cover
Contact Name
Munirah Tuli
Contact Email
munirahtuli@ung.ac.id
Phone
+62251-8622935
Journal Mail Official
marfish.journal@gmail.com
Editorial Address
Department of Fisheries Resources Utilization Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Bogor Agricultural University.
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
ISSN : 20874235     EISSN : -     DOI : https://doi.org/10.29244/jmf.6.2.109-117
Core Subject : Social,
Aims: MARINE FISHERIES aims to publish an original research focused on technology and management of capture fisheries, such as fishing equipment, management and transportation of fishing vessel, port management, and technology of capture fisheries.
Articles 311 Documents
HASIL TANGKAPAN SAMPINGAN (BYCATCH DAN DISCARD) PADA ALAT TANGKAP GOMBANG (FILTER NET) SEBAGAI ANCAMAN BAGI KELESTARIAN SUMBERDAYA PERIKANAN . Nofrizal; Romie Jhonnerie; Alit Hindri Yani; . Alfin
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 9 No. 2 (2018): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (903.992 KB) | DOI: 10.29244/jmf.9.2.221-233

Abstract

ABSTRACTFilter net has a mesh size in small size pockets of the net. This allows filter net has the potential to be non-selective fishing gear about the fish size and the target species catch. If the fishing gear allowed, hence its existence will ultimately have a negative impact on the sustainability of fisheries resources, especially in coastal waters. The objective of this research is to calculate compositions and proportions of the main catch, bycatch and discard of the filter net. It is expected by knowing  the composition and proportion of the main catch, bycatch and discard can provide an overview  of the pressure on the stock and sustainability of fisheries resources in  waters where it is operated. This research was used survey method. A series of survey activities was conducted directly in the field to identify and count species of filter net‘s fishing catches. Based on the main catch, bycatch and discard of the filter net, it shows that Sergetes similis is the dominant species caught bythe filter net(98.455%).  The main catch for Escualosa thoracata reaches 1.354%. Besides, the main catches that were caught were Metapenaus monocerus, Parapenaeopsis sp, Panulirus sp and Paneeus monodon with the catch percentage ranging from 0.011 to 0.024%. Percentage of by-catches reached 0.04-0.00004% of the 24 species caught and the catch removed was around 0.001-0.0005% of the 3 species caught.Keywords: bycatch, discard, filter net, fisheries resources, main catchABSTRAKGombang memiliki ukuran mata jaring pada kantong berukuran kecil. Hal ini memungkinkan alat tangkap gombang berpotensi menjadi alat tangkap yang tidak selektif terhadap ukuran ikan dan jenis yang menjadi sasaran tangkapannya. Apabila alat tangkap ini dibiarkan, maka keberadaannya pada akhirnya akan memberikan dampak yang negatif terhadap keberlanjutan sumberdaya ikan terutama di perairan pantai. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghitung komposisi dan proporsi hasil tangkapan utama (main catch), hasil tangkapan sampingan (bycatch) dan hasil tangkapan yang dibuang (discard).Diharapkan dengan mengetahui komposisi dan proporsi hasil tangkapan utama, sampingan dan yang dibuang dapat memberikan gambaran tentang tekanan terhadap stok dan kelestarian sumberdaya perikanan di perairan dimana gombang dioperasikan.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei.Serangkaian aktivitas survei dilakukan secara langsung di lapang untuk mengidentifikasi dan menghitung jenis spesies yang tertangkap oleh alat tangkap gombang.Berdasarkan persentase hasil tangkapan utama, sampingan dan buangan per jenis, menunjukkan  Sergetes similis merupakan spesies yang dominan tertangkap oleh alat tangkap gombang (98,455%). Hasil tangkapan utama untuk Escualosa thoracata mencapai 1,354%. Selain itu hasil tangkapan utama yang tertangkap ialah Metapenaus monocerus, Parapenaeopsis sp, Panulirus sp dan Paneeus monodon dengan persentase hasil tangkapan berkisar 0,011-0,024%. Persentase hasil tangkapan sampingan mencapai 0,04-0,00004% dari 24 spesies yang tertangkap dan hasil tangkapan yang dibuang berkisar 0,001-0,0005% dari 3 spesies yang tertangkap.Kata kunci: bycatch, discard, gombang, sumberdaya perikanan, main catch
PEMULIHAN STOK TANGKAPAN PERIKANAN TERIPANG DI KEPULAUAN SERIBU: SUATU PENDEKATAN EKOSISTEM Am Azbas Taurusman; Dadang Shafrudin; Tri Wiji Nurani; Didin Komarudin
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 9 No. 2 (2018): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.484 KB) | DOI: 10.29244/jmf.9.2.235-244

Abstract

ABSTRACT Kepulauan Seribu known as Thousand Islands is one of the sea cucumbers producing centers in Indonesia. Sea cucumber has been considered as one of the fishery export commodities with high selling prices. In the last two decades, the catch has been indicating a serious declining. The high intensity of catching and habitat degradation are two main factors that threaten the sustainability of sea cucumber fisheries. In order to recovery the stock, a restocking program in frame of ecosystem approach to fishery has been piloted in Thousand Islands, Jakarta. This research covers the bio-technical aspects of sea cucumber fisheries in an integrated manner with the ecosystem approach. There were several steps in conducting the restocking study, namely the study of habitat status and feasibility, preparation of maintenance sites for biota, seed spreading, monitoring and evaluation. A well coordination and collaboration with local institutions (Kepulauan Seribu National Park) was needed to build previously. The results of the study indicated that efforts to restore sea cucumber fisheries should be integrated with conservation of seagrass ecosystems which as sea cucumbers habitat and a proper maintenance system. Eight species of sea cucumbers, consist of 4 species of Holothuridae (Bohadschia bivittata, Actinopyga lecanora, Holothuria leucospilota, H. scabra), and 4 species Stichopodidae (Stichopus herrmanni, S. ocellatus, S. horren, S. monotuberculatus) have been identified and restocking in this area. The released biota can live and grow well and breed at the research site. The construction of seagrass-based sea cucumber ecosystem restocking system has become one of the new tourist attractions integrated with the Thousand Islands National Park tourist facilities, which are very attractive to visitors. Keywords: ecosystem approach fishery managemen (EAFM), restocking, sea cucumbers fishery, seagrass ecosystem ABSTRAK Kepulauan Seribu merupakan salah satu sentra penghasil teripang di Indonesia. Teripang merupakan salah satu komoditi ekspor perikanan dengan harga jual yang tinggi. Dalam dua dekade terakhir, tangkapan teripang telah menunjukkan penurunan tajam. Tingginya intensitas penangkapan dan degradasi habitat merupakan dua faktor utama yang mengancam keberlanjutan perikanan teripang. Salah satu upaya untuk pemulihan stok teripang melalui pendekatan ekosistem telah diujicobakan di wilayah Kepulauan Seribu, Jakarta. Tulisan ini mencakup aspek bio-teknis upaya pemulihan perikanan teripang secara terintegrasi dengan pendekatan ekosistem. Upaya pemulihan dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu studi status dan kelayakan habitat, penyiapan wadah pemeliharaan biota, penebaran benih, monitoring dan evaluasi. Sebelum kegiatan dilakukan, terlebih dahulu melakukan koordinasi dengan institusi lokal (Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu). Hasil kajian menunjukkan bahwa upaya pemulihan perikanan teripang harus diselaraskan dengan upaya konservasi ekosistem lamun sebagai habitat teripang dan sistem pemeliharaan yang layak secara teknis. Delapan spesies teripang, terdiri dari 4 spesies Holothuridae (Bohadschia bivittata, Actinopyga lecanora, Holothuria leucospilota, H. scabra), dan 4 species Stichopodidae (Stichopus herrmanni, S. ocellatus, S. horren, S. monotuberculatus) telah terindentifikasi dan di-restocking di lokasi ini. Biota yang dilepas dapat hidup dan tumbuh dengan baik dan berkembangbiak di lokasi penelitian. Konstruksi sistem restocking teripang berbasis ekosistem lamun telah menjadi salah satu obyek wisata baru terintegrasi dengan fasilitas wisata Taman Nasional Kepulauan Seribu, yang sangat menarik bagi pengunjung. Kata kunci: pendekatan ekosistem (EAFM), restocking, perikanan teripang, ekosistem lamun
DESAIN KONFIGURASI SISTEM PROPULSI HYBRID TERHADAP PENGURANGAN KONSUMSI BBM KAPAL PENANGKAP IKAN 30 GT (Configuration Design of a Hybrid Propulsion System to Reduce Fuel Oil Consumption of a 30 GT Fishing Vessel) Andi Haris Muhammad; . Baharuddin; Hasnawiya Hasan
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 10 No. 1 (2019): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (895.008 KB) | DOI: 10.29244/jmf.10.1.1-9

Abstract

This study aims to reduce fuel oil consumption of a 30 GT fishing vessel through configuration design of diesel and electric motor hybrids propulsion system. The configuration design of hybrids propulsion system systematically include; i) loading assumption; ii) prediction of speed-thrust; iii) prediction of fuel oil consumption. Design of hybrids propulsion system was analyzed by using the concept of time domain simulation of vessel movement. The result indicated that the hybrids propulsion system implemented to fishing vessel was very effective to reduce fuel consumption compared with conventional propulsion system, especially in variation of loading and speed condition.Keywords: fishing vessel, hybrids propulsion system and fuel oilPenelitian ini bertujuan untuk mengurangi konsumsi bahan bakar minyak kapal penangkap ikan 30 GT melalui desain konfigurasi sistem propulsi hybrid diesel-listrik. Secara sistematis perancangan sistem propulsi hybrid meliputi; i) asumsi pembebanan operasi; ii) prediksi speed-thrust; iii) prediksi konsumsi bahan bakar. Desain sistem propulsi hybrid dianalisis dengan menggunakan konsep time domain simulation pergerakan kapal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan sistem propulsi hybrid pada kapal penangkap ikan sangat efektif dalam mengurangi konsumsi bahan bakar dibandingkan dengan sistem propulsi konvensional, terkhusus pada kondisi pemuatan dan kecepatan yang bervariasi.Kata kunci: Bahan bakar, kapal penangkap ikan, sistem propulsi hybrid
TEKNOLOGI PENANGKAPAN POCONG-POCONG UNTUK GURITA DI KECAMATAN KABAENA BARAT SULAWESI TENGGARA Rita L Bubun; Amir Mahmud
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 1 No. 2 (2010): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1063.706 KB) | DOI: 10.29244/jmf.1.2.%p

Abstract

ABSTRACTPocong-pocong is one type of handline fishing gear used to catch octopus in West Kabaena District, Southeast Sulawesi. The research objectives was to examine the fishing gear technology of pocong-pocong related to its construction, the method of fishing, and the effectiveness of octopus capture in West Kabaena District of Southeast Sulawesi. The research method used  is a survey method by collecting data based on the results of observations at the study site. Data analyze are using qualitative and quantitative descriptive. The results showed that the technical aspects of pocong-pocong fishing gear still used a simple construction with  the main components of this fishing gear were hooks and a attractor that resembles an octopus. The catching methods of pocong-pocong  fishing gear by pulling back and forth. The effectiveness of temporal octopus catches in West Kabaena District is based on the moon  phase that is in the third month phase of 48%,  based on season which is in the west season by 90%, based on the time of arrest can be done at noon at 06.00-12.00 Central Indonesian Time.Keywords: effectiveness, octopus, pocong- pocong ABSTRAKPocong-pocong merupakan salah satu jenis alat tangkap hand line yang digunakan untuk menangkap gurita di Kecamatan Kabaena Barat.  Tujuan penelitian yaitu mengkaji teknologi penangkapan gurita dengan menggunakan alat tangkap pocong-pocong, terkait aspek teknis dan efektivitas secara temporal di Kecamatan Kabaena Barat Sulawesi Tenggara. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan pengumpulan data berdasarkan hasil observasi di lokasi penelitian.  Analisis data yaitu analisis deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan aspek teknis alat tangkap pocong-pocong memiliki kontruksi sederhana dengan komponen utama dari alat tangkap yaitu mata pancing dan atraktor yang berumbai-rumbai menyerupai gurita.  Metode penangkapan alat tangkap pocong-pocong dengan cara ditarik-ulur.  Efektivitas penangkapan gurita secara temporal di Kecamatan Kabaena barat yaitu  berdasarkan fase bulan yaitu pada fase bulan III sebesar 48%; berdasarkan musim yaitu pada musim barat sebesar 90%; berdasarkan waktu penangkapan dapat dilakukan pada siang hari pada pukul 06:00 WITA–12;00 WITA.Kata kunci: efektivitas, gurita, pocong-pocong
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KOMPETENSI NELAYAN DI TELUK BANTEN: MENGGUNAKAN PARTIAL LEAST SQUARE-STRUCTURAL EQUATION MODELLING (PLS-SEM) Rinda Noviyanti; . Nurhasanah
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 1 No. 2 (2010): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (848.266 KB) | DOI: 10.29244/jmf.1.2.33-44

Abstract

ABSTRACTThe majority of fishermen in the area of Banten Bayare traditional and small fishermen. In order to face the competition of the free trade market era, this research tries to assess the condition of self-capacity from the aspect of knowledge, skills and attitude of the fisherman in accordance with the criteria of Indonesian National Work Competence Standards (SKKNI). With the analysis approach of relationship structure model using Partial Least Square-Structural Equation Model (PLS-SEM), it is examined the aspect that significantly affect the competence of traditional fishermen. Result of structural model analysis used, the skill is the aspect thathas real effect to the competence of the fisherman compared the aspect of knowledge and the self-attitude. This indicates if traditional fishermen are more formed from direct work experience, than the formal and informal education aspects. In general, the standard of competence of traditional fishermen in Banten Bay is still low.Keywords: attitude, competence, knowledge, PLS-SEM, skillsABSTRAKKeberadaan nelayan di Teluk Banten merupakan mayoritas nelayan tradisonal dan kecil dengan alat tangkap, cara operasi penangkapan dan kapal sederhana serta tingkat pendidikan yang sangat rendah. Konflik antara nelayan tradisional dengan pengguna alat tangkap yang dilarang sering terjadi.  Bantuan alat tangkap, kapal, modal sering tidak termanfaatkan dengan optimal. Berdasarkan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), ada tiga faktor utama untuk kompetensi tenaga kerja yaitu pengetahuan, keterampilan, dan sikap diri.  Penelitian ini ditujukan untuk mengkaji struktur hubungan ketiga faktor tersebut yang berpengaruh nyata terhadap kompetensi nelayan tradisional dan kecil di Teluk Banten dengan menggunakan analisa Partial Least Square - Structural Equation Model (PLS-SEM). Keterampilan merupakan faktor berpengaruh nyata terhadap kompetensi dibandingkan pengetahuan dan sikap diri nelayan.  Sementara aspek pengetahuan sangat berpengaruh terhadap keterampilan dan sikap diri. Secara umum standar kompetensi nelayan tradisional yang meliputi keterampilan, pengetahuan, dan sikap diri di Teluk Banten masih rendah.Kata kunci: sikap, kompetensi, pengetahuan, PLS-SEM, keterampilan
DINAMIKA HASIL TANGKAPAN BARONANG (Siganus sp.) PADA RUMPON HIDUP SECARA SPASIAL-TEMPORAL DI PESISIR ULOULO KABUPATEN LUWU . Suardi; Budy Wiryawan; Am Azbas Taurusman; Joko Santoso; Mochammad Riyanto
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 10 No. 1 (2019): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1129.952 KB) | DOI: 10.29244/jmf.10.1.45-57

Abstract

ABSTRACTBiological-Fish Aggregation Devices (Bio FADs) is FADs which designed used seaweed as an attractor.  Bio FADs in this study were made using two species of seaweed i.e Eucheuma cottonii, called cottonii FADs (FC) and Gracilaria sp. called gracilaria FADs (FG).  The purpose of this study was to analyze the dynamics of Siganus sp catch around Bio FADs based on species, abundance, and ecological characteristics spatially and temporally. The research was conducted in Uloulo coastal waters of Luwu district from October 2014 to August 2015.  Fish samples were collected by using scoop net on both types of FADs which were installed in three different habitats as observation stations. The Shannon-Wienner (H') diversity index is relatively moderate in spatially and temporally. ANOSIM  shows that the abundance of fish catches between habitats is significantly different (R = 0,268; p = 0,001).  River estuary habitat has the highest abundance of catches which is about 14.77 ind/m2.  Furthermore, the abundance of catches between monsoon was significantly different (R = 0,110; p = 0,001).  The highest abundance of fish catches in the west monsoon (WM) is about  20,67 ind/m2. SIMPER analysis shows that Siganus canaliculatus is the main species based on habitat and season. The contribution of Siganus canaliculatus is quite high in seagrass habitat which is about 96.38%. Keywords: Bio-FADs, dynamics of catch, Siganus sp.ABSTRAKRumpon hidup atau Biological-Fish Aggregation Devices adalah rumpon yang didesain menggunakan rumput laut  sebagai atraktor. Rumpon hidup pada penelitian ini  dibuat dengan menggunakan rumput laut jenis  Eucheuma cottonii sehingga disebut rumpon cottonii(RC) dan Gracillaria sp  atau rumpon gracillaria (RG). Tujuan penelitian ini adalah menganalisis dinamika hasil tangkapan ikan baronang (Siganus sp.) di sekitar rumpon hidup berdasarkan jenis, kelimpahan, dan karakteristik ekologis secara   spasial  dan temporal.  Penelitian  ini dilaksanakan di perairan pesisir Uloulo Kabupaten Luwu dari bulan Oktober 2014  sampai  Agustus 2015. Sampel ikan  dikumpulkan dengan menggunakan serok  pada kedua jenis rumpon   yang dipasang di tiga habitat yang berbeda sebagai stasiun  pengamatan.  Indeks diversitas Shannon-Wienner (H') secara  spasial dan temporal relatif moderat.  Hasil ANOSIM  menunjukkan  bahwa  kelimpahan hasil tangkapan ikan antar habitat berbeda  sangat nyata,   (R = 0,268; p = 0,001).  Habitat muara sungai memiliki kelimpahan hasil tangkapan tertinggi yaitu 14,77 ind/m2. Selanjutnya kelimpahan hasil tangkapan  berdasarkan musim berbeda  nyata (R = 0,110; p = 0,001).  Kelimpahan hasil tangkapan ikan  tertinggi  pada musim barat (MB) yaitu 20,67 ind/m2 .Analisis SIMPER  menunjukkan  bahwa Siganus canaliculatus sebagai spesies utama   berdasarkan habitat dan musim. Kontsribusi Siganus canaliculatus  cukup tinggi  pada habitat padang lamun yaitu  sebesar  96,34% .Kata kunci:  rumpon hidup, dinamika hasil tangkapan, Siganus sp.
SEBARAN SPL KAITANNYA DENGAN HASIL TANGKAPAN IKAN CAKALANG (KATSUWONUS PELAMIS) DI PERAIRAN ACEH M. Habib EY; . Nofrizal; Mubarak .
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 10 No. 1 (2019): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1217.974 KB) | DOI: 10.29244/jmf.10.1.11-22

Abstract

ABSTRACTSkipjack (Katsuwonus pelamis) has high economic value and many catched in Aceh waters. This study aims to calculate the catch of skipjack, compare the Sea-Surface Temperature (SST) on satellite image with real sea-surface temperature, and determine the effect of sea-surface temperature for the skipjack catch in Aceh waters. This study used data of skipjack catch, sea-surface temperatureon satellite image and real sea-surface temperature (on field) that was conducted in September 2017, using survey method in 32 points of fishing ground with 3 trips. Average of sea-surface temperature was around 27.24 oC, while the sea-surface temperature in Aqua MODIS images was around 28.21 oC in the transition of east-west season. There was differences in real sea-surface temperature and image sea-surface temperature of satellite, but it is not significant. Total catch of skipjack fish in September 2017 was 51,409 kg, and average of CPUE was 1,658 kg/setting. The highest catch of skipjack was 13,280 kg with sea-surface temperature at 27,4 oC because that temperature is the optimum temperature for skipjack. Temperature is affects to the skipjack distribution.Keywords: Katsuwonus pelamis, MODIS, SSTABSTRAKIkan cakalang (Katsuwonus pelamis) merupakan salah satu jenis ikan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi, dan banyak tertangkap di Perairan Aceh. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung hasil tangkapan ikan cakalang, membandingkan antara SPL citra dan SPL di lapangan,  dan untuk mengetahui pengaruh SPL terhadap hasil tangkapan ikan cakalang di Perairan Aceh, dengan menggunakan data hasil tangkapan ikan cakalang, SPL citra dan SPL lapangan. Penelitian dilakukan pada bulan September 2017. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan 32 titik stasiun lokasi penangkapan dengan melakukan 3 trip pelayaran dengan rata-rata SPL lapangan sekitar 27,24 oC. Adapun SPL pada citra Aqua MODIS sekitar 28,21 oC pada musim peralihan timur – barat. Walaupun terdapat perbedaan SPL lapangan dan citra tetapi tidak terlalu signifikan. Total hasil tangkapan ikan cakalang pada bulan September 2017 sebanyak 51,409 kg, dengan rata-rata CPUE 1,658 kg/setting. Hasil tangkapan ikan cakalang paling banyak tertangkap pada suhu 27,4 0C sebanyak 13.280 kg. Hal ini disebabkan pada suhu tersebut merupakan suhu optimum ikan cakalang karena suhu mempengaruhi distribusi penyebaran ikan.Kata kunci: Katsuwonus pelamis, MODIS, SPL
TEKNOLOGI PENANGKAPAN POCONG-POCONG UNTUK GURITA DI KECAMATAN KABAENA BARAT SULAWESI TENGGARA Rita L Bubun; Amir Mahmud
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 10 No. 1 (2019): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1063.706 KB) | DOI: 10.29244/jmf.10.1.23-32

Abstract

ABSTRACTPocong-pocong is one type of handline fishing gear used to catch octopus in West Kabaena District, Southeast Sulawesi. The research objectives was to examine the fishing gear technology of pocong-pocong related to its construction, the method of fishing, and the effectiveness of octopus capture in West Kabaena District of Southeast Sulawesi. The research method used  is a survey method by collecting data based on the results of observations at the study site. Data analyze are using qualitative and quantitative descriptive. The results showed that the technical aspects of pocong-pocong fishing gear still used a simple construction with  the main components of this fishing gear were hooks and a attractor that resembles an octopus. The catching methods of pocong-pocong  fishing gear by pulling back and forth. The effectiveness of temporal octopus catches in West Kabaena District is based on the moon  phase that is in the third month phase of 48%,  based on season which is in the west season by 90%, based on the time of arrest can be done at noon at 06.00-12.00 Central Indonesian Time.Keywords: effectiveness, octopus, pocong- pocong ABSTRAKPocong-pocong merupakan salah satu jenis alat tangkap hand line yang digunakan untuk menangkap gurita di Kecamatan Kabaena Barat.  Tujuan penelitian yaitu mengkaji teknologi penangkapan gurita dengan menggunakan alat tangkap pocong-pocong, terkait aspek teknis dan efektivitas secara temporal di Kecamatan Kabaena Barat Sulawesi Tenggara. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan pengumpulan data berdasarkan hasil observasi di lokasi penelitian.  Analisis data yaitu analisis deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan aspek teknis alat tangkap pocong-pocong memiliki kontruksi sederhana dengan komponen utama dari alat tangkap yaitu mata pancing dan atraktor yang berumbai-rumbai menyerupai gurita.  Metode penangkapan alat tangkap pocong-pocong dengan cara ditarik-ulur.  Efektivitas penangkapan gurita secara temporal di Kecamatan Kabaena barat yaitu  berdasarkan fase bulan yaitu pada fase bulan III sebesar 48%; berdasarkan musim yaitu pada musim barat sebesar 90%; berdasarkan waktu penangkapan dapat dilakukan pada siang hari pada pukul 06:00 WITA–12;00 WITA.Kata kunci: efektivitas, gurita, pocong-pocong
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KOMPETENSI NELAYAN DI TELUK BANTEN: MENGGUNAKAN PARTIAL LEAST SQUARE-STRUCTURAL EQUATION MODELLING (PLS-SEM) Rinda Noviyanti; . Nurhasanah
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 10 No. 1 (2019): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (848.266 KB) | DOI: 10.29244/jmf.10.1.33-44

Abstract

ABSTRACTThe majority of fishermen in the area of Banten Bayare traditional and small fishermen. In order to face the competition of the free trade market era, this research tries to assess the condition of self-capacity from the aspect of knowledge, skills and attitude of the fisherman in accordance with the criteria of Indonesian National Work Competence Standards (SKKNI). With the analysis approach of relationship structure model using Partial Least Square-Structural Equation Model (PLS-SEM), it is examined the aspect that significantly affect the competence of traditional fishermen. Result of structural model analysis used, the skill is the aspect thathas real effect to the competence of the fisherman compared the aspect of knowledge and the self-attitude. This indicates if traditional fishermen are more formed from direct work experience, than the formal and informal education aspects. In general, the standard of competence of traditional fishermen in Banten Bay is still low.Keywords: attitude, competence, knowledge, PLS-SEM, skillsABSTRAKKeberadaan nelayan di Teluk Banten merupakan mayoritas nelayan tradisonal dan kecil dengan alat tangkap, cara operasi penangkapan dan kapal sederhana serta tingkat pendidikan yang sangat rendah. Konflik antara nelayan tradisional dengan pengguna alat tangkap yang dilarang sering terjadi.  Bantuan alat tangkap, kapal, modal sering tidak termanfaatkan dengan optimal. Berdasarkan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), ada tiga faktor utama untuk kompetensi tenaga kerja yaitu pengetahuan, keterampilan, dan sikap diri.  Penelitian ini ditujukan untuk mengkaji struktur hubungan ketiga faktor tersebut yang berpengaruh nyata terhadap kompetensi nelayan tradisional dan kecil di Teluk Banten dengan menggunakan analisa Partial Least Square - Structural Equation Model (PLS-SEM). Keterampilan merupakan faktor berpengaruh nyata terhadap kompetensi dibandingkan pengetahuan dan sikap diri nelayan.  Sementara aspek pengetahuan sangat berpengaruh terhadap keterampilan dan sikap diri. Secara umum standar kompetensi nelayan tradisional yang meliputi keterampilan, pengetahuan, dan sikap diri di Teluk Banten masih rendah.Kata kunci: sikap, kompetensi, pengetahuan, PLS-SEM, keterampilan
DAMPAK SOSIOEKONOMI MORATORIUM IZIN PENANGKAPAN IKAN DAN LARANGAN TRANSSHIPMENT DI KOTA BITUNG Niki Stenly Kondo; Yeremias Torontuan Keban; Raden Rijanta; Jangkung Handoyo Mulyo
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 10 No. 1 (2019): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (570.52 KB) | DOI: 10.29244/jmf.10.1.%p

Abstract

ABSTRACTThe implementation of moratorium on fishing permits and transshipment prohibition caused the cessation of large-scale fishing vessels operation in Bitung City. This condition has an impact on the decline in production of the fishing sector, which was affecting the supply of raw materials for the processing industry. This negative trend indicates a trade off in fisheries management, especially in socioeconomic dimensions. This research aims to analyze the impact of that policies on the socioeconomic dimensions of the fishing industry. This research was conducted in Bitung City from October to December 2017. Descriptive-explanatory case study approach was used in this study. Data was collected through document studies, FGDs, interviews and observations. Informant was selected by purposive sampling technique. The indicators refers to the Sustainable Fisheries Development Indicator System (Liu et al. 2011), and the compilation of fisheries industry cluster sustainability indicator (Purwaningsih and Santosa, 2015). Furthermore, to describe the relationship between policy’s program operations and impacts, a policy monitoring analysis is used. The results showed that the socioeconomic dimensions of fishing industry in Bitung City from 2015 to 2017 had experienced negative growth. Economically, it is indicated by a decrease in total catch production, production per fisherman, export volume, and fisheries contribution to Gross Regional Domestic Product (GDRP). On the social dimension, there was a decrease of number of workers, both fishing and processing sector. However, there are two indicators that have increased, namely the average of fishermen exchange rate and the ratio of local fishermen/crew to foreign crew members.Keywords: fisheries management, policy monitoring, socioeconomic dimensionsABSTRAKPenerapan moratorium izin penangkapan dan larangan transshipment menyebabkan terhentinya operasional kapal-kapal ikan skala besar di Kota Bitung. Kondisi ini berdampak pada penurunan produksi sektor penangkapan, yang memengaruhi pasokan bahan baku industri pengolahan. Tren negatif tersebut menandakan trade off dalam pengelolaan perikanan, khususnya pada dimensi sosioekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak kebijakan terhadap dimensi sosioekonomi industri perikanan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober–Desember 2017 berlokasi di Kota Bitung. Pendekatan studi kasus deskriptif-eksplanatoris digunakan dalam penelitian ini. Data dikumpulkan melalui studi dokumen, FGD, wawancara serta observasi. Penentuan informan dilakukan dengan teknik purposive sampling. Indikator yang digunakan mengacu pada Sustainable Fisheries Development Indicator System (Liu et al. 2011), dan kompilasi indikator keberlanjutan klaster industri perikanan (Purwaningsih dan Santosa, 2015). Selanjutnya, untuk mendeskripsikan hubungan antara operasi program kebijakan dan hasilnya (dampak), digunakan analisis monitoring kebijakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi sosial ekonomi industri perikanan di Kota Bitung dari 2015 hingga 2017 telah mengalami pertumbuhan negatif. Secara ekonomi ditunjukkan dengan penurunan total produksi tangkapan, produksi per nelayan, volume ekspor, dan kontribusi perikanan terhadap PDRB. Pada dimensi sosial, terjadi penurunan jumlah pekerja, baik di sektor penangkapan maupun sektor pengolahan. Namun, ada dua indikator yang mengalami peningkatan, yaitu, rata-rata nilai tukar nelayan dan rasio nelayan/kru lokal terhadap ABK/kru asing.Kata kunci:  pengelolaan perikanan, monitoring kebijakan, dimensi sosioekonomi

Filter by Year

2010 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 17 No. 1 (2026): Marine Fisheries: Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 16 No. 2 (2025): Marine Fisheries: Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 16 No. 1 (2025): Marine Fisheries: Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 15 No. 2 (2024): Marine Fisheries: Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 15 No. 1 (2024): Marine Fisheries: Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 14 No. 2 (2023): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 14 No. 1 (2023): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 13 No. 2 (2022): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 13 No. 1 (2022): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 12 No. 2 (2021): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 12 No. 1 (2021): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 11 No. 2 (2020): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 11 No. 1 (2020): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 10 No. 2 (2019): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 10 No. 1 (2019): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 9 No. 2 (2018): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 9 No. 1 (2018): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 8 No. 2 (2017): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 8 No. 1 (2017): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 7 No. 2 (2016): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 7 No. 1 (2016): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 6 No. 2 (2015): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 6 No. 1 (2015): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 5 No. 2 (2014): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 5 No. 1 (2014): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 4 No. 2 (2013): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 4 No. 1 (2013): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 3 No. 2 (2012): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 3 No. 1 (2012): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 2 No. 2 (2011): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 2 No. 1 (2011): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 1 No. 2 (2010): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut More Issue