https://doi.org/10.38189/jtbh.v4i1.181
Core Subject : Religion,
Focus & Scope Jurnal Teologi Berita Hidup adalah: Teologi Biblikal Teologi Sistematika Teologi Pastoral Kepemimpinan Kristen Pendidikan Agama Kristen
Articles 293 Documents
Studi Historis Ibadah Orang Yahudi pada Masa Intertestamental Mintoni Asmo Tobing
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 3, No 1 (2020): September 2020 (Studi Intertestamental)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v3i1.65

Abstract

The existence of the temple in Jerusalem was closely related to Jewish worship, because the temple was the center of Israel's worship. The Jews living in exile, as well as those who remained in a post-exilic foreign land, had no temple nearby, apart from the existence of a synagogue. Furthermore, foreign nations took turns ruling over the Jews. This raises the question of how their worship was under foreign domination. This paper has been compiled as a result of literature research, to describe how the Jews worshiped during the intertestamental times. The results showed that worship, politics and culture are related in their implementation. In some instances, the priest as leader of Israelite worship had to deal with political affairs, and in other cases the faith of the Israelites was undermined by Hellenism. Keberadaan bait suci di Yerusalem sangat terkait dengan ibadah orang Yahudi, karena bait suci tersebut adalah pusat ibadah orang Israel. Orang-orang Yahudi yang hidup dalam pembuangan maupun mereka yang tetap tinggal di negeri asing pasca-pembuangan, tidak memiliki bait suci di dekat mereka, selain keberadaan sinagoge. Lebih jauh, bangsa asing silih berganti memerintah atas orang-orang Yahudi. Hal ini memunculkan pertanyaan, bagaimana ibadah mereka di bawah dominasi bangsa asing. Tulisan ini disusun sebagai hasil penelitian pustaka, untuk mendeskripsikan bagaimana orang-orang Yahudi beribadah selama masa intertestamental. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ibadah, politik, budaya memiliki keterkaitan dalam pelaksanaannya. Dalam beberapa kejadian, imam sebagai pemimpin ibadah orang Israel harus bersinggungan dengan urusan politik, dan dalam kasus yang lain iman orang Israel tergerus oleh Helenisme.
Makna Dilahirkan Kembali Bagi Orang Percaya Masa Kini Suhadi Suhadi; Andreas Sese Sunarko
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 1 (2021): September 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i1.98

Abstract

Being born again or being born again is one of the important teachings (doctrines) of Christianity. Being born again or being born again is the most radical effect of God's work on the sinner's response to accepting God's redemptive work through Jesus Christ. The new birth is something that must be experienced by every person because it has a tremendous impact on his life, namely someone who is born again or is born again has the potential to see and enter the kingdom of God, become a new creation and gain the status of a child of God. But there are people who don't understand this. Through this paper the writer wants to describe using qualitative methods with a literature study approach. So it can be concluded that the contribution of being born again or the experience of being born again or being born again is important and must be experienced by believers because it has an impact on the eternal value of seeing and entering the kingdom of God. Kelahiran baru atau dilahirkan kembali merupakan salah satu pengajaran (doktrin) yang penting dalam kekristenan. Kelahiran baru atau dilahirkan kembali merupakan dampak pekerjaan Allah yang paling radikal atas respons orang berdosa dalam menerima karya penebusan Allah melalui Yesus Kristus. Kelahiran baru merupakan hal yang harus dialami oleh setiap orang karena membawa dampak yang luar biasa dalam hidupnya yaitu seseorang yang dilahirkan baru atau dilahirkan kembali mendapatkan potensi untuk melihat dan masuk dalam kerajaan Allah, menjadi ciptaan baru dan mendapatkan status sebagai anak Allah. Namun ada orang-orang yang belum memahami hal ini. Melalui tulisan ini penulis ingin mendeskripsikan dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kontribusi kelahiran baru atau pengalaman dilahirkan kembali merupakan hal penting dan harus dialami oleh orang percaya karena berdampak pada nilai kekekalan yaitu melihat dan masuk dalam kerajaan Allah.
Pengembangan Media Pembelajaran Powerpoint Untuk Meningkatkan Kognitif dan Kemampuan Sosial Anak Usia Dini Adi Putra Anggara
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 2, No 1 (2019): September 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v2i1.18

Abstract

Learning media that are used to improve students' abilities increase children's cognitive skills to gain and build their knowledge through finding their knowledge and discussing with peers in their language style. The research aims to develop and utilize technology using powerpoint media that is feasible and effective in the learning process as well as how the effectiveness of powerpoint media improves cognitive development and social abilities of early childhood. Learning media products form powerpoints, usage manuals, and teacher handbooks. The effectiveness of Powerpoint learning media can be known from the analysis using the formula t. Calculation of experimental results using pre test and posttest one group design. From the calculation obtained t = 41.17%> 88.23% to achieve the completeness criteria. Research can improve the cognitive development of children in learning, as the beginning of the child's ability to socialize, new methods of teaching that are not monotonous in children catching faster, and also in terms of behavior, learn to play roles and develop social attitudes that deserve to be accepted by others. Abstrak: Media belajar yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik, meningkatakan kemampuan kognitif anak untuk memperoleh dan membangun pengetahuan mereka melalui cara menemukan sendiri pengetahuan dan berdiskusi bersama teman sebaya dengan gaya bahasa mereka sendiri. Penelitian bertujuan mengembangkan maupun memanfaatkan teknologi penggunaan media powerpoint yang layak dan efektif dalam proses pembelajaran serta bagaimana keefektifan media powerpoint meningkatkan perkembangan kognitif dan kemampuan sosial anak usia dini. Produk media belajar bentuk powerpoint, buku pedoman penggunaan, dan buku pegangan guru. Keefektifan media pembelajaran Powerpoint dapat diketahui dari analisis dengan menggunakan rumus t. Perhitungan hasil eksperimen menggunakan pre test dan posttest one group design. Dari perhitungan diperoleh t = 41,17% > 88,23% untuk mencapai kriteria ketuntasan. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perkembangan kognitif anak dalam belajar, sebagai awal kemampuan anak dalam bersosialisasi, metode baru pengajaran yang tidak monoton anak lebih cepat menangkap, dan juga dalam hal tingkah laku, belajar memainkan peran dan mengembangkan sikap sosial yang layak diterima oleh orang lain. Kata kunci: 
Membentengi Pemuda Gereja dari Ajaran Guru Palsu Melalui Pemahaman 2 Petrus 3:3 Santy Sahartian
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 3, No 2 (2021): Maret 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v3i2.70

Abstract

Based on 2 Peter 3: 3 latter-day life is the appearance of mockers called false teachers carrying false teachings, namely denying Jesus as a savior, turning the day of the Lord or the day of the second coming of Jesus, and rejecting the Word of God. The lives of these false teachers only follow the passions. Adultery, obscene, all of it to blaspheme the glory of God. To fortify youth in dealing with heresies and living according to lust is to provide proper teaching and formation on the knowledge of Christ in 2 Peter 1: 5-7. The growth of true faith, namely to the faith of virtue, to the virtue of knowledge, to the knowledge of self-mastery, to the mastery of perseverance, to the perseverance of godliness, to the piety of love for you, to your love for all people. Where this love does not demand reciprocity, this love is the love that is willing to sacrifice for the people it loves. With the right knowledge of Jesus, it will be difficult for young people to influence teachings that are not true.Kehidupan zaman akhir berdasar 2 Petrus 3:3 adalah tampilnya pengejek-pengejek yang di sebut guru palsu membawa ajaran sesat, yaitu menyangkal Yesus sebagai juruselamat, memutarbalikan hari Tuhan atau hari kedatangan Yesus yang kedua kalinya, dan menolak Firman Allah. Kehidupan guru-guru palsu ini hanya mengikuti hawa nafsu. Nafsu zinah, cabul, semuanya itu kepada menghujat kemuliaan Allah. Untuk membentengi pemuda dalam menghadapi ajaran-ajaran sesat dan kehidupan menuruti hawa nafsu adalah dengan memberi pengajaran dan pembinaan yang tepat tentang pengenalan akan Kristus dalam 2 Petrus 1:5-7. Adanya pertumbuhan iman yang benar, yaitu kepada iman  kebajikan, kepada kebajikan pengetahuan, kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, kepada ketekunan kesalehan, kepada kesalehan kasih akan saudara, kepada kasih saudara kasih semua orang. Di mana kasih ini tidak menuntut balasan, kasih ini adalah kasih rela berkorban bagi sesama yang dikasihinya. Dengan pengenalan yang benar akan Yesus , maka pemuda akan sulit di pengaruhi ajaran yang tidak benar.
Tinjauan Historis Teologis Tentang Baptisan Pada Masa Intertestamental Wahyu Wahono Adil Kuswantoro
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 3, No 1 (2020): September 2020 (Studi Intertestamental)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v3i1.48

Abstract

Baptisan Kristen berakar pada tulisan suci pada zaman Israel kuno dan berbagai praktik yang muncul pada periode intertestamental. Di berbagai cara, air digunakan pada zaman kuno untuk memurnikan orang atau benda, baik untuk memperbaiki keadaan kenajisan atau untuk mempersiapkan hubungan dengan yang sakral. Dalam memahami perkembangan pada periode intertestamental itu perlu dimulai dengan ikhtisar hukum dan praktik dalam periode Perjanjian Lama. Baptisan dalam Perjanjian Lama merupakan pembasuhan dengan air dan penebusan dengan menggunakan darah. Beberapa pengertian penting baptisan dalam Perjanjian Lama seperti pembasuhan dengan air, penghapusan akan dosa serta penebusan dengan darah. Hukum pencucian tetap berlaku selama intertestamental. Penggalian arkeologis selama empat puluh tahun terakhir ini mengungkap dan mengidentifikasi beberapa kolam pembenaman publik dan pribadi yang disebut miqva’ot (tunggal: miqveh). Selama periode intertestamental, beberapa undang-undang terkait pencucian adalah diperluas dan diberikan penerapan baru. Salah satu fitur penting adalah munculnya hubungan yang erat antara pencucian dan pertobatan. Tindakan pencucian, sering kali melibatkan pencelupan penuh, tidak hanya dikaitkan dengan pertobatan tetapi juga dengan pembaruan dan pemulihan nasional. Metode dalam makalah ini adalah studi pustaka, yang diarahkan kepada pencarian data dan informasi melalui dokumen-dokumen yang dapat mendukung dalam proses penulisan.
Purpur Sage sebagai Pendampingan dan Konseling Rekonsiliasi Kultural Masyarakat Seberaya Ria Ebregina br Ginting
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 1 (2021): September 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i1.113

Abstract

 At this era the term of reconciliation is widely used in society. along with the occurrence of various conflicts in society, the term of reconciliation has become a term that has never been ignored and  always warm to discuss. reconciliation relates to various processes carried out to rectify the chaotic situation caused by the conflict that occurred. various conflicts that occur become a reality that often occurs. There is no society has never faced conflict. conflicts that occur because of a mismatch between one person and another, both cultural background, values and community interests. conflict is part of the journey of human life and as a natural consequence of a diverse existence, especially as a cultured being. the conflicts that occur often have a negative impact that lead to divisions and acts of violence. thus cultural reconciliation becomes an important thing in a mentoring and counseling approach to be carried out in restoring damaged relationships between humans and one another as cultured creatures.Pada masa sekarang, istilah “rekonsiliasi” banyak dipergunakan dalam masyarakat. Seiring dengan terjadinya berbagai konflik dalam masyarakat, maka istilah rekonsiliasi menjadi suatu istilah yang tidak pernah terabaikan dan selalu hangat untuk diperbincangkan. Rekonsiliasi berhubungan dengan berbagai proses yang dilakukan untuk meluruskan situasi yang kacau akibat konflik yang terjadi. Berbagai konflik yang terjadi menjadi suatu realitas yang kerap terjadi. Tidak ada satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik. Konflik yang terjadi karena adanya ketidaksesuaian antara seseorang dengan yang lainnya, baik latar belakang budaya, nilai-nilai dan kepentingan masyarakat. Konflik merupakan bagian dari perjalanan kehidupan manusia dan sebagai konsekuensi alami dari keberadaan yang beragam, khususnya sebagai mahkluk yang berbudaya. Konflik yang terjadi kerap kali berdampak negatif yang menyebabkan terjadinya perpecahan dan tindak kekerasan. Dengan demikian rekonsiliasi kultural menjadi suatu hal yang penting dalam sebuah pendekatan pendampingan dan konseling untuk dilakukan dalam pengembalian hubungan yang telah rusak antara manusia satu dengan yang lainnya sebagai mahkluk yang berbudaya. 
Relevansi Strategi Pelipatgandaan Jemaat Berdasarkan 2 Timotius 2:1-13 Winarno Winarno
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 1, No 2 (2019): Maret 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v1i2.11

Abstract

What does it mean by multiplication based on II Timothy 2:1-13? What is congregation growth? How relevant is it for today’s congregation? Paul gave commandment to Timothy regarding the strategy of multiplying disciples for up to four generation in II Timothy 2:2, this showed that Paul as a spritual parent or mentor duplicate timothy as the second generation and Timothy will entrust the multiplication to those reliable to teach other to grow and become the forth generation of Paul. The relevance of today’s congregation means to train and prepared the congregation to be disciples. The first generation takes important role specially the pastor who leads the church to give equipment through the teaching and evangelism training and emphasize the characteristic of a disciple. Assisting and supporting in prayer is also needed for the next generation up to the four generation so that there is multiplication movement of congregation that become the disciple of Jesus Christ.  AbstrakApakah yang dimaksud pelipatgandaan berdasarkan II Timotius 2:1-13 ?, dan  apa itu pertumbuhan jemaat?  Serta bagaimana relevansinya bagi jemaat masa kini? Paulus memberikan perintah kepada Timotius berkaitan dengan strategi pelipatgandaan murid sampai empat generasi dalam II Timotius 2:2, ini menunjukkan bahwa mulai dari Paulus sebagai orang tua rohani atau mentor melipatgandakan Timotius sebagai generasi kedua dari Paulus, kemudian Timotius mempercayakan lagi atau melipatgandakan lagi yaitu orang yang dapat dipercayai sebagai generasi ketiga dan berikutnya orang yang dapat dipercayai mengajar orang lain untuk bertumbuh yang menjadi  generasi keempat dari Paulus. Relevansinya pada jemaat masa kini, berarti jemaat harus dilatih atau disiapkan untuk menjadi murid, dan peran generasi pertama sangat penting disini, yaitu peran gembala yang memimpin gereja dengan memberikan perlengkapan-perlengkapan melalui pengajaran dan pembimbingan serta melalui pelatihan-pelatihan penginjilan serta terus menekankan tentang karakter murid, dan melakukan pendampingan juga memberikan dukungan doa pada generasi berikutnya, sampai generasi yang keempat sehingga terjadi gerakan pelipatgandaan jemaat yang menjadi murid Tuhan Yesus Kristus. 
Analisis Perbandingan Gramatikal-Historis Bahasa Lidah dalam 1 Korintus dan Kisah Para Rasul Yohanes Hasiholan Tampubolon; Aeron Frior Sihombing; Geri Gehotman Mangasake; Hafa’ akhododo; Maria Mayda Bunge Tana; Ricky Pianto Randa; Williams Jefferson Bill Walimena
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 3, No 2 (2021): Maret 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v3i2.80

Abstract

Glossolalia is currently a relevant topic. There is much controversy and debate about the practice of speaking in tongues. This paper will conduct a comparative analysis of tongues in 1 Corinthians and Acts. The practice referred to is specifically whether the Bible allows simultaneous speaking in tongues based on both books. Also regarding the speaking in tongues, whether it must be understood by others or is it necessary for someone to interpret it. This situation also occurs in the current context. Believers in some churches when in a worship (singing or praying) together speaking in tongues and without interpretation. The author finds that there are significant differences regarding the practice of speaking in tongues as instructed by Paul in 1 Corinthians and the story of speaking in tongues as written by Luke in Acts. In fact, there is an interpretive vacuum that contemporary interpreters must fill. The author uses a comparative method and a grammatical-historical hermeneutic approach to the biblical text.
Analisis Teologi Pendidikan Agama Kristen Berdasarkan Kitab Filemon Arozatulo Telaumbanua
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 2, No 2 (2020): Maret 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v2i2.30

Abstract

Abstract: The Theology of Christian Religious Education in the Book of Philemon teaches about true love, forgiveness and brotherhood. The Book of Philemon contains an educational element that teaches us about effective, creative teaching in educating students. The attitude of educators like the Apostle Paul did is effective teaching to change the attitudes and behavior of students. Partnership is a good collaboration between one another. In collaboration education is very important for the success of learning. This collaboration can take place between students and students, teacher and teacher and teacher and student, so as to create a good learning. In writing this scientific work the writer uses the method of analysis, namely the method of literature that traces and exegetes the book. The success of learning is supported by good and effective learning methods and, above all, is the work of the Holy Spirit.Abstrak: Teologi Pendidikan Agama Kristen dalam Kitab Filemon mengajarkan tentang kasih, pengampunan dan persaudaraan yang sejati. Kitab Filemon mengandung unsur pendidikan yang mengajarkan kita tentang pengajaran yang efektif, kreatif dalam mendidik murid. Sikap pendidik seperti yang Rasul Paulus lakukan merupakan pengajaran yang efektif untuk mengubah sikap dan perilaku para murid. Kemitraan merupakan kerjasama yang baik antara satu dengan yang lain. Di dalam pendidikan kerjasama sangat penting untuk kesuksesan pembelajaran. Kerjasama ini dapat berlangsung antara murid dengan murid, guru dengan guru dan guru dengan siswa, sehingga tercipta satu pembelajaran yang baik. Dalam penulisan karya ilmiah ini penulis menggunakan metode analisis, yaitu metode perspustakaan yang menelusuri dan mengeksegesis kitab. Berhasilnya pembelajaran didukung oleh metode pembelajaran yang baik dan efektif dan yang paling utama merupakan pekerjaan Roh Kudus.  
Relasi Guru-Siswa: Pendekatan Christ Centered sebagai Solusi dalam Perubahan Perilaku Belajar di Masa Pandemi Covid-19 Johanes Waldes Hasugian
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 1 (2021): September 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i1.172

Abstract

This study aims to describe the relationship built by teachers with students who are centered on Christ so that it can be a solution in changing student learning behavior. By using a descriptive method and a qualitative approach, it was found that the solution for PAK learning during a pandemic is to build a harmonious and good relationship between teachers and students, in which there is openness and a restoration of teacher-student relationships, and in the end there is a change in behavior in learning. student. In the conditions of the covid-19 pandemic, the example in building true relationships is to see the relationship between Christ and his church, in this case the PAK teacher. So that PAK teachers can view students as God views and treat PAK teachers in faithful love.Keywords: Christ centered; teacher-student; learning behaviour; covid-19 pandemicAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan relasi yang dibangun oleh guru dengan siswa yang berpusat pada Kristus sehingga dapat sebagai  solusi dalam perubahan perilaku belajar siswa. Dengan menggunakan metode deskriptif dan pendekatan kualitatif, ditemukan bahwa solusi pembelajaran PAK di masa pandemi adalah dengan membangun relasi yang harmonis dan baik antara guru dan siswa, yang di dalamnya ada keterbukaan dan terjadi pemulihan hubungan guru-siswa, dan pada akhirnya ada perubahan perilaku dalam belajar siswa. Dalam kondisi pandemi covid-19, teladan dalam membangun relasi yang sejati adalah melihat hubungan antara Kristus dan gerejanya, dalam hal ini guru PAK. Sehingga guru PAK dapat memandang siswa sebagaimana Allah memandang dan memperlakukan guru PAK dalam kasih setia.

Page 2 of 30 | Total Record : 293