cover
Contact Name
Salman Abdul Muthalib
Contact Email
tafse@ar-raniry.ac.id
Phone
+6282165108654
Journal Mail Official
tafse@ar-raniry.ac.id
Editorial Address
Gedung Fakultas Ushuluddin Lantai I, Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin, UIN Ar-Raniry, Jln. Lingkar Kampus, Kopelma Darussalam Banda Aceh, Aceh 23111
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies
ISSN : 26204185     EISSN : 27755339     DOI : 10.22373
TAFSE: Journal of Qur’anic Studies is an open access, peer-reviewed journal that is committed to the publications of any original research article in the fields of Alquran and Tafsir sciences, including the understanding of text, literature studies, living Qur’an and interdisciplinary studies in Alquran and Tafsir. Papers published in this journal were obtained from original research papers,which have not been submitted for other publications. The journal aims to disseminate an academic rigor to Qur’anic studies through new and original scholarly contributions and perspectives to the field. Tafse: Journal of Qur’anic Studies DOES NOT CHARGE fees for any submission, article processing (APCs), and publication of the selected reviewed manuscripts. Journal subscription is also open to any individual without any subscription charges.All published manuscripts will be available for viewing and download from the journal portal for free.
Articles 174 Documents
Lafaz Yahudi dalam Al-Qur’an Zuherni Abubakar; Muhammad Amar bin Mohd Sabri
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v4i1.13103

Abstract

Judaism is one of the terms mentioned in the Koran. This paper specifically examines the Jewish pronunciation in terms of its use and the context in which it is mentioned in the Qur'an. The study was conducted using a qualitative approach with the type of literature study. The collected data were analyzed by the content analysis method. The results of the analysis show that the use of Jewish pronunciation in the Koran is quite diverse. The Hebrew word and its derivatives are mentioned 30 times. Jewish pronunciation consists of six forms. Respectively اليهود (al-yahūd),  يهوديا(yahūdiyā), هادوا (hādū), هدنا (hudnā),  هود(hūdun), and lafaz  هودا(hūdā). Jewish words in the Koran are mentioned in various contexts. It is sometimes mentioned in the context of the conflict between Jews and Christians, the prohibition of Muslims from choosing a leader from the Jews, the strict attitude of the Jews, claiming to be children and lovers of Allah, the disobedience of the Jews to the Koran, and in the context of the Jews being the most hostile to Islam. Yahudi merupakan salah satu istilah yang disebutkan dalam Alquran. Tulisan ini secara khusus meneliti lafaz Yahudi dalam kaitan dengan penggunaan dan konteks penyebutannya dalam Alquran. Kajian dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi pustaka. Data yang terkumpul dianalisis dengan metode analisis isi. Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan lafaz Yahudi dalam Alquran cukup beragam. Lafaz Yahudi dan turunannya disebutkan sebanyak 30 kali. Lafaz Yahudi terdiri dari enam bentuk. Masing-masing اليهود (al-yahūd), يهوديا (yahūdiyā), هادوا (hādū), هدنا (hudnā), هود (hūdun), dan lafaz هودا (hūdā). Lafaz Yahudi dalam Alquran disebutkan dalam beragam konteks. Adakalanya disebutkan dalam konteks pertentangan antara Yahudi dengan Nasrani, larangan Muslim memilih pemimpin dari Yahudi, sikap keras Yahudi, mengaku sebagai anak dan kekasih Allah, kedurhakaan orang Yahudi terhadap Alquran, dan dalam konteks Yahudi merupakan pihak yang paling memusuhi Islam. 
Tamimah dalam Perspektif Hadis Zulihafnani Zulihafnani; Salwati Salwati
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v3i2.13278

Abstract

Tamimah is a rope that is worn by Arabs around the neck of children with the assumption that it can protect them from other diseases or eye diseases. Islam came and forbade all things related to shamanism in the form of amulets or spells and anything related to them is an evil that must be fought, except those that come from the Qur'an or spells that are ma'tsur. Based on this problem, the author wants to examine how the quality of the hadiths, both those that allow and forbid and how to resolve them. Based on the results of the research, the authors found that the hadiths that seemed contradictory regarding the permissibility of using amulets could be compromised in order to avoid conflict and could be practiced together, considering that these hadiths met the criteria for the validity of the hadith. Thus, these traditions are maqbul hadiths with the status of valid traditions. So even though there are more hadiths that prohibit tamimah, all forms of amulets, whether from the Qur'an or not, are permissible under certain circumstances. The hadith about amulets is prohibited because some friends think that amulets are shirked because they deny belief in Allah swt. In fact, every form of the disease has a cure and the disease is cured with the permission of Allah swt. Tamimah adalah tali yang dikalungkan orang arab di leher anak-anak dengan anggapan bahwa hal tersebut dapat menjaga mereka dari penyakit ain atau mata. Islam datang dan melarang segala hal yang berkaitan dengan perdukunan baik berupa jimat maupun mantra dan apapun yang berkaitan dengannya adalah kemungkaran yang harus diperangi, kecuali yang berasal dari al-Qur’an atau mantra yang ma’tsur. Berdasarkan permasalahan ini, penulis ingin mengakaji bagaimana kualitas hadis-hadis  baik yang membolehkan maupun yang melarang dan bagaimana penyelesaiannya. Berdasarkan hasil penelitian penulis menemukan hadis-hadis yang tampak saling bertentangan terkait kebolehan penggunaan jimat dapat dikompromikan agar terhindar dari pertentangan dan dapat diamalkan secara bersama-sama, mengingat hadis-hadis tersebut memenuhi kreteria kesahihan hadis. Dengan demikian hadis-hadis tersebut merupakan hadis maqbul dengan berstatus hadis sahih. Jadi walaupun lebih banyak hadis yang melarang tamimah, namun segala bentuk jimat baik dari al-Qur`an ataupun bukan, itu dibolehkan dalam keadaan tententu. Dilarangnya hadis tentang jimat itu karena beberapa sahabat beranggapan bahwasanya jimat itu syirik karena menafikan kepercayaan kepada Allah swt. Padahal sesungguhnya segala bentuk penyakit ada obatnya dan penyakit tersebut sembuh dengan izin Allah swt.
Bai’at dalam Al-Qur’an menurut Pandangan Ibnu Katsir Samsul Bahri; Zainuddin Zainuddin; Muhammad Husni bin Ismail
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v4i2.13178

Abstract

Bai'at is one way to show a person's form of obedience to his leader. An incomplete understanding of bai'at can cause slander among Muslims. Moving on from the problem above, the author will examine Ibn Kathir's interpretation of the verses of bai'at. This research is bibliographic and data collection is done through the mauḍū'ī method. The results of the study show that the person who betrays the bai'at to the leader on the basis of obeying Allah and the Messenger, then Allah will inflict punishment on him, on the other hand, for those who obey the bai'at in matters that are ma'ruf on the basis of obeying Allah and the Messenger, then he will get a reward from Allah swt. Imam Ibn Kathir interprets the verse of bai'at as meaning "whoever obeys the apostle, then he has obeyed Allah." Bai’at merupakan salah satu cara dalam menampakkan bentuk ketaatan seseorang terhadap pemimpinya. Pemahaman yang tidak utuh terhadap bai’at dapat menimbulkan fitnah di antara umat islam. Beranjak dari persoalan di atas, penulis akan mengkaji tentang penafsiarn Ibnu Katsir terhadap ayat-ayat bai’at. Penelitian ini bersifat kepustakaan dan dalam pengumpulan data dilakukan melalui metode mauḍū’ī. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Orang yang mengkhianati bai’at terhadap pemimpin atas dasar mentaati Allah dan Rasul, maka Allah akan menimpa azab baginya, sebaliknya bagi yang mentaati bai’at dalam hal yang ma’ruf atas dasar menaati Allah dan Rasul, maka ia akan beroleh balasan pahala dari Allah Swt. Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat bai’at sama artinya dengan “barangsiapa mentaati rasul, maka dia telah menaati Allah.”
Makna al-Dhalalah dalam Al-Qur`an Furqan Amri; Samsul Bahri; Ahmad Suryani
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v4i1.13096

Abstract

There are two groups of verses in the Qur'an that have gaps in attributing al-dhalalah to Allah. The first group of verses attributes al-dhalalah to come from Allah, not a direct result of the servant's actions. Another group of verses attributes al-dhalalah to come from the servant, not from Allah. In this paper, the author examines the meaning of al-dhalalah expressed in the Qur'an with the aim of explaining the meaning of al-dhalalah contained in the verses of the Qur'an. This study is a literature study with descriptive analysis through the maudhū'i interpretation method. The word dhalla in its various forms is not less than 190 times repeated in the Qur'an. In order to eliminate the contradictory meanings of the two groups of contradicting verses, it must be understood in a syar'i way, not only understood textually (mantuq). The existence of this contradiction indicates that the meaning to be shown by the two groups of verses is the syar'i meaning, not the textual meaning (mantūq). So it can be concluded that understanding the two groups of verses of al-dhalalah it cannot only be understood textually but must be understood with a syar'i approach, by looking at the qarīnah point of view contained in each verse. The ratio of al-dhalalah to Allah SWT is only a ratio of creation, not a direct ratio, while the direct subject of al-dhalalah is humans. Ada dua kelompok ayat dalam al-Qur’an yang memiliki kesenjangan dalam menisbahkan al-dhalalah kepada Allah Swt. Kelompok ayat pertama menisbahkan al-dhalalah datang dari Allah, bukan akibat langsung dari perbuatan hamba. Kelompok ayat lain menisbahkan al-dhalalah datang dari hamba bukan dari Allah Swt. Dalam tulisan ini, penulis mengkaji makna al-dhalalah yang diungkapkan dalam al-Qur’an dengan tujuan untuk menjelaskan makna al-dhalalah yang terkandung dalam ayat-ayat al-Qur’an. Kajian ini merupakan studi kepustakaan dengan analisis deskriptif melalui metode tafsir maudhū’i. Kata dhalla dalam berbagai bentuknya tidak kurang dari 190 kali terulang dalam al-Qur’an. Untuk meniadakan kontradiksi makna dari dua kelompok ayat yang bertentangan, harus dipahami secara syar’i tidak hanya dipahami secara tekstual (mantuq). Adanya kontradiksi ini menunjukkan bahwa makna yang hendak diperlihatkan oleh kedua kelompok ayat adalah makna syar’i bukan makna tekstual (mantūq). Sehingga dapat disimpulkan, bahwa dalam memahami dua kelompok ayat al-dhalalah tidak bisa hanya dipahami secara tekstual, akan tetapi harus dipahami dengan pendekatan syar’i, dengan melihat dari sudut pandang qarīnah yang terkandung dalam setiap ayat. Nisbah al-dhalalah kepada Allah Swt hanya sekedar nisbah penciptaan bukan nisbah secara langsung, sedangkan subyek langsung dari al-dhalalah adalah manusia.
Perilaku Negatif Manusia dalam Al-Qur’an Muslim Djuned; Miss Yameelah Hayeesamae
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v3i2.13274

Abstract

Humans are creatures who have the highest perfection because they are prepared to accept burdens and responsibilities, become humans who have a positive attitude, strong personality, physical and spiritual potential as well as intellectually develop optimally. But in reality, not all humans behave well, many become arrogant and arrogant, he forgets the teachings of Allah, and only remember Allah when experiencing unpleasant conditions such as being hit by a disaster. From the above reality, to know human behavior, it is necessary to study the negative human traits mentioned in the Qur'an. The results show that humans are indeed close to Allah with a sincere heart at times when calamity befalls them, but after Allah saves them from the calamities they face, they return to doing injustice and mistakes, not being grateful to Allah, but committing deception by opposing and denying Allah SWT. Manusia merupakan makhluk yang memiliki kesempurnaan tertinggi karena dipersiapkan untuk menerima beban dan tanggung jawab, menjadi manusia yang memiliki sikap positif, berkepribadian kuat, potensi jasmani dan rohani serta intelektual yang berkembang secara optimal. Tetapi dalam kenyataannya, tidak semua manusia berperilaku baik, banyak yang menjadi sombong dan angkuh, dia lupa akan ajaran Allah, dan  hanya mengingat Allah ketika mengalami kondisi yang tidak menyenangkan seperti tertimpa musibah. Dari realitas di atas, untuk mengetahui perilaku manusia, perlu dikaji tentang sifat-sifat negatif manusia yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manusia memang bertabiat dekat kepada Allah dengan hati yang ikhlas pada waku yang ditimpa musibah, tetapi setelah Allah menyelamatkan mereka dari musibah yang dihadapi, mereka kembali melakukan kezaliman dan kesalahan, tidak bersyukur kepada Allah, tetapi melakukan tipu daya dengan menentang dan mendustakan Allah swt. 
Penelitian Tafsir dan Pendekatan Kualitatif Fauzi Fauzi
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v4i2.12483

Abstract

This article aims to analyze the interpretation research and the approaching model it uses. Data collection techniques using documentation. The result of the research is that most of the research on the interpretation of the Qur'an is carried out with a qualitative approach by emphasizing the ability and competence of researchers to analyze existing data. Data collection includes documentation techniques. The development of al-Qur'an research and interpretation today also leads to how to examine texts that live in a society whose data collection techniques are addition to documentation, as well as observation and interviews. Interpretation researchers are required to continue to develop themselves to understand aspects of the interpretation methodology related to sources, methods, and perspectives. The current approach is also continuously enriched so that it is able to provide analysis in interpretation research in order to make a contribution of knowledge for the development of science and knowledge. Artikel ini bertujuan menganalisis penelitian tafsir dan model pendekatan yang digunakannya. Teknik pengumpulan data mengunakan dokumentasi. Hasil penelitiannya adalah penelitian tafsir al-Qur’an banyak dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan menekannya kemampuan dan kompetensi peneliti untuk menganalisis data-data yang ada. Pengumpulan data di antaranya dengan dilakukan teknik dokumentasi. Perkembangan penelitian al-Qur’an dan tafsir dewasa ini juga mengarah bagaimana meneliti teks-teks yang hidup dalam masyarakat yang teknik pengumpulan datanya di samping dokumentasi, juga observasi dan wawancara. Peneliti tafsir dituntut untuk terus mengembangkan diri untuk memahami aspek metodologi tafsir baik terkait sumber, metode maupun perspektifnya. Pendekatan kekinian juga terus diperkaya agar mampu memberikan analisis dalam penelitian tafsir agar memberikan contribution of knowledge bagi pengembangan ilmu dan pengetahuan.
Penafsiran Ayat–Ayat Amar Ma’ruf Nahi Munkar menurut Muhammad Fethullah Gülen Muslim Djuned; Pinar Ozdemir
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v4i2.13179

Abstract

Amar ma'rūf nahi munkar is the command of Allah swt. to invite to the good things and prevent the bad for society. Many interpreters have explained the meaning of the verses amar ma'rūf nahi munkar. Fethullah Gülen is a character who tries to give an interpretation of the verse by relating it to the reality of people's lives. This paper discusses the verses of amar ma'ruf nahi munkar interpreted by Muhammad Fethullah Gülen and issues surrounding the position of enforcing amar ma'rūf nahi munkar. This research is a descriptive literature study, wanting to describe the figure of Gulen who wants to be researched based on facts from existing news, books, and magazines. The results showed that Gülen classified the interpretation of the verses of amar ma'ruf nahi munkar in 3 parts. First, amar ma'rūf nahi munkar as the goal of life. Second, amar ma'ruf nahi munkar as a sign of a believer. Third, enforce the commandments of ma'rf nahi munkar in accordance with nature. According to Gülen, people who carry out this sacred task well, then they will be protected by Allah from all disasters that come from heaven or earth, even though the number of people who carry out this task is not much. Meanwhile, those who forget this task are feared to die in a state of hypocrisy, for neglecting the task that Allah has assigned to every Muslim. Amar ma’rūf nahi munkar merupakan perintah Allah swt. untuk mengajak kepada hal-hal yang baik dan mencegah yang buruk bagi masyarakat. Banyak penafsir yang telah menjelaskan makna ayat-ayat amar ma’rūf nahi munkar. Fethullah Gülen merupakan seorang tokoh yang mencoba memberi penafsiran ayat tersebut dengan mengaitkannya pada realitas kehidupan masyarakat. Tulisan ini membahas ayat-ayat amar ma’ruf nahi munkar yang ditafsirkan oleh Muhammad Fethullah Gülen dan persoalan seputar kedudukan menegakkan amar ma’rūf nahi munkar. Penelitian ini bersifat kajian kepustakaan yang bersifat deskriptif, ingin menggambarkan sosok Gulen yang ingin diteliti berdasarkan fakta dari berita, buku, dan majalah yang ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gülen mengklasifikasikan penafsiran ayat-ayat  amar ma’ruf nahi munkar dalam 3 bagian. Pertama, amar ma’rūf nahi munkar  sebagai tujuan hidup. Kedua, amar ma’ruf nahi munkar sebagai tanda orang mukmin. Ketiga, menegakkan amar ma’rūf nahi munkar sesuai dengan fitrah. Menurut Gülen, masyarakat yang melakukan tugas suci ini dengan baik, maka mereka itu akan dilindungi Allah dari segala bencana yang datangnya dari langit atau bumi, meskipun jumlah orang yang menjalankan tugas ini tidak banyak. Sedangkan yang melupakan tugas ini, dikhawatirkan akan meninggal dalam keadaan munafik, karena melalaikan tugas yang dibebankan Allah kepada setiap orang Muslim.
Korelasi Kecerdasan Emosional dan Spiritual dengan Pengetahuan Hadis pada Mahasiswa Prodi IAT UIN Ar-Raniry Banda Aceh Siti Hajril Masyithah; Maizuddin Maizuddin; Nurkhalis Nurkhalis
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v4i1.13092

Abstract

This paper aims to determine the relationship between emotional intelligence and spiritual intelligence with knowledge of hadith about Islam, faith and ihsan in students of the Qur'an and Tafsir Study Program, Faculty of Ushuluddin and Philosophy (IAT FUF) UIN Ar-Raniry Banda Aceh. This research is quantitative with the type of correlation research. Based on the results of the study, shows: first, there is a positive and significant relationship between emotional intelligence and spiritual intelligence with the results of hadith knowledge about Islam, faith and ihsan in students of IAT FUF UIN Ar-Raniry Banda Aceh Study Program. The correlation between emotional intelligence and spiritual intelligence is directly proportional to hadith knowledge. With a correlation coefficient level of 0.65 in the strong category with a coefficient of determination (D) = 42%, the higher the level of knowledge of hadith about Islam, faith and ihsan among students, the higher the level of emotional intelligence and spiritual intelligence possessed by students the. Second, practical knowledge of hadith about Islam, faith and ihsan encourages students to motivate themselves, control emotions in social interactions and interpret the learning process as worship. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual dengan pengetahuan hadis tentang Islam, iman dan ihsan pada mahasiswa Prodi Ilmu Alquran dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (IAT FUF) UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan jenis penelitian korelasi. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan: pertama, terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual dengan hasil pengetahuan hadis tentang Islam, iman dan ihsan pada mahasiswa Prodi IAT FUF UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Korelasi antara kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual berbanding lurus dengan pengetahuan hadis. Dengan tingkat koefisien korelasi sebesar 0,65 pada kategori kuat dengan koefisien determinasi (D) = 42%, semakin tinggi tingkat pengetahuan hadis tentang Islam, iman dan ihsan di kalangan mahasiswa, maka semakin tinggi pula tingkat kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual yang dimiliki oleh mahasiswa tersebut. Kedua, secara praktis pengetahuan hadis tentang Islam, iman dan ihsan mendorong mahasiswa untuk memotivasi diri, mengendalikan emosi dalam interaksi sosial dan memaknai proses pembelajarannya sebagai ibadah.
Kompromisasi Kontradiksi Makna Tiupan Sangkakala dalam Al-Qur’an Ihsan Nur; Isra Fadhillah Arham
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v3i2.13275

Abstract

The beginning of the apocalypse is when the first and second trumpets are blown. QS. al-Mu'minun verse 101 explains that after the trumpet blast, the two humans will be resurrected separately, kinship relations are no longer valid and there are no more questions. However, QS. Thaha verses 102-104 state that when he is resurrected, there are people who ask each other questions. This paper wants to discuss the interpretation of the scholars of the interpretation of the contradictions of the text of the verses about the blowing of the trumpet. The results showed that the trumpet blast in QS. al-Mu'minun verse 101 and Thaha verse 102-104 are both the second trumpet blast but in a different human context. QS. al-Mu'minun verse 101 talks about humans as a whole where when they are resurrected they are in their own state without any family relationship. While QS. Thaha verses 102-104 talk about the disbelievers and when they are resurrected they will have a blue face. The commentators interpret the textual contradiction of the verse by saying that humans do not speak when they are on their way to Padang Mahsyar and the condition of wondering occurs when humans are already in the Mahsyar field. Permulaan terjadi kiamat adalah ketika sangkakala pertama dan kedua ditiupkan. QS. al-Mu’minun ayat 101 menjelaskan bahwa setelah tiupan sangkakala kedua manusia akan dibangkitkan dalam keadaan sendiri-sendiri, tidak berlaku lagi hubungan kekerabatan dan tidak ada lagi yang bertanya-tanya. Namun, QS. Thaha ayat 102-104 menyatakan bahwa ketika dibangkitkan ada di antara manusia yang saling bertanya-tanya. Tulisan ini ingin mendiskusikan penafsiran ulama tafsir terhadap kontradiksi teks ayat-ayat tentang tiupan sangkakala. Hasil penelitian menunjukkan bahwa yang dimaksud tiupan sangkakala pada QS. al-Mu’minun ayat 101 dan Thaha ayat 102-104 adalah sama-sama tiupan sangkakala yang kedua,  namun dalam konteks manusia yang berbeda. QS. al-Mu’minun ayat 101 berbicara tentang manusia secara keseluruhan dimana ketika dibangkitkan mereka dalam keadaan sendiri-sendiri tidak ada hubungan keluarga. Sedangkan QS. Thaha ayat 102-104 membicarakan tentang orang kafir dan ketika dibangkitkan mereka dalam keadaan wajah berwarna biru. Ulama tafsir memaknai kontradiksi tekstual ayat tersebut dengan mengatakan bahwa manusia tidak berkata-kata ketika berada dalam perjalanan menuju ke Padang mahsyar dan kondisi bertanya-tanya terjadi ketika manusia sudah berada di padang mahsyar. 
Lafaz al-Rajaʼ dan al-Tamanni dalam Al-Qur’an Furqan Amri; Retno Dumilah
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v4i2.12541

Abstract

The existence of synonymy in the Koran is a debate among commentators. Some consider the existence of synonymy in the Koran and others deny it. Various words in the Qur'an appear to be synonymous at birth, but when examined carefully it turns out that each of these words has its own connotation. This study aims to explain the context of the use of the words al-Rajāʼ and al-Tamannīʼ and the interpretation of the commentators on the verses of al-Rajāʼ and al-Tamannīʼ. This study uses the thematic method by collecting verses related to the problems of the two pronunciations and by referring to the explanations of the commentators in the books of interpretation. The results showed that the writer found the lafaz al-Rajāʼ in the Koran 18 times with 7-word variations, while the al-Tamanni lafaz was found 9 times and had 7-word variations in each of the two words. Lafaz al-Rajāʼ and al-Tamannīʼ are interpreted with the meaning of hope or ideals, but in terms of the difference, al-Rajāʼ lafaz is devoted to hopes that are most likely to be achieved and achieved and accompanied by effort, while al-Tamann lafaz is hoping that cannot be achieved. achieved or the probability of achieving it is very small. Keberadaan sinonimitas dalam al-Qur’an menjadi perdebatan di kalangan para mufasir. Sebagian menilai adanya sinonimitas dalam Al-Qur’an dan sebagian yang lain mengingkarinya. Beragam kata dalam Al-Qur’an yang pada lahirnya tampak bersinonim, namun bila diteliti secara cermat ternyata masing-masing kata tersebut mempunyai konotasi tersendiri. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan konteks penggunaan kata al-Rajāʼ dan al-Tamannīʼ serta penafsiran para  mufassir terhadap ayat-ayat al-Rajāʼ dan al-Tamannīʼ. Penelitian ini menggunakan metode tematik dengan menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan permasalah kedua lafaz tersebut dan dengan merujuk kepada penjelasan para mufassir dalam kitab-kitab tafsir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penulis menemukan lafaẓ al-Rajāʼ dalam Al-Qur’an sebanyak 18 kali dengan 7 bentuk variasi kata, sedangkan lafaz al-Tamanni ditemukan sebanyak 9 kali serta memiliki 7 bentuk variasi kata pada masing-masing kedua Lafaz tersebut. Lafaz al-Rajāʼ dan al-Tamannīʼ diartikan dengan makna harapan atau cita-cita, namun dari segi perbedaannya lafaz al-Rajāʼ dikhususkan kepada harapan yang kemungkinan besar dapat dicapai dan diraih serta diiringi dengan usaha, sedangkan lafaz al-Tamannīʼ merupakan  pengharapan yang tidak dapat tercapai atau kemungkinan ketercapaiannya sangat  kecil. 

Page 7 of 18 | Total Record : 174