cover
Contact Name
Munirah Tuli
Contact Email
munirahtuli@ung.ac.id
Phone
+62251-8622935
Journal Mail Official
marfish.journal@gmail.com
Editorial Address
Department of Fisheries Resources Utilization Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Bogor Agricultural University.
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
ISSN : 20874235     EISSN : -     DOI : https://doi.org/10.29244/jmf.6.2.109-117
Core Subject : Social,
Aims: MARINE FISHERIES aims to publish an original research focused on technology and management of capture fisheries, such as fishing equipment, management and transportation of fishing vessel, port management, and technology of capture fisheries.
Articles 311 Documents
UMPAN BUATAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP HASIL TANGKAPAN PANCING LAYANG-LAYANG DI SELAT BANGKA, SULAWESI UTARA (The Study of Artificial Bait on the Catch of Kite Fishing in Bangka Strait, North Sulawesi) Alfret Luasunaung; Emil Reppie
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 7 No. 2 (2016): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.129 KB) | DOI: 10.29244/jmf.7.2.117-123

Abstract

AbstractNeedlefish  (Tylosurus  sp.)  known  locally  as  sako  is  one  of  the  economically  important fisheries resources in Bangka Strait of North Sulawesi. The success kite fishing is highly dependent on the availability of small natural bait which is  caught only by lift net during the dark moon phase. Therefore, it should be attempted using artificial baits to address the issue of lack of natural bait at certain times. This study aimed to determine the effect of artificial baits toward  catch of  kite  fishing and to  identify the  species  of needle  fish  caught.  This research was carried out in Bangka Strait  by using  experimental  method.  Two  types  of  baits  were  used,  namely  natural  bait  (rainbow sardine/Dussumieria acuta), and artificial baits such as  rubber fish  that  widely available in the bait shop.  The catch data from four units of kite fishing  were  analyzed using t-test.  The result showed that  total  catch  during  the  study  were  40  needlefish es  consist  of  Tylosurus  crocodiles  (39)  and Tylosurus acus melanotus (1). As many as 22 needlefishes caught with natural baits and 18 caught with  artificial  baits.  The  analysis  showed  that  the  used  of  natural   baits  were  not  significantly different from the artificial bait.  During the study needlefish could be caught at wind speeds of 4-  7 knots and operated on 11.00–14.45 Mid Indonesian Time.Keywords: artificial bait, Bangka Strait, kite fishing, wind speedAbstrakIkan cendro (Tylosurus sp.) yang dikenal dengan nama lokal sebagai ikan sako adalah salah satu  sumber  daya  ikan  ekonomis  penting  yang  dihasilkan  dari  perairan  Selat  Bangka,  Sulawesi  Utara.   Keberhasilan  penangkapan  ikan  dengan  pancing  layang-layang  sangat  tergantung  pada  ketersediaan umpan alami berukuran kecil yang tertangkap dengan alat tangkap bagan pada saat  bulan  gelap.  Oleh  karena  itu,  perlu  dicobakan  penggunaan  umpan  buatan  untuk  mengatasi persoalan  kurangnya  umpan  alami  pada  waktu-waktu  tertentu.  Penelitian  ini  ditujukan  untuk  mengetahui  pengaruh  umpan  buatan  terhadap  hasil  tangkapan  pancing  layang-layang  dan  mengidentifikasi  jenis  ikan  cendro  yang  tertangkap.  Penelitian  ini  dilakukan  di  Selat  Bangka didasarkan  pada  metode  eksperimental.   Dua  jenis  umpan  yang  digunakan,  yaitu  umpan  alami yaitu ikan japuh (Dussumieria  acuta), dan umpan buatan.  Umpan buatan berupa ikan karet yang banyak tersedia di toko pancing. Data tangkapan dikumpulkan dari 4 unit pancing layang-layang, dan kemudian data dianalisis dengan menggunakan uji  t. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa  hasil  tangkapan  selama  penelitian  berjumlah  40  ekor   ikan  cendro  yang  terdiri  dari Tylosurus  crocodiles  (39  ekor)  dan  Tylosurus  acus  melanotus  (1  ekor).  Sebanyak  22  ekor  ikan cendro  tertangkap  dengan  umpan  alami  dan  18  ekor  ikan  cendro  tertangkap  dengan  umpan buatan. Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan umpan alami tidak berbeda nyata dengan umpan  buatan  pada  pancing  layang-layang  untuk  menangkap  ikan  cendro  di  perairan  Selat Bangka. Ikan cendro dapat tertangkap pada kecepatan angin antara 4–7 knot dan dioperasikan  pada sekitar jam 11.00-14.45 Wita.Kata kunci: umpan buatan, Selat Bangka, pancing layang-layang, kecepatan angin
POLA DINAMIS PENURUNAN HASIL TANGKAPAN UDANG AKIBAT PENGENDAPAN DAN LIMBAH INDUSTRI DI KAWASAN SEGARA ANAKAN (Dynamic Pattern of Degradation of Shrimps Catch as an Effect of Sedimentation and Industrial Waste in Segara Anakan) . Mustaruddin; Domu Simbolon; Mohammad Khotib
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 7 No. 2 (2016): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.949 KB) | DOI: 10.29244/jmf.7.2.125-136

Abstract

AbstractSegara Anakan, Cilacap Regency is an important marine fisheries producer in Central Java Province, especially for shrimps. The objective of this study were to analyze the production and fishing ground of shrimps, to analyze dynamic patterns of shrimps cat ch affected by sedimentation and  industrial waste in Segara  Anakan, and to develop intervention option to the degradation  of shrimp  catch  as  well.   Some  methods  were  used  in  this  study  such  as  descriptive  method, geographic information system, and dynamic model approach included the test of model structural stability and performance. In  2002–2013, the highest production of shrimps in the Segara Anakan was in 2006 (2263.0 ton) and the lowest was in 2010 (884.7 ton). Fishing ground of shrimp in the Segara  Anakan  already  had high total suspended solid, and also  low contaminated oil and  lead (Pb). Results of dynamic model analysis showed that shrimp catch degraded exponentially along with the increasing of sediment accumulation and industrial waste. Shrimps production in 2013 was 1147.8  tons,  and  might  decrease   43.04  %  to  be  653.8  tons  over  75  years  later  without intervention. If the model was intervenced by fishing open -close system and limited acces fishing ground,  hence  shrimps  catch  showing  stable  around  902.2–929.1  ton  every  year.  While  if  the intervention was conducted by the stopping of industrial waste to Segara Anakan, hence shrimps catch only decrease 13.00 % to be 998.6 tons over 75 years later.Keywords: dynamic model, fishing ground, industrial waste, shrimp catchAbstrakABSTRAKSegara Anakan, Kabupaten Cilacap merupakan basis produksi perikanan laut yang penting di  Provinsi  Jawa  Tengah  terutama  jenis  udang.   Penelitian  ini  bertujuan  menganalisis  kondisi produksi dan daerah penangkapan udang, menganalisis pola dinamis penurunan hasil tangkapan udang  akibat  pengaruh  pengendapan  dan  pembuangan  limbah  industri  di  kawasan  Segara Anakan,  serta  mengembangkan  alternatif  intervensi  secara  modelling  terhadap  penurunan tersebut.  Metode  yang  digunakan  terdiri  dari  metode  deskriptif,  sistem  informasi  geografi, pendekatan  model  dinamis,  serta  uji  kestabilan  struktur  dan  kinerja  model.  Pada  periode  tahun 2002  –  2013, produksi tertinggi udang terjadi pada tahun 2006 (2263,0 ton) dan terendah terjadi pada tahun 2010 (884,7 ton). Daerah penangkapan udang di kawasan Segara Anakan mempunyai total padatan tersuspensi dan kekeruhan yang tinggi, serta tercemar ring an oleh minyak dan logam timbal. Analisis model dinamis menunjukkan bahwa hasil tangkapan udang cenderung menurun secara eksponensial seiring meningkatnya akumulasi endapan  dan cemaran limbah industri dari waktu  ke  waktu.  Hasil  tangkapan  udang  yang  saat  ini  (tahun  2013)  mencapai  1147,8  ton,  bisa menurun 43,04 % menjadi 653,8 ton setelah 75 tahun kemudian. Bila model tersebut diintervensi dalam  bentuk  penerapan  sistem  open-close  dan  pembatasan  daerah  penangkapan  yang  bisa diakses,  maka  hasil  tangkapan  udang  cenderung  stabil  pada  kisaran  angka  902,2  –  929,1  ton setiap  tahunnya.   Akan  tetapi  bila  intervensi  dilakukan  dalam  bentuk  penghentian  pembuangan limbah industri ke kawasan Segara  Anakan  dan sekitarnya, maka hasil  tangkapan udang hanya turun 13,00 % (menjadi 998,6 ton) setelah 75 tahun kemudian.Kata kunci: model dinamis, daerah penangkapan, limbah industri, hasil tangkapan udang
PERTUMBUHAN, KEMATIAN DAN TINGKAT EKSPLOITASI KERANG POKEA (BATISSA VIOLACEA VAR. CELEBENSIS, VON MARTENS 1897) PADA SEGMEN MUARA SUNGAI LASOLO SULAWESI TENGGARA . Bahtiar; La Anadi; Wa Nurgayah; . Emiyarti; Harmin Hari
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 7 No. 2 (2016): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (684.236 KB) | DOI: 10.29244/jmf.7.2.137-147

Abstract

ABSTRACTPokeas (Batissa violacea var. celebensis, von Martens 1897) are economic Sulawesi’s clam which production has continued to decline in line with the increase in fishing activities. This study aimed to determine the parameters of growth, mortality and exploitation level of pokea at estuary segment  in  Lasolo  River,  Southeast  Sulawesi.  The  results  of  this  study  are  expected  to  be  a reference in the management of pokea resources in Southeast Sulawesi. Data segregation for age group, growth, mortality (natural, catches and total) and the degree of exploitation were analized by  Bhattacharya  method,  inverse  model  von  Bertalanffy,  length  converted  catch  curve  and empirical  Pauly,  that  accommodated  in  FiSAT  II  version  1.1.3.  Results  showed  that  male  and female  pokea  were  distributed  as  juvenile,  adult  to  broodstock,  dominated  by  adult.  The  growth pattern  (Lt)  of  male  and  female,  was  =  6.46-(6.46-0.025)e-2.8t and  Lt  =  7.79-(7.79-0.025)e-0.5t,respectively. Natural mortality (M), fishing mortality (F) and total mortality (Z) in males were found higher than females. In general, the utilization level of pokea in the Lasolo river has experienced over exploitation.Keywords: clam, Lasolo River, management resources, pokea, Southeast SulawesiABSTRAKKerang  pokea  (Batissa  violacea  var.  celebensis,  von  Martens  1897)  merupakan  kerang ekonomis  dari  Sulawesi  yang  produksinya  terus  mengalami  penurunan  sejalan  dengan peningkatan  aktivitas  pengambilannya  di  alam.  Penelitian  ini  bertujuan  untuk  mengetahui parameter pertumbuhan, kematian dan tingkat eksploitasi kerang pokea di segmen muara SungaiLasolo  Sulawesi  Tenggara.   Hasil  penelitian  ini  diharapkan  dapat  dijadikan  rujukan  dalam pengelolaan sumberdaya kerang pokea di Sulawesi  Tenggara. Data pemisahan kelompok umur, pertumbuhan,  kematian  (alami,  tangkapan  dan  total)  dan  tingkat  eksploitasi  masing-masing menggunakan  metode  Bhattacharya,  model  inverse  von  Bertalanffy,  hasil  tangkapan  yang dikonversi dari data lebar cangkang dan empiris Pauly yang terakomodasi dalam program FiSAT II versi  1.1.3.   Hasil  penelitian  menunjukkan  bahwa  pokea  jantan  dan  betina  tersebar  dari  ukuran anak, dewasa dan tua yang didominasi pada ukuran dewasa. Pola pertumbuhan jantan dan betina masing-masing yaitu: Lt = 6.46-(6.46-0.025)e-2.8t dan Lt = 7.79-(7.79-0.025)e-0.5t . Kematian pokea  tertinggi  secara  alami  (M),  penangkapan  (F)  dan  total  (Z)  pada  jantan  ditemukan  lebih  tinggi dibandingkan kematian pada pokea betina. Secara umum, tingkat pemanfaatan kerang pokea di Sungai Lasolo telah mengalami lebih tangkap.Kata kunci: kerang, Sungai Lasolo, manajemen sumberdaya, pokea, Sulawesi Tenggara
PERPADUAN SERAT DAUN NANAS (ANANAS COMOSUS) DAN KITOSAN SEBAGAI MATERIAL ALAT PENANGKAPAN IKAN RAMAH LINGKUNGAN (Combination of Pineapple Leaf Fiber and Chitosan for Eco-Friendly Fishing Gear Materials) Muth Mainnah; . Diniah; Budhi Hascaryo Iskandar
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 7 No. 2 (2016): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (489.229 KB) | DOI: 10.29244/jmf.7.2.149-159

Abstract

ABSTRACTThe  utilization  of  pineapple  leaf  materialfiber  for  an  alternative  fishing  gear    is  a  step  of development  to  create  eco-friendly  fishing  gear  material.  The  pineapple  leaf  fib er  was  observed based on mechanical (breaking strength and elongation value) and physical characteristics  (water contents and specific weight) to learn about force of its fiber as natural material for the fishing gear. There  were  two  methods  used  in  this  study,  such  as  concentrates  factor  and  soaking  time  in chitosan. Chitosan concentrates and  soaking times in  respectively were  1, 1.5, 2% and  15, 30, 45 minutes.  The  test  of  mechanical  and  physical  characteristic  had  been  done  in  Engineering  and Design of Wood Building Laboratory, Department of Engineering, Forest Product, Forestry Faculty, Bogor Agricultural University, then for the  breaking strength and elongation value used  Universal Testing  Machine  (UTM).  The  data  were  analyzed  by  Completely  Randomize  Factorial  Design (CRFD).  The  results  showed  that  pineapple  leaf  fiber  consist  of  1.095%  of   water  contents  and 1.005 for specific weight.  Statistical analysis proved that breaking strength value of pineapple leaf fibers was affected by  soaking time in chitosan. The best result of the breaking strength test was when the fiber soaked in chitosan with concentrate 1 % during 45 minutes with amount of breaking strength and elongation 34.84 kgf and 0.60 mm.Keywords: breaking strength, chitosan, elongation, pineapple leaf fiber ABSTRAK Pemanfaatan  serat  daun  nanas  untuk  bahan  alat  penangkapan  ikan  merupakan  langkah pengembangan material  yang ramah lingkungan. Serat daun nanas tersebutdiamati berdasarkan sifat  fisis  (kadar  air  dan  berat  jenis)  dan  mekanis  (kekuatan  putus  dan  kemuluran  serat)  yang ditujukan untuk mengetahui kekuatan serat sebagai material alami untuk alat penangkapan ikan. Metode yang digunakan terdiri dari dua faktor, yaitu faktor konsentrasi dan lama pencelupan dalam kitosan.  Konsentrasi  kitosan  yang  digunakan  yaitu  1,  1,5  dan  2%  dan  lama  pencelupan  dalam kitosan 15, 30 dan 45 menit.Pengujian sifat fisis dan mekanis dilakukan di Laboratorium Rekayasa dan  Desain  Bangunan  Kayu,  Departemen  Teknik  Hasil  Hutan,  Fakultas  Kehutanan,  Institut Pertanian Bogor, lalu untuk kekuatan putus dan kemuluran serat menggunakan  Universal Testing Machine  (UTM). Data dianalisis menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial (RALF). Hasil menunjukan  bahwa  serat  daun  nanas  memiliki  kadar  air  dan  berat  jenis  rata-rata  1,095%  dan 1,005.  Analisis statistik membuktikan bahwa terdapat pengaruh lama pencelupan serat di  dalam kitosan terhadap kekuatan putus serat daun nanas, uji kekuatan putus dengan perlakuan terbaik yang  diberikan  terhadap  serat  daun  nanas,  yaitu  serat  nanas  yang  direndam  dalam  kitosan  1% selama 45 menit dengan nilai kekuatan putus sebesar 34,84 kgf dan kemuluran 0,60 mm.Kata kunci: kekuatan putus, kitosan, kemuluran, serat daun nanas
DISTRIBUSI UKURAN IKAN TERI (Stolephorus sp) YANG DITANGKAP PADA PERIKANAN BAGAN TANCAP DI MUARA SUNGSANG SUMATERA SELATAN (Size Distribution of Anchovy (Stolephorus sp.) Caught in Stationary Liftnets at Sungsang Estuary South Sumatera) . Fauziyah; . Hadi; Khairul Saleh; Freddy Supriyadi
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 7 No. 2 (2016): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (463.272 KB) | DOI: 10.29244/jmf.7.2.161-169

Abstract

ABSTRACT The anchovy  (Stolephorus sp.)  in  Muara  Sungsang  estuary South Sumatera  are  generally caught by stationary liftnet. Morphometric studies are essential to determine the growth form and growth rate of species, which is  very much important for proper  utilization  and management of the population of the species. This study aimed to determine the size structure and growth pattern of the  anchovy  caught  by  stationary  liftnet.  The   size  structure,  length -weight  relationship  and  the condition factor  of  anchovy were computed.  The anchovy samples were taken  in July 2013 (750 samples) and September 2013 (1950 samples).    Results  showed  that the population of anchovy was  dominated by length frequency distribution  of  65 mm during study on July 2013 and 75 mm during  study  on  September  2013.  Both  populations  were  dominated  by  weight  frequency distribution 2 gram.  The anchovy that caught on September 2013 were more allowable catch than on July 2013. The growth pattern of anchovy was negative allometric. The relative condition factor (Kn)  value  in  September  2013  was  higher  than  in  July  2013.  It  indicated  that  the  environmental conditions  at  Muara  Sungsang  estuary  are  suitable  for  growth  of  anchovy’s  and  still  safe  from fishing pressure.Keywords: allometric, anchovy, condition factor, frequency distribution ABSTRAKIkan  Teri  (Stolephorus  sp.)  di  Muara  Sungsang  Sumatera  Selatan  umumnya  ditangkap menggunakan bagan tancap. Studi morfometrik berguna untuk menentukan bentuk pertumbuhan dan laju pertumbuhan spesies. Hal ini berguna untuk manajemen populasi dan sebagai informasi tentang stok atau kondisi organisme. Disamping itu, sebagai dasar dalam upaya pengelolaan dan pemanfaatan  ikan  teri  di  masa  akan  datang.  Penelitian  ini  bertujuan  untuk  mengetahui  struktur ukuran dan pola pertumbuhan ikan teri hasil tangkapan bagan tancap. Data ikan teri didapatkan pada  bulan  Juli  2013  (750  sampel)  dan  September  2013  (1950  sampel).  Hasil  penelitian menunjukkan bahwa populasi ikan teri didominasi oleh distribusi frekuensi panjang 65 mm pada bulan Juli 2013 dan 75 mm pada bulan September 2013. Distribusi frekuensi berat teri pada kedua bulan tersebut sama yaitu 2 gram. Penangkapan ikan teri pada bulan September 2013 lebih layak tangkap  dibandingkan  pada  bulan  Juli  2013.  Pertumbuhan  ikan  teri  bersifat  negative  allometric. Nilai Faktor kondisi (Kn) pada bulan September 2013 lebih tinggi daripada bulan Juli 2013. Hal ini mengindikasikan bahwa kondisi  lingkungan Muara Sungsang cocok untuk pertumbuhan ikan teri dan masih aman dari tekanan aktivitas penangkapan.Kata kunci: allometrik, teri, faktor kondisi,distribusi frekuensi
UNJUK KERJA SLURRY ICE REFRIGERATOR BERBAHAN BAKU AIR LAUT DI PERAIRAN TROPIS (The Performance of Slurry ice Refrigerator with Sea Water Raw Material in Tropical Area) . Nasirin; Budhi H. Iskandar; Mohammad Imron; . Zulkarnain; . Maimun
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 7 No. 2 (2016): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.892 KB) | DOI: 10.29244/jmf.7.2.171-178

Abstract

ABSTRACTFish is perishable food. Quality of fish, especially the freshness level will drop  significantly if it is not treated quickly and properly. The general method used in fish handling on fishing vessels is cold treatment such as ice cube, ice flake, ice tube, and slurry ice. Usage of slurry ice in Indonesia has not been  applied due  to high  cost of refrigeration slurry ice unit, even though slurry ice has many advantages such as quick cooling, low operating cost, easy operation, and adaptable size. The objective of this research was to determine performance of slurry ice refrigerator (SIR) using sea  water  as  raw  material  in  tropical  area.  This  unit  can  produce  slurry  ice  for  fish  handling  on fishing vessel. An experimenta lmethod was applied in this research. The results showed that SIR could reach temperatures of -60 C with no-added load, and -40 C with load.Keywords: construction, design, performance, refrigeration, slurry ice ABSTRAK Ikan  merupakan  bahan  makanan  yang  mudah  rusak.  Kualitas  ikan  terutama  tingkat kesegarannya  akan  menurun  secara  signifikan  apabila  tidak  ditangani  dengan  cepat  dan  benar. Penanganan yang umumnya dilakukan terhadap ikan di atas kapal penangkap yakni memberikan perlakuan  dingin seperti menggunakan es  balok, es  curah, es tube, dan  slurry ice.  Penggunaan slurry ice  di Indonesia belum dilakukan dikarenakan mahalnya mesin pembuat  slurry ice. Metode pendinginan  dengan  mesin  slurry  ice  ini   memiliki  banyak  keunggulan  diantaranya  mampu melakukan  proses  pendinginan  dengan  cepat,  biaya  operasional  murah,  mudah  dalam pengoperasian,  ukuran  mesin  dapat  disesuaikan  dengan  kebutuhan.  Tujuan  dari  penelitian  ini yakni menentukan unjuk kerja  slurry ice refrigerator  (SIR) berbahan baku air laut di daerah tropis. Slurry ice  ini digunakan untuk penanganan ikan hasil tangkapan di atas kapal. Metode penelitian yang  dilakukan  adalah  eksperimental,  melalui  tahapan  perancangan  dan  pembuatan  unit  model mesin pembuat  slurry ice  dan pengujiannya. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan unjuk kerja  mesin   dapat  mencapai  suhu  -60 C  tanpa  penambahan  beban,  dan  dengan  penambahan beban mampu mencapai suhu -40 C.Kata kunci: kontruksi, rancangan, unjuk kerja, refrigerasi, slurry ice
ESTIMASI KEGIATAN ALIH MUAT PADA KAPAL RAWAI TUNA BERDASARKAN DATA VMS DAN KOMPOSISI HASIL TANGKAPAN (Transshipment Activites Estimation in Tuna Longliner Base on VMS Data and Catch Composition) Rahman Hakim Purnama; . Diniah; Ronny I Wahju
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 7 No. 2 (2016): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (640.388 KB) | DOI: 10.29244/jmf.7.2.179-189

Abstract

ABSTRACTTransshipment in longline fisheries is a common activity  at Nizam Zachman Jakarta  fishing port.  Publication  of  PERMEN  KP  No.  57  of  2014  causing  strong  protests  among  actors  and unloading included in PPS over Nizam Zahman.  The purpose of this research  are  to identify the movement patterns of longline vessels through VMS data  and to  estimate longline target catch by transshipment. This research was applied descriptive method.   Primary data was derived from the VMS tracking data and interviews. Secondary data were obtained from 276 loading and unloading activities longline tuna catches. The results of this study indicated that the movement of the ship only  accommodate  the  catch  can  be  clearly  identified  by  VMS.  Transshipment  activity,  mostly happened  to target catches which  reaching  62% with bigeye tunadominantly  92.61%. On bycatch, there  were three  dominant  species,  that  were  mackerel scad,  mackerel tuna  and southern bluefin tuna. Fresh conditions dominate activity over the load by 89%, ie 46% of the quality of export  whole quality and 43% reject  quality. Fresh condition consists of six species, bigeye tuna (2,408,999 kg), yellowfin tuna (970,186 kg), Swordfish (47,774 Kg), southern bluefin tuna (4,435 kg), marlin (962 kg)  and  albacore  (39  kg).  Transshipment  at  Nizam  Zachman  Jakarta  fishing  port  dominated  by fishing vessel measured 61-100 GT and < 50 days long trip.  It  shows that there was correlation between transshipment activity and fresh tuna industry.Keywords: catch composition, transshipment, tuna longline, VMS dataABSTRAKAlih muat hasil tangkapan dalam perikanan  longline  umum terjadi di PPS Nizam Zachman Jakarta. Terbitnya PERMEN KP No 57 tahun 2014 menimbulkan protes keras di kalangan pelaku alih  muat  termasuk  di  PPS  Nizam  Zahman.   Tujuan  dari  penelitian  ini  yaitu  menganalisis  pola pergerakan  kapal  perikanan  dalam  melakukan  kegiatan  alih  muat  dan  mengestimasi  komposisi hasil  tangkapan  rawai  tuna  melalui  kegiatan  alih  muat.  Penelitian  ini  menggunakan  metode deskriptif.  Data  primer  berasal  dari  data  tracking  VMS  dan  hasil  wawancara.  Data  sekunder diperoleh  dari  276  aktivitas  bongkar  muat  hasil  tangkapan  rawai  tuna.  Hasil  penelitian  ini menunjukkan  bahwa  pergerakan  kapal  yang  hanya  menampung  hasil  tangkapan  dapat teridentifikasi dengan jelas melalui VMS.  Kegiatan alih muat pada rawai tuna dominan terjadi pada hasil  tangkapan  utama  mencapai  62%  dengan  spesies  yang  dominan  yaitu  tuna  mata  besar dengan  prosentase  sebesar  92,61%.  Pada  hasil  tangkapan  sampingan  terdapat  3  spesies dominan yaitu layang, sunglir dan tuna sirip biru selatan. Kondisi segar mendominasi kegiatan alih muat sebesar 89%, yaitu 46% mutu kualitas ekspor utuh dan 43% mutu  reject. Kondisi segar terdiri atas  6  spesies,  yaitu  tuna  mata  besar  (2.408.999  kg),  madidihang  (970.186  kg),  ikan  pedang(47.774 Kg), tuna sirip biru selatan (4.435 kg), setuhuk (962 kg) dan albakora (39 kg). Produksi alih muat  didominasi  oleh  kapal  berukuran  61-100  GT  dan  lama  trip  <50  hari.  Hal  ini  menunjukkan korelasi antara alih muat dengan kegiatan perikanan tuna segar.Kata kunci: komposisi hasil tangkapan, alih muat, rawai tuna, data VMS
PELUANG PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI BERBASIS PERIKANAN LAUT DI DUSUN PAYANGAN DESA SUMBEREJO KECAMATAN AMBULU KABUPATEN JEMBER Syamsul Hadi; Nurul Fathiyah Fauzi
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 7 No. 2 (2016): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (465.843 KB) | DOI: 10.29244/jmf.7.2.191-201

Abstract

ABSTRACTThe  development  of  agro-industries  through  the  development  of  domestic  industry  based fisheries  in  the  Payangan  hamlet  Sumberejo  District  of  Ambulu  Jember  faced  with  various problems that started from the central issue is the level of knowledge and skills  is relatively low, the ownership of venture capital is relatively limited, the production activities as individuals not groups, access  difficult  commercial  lending  and  access  to  technology  is  also  difficult.  These  conditions resulted  in  labor  productivity  and  production  quality  is  low.  The  purpose  of  this  study  were:  1) Knowing  the  agro-industry  development  opportunities  based  marine  fisheries;  2)  Analyze  the added value of the fish catch if processed further; and 3) to analyze the socio-economic factors that affect  the  chances  of  developing  agro-industries  based  marine  fisheries.  The  method  used  is descriptive quantitative and qualitative survey techniques. Types of populations in this study were fishermen and craftsmen, artisans and fishermen of each sampl e taken as many as 10, 11 and 9 of the  techniques  of  simple  random  sampling  and  quota  sampling,  while  the  data  collection techniques  used  depth  Interview.  Analysis  of  the  data  used  to  answer  the  purpose  of  the  first, second  and  third  use  analysis  tools  respective  R  /  C  Ratio,  Value-added  models  Hayami  and probability  cumulative  logit  model.  The  results  of  this  study  concluded:  1)  Opportunities-based agro-industrial development of marine fish in the study area is wide open (R / C = 4.61); 2) Activity based  agro-industry  marine  fish  that  includes  pemindangan,  fogging  and  making  shrimp  paste provide  added  value  as  much  as  Rp  43,672.02  per  kg  per  production  process;  and  3) Simultaneously  five  independent  variables  significantly  affect  the  chances  of  developing  agroindustry  and  the  partial  factor  significant  business  experience,  whereas  other  estimators  factors had no significant effect.Keywords: added value, agro-industry, development opportunities ABSTRAK Pengembangan  agroindustri  melalui  pengembangan  industri  rumah  tangga  yang  berbasis perikanan  di  Dusun  Payangan  Desa  Sumberejo  Kecamatan  Ambulu  Kabupaten  Jember dihadapkan pada berbagai masalah  yang  dimulai dari masalah pokok  yaitu tingkat pengetahuan dan ketrrampilan relatif rendah, kepemilikan modal usaha relatif terbatas, kegiatan produksi secara perseorangan tidak berkelompok, akses pinjaman modal usaha sulit dan akses teknologi juga sulit. Kondisi ini mengakibatkan produktivitas tenaga kerja dan kualitas produksi menjadi rendah. Tujuan penelitian ini adalah: 1) Mengidentifikasi peluang pengembangan agroindustri berbasis perikanan laut;   2)  Menganalisis  nilai  tambah  hasil  tangkapan  dalam  bentuk  olahan;   dan  3)  Menganalisis faktor  sosial  ekonomi  yang  mempengaruhi  peluang  pengembangan  agroindustri  berbasis perikanan  laut.  Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif-kuantitatif dan kualitatif melalui teknik  survei.  Target  responden  adalah  nelayan  sekaligus  pengrajin,  pengrajin  dan  nelayan, sebanyak masing-masing 10, 11 dan 9 orang melalui teknik  simple  random sampling  dan quota sampling.   Teknik  pengumpulan  data  digunakan  depth  Interview.  Analisis  data  yang  digunakan untuk  menjawab  tujuan  pertama,  kedua  dan  ketiga  digunakan  alat  analisis  masing-masing  R/C Ratio, nilai tambah model Hayami dan probabilitas komulatif Model Logit. Adapun hasil penelitian ini menyimpulkan: 1)  Peluang pengembangan agroindustri berbasis ikan laut di daerah penelitian sangat  terbuka  lebar  (R/C  =  4,61);  2)  Kegiatan  agroindustri  berbasis  ikan  laut  yang  meliputi pemindangan,  pengasapan  dan  pembuatan  terasi  memberikan  nilai  tambah  sebanyak  Rp43.672,02 per kg per proses produksi; dan 3)  Secara simultan kelima variabel bebas berpengaruh nyata  terhadap  peluang  pengembangan  agroindustri  dan  secara  parsial  faktor  pengalaman berusaha berpengaruh nyata, sedangkan faktor penduga lainnya  tidak berpengaruh nyata.Kata kunci: nilai tambah, agroindustri, peluang pengembangan
ASPEK LINGKUNGAN SIGNIFIKAN DI PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA NIZAM ZACHMAN JAKARTA (Significant Environmental Aspects at Jakarta Nizam Zachman Fishing Port) Retno Muninggar; Ernani Lubis; Budhi H Iskandar; John Haluan
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 7 No. 2 (2016): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.507 KB) | DOI: 10.29244/jmf.7.2.203-210

Abstract

ABSTRACTIdentification  of  significant  environmental  aspects  in  port  is  to  assist  the  Port  Authority  in prioritizing  environmental  management  activities.  The  objectives  of  this  study  are  to  dentify  the significant environment aspects and to analize environmental controlling at PPSNZJ. In this study, the  identification  of  environmental  aspects  in  Jakarta  Nizam  Zachman  Fishing  Port  (PPSNZJ) conducted  by  Strategic  Overview  of  Significant  Environmental  Aspects  procedur   and  were modified according  to  the characteristics  of the fishing harbor.. The results showed the significant environmental aspects in PPSNZJ were: 1) waste production (IF value =4.96), 2) water pollution (IF value  =  4.83)  and  Energy  Consumption  (IF  Value  =  4.16).  PPSNZJ  has  been  controlling  the environmental management aspects of waste production and social interaction. It was implemented under the Security and Sanitation Programme. The water pollution controlling was limitted to waste treatment and sea water reverse osmosis facility.Keywords:  environmental,  port,  Nizam  Zachman  Fishingport,  Strategic  Overview  of  Significant Environmental Aspects (SOSEA)ABSTRAKKegiatan  identifikasi  aspek  lingkungan  signifikan  di  pelabuhan  dilakukan  untuk mempermudah  pengelola  pelabuhan  dalam  memprioritaskan  kegiatan  pengelolaan  lingkungan. Tujuan  penelitian  ini  adalah  untuk  mendapatkan  aspek  lingkungan  yang  signifikan  dan menganalisis  pengelolaan  lingkungan  yang  telah  dilakukan  PPSNZJ.  Dalam  penelitian  ini, identifikasi  aspek  lingkungan  di  Pelabuhan  Perikanan  Nusantara  Ni zam  Zachman  (PPSNZJ) dilakukan  dengan  pendekatan  Strategic  Overview  of  Significant  Environmental  Aspects  yang dimodifikasi  sesuai  karakteristik  pelabuhan  perikanan.  Hasil  kajian  menunjukkan  bahwa  aspek lingkungan  signifikan  di  PPSNZJ  adalah:  1)  produksi  sa mpah  (Nilai  IF=4.96);  2)  interaksi  sosial (Nilai  IF=4.83) dan 3) pencemaran air (Nilai  IF=4.16). Pengelolaan lingkungan di PPSNZJ terkait aspek  penanganan  sampah  dan  aspek  pengendalian  interaksi  sosial  telah  dilakukan  melalui serangkaian  kegiatan  di  bawah  program  Kebersihan  Keamanan  dan  Ketertiban  (K3).  Upaya pengelolaan  terkait  aspek  pengendalian  pencemaran  air  baru  dilakukan  pada  fasilitas  Instalasi Pengolahan Limbah dan Sea Water Reverse Osmosis.Kata kunci: lingkungan, pelabuhan, PPS Nizam Zachman, SOSEA
BIOMASSA SESAAT SUMBER DAYA PERIKANAN UNDUR-UNDUR LAUT (CRUSTACEA: DECAPODA: HIPPIDAE) DI PANTAI BERPASIR CILACAP DAN KEBUMEN, JAWA TENGAH Ali Mahsar; Yusli Wardiatno
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 7 No. 2 (2016): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.354 KB) | DOI: 10.29244/jmf.7.2.211-218

Abstract

ABSTRACTMole crab is a benthic animal that live buried in sandy beach in the intertidal area. Mole crab has  an  important  ecological  role  and  also  has  economic  value.  The  sandy  beach  in  south  of Cilacap  and  Kebumen  is  mole  crab’s  habitat.  Mole  crab  exploitation  in  these  areas  has  been increasing  for  consumption  demand.  To  determine  the  significant  role  of  the  mole  crab  in  the provision  of  nutritious  food,  it  is  necessary  to  estimate  the  potential  of  mole  crab  biomass.  This study  aims  to  determine  standing  biomass  of  the  mole  crab  in  Kebumen  and  Cilacap  sandy beaches.  The  specimen  collection  was  conducted  by  sampling  methods  every  month  in  March 2012 to February 2013 on Bocor beach, Kebumen and June 2013 to May 2014 on Bunton beach, Cilacap. The data processing was conducted by descriptive statistics methods. The results showed that standing biomass of mole crab family Hippidae, namely Emerita emeritus and Hippa adactyla, fluctuated between 102 and 508 kg on the Kebumen sandy beach, and between 1,811 and 4,671 kg on the Cilacap sandy beach. Standing biomass of E. emeritus fluctuated between 82 and 497 kg on  the  Kebumen  sandy  beach  and  between  1,462  and  3,560  kg  on  the  Cilacap  sandy  beach.Standing biomass of H. adactyla fluctuated between 2 and 133 kg on the Kebumen sandy beach, and between 234 and 1,701 kg on the Cilacap sandy beach. The difference in standing biomass in each  location  was  caused  by  the  difference  of  sampling  time  and  environment  condition  of research area. The economic value potential of the mole crab as fishery resources is discussed.Keywords: Emerita emeritus, Hippa adactyla, Hippidae, momentarily biomass,ABSTRAKUndur-undur laut adalah kelompok hewan bentik yang hidup  mengubur di daerah intertidal bersusbtrat pasir. Undur-undur laut mempunyai peran ekologis penting dan juga bernilai ekonomis. Pantai  berpasir  selatan  Cilacap  dan  Kebumen  adalah  habitat  undur-undur  laut.  Penangkapan undur-undur  laut  di  kedua  wilayah  tersebut  makin  meningkat  untuk  kebutuhan  konsumsi.  Untuk mengetahui  peran  undur-undur  laut  dalam  mendukung  penyediaan  bahan  pangan  bergizi,  perlu diketahui potensi biomassa undur-undur laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui biomassa sesaat  undur-undur  laut  dan  fluktuasinya  di  pantai  berpasir  Kabupaten  Kebumen  dan  Cilacap. Pengumpulan  spesimen  undur-undur  laut  dilakukan  dengan  metode  sampling  setiap  bulan  pada Maret 2012 hingga Februari 2013 di pantai Bocor Kebumen dan pada Juni 2013 hingga Mei 2014 di  pantai  Bunton  Cilacap.  Pengolahan  data  dilakukan  dengan  metode  statistik  deskriptif.  Hasil penelitian  menunjukkan  bahwa  besaran  biomassa  sesaat  (standing  biomass)  undur-undur  laut famili Hippidae, yaitu  Emerita emeritus  dan  Hippa adactyla, berfluktuasi  antara 102 kg hingga 508 kg di pantai berpasir Kebumen, dan antara 1.811 kg hingga 4.671 kg di pantai berpasir Cilacap. Standing biomass E. emeritus berfluktuasi antara 82 kg hingga 497 kg di pantai berpasir Kebumen dan  antara  1.462  kg  hingga  3.560  kg  di  pantai  berpasir  Cilacap.  Standing  biomass  H.  adactylaberkisar antara 2 kg hingga 133 kg di pantai berpasir Kebumen, dan antara 234 kg hingga 1.701 kg di  pantai  berpasir  Cilacap.  Perbedaan  besaran  standing  biomass  di  masing-masing  lokasi dipengaruhi  oleh  perbedaan  waktu  pengumpulan  data  undur-undur  laut  dan  perbedaan  kondisi lingkungan  lokasi  penelitian.  Potensi  ekonomi  sebagai  sumber  daya  perikanan  undur -undur  laut juga dibahas dalam paper ini.Kata kunci: Emerita emeritus, Hippa adactyla, Hippidae, biomassa sesaat

Filter by Year

2010 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 17 No. 1 (2026): Marine Fisheries: Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 16 No. 2 (2025): Marine Fisheries: Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 16 No. 1 (2025): Marine Fisheries: Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 15 No. 2 (2024): Marine Fisheries: Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 15 No. 1 (2024): Marine Fisheries: Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 14 No. 2 (2023): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 14 No. 1 (2023): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 13 No. 2 (2022): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 13 No. 1 (2022): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 12 No. 2 (2021): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 12 No. 1 (2021): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 11 No. 2 (2020): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 11 No. 1 (2020): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 10 No. 2 (2019): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 10 No. 1 (2019): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 9 No. 2 (2018): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 9 No. 1 (2018): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 8 No. 2 (2017): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 8 No. 1 (2017): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 7 No. 2 (2016): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 7 No. 1 (2016): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 6 No. 2 (2015): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 6 No. 1 (2015): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 5 No. 2 (2014): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 5 No. 1 (2014): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 4 No. 2 (2013): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 4 No. 1 (2013): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 3 No. 2 (2012): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 3 No. 1 (2012): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 2 No. 2 (2011): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 2 No. 1 (2011): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 1 No. 2 (2010): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut More Issue