cover
Contact Name
Bambang kasatriyanto
Contact Email
bkborobudur@kemdikbud.go.id
Phone
+62293-788225
Journal Mail Official
bkborobudur@kemdikbud.go.id
Editorial Address
-
Location
Kab. magelang,
Jawa tengah
INDONESIA
Articles 200 Documents
Minyak Atsiri sebagai Bahan Aktif Konservasi Benda Cagar Budaya Riyanto Riyanto
Borobudur Vol. 8 No. 2 (2014): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v8i2.127

Abstract

Konservasi dengan mencegah kerusakan benda cagar budaya akibat tumbuhnya bakteri, lumut, jamur, dan mikroorganisme sangat perlu untuk dilakukan. Konservasi BCB selama ini menggunakan bahan kimia berbahaya seperti 5-bromo-3-sec-butyl-6-methyluracil (Hyvar-X), xylophene, aldrin, malathion, parathion, DDT (Dichloro Diphenyl Trichloroethane) dan CCA (Chromated Copper Arsenat). Bahan kimia berbahaya tersebut dapat dilakukan penggantian dengan menggunakan bahan alam yang berupa minyak atsiri, yang diambil dari tanaman sereh wangi, cengkeh, pala, jahe karena mengandung zat-zat aktif seperti sitronelal, sitronelol, geraniol, eugenol, cineol, dan camphene yang dapat membasmi, membunuh, dan mengusir serangga, bakteri, dan jamur. Penggunaan minyak atsiri sebagai bahan konservasi BCB aman terhadap lingkungan, manusia, dan mampu mencegah kerusakan BCB.
Kajian Efektivitas Teknik dan Bahan Konservasi pada Lontar di Bali Ida Bagus Alit Sancana
Borobudur Vol. 8 No. 2 (2014): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v8i2.128

Abstract

Naskah lontar adalah warisan budaya yang sangat rentan mengalami kerusakan Oleh karena itu, diperlukan suatu tindakan konservasi yang benar untuk tetap menjaga keawetan naskah lontar tersebut dari pengaruh lingkungan sekitarnya. Berbagai cara konservasi dilakukan untuk melindungi naskah lontar dari kerusakan seperti menggunakan minyak cengkeh, minyak sereh, minyak kemiri, minyak wijen, campuran griserin, dan etanol, dan campuran aseton dan minyak sereh. Tulisan ini akan menguji keefektifan bahan-bahan konservasi tersebut dengan cara melakukan eksperimen pengujian.
Efektivitas Buah Lerak (Sapindus Rarak De Candole) sebagai Bahan Pembersih Logam Perak, Perunggu, dan Besi Ira Fatmawati
Borobudur Vol. 8 No. 2 (2014): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v8i2.129

Abstract

Kearifan tradisional dengan memanfaatkan bahan-bahan yang berasal dari alam perlu dikembangkan dan dilestarikan guna mengurangi dampak negatif dari bahan kimia sintetis. Salah satu bentuk kearifan tradisional itu adalah penggunaan buah lerak sebagai bahan pembersih logam. Adanya kandungan saponin menjadikan buah lerak dapat digunakan sebagai bahan baku sabun yang aman, ekonomis, reversibel, dan ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan larutan lerak serta metode yang tepat untuk membersihkan logam perak, perunggu, dan besi menggunakan larutan tersebut. Sampel yang digunakan adalah mata uang Ma berbahan perak, mata uang Cina berbahan perunggu, dan sabit berbahan besi. Larutan lerak dibuat dengan mencampur 60 gram buah lerak ke dalam 250 ml air panas. Selanjutnya buah ditumbuk dan didiamkan dalam air tersebut selama 24 jam kemudian disaring. Sampel dibersihkan dengan larutan lerak menggunakan dua metode, yaitu: disikat dan direndam. Metode perendaman dilakukan selama 30 menit, 1 jam, 3 jam, 6 jam, dan 24 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larutan lerak efektif sebagai bahan pembersih logam perak dan perunggu dengan metode perendaman selama 24 jam kemudian disikat. Namun untuk logam besi, perendaman dalam larutan lerak selama 24 jam kurang efektif karena belum mampu menghilangkan seluruh korosi yang ada di permukaannya.
Konservasi Berbasis Kearifan Lokal di Situs Benteng Puteri Hijau, Deli Serdang, Sumatera Utara Stanov Purnawibowo
Borobudur Vol. 8 No. 2 (2014): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v8i2.130

Abstract

Penanaman pohon pisang barangan (Musa paradisiaca sapientum L) pada benteng tanah yang dinyatakan sebagai tinggalan arkeologis di situs Benteng Puteri Hijau merupakan suatu wujud kearifan lokal dalam aktivitas konservasi material. Penelitian ini mencoba mencari formulasi bentuk kearifan lokal pada konservasi benteng tanah di situs Benteng Puteri Hijau. Penelitian tersebut dilakukan dengan pengamatan lapangan keberadaan tanaman pisang di gundukan tanah serta mewawancarai pemiliknya, kemudian mengelaborasinya dengan kepustakaan yang berkaitan dengan konservasi tanah. Penelitian ini dimaksudkan untuk mencari bentuk konservasi berbasis kearifan lokal yang bertujuan untuk menambah ragam jenis bentuk konservasi material terhadap tinggalan arkeologi di Indonesia secara umum.
Penerapan NDT (Non-Destructive Testing) untuk Analisis Pelapukan Cagar Budaya Menggunakan Alat XRF: Studi Kasus Candi Mendut Nahar Cahyandaru
Borobudur Vol. 8 No. 2 (2014): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v8i2.131

Abstract

Cagar budaya merupakan tinggalan budaya yang bernilai tinggi sehingga sangat penting untuk dilestarikan. Cagar budaya umumnya dijumpai dalam jumlah yang sangat terbatas dan telah mengalami pelapukan. Usaha konservasi material diperlukan untuk mempertahankan kelestariannya. Konservasi yang dilakukan memerlukan analisis sebagai dasar tindakan. Mengingat pentingnya cagar budaya maka sangat dibutuhkan metode pengujian yang bersifat tidak merusak bendanya (non-destruktif). Metode pengujian non-destruktif yang dikenal antara lain XRF (X-Ray Fluorescene). Kajian ini menguji penerapan alat XRF untuk memahami pelapukan cagar budaya, subjek yang dikaji adalah Candi Mendut. Hasil kajian menunjukkan bahwa analisis dengan alat XRF menghasilkan data yang relatif akurat, cepat, dan mudah dilaksanakan di lapangan. Berdasarkan kandungan silika dalam sampel, batu-batu Candi Mendut belum mengalami pelapukan yang serius, kecuali bagian bilik dalam yang telah mengalami pelapukan dengan tingkat yang bervariasi. Pelapukan batu bilik diperkirakan akibat aktivitas mikroba karena tingginya kandungan phospat dan sulfat dalam batu. Pelapukan pada dinding bagian luar yang cukup banyak diamati adalah terbentuknya endapan garam, penggaraman yang terjadi merupakan proses pengendapan garam silikat dan karbonat dengan kation yang dominan adalah kalsium. Pertumbuhan organisme pada permukaan batu terjadi pada batu jenis-jenis tertentu dengan komposisi yang berbeda. Batu yang ditumbuhi organisme mengandung besi, kalium, dan phospor yang relatif rendah karena unsur-unsur tersebut merupakan nutrisi bagi metabolisme organisme. Udara tercemar turut mempengaruhi pelapukan batu Candi Mendut, ditandai dengan kandungan sulfur pada batu-batu candi. Namun kandungan tersebut belum menunjukkan adanya gejala pelapukan yang signifikan. Kandungan sulfur dalam endapan garam juga relatif rendah sehingga dampak udara tercemar tidak mempengaruhi penggaraman. Berdasarkan pengolahan dan interpretasi data yang dilakukan maka permasalahan pelapukan Candi Mendut dapat dipahami dengan lebih baik. Hasil analisis permasalahan pelapukan ini dapat menjadi acuan dalam pengambilan tindakan konservasi yang diperlukan.
Metode Isolasi dan Identifikasi Struktural Senyawa Organik Bahan Alam Sri Atun
Borobudur Vol. 8 No. 2 (2014): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v8i2.132

Abstract

Beberapa penelitian etnomedika yang tercatat dalam dokumen kuno dari beberapa wilayah Indonesia menunjukkan adanya beberapa jenis tumbuhan yang dapat digunakan sebagai obat untuk menyembuhkan berbagai penyakit, maupun dapat diterapkan pada benda yang mengalami permasalahan akibat aktivitas suatu organisme. Senyawa bioaktif dapat berkhasiat sebagai anti bakteri, anti jamur, anti serangga dan lain-lain. Namun demikian, agar tumbuhan tersebut dapat dikembangkan dan dilestarikan perlu dilakukan penelitian yang berkelanjutan, sehingga dapat diketahui jenis senyawa bioaktifnya. Untuk mengetahui kandungan senyawa aktif dari tumbuhan perlu dilakukan isolasi, sehingga diperoleh senyawa murni. Selanjutnya dari senyawa murni yang diperoleh belum memiliki makna apabila belum diketahui struktur molekulnya. Dalam artikel ini akan dibahas mengenai metode isolasi dan penentuan struktur senyawa alam.
Perbandingan Metode Kalibrasi dan Adisi Standar untuk Penentuan Timbal Terlarut dalam Air Bak Kontrol Candi Borobudur Secara Spektrofotometri Serapan Atom (SSA)-Nyala Ida Sulistyaningrum; Melati Putri Git Utami; Reni Banowati Istiningrum
Borobudur Vol. 8 No. 2 (2014): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v8i2.133

Abstract

Telah dilakukan perbandingan metode kalibrasi dan adisi standar untuk penentuan timbal terlarut dalam sampel air bak kontrol Candi Borobudur. Studi dilakukan untuk mengembangkan metode adisi standar dalam penentuan kadar timbal terlarut yang sangat rendah menggunakan Spektrofotometri Serapan Atom (SSA)-Nyala. Pengambilan sampel dilakukan di lima titik, yaitu satu titik sisi selatan, satu titik sisi barat daya, dan tiga titik sisi utara Candi Borobudur. Metode adisi standar memiliki sensitivitas metode yang lebih baik daripada kalibrasi standar. Linearitas (R) kurva kalibrasi yang diperoleh sebesar 0,957, sementara terlarut yang berbeda dengan hasil metode kalibrasi lebih besar daripada hasil metode adisi standar.
Pengelolaan Lansekap Budaya dalam Kerangka Warisan Dunia: Studi Kasus Management Plan Lansekap Budaya Provinsi Bali Panggah Ardiyansyah
Borobudur Vol. 8 No. 2 (2014): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v8i2.134

Abstract

Lansekap Budaya Provinsi Bali telah ditetapkan sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO pada tahun 2012. Situs ini dianggap memenuhi 3 kriteria, yaitu kriteria (iii) karena tradisi budaya yang membentuk lansekap Bali, paling tidak sejak abad ke-12, merupakan konsep filosofi kuno Tri Hita Kirana, kriteria (v) karena keempat situs didalamnya merupakan bukti eksepsional dari sistem subak, sebuah sistem yang demokratis dan egaliter yang berpusat di pura tirta dan pengelolaan irigasi yang telah membentuk lansekap selama lebih dari ribuan tahun, dan kriteria (vi) karena pura tirta di Bali merupakan institusi yang khas, yang selama lebih dari ribuan tahun telah terinspirasi oleh beberapa tradisi religius kuno. Kurang lebih setahun setelah ditetapkan, Lansekap Budaya Provinsi Bali mendapatkan catatan negatif dari World Heritage Committee karena dianggap bahwa situs ini tidak dikelola dengan baik. Rencana pengelolaan yang telah disusun tidak dilaksanakan dan badan pengelola yang dibentuk pun tidak berjalan. Kajian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hambatan dalam implementasi rencana pengelolaan sehingga World Heritage Committee sampai memberikan komentar bahwa badan pengelola yang telah dibentuk tidak berjalan sebagai mestinya. Setelah hambatan berhasil diidentifikasi, saran akan dirumuskan untuk menjalankan rencana pengelolaan dengan baik. Data diperoleh melalui pengamatan langsung di lapangan dan wawancara dengan beberapa stakeholders terkait. Ruang lingkup kajian hanya pada faktor internal yang menonjol dan tidak mengidentifikasi faktor eksternal yang mungkin berpengaruh. Dari pengamatan dan wawancara yang dilakukan, diketahui beberapa hambatan yang muncul, yaitu: ego sektoral yang masih besar, aleniasi masyarakat lokal, kegagapan pengelola, dan wewenang dari Balai Pelestarian Cagar Budaya yang terbatas pada pelestarian fisik. Untuk itu perlu adanya penegasan kembali akan komitmen bersama semua stakeholders yang terlibat, tentu saja dengan memberikan peran utama dalam pengelolaan kepada masyarakat masyarakat lokal.
Implementasi Manajemen Risiko dalam Konservasi Kawasan Cagar Budaya Asmara Dewi
Borobudur Vol. 9 No. 2 (2015): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v9i2.136

Abstract

Implementasi manajemen risiko dalam Konservasi Kawasan Cagar Budaya merupakan kebutuhan yang mendesak, mengingat cagar budaya memiliki risiko, baik ancaman proses alam maupun aktivitas manusia. Untuk melindungi dari berbagai risiko, maka digunakan paradigma baru dalam konservasi, yakni prinsip preventif, berupa pengelolaan risiko. Pendekatan ini bertujuan untuk menemukan strategi penanganan risiko yang tepat, terpadu, dan berkelanjutan sehingga risiko dapat dikelola dan diminimalisasi untuk mempertahankan kualitas cagar budaya dan mensejahterakan masyarakat. Manajemen risiko dilakukan melalui pendekatan sistemik melalui tahap identifikasi dan analisis, penilaian, dan pengurangan risiko. Dalam artikel ini digambarkan studi kasus risiko pemanfaatan Kawasan Candi Gedongsongo. Metode risiko yang digunakan dinilai secara kualitatif dan kuantitatif yang dirumuskan R (Risiko) = H (Ancaman) x V (Kerentanan) / C (Kapasitas). Hasil penilaian risiko diklasifikasikan ke dalam tiga tingkat kelas, yaitu: (1) risiko rendah, (2) risiko sedang, dan (3) risiko tinggi. Berdasarkan penilaian tersebut, Kawasan Candi Gedongsongo mempunyai risiko tinggi, baik risiko pemanfaatan lahan, risiko bangunan candi, dan risiko konflik. Oleh karena itu, perlu dirumuskan langkah strategi pengurangan risiko. Langkah tersebut adalah: (1) komitmen publik mencakup peraturan perundangan, kerangka kelembagaan, pengembangan kebijakan, (2) manajemen lingkungan, (3) pelindungan cagar budaya, (4) sosial mencakup peningkatan kesadaran masyarakat dan pengetahuan masyarakat, kemitraan, dan stakeholder, (5) finansial, (6) monitoring, dan (7) sistem peringatan dini. Diharapkan dengan implementasi manajemen risiko dalam konservasi Kawasan Cagar Budaya dapat diterapkan dan direncanakan sehingga dapat dimanfaatkan selama mungkin dan tertangkap makna kulturalnya.
Tinjauan Awal Bangunan Rumah Tinggal Kolonial Kawasan Simpang Surabaya Delta Bayu Murti
Borobudur Vol. 9 No. 2 (2015): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v9i2.137

Abstract

Tujuan studi ini membahas keberadaan bangunan rumah tinggal kolonial Belanda yang ada di kawasan Simpang Surabaya. Metode pengumpulan data dalam studi ini adalah survei arkeologis, melalui pengamatan, yang didokumentasi bergaya arsitektur sebelum 1900, arsitektur transisi, dan arsitektur modern. Selain itu didokumentasi pula kerusakan dan perubahan pada bangunan rumah tinggal kolonial yang ada, yang terindikasi berkaitan dengan statusnya sebagai bukan cagar budaya dan perkembangan kawasan Simpang sendiri.

Page 9 of 20 | Total Record : 200


Filter by Year

2007 2024


Filter By Issues
All Issue Vol. 18 No. 2 (2024): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Vol. 18 No. 1 (2024): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Vol. 17 No. 2 (2023): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 17 No. 1 (2023): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 16 No. 2 (2022): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 16 No. 1 (2022): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 15 No. 2 (2021): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 15 No. 1 (2021): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 14 No. 2 (2020): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 14 No. 1 (2020): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 13 No. 2 (2019): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 13 No. 1 (2019): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 12 No. 2 (2018): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 12 No. 1 (2018): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 11 No. 2 (2017): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 11 No. 1 (2017): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 10 No. 2 (2016): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 10 No. 1 (2016): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 9 No. 2 (2015): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 9 No. 1 (2015): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 8 No. 2 (2014): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 8 No. 1 (2014): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 7 No. 2 (2013): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 7 No. 1 (2013): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 6 No. 1 (2012): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 5 No. 1 (2011): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 4 No. 1 (2010): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 3 No. 1 (2009): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 2 No. 1 (2008): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 1 No. 1 (2007): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur More Issue