cover
Contact Name
Bambang kasatriyanto
Contact Email
bkborobudur@kemdikbud.go.id
Phone
+62293-788225
Journal Mail Official
bkborobudur@kemdikbud.go.id
Editorial Address
-
Location
Kab. magelang,
Jawa tengah
INDONESIA
Articles 200 Documents
Konservasi Keramik Bawah Air Leliek Agung Haldoko; Yudi Suhartono; Arif Gunawan
Borobudur Vol. 7 No. 1 (2013): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v7i1.104

Abstract

Keramik sebagai salah satu jenis tinggalan bawah air memiliki nilai penting bagi sejarah, kebudayaan dan ilmu pengetahuan sehingga dapat ditetapkan sebagai cagar budaya. Penanganan keramik bawah air yang ditemukan di laut merupakan yang paling sulit karena keramik akan terkena pengaruh dari garam terlarut maupun endapan karang yang dapat mempercepat kerusakan dan pelapukan. Selain itu keramik yang ditemukan tidak selalu dalam keadaan utuh, ada yang pecah menjadi fragmen-fragmen, maupun ada fragmen yang hilang. Karena itu diperlukan cara yang efektif untuk membersihkan endapan karang tanpa merusak keramik. Pada penelitian ini yang dipakai untuk pembersihan endapan karang adalah larutan jenuh CO2. Selanjutnya hasil pembersihan yang didapatkan dibandingkan dengan pembersihan endapan karang menggunakan dengan HCl 5 %, asam sitrat 5 % dan dengan cara direbus. Untuk penyambungan fragmen keramik digunakan animal glue dalam hal ini adalah gelatin dan anchor. Pembersihan endapan karang dengan larutan jenuh CO2 didapatkan hasil bahwa endapan karang yang lunak dapat terlepas sedangkan untuk endapan karang yang keras dapat menjadi lunak, tetapi noda besi yang menempel pada permukaan keramik tidak ikut hilang. HCl 5 % dan asam sitrat 5 % efektif untuk menghilangkan endapan karang sekaligus menghilangkan noda besi pada permukaan keramik, tetapi dampak negatif untuk pembersihan dengan HCl adalah glasir ikut mengelupas, sedangkan untuk pembersihan dengan asam sitrat adalah permukaan keramik menjadi berwarna kekuningan. Untuk pembersihan endapan karang dengan direbus, di beberapa bagian masih terdapat endapan karang yang keras. Selain itu noda besi yang menempel pada permukaan keramik tidak ikut hilang. Untuk penyambungan fragmen keramik dengan gelatin maupun anchor dapat merekat kuat. Untuk melepas sambungan, keramik hanya perlu direndam air dan dalam beberapa menit akan terlepas dengan sendirinya.
Konservasi DAS (Daerah Aliran Sungai) Dalam Upaya Perlindungan Kawasan Situs Biting Kabupaten Lumajang Asyhadi Mufsi Batubara
Borobudur Vol. 7 No. 1 (2013): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v7i1.105

Abstract

Aliran sungai sebagai sumber kehidupan dan media untuk mensucikan, telah menempatkannya dalam urutan teratas unsur alam yang paling mempengaruhi jalannya perkembangan peradaban manusia. Tidak mengherankan apabila banyak ditemukan bangunan suci dan perbentengan kuno berdekatan dengan aliran sungai. Disamping bernilai manfaat, aliran sungai juga memiliki sisi negatif yang bersifat merusak, sehingga dikhawatirkan akan berdampak buruk pada bangunan suci dan perbentengan yang kini telah menjadi bangunan cagar budaya. Melihat kondisi tersebut dan juga kondisi di lapangan yang cukup mengkhawatirkan, maka perlu dilakukan suatu langkah konservasi DAS (Daerah Aliran Sungai) yang bersifat spesifik untuk menangani situs cagar budaya yang bersinggungan langsung dengan aliran sungai. Kajian ini masih bersifat penelitian awal, sehingga metode yang digunakan bertumpu pada pengamatan dilapangan dan pengkajian dengan menggunakan pendekatan bidang keilmuan lain terkait permasalahan. Harapannya, upaya dan perhatian konservasi situs cagar budaya tidak hanya bertumpu pada objek arkeologisnya saja, akan tetapi juga harus memperhatikan lingkungan sekitar yang juga berpotensi merusak.
Tantangan dan Peluang Pengelolaan Cagar Budaya dari Perspektif Arkeologi: Kasus Kawasan Kota Lama Semarang A Kriswandhono
Borobudur Vol. 7 No. 1 (2013): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v7i1.106

Abstract

Dalam salah satu sidang SEAMEO-SPAFA (Southeast Asian Ministers of Education Organization Project of Archaeology and Fine Arts) dikatakan bahwa mengelola sumberdaya budaya adalah seperti mengelola sebuah usaha ekonomi layaknya. Pada awalnya harus mempunyai konsep yang jelas. Tanpa konsep yang jelas, kita tidak dapat menerangkan ruang lingkup pekerjaan. Tanpa proses dan teknik kita tidak dapat mendefinisikan langkah untuk mencapai tujuan yang berkualitas. Kebudayaan yang tidak berkualitas tidak dapat terlihat arah perkembangannya. Dan jika pengelolaannya tanpa indikator kita tidak dapat mencapai standar pekerjaan sehingga keberlanjutannya (sustainability) tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Biological Assessment Pertumbuhan Lumut di Candi Borobudur pada Sisi Utara dan Selatan Lorong 2 Dandri Aly Purawijaya; Adinda Gita Priyantika
Borobudur Vol. 7 No. 1 (2013): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v7i1.107

Abstract

Penelitian biological assessment pada pertumbuhan lumut di Candi Borobudur ditujukan sebagai inisiasi penelitian untuk menentukan rumus hubungan antara pertumbuhan lumut dengan tingkat kerusakan candi. Penelitian dilakukan dengan mengambil sampel pada sisi utara dan sisi selatan lorong 2 Candi Borobudur. Pengambilan sampel dilakukan pada empat spot pada setiap sisi dengan pengulangan dua kali setiap spotnya. Sampel dari lapangan ditimbang kemudian dikeringkan dalam oven hingga berat konstan dan dibakar dalam furnace untuk memisahkan sisa partikel lumut dengan pasir. Berdasarkan data berat dilakukan konversi sehingga didapatkan nilai indeks konversi sebesar 0.00560274 x g/cm2 berdasarkan tutupan lumut terhadap massa pasir batuan yang terbawa oleh lumut. Berdasarkan nilai indeks, dapat disimpulkan bahwa lumut tidak menjadi ancaman yang berarti bagi keberlangsungan Candi Borobudur karena sedikitnya jumlah pasir yang terbawa oleh lumut ketika diambil dari batuan.
Konservasi Nisan Putro Balee dan Tgk. Awe Geutah Di Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh Masnauli Masnuali
Borobudur Vol. 7 No. 1 (2013): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v7i1.108

Abstract

Konservasi nisan Putro Balee dan Tgk Awe Geutah di Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh merupakan salah satu kegiatan pemeliharaan terhadap cagar budaya. Upaya pemeliharaan ini dilakukan untuk mengurangi atau menghambat kerusakan yang terjadi pada makam. Kerusakan atau pelapukan dapat diakibatkan oleh pertumbuhan jamur, lumut, akumulasi debu, lumut, gempa bumi, gelombang tsunami dan lain-lain. Kegiatan konservasi yang dilakukan adalah pembersihan mekanis kering dan basah. Konservasi berupa pembersihan mekanis kering dilakukan dengan cara membersihkan kotoran, akumulasi debu, lumut yang menempel dengan sikat, sudip bambu, tusuk sate dan kuas. Pembersihan mekanis basah dilakukan dengan cara membersihkan jamur dan lichen yang menempel dengan menyiram air keseluruh permukaan makam, sambil disikat secara perlahan-lahan sampai semua jamur dan lichen hilang. Setelah pekerjaan ini selesai, makam yang patah gempil diperbaiki dengan cara penyambungan tanpa angkur. Nisan yang miring dan melesak ditegakkan dan diperkuat bagian kakinya. Bagian puncak nisan yang ditempel dengan semen dibersihkan bagian semennya dengan cara diketok perlahan-lahan sampai bersih dan tidak merusak nisan.
BEBERAPA PERMASALAHAN PELESTARIAN KAWASAN CAGAR BUDAYA DAN STRATEGI SOLUSINYA Supratikno Rahardjo
Borobudur Vol. 7 No. 2 (2013): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v7i2.109

Abstract

Setiap kawasan cagar budaya pada dasarnya memiliki karakterisk tersendiri yang berpotensi menjadi keunggulan. Namun apabila dak dikelola secara kreaf dan terintegrasi, dapat berubah menjadi sumber bencana. Upaya-upaya pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan perlu dilakukan dengan menyiapkan konsep dasarnya dalam bentuk masterplan dan dokumen implementasi secara rinci. Kekurangcermatan dalam memahami permasalahan dan dalam menganalisis kondisi yang ada dapat mengakibatkan upaya pelestarian tidak memberikan hasil yang memuaskan. Mengingat kawasan cagar budaya di Indonesia sangat bervariasi, maka pengelolaannya perlu strategi menyeluruh dengan memperhakan keunggulan dan keunikan masing-masing.
MENATA HUTAN MENJAGA TONGKONAN: ALTERNATIF UPAYA PELESTARIAN BUDAYA TORAJA Yadi Mulyadi
Borobudur Vol. 7 No. 2 (2013): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v7i2.110

Abstract

Pelestarian budaya Toraja selama ini cenderung terfokus pada aspek pelestarian fisik semata. Hal itu tercermin dalam bentuk kegiatan pelestarian yang didominasi perbaikan fisik pada bangunan Tongkonan di Toraja. Budaya Toraja sebagaimana pendapat para ahli, terefleksikan dalam budaya Tongkonan, dimana Tongkonan pada hakekatnya bukan semata bangunan rumah adat tetapi merupakan konsep budaya Toraja itu sendiri. Budaya Tongkonan adalah ruh dari budaya Toraja yang merefleksikan hubungan harmonis antara manusia dengan alam, salah satunya diwujudkan dalam bentuk menjadikan hutan sebagai elemen dalam budaya Tongkonan. Oleh karena itu, pelestarian budaya Toraja pada dasarnya dapat disinergikan dengan upaya pelestarian hutan. Dengan demikian upaya nyata dalam menata hutan di Toraja dapat menjamin keberlangsungan budaya Toraja.
KONSERVASI MATERIAL ORGANIK TER-ARANG PADA EKSKAVASI SITUS BENCANA VULKANIK TAMBORA Nahar Cahyandaru
Borobudur Vol. 7 No. 2 (2013): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v7i2.112

Abstract

Artefak hasil penggalian pada Situs Tambora yang berasal dari bahan organik yang telah menjadi arang sangat mudah mengalami kerusakan selama proses ekskavasi. Diperlukan metode konservasi material yang dapat menjawab permasalahan tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi lingkungan situs, dan mengetahui kondisi material yang terekspos oleh lingkungan, serta kecepatan kerusakannya, dan untuk mengetahui cara transportasi temuan dari situs sebelum tindakan konservasi. Penelian ini juga dilakukan untuk mengetahui hasil konsolidasi material menggunakan bahan Paraloid B-72 dengan beberapa jenis pelarut dan cara aplikasi, serta bahan konsolidan PEG 400. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi material yang terekspos cepat mengalami kerusakan. Pada awalnya terjadi penurunan kadar air dalam material. Seiring dengan penurunan kadar air ini, material menjadi semakin rapuh dan mudah rusak. Pada hari pertama telah terjadi keretakan pada material dan semakin rapuh sehingga pada hari ke-2 material patah. Hari ke-3 jumlah bagian yang patah semakin banyak, dan pada hari ke-4 sampel yang patah sudah sulit ditangani (sulit dipindah dan diukur tanpa mengalami kerusakan). Cara transportasi artefak dari situs untuk dikonservasi dengan membungkus sampel dengan plask wrap, dan menempatkan dalam kotak plastik yang lembab merupakan cara yang cukup baik. Material yang dikonsolidasi dengan Paraloid menunjukkan peningkatan kekerasan dan tidak rapuh setelah dikeringkan. Jumlah pengolesan dapat meningkatkan efekvitas konsolidasi dan penurunan kadar air. Namun metode ini perlu dikembangkan lagi untuk mendapatkan metode yang sesuai dan hasil yang optimal, karena masih ada indikasi keretakan. Konsolidasi dengan PEG menghasilkan material yang cukup keras dan stabil. Metode ini cukup baik, namun cara aplikasinya harus dilakukan dengan cara perendaman sehingga agak sulit diterapkan di lapangan. Metode ini perlu dikembangkan agar dapat lebih aplikatif di lapangan.
KONSERVASI KOLEKSI TINGGALAN KOLONIAL DI PULAU MOROTAI (MALUKU UTARA) Sri Wahyuni; Yudhi Atmaja Hendra Purnama
Borobudur Vol. 7 No. 2 (2013): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v7i2.113

Abstract

Konservasi Koleksi Tinggalan Kolonial di Pulau Morotai dilakukan oleh BPCB Ternate sebagai instansi pelestarian cagar Budaya. Pelestarian dimaksudkan untuk menjaga keterawatan benda yang memiliki nilai penting karena merupakan salah satu bukti sejarah Perang Dunia II. Tahap pertama dalam melakukan konservasi adalah pendokumentasian koleksi sebelum di konservasi, selama proses konservasi, dan setelah konservasi. Koleksi peninggalan kolonial yang dikonservasi meliputi koleksi berbahan gelas, logam, porselen, dan lainnya. Bahan yang digunakan untuk konservasi koleksi yang berbahan gelas adalah cuka, kerikil, dan sabun serta air. Sedangkan bahan yang digunakan untuk konservasi jenis logam terutama perunggu dan kuningan adalah campuran antara jeruk nipis dan soda kue (sodium bikarbonat) yang dipastakan. Untuk koleksi berbahan besi digunakan asam sitrat dengan konsentrasi 5%. Apabila Asam sitrat tidak dijumpai dapat diganti dengan menggunakan air jeruk nipis (pH 4-5) karena di dalam jeruk juga mengandung asam sitrat. Adapun bahan yang digunakan untuk pelapisan logam adalah minyak singer. Dalam melakukan konservasi porselen digunakan air hangat yang diberi sabun sedangkan untuk koleksi yang ada keraknya dikonservasi dengan menggunakan pasta yaitu campuran soda kue (sodium bikarbonat) dengan air jeruk. Metode penyimpanan sementara koleksi peninggalan kolonial di Morotai yang sudah selesai dikonservasi dan yang akan dipamerkan di Museum Perang Dunia II dilakukan dengan cara membungkus setiap koleksi dengan tissue dan kertas koran. Setelah di bungkus kemudian diikat agar dak terkena kotoran/debu, selanjutnya dimasukkan dalam container box. Untuk menyerap kelembaban di dalam container box ditabahkan kapur tulis. Berbagai macam koleksi peninggalan kolonial Perang dunia II dapat dilakukan konservasi dengan menggunakan bahan yang mudah di peroleh dipasaran seper jeruk nipis, soda kue (sodium bikarbonat), cuka, sabun, dan kerikil. Untuk koleksi jenis logam seper perunggu, kuningan, dan uang koin serta koleksi porselen yang berkerak dapat menggunakan jeruk nipis dan soda kue yang telah dipastakan. Pasta dari bahan jeruk nipis dan soda kue terbuk efekf untuk membersihkan korosi yang ada pada koleksi logam. Adapun koleksi berbahan gelas/botol yang berkerak dapat dikonservasi dengan menggunakan cuka, kerikil, sabun serta air. Formula tersebut terbukti efektif mengangkat endapan kerak yang menempel dalam botol.
MENGINGAT dan MELUPAKAN: MUSEUM KAPAL SAMUDRARAKSA SEBAGAI RUANG KONSERVASI KREATIF BUDAYA MARITIM Asyhadi Mufsi Batubara
Borobudur Vol. 7 No. 2 (2013): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v7i2.114

Abstract

Pelayaran kapal Samudraraksa menuju Afrika adalah pemicu lahirnya Museum Samudraraksa. Pesan yang disampaikan didalamnya bertujuan untuk membentuk memori kolektif dan mengingat momen pelayaran Samudraraksa. Namun sebagai ruang konservasi kreatif dengan tujuan membentuk memori kolektif, ternyata masih ada hal-hal yang terlupakan sehingga kinerjanya belum optimal. Pengamatan langsung dan penerapan kajian museum studies, yang dalam hal ini menggunakan prinsip new museum merupakan metode penelitian yang dipilih untuk mengungkap fenomena tersebut. Adapun hasil kajian fakta di lapangan menyimpulkan bahwa perlu adanya tindakan evaluasi model komunikasi, serta memikirkan kembali arah dan tujuan Museum Samudraraksa di masa depan, apakah akan tetap statis atau memilih dinamis? Dengan demikian perannya sebagai ruang konservasi kreatif bisa menjadi lebih optimal.

Page 7 of 20 | Total Record : 200


Filter by Year

2007 2024


Filter By Issues
All Issue Vol. 18 No. 2 (2024): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Vol. 18 No. 1 (2024): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Vol. 17 No. 2 (2023): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 17 No. 1 (2023): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 16 No. 2 (2022): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 16 No. 1 (2022): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 15 No. 2 (2021): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 15 No. 1 (2021): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 14 No. 2 (2020): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 14 No. 1 (2020): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 13 No. 2 (2019): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 13 No. 1 (2019): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 12 No. 2 (2018): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 12 No. 1 (2018): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 11 No. 2 (2017): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 11 No. 1 (2017): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 10 No. 2 (2016): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 10 No. 1 (2016): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 9 No. 2 (2015): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 9 No. 1 (2015): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 8 No. 2 (2014): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 8 No. 1 (2014): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 7 No. 2 (2013): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 7 No. 1 (2013): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 6 No. 1 (2012): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 5 No. 1 (2011): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 4 No. 1 (2010): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 3 No. 1 (2009): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 2 No. 1 (2008): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 1 No. 1 (2007): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur More Issue