cover
Contact Name
Salman Abdul Muthalib
Contact Email
tafse@ar-raniry.ac.id
Phone
+6282165108654
Journal Mail Official
tafse@ar-raniry.ac.id
Editorial Address
Gedung Fakultas Ushuluddin Lantai I, Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin, UIN Ar-Raniry, Jln. Lingkar Kampus, Kopelma Darussalam Banda Aceh, Aceh 23111
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies
ISSN : 26204185     EISSN : 27755339     DOI : 10.22373
TAFSE: Journal of Qur’anic Studies is an open access, peer-reviewed journal that is committed to the publications of any original research article in the fields of Alquran and Tafsir sciences, including the understanding of text, literature studies, living Qur’an and interdisciplinary studies in Alquran and Tafsir. Papers published in this journal were obtained from original research papers,which have not been submitted for other publications. The journal aims to disseminate an academic rigor to Qur’anic studies through new and original scholarly contributions and perspectives to the field. Tafse: Journal of Qur’anic Studies DOES NOT CHARGE fees for any submission, article processing (APCs), and publication of the selected reviewed manuscripts. Journal subscription is also open to any individual without any subscription charges.All published manuscripts will be available for viewing and download from the journal portal for free.
Articles 174 Documents
Pemaknaan Kiamat dalam Penafsiran Umar Sulaiman Abdullah Al-Asyqar Zulihafnani Zulihafnani; Soleh bin Che’ Had
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v4i2.13180

Abstract

In the Qur'an there are many verses that talk about the apocalypse, there are also various interpretations produced by the interpreters. This paper wants to examine the interpretation and understanding of Umar Sulaiman al-Asyqar regarding the doomsday verse, this may be different from other commentators because of the different methods and characteristics of interpretation. This research is a bibliographical study with the data sources being the books of al-Ma'ānī al-Ḥasān fī Tafsīr al-Qur'ān and al-'Aqīdah fi 'i al-Kitāb wa al-Sunnah: al-Qiyāmah al-Kubra. Data was collected through thematic methods), and the analysis was carried out descriptively. The results of the study indicate that Umar Sulaiman interprets the word tafjīr as having the same meaning (synonym) as the word tasjīr which means burning (انفجار) or exploding (انسجار), while previous commentators distinguish the word tafjīr which means mixed up (إختلاط) with the word tasjīr which means lit (إضطرام). Dalam al-Qur’an terdapat banyak ayat yang berbicara mengenai kiamat, terdapat beragam pula penafsiran yang dihasilkan oleh para penafsir. Tulisan ini ingin mengkaji penafsiran dan pemahaman Umar Sulaiman al-Asyqar mengenai ayat kiamat, hal ini berkemungkinan berbeda dengan mufasir lainnya karena metode dan karakteristik penafsiran yang berbeda. Penelitian ini bersifat kepustakaan dengan sumber data kitab al-Ma‘ānī al-Ḥasān fī Tafsīr al-Qur‘ān dan al-‘Aqīdah fi Ḍū’i al-Kitāb wa al-Sunnah: al-Qiyāmah al-Kubra. Pengumpulkan data dilakukan melalui metode tematik), dan analisi dilakukan secara deskriptif. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa Umar Sulaiman menafsirkan kata tafjīr  mempunyai persamaan makna (sinonim) dengan kata tasjīr yang diartikan menyala (انفجار) atau meledak (انسجار), sedangkan mufasir terdahulu membedakan kata tafjīr yang diartikan bercampur baur (إختلاط) dengan kata tasjīr yang diartikan menyala (إضطرام).
Lafaz Mathar dan Ghaits dalam Al-Qur’an Cut Widya Audina; Nuraini Nuraini; Abd. Wahid
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v4i1.13098

Abstract

Some of the verses in the Qur'an have pronunciations that seem synonymous (muradif) but when examined further they have different connotations, such as in the words mathar and ghaits. There are various kinds of meanings of lafaz mathar and ghaits in the Qur'an, namely the amazing rain, the rain of stones, the rain of the sijjil, and so on. This paper aims to reveal how the meaning of the lafaz mathar and ghaits in the Qur'an is viewed from the muradif aspect and how the context of the use of this lafaz in the Qur'an is. This study is a literature review by collecting data and reviewing library materials consisting of primary and secondary data. The data obtained as documentation uses the maudhu'i method. The results of this study, the lafaz mathar is found in 9 surahs with 6 forms of lafaz variations, while the ghaits lafaz is found in 5 surahs and has 6 forms of lafaz variations. Lafaz mathar and ghaits have the same meaning, namely rain, but the context of the verse and the interpretation are different. Lafaz mathar shows more rain of doom, punishment, or reinforcements. While lafaz ghaits shows the rain of mercy or help from Allah. Sebagian ayat-ayat dalam Alquran mempunyai lafaz yang tampaknya sinonim (muradif) namun bila diteliti lebih jauh memiliki konotasi yang berbeda, seperti pada lafaz mathar dan ghaits. Terdapat berbagai macam ragam makna lafaz mathar dan ghaits dalam Alquran yakni hujan yang mengagumkan, hujan batu, hujan sijjil, dan lain sebagainya. Tulisan ini bertujuan untuk mengungkapkan bagaimana pemaknaan lafaz mathar dan ghaits dalam Alquran ditinjau dari aspek muradif dan bagaimana konteks penggunaan lafaz tersebut dalam Alquran. Kajian ini adalah kajian kepustakaan dengan mengumpulkan data-data dan mengkaji bahan-bahan kepustakaan yang terdiri dari data primer dan sekunder. Adapun data yang diperoleh sebagai dokumentasi menggunakan metode maudhu’i. Hasil penelitian ini, lafaz mathar ditemukan dalam 9 surah dengan 6 bentuk variasi lafaz, sedangkan lafaz ghaits ditemukan dalam 5 surah serta memiliki 6 bentuk variasi lafaz. Lafaz mathar dan ghaits memiliki makna yang sama yaitu hujan, akan tetapi konteks ayat dan penafsirannya berbeda. Lafaz mathar lebih menunjukkan kepada hujan azab, hukuman, atau bala. Sedangkan lafaz ghaits menunjukkan kepada hujan rahmat atau pertolongan dari Allah. 
Penafsiran Lafaz al-Rih dan al-Riyah dalam Al-Qur’an Furqan Furqan; Nabilla Ummami
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v3i2.13276

Abstract

One form of the beauty of the language and the richness of the meaning of the Qur'an is the use of the words rih and riyah, which are the same word with different forms of derivation but have a different philosophies of meaning. Even in Surah Yunus verse 22 and three other verses, the Qur'an mentions the word rih for both positive and negative connotations. The use of such words seems to give the reader the impression that the Qur'an is inconsistent in choosing the words it uses. Departing from this problem, the author formulates two objectives of this research, namely to explain the classification and scope of meaning of the words rih and riyah in the Qur'an and to describe the interpretation of the mufassir related to these lafaz. From the results of the study, lafaz rih has several expressions of meaning according to the context of the intended verse, namely punishment, strength or glory, help and fragrant smell. Broadly speaking, the word riyah is interpreted to be more about things that are fun and welfare information, because of the magnitude and many benefits the Qur'an mentions in the plural. As for the scientific interpretation of the word rih, the Qur'an describes something that is harmful and destructive. This is because at a certain speed the wind can exceed the benefit as well as the description of the commentators about the hot wind that brings fire and burns to destroy anything in its path. Salah satu bentuk keindahan bahasa dan kekayaan makna Alquran yaitu penggunaan kata rih dan riyah yang merupakan satu kata yang sama dengan bentuk derivasi yang berbeda, namun mempunyai filosofi makna yang berbeda. Bahkan dalam surah Yunus ayat 22 dan tiga ayat lainnya, Alquran menyebutkan kata rih untuk konotasi yang positif maupun negatif. Pemakaian kata serupa itu seakan-akan memberi kesan kepada pembaca bahwa Alquran inkonsisten dalam memilih kata-kata yang digunakannya. Berangkat dari permasalahan ini, penulis merumuskan dua tujuan penelitian ini yaitu untuk menjelaskan klasifikasi dan cakupan makna dari kata rih dan riyah dalam Alquran dan mendeskripsikan penafsiran mufassir terkait dengan lafaz tersebut. Dari hasil penelitian tersebut, lafaz rih memiliki beberapa ungkapan makna sesuai dengan konteks ayat yang dituju yaitu azab, kekuatan ataupun kejayaaan, petolongan dan bau harum. Secara garis besar, kata riyah ditafsirkan lebih kepada hal-hal yang sifatnya informasi-informasi menyenangkan dan kesejehteraan, karena besar dan banyak manfaatnya Alquran menyebutkannya dalam bentuk jamak. Adapun pada penafsiran ‘ilmi kata rih, Alquran mendeskripsikan sesuatu  yang merugikan dan merusak. Hal ini karena pada kecepatan tertentu angin dapat melampaui kemaslahatan seperti halnya uraian para mufassir mengenai angin panas yang membawa api dan membakar hingga membinasakan apapun yang dilaluinya. 
Siyasah Dusturiyyah sebagai Sistem Perpolitikan dalam Al-Qur’an Salman Abdul Muthalib; Muhammad Faizur Ridha bin Mohd Pauzi
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v4i2.13176

Abstract

Siyasah dusturiyyah so far has not been revealed in detail. In the world history stage, it can be seen that the good or bad of a country depends on the system of government. The Qur'an has clearly stated the necessity of government. Allah SWT ordered the Messenger of Allah to get used to and train himself in government affairs. Thus, to find the ideal of Islam in the process of administering the government, the title of the thesis on "Interpretation of the Siyāsah Dusturiyāh Verses (Study of Government Systems)" is very interesting to study. Data analysis was carried out using thematic (Maudhu'ï). In the thematic method, all related verses are collected, then studied in more depth from various aspects related to them. This method is also supported by arguments or truths that can be justified scientifically and rationally. Based on the method used, the Qur'an explains that leadership in the dusturiyah siyāsah can be adapted to every era. Leadership in Islam is natural for every human being as well as motivates Islamic leadership. Humans are entrusted by Allah SWT to be the caliph to lead the people in religion and the world, also regulate the people and guard religion and politics. The system of government referred to in the Qur'an consists of five: the Imamate, the People and Their Obligations, Bai'at, Ahl al-Hall Wa al-Aqd, and Wizarah. Siyasah dusturiyyah selama ini belum terungkap secara terperinci. Dalam pentas sejarah dunia dapat dilihat bahwa baik buruknya negara tergantung dengan sistem pemerintahan. Alquran secara tegas telah menetapkan keharusan adanya pemerintahan. Allah Swt memerintahkan Rasulullah Saw untuk membiasakan dan melatih diri dalam urusan kepemerintahan. Dengan demikian untuk menemukan idealitas Islam dalam proses penyelenggaraan pemerintahan, maka judul skripsi tentang “Penafsiran Ayat-Ayat Siyāsah Dusturiyāh (Kajian Sistem Pemerintahan)” sangat menarik untuk dikaji. Analisis data yang dilakukan dengan menggunakan tematik (Maudhu’ï). Dalam metode tematik semua ayat yang berkaitan dikumpulkan, kemudian dikaji secara lebih mendalam dari berbagai aspek yang berkaitan dengannya. Dalam metode ini juga didukung dengan dalil-dalil atau kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan rasional. Berdasarkan metode yang digunakan, Alquran menjelaskan bahwa kepemimpinan dalam siyāsah dusturiyāh dapat disesuaikan dengan setiap zaman. Kepemimpinan dalam Islam merupakan fitrah bagi setiap manusia sekaligus memotivasi kepemimpinan yang Islami. Manusia di amanahi Allah Swt untuk menjadi khalifah untuk memimpin umat dalam agama dan dunia, juga mengatur umat serta menjaga agama dan politik. Sistem pemerintahan yang disebut di dalam Alquran terdiri dari lima: yaitu Imamah, Rakyat dan Kewajibannya, Bai’at, Ahl al-Hall Wa al-Aqd, dan Wizarah.
Kedurhakaan Istri Para Nabi dalam Alquran Salman Abdul Muthalib; Yoerna Kurnia
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v7i1.12418

Abstract

The Qur'an states that a good person will be paired with the good and the bad will be united with the bad. However, in reality, not everyone who behaves well is juxtaposed with the good, and vice versa. As the story in the Qur'an is about the lives of two prophets namely Prophet Noah and Prophet Luth who were so obedient to Allah but they were juxtaposed by Allah with a couple who had bad qualities and disobedient. The purpose of this study is to discuss the forms and factors triggering the iniquity of the wives of the prophets and reveal the moral lessons contained in the story. This research uses a qualitative approach with the type of literature research and collects data using interpretation document studies. The results showed that the form of iniquity committed by the wives of Prophet Noah and Prophet Luth was a matter of faith, not that which showed adultery. The cause of the disobedience of the wives of the two prophets is based on two things, namely first, the strength of faith in their former beliefs; the second is because of the economic instability that befell the two families of the prophet so that his spouse committed deceit and betrayed them. The wisdom that can be learned from the story of the disobedience of the wives of the prophets is to show the guarantee of the salvation of the life of the world and the hereafter not to depend on others but oneself.Al-Qur’an menyatakan bahwa seorang yang baik akan dipasangkan dengan yang baik dan yang berperangai buruk akan disatukan pula dengan yang buruk. Namun, pada realitanya tidak semua orang yang berperilaku baik disandingkan dengan yang baik, begitu pula sebaliknya. Sebagaimana kisah dalam Alquran tentang kehidupan dua orang nabi yakni Nabi Nuh dan Nabi Luth yang begitu taat kepada Allah tapi mereka disandingkan oleh Allah dengan pasangan yang memiliki sifat yang buruk lagi durhaka. Tujuan penelitian ini untuk membahas bentuk dan faktor pemicu kedurhakaan istri para nabi dan mengungkapkan pelajaran moral yang terkandung dalam kisah tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan dan mengumpulkan data menggunakan studi dokumen tafsir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk kedurhakaan yang dilakukan istri Nabi Nuh dan Nabi Luth adalah dalam persoalan keimanan bukan yang menunjukkan perbuatan zina. Penyebab durhakanya istri dari kedua nabi tersebut didasari kepada dua hal yakni pertama, kuatnya keimanan terhadap kepercayaan mereka yang terdahulu; kedua yaitu karena ketidakstabilan ekonomi yang menimpa kedua keluarga nabi tersebut sehingga pasangannya berlaku curang dan khianat kepada mereka. Adapun hikmah yang dapat dipetik dari kisah durhakanya istri para nabi tersebut yaitu menunjukkan jaminan keselamatan kehidupan dunia dan akhirat tidak bergantung kepada orang lain melainkan diri sendiri.
Kajian Hermeneutika Kontemporer: Studi Analisis atas Penafsiran Al-Qur’an Nasr Hamid Abu Zayd dan Hassan Hanafi Muhammad Furqan; Sakdiah Sakdiah
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v7i1.12982

Abstract

The term hermeneutics is still very unfamiliar to the majority of Indonesian Muslims, this is considered reasonable because hermeneutics is an imported item that is not known in Islam scientific world. In the Islamic world itself, although there was a lot of resistance to the results of its studies, it did not discourage some contemporary thinkers from adopting it and ignored the various risks it had to bear, such as Nasr Hamid Abu Zayd and Hassan Hanafi. This article aims to reconstruct their thinking on the interpretation of the Qur'an through the study of hermeneutics. This article is literature research using a qualitative approach. Data collection is carried out by studying related textbooks, encyclopedias, journals, and others. The results of the study showed that Nashr Hamid Abu Zaid tried to find a new meaning that was not pronounced in the Qur'an in accordance with the current context by carrying out hermeneutic studies through the theory of text interpretation in two dimensions, namely the theory of meaning (dalâlah) and significance (magzâ). Hassan Hanafi carries out the study of the hermeneutics of freedom with language analysis, historical context analysis and generalizations, that is, raising the meaning of the "moment" situation and its historical situation in order to give an adequate understanding of others' situation. Hanafi wanted to derive new meaning from interpretation to address specific cases in people's lives. Istilah hermeneutika masih sangat asing bagi mayoritas masyarakat Muslim Indonesia, hal ini dianggap wajar dikarnakan hermeneutika merupakan barang impor yang tidak dikenal dalam keilmuan Islam. Di dunia Islam sendiri, meski muncul banyak penolakan terhadap hasil pengkajiannya, namun tidak menyurutkan langkah sebagian pemikir kontemporer untuk mengadopsinya serta mengabaikan berbagai risiko yang harus ditanggungnya, Seperti Nasr Hamid Abu Zayd dan Hassan Hanafi. Artikel ini bertujuan merekonstruksikan pemikiran mereka terhadap penafsiran Al-Qur’an melalui kajian hermeneutika. Artikel ini merupakan penelitian kepustakaan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan telaah buku-buku teks, ensiklopedi, jurnal, dan lainnya yang terkait. Hasil kajian menunjukkan bahwa Nashr Hamid Abu Zaid mencoba untuk menemukan makna baru yang tak terlafazkan dalam al-Qur’an sesuai dengan konteks kekinian dengan mengusung kajian hermeneutika melalui teori interpretasi teks dalam dua dimensi yaitu teori makna (dalâlah) dan signifikansi (magzâ). Hassan Hanafi mengusungkan kajian hermeneutika kebebasan dengan analisis bahasa, analisis konteks sejarah dan generalisasi, yaitu mengangkat makna dari situasi “saat” dan situasi sejarahnya agar dapat menimbulkan situasi-situasi lain. Hanafi ingin memperoleh makna baru dari penafsiran untuk menyikapi berbagai kasus spesifik dalam kehidupan masyarakat.
Hubungan Antar Agama menurut Al-Quran dan Hadis Marzatillah Marzatillah; Abd. Wahid
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v2i2.13607

Abstract

Sensitive issues that occur today are the relationship between religions that are not harmonious, the birth of Islamophobia among non-Muslims has given birth to a negative stigma against Islam, this is due to their misunderstanding of the teachings of Islam. This condition has resulted in disharmony in the social life of the community and even the emergence of hostility. This paper seeks to clarify the misunderstanding of non-Muslims toward Islam by explaining the concept of tolerance in the Qur'an and the Sunnah of the Prophet. The results of the study show that in terms of humanity, Islam is very tolerant and upholds human values, while in matters of religious belief, Islam provides limits so that it does not fall into shirk because it is a big sin that is not forgiven by Allah swt. Isu sensitif yang terjadi saat ini adalah hubungan antar agama yang tidak harmonis, lahirnya islamophopia di kalangan non muslim telah melahirkan stigma negatif terhadap Islam, hal diakibatkan kesalah pahaman mereka terhadap ajaran Islam. kondisi ini telah mengakibatkan terjadinya disharmonis dalam kehidupan sosial masyarakat bahkan munculnya permusuhan. Tulisan ini berupaya memperjelas kesalah pahaman kalangan non muslim terhadap Islam dengan menjelaskan konsep toleransi dalam Alquran dan Sunnah Rasul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam hal kemanusian, Islam sangat toleran dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusian, sedangkan dalam persoalan keyakinan beragama, Islam memberi batasan agar agar tudak terjerumus dalam kesyirikan, karena hal itu merupakan dosa besar yang tidak diampunkan oleh Allah swt.
Analisis Lafaz Tanshurullaha dalam Tafsir Fi Zilal Al-Qur’an dan Tafsir Al-Kabir Agusni Yahya; Syukran Abu Bakar; Masrul Rahman
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v7i1.12420

Abstract

Helping others is mandatory in certain ways that one's fellow human beings can understand. But in the Qur'an Allah not only commands people to help their neighbors, Allah also commands us to help Him, there are different interpretations among ulama regarding the sentence nashrullah. In this study, the author will express the thoughts of Sayyid Qutb in his interpretation of Fi Zhilâl al-Qur'an and al-Râzi in Tafsîr al-Kabîr against lafaz nashrullah. The goal is to find out how different interpretations of lafaz nashrullah according to Sayyid Qutb and al-Râzi. The results showed that in sayyid Qutb's view, nashrullah is done by purifying the values of godliness and reviving His manhaj and shari'a. Meanwhile, according to al-Râzi nashrullah is to fight against the infidels as the Messenger of Allah did to defend Allah t and this religion of Islam from their insults and slurs. Tolong-menolong terhadap sesama merupakan hal wajib dilaksanakan dengan cara-cara tertentu yang dapat dipahami sesama manusia. Namun dalam al-Qur’an Allah tidak hanya memerintahkan manusia untuk tolong-menolong antar sesama mereka, Allah juga memerintahkan kita untuk menolong-Nya, di sini muncul perbedaan para ualam dalam menafsirkan makna kalimat nashrullah. Dalam penelitian ini penulis akan mengungkapkan pemikiran Sayyid Qutb dalam tafsirnya Fi Zhilâl al-Qur’an dan al-Râzi dalam Tafsîr al-Kabîr terhadap lafaz Nashrullah. Tujuannya adalah untuk mengetahui bagaimana perbedaan penafsiran lafaz nashrullah menurut Sayyid Qutb dan al-Râzi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pandangan Sayyid Qutb, nashrullah dilakukan dengan cara memurnikan kembali nilai-nilai ketauhidan dan menghidupkan kembali manhaj dan syariat-syariat-Nya. Sedangkan menurut al-Râzi nashrullah adalah melakukan peperangan melawan kaum kafir sebagaimana dilakukan Rasulullah untuk membela Allah t dan agama Islam ini dari hinaan dan cercaan mereka.
Penyetaraan Wanita dengan Anjing di Depan Orang Salat: Sebuah Kajian Fiqh al-Hadis Cut Wida Rahma; Agusni Yahya
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v2i2.13601

Abstract

A proper understanding of the traditions regarding the interruption of prayer due to the passage of a dog and a woman is a significant study, considering that this hadith seems insulting to women because the position of women is mentioned in this hadith lying down with dogs or equating human species with animal types. For this reason, this study will focus on looking at the meaning of the hadith when prayer is interrupted due to the crossing of a dog and a woman, what are the implications of these traditions for the validity of prayer, and what are the criteria for dogs and women in the hadith. The author uses a linguistic and socio-historical approach, using the science of fiqh al-Hadith as the main analytical tool. The results showed that from a linguistic and socio-historical point of view, the meaning of dog and woman is understood textually to mean that causing the prayer to be interrupted is to destroy the prayer or cancel the prayer, while contextual understanding means that it is a symbol that can reduce the busyness of prayer. The implication of fiqh al-Hadith is textual means to break the prayer or cancel the prayer, while contextually it means reducing the solemnity of prayer or the value of the quality of prayer, not canceling the prayer. The criteria for the dog in the hadith are a black dog which is linguistically a symbol of Satan and a woman who has reached puberty as a temptress for those who look at her. Pemahaman yang tepat terhadap hadis-hadis tentang terputusnya salat karena melintasnya anjing dan wanita merupakan suatu kajian yang signifikan, mengingat hadis ini terkesan menghina kaum wanita, karena posisi wanita disebut di dalam hadis ini berbaringan dengan anjing atau penyamaan jenis manusia dengan jenis binatang. Tulisan ini akan fokus melihat bagaimana maksud hadis terputusnya salat karena dilintasi anjing dan wanita, bagaimana implikasi hadis-hadis tersebut terhadap sahnya ibadah salat, dan bagaimana kriteria anjing dan wanita dalam hadis tersebut. Penulis menggunakan pendekatan linguistik dan sosio-historis, dengan menggunakan ilmu fiqh al-Hadis sebagai alat analisis utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditinjau dari sisi kebahasaan dan sosio-historis, pemaknaan anjing dan wanita jikan dipahami secara tekstual berarti menyebabkan terputusnya salat adalah merusak salat atau membatalkan salat, sedangkan secara kontekstual berarti sebagai simbol yang dapat mengurangi kekusyukan salat. Implikasi fiqh al-Hadis secara tekstual berarti membatalkan salat, sementara secara kontekstual berarti mengurangi kekusyukan salat atau nilai kualitas salat bukan membatalkan salat. Kriteria anjing dalam hadis tersebut adalah anjing hitam yang secara linguistik sebagai simbol dari setan dan wanita yang sudah baligh sebagai penggoda bagi orang yang memandang kepadanya.
Psikoterapi Pembacaan Surah Yasin di Rumah Sakit Jiwa Aceh Zulihafnani Zulihafnani; Mutiara Mawaddah
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v7i1.12585

Abstract

Aceh's National Narcotics Agency announced that the number of drug addicts in Aceh Province reached 83 thousand people. Various efforts have been made to treat these patients, one of which is by psychotherapy of reading surah Yasin as carried out by the Aceh Mental Hospital. This study wants to examine the application and impact of psychotherapy by reading Surah Yasin as one of the methods of recovering from the effects felt by drug victim patients at the Aceh Mental Hospital after consuming illegal drugs. This research is a qualitative research by using a descriptive approach. Data were collected by observation, interview, and documentation techniques. The results showed that the application of the psychotherapy of the recitation of Surah Yasin to drug patients was carried out every Friday night after the completion of the Maghrib prayers congregation. This activity was carried out in congregations with the guidance of the addiction counselor. The therapy program for the reading of Surah Yasin was also accompanied by several other religious programs, such as tahsin and tausiyah implemented by the Ministry of Religious Affairs of Banda Aceh City. The impact felt by patients from psychotherapy is to bring out calm, tranquillity and comfort. In addition, psychotherapy also encourages the emergence of a sense of surrender of patients to God, feeling the aura of a good environment, reminding them of their late parents, a desire to pray, feeling more grateful, and remembering the purpose of life. Badan Narkotika Nasional provinsi Aceh mengumumkan angka pecandu atau penyalahgunaan narkoba di Aceh mencapai 83 ribu orang. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menangani pasien tersebut, salah satunya dengan psikoterapi pembacaan Surah Yasin sebagaimana dilakukan Rumah Sakit Jiwa Aceh. Penelitian ini ingin mengkaji penerapan dan dampak dari psikoterapi pembacaan Surah Yasin sebagai salah satu metode pemulihan dari efek yang dirasakan pasien korban narkoba di Rumah Sakit Jiwa Aceh setelah mengkonsumsi obat-obatan terlarang. Penelitian ini berbentuk kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan psikoterapi pembacaan Surah Yasin pada pasien narkoba dilaksanakan pada setiap malam Jumat setelah selesai melaksanakan salat Maghrib berjamaah. Pembacaan Surah Yasin dilakukan berjamaah dengan dibimbing oleh konselor adiksi. Program terapi ini juga dibarengi dengan program keagamaan lain, seperti tahsin dan tausiyah yang dilaksanakan oleh Kementerian Agama Kota Banda Aceh. Dampak yang dirasakan pasien dari psikoterapi tersebut ialah memunculkan ketenangan, ketentraman dan kenyamanan. Di samping itu, psikoterapi juga mendorong munculnya rasa berserah diri pasien kepada Allah, merasakan aura lingkungan yang baik, mengingatkan mereka kepada mendiang kedua orang tua, muncul keinginan untuk berdoa, merasa lebih bersyukur, dan ingat akan tujuan hidup.

Page 8 of 18 | Total Record : 174