cover
Contact Name
Bambang kasatriyanto
Contact Email
bkborobudur@kemdikbud.go.id
Phone
+62293-788225
Journal Mail Official
bkborobudur@kemdikbud.go.id
Editorial Address
-
Location
Kab. magelang,
Jawa tengah
INDONESIA
Articles 200 Documents
Evaluasi Penanganan Konservasi Perahu Kuno Indramayu Ari Swastikawati
Borobudur Vol. 6 No. 1 (2012): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v6i1.93

Abstract

Sejak tahun 2009, Balai Konservasi Borobudur (BKB) telah melaksanakan kajian konservasi tinggalan bawah air berbahan kayu (waterlogged wood). Metode konservasi waterlogged wood pada prinsipnya dibagi menjadi tiga yaitu metode impregnasi (impragnation), pengeringan beku (frezee drying) dan metode pengeringan alami terkendali. Salah satu cagar budaya bawah air yang telah dikonservasi dengan metode pengeringan alami adalah perahu kuno Indramayu, sehingga pada tahun 2011 BKB menjadikan perahu kuno Indramayu sebagai objek kajian dalam evaluasi metode pengeringan alami pada waterlogged wood. Adapun tujuan penulisan artikel ini adalah melaporkan hasil evaluasi metode pengeringan alami yang pernah dilakukan terhadap perahu kuno Indramayu. Evaluasi metode pengeringan alami perahu kuno Indramayu didasarkan pada data sejarah penyelamatan, pengangkatan dan tindakan konservasi yang pernah dilakukan, jenis-jenis kayu penyusun perahu serta kondisi perahu dan lingkungannya saat ini. Hasil evaluasi penanganan konservasi perahu kuno Indramayu menunjukan bahwa pemilihan metode pengeringan alami yang dilakukan tidak didasarkan pada kadar air kayu saat ditemukan. Saat pengeringan perahu kondisi lingkungan (suhu dan kelembapan udara) tidak terkendali dengan baik. Hal ini menyebabkan kadar air kayu turun sampai batas titik kering tanur (kadar air 0%) dan berdampak pada terjadinya pengkerutan pada kayu perahu. Kadar air material kayu perahu saat ini telah mencapai titik kesetimbangan, sehingga dalam penanganan lebih lanjut mengacu pada metode konservasi kayu di darat. Saran untuk menentukan pemilihan metode konservasi waterlogged wood berdasarkan hasil evaluasi tersebut antara lain: kadar air kayu harus diukur dengan cermat terlebih dahulu sebelum menentukan metode penanganan konservasi yang akan dilaksanakan. Metode pengeringan alami dapat diterapkan pada waterlogged wood yang kondisinya belum rusak, atau berada pada kelas III (kadar air di bawah 185%). Metode pengeringan alami pada waterlogged wood, dapat dilakukan dengan menjaga kadar air kayu tidak turun sampai di bawah batas titik jenuh serat melalui pengendalian kondisi lingkungan terutama suhu dan kelembaban udara.
Identifikasi Kayu Arkeologis Komponen Tongkonan Situs Buntu Pune Di Tana Toraja Dalam Kerangka Konservasi Dan Pemugaran Cagar Budaya Berbahan Kayu Yustinus Suranto
Borobudur Vol. 6 No. 1 (2012): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v6i1.94

Abstract

Rumah Adat Tana Toraja yang terdiri atas Bangunan Tongkonan dan Alang (BTA) merupakan Bangunan Cagar Budaya Berbahan Kayu (BCBBK). BCBBK bersama kondisi sosial budaya yang unik dan bentang alamnya yang indah telah menempatkan diri sebagai obyek wisata dunia, bahkan diusulkan sebagai Peninggalan Dunia (World Heritage). Undang-undang Negara Republik Indonesia No 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya mengamanatkan, BCBBK wajib dilestarikan melalui: pemeliharaan, perawatan, konservasi maupun pemugaran dengan perspektif arkeologis, dengan mempertahankan keaslian: bahan, teknologi pengerjaan, bentuk ukuran-desain, arsitektur, budaya dan situs. Sebagai bagian dari Tana Toraja, BTA situs Buntu Pune telah mengalami konservasi oleh masyarakat dan Pemerintah, c.q Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makasar. Meski demikian, ada komponen bangunan yang mengalami kerusakan akut. Penelitian bertujuan mengidentifikasi jenis kayu yang rusak akut dan agen penyebabnya. Obyek penelitian berupa BTA pada situs Buntu Pune. Metode penelitian meliputi, (1) pengamatan komponen BTA dan (2) mengambil sampel kayu yang rusak dari komponen struktur bangunan (3) pengirisan dengan mikrotom untuk mendapatkan penampang transversal dan. potretnya secara makroskopis serta mengidentifikasi jenis kayu berdasarkan gambar struktur makroskopis. (4) menganalisis agen penyebab kerusakan kayu pada komponen struktur bangunan tersebut. Hasil penelitian menyimpulkan empat hal. Pertama, komponen struktur bangunan yang mengalami kerusakan akut pada tongkonan adalah tiang. Kedua, kerusakan tiang itu disebabkan serangan rayap tanah. Ketiga, identifikasi terhadap kayu rusak yang berfungsi sebagai komponen tiang adalah jenis kayu Casuarina Junghuhniana Miq (sinonim Casuarina montana Leschen ex Miq) dari kelas Casuarinaceae dengan nama perdagangan cemara gunung. Ke-empat, agen penyebab kerusakan kayu sebagai komponen tiang tongkonan adalah rayap tanah.
Konservasi Koleksi Negatif Kaca Mananti Amperawan Marpaung
Borobudur Vol. 6 No. 1 (2012): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v6i1.95

Abstract

Negatif kaca merupakan dokumen kuno yang sangat berharga dan dimiliki oleh Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman yang berasal dari masa Pemerintahan Kolonial Belanda. Nilai penting negatif kaca adalah sebagai data dokumentasi mengenai penemuan awal peninggalan purbakala khususnya di Indonesia. Gambaran objek yang dihasilkan negatif kaca juga yang digunakan sebagai gambar atau ilustrasi pada penerbitan di masa lalu, salah satunya untuk penerbitan majalah Bataviaasch Genotschaap. Dokumentasi tersebut menunjukkan adanya aktivitas Kantor Dinas Purbakala pada masa kolonial Belanda (Oidheidkundige Dienst). Kantor Dinas Purbakala tersebut berperan dalam menyebarkan dan mendokumentasikan peninggalan purbakala yang ada di Indonesia khususnya wilayah-wilayah yang menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan Pemerintah Kolonial Belanda. Penanganan konservasi negatif kaca di antaranya dilakukan dengan cara, pengambilan negatif kaca dari kotak penyimpanan yang terbuat dari kayu, pendataan ulang negatif kaca, pembersihan kering, pembersihan basah, digitalisasi database dengan scanning negatif kaca dan pengembalian negatif kaca ke kotak penyimpanan.
Pengendalian Iklim Pasif di Museum Sebagai Antisipasi Perubahan Iklim Ita Yulita
Borobudur Vol. 6 No. 1 (2012): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v6i1.96

Abstract

Perubahan iklim akhir-akhir ini menjadi banyak perhatian. Hampir di segala bidang (climate change) di antaranya kesehatan, peternakan, transportasi, komunikasi, pendidikan, kelautan hingga budaya membicarakan perubahan iklim dan dampaknya terhadap masing-masing. Semua mempersiapkan diri, mencoba melakukan tindakan preventif untuk menjaga agar tetap bertahan dari serangan dampak negatif perubahan iklim. Perubahan iklim yang dimaksud tersebut adalah perubahan iklim akibat pemanasan global, yang merubah iklim di dunia secara signifikan. Namun sebenarnya di bidang budaya, terutama di museum, perubahan iklim sudah terjadi sejak lama, namun sering tidak disadari, bahkan oleh pekerja di museum sendiri. Perubahan iklim tersebut tidak secara langsung berhubungan dengan isu pemanasan global yang ramai dibicarakan, tetapi apabila tidak diantisipasi akan apabila berdampak negatif pada koleksi. Tulisan ini menguraikan bagaimana perubahan iklim di museum, bagaimana efeknya dan bagaimana mengatasi dampak perubahan iklim tersebut pada koleksi museum, melalui pengendalian iklim pasif pada koleksi.
Beberapa Upaya Konservasi Pencegahan di Sumatera: (Sebuah Solusi Alternatif) Sri Mulyati
Borobudur Vol. 6 No. 1 (2012): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v6i1.97

Abstract

Konservasi secara umum terbagi dalam dua sifat, yaitu yang bersifat perbaikan (kuratif) dan yang bersifat pencegahan (preventif). Konservasi yang dibahas dalam artikel ini adalah konservasi yang bersifat pencegahan. Konservasi pencegahan dimaksudkan sebagai tindakan menghindari hal-hal yang dapat membuat terjadinya kerusakan/pelapukan pada cagar budaya sehingga cagar budaya tersebut dapat bertahan lebih lama lagi. Melakukan tindakan pencegahan berarti mempertahankan keaslian bentuk, bahan, tata letak dan teknik pengerjaan yang melekat pada cagar budaya tersebut. Keaslian/orisinalitas sangat penting, untuk menjamin bukti cipta, rasa dan karsa dari sang pembuatnya dimasa lalu. Intervensi yang terlampau banyak pada penanganan cagar budaya dapat menyebabkan kekaburan dalam memahami budaya masa lampau manusia. Pengamatan yang terkaburkan akan menghasilkan intrepretasi yang jauh dari nilai kebenaran. Tindakan konservasi pencegahan yang dipaparkan di artikel ini adalah berupa tindakan rekonstruksi, penguburan kembali dan tindakan penutupan. Rekonstruksi dapat membantu melestarikan atau memperpanjang usia cagar budaya karena mampu menghalangi terjadinya kerusakan lebih lanjut pada suatu cagar budaya. Penguburan kembali juga mampu mempertahankan kuantitas dan kualitas cagar budaya dengan menjaga stabilitas keadaan tanah yang menjadi penimbunnya. Terakhir penutupan dengan berbagai macam cara seperti pencungkupan, pemagaran maupun menggunakan tutup kaca juga mampu mempertahanan keadaan cagar budaya pada kondisi aman dan stabil, dengan beberapa ketentuan.
Preservasi Sisa Manusia dari All Saints Church Fishergate York, Inggris Dyah Prastiningtyas
Borobudur Vol. 6 No. 1 (2012): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v6i1.98

Abstract

Situs yang merupakan bekas gereja All Saints yang terletak di area Fishergate (York) ini dapat menjadi contoh situs yang memberikan informasi mengenai tingkat preservasi sisa manusia di wilayah Inggris. Ekskavasi tahun 2007-2008 berhasil menemukan ratusan individu yang digunakan dalam penelitian ini, dibantu dengan metode metode yang berkaitan dengan statistik untuk mengetahui frekuensi dan indeks preservasi anatomis dari masing-masing individu. Metode-metode ini diharapkan dapat memberinformasi mengenai tingkat representasi dan preservasi elemen rangka serta mendapatkan informasi bagaimana faktor lokasi, periode penguburan, dan kategori usia serta jenis kelamin dapat mempengaruhi tingkat preservasi tersebut. Tingkat preservasi sisa manusia berkaitan erat dengan faktor-faktor seperti lokasi penguburan, kedalaman penguburan, dan juga usia mati individu yang bersangkutan. Hasil analisis menunjukkan bahwa tulang-tulang panjang seperti tibia dan fibula memiliki tingkat preservasi yang tinggi yang dibutuhkan untuk bertahan dari gejalagejala tafonomi yang terjadi setelah penguburan. Kondisi ini dapat terjadi pada tulang yang berstruktur kuat dan berukuran besar, jika dibandingkan dengan tulang-tulang seperti tulang pergelangan tangan dan kaki, tulang-tulang jari, dan hyoid yang berukuran kecil. Analisis juga menunjukkan bahwa individu yang dikuburkan di areal dalam gereja memiliki tingkat preservasi yang lebih baik jika dibandingkan dengan individu yang dikuburkan di areal luar gereja. Individu-individu pada sampel yang berasal dari periode Romano-British menunjukkan tingkat preservasi yang lebih tinggi. Hal ini berkaitan dengan kedalaman letak kubur dari permukaan tanah. Sementara itu, perbandingan antara usia mati antara individu-individu sampel menunjukkan bahwa sisa individu berusia dewasa terpreservasi lebih baik jika dibandingkan dengan sisa individu yang berusia kanak-kanak. Penelitian mengenai tafonomi sisa manusia ini hanyalah bersifat penelitian tahap awal, sehingga ada baiknya dilakukan penelitian lebih lanjut.
Pemetaan Kawasan Strategis Nasional Borobudur Yenny Supandi; Joni Setiyawan
Borobudur Vol. 6 No. 1 (2012): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v6i1.99

Abstract

Kompleks Candi Borobudur termasuk di dalamnya Candi Mendut, Candi Pawon dan kawasan di sekitarnya pada tahun 2008 telah ditetapkan menjadi Kawasan Strategis Nasional (KSN) melalui PP No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional. Pengelolaan tata ruang. KSN Borobudur memerlukan data yang lengkap dan akurat supaya pemanfaatan ruangnya tidak melanggar peraturan yang telah ditetapkan. Salah satu langkah penting untuk mendukung upaya tersebut adalah pemetaan dan pengelolaan data KSN Borobudur yang mencakup area ±1337 Hektar. Pemetaan KSN Borobudur ini ditujukan untuk menghasilkan peta penggunaan lahan dan peta dasar (berisi jaringan jalan, sungai, saluran irigasi, batas administrasi, dan garis kontur) skala 1:10.000. Citra penginderaan jauh (PJ) digunakan sebagai sumber data primer, Peta Rupa Bumi Indonesia (SBI) sebagai sumber data sekunder dan Sistem Informasi Geografis untuk pengolahan data. Citra satelit tahun 2008 diperoleh dengan cara capture dari Google Maps, kemudian direktifikasi menggunakan software ER Mapper. Citra Ikonos tahun 2003 berkoordinat dipakai sebagai referensi dalam rektifikasi. Citra terkoreksi diinterpretasi visual dengan metode on screen digitizing menggunakan software ArcView, dan Peta RBI sebagai referensi dalam interpretasi. Peta penggunaan lahan sementara diverifikasi di lapangan dengan metode purposive random sampling. Hasil verifikasi lapangan dipakai sebagai acuan uji ketelitian interpretasi, selanjutnya dilakukan reinterpretasi untuk menghasilkan peta penggunaan lahan. Hasil capture citra PJ kualitasnya cukup bagus dan memungkinkan digunakan untuk interpretasi visual. Rektifikasi geometri menghasilkan citra bereferensi geografis yang baik ditandai dengan plot fitur topografis yang akurat secara spasial. Hasil interpretasi visual citra menghasilkan data yang akurat dengan tingkat ketelitian 91,54%. Lima penggunaan lahan terluas di KSN Borobudur adalah sawah 445,557 Ha (32,93%), kebun 327,13 Ha (24,18%), permukiman 200,296 Ha (14,8%), tegalan 164,691 Ha (12,17%) dan lahan terbuka 61,84 Ha (4,57%). Wilayah yang berupa lahan budidaya tidak terbangun 77,84% dan lahan terbangun 22,16%. Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa KSN Borobudur mempunyai pola perdesaan. Perubahan penggunaan lahan dari lahan tidak terbangun menjadi lahan terbangun banyak terjadi di KSN Borobudur, sehingga membutuhkan pengawasan dan pengendalian sesuai dengan undang-undang yang berlaku.
Harmonisasi Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya dan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta dalam Pelindungan Arsitektural Bangunan Cagar Budaya Sri Sularsih
Borobudur Vol. 6 No. 1 (2012): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v6i1.100

Abstract

Indonesia memiliki banyak bangunan cagar budaya bergaya arsitektur kolonial yang dibangun pada masa penjajahan Belanda. Periode masa Hindia Belanda itulah yang membedakan antara gaya bangunan masa kolonial dengan bangunan yang lain. Dimulai dari Bangunan Cagar Budaya yang bergaya arsitektur Hindis, bahkan yang merupakan perpaduan dari gaya bangunan Hindis dan tradisional. Dalam pelaksanaan pelindungan maupun pengembangan Bangunan Cagar Budaya (penelitian, revitalisasi, adaptasi) harus sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku diantaranya adalah Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya dan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta maupun peraturan perundang-undangan lainnya. Sekarang ini telah banyak kegiatan pengembangan yang tidak berdasarkan peraturan perundang-undangan sehingga dalam pelaksanaannya dilakukan secara sembarangan sehingga menghilangkan nilai keaslian (orisinalitas) karya cipta arsitektur Bangunan Cagar Budaya. Dalam rangka mempertahankan gaya kearsitekturan Bangunan Cagar Budaya dan keasliannya maka selama kegiatan pelindungan dan pengembangan tidak terlepas dari pengawasan dan pemantauan oleh pemerintah agar sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dengan peran serta pemerintah dan masyarakat dalam “mengawal” kegiatan tersebut, maka keaslian Bangunan Cagar Budaya telah dijaga dan dipertahankan sesuai dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta dan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
Evaluasi Berperspektif Orisinalitas Jenis Kayu Terhadap Pemugaran Cagar Budaya Bangunan Alang Pertama Sebagai Komponen Rumah Adat Tana Toraja Pada Situs Nanggala Yustinus Suranto
Borobudur Vol. 7 No. 1 (2013): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v7i1.102

Abstract

Alang dan Tongkonan merupakan bangunan penyusun Rumah Adat Tana Toraja berstatus Bangunan Cagar Budaya Berbahan Kayu (BCBBK). Bersama keunikan budaya dan keindahan bentang alam, BCBBK menempatkan Tana Toraja sebagai tujuan wisata dunia dan diusulkan sebagai peninggalan dunia (world heritage). Undang-undang Cagar Budaya mengamanatkan pelestarian BCBBK dengan aktivitas: pemeliharaan, perawatan, konservasi dan pemugaran secara arkeologis, yakni mempertahankan keaslian: bahan, teknologi pengerjaan, bentuk-ukuran-desain, arsitektur, budaya dan situs. Alang pertama Situs Nanggala baru saja dipugar oleh masyarakat pemiliknya. Penelitian bertujuan mengevaluasi penerapan prinsip arkeologis pada pemugaran dari perspektif konservasi jenis kayu. Objek penelitian berupa Alang pertama Situs Nanggala kawasan Tana Toraja. Metode penelitian meliputi: (1) pengamatan bangunan alang hasil pemugaran, (2) pengambilan sampel kayu arkeologis bekas komponen alang dan sampel kayu baru penggantinya, (3) mengidentifikasi untuk menentukan jenis kayu arkeologis dan kayu baru, (4) mengkomparasikan jenis kayu baru terhadap jenis kayu arkeologis, (5) mengevaluasi penerapan prinsip arkeologis, khususnya orisinalitas jenis bahan. Hasil penelitian menyimpulkan tiga hal. Pertama, seluruh komponen struktural dan non-struktural alang telah diganti kayu (bahan) baru. Kedua, identifikasi kayu arkeologis dan kayu baru secara berurutan menghasilkan jenis kayu: (a) wanga (Pigafetta filifera Merr) dan wanga bagi tiang, (b) cemara gunung (Casuarina Junghuhniana) dan cemara gunung bagi balok/belandar, (c) uru (Elmerrillia ovalis Dandy) dan tusam (Pinus merkusii Junghuh et de Vries) bagi papan lantai (d) uru dan sengon (Paraserianthes falcataria (L) Nielson) bagi papan dinding, (e) bambu dan seng gelombang bagi penutup atap. Ketiga, pemugaran alang pertama dilakukan tanpa ketaatan penerapan prinsip arkeologis, khususnya orisinalitas jenis bahan.
Identifikasi Zat Aktif Dalam Ekstrak Tanaman, Tes Anti Jamur dan Anti Serangga Ari Swastikawati
Borobudur Vol. 7 No. 1 (2013): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v7i1.103

Abstract

Indonesia memiliki beraneka ragam warisan budaya, baik dalam bentuk tangible maupun intangible. Salah satu bentuk warisan budaya intangible adalah metode konservasi tradisional. Beberapa metode konservasi tradisional tersebut antara lain penggunaan akar wangi, ratus sebagai bahan fumigant alami dan lain-lain. Metode konservasi tradisional tersebut masih berupa pengetahuan yang bersifat pre-scientific knowledge. Menjadi tugas dan tanggung jawab ahli konservasi untuk mengubahnya menjadi scientific knowledge melalui serangkaian penelitian ilmiah di laboratorium. Pada penelitian dalam pemagangan di laboratorium konservasi NRICH, Korea telah dilakukan identifkasi zat aktif yang terdapat dalam akar wangi. Tujuan khusus penelitian ini adalah menyusun prosedur pengambilan zat aktif dalam akar wangi, mengidentifkasinya, dan mengetes kemampuan ekstrak akar wangi, daun cengkeh dan ratus sebagai anti jamur dan anti serangga. Analisis laboratorium yang dilaksanakan meliputi identifkasi zat aktif akar wangi (karena keterbatasan waktu identifkasi zat aktif dari cengkeh dan ratus tidak dapat dilaksanakan). Sedangkan eksperimen yang dilaksanakan meliputi tes anti jamur dan anti serangga pada ekstrak akar wangi, daun cengkeh dan ratus. Prosedur dalam identifkasi zat aktif akar wangi terdiri dari ektraksi, penyaringan atau filtrasi, pengumpulan, pemisahan, analisis kromatografi dan nuclear magnetic resonance. Hasil penelitian belum dapat mengidentifkasi zat aktif dalam akar wangi karena keterbatasan waktu sehingga analisis menggunakan nuclear magnetic resonance tidak dapat dilaksanakan. Hasil tes anti jamur dan anti serangga menunjukan esktrak daun cengkeh memberikan hasil terbaik dalam tes anti-jamur dan anti-serangga diikuti oleh ekstrak ratus kemudian ekstrak akar wangi.

Page 6 of 20 | Total Record : 200


Filter by Year

2007 2024


Filter By Issues
All Issue Vol. 18 No. 2 (2024): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Vol. 18 No. 1 (2024): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Vol. 17 No. 2 (2023): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 17 No. 1 (2023): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 16 No. 2 (2022): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 16 No. 1 (2022): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 15 No. 2 (2021): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 15 No. 1 (2021): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 14 No. 2 (2020): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 14 No. 1 (2020): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 13 No. 2 (2019): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 13 No. 1 (2019): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 12 No. 2 (2018): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 12 No. 1 (2018): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 11 No. 2 (2017): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 11 No. 1 (2017): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 10 No. 2 (2016): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 10 No. 1 (2016): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 9 No. 2 (2015): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 9 No. 1 (2015): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 8 No. 2 (2014): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 8 No. 1 (2014): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 7 No. 2 (2013): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 7 No. 1 (2013): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 6 No. 1 (2012): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 5 No. 1 (2011): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 4 No. 1 (2010): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 3 No. 1 (2009): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 2 No. 1 (2008): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 1 No. 1 (2007): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur More Issue