cover
Contact Name
Nurul Fardiana
Contact Email
jurnaltasyri4@gmail.com
Phone
+6285236191801
Journal Mail Official
jurnaltasyri4@gmail.com
Editorial Address
Jln. Sunan Kalijaga Dusun I Desa Ngabar Kecamatan Siman Kabupaten Ponorogo Kode Pos 63471 Telp (0352) 311882-311785
Location
Kab. bangkalan,
Jawa timur
INDONESIA
At-Tasyri Jurnal Hukum Islam dan Ekonomi Syariah
ISSN : -     EISSN : 27160866     DOI : https://doi.org/10.51772/tasyri'.v1i02.52
The journal is a semi-annual publication publishing two issues each year. It strives to strengthen transdisciplinary studies on issues related to Islam and Muslim societies. Its principal concern Islamic laws, islamic interdicipliner, islamic social, and Islamic economics.
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 01 (2024)" : 6 Documents clear
Perbandingan Fiqh Tentang Akad Tidak Bernama M. Auritsniyal Firdaus; Rifqy Tazkiyyaturrohmah
At-Tasyri': Jurnal Hukum dan Ekonomi Syariah Vol. 5 No. 01 (2024)
Publisher : Fakultas Syari'ah Institut Agama Islam Riyadlatul Mujahidin Ngabar (IAIRM) Ponorogo.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55380/tasyri.v5i01.560

Abstract

Abstract This paper uses a type of qualitative research with a library research focus. The discussion of this paper, first discusses the meaning of contract in a comparative study of fiqh, then discusses the pillars and conditions of a contract in a comparative study of fiqh, and finally discusses the validity, legal consequences and termination of the contract as well as a comparison of fiqh regarding anonymous contracts. According to Syāfi'iyah, Mālikiyah, and Hānabilah, a contract is anything that someone intends to do, whether it arises from one will, then according to Wahbah az-Zuhailī, a contract is an agreement between two wills to give rise to legal consequences, either in the form of giving rise to obligation, transfer it, transfer it, or stop it, whereas according to Hanafiyah and Musṭahfā Ahmad az-Zarqā, in terms of terms, a contract is a relationship between consent and qabul according to the provisions of the sharia.' The pillars of a contract according to Hanafiyah are only consent and acceptance, whereas according to non-Hanafiyah a contract has three pillars, namely 'aqid, ma'qud 'alaih and shighat. Meanwhile, according to contemporary Islamic legal experts, there are four pillars of a contract, namely al-'āqida'in, ṣigatul-'aqd, maḥalul-'aqd, and mauḍū' al-'aqd. According to Hanafiyah, the levels of invalidity and validity of a contract are five levels, namely: baṭil contract, fāsid contract, mauqūf contract, nafiz gair lāzim contract, and nafiz lāzim contract, whereas according to others there is no distinction between a void contract and a fāsid contract, for them both are contracts that cancelled. Then the legal consequences of a contract can have an impact on the parties and on the contents of the contract. And finally, contract termination covers four things, namely termination based on agreement (al-iqālah), termination related to advance payment, contract termination because it is not implemented, and contract termination because it is impossible to implement. Keynote: contracts, fiqh, comparisons, anonymous contracts. Abstrak Pada tulisan ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan fokus kepustakaan (library research). Pembahasan paper ini, pertama dibahas tentang pengertian akad dalam kajian perbandingan fiqh, kemudian dibahas rukun dan syarat akad dalam kajian perbandingan fiqh, dan terakhir dibahas keabsahan, akibat hukum, dan terminasi akad serta perbandingan fiqh tentang akad tak bernama. Akad menurut Syāfi’iyah, Mālikiyah, dan Hānabilah, akad adalah segala sesuatu yang diniatkan oleh seseorang untuk dikerjakan, baik timbul karena satu kehendak, kemudian menurut Wahbah az-Zuhailī, akad adalah kesepakatan dua kehendak untuk menimbulkan akibat-akibat hukum, baik berupa menimbulkan kewajiban, memindahkannya, mengalihkan, maupun menghentikannya, sedangkan menurut Hanafiyah dan Musṭahfā Ahmad az-Zarqā secara istilah akad adalah pertalian antara ijab dan qabul menurut ketentuan syara.’ Rukun akad menurut Hanafiyah hanya ijab dan kabul, sedangkan menurut selain Hanafiyah akad memiliki tiga rukun yaitu 'aqid, ma'qud 'alaih dan shighat. Sedangkan Rukun akad menurut ahli-ahli hukum Islam kontemporer, rukun akad ada empat, yaitu al-‘āqida’in, ṣigatul-‘aqd, maḥalul-‘aqd, dan mauḍū’ al-‘aqd. Menurut Hanafiyah tingkatan kebatalan dan keabsahan akad menjadi lima peringkat, yaitu: akad baṭil, akad fāsid, akad mauqūf, akad nafiz gair lāzim, dan akad nafiz lāzim, sedangkan menurut yang lain tidak membedakan akad batal dan akad fāsid, bagi mereka keduanya adalah akad yang batal. Kemudian akibat hukum suatu akad dapat berakibat terhadap para pihak dan terhadap isi pada akad. Dan terakhir dibahas terminasi akad meliputi empat hal, yaitu terminasi berdasarkan kesepakatan (al-iqālah), terminasi terkait pembayaran urbun di muka, terminasi akad karena tidak dilaksanakan, dan terminasi akad karena mustahil dilaksanakan. Kata kunci: akad, fiqh, perbandingan, akad tak Bernama.
Tinjauan Metode Ushul Fikih dalam Dinamika Hukum Islam pada Masa Pandemi Covid-19 Husni, Muhammad; Umami, Novita; Agung Prasongko, Wahyu; Utami, Hana Putri; Hayati, Laila; Muhammad Rifaí; Ulyana, Dyah Nurul; Ningsih, Rahayu; Helmi, Muhammad
At-Tasyri': Jurnal Hukum dan Ekonomi Syariah Vol. 5 No. 01 (2024)
Publisher : Fakultas Syari'ah Institut Agama Islam Riyadlatul Mujahidin Ngabar (IAIRM) Ponorogo.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55380/tasyri.v5i01.589

Abstract

Wabah virus Covid-19 saat ini masih melanda hampir di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Akibat pandemi ini, mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam melalui Majelis Ulama Indonesia (MUI) memperbolehkan sesuatu yang sebelumnya tidak diperbolehkan menjadi boleh atau sebaliknya. Masyarakat awam banyak yang menganggap sebagai penyimpangan dari apa yang mereka ketahui sebelumnya. Tujuan penelitian adalah mengetahui bagaimana metode aturan dan hukum fikih dapat berubah pada saat terjadinya pandemi dan menjawab pertanyaan masyarakat yang masih bingung dengan perubahan dan aturan fikih saat pandemi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian perpustakaan , yaitu penelitian yang mengumpulkan data-data dari berbagai sumber bacaan seperti buku-buku, artikel ilmiah, dan sumber bacaan lain yang relevan. Hasil penelitian menujukkan bahwa perubahan aturan dan hukum fikih saat pandemi karena dalam hukum Islam ada kaidah fikih yaitu mendahulukan menolak kemudharataan lebih diutamakan dibandingkan mengambil kemaslahatan, karena virus Covid-19 berbahaya dan menimbulkan mudharat bagi manusia, maka permasalahan yang ada seperti vaksin mengandung babi, sholat jarak, sholat dengan memakai hand sanitizer, ditiadakannya sholat jum'at, sholat fardhu bagi tenaga medis memakai APD boleh dijamak, dan akad nikah secara bold sudah sesuai dengan kaidah fikih dan hukumnya boleh serta telah sesuai dengan maqashid jaga syariah yaitu menjaga jiwa dengan berusaha mencegah kemudharataan virus Covid-19.
Refleksi Budaya Hukum Pelaku Usaha Pangan Pacsa Kebijakan Sertifikasi Halal Wahid, Sholeh Hasan
At-Tasyri': Jurnal Hukum dan Ekonomi Syariah Vol. 5 No. 01 (2024)
Publisher : Fakultas Syari'ah Institut Agama Islam Riyadlatul Mujahidin Ngabar (IAIRM) Ponorogo.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55380/tasyri.v5i01.618

Abstract

This research aims to fill the knowledge gap and offer novel insights into the implementation and legal conduct related to halal certification policies among players in the food industry in Indonesia. The study's value lies in the potential to provide useful recommendations to stakeholders like the government, certification agencies, and MSMEs (Micro, Small, and Medium Enterprises), with the objective of increasing awareness and implementation of halal certification in Indonesia. Although halal certification regulations have been in place since 2014, there seems to be a discrepancy in awareness and comprehension among producers. The study aims to comprehend why there are varied levels of knowledge and compliance with halal certification regulations among producers and what factors contribute to these disparities. The researchers used a qualitative methodology and conducted in-depth interviews with seven business operators representing various sectors within the food industry. Their analysis delved into the legal culture theory to gain insight into producers' understanding and behavior regarding halal certification regulations. The research outcomes suggest a discrepancy in the level of halal certification regulation awareness among producers. Despite the existence of regulations since 2014, some producers remain noncompliant and uninformed of these rules. Besides, certain producers, dedicated to upholding product quality, might not wholly comprehend the protocol and procedures of halal certification. These results support earlier claims of an information deficiency among MSMEs and emphasize the crucial role of ongoing education and support for producers in the context of obtaining halal certification in Indonesia.
Implementasi Akad Syariah Dalam Surat Perjanjian Pada Produk KPR Syariah IB Hebat Di BPRS Dana Amanah Surakarta Amir , Devid Frastiawan; Firdaus, Muhammad Irkham; Bilhaq, Aqil Mu'tasim
At-Tasyri': Jurnal Hukum dan Ekonomi Syariah Vol. 5 No. 01 (2024)
Publisher : Fakultas Syari'ah Institut Agama Islam Riyadlatul Mujahidin Ngabar (IAIRM) Ponorogo.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55380/tasyri.v5i01.619

Abstract

BPRS Dana Amanah Surakarta is the second BPRS in Surakarta. The need for housing is a primary need and until now houses are still a rarity for most Indonesian people. Not everyone can afford to buy a house in cash. In connection with the collaboration between BPRS Dana Amanah Surakarta and PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) as a secondary housing finance company, and in order to realize the community's need for home ownership, BPRS Dana Amanah Surakarta issued KPR Syariah iB Hebat product. Sharia Mortgage (KPR) is a type of service provided by BPRS to customers to obtain housing loan financing based on a sharia contract. This research aims to describe the implementation of sharia contract in the letter of agreement on KPR Syariah iB Hebat products at BPRS Dana Amanah Surakarta. This research used a qualitative approach, descriptive, field research. The results obtained, the implementation of contract agreements in BPRS must pay attention to legal aspects and positive legal regulations which have a very important position so that they can provide legal basis and prevent risks that have an impact on BPRS, on the other side, sharia principles must also be considered in implementing these agreements. The contract used in the KPR Syariah iB Hebat product at BPRS Dana Amanah Surakarta is a murabahah contract (Fatwa DSN-MUI No: 04/DSN-MUI/IV/2000 concerning Murabahah), istishna’ parallel (Fatwa DSN-MUI No: 22/DSN-MUI/III/2002 concerning Sale and Purchase of Istishna’ Parallel), and musyarakah mutanaqishah (Fatwa DSN-MUI No: 73/DSN-MUI/XI/2008 concerning Musyarakah Mutanaqishah). The provisions listed in the Fatwa DSN-MUI are then compiled into a letter of agreement, namely the letter of agreement that used murabahah without wakalah contract, murabahah bil wakalah contract, istishna’ paralel contract, and musyarakah mutanaqishah contract.
Pergeseran Adat Pada Prosesi Perkawinan Masyarakat Mandailing di Desa Purba Baru Perspektif Hukum Islam Ritonga, Raja; Dongoran, Irham
At-Tasyri': Jurnal Hukum dan Ekonomi Syariah Vol. 5 No. 01 (2024)
Publisher : Fakultas Syari'ah Institut Agama Islam Riyadlatul Mujahidin Ngabar (IAIRM) Ponorogo.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55380/tasyri.v5i01.670

Abstract

Perkawinan merupakan hal yang sangat sakral dalam kehidupan seseorang. Bagi masyarakat Mandailing bahwa perkawinan merupakan kegiatan yang harus dilangsungkan secara agama dan adat. Pelaksanaan rangkaian adat pada perkawinan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan rangkaian agama pada upacara perkawinan. Bahkan, untuk sebagian daerah bahwa perkawinan yang belum dituntaskan bagian-bagian adatnya, maka hal tersebut belum dianggap sempurna sebagai sebuah rangkaian perkawinan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pergeseran pemahaman sebagian masyarakat Mandailing terkait rangkaiat adat dalam perkawinan khususnya di desa Purba Baru. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan jenis penelitian lapangan. Dalam mengumpulkan data primer, maka dilakukan observasi, wawancara dan dokumentasi. Sedangkan untuk data skunder, maka dilakukan studi pustaka terkait objek yang diteliti. Selanjutnya data-data temuan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menjelaskan bahwa pelaksanaan sejumlah rangkaian adat pada masyarakat Mandailing khususnya di desa Purba Baru telah mengalami perubahan. Ada beberapa rangkaian adat dihilangkan dalam prosesi perkawinan, karena dianggap tabdzir dan perbuatan sia-sia.
Analisis Hadits Ahkam Muamalah dalam Fatwa DSN-MUI No 137/DSN-MUI/IX/2020 tentang Sukuk (Kajian Takhrij dan Telaah Makna Hadits) Hakiki, Mohammad Ichsan; Fauzi, Moh. Ihsan
At-Tasyri': Jurnal Hukum dan Ekonomi Syariah Vol. 5 No. 01 (2024)
Publisher : Fakultas Syari'ah Institut Agama Islam Riyadlatul Mujahidin Ngabar (IAIRM) Ponorogo.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55380/tasyri.v5i01.672

Abstract

Abstract: Sukuk is one of the Islamic financial instruments carried out by the state to finance national infrastructure development and is also one of the investment models of several Government Securities products. The Indonesian Ulema Council (MUI) as the holder of fatwa authority has given fatwas related to Sukuk as stated in fatwa No. 137/DSN-MUI/IX/2020 in which there are ahkam hadiths as the legal basis. This study aims to analyze takhrij studies and study the meaning of hadith on ahkam muamalah hadiths contained in DSN-MUI fatwas on Sukuk. This research uses qualitative methods with a literature review approach. The results of this study show that the ahkam muamalah hadith contained in the DSN-MUI fatwa on sukuk generally explains the principle of sharia agreement in the form of 'an taradhin classified as dhoif hadith in the category of majhul hadith. Abstrak: Sukuk merupakan salah satu instrumen keuangan syariah yang dilakukan oleh negara untuk membiayai pembangunan infrastruktur nasional dan juga menjadi salah satu model investasi dari beberapa produk Surat Berharga Negara. Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai pemegang otoritas fatwa telah memberikan fatwa terkait Sukuk sebagaimana tertuang dalam fatwa No 137/DSN-MUI/IX/2020 yang di dalamnya terdapat hadits-hadits ahkam sebagai landasan hukumnya. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis kajian takhrij dan telaah makna hadits terhadap hadits-hadits ahkam muamalah yang terkandung dalam fatwa DSN-MUI tentang Sukuk. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (literature review). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hadits ahkam muamalah yang terdapat dalam fatwa DSN-MUI tentang sukuk secara umum menjelaskan asas perjanian syariah berupa ‘an taradhin digolongkan sebagai hadits dhoif dalam kategori hadits majhul.

Page 1 of 1 | Total Record : 6