cover
Contact Name
Salman Abdul Muthalib
Contact Email
tafse@ar-raniry.ac.id
Phone
+6282165108654
Journal Mail Official
tafse@ar-raniry.ac.id
Editorial Address
Gedung Fakultas Ushuluddin Lantai I, Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin, UIN Ar-Raniry, Jln. Lingkar Kampus, Kopelma Darussalam Banda Aceh, Aceh 23111
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies
ISSN : 26204185     EISSN : 27755339     DOI : 10.22373
TAFSE: Journal of Qur’anic Studies is an open access, peer-reviewed journal that is committed to the publications of any original research article in the fields of Alquran and Tafsir sciences, including the understanding of text, literature studies, living Qur’an and interdisciplinary studies in Alquran and Tafsir. Papers published in this journal were obtained from original research papers,which have not been submitted for other publications. The journal aims to disseminate an academic rigor to Qur’anic studies through new and original scholarly contributions and perspectives to the field. Tafse: Journal of Qur’anic Studies DOES NOT CHARGE fees for any submission, article processing (APCs), and publication of the selected reviewed manuscripts. Journal subscription is also open to any individual without any subscription charges.All published manuscripts will be available for viewing and download from the journal portal for free.
Articles 174 Documents
Tathma’in Al-Qulub dalam Perspektif Al-Qur’an Mauliana Mauliana
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.406 KB) | DOI: 10.22373/tafse.v2i1.8074

Abstract

Various discussions are contained in the Qur'an, one of which is about the heart which is discussed in various aspects, including tathma`in al-qulub. Tathma`in al-qulub is a feeling of calm or a state of calm that is felt or comes from within the heart or heart. However, the understanding of peace of mind possessed by modern humans who are hedonists interprets it as stable or constant in the state of worldly (material) life or increasing dignity in the world. So the author wants to examine the views of the Qur'an about tathma`in al-qulub by looking at the context of the verses as well as the indicators and wisdom in the Qur'an. The method used in this study is the maudhu'i (thematic) method with a Sufism approach. This is done by collecting library data and using descriptive analysis techniques on the library materials. Based on the results of the study, the authors classify the verses of the Qur'an that talk about tathma`in al-qulub in four contexts of discussion, namely faith, aid in war, concealment of faith, and the commandment of remembrance. In addition, there are five basic indicators as a benchmark for tathma`in al-qulub namely repentance, faith and good deeds, piety, tawakkal, and patience. All of these things indicate the faith of a believer who believes and always maintains faith and continues to increase his faith so that he is able to achieve tathma`in al-qulub. Beragam pembahasan terdapat dalam al-Qur’an, salah satunya tentang qalbu yang dibahas dalam berbagai aspek, di antaranya tathma`in al-qulub. Tathma`in al-qulub adalah suatu perasaan tenang atau keadaan tenang yang dirasakan atau berasal dari dalam hati atau qalbu. Namun, pemahaman tentang ketenangan hati yang dimiliki oleh manusia masa modern yang hedonis memaknainya dengan stabil atau tetapnya keadaan kehidupan duniawi (materi) atau meningkatnya martabat di dunia. Sehingga penulis ingin mengkaji pandangan al-Qur’an tentang tathma`in al-qulub dengan melihat konteks ayat-ayat serta indikator dan hikmahnya dalam al-Qur’an. Metode yang digunakan pada kajian ini adalah metode maudhu‘i (tematik) dengan pendekatan tasawuf. Dilakukan dengan mengumpulkan data kepustakaan dan menggunakan teknik analisis deskriptif terhadap material perpustakaan tersebut. Berdasarkan hasil  penelitian, penulis mengelompokkan ayat-ayat al-Qur’an yang berbicara tentang tathma`in al-qulub dalam empat konteks pembahasan, yaitu keimanan, bantuan dalam peperangan, penyembunyian keimanan, dan perintah zikir. Selain itu, terdapat lima indikator dasar sebagai tolak ukur tathma`in al-qulub yakni taubat, beriman dan beramal saleh, takwa, tawakkal, dan sabar. Semua hal tersebut mengindikasikan keimanan seorang mukmin yang beriman dan senantiasa menjaga keimanan serta terus meningkatkan keimanannya sehingga mampu mencapai tathma`in al-qulub.
Deradikalisasi Pemahaman Al-Qur’an (Ayat-ayat Jihad dan Qital) Husna Amin; Saiful Akmal
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 6, No 1 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.989 KB) | DOI: 10.22373/tafse.v6i1.9540

Abstract

This study tries to explain the verses of the Qur'an which are often used as triggers for the emergence of radical actions. Most of the verses are verses of jihad and qital. The verses in text meaning symbolize something hard, because the meaning of jihad is serious while qital means killing. However, if a deeper study is carried out, will be found that the meaning of the verse cannot be seen only textually but also must look at environmental factors when the verse was revealed and the politics at that time. Then the Arabic word has a meaning that varies according to the context of the discussion. Then the word qital does mean to kill, but the verses that contain the word can not only be seen from the outward meaning but also reviewing the historical and sociological because al-Qur'an came down gradually according to circumstances and needs of people. Studi ini mencoba untuk menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an yang sering digunakan sebagai pemantik terhadap munculnya tindakan radikal. Sebagian besar ayat-ayat tersebut adalah ayat yang di dalamnya terdapat kata jihad dan qital. Ayat-ayat tersebut secara zahir memang melambangkan sesuatu yang bersifat keras, karena makna jihad adalah bersungguh-sungguh sedangkan qital bermakna membunuh.  Namun, jika dilakukan penelitian lebih dalam maka akan didapati bahwa makna ayat tersebut tidak bisa dilihat secara tekstual saja, tapi juga harus melihat faktor lingkungan ketika ayat tersebut diturunkan, perpolitikan pada masa itu dan kaidah-kaidah ulum al-Qur’an sebagai acuan dalam penafsiran. Dalam bahasa Arab, ada kata yang mempunyai makna yang beragam sesuai dengan konteks pembahasan. Kata qital memang berarti membunuh, namun ayat-ayat yang mengandung kata tersebut tidak bisa hanya dilihat dari makna lahiriah saja tetapi juga meninjau jejak histrori dan sosiologi waktu ketika al-Qur’an turun secara berangsur-angsur sesuai dengan keadaan dan keperluan umat.
Makna Ahli Kitab dalam Tafsir Al-Manar Muslim Djuned; Nazla Mufidah
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.159 KB) | DOI: 10.22373/tafse.v1i1.8065

Abstract

Ahl al-Kitab is a term for those who believe and adhere to a religion that has a holy book that comes from Allah other than the Qur'an. In understanding the designation of the people of the book in the Qur'an, the scholars agree that they are Jews and Christians. However, they differ in terms of the scope of the meaning of the people of the book, some say that the people of the book are Jews and Christians of the descendants of the Children of Israel only, while others say that the people of the book are Jews and Christians whenever and wherever they are. This discussion will be examined using the maudhu'i method, in the form of library research, with descriptive data analysis. Based on the results of the study, the authors found the disclosure of the word expert in the book in the Qur'an as many as 11 forms, can be grouped as follows; first, the direct disclosure of the scribes; second, the same disclosure with the scribes; third, disclosure that is directed to the people of the book. Regarding the meaning of the people of the book, Rashid Rida agrees with the number of scholars, it's just that his opinion about the scope of the people of the book is wider than the previous scholars. In Tafsir al-Manar, the scope of the people of the book is not only limited to Judaism and Christianity but also includes other religions such as the Magi, Shabi'in, idol worshipers in India, China, and anyone who is similar to them. According to him, all these religions can be included in the scope of the people of the book because initially all religions adhered to monotheism. Ahli kitab adalah sebutan bagi yang mempercayai dan berpegang pada agama yang memiliki kitab suci yang berasal dari Allah selain al-Qur'an. Dalam memahami sebutan ahli kitab dalam al-Qur'an, para ulama sepakat bahwa mereka adalah Yahudi dan Nasrani. Namun mereka berbeda dalam hal cakupan makna ahli kitab, sebagian mengatakan ahli kitab adalah Yahudi dan Nasrani keturunan Bani Israil saja, sementara yang lain mengatakan bahwa ahli kitab adalah Yahudi dan Nasrani kapan pun dan di manapun mereka berada. Pembahasan ini akan diteliti menggunakan metode maudhu’i, berupa riset kepustakaan, dengan analisis data deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian, penulis mendapatkan pengungkapan kata ahli kitab dalam al-Qur'an sebanyak 11 bentuk, dapat dikelompokkan sebagai berikut; pertama, pengungkapan ahli kitab secara langsung; kedua, pengungkapan yang sama dengan ahli kitab; ketiga, pengungkapan yang tertuju kepada ahli kitab. Mengenai makna ahli kitab, Rasyid Ridha sepakat dengan jumhur ulama, hanya saja pendapatnya tentang cakupan ahli kitab lebih luas dari ulama sebelumnya. Dalam Tafsir al-Manar, cakupan ahli kitab tidak hanya sebatas Yahudi dan Nasrani, tetapi juga mencakup agama-agama lain seperti Majusi, Shabi'in, penyembah berhala di India, Cina dan siapa saja yang serupa dengan mereka. Menurutnya, semua agama tersebut bisa dimasukkan dalam cakupan ahli kitab karena pada awalnya semua agama menganut tauhid.
Fitnah dalam Al-Qur’an Nuraini Nuraini; Husniyani Husniyani
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 6, No 1 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.508 KB) | DOI: 10.22373/tafse.v6i1.9199

Abstract

People generally know that defamation is a lie or accusation without a basis of truth. Such words or accusations are spread with the intent to discredit others, such as damaging a good name to the detriment of the honor of others. However, in Arabic, the meaning of defamation is different from what is understood by the general public, in Arabic, the meaning of defamation means tests and trials as well as the meaning of defamation in the Qur`an. This article will describe how the verses of the Qur`an explain about slander. In the Qur`an, defamation is mentioned 52 times in 30 chapters with various meanings according to the context of the verse. From the searching of the verses of defamation in general, it is found that there are 15 meanings of the word defamation in the Qur`an. The meanings of defamation are shirk, deception, murder, obstruction from the path of Allah, deviation, reason, decision, sin, pain, target, retribution, trial, punishment, burning, and insanity. Of the 15 meanings of the word defamation in the Qur`an, the meaning of defamation is not coherent with the understanding of Indonesian people on slander in general, which only means as spreading false news to tarnish someone's name. Masyarakat pada umumnya mengetahui bahwa fitnah merupakan perkataan bohong atau tuduhan tanpa dasar kebenaran. Perkataan atau tuduhan tersebut disebarkan dengan maksud untuk menjelekkan orang lain, seperti merusak nama baik sehingga merugikan kehormatan orang lain. Namun, dalam bahasa Arab makna fitnah berbeda dengan yang difahami oleh masyarakat pada umumnya, dalam bahasa Arab makna fitnah berarti ujian dan cobaan demikian juga makna fitnah dalam al-Qur`an. Tulisan ini akan menggambarkan bagaimana ayat-ayat al-Qur`an menjelaskan tentang fitnah. Dalam al-Qur`an, fitnah disebutkan sebanyak 52 kali dalam 30 surah dengan beragam makna sesuai dengan konteks ayat. Dari penelurusaran terhadap ayat-ayat fitnah secara garis besarnya didapati ada 15 makna kata fitnah dalam al-Qur`an. Makna-makna yang dimaksud adalah syirik, penyesatan, pembunuhan, menghalangi dari jalan Allah, kesesatan, alasan, keputusan, dosa, sakit, sasaran, balasan, ujian, azab, bakar, dan gila. Dari 15 makna kata fitnah dalam al-Qur`an ini, tidak ditemukan makna fitnah sama persis dengan apa yang difahami oleh masyarakat Indonesia pada umumnya, yang bermakna menyebar berita bohong untuk menjelekan nama seseorang.
Penafsiran Surat al-Dhuha menurut al-Baidhawi dan Bintu al-Syathi’ Aditya Faruq Alfurqan; Maizuddin Maizuddin
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.803 KB) | DOI: 10.22373/tafse.v5i2.9078

Abstract

The Alquran is a guide for every human being, to understand the meaning contained herein it takes a science that is the interpreter of science. There are different interpretations because of the methods, features, and shapes used by a mufassir, and because the other is the period in which a mufasir lives or other names are classical and contemporary periods, a period is a factor in the difference of interpretations, because of the many contemporary problems or the absence of ancient evidence. The method that researchers use is a descriptive-analytical method of collecting existing data sources and then being properly analyzed, whereas the data source that researchers refer to are the interpretive books themselves, here researchers use interpreter Anwaru al-Tanzil wa Asraru al-Ta’wil as the classic interpretive reference, to the interpretation of contemporary researchers refer to Tafsir al-Bayani li al-Qur`an al-Karim treatise for Bintu al-Syathi. One example that became a difference in interpretation was lafadz taqhar surah al-Dhuha serves 9, Baidhawi interprets by the reach that you possess his possessions is because of his weaknesses, whereas Bintu al-Syathi interprets not arbitrary not to give property to them, but there is a treatment that offends them like harsh words, a cynical stare which the deed is committed without any deliberate measure. Al-Qur`an merupakan pedoman bagi setiap manusia. Untuk memahami makna yang terkandung di dalamnya, maka dibutuhkan sebuah ilmu yaitu ilmu tafsir. Adanya perbedaan penafsiran disebabkan karena metode, corak dan bentuk yang dipakai oleh seorang mufasir. Sebab lainnya adalah masa di mana seorang mufasir hidup, atau sebutan lainnya adalah periode klasik dan periode kontemporer. Masa menjadi salah satu faktor terjadi perbedaan penafsiran, karena banyaknya permasalahan di zaman kontemporer ini atau hal-hal lain yang tidak didapati di zaman terdahulu. Seperti yang terlihat dalam tulisan ini, yaitu perbedaan penafsiran pada surat al-Dhuha. Metode yang peneliti gunakan adalah analitis deskriptif yaitu mengumpulkan sumber-sumber data yang ada, lalu dianalisa secara tepat. Sumber data yang menjadi rujukan adalah kitab-kitab tafsir, khususnya Tafsir Anwaru al-Tanzil wa Asraru al-Ta’wil sebagai rujukan tafsir klasik. Untuk tafsir kontemporer merujuk kepada Tafsir al-Bayani li al-Qur`an al-Karim karya Bintu al-Syathi’. Salah satu contoh yang menjadi perbedaan penafsiran pada surat al-Dhuha (93): 9 adalah pada lafal taqhar. Al-Baidhawi menafsirkan dengan “janganlah kamu menguasai hartanya dikarenakan kelemahannya”, sedangkan Bintu al-Syathi’ menafsirkan bukan kesewenang-wenang tidak memberikan harta terhadap mereka, tetapi ada perlakuan yang menyakiti hati seperti perkataan yang kasar, tatapan sinis yang mana perbuatan tersebut dilakukan tanpa unsur kesengajaan. 
وجوه معان "خير" في القرآن الكريم Munawir Munawir
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.164 KB) | DOI: 10.22373/tafse.v1i1.8070

Abstract

القرآن الكريم هو كتاب التي عن متنوع العلم، وفيه يوجدلفظ متشابهات حتى يحتاج إلى معانى السياق لفهمها. ومنها، كلمة "خير" الموجودة في القرآن الكريم. ولفظ "خير" لها معانى متنوعة، فيه توجد تناسب المعنى من التركيب الفظه. ومن هنا يريد الباحث أن يحلل معنى لفظ "خير" من حيث علم الوجوه والنظائر.والهدف لهذا البحث هو معرفة معنى لفظ "خير" من حيث علم الوجوه والنظائر. واستخدمت طريقة الوصفية التحليلية، وكان هذا البحث من نوع البحث الكتابي ولنيل البيانات تستخدم طريقة الملاحة بجمع الكتاب التي تتعلق عن الوجوه والنظائر خاصة عن كلمة "خير". ونتيجة البحث هي أن لفظ "خير" في القرآن الكريم له معانى مختلفة من جيث أراء العلماء. منهم ابن سليمان البلخي (ت.150ه) وكان فيه ثمانية أوجه، وجمال الدين أبي الفرج عبد الرحمن الجوزي في كتابه نزهة الأعيون النواظر في علم الوجوه والنظائر، كلاهما اختلفا في فهم معانه وعدده. واستبط الباحث يعنىبإثنا وعشرين معان، وبيَّن الباحث من حيث أراء المفسرين في كتابهم.
Istidraj menurut Pemahaman Mufasir Furqan Furqan; Diana Nabilah
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 6, No 1 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (476.747 KB) | DOI: 10.22373/tafse.v6i1.9203

Abstract

There are promises of Allah swt. in the Qur`an, such as promising of a way out from every problem and providing sustenance from unexpected directions for pious servants and providing a good life for those who believe and do good deeds. Instead, it will bring misery and torment to the disobedient. The fact is, not all faithful servants live in comfort and peace. Similarly with the sinful servant, which also not all live in misery as promised by Allah swt. This is because the consequences of immoral acts are sometimes postponed by Allah swt., the postponement of the punishment is called istidrāj. Mufasirs have two understandings regarding the meaning of istidrāj. First, istidrāj is interpreted as a postponement of punishment and only occurs in the hereafter. Second, istidrāj is the giving of some punishment while in this world and others in the hereafter. Ada beberapa janji Allah swt. dalam al-Qur`an, seperti menjanjikan jalan keluar pada setiap masalah dan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka bagi hamba bertakwa dan memberikan kehidupan yang baik bagi yang beriman dan beramal salih. Sebaliknya, akan memberikan kesengsaraan dan siksaan bagi mereka yang tidak taat. Kenyataannya, tidak semua hamba yang beriman hidup dalam kesenangan dan aman. Begitu juga dengan hamba yang bermaksiat, tidak semua hidup dalam kesengsaraan sebagaimana yang telah dijanjikan Allah Swt. Hal ini disebabkan bahwa konsenkuensi dari perbuatan maksiat terkadang ditangguhkan oleh Allah Swt, penangguhan azab tersebut diistilahkan dengan istidrāj. Para mufasir memiliki dua pemahaman terkait pemaknaan istidrāj. Pertama, istidrāj dimaknai sebagai penangguhan azab dan hanya terjadi di akhirat. Kedua, istidrāj adalah pemberian sebagian azab ketika di dunia dan sebagian lain di akhirat.
Refleksi Ayat-Ayat Toleransi: Memupuk Keberagaman dalam Menjalankan Syariat Islam di Aceh Salman Abdul Muthalib; Mushlihul Umam
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.656 KB) | DOI: 10.22373/tafse.v5i2.9053

Abstract

The application of Islamic Sharia in Aceh should give birth to a tolerant diversity of life because the qanun covers these procedures, but Aceh is considered to be intolerant of a number of groups, especially institutions that carry out research in the field of diversity, in this article the author wants to examine further the matter of stipulation. Aceh Province seems intolerant, the author examines this case through a document review then the author observes based on the reality that occurs. The result is that the authors assess that there are Non-Muslim people who ignore qanun regulations in the element of building houses of worship that are carried out without obtaining permission and have Not met the terms and conditions stipulated in the Islamic Sharia qanun, apart from these problems, the Acehnese people, in general, can accept the differences well. social. Therefore, the attitude of caring for unity in carrying out each other's beliefs and obeying and obeying the law of the qanun must be a shared commitment. Reflecting on and practicing the verses of tolerance will foster mutual respect and tolerance among human beings. Penerapan Syariat Islam di Aceh seharusnya melahirkan kehidupan keberagaman yang toleran, karena qanun telah mengcover tata cara tersebut. Tetapi, Aceh dinilai intoleran oleh sejumlah kalangan, terutama lembaga-lembaga yang melakukan riset di bidang keberagaman. Dalam artikel ini, penulis ingin mengkaji lebih lanjut perihal penetapan Provinsi Aceh sebagai daerah yang terkesan intoleran. Penulis mengkaji kasus ini melalui review dokumen dan mengamati realita yang terjadi. Hasilnya, penulis menilai adanya oknum Non-muslim yang mengabaikan peraturan qanun pada pembangunan rumah ibadah yang dilakukan tanpa izin dan belum memenuhi syarat serta ketentuan yang telah diatur dalam qanun Syariat Islam. Terlepas dari permasalahan tersebut, masyarakat Aceh pada umumnya dapat menerima dengan baik perbedaan-perbedaan sosial. Oleh karenanya, sikap merawat persatuan dalam menjalankan keyakinan masing-masing serta patuh dan taat pada hukum qanun haruslah menjadi komitmen bersama. Merenungi serta mengamalkan ayat-ayat toleransi akan menumbuhkan sikap saling menghormati dan tenggang rasa antar umat manusia. 
Kritik kontekstualisasi Pemahaman Hadis M. Syuhudi Ismail Idris Siregar
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.082 KB) | DOI: 10.22373/tafse.v2i1.8075

Abstract

Hierarchically, hadith is the source of the second law after the Holy Quran because it serves as al-bayan (explanatory) to the laws contained in the Holy Quran. In understanding hadith, one must know the condition of sanad and matan. Except, it must also know the circumstances that were happening when the hadith was issued (background), and then also need to know about the properties of hadith, whether universal, temporal or local. All that is needed to get a proper understanding of the hadith. One of the Indonesian scholars who always analyze the function of the prophet is M. Syuhudi Ismail in his book Hadis Nabi yang Tekstual dan Kontekstual: Telaah Ma’ani al-Hadits tentang Ajaran Islam yang Universal, Temporal dan Lokal. In this case, I see there are some hadiths that are less precise with the analysis of M. Syuhudi Ismail's context, such as women's issues regarding becoming head of state or President. Therefore I want to criticize it contextually. Secara hierarkis, hadis merupakan sumber hukum kedua setelah Al-Qur'an karena berfungsi sebagai al-bayan (penjelas) terhadap hukum-hukum yang terkandung dalam Al-Qur'an. Dalam memahami hadits, harus diketahui kondisi sanad dan matan, selain itu juga harus dipahami keadaan yang terjadi pada saat hadits itu disabdakan, perlu juga mengetahui sifat-sifat hadis, baik yang bersifat universal, temporal maupun lokal. Semua itu diperlukan untuk mendapatkan pemahaman yang benar tentang hadis. Salah satu ulama Indonesia yang selalu mengkaji fungsi Nabi adalah M. Syuhudi Ismail dalam bukunya Hadis Nabi yang Tekstual dan Kontekstual: Telaah Ma’ani al-Hadits tentang Ajaran Islam yang Universal, Temporal dan Lokal. Dalam hal ini penulis melihat ada beberapa hadis yang kurang tepat dengan analisis kontekstual M. Syuhudi Ismail, seperti isu perempuan menjadi kepala negara atau Presiden. Oleh karena itu penulis ingin melakukan kritik terhadap persoalan tersebut.
Lafaz Qalb, Shadr dan Fu’ad dalam Al-Qur’an Suarni Suarni; Irda Mawaddah
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v1i1.8066

Abstract

The uniqueness of the Qur'an in terms of language is a miracle that has been shown to the Arab community since 15 centuries ago. Each vocabulary choice has its own language philosophy value. The subtlety of language can be seen in the balaghah and fashahah, both concrete and abstract in expressing and exploring the intended meaning. In the choice of words, the Qur'an sometimes uses several words that have the same meaning in Indonesian, so it appears that there are inconsistencies in the words it uses. This is the background of this discussion, precisely in the lafadz qalb, shadr, and fu'ad where the three words are often interpreted with one meaning, namely the heart. This research uses the maudhu'i method in the form of library research. In the Qur'an, the words qalb, shadr, and fu'ad have almost related meanings, but with different contexts and purposes, qalb is focused on things that are immaterial and psychic, spiritual qualities that are able to understand and determine good things. the bad of a soul because everything depends on the good or bad condition of the heart. Sadr called the chest is a container where the heart resides, so the use of the word sadr in the Qur'an is a kinayah for something that is in it, namely the heart. As for fu'ad, it is called an honest heart (conscience) and is a potential qalb, a place where a firm decision has been reached or something that has been bound, to be precise, fu'ad is a container of belief. Keunikan al-Qur'an dari segi bahasa merupakan kemukjizatan yang ditunjukkan kepada masyarakat Arab sejak 15 abad lalu. Setiap pemilihan kosakata mempunyai nilai falsafah bahasa tersendiri. Kehalusan bahasa terlihat dari balaghah dan fashahahnya, baik yang konkrit maupun abstrak dalam mengekspresikan dan mengeksplorasi makna yang dituju. Dalam pemilihan kata, al-Qur'an kadang menggunakan beberapa kata yang memiliki arti sama dalam bahasa Indonesia, sehingga tampak ada inkonsisten dalam kata-kata yang digunakannya. Inilah yang melatarbelakangi pembahasan ini, tepatnya pada lafadz qalb, shadr dan fu’ad yang ketiga kata tersebut sering diartikan dengan satu arti yaitu hati. Penelitian ini menggunakan metode maudhu’i berupa riset kepustakaan. Dalam al-Qur'an, lafaz qalb, shadr dan fu’ad mempunyai makna yang hampir berkaitan, namun dengan konteks dan tujuan yang berbeda, qalb tertuju pada hal-hal yang bersifat immateri dan psikis, sifat ruhani yang mampu memahami dan penentu baik-buruknya sebuah jiwa karena semua bergantung pada baik-buruknya keadaan qalb. Shadr disebut dengan dada adalah wadah di mana qalb bersemayam, sehingga penggunaan kata shadr dalam al-Qur'an merupakan kinayah bagi sesuatu yang ada di dalamnya yaitu qalb. Adapun fu’ad disebut sebagai hati yang bersifat jujur (hati nurani) dan merupakan potensi qalb, tempat di mana telah mencapai keputusan yang mantap atau sesuatu yang telah terikat, tepatnya fu’ad adalah wadah keyakinan.

Page 3 of 18 | Total Record : 174