cover
Contact Name
Munirah Tuli
Contact Email
munirahtuli@ung.ac.id
Phone
+62251-8622935
Journal Mail Official
marfish.journal@gmail.com
Editorial Address
Department of Fisheries Resources Utilization Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Bogor Agricultural University.
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
ISSN : 20874235     EISSN : -     DOI : https://doi.org/10.29244/jmf.6.2.109-117
Core Subject : Social,
Aims: MARINE FISHERIES aims to publish an original research focused on technology and management of capture fisheries, such as fishing equipment, management and transportation of fishing vessel, port management, and technology of capture fisheries.
Articles 311 Documents
Preview Yopi Novita
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 7 No. 2 (2016): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11.187 KB) | DOI: 10.29244/jmf.7.2.%p

Abstract

Preview
POLA USAHA MASYARAKAT NELAYAN DI DESA MAJAKERTA, KECAMATAN BALONGAN-KABUPATEN INDRAMAYU (Business Pattern of Fishermen in Majakerta Village, Balongan District-Indramayu Regency) Thomas Nugroho; . Sulistiono
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 8 No. 1 (2017): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.081 KB) | DOI: 10.29244/jmf.8.1.1-12

Abstract

ABSTRACTCapture fisheries business is a collective action in exploiting fisheries resources. It describes ability and dependency of community to capture fisheries resource that interestingly to be studied. The study was conducted for observing socio economic condition and analyzing small scale business of fishermen in Majakerta village Balongan Indramayu.  The survey method was used in this study, with purposive random sampling for collecting samples as many as 10 respondents. The results showed that a small scale business of fishing had an important role for fishermen community in Majakerta village.  Fishermen traditionally catch it, and they could be sustainable to do their business. It had financially profited with B / C ratio> 1.5 and payback period <= a year.Keywords: fishermen, Majakerta village, small scale capture fisheryABSTRAKUsaha penangkapan ikan oleh nelayan kecil merupakan aksi kolektif dalam memanfaatkan sumberdaya perikanan.  Aksi tersebut mencerminkan dua hal yang menarik untuk diteliti yaitu keberdayaan dan ketergantungan masyarakat pada sumberdaya perikanan tangkap.  Penelitian dilakukan untuk mengetahui kondisi sosial ekonomi dan menganalisis pola usaha skala kecil nelayan di Desa Majakerta, Kecamatan Balongan Kabupaten Indramayu.  Metode penelitian yang digunakan adalah survei dengan metode pengambilan sampel secara purposive random sampling yaitu sebanyak 10 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha perikanan tangkap skala kecil memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat nelayan di Desa Majakerta.  Masyarakat nelayan melakukan kegiatan penangkapan ikan secara tradisional dan dapat menjalankan usahanya secara berkelanjutan.  Secara finansial, pola usaha penangkapan udang, ikan, dan rajungan menguntungkan dengan B/C ratio > 1.5 dan payback period <= 1 tahun.Kata kunci: nelayan, Desa Majakerta, perikanan tangkap skala kecil
KOMPETENSI NAKHODA KAPAL RAWAI TUNA DI PALABUHANRATU DITINJAU DARI STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA (SKKNI) (Competency of Tuna Longliner Captain at Palabuhanratu, Viewed From Indonesian National Working Competency Standards (SKKNI)) Tri Wiji Nurani; Yasinta Anugerah; Muhammad Fedi A. Sondita
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 8 No. 1 (2017): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.916 KB) | DOI: 10.29244/jmf.8.1.13-23

Abstract

ABSTRACTIndonesian government has prepared a standard for assessing the competencies of human resources in the field of fisheries, through the formulation of Indonesian National Occupational Competency Standards (INOCS). Captain of fishing vessels has an important role to the success of fishing operations, which must be supported by adequate competencies. This research aimed to describe INOCS in the field of fishing; and to assess the competence of the Captain of longline fishing vessels according to the INOCS. Data analysis was carried out by descriptive and gap analysis method. The result of the study showed that the competency of the Captain had been formulated, included five units of competencies with twenty elements of competencies. Among them, ten elements of competencies had been achieved, while the other ten competencies still had gaps. Elements of competency that has been achieved are mostly in accordance with the level V, while the level VI had not been achieved yet.Keywords: captain, competency, gap analysis, SKKNI, tuna longlineABSTRAKPemerintah Indonesia telah mempersiapkan perangkat untuk menilai kompetensi sumberdaya manusia di bidang perikanan, melalui perumusan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Nakhoda kapal penangkap ikan tuna memiliki peran penting untuk keberhasilan operasi penangkapan ikan, yang harus didukung oleh kompetensi yang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari SKKNI di bidang penangkapan ikan; dan menilai kompetensi Nakhoda sesuai SKKNI. Analisis dilakukan secara deskriptif dengan menggunakan analisis kesenjangan (gap).  Hasil penelitian menyatakan bahwa unit kompetensi nakhoda telah dirumuskan dengan baik. Terdapat lima unit kompetensi dengan dua puluh elemen kompetensi.  Sepuluh elemen kompetensi telah tercapai, sementara itu sepuluh elemen kompetensi lainnya masih terdapat gap. Elemen kompetensi yang sudah tercapai sebagian besar adalah sesuai dengan jenjang V, sementara itu yang belum tercapai pada jenjang VI.Kata kunci: nakhoda, kompetensi, analisis kesenjangan, SKKNI, tuna longline
SISTEM PEMANFAATAN IKAN TUNA DI NUSA TENGGARA (Tuna Utilization System in Nusa Tenggara) Soraya Gigentika; Tri Wiji Nurani; Sugeng Hari Wisudo; John Haluan
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 8 No. 1 (2017): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.243 KB) | DOI: 10.29244/jmf.8.1.24-37

Abstract

ABSTRACTCompetition of tuna utilization in Nusa Tenggara has resulted in the inclining toward irresponsible utilization, which causes various issuess of tuna utilization system in Nusa Tenggara. The objectives of this research are to identify the issues of tuna utilization system in Nusa Tenggara and the root of  issues. Analysis data used three steps of Soft System Methodology (SSM), there were understanding of the issues situation, established issues situation, and establish the issues definition. The results showed the issues in tuna utilization system  in Nusa Tenggara are illegal installation of FADs; the depleted productivity of tuna fishing unit; inefficient fishing capacity utilization and over-input production input on tuna fishing units, fishermen catch baby tuna (undersized tuna), in optimal quality of landed tuna and conflicts related to FADs utilization.  The solution that can be performed for these problems are: 1) Strict and effective law enforcement for illegal FADs and ideal allocated number of FAD's; 2) determining of optimum allocation number for tuna fishing unit (effort) and the right time for close session; 3) determining the size of the ship which is efficient and determining the optimum amount of effort; 4) Establishing the regulations related to baby tuna fishing, developing the fishing technology which minimizes the catch of baby tuna and controlling the season and the location of the tuna fishing activities; 5) facilitating and training the fishermen and tuna fishing companies or trader for cold-chain handling; and 6) strict and effective law enforcement for fishermen trespassing the fishing area.Keywords: Nusa Tenggara, root definition, tuna utilization system, Soft System MethodologyABSTRAKPersaingan dalam pemanfaatan ikan tuna di Nusa Tenggara mengakibatkan kegiatan pemanfaatan tersebut menjadi cenderung ke arah yang tidak bertanggungjawab, sehingga muncul berbagai permasalahan pada sistem pemanfaatan ikan tuna. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi permasalahan  sistem pemanfaatan ikan tuna di Nusa Tenggara dan upaya yang diperlukan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Analisis data pada penelitian ini menggunakan tiga tahapan Soft System Methodology (SSM), yaitu memahami situasi permasalahan, menyusun situasi permasalahan, dan menyusun definisi permasalahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permasalahan pada sistem pemanfaatan ikan tuna di Nusa Tenggara adalah pemasangan rumpon tanpa ijin, penurunan produktivitas unit penangkapan ikan tuna, belum efisiennya pemanfaatan kapasitas dan berlebihnya input produksi pada unit penangkapan ikan tuna, penangkapan baby tuna, belum optimalnya mutu ikan tuna yang didaratkan, serta adanya konflik penggunaan rumpon. Upaya penyelesaian yang dapat dilakukan untuk permasalahan-permasalahan tersebut adalah: 1) penegakkan hukum yang tegas dan efektif untuk rumpon yang tidak berijin serta penentuan alokasi jumlah rumpon yang ideal; 2) penentuan alokasi jumlah effort optimum untuk unit penangkapan ikan tuna dan waktu yang tepat untuk close session; 3) penentuan ukuran kapal yang efisien dan jumlah effort yang optimal; 4) pembuatan regulasi terkait penangkapan baby tuna, pengembangan teknologi penangkapan yang meminimalkan hasil tangkapan baby tuna, serta pengaturan musim dan lokasi penangkapan ikan tuna; 5) penyediaan fasilitas serta pelatihan kepada nelayan dan perusahaan perikanan tuna atau pengumpul ikan tuna untuk penanganan rantai dingin; serta 6) penegakkan hukum yang tegas dan efektif untuk nelayan yang melanggar jalur penangkapan ikan.Kata kunci:  Nusa Tenggara, root definition, sistem pemanfaatan ikan  tuna, Soft System Methodology
RESPONS DAN ADAPTASI IKAN TERI (Stolephorus sp.) TERHADAP LAMPU LIGHT EMITTING DIODE (LED) (Response and Adaptation of Anchovy (Stolephorus sp.) to Light Emitting Diode (LED) Lamp) Adi Susanto; Aristi Dian Purnama Fitri; Yuhelsa Putra; Heri Susanto; Tuti Alawiyah
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 8 No. 1 (2017): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.422 KB) | DOI: 10.29244/jmf.8.1.39-49

Abstract

ABSTRACTInnovation of LED lamp are encouraged the research and development to obtain effective and eco-friendly fishing lamp. However, information about response, behaviour and retina adaptation of main target species to LED light are still limited. Meanwhile, this information is a key to determining intensity of effective LED light for fishing operation. The aims of this study are to determine response and retina adaptation of anchovy (Stolephorus sp.) to different LED colour. This research was performed to the anchovies with total length 4.80-6.10 cm, which were acclimated in the fish tank. Fish response was observed visually and recorded by video camera. Retina adaptation was analysed by using histology method through pigment and cone index at light zone respectively. The results showed the fish response to white LED 3.4 times was faster than blue LED. However times duration of anchovy at the lighting area was 1.8 times longer in the area of blue lighting. The anchovies were more responsive to white LED (p value= 0.0033) with the average number of fish was 45 individuals. White LED with illumination between 42-96 lux was the optimal illumination for fishing operation which can reach the highest cone index about 64-73%.Keywords: cone index, effectiveness, fishing, illuminationABSTRAKPenemuan lampu LED mendorong berkembangnya penelitian untuk menghasilkan fishing lamp yang lebih efektif dan ramah lingkungan. Namun informasi tentang respons, tingkah laku dan adaptasi retina mata ikan target tangkapan terhadap cahaya lampu LED masih terbatas. Pada dasarnya, informasi tersebut menjadi kunci dalam penentuan intensitas cahaya lampu LED yang efektif untuk penangkapan ikan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan respons dan adaptasi retina mata ikan teri (Stolephorus sp.) terhadap lampu LED dengan warna berbeda. Penelitian menggunakan ikan teri dengan panjang total antara 4,80-6,10 cm yang telah melalui proses aklimatisasi dalam bak penampungan. Pengamatan terhadap respons ikan teri dilakukan secara visual dan direkam dengan video kamera. Adaptasi retina mata ikan teri diamati berdasarkan hasil histologi dengan melihat nilai indeks pigmen dan indeks kon pada masing-masing zona pencahayaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan teri 3,4 kali lebih cepat merespons lampu LED putih dibandingkan terhadap lampu LED biru. Namun ikan teri bertahan 1,8 kali lebih lama di area pencahayaan warna biru. Ikan teri lebih memberikan respons yang lebih baik pada LED putih (p value= 0,0033) dengan rata-rata jumlah ikan yang berkumpul di area pencahayaan sebanyak 45 ekor. Lampu LED warna putih dengan iluminasi cahaya antara 42-96 lux merupakan lampu paling ideal untuk penangkapan teri karena menghasilkan adaptasi sel kon paling tinggi dengan indeks kon antara 64-73%.Kata kunci:  indeks kon, efektivitas, penangkapan, iluminasi
RESPONS IKAN ZEBRA EKOR HITAM (Dascyllus melanurus) TERHADAP PENGGUNAAN ANAESTESI MINYAK CENGKEH SEBAGAI ALAT BANTU PENANGKAPAN PADA SKALA LABORATORIUM (Response of Zebra Fish Blacktail (Dascyllus melanurus) on the use of Clove Oil Anesthesia as a ... Sri Wahyuni Rahim
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 8 No. 1 (2017): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.498 KB) | DOI: 10.29244/jmf.8.1.51-61

Abstract

ABSTRACTThe process of catching fish using an anesthetic technique is inseparable from the use of synthetic chemicals (cyanide) that negatively impact the target fish, non-target and on coral reefs. One way to reduce the negative impact of cyanide is to look for another alternative that are environmental friendly. One alternative is clove oil. The objectives of study are to determine the optimal concentration of clove oil on the induction and recovery time of zebra fish blacktail (Dascyllus melanurus). Samples used were captured without using cyanide.  A tank with dimension 30 x 40 x 50 m filled with sea water was mixed with different concentrations of clove oil. The experiment was repeated three times. Observation of the behavior was performed to determine the induction and recovery time. The results showed the longest induction time were observed in concentration of 20 ppm with an average time of 321.33 seconds and the fastest time of induction was recognized in concentration of 60 ppm with an average time of 28.33 seconds. Longest recovery time was at a concentration of 20 ppm with an average time of 188.33 seconds and the fastest recovery time was at a concentration of 40 ppm with an average time of 80.67 seconds. Clove oil concentration of 40 ppm was most effective in fishing with induction time ranged from 40-48 seconds, and recovery time ranges from 72-91 seconds.Keywords: clove oil, induction time, recovery time, zebra fish blacktailABSTRAKProses penangkapan ikan dengan menggunakan teknik pembiusan tidak terlepas dari penggunaan bahan kimia sintetik (sianida) yang berdampak negatif terhadap ikan target, non-target serta pada terumbu karang. Salah satu cara untuk mengurangi dampak negatif dari sianida adalah dengan mencari alternatif lain yang ramah lingkungan. Salah satu alternatif yang digunakan adalah minyak cengkeh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi optimal minyak cengkeh terhadap waktu induksi dan waktu pulih ikan zebra blacktail (Dascyllus melanurus). Sampel yang digunakan ditangkap tanpa mengggunakan sianida.  Akuarium berukuran 30 x 40 x 50 m diisi dengan air laut. Kemudian dimasukkan beberapa konsentrasi minyak cengkeh yang berbeda (20, 30, 40, 50 dan 60 ppm). Pengamatan terhadap tingkah laku dilakukan untuk menentukan waktu induksi dan waktu pulih. Hasil penelitian menunjukkan waktu induksi terlama terdapat pada konsentrasi 20 ppm dengan waktu rata-rata 321,33 detik dan waktu induksi tercepat terdapat pada konsentrasi 60 ppm dengan waktu rata-rata 28,33 detik. Waktu pulih terlama terdapat pada konsentrasi 20 ppm dengan waktu rata-rata 188,33 detik dan waktu pulih tercepat terdapat pada konsentrasi 40 ppm dengan waktu rata-rata 80,67 detik. Penelitian ini menunjukkan bahwa konsentrasi minyak cengkeh 40 ppm merupakan konsentrasi yang paling efektif dalam proses penangkapan ikan zebra blacktail (Dascyllus melanurus) dengan waktu induksi berkisar 40 – 48 detik dan waktu pulih berkisar 72 – 91 detik.Kata kunci:  minyak cengkeh, waktu Induksi, waktu pulih, ikan zebra blacktail
POLA MUSIM PENANGKAPAN CUMI-CUMI DI PERAIRAN LUAR DAN DALAM DAERAH PENAMBANGAN TIMAH KABUPATEN BANGKA SELATAN (Squid Fishing Seasons Pattern Inside and Outside Waters of Tin Mining Area in South Bangka District) Arif Febrianto; Domu Simbolon; John Haluan; . Mustaruddin
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 8 No. 1 (2017): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428.823 KB) | DOI: 10.29244/jmf.8.1.63-71

Abstract

ABSTRACTSquid fishing inside and outside waters of tin mining area in South Bangka District is carried out by using boat lift nets, stationary lift nets, and hand lines. Squid fishing activities need effective information to achieve maximum results. Good information related to fishing areas and seasonsfor squid fishing can optimize the cost of fishing operations, time and energy. An alternative solution is understanding the patterns of the squid fishing seasons. The objective of this research is to analyze the patterns of the squid fishing seasons outside and inside waters of tin mining area in South Bangka District. Collecting data was done from January to December 2013. This research applied a descriptive survey method using a case study. The results indicatedsquid fishing season outside waters of tin mining area is in September, October, and November (Musim Peralihan II). Whereas in the inside waters of tin mining area, the best season for squid fishing is December, January, and February (Musim Barat), with the highest is in December.Keywords: fishing, patterns of the season, South Bangka, squidABSTRAKPenangkapan cumi-cumi di wilayah perairan luar dan dalam daerah penambangan timah di Kabupaten Bangka Selatan dilakukan dengan menggunakan bagan perahu, bagan tancap, dan pancing. Kegiatan penangkapan cumi-cumi diperlukan informasi yang efektif agar hasil tangkapan bisa mencapai hasil yang maksimal. Informasi yang berkaitan dengan area dan musim dimana cumi-cumi bisa tertangkap dalam jumlah yang besardapat menghemat biaya operasi penangkapan, waktu dan tenaga.Salah satu alternatif yang menawarkan solusi terbaik adalah mengetahui pola musim penangkapan cumi-cumi.Tujuan penelitian adalah menganalisis pola musim penangkapan cumi-cumi di wilayah perairan luar dan dalam daerah penambangan timah Kabupaten Bangka Selatan. Penelitian telah dilaksanakan di wilayah perairan Kabupaten Bangka Selatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pengambilan data di lapangan dilakukan dari bulan Januari sampai bulan Desember 2013. Metode dalam penelitian ini adalah metode deskriptif survei yang bersifat studi kasus (case study). Hasil penelitian menunjukkan bahwa musim cumi-cumi di wilayah perairan luar daerah penambangan timah laut Kabupaten Bangka Selatan, terjadi pada Musim Peralihan II (September, Oktober, dan November) dan puncak musimnya pada bulan November. Sedangkan di wilayah perairan daerah penambangan timah laut, yaitu pada Musim Barat (Desember, Januari, dan Februari) dan puncak musimnya pada bulan Desember.Kata kunci:  penangkapan, pola musim, Bangka Selatan, cumi-cumi
KINERJA KELOMPOK USAHA BERSAMA (KUB) NELAYAN GILLNET DI BARSELA ACEH Muhammad Rizal; Budy Wiryawan; Sugeng Hari Wisudo; Iin Solihin; John Haluan
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 8 No. 1 (2017): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.809 KB) | DOI: 10.29244/jmf.8.1.73-86

Abstract

ABSTRACTNowadays, the development of fisheries strategic issues is related to poverty and welfare of fishermen. In 2010 - 2014, Ministry of Marine and Fisheries implemented Business Development Program of Rural Area by creating a Joint Business Group (JBG) to help traditional and small scale fishermen who categorized as poor. This study aimed to determine the performance of JBG of gillnet fishermen and to identify the attributes of performance (aspects of institutional, socio-cultural, economic, environmental and policy) in Barsela Aceh. Data was collected by purposive sampling method from 13 JBG of gillnet fishermen. IPA analysis and gap analysis were performed to measure each attribute and attribute's performance. The results showed that the value of the gap in the aspect of the institution of 1.87, and socio-cultural aspect of 1.91, which are categorized as good enough. Furthermore, the value of the economic aspect (2,12), environmental aspect (2,43) and policy aspect (2.21) are categorized as less good. The attributes which categorized as a top priority (in quadrant A) are the aspect of institution, namely; human resources quality of JBG, the level of utilization of information technology and marketing, participation in training event, frequency of training held by related agencies and traditional institutions and the effectiveness of PPTK. Socio-cultural aspects are the desire to be independent culture, work ethic culture, group cohesiveness, and JBG assets are jointly managed. In economic aspect are active savings and loan activities, the level of turnover development of JBG and the level of market opportunities for JBG fishermen's business. Environmental aspects are the effectiveness of target fish species catch, high economic value of fish and environment-friendly technologies. Policy aspects are sanctioned policies for fictitious JBG, policies about who can become a member of JBG, policy management in preparing a joint business plan and sanctions for members who violate the rules.Keywords: Barsela Aceh, JBG, gillnet fishermenABSTRAKPerkembangan isu strategis perikanan saat ini adalah kemiskinan dan kesejahteraan nelayan. Kementerian Kelautan dan Perikanan Tahun 2010-2014 melaksanakan Program Pengembangan Usaha Mina Perdesaan (PUMP) dengan membuat Kelompok Usaha Bersama (KUB) untuk membantu nelayan tradisional dan kecil yang masih tergolong miskin. Penelitian ini bertujuan yaitu mengetahui kinerja KUB nelayan gillnet dan mengidentifikasi atribut kinerjanya (aspek lembaga, sosial budaya, ekonomi, lingkungan dan kebijakan) di Barsela Aceh. Metode pengambilan data purposive sampling, dimana data diambil secara sengaja pada 13 KUB nelayan gillnet. Analisis data yang digunakan yaitu analisis IPA untuk menilai setiap atribut dan analisis kesenjangan (gap) untuk menilai kinerja setiap atribut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kesenjangan pada aspek lembaga (1,87) dan aspek sosial budaya (1,91) yaitu katagori cukup baik. Selanjutnya nilai pada aspek ekonomi (2,12), aspek lingkungan (2,43) dan aspek kebijakan (2,21) yaitu katagori kurang baik. Serta atribut yang prioritas yaitu posisi atribut kuadran A (diprioritaskan) pada aspek lembaga adalah kualitas SDM KUB, tingkat pemanfaatan akses informasi teknologi dan pemasaran, keikutsertaan kegiatan pelatihan, intensitas pembinaan dari instansi terkait dan lembaga adat dan keefektifan PPTK. Aspek sosial budaya adalah budaya ingin mandiri, budaya etos kerja, kekompakan kelompok, dan aset KUB dikelola secara bersama. Aspek ekonomi adalah aktifnya kegiatan simpan pinjam, tingkat perkembangan omset KUB dan tingkat peluang pasar untuk usaha KUB nelayan. Aspek lingkungan adalah efektivitas jenis ikan target yang tertangkap, ikan ekonomis tinggi dan teknologi ramah lingkungan. Aspek kebijakan adalah aturan sanksi bagi KUB fiktif, kebijakan tentang yang bisa menjadi anggota KUB, kebijakan manajemen dalam menyusun rencana usaha bersama dan aturan sanksi bagi anggota yang melanggar.Kata kunci:  Barsela Aceh, KUB, nelayan gillnet
LIGHT EMITTING DIODE (LED) HIJAU DAN PENGARUHNYA TERHADAP PENGURANGAN BYCATCH PENYU PADA PERIKANAN GILLNET DI PERAIRAN PALOH (Green Light Emitting Diode (LED) and its Effect on Sea Turtle Bycatch Reduction of Gillnet Fisheries in Paloh Waters) Ganang Dwi Prasetyo; Ronny Irawan Wahju; Roza Yusfiandayani; Mochammad Riyanto
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 8 No. 1 (2017): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (703.83 KB) | DOI: 10.29244/jmf.8.1.87-99

Abstract

ABSTRACTBycatch problem is a global issue and can be a driver of marine megafauna declines in the world, such as sea turtle, where is the animal's status as endangered species. Green Light Emitting Diode (LED) is known as an innovative technology to reduce sea turtle bycatch without reduce target catch effectively. The use of green LED in order to reduce sea turtle bycatch in gillnet fisheries was carried out in Paloh Coast, West Borneo during August to October 2015. Experiment performed a total of 20 settings with gillnet fleets operate two units simultaneously, ie gillnet control (without LED lights) and gillnet experiment (with LED lights). Turtles caught predominantly were in the juvenile phase as 57.14% and the potential location of capture sea turtle bycatch in station 2 (1˚52' - 1˚56' LU and 109˚14' - 109˚18' BT). The results, showed that the green turtle (Chelonia mydas) were caught of 7 turtles, were captured by control gillnet 6 turtles with an CPUE 0.29 ± 0.03 Turtle/E, while by experimental gillnet 1 turtle with an CPUE by 0,04 ± 0,009 Turtle/E. The used of green LED light was significantly reduce sea turtle bycatch of 85% without decreasing target catch.Keywords: CPUE, green LED light, sea turtle bycatchABSTRAKPermasalahan terkait bycatch merupakan isu utama global yang dapat mengancam penurunan populasi megafauna laut seperti penyu yang telah berstatus endangerd species. Lampu LED merupakan inovasi teknologi untuk mengurangi bycatch penyu tanpa mengurangi hasil tangkapan ikan utama secara efektif. Penggunaan lampu Light Emmitting Diode (LED) hijau untuk mengurangi bycatch penyu pada perikanan jaring insang (gillnet) dilakukan di perairan Paloh, Kalimantan Barat selama bulan Agustus hingga Oktober 2015. Uji coba dilakukan dengan menggunakan 2 unit kapal gillnet yang dioperasikan di setiap stasiun pengamatan secara bersamaan dengan jumlah ulangan sebanyak 20 kali, diantaranya gillnet kontrol (tanpa lampu LED) dan gillnet eksperimen (dengan lampu LED). Penyu yang tertangkap cenderung didominasi oleh fase juvenile sebesar 57,14% dan lokasi potensi tertangkapnya bycatch penyu pada stasiun 2 (1˚52' - 1˚56' LU dan 109˚14' - 109˚18' BT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyu yang tertangkap merupakan penyu hijau (Chelonia mydas) berjumlah 7 ekor, terdiri dari 6 ekor tertangkap pada gillnet kontrol dengan CPUE 0,29 ± 0,03  ekor/E, dan 1 ekor pada gillnet eksperimen dengan CPUE 0,04 ± 0,009 ekor/E. Penggunaan lampu LED hijau memberikan pengaruh secara significant untuk mengurangi bycatch penyu dengan persentase pengurangan sebesar 85% tanpa mengurangi hasil tangkapan ikan utama.Kata kunci:  CPUE, lampu LED hijau, bycatch penyu
PRODUKTIVITAS ALAT TANGKAP YANG DIOPERASIKAN DI SEKITAR RUMPON LAUT DALAM (Productivity of Fishing Gears Operated Around Deep Sea Fish Aggregating Devices) Muhamad RE Prayitno; Domu Simbolon; Roza Yusfiandayani; Budy Wiryawan
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 8 No. 1 (2017): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (507.528 KB) | DOI: 10.29244/jmf.8.1.101-112

Abstract

ABSTRACTRumpon or Fish Aggregating Devices (FADs) had been used by purse seine and handline fishermen in Pacitan Regency since 2005. The use of rumpon has been associated with the catching of immature fishes in large number that would disrupt the sustainability of fish resources.  The aims of this study were to measure fishing productivity of purse seine and handline fleets operated around FADs deployed in eastern Indian Ocean waters and analyze the size distribution and gonad maturity index of the catch. This study was conducted at Tamperan Fishing Port of the Pacitan Regency, East Java Province. Daily fish landing data from both fishing fleets were collected from the Tamperan auction hall from January to December 2014 for productivity calculation. About 289 fish samples from 6 dominant species was taken randomly on-board of 3 purse seine and 2 handlines vessels from 8 different FADs for size distribution and gonad analysis. The average productivity of purse seine fleets in 2014were 6,7 tonnes/trip (s = 5 tonnes/trip) while handling fleets average productivity were 0,9 tons/trip (s = 0,6 tons/trip. Purse seine catch were dominated by immature and juvenile fish while handlines catch were larger and already mature fishes.Keywords: FADs, fishing productivity, gonad analysisABSTRAKRumpon atau Fish Aggregating Devices (FADs) telah digunakan oleh nelayan pukat cincin dan pancing ulur di Kabupaten Pacitan sejak tahun 2005. Penggunaan rumpon seringkali dihubungkan dengan penangkapan ikan yang belum dewasa dalam jumlah yang terlalu banyak sehingga dapat mengganggu keberlanjutan sumber daya ikan.  Penelitian ini bertujuan untuk menghitung produktivitas alat tangkap pukat cincin dan pancing ulur yang dioperasikan dengan menggunakan alat bantu rumpon yang dipasang di Samudera Hindia bagian timur dan menganalisis ukuran dan tingkat kematangan gonad hasil tangkapannya. Penelitian ini dilaksanakan di Pelabuhan Perikanan Tamperan, Kabupaten Pacitan, Propinsi Jawa Timur. Data pendaratan ikan harian selama bulan Januari hingga Desember 2014 diperoleh dari unit pelaksana teknis tempat pelelangan ikan Tamperan untuk perhitungan produktivitas.  Adapun sampel ikan sebanyak 289 ekor diambil dari 3 unit kapal pukat cincin dan 2 unit kapal pancing ulur yang beroperasi di 8 rumpon yang berbeda untuk analisis sebaran ukuran dan tingkat kematangan gonad ikan hasil tangkapan. Produktivitas rata-rata pada tahun 2014 untuk alat tangkap pukat cincin yaitu sebesar 6,7 ton/trip (s = 5 ton/trip), sedangkan pancing ulur yaitu sebesar 0,9 ton/trip (s = 0,6 ton/trip). Hasil tangkapan pukat cincin didominasi oleh ikan berukuran kecil dan belum dewasa, sedangkan pancing ulur menangkap ikan yang berukuran lebih besar dan telah dewasa.Kata kunci:  rumpon, produktivitas penangkapan, analisis gonad

Filter by Year

2010 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 17 No. 1 (2026): Marine Fisheries: Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 16 No. 2 (2025): Marine Fisheries: Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 16 No. 1 (2025): Marine Fisheries: Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 15 No. 2 (2024): Marine Fisheries: Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 15 No. 1 (2024): Marine Fisheries: Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 14 No. 2 (2023): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 14 No. 1 (2023): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 13 No. 2 (2022): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 13 No. 1 (2022): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 12 No. 2 (2021): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 12 No. 1 (2021): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 11 No. 2 (2020): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 11 No. 1 (2020): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 10 No. 2 (2019): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 10 No. 1 (2019): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 9 No. 2 (2018): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 9 No. 1 (2018): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 8 No. 2 (2017): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 8 No. 1 (2017): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 7 No. 2 (2016): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 7 No. 1 (2016): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 6 No. 2 (2015): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 6 No. 1 (2015): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 5 No. 2 (2014): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 5 No. 1 (2014): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 4 No. 2 (2013): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 4 No. 1 (2013): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 3 No. 2 (2012): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 3 No. 1 (2012): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 2 No. 2 (2011): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 2 No. 1 (2011): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 1 No. 2 (2010): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut More Issue