cover
Contact Name
Bambang kasatriyanto
Contact Email
bkborobudur@kemdikbud.go.id
Phone
+62293-788225
Journal Mail Official
bkborobudur@kemdikbud.go.id
Editorial Address
-
Location
Kab. magelang,
Jawa tengah
INDONESIA
Articles 200 Documents
Atribut Sosial Masyarakat Jawa Kuno Pada Relief Candi Borobudur Ditinjau Melalui Kerangka Teori Evolusi Sosial Morgan-Tylor Kharisma Nabila
Jurnal Konservasi Cagar Budaya Vol. 18 No. 1 (2024): Jurnal Konservasi Cagar Budaya
Publisher : Balai Konservasi Borobudur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v18i1.326

Abstract

Relief Candi Borobudur telah diyakini oleh para peneliti terdahulu dapat menghasilkan beragam pengetahuan mengenai gambaran masyarakat Jawa Kuno pada tahun 800 Masehi. Namun, sejauh ini penelitian yang dilakukan pada relief Candi Borobudur masih belum membahas mengenai tahapan evolusi sosial yang terjadi pada masyarakat Jawa Kuno yang digambarkan pada relief. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tahapan evolusi sosial masyarakat Jawa Kuno yang digambarkan dalam panil relief Candi Borobudur, khususnya relief Karmavibhanga, Lalitavistara, dan Avadana. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan arkeologi sosial dengan menggunakan kerangka teori evolusi sosial menurut Morgan-Tylor. Karakteristik budaya dari setiap tahap evolusi sosial Morgan-Tylor digunakan sebagai alat untuk mengidentifikasi, mengklasifikasi, dan menginterpretasikan relief secara kontekstual. Pengambilan sampel relief dilakukan dengan metode purposive sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar relief Karmavibhanga sebanyak 41,25% mengandung karakteristik budaya pada tahap Barbarisme Bawah, sedangkan pada relief Lalitavistara sebagian besar reliefnya menunjukkan pada tahap Barbarisme Tengah (30,83%). Relief Avadana sebagian besar menunjukkan karakteristik pada tahap Barbarisme Tengah (36,88%), tetapi dengan kandungan karakteristik pada tahap Barbarisme Tinggi dan Peradaban lebih tinggi dibandingkan dengan relief Lalitavistara. Hal tersebut menunjukkan bahwa penggambaran atribut sosial masyarakat dalam relief Karmavibhanga, Lalitavistara, dan Avadana mencerminkan adanya perkembangan tahapan evolusi sosial, mulai dari Barbarisme Bawah di Karmavibhanga, Barbarisme Tengah di Lalitavistara, Barbarisme Tinggi dan Peradaban di Avadana.
Identifikasi Kerusakan Nisan Kayu Pada Kompleks Makam La Tenri Ruwa di Kabupaten Bantaeng isnu, kasnia; Erwin Mansyur Ugu Saraka; Khadijah Thahir Muda
Jurnal Konservasi Cagar Budaya Vol. 18 No. 1 (2024): Jurnal Konservasi Cagar Budaya
Publisher : Balai Konservasi Borobudur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v18i1.327

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk kerusakan nisan kayu dan faktor yang menjadi penyebab kerusakannya pada Situs Kompleks Makam La Tenri Ruwa, Kabupaten Bantaeng. Untuk mengetahui kondisi nisan kayu tersebut, pengambilan data dilakukan dengan metode studi pustaka, survei lapangan, serta klasifikasi bentuk kerusakan yang kemudian digambarkan dalam peta sebaran kerusakan. Hasil identifikasi terhadap kerusakan pada nisan kayu menunjukkan bahwa bentuk kerusakan yang terjadi meliputi kerusakan mekanis terdapat 3 nisan, pelapukan khemis terdapat 6 nisan, pelapukan biotis terdapat 13 nisan, dan pelapukan fisis terdapat 10 nisan. Dari kerusakan-kerusakan tersebut terdapat nisan yang memiliki 1 sampai 3 kerusakan sekaligus. Faktor terjadinya pemicu kerusakan pada nisan kayu adalah faktor internal (sifat kayu dan letak geografi) dan faktor eksternal (biotik dan abiotik). Faktor biotik yang mempengaruhi berupa pertumbuhan lumut dan aktifitas rayap. Sedangkan faktor abiotik yang mempengaruhi berupa kondisi klimatologi wilayah tersebut.
Optimasi Formulasi Nanoemulsi Minyak Mimba Terhadap Mortalitas Rayap Kayu Kering Menggunakan Metode Taguchi Fitri, Aulia Nur; Pradipta, Mokhammad Fajar; Cahyandaru, Nahar
Jurnal Konservasi Cagar Budaya Vol. 18 No. 1 (2024): Jurnal Konservasi Cagar Budaya
Publisher : Balai Konservasi Borobudur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v18i1.329

Abstract

Konservasi kayu telah umum dilakukan oleh para konservator di lingkungan kepurbakalaan dengan menggunakan bahan tradisional dalam kegiatan konservasinya (Cahyandaru dkk., 2010). Pembasmian rayap yang menyerang cagar budaya dapat dilakukan menggunakan minyak mimba karena memiliki senyawa utama Azadirachtin (Okanlawon dkk., 2020). Pengaplikasian minyak mimba secara langsung di lapangan kurang optimal karena minyak atsiri bersifat volatil, dan mudah terdekomposisi oleh panas, kelembapan dan oksigen. Dalam ukurannya pada rentang nanometer, formula nanoemulsi minyak atsiri dapat mengurangi volatilitas, meningkatkan absorptivitas dan bioefisiensi (Katata-Seru dkk., 2017). Formulasi nanoemulsi dibuat menggunakan metode Energi Rendah Emulsifikasi Spontan dan didesain dengan metode statistik Taguchi menggunakan software Minitab 22. Stabilitas nanoemulsi minyak mimba diuji melalui pengamatan organoleptis, turbiditas, stabilitas termal, cycling test, dan uji stabilitas mekanik menggunakan sentrifugasi selama 30 menit dengan kecepatan 3800 rpm. Pengujian mortalitas rayap dilakukan dengan mengaplikasikan nanoemulsi minyak mimba dalam skala laboratorium pada rayap kayu kering. Kondisi optimum pembuatan nanoemulsi yang menghasilkan komposisi terbaik yaitu pada kondisi rasio SNES (minyak: Tween 80: PEG 400: akuades) sebesar (2,5:20:2,5:75)%, kecepatan pengadukan 2400 rpm dan waktu pengadukan 10 menit yang diperoleh dengan ukuran 15,0 nm dan menghasilkan mortalitas rayap kayu kering sebesar 90,00%. Konsentrasi minyak mimba minimum 2,5% dalam nanoemulsi telah efektif membunuh rayap. Penelitian menunjukkan bahwa nanoemulsi minyak mimba berpotensi dikembangkan sebagai pembasmi yang dapat diaplikasikan pada cagar budaya berbahan kayu.
Karagenan Dan CMCh(Carboxy Methyl Chitosan) Alternatif Perekat Laminasi Arsip Kertas Wahyuni, Sri; Rima Setyorini, Nurlita; Savita Putri, Melany
Jurnal Konservasi Cagar Budaya Vol. 18 No. 1 (2024): Jurnal Konservasi Cagar Budaya
Publisher : Balai Konservasi Borobudur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v18i1.331

Abstract

Arsip yang terbuat dari kertas cepat ataupun lambat akan mengalami degradasi yang disebabkan oleh bahan dasar kertas maupun lingkungan penyimpanan arsip kertas. Upaya perbaikan arsip kertas dengan cara laminasi merupakan salah satu tindakan untuk menangani kertas yang rapuh sehingga dapat melestarikan arsip kertas. Dokumen arsip kertas yang rapuh diberikan perkuatan dengan penambahan kertas tisu jepang pada kedua sisi. Tisu Jepang digunakan sebagai kertas untuk merestorasi kertas karena memiliki serat yang panjang dan tebal sehingga dapat memperkuat kertas. Proses perkuatan arsip kertas selain menggunakan tisu Jepang juga diperlukan perekat yang digunakan untuk merekatkan antar arsip kertas dengan tisu Jepang. Perekat yang selama ini digunakan dalam merekatkan tisu Jepang dengan arsip kertas adalah CMC(Carboxymethyl Cellulose), MC (Methyl Cellulose) dan Starch(pati). Perekat yang berasal dari selulosa maupun pati rawan terhadap serangan jamur, oleh sebab itu diperlukan bahan alternatif perekat yang berasal dari biota laut. Pengembangan bahan perekat arsip kertas sudah pernah dilakukan dengan menggunakan CMCh(Carboxy Methyl Chitosan). CMCh(Carboxy Methyl Chitosan) merupakan turunan kitosan yang berasal dari kitin yang diperoleh dari proses isolasi dari invetebrata laut (misalnya udang dan kepiting), serangga, jamur serta ragi. Pengembangan perekat biota laut lainnya berasal dari alga merah berupa karagenan dapat digunakan sebagai alternatif perekat laminasi arsip kertas. Karagenan adalah bahan yang terdiri dari senyawa kelompok polisakarida galaktosa yang diperoleh dari hasil ekstraksi protein dan lignin rumput laut atau ganggang merah.
Sintesis Nanofiber Polycaprolactone Sebagai Pelapis Pada Konservasi Kertas Arsip Aulinnashru Ilma A; Zakki Fahmi, Mochamad; Cahyandaru, Nahar
Jurnal Konservasi Cagar Budaya Vol. 18 No. 1 (2024): Jurnal Konservasi Cagar Budaya
Publisher : Balai Konservasi Borobudur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v18i1.332

Abstract

Nanofiber polikaprolakton (PCL) merupakan serat ultrafine dengan ukuran nano, sehingga dapat dicetak menjadi lapisan yang sangat tipis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja nanofiber PCL ketika digunakan sebagai pelapis pada kertas arsip. Nanofiber PCL disintesis dengan metode elektrospinning pada variasi konsentrasi polimer polycaprolactone (11% – 19%). Sintesis nanofiber PCL dilakukan dengan menggunakan bahan padatan polikaprolakton dan flow rate elektrospinning sebesar 1 mL/h. Hasil uji sudut kontak menunjukkan nanofiber PCL memiliki tingkat hidrofilitas rendah dibandingkan dengan tisu Jepang. Hasil uji kekuatan tarik menunjukkan nilaielongasi nanofiber lebih besar dibandingkan dengan tisu Jepang dengan selisih sebesar 125,8%, sedangkan nilai tegangan nanofiber lebih kecil dibandingkan dengan tisu Jepang sebesar 3,28 N/mm. Hasil uji morfologi nanofiber PCL menunjukkan ukuran serat nano lebih kecil dibandingkan serat tisu Jepang. Hasil uji gugus fungsi nanofiber PCL menunjukkan adanya karakter khusus dari PCL yaitu adanya gugus peregangan C-O, peregangan asimetris jembatan C-O-C, deformasi CH2, dan ikatan ester karbonil (C=O). Hasil uji termal menunjukkan nanofiber PCL terdegradasi pada suhu 310-467℃ dengan penurunan berat sebesar 93%. Sifat hidrofilitas dan fleksibilitas PCL yang lebih baik dari tisu jepang didukung dengan opasitas yang baik pada laminasi kertas, menjadikan nanofiber PCL sebagai alternatif yang menjanjikan untuk konservasi kertas arsip.
Strategi Komunikasi dan Promosi Wisata Edukasi untuk Pengelolaan Candi Muara Takus Surya, Pratama Dharma
Jurnal Konservasi Cagar Budaya Vol. 18 No. 2 (2024): Jurnal Konservasi Cagar Budaya
Publisher : Balai Konservasi Borobudur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v18i2.338

Abstract

Komunikasi dan promosi warisan budaya menjadi salah satu bentuk manajemen warisan budaya yang penting saat ini. Rancangan dan penerapannya perlu dipersiapkan dan diimplementasikan dengan baik agar membawa dampak positif bagi objek arkeologis yang dikelola. Salah satu bentuk manajemen yang dapat diajukan adalah merancang kegiatan wisata edukasi di Candi Muara Takus. Kajian ini bertujuan untuk memberikan opsi manajemen komunikasi dan promosi warisan budaya yang dapat diterapkan di Indonesia. Kajian ini menggunakan pendekatan interdisipliner yang menggabungkan prinsip-prinsip komunikasi, pemasaran, dan pendidikan. Proses perancangan kajian ini mempertimbangkan multiple intelligence, generic learning outcomes, dan pendekatan 7 Ps sebagai landasan dasar untuk mempersiapkan segala bentuk kegiatan dan elemen-elemen terkait lainnya. Hasil kajian menunjukkan bahwa rancangan wisata edukasi di Candi Muara Takus berpotensi untuk dikembangkan agar dapat menumbuhkan minat pengunjung dalam memahami dan menghargai warisan budaya Indonesia secara langsung. Rancangan ini juga menjadi upaya yang komprehensif dan berkelanjutan dalam mengenalkan serta memperkuat kesadaran akan pentingnya warisan budaya dan keberagaman budaya Indonesia di kalangan generasi muda. Dengan demikian, penerapan kegiatan wisata edukasi ini dapat menjadi salah satu strategi efektif dalam manajemen komunikasi dan promosi warisan budaya, yang tidak hanya memberikan pengalaman edukatif bagi pengunjung, tetapi juga mendukung pelestarian dan peningkatan apresiasi terhadap warisan budaya bangsa.
DEVELOPMENT OF THIN CONSERVATION-GRADE PAPER FROM INDONESIAN PAPER MULBERRY Suranto, Christopher Alma; Sudiono, Sri; Ekarini, Fransiska Dian
Jurnal Konservasi Cagar Budaya Vol. 18 No. 2 (2024): Jurnal Konservasi Cagar Budaya
Publisher : Balai Konservasi Borobudur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v18i2.339

Abstract

This research explores the development of conservation-grade paper from Indonesian paper mulberry (Broussonetia papyrifera), commonly known as daluang, as a sustainable material for historical artifact preservation. Given the scarcity of locally produced conservation-grade paper in Indonesia, this study investigates the technical feasibility of utilizing daluang fibers in papermaking. The research details the steps of bark extraction, fiber purification, delignification, bleaching, and sheet formation, following traditional papermaking techniques.. Three alkaline solutions (NaOH, Na₂CO₃, and Ca(OH)₂) were employed for delignification, followed by mechanical and chemical characterizations including tensile testing, colorimetry, pH analysis, SEM, and ATR-FTIR. The results demonstrate that NaOH-delignified fibers produce the thinnest paper with improved fiber dispersion, while Ca(OH)₂-treated samples exhibit higher tensile strength and pH stability. The findings show Indonesian paper mulberry's potential as a resource for conservation-grade paper, though further optimizations are needed to enhance fiber distribution and lignin removal for practical conservation applications.
Pengembangan Buku Referensi Biologi Berbasis Studi Etnosains Pada Relief Flora Candi Mendut Yuda Fahrurozi
Jurnal Konservasi Cagar Budaya Vol. 18 No. 2 (2024): Jurnal Konservasi Cagar Budaya
Publisher : Balai Konservasi Borobudur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v18i2.344

Abstract

Candi Mendut merupakan bagunan keagamaan bercorak Buddha Mahayana yang terletak di desa Mendut, kecamatan Mungkid, kabupaten Magelang. Candi Mendut berpotensi menyimpan etnosains pada relief tumbuhan yang terdapat pada bagian kaki dan badan candi, namun masih belum banyak digali dan berpotensi untuk hilang. Hal ini dikarenakan adanya anggapan bahwa sains asli masyarakat masih belum teruji keilmiahannya. Dengan demikian diperlukan sebuah rekonstruksi sains asli masyarakat menjadi sains formal agar dapat diterima keberadaannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan buku referensi berbasis identifikasi etnosains pada relief flora candi Mendut. Metode penelitian yang digunakan yaitu research and development (R&D) dengan model pengembangan Borg & Gall dengan modifikasi 5 tahap yaitu: 1) penelitian dan pengumpulan informasi; 2) perencanaan; 3) pengembangan produk awal; 4) uji pendahuluan; dan 5) revisi produk. Pengumpulan data identifikasi relief tumbuhan didapatkan melalui observasi pada bagian kaki dan badan candi Mendut. pengumpulan data etnosains relief flora pada candi Mendut dilakukan dengan wawancara terhadap seniman ukir relief, arkeolog dan studi literatur. Analisis kelayakan buku referensi didapatkan melalui lembar validasi materi dan validasi grafika. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa terdapat 40 relief tumbuhan dengan klasifikasi 9 spesies, 8 ordo dan 8 famili dapat teridentifikasi dan 1 spesies tumbuhan tidak dapat teridentifikasi Terdapat 5 tahapan dalam pembuatan relief yaitu: 1) pencarian ide; 2) pembahanan atau pembakalan; 3) pembuatan sketsa; 4) pemahatan; dan 5) finishing. Hasil validasi materi diperoleh persentase 92,71% dengan kategori sangat layak. Penilaian ahli grafika diperoleh persentase 77,38% dengan kategori layak dan tidak perlu dilakukan revisi.
Soundscape Sakral Candi Borobudur Jati Kurniawan
Jurnal Konservasi Cagar Budaya Vol. 18 No. 2 (2024): Jurnal Konservasi Cagar Budaya
Publisher : Balai Konservasi Borobudur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v18i2.345

Abstract

Candi Borobudur, sebagai salah satu warisan budaya terbesar dengan corak keagamaan Buddha, memiliki makna sakral yang tidak hanya tercermin dalam bentuk arsitektur dan lingkungan, tetapi juga dalam suasana suara (soundscape) yang mendukung proses ibadah, khususnya meditasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penyesuaian lanskap Candi Borobudur dalam kaitannya dengan faktor suara sebagai elemen yang memperkuat kesakralan tempat ibadah tersebut. Melalui pendekatan arkeologi lanskap dan fenomenologi, penelitian ini memanfaatkan data observasi dan studi pustaka, termasuk pengukuran suara oleh Balai Konservasi Borobudur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan danau purba di sekitar candi menciptakan suasana tenang yang diwarnai oleh suara alam, seperti suara air, yang mendukung meditasi dan ibadah. Selain itu, bentuk arsitektur berundak dan struktur lorong di Candi Borobudur berkontribusi pada pembentukan akustik yang memperkuat efek suara, menciptakan suasana sakral yang mendalam. Temuan ini menunjukkan bahwa penyesuaian lanskap dan arsitektur Candi Borobudur tidak hanya memperhatikan aspek visual, tetapi juga aspek akustik, yang turut memperkaya pengalaman spiritual umat Buddha. Penelitian ini menegaskan bahwa soundscape yang diciptakan oleh interaksi antara lanskap dan arsitektur Candi Borobudur memiliki peranan penting dalam menciptakan suasana sakral yang mendalam bagi para umat Buddha atau pengunjung lain
PEMULIHAN WARISAN PASCABENCANA:: KONSERVASI TRADISIONAL ARCA SIWA MAHADEWA Dewi, Maulidha Sinta; Ardianto, Dian; Ajiz, Lukman
Jurnal Konservasi Cagar Budaya Vol. 18 No. 2 (2024): Jurnal Konservasi Cagar Budaya
Publisher : Balai Konservasi Borobudur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v18i2.346

Abstract

Kebakaran yang melanda Museum Nasional Indonesia menyebabkan kerusakan pada sejumlah koleksi, salah satunya adalah Arca Siwa Mahadewa (No. Inv. 18542), sebuah masterpiece yang sangat penting dan berharga. Sebagai bagian dari upaya pemulihan pascabencana, konservasi arca ini dilakukan dengan mengutamakan prinsip-prinsip etika konservasi, termasuk penggunaan metode reversible, pemeriksaan ilmiah, penggunaan bahan asli, serta pelestarian bentuk dan karakteristik arca agar tetap autentik. Proses konservasi mencakup beberapa langkah utama, yaitu identifikasi kondisi arca secara visual dan menggunakan X-Ray Fluorescence (XRF) portable, pembersihan debu dan kotoran, penghilangan korosi, restorasi pada bagian lengan yang patah, konsolidasi untuk memperkuat struktur arca, serta pelapisan (coating) untuk meningkatkan ketahanan terhadap korosi. Hasil analisis XRF menunjukkan bahwa arca mengandung perunggu, perak, dan sedikit emas, yang mengindikasikan bahwa arca pernah dilapisi emas, meskipun lapisan tersebut telah terkikis seiring waktu. Dalam pemulihan ini, bahan-bahan tradisional seperti jeruk nipis, asam jawa, abu bambu, dan gale (campuran getah damar, serbuk batu bata dan minyak kelapa) digunakan, yang terbukti efektif secara ilmiah dalam menstabilkan kondisi arca tanpa merusak keasliannya. Selama restorasi, perbedaan pendapat mengenai arah lengan arca diselesaikan melalui diskusi antara konservator dan kurator dengan mempertimbangkan bukti dokumentasi yang ada. Pemulihan ini berhasil mengembalikan kondisi arca dengan tetap mempertahankan nilai historis dan integritasnya, sekaligus menunjukkan pentingnya pendekatan konservasi yang sesuai etika dalam pemulihan warisan budaya pascabencana.

Filter by Year

2007 2024


Filter By Issues
All Issue Vol. 18 No. 2 (2024): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Vol. 18 No. 1 (2024): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Vol. 17 No. 2 (2023): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 17 No. 1 (2023): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 16 No. 2 (2022): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 16 No. 1 (2022): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 15 No. 2 (2021): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 15 No. 1 (2021): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 14 No. 2 (2020): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 14 No. 1 (2020): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 13 No. 2 (2019): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 13 No. 1 (2019): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 12 No. 2 (2018): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 12 No. 1 (2018): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 11 No. 2 (2017): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 11 No. 1 (2017): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 10 No. 2 (2016): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 10 No. 1 (2016): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 9 No. 2 (2015): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 9 No. 1 (2015): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 8 No. 2 (2014): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 8 No. 1 (2014): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 7 No. 2 (2013): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 7 No. 1 (2013): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 6 No. 1 (2012): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 5 No. 1 (2011): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 4 No. 1 (2010): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 3 No. 1 (2009): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 2 No. 1 (2008): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 1 No. 1 (2007): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur More Issue