cover
Contact Name
Munirah Tuli
Contact Email
munirahtuli@ung.ac.id
Phone
+62251-8622935
Journal Mail Official
marfish.journal@gmail.com
Editorial Address
Department of Fisheries Resources Utilization Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Bogor Agricultural University.
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
ISSN : 20874235     EISSN : -     DOI : https://doi.org/10.29244/jmf.6.2.109-117
Core Subject : Social,
Aims: MARINE FISHERIES aims to publish an original research focused on technology and management of capture fisheries, such as fishing equipment, management and transportation of fishing vessel, port management, and technology of capture fisheries.
Articles 306 Documents
IMPLEMENTASI MANAJEMEN MUTU PADA INDUSTRI PENANGKAPAN IKAN (Implementation of Quality Management on Fishing Industry) Tri Wiji Nurani; Sugeng Hari Wisudo; Mohammad Imron
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 3 No. 2 (2012): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (654.963 KB) | DOI: 10.29244/jmf.3.2.103-113

Abstract

ABSTRAKThe Indonesian government has already paid high attention to the quality assurance of fishery products. It can be seen from the legislation and policies that have been established. In a Ministry of Marine Affari Regulation (Kepmen KP 01/MEN/2007) clearly stated that the quality assurance requirements and food safety of fishery products, start from the production, processing and distribution. Meanwhile, fisherman understanding of the qualityof fish product is still low. This study was conducted to assess the implementation of Kepmen KP 01/MEN/2007 in the fishing industry. Analysis of the the implementation of the quality elements refers to “The Aplication of the guidelines of PMMT based on the conception HACCP” (Dirjen Perikanan Tangkap, 1999). The results showed that the implementation of quality management system according Kepmen KP 01/MEN/2007 on fishing vessels in Palabuhanratu fishing port wasstill dificult to implement. In small vessels, factors that wascause the difficulty of implementation wasthe limited space of fishing boat and knowledge of fisherman. While in the long line and trolling, structural requirements, the feasibility of the ship and regristation of ship has already implemented, but related to hygiene and handling of fish on board have not implemented properly.Key words: fishing industry, implementation of quality management, Kepmen 01/MEN/2007, PPNPalabuhanratu-------ABSTRAKKeberpihakan pemerintah terhadap jaminan mutu pada produk hasil perikanan sudah cukup tinggi, terlihat dari peraturan perundang-undangan ataupun kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan. Pada Kepmen 01/MEN/2007 tersirat dengan jelas persyaratan jaminan mutu dan keamanan pangan produk-produk perikanan, mulai dari proses produksi, pengolahan dan distribusi. Sementara itu pemahaman mengenai mutu ikan di tingkat nelayan sebagai pelaku utama industri penangkapan ikan masih rendah. Penelitian ini dilakukan untuk melihat sejauhmana implementasi dari Kepmen 01/MEN/2007 pada industri penangkap ikan.Analisis kesesuaian implementasi unsur-unsur manajemen mutudilakukan dengan mengacu pada ”Pedoman Penerapan PMMT Berdasarkan Konsepsi HACCP” (Dirjen Perikanan Tangkap 1999). Hasil penelitian menyatakan bahwa penerapan atau implementasi manajemen mutu sesuai Kepmen No.01/Men/2007pada kapal penangkap ikan di PPN Palabuhanratu masih sulit untuk diimplementasikan. Pada kapal berukuran kecil, keterbatasan ruang dan keterbatasan pengetahuan ABK, menjadi faktor sulitnya implementasi, sPersyaratan struktur dan kelayakan kapal serta registrasi sudah diimplementasikan pada kapallongline dan pancing tonda, gistra.Namun terkait dengan higiene kapal dan penanganan masih belum diimplementasikan dengan baik.Kata kunci: industri penangkapan
STATUS PERIKANAN PANAH DI KEPULAUAN KARIMUNJAWA KABUPATEN JEPARA JAWA TENGAH BERDASARKAN CCRF (CCRF Perspective on Spearfisheries in Karimunjawa Islands, Jepara District Central Java) Hamba Ainul Mubarok; Sugeng Hari Wisudo; Budhi Hascaryo Iskandar
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 3 No. 2 (2012): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.94 KB) | DOI: 10.29244/jmf.3.2.155-122

Abstract

ABSTRACTSpeargun is productive fishing gear,spearfishermen catch numerous reef fishes such as yellow tail, snapper grouper,andother fish species.Spearfishermen dive to spear fishes. Air supply diving is common in spearfishing, therefore spearfishermen facing a huge health risk. Diving safety standard should be applied by spearfishermen to prevent various diving diseases.Research objectives wereto determine the Karimunjawa spearfishing status by the CCRF perspective and describe job safety analysis.Fishing gear used by fishermen consists of a gun made of wood with a rubber strap to hurl an arrow made of rust resistant metal.Coral reef is spear fisheries main fishing ground, which is vulnerable ecosystem therefore spearfishing has to carry out carefully. Spearfishing operations is a high-risk activities, fishermen have to be very careful and perform diving safety standards so that the potential risks can be avoided. Karimunjawa spear fisheries, in the CCRF perspective point of view, denote fisheries that support the CCRF concept, despite of several aspects that need to take notice of seriously. Among them isthe fishermen awareness to comply and perform code of conduct and safety standards in the fishing operations and prudence in carrying out fishing operations in the coral reef ecosystems.Key words: CCRF, Karimunjawa, safety standard and spearfishing------ABSTRAKPanah adalah alat tangkap yang cukup produktif. Nelayan panah menangkap berbagai jenis ikan karang, seperti ekor kuning, kakap dan kerapu serta jenis ikan lainnya. Nelayan panah menyelam untuk menombak ikan. Pasokan udara dipompakan dari kompresor yang biasa digunakan untuk mengisi udara ban kendaraan. Oleh karena itu nelayan menghadapi risiko bahaya yang besar. Standar keselamatan penyelaman harus diterapkan oleh nelayan untuk mencegah berbagai penyakit penyelaman. Tujuan penelitian ini untuk menentukan status perikanan panah di Karimunjawa dengan perspektif CCRF dan analisis keselamatan kerja. Penelitian dilaksanakan di perairan Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, antara bulan Oktober – November 2011. Metode survei digunakan sebagai metode penelitian. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini meliputi deskripsi unit tangkap panah, analisis perikanan panah berdasarkan CCRF dan analisis keselamatan kerja (Job Safety Analysis – JSA). Alat tangkap yang digunakan oleh nelayan terdiri dari senapan yang terbuat dari kayu dengan tali karet untuk melontarkan panah yang terbuat dari besi tahan karat. Ekosistem terumbu karang adalah daerah penangkapan utama perikanan panah. Sementara itu, terumbu karang merupakan ekosistem yang rentan. Operasi perikanan panah adalah kegiatan berisiko tinggi. Oleh karena itu nelayan harus sangat berhati-hati dan mengikuti standar keselamatan penyelaman, sehingga potensi risiko dapat dihindari. Perikanan panah di Karimunjawa, dari perspektif CCRF, merupakan kegiatan perikanan yang mendukung konsep CCRF, meskipun terdapat beberapa aspek yang perlu diperhatikan secara serius. Aspek tersebut diantaranya adalah kesadaran nelayan untuk mematuhi dan melaksanakan standar CCRF dan aspek keselamatan dalam operasi penangkapan ikan serta kehati-hatian dalam melaksanakan operasi penangkapan ikan di ekosistem terumbu karang.Kata kunci: CCRF, Karimunjawa, perikanan panah dan standar keselamatan
PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PERIKANAN TANGKAP DALAM RANGKA PENGEMBANGAN INDUSTRIALISASI PERIKANAN LAUT (The Development of Capture Fisheries Management Information System in Relation to the Development of Marine Fisheries Industrialization) John Haluan; Eko Sri Wiyono; Rikhie Supriyadi
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 3 No. 2 (2012): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.141 KB) | DOI: 10.29244/jmf.3.2.123-128

Abstract

ABSTRACTDeveloping capture fisheries management information system needs a Management Information System (MIS) which could support various aspects within an integrated and holistic system to gain better access of information on Marine Fisheries Industrialization in Indonesia. The objectives of the research are to investigate the management information system in lobster fisheries and develop management infomation system to support marine fisheries industrialization. This research implemented integrated approach information system for holistic system application. Applies a systems approach that takes into account the system as a whole integrated information for each activity or application. The system limits on the development of the lobster fishery in PPN Palabuhanratu. The technology used for processing the data and information on the lobster fishery is a computerized information technology. Analysis of system requirements derived from the fishing company, fishermen and stakeholders. Establishing the design of information systems in the lobster fisheries at PPN Palabuhanratu by identifying the real system, preparation of the scheme, providing menus, preparation of the logical flow of programs and computer applications. With the establishment of fisheries information management system will facilitate information services more quickly and accurately.Key words: capture fisheries, industrialization, management information system (MIS),-------ABSTRAKPengembangan sistem informasi manajemen perikanan tangkap dalam rangka pengembangan industrialisasi perikanan laut sudah mempunyai dasar hukum Undang-Undang Republik Indonesia No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, tertera pada Bab VI: Sistem Informasi dan Statistik Perikanan, pasal 46: (1) “Pemerintah menyusun dan mengembangkan sistem informasi dan data statistik perikanan serta menyelenggarakan pengumpulan, pengolahan, analisis, penyimpanan, penyajian, dan penyebaran data potensi, sarana dan prasarana, produksi, penanganan, pengolahan dan pemasaran ikan, serta data social ekonomi yang terkait dengan pelaksanaan pengelolaan sumberdaya ikan dan pengembangan sistem bisnis perikanan.” (2)”Pemerintah mengadakan pusat data dan informasi perikanan untuk menyelenggarakan system informasi dan data statistic perikanan.”; pasal 47: (1) “Pemerintah membangun jaringan informasi perikanan dengan lembaga lain, baik di dalam maupun di luar negeri.”, (2) “Sistem informasi dan data statistic perikanan harus dapat diakses dengan mudah dan cepat oleh seluruh pengguna data statistic dan informasi perikanan.” Pengembangan sistem informasi manajemen perikanan tangkap perlu suatu Sistem Informasi Manajemen (SIM) yang dapat menunjang berbagai aspek dan elemen dalam suatu sistem yang holistik dan terintegrasi untuk mencapai tujuan meningkatkan akses informasi IPTEKS-Teknologi Tepat Guna (TTG) dalam Pelaksanaan Program Pengembangan Industrialisasi Perikanan Laut di Indonesia.Kata kunci: Perikanan tangkap, industrialisasi, sistem manajemen informasi
PENGARUH PERBEDAAN ATRAKTOR TERHADAP HASIL TANGKAPAN JUVENIL LOBSTER DENGAN KORANG DI DESA SANGRAWAYAN, PALABUHANRATU (The Effect of Different Attractor Against Catch of Juvenile Lobster By Korang in Sangrawayan Village, Palabuhanratu) Harits Adli Tegar Nevada; Sulaeman Martasuganda; Nimmi Zulbainarni; Iwan Dirwana
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 3 No. 2 (2012): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.092 KB) | DOI: 10.29244/jmf.3.2.129-133

Abstract

ABSTRACTThis research has been done in Palabuhanratu bay, Indonesia. Juvenile lobster (Panulirus sp.) is the main target fish in this research. This research was used Fish Aggregating Devices with two different types of attractor. This research was aimed to known differences in the effectiveness of attractor that had been calculated used on Mann-Whitney Methode. Attractor which used for comparison were seaweed and palm leaf as a test and a seaweed as a control. Korang was a tool that used to gotten a data and put a attractor. The result of comparition show that a total of catches with seaweed and palm leaf more than seaweed. From the result concluded that seaweed and palm leaf more effective than seaweed.Key words: effectiveness of attractor, juvenile lobster, fish aggregating devices, korang-------ABSTRAKPenelitian ini dilakukan di perairan Teluk Palabuhanratu, Indonesia dengan target utama tangkapan juvenil lobster (Panulirus sp.). Penelitian ini menggunakan rumpon dengan 2 jenis atraktor yang berbeda. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbedaan efektivitas atraktor yang dihitung menggunakan Mann-Whitney. Atraktor yang digunakan untuk perbandingan adalah rumput laut dan daun kelapa sebagai percobaan dengan rumput laut sebagai kontrol. Korang merupakan alat yang digunakan unuk pengambilan data sekaligus tempat meletakkan atraktor. Hasil perbandingan menunjukkan bahwa jumlah hasil tangkapan pada atraktor rumput laut dan daun kelapa lebih banyak dibandingkan dengan rumput laut. Hal ini dapat disimpulkan bahwa atraktor rumput laut dan daun kelapa lebih efektif dibandingkan dengan rumput laut.Kata kunci: efektivitas atraktor, juvenil lobster, rumpon, korang
PRODUKTIVITAS PERIKANAN TUNA LONGLINE DI BENOA (STUDI KASUS: PT. PERIKANAN NUSANTARA) (Tuna Lingline Fisheries Productivity in Benoa (Case study: PT. Perikanan Nusantara)) Budi Nugraha; . Hufiadi
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 3 No. 2 (2012): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.54 KB) | DOI: 10.29244/jmf.3.2.135-140

Abstract

ABSTRACTTuna longline fishery in Indonesia has grown since 1972. With the increasing number of tuna longline vessels operating in Indonesian waters, there are needs to research on the productivity of these vessels, especially vessel owned by PT. Perikanan Nusantara as a case study in this research. Data collected through the research activities at the Port of Benoa from March to November 2011. Overall annual production of tuna longline catches PT. Perikanan Nusantara fluctuated during the years 1999-2009 where the average production of fish caught tuna longline vessels size 60 GT per year amounted to 161.19 tons, 40 GT of 231.18 tons and 15 GT of 34.50 tons. Seen from the catch ability of tuna longline per set during the year 2010, found that overall, the average catch per settings for vessel size of 40 GT is higher than the vessel size of 15 GT and 60 GT. Based on the value of the tuna hook rate for vessels size of 15 GT are 0.3, vessels 40 GT are 0.25 and 60 GT are 0.38.Key words: production, productivity, hook rate, tuna longline-------ABSTRAKPerikanan tuna longline di Indonesia telah berkembang sejak tahun 1972. Seiring dengan pertambahan waktu, telah terjadi peningkatan jumlah kapal tuna longline yang beroperasi di perairan Indonesia. Oleh karena itu perlu adanya penelitian mengenai produktivitas dari kapal-kapal tersebut, terutama kapal milik PT. Perikanan Nusantara sebagai studi kasus dalam penelitian ini. Pengumpulan data dilakukan melalui kegiatan penelitian di Pelabuhan Benoa dari bulan Maret hingga November 2011. Produksi tahunan keseluruhan hasil tangkapan tuna longline PT. Perikanan Nusantara selama tahun 1999-2009 berfluktuatif dimana produksi rata-rata ikan hasil tangkapan kapal tuna longline berukuran 60 GT per tahun sebesar 161,19 ton, kapal berukuran 40 GT sebesar 231,18 ton dan kapal berukuran 15 GT sebesar 34,50 ton. Dilihat dari daya tangkap tuna longline per setting selama tahun 2010, diperoleh bahwa secara keseluruhan rata-rata tangkapan per setting untuk kapal berukuran 40 GT lebih tinggi dibanding armada berukuran 15 GT dan 60 GT. Berdasarkan nilai hook rate terhadap ikan tuna untuk kapal berbobot 15 GT diperoleh rata-rata hook rate 0,3, kapal 40 GT 0,25 dan hook rate kapal berbobot 60 GT sebesar 0,38.Kata kunci: laju pancing, produksi, produktivitas, tuna longline,
UKURAN MATA DAN SHORTENING YANG SESUAI UNTUK JARING INSANG YANG DIOPERASIKAN DI PERAIRAN TUAL ((Appropriate of Mesh Size and Shortening for Gillnet Operated on Tual Waters)) Ali Rahantan; Gondo Puspito
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 3 No. 2 (2012): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.103 KB) | DOI: 10.29244/jmf.3.2.141-147

Abstract

ABSTRACTShortening and mesh size of gillnet that operated by Tual fishermen are various. The purposes of this study were to determine the effectively of gillnet based on different shortening and mesh size and to estimate the catch diversity index of each mesh size. The study was conducted from April 6th-May 15th of 2012 in Tual waters. Results shown that gillnet with mesh size of 2.25” and shortening of 50% caught the most number of fish (74). It was followed by gillnet of 2.50”-50% (59), 2.50”-55% (31), 2.25”-55% (24), 2.25”-45% (19), 2.50”-45% (15), 3.00”-50% (15) and 3.00”-55% (6). The Shannon index rate of gillnet with mesh size of 2.25” was 1.8, 2.50” (1.9) and 3.00” (1.1). While the Sympson index rate of gillnet with mesh size of 2.25” was 0.2, 2.50” (0.3) and 3.00” (0.4).Keywords: gillnet, mesh size, shortening, Tual waters-------ABSTRAKUkuran mata dan shortening jaring insang yang dioperasikan nelayan Tual sangat beragam. Penelitian ini ditujukan untuk menentukan efektivitas jaring insang yang didasarkan atas ukuran mata dan shortening yang berbeda dan menentukan indeks keragaman dari setiap ukuran mata. Penelitian dilakukan dari 6 April-15 Mei 2012 di perairan Tual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jaring insang dengan ukuran mata jaring 2,25” dan shortening 50% paling efektif menangkap ikan di perairan Tual dibandingkan dengan ukuran jaring lainnya. Jaring ini menangkap 74 ekor. Adapun jaring 2,5”-50% (59 ekor), 2,5”-55% (31 ekor), 2,25”-55% (24 ekor), 2,25”-45% (19 ekor), 2,50”-45% (15 ekor), 3,00”-50% (15 ekor) dan 3,00-55% (6 ekor). Indeks keragaman Shanon untuk jaring insang dengan ukuran mata 2,25” adalah 1,8, 2,50” (1,9) dan 3,00” (1,1). Sementara indeks keragaman Sympson pada ukuran mata 2,25” sebesar 0,2, 2,50” (0,3) dan 3,00” (0,4).Kata kunci: jaring insang, ukuran mata, shortening, perairan Tual
STUDI PENGELOLAAN PERIKANAN HIU DI PANTAI UTARA PULAU JAWA (Management Study of Shark Fisheries in North Coastal Java Island) Sugih Suryagalih; . Darmawan
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 3 No. 2 (2012): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.59 KB) | DOI: 10.29244/jmf.3.2.149-159

Abstract

ABSTRAKPenelitain ini bertujuan untuk mengkaji mengenai masalah dan solusi dari pengelolaan perikanan hiu di Pantai Utara Jawa. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai dengan Juli 2009. Penelitian dilakukan disepanjang pantai utara pulau Jawa yang direpresentasikan melalui beberapa pelabuhan perikanan. Penelitian pantai utara pulau Jawa dibagi kedalam 3 (tiga) wilayah yaitu wilayah barat yang meliputi Provinsi Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Wilayah tengah yang meliputi Provinsi Jawa Tengah dan wilayah timur untuk Jawa Timur. Untuk tiap wilayah penelitian ditentukan satu pelabuhan perikanan. Pelabuhan yang dijadikan tempat penelitian adalah pelabuhan dengan tipe A dan tipe B. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permasalahan utama perikanan hiu di perairan Utara Jawa adalah tidak adanya sistem pengelolaan perikanan hiu yang baik. Rumusan solusi untuk menanggulangi permasalahan perikanan hiu di utara pulau Jawa adalah penciptaan sistem pengelolaan perikanan hiu di perairan Utara Jawa yang secara konsisten dan konsekuen dilaksanakan oleh berbagai pihak yang terkait.Kata kunci: jaring insang, perairan Tual, shortening, ukuran mata
PERIKANAN PUKAT CINCIN TUNA SKALA KECILYANG BERBASIS DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI (PPP) TAMPERAN (Small Scale Tuna Purseseine Fisheries Based in Tamperan Fishing Port) Hety Hartaty; Budi Nugraha; Bram Styadji
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 3 No. 2 (2012): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (500.128 KB) | DOI: 10.29244/jmf.3.2.161-167

Abstract

ABSTRACTIn general, fisheries in Indonesia is still dominated by small-scale fisheries, one of themis the purse seine fishery based in Tamperan Fishing Port. This study aims to determine aspects of purse seine fishery based on Tamperan Fishing Port such as vessel size and fishing gear, FADs , fishing ground and catches. The study was conducted in 2012 in Tamperan Fishing Port with measurement methods and direct observation and interviews with owners, skippers and crew. The results showed that the vessel of small-scale tuna purse seine fishing based in Tamperan Fishing Port have tonnage between 28-45 GT and made of wood with length 17.21-28 m, width 6-7 m, and depth 2-3 m. Nets is used have length between 250-300 m and width 8-10 m. Fishing ground is FADs at coordinates 10º-12º S and 100º-110º E, 60-100 miles from the Pacitan Bay with distance to the location of FADs about one day. The catch is dominated by skipjack about 57.27%, followed by scad26.31% and juvenile yellowfin 10.05%.Keywords: Purse seine, small scale tuna fisheries, Tamperan-------ABSTRAKSecara umum, perikanan tangkap di Indonesia masih didominasi oleh usaha perikanan skala kecil, salah satunya adalah nelayan pukat cincin yang berbasis di PPP Tamperan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek penangkapan perikanan pukat cincin yang berbasis di PPP Tamperan berupa ukuran kapal dan alat tangkap, rumpon, daerah penangkapan dan hasil tangkapan. Penelitian dilakukan pada tahun 2011 di PPP Tamperan Pacitan dengan metode pengukuran dan pengamatan langsung di lapangan serta wawancara dengan nelayan pemilik, nakhoda dan awak kapal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa armada pukat cincin perikanan tuna skala kecil yang berbasis di PPP Tamperan memiliki ukuran tonase antara 28-45 GT dan terbuat dari kayu dengan ukuran panjang antara 17,21-28 m, lebar 6-7 m, dan dalam 2-3 m. Jaring yang digunakan memiliki panjang antara 250-300 m dan lebar 8-10 m dengan menggunakan rumpon. Daerah penangkapan berada pada koordinat 10º-12º LS dan 100º-110º BT dan berjarak sekitar 60-100 mil dari Teluk Pacitan dengan lama perjalanan menuju lokasi rumpon sekitar 1 hari. Hasil tangkapan didominasi oleh cakalang sebesar 57,27%, diikuti oleh layang 26,31% dan yuwana madidihang 10,05%.Kata kunci: Pukat cincin, perikanan tuna skala kecil, Tamperan
SELEKSI UMPAN DAN UKURAN MATA PANCING TEGAK (Selection on bait and hook number of vertical line) Noor Azizah; Gondo Puspito
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 3 No. 2 (2012): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.381 KB) | DOI: 10.29244/jmf.3.2.169-175

Abstract

ABSTRACTExperimental research on vertical line using different bait and hook size to catch hairtail has been conducted in Palabuhanratu waters. Three kinds of bait were hairtails (Trichiurus sp.), sardine (Sardinella sp.), and mackerel (Rastrelliger sp.). Number of hooks consisted of 8, 9 and 10. All fishing operations were done on floating lift net. From the experiment, bait of sardine was more effective to catch hairtails of Trichiurus savala than hairtails and mackerel. The three baits cought 69, 54 and 46 hairtails of Trichiurus savala, respectively. While, bait of hairtails was more suitable to catch hairtails of Trichiurus haumela. Bait of hairtails, sardine and mackerel cought 11, 7 and 1 hairtails of Trichiurus haumela. Hook number 8 gave the greatest number of catch, i.e. 62 hairtails of Trichiurus savala and 11 hairtails of Trichiurus haumela.Keywords: Hairtails, vertical line, bait, hook number, and Palabuhanratu.-------ABSTRAKOperasi penangkapan layur dengan menggunakan jenis umpan dan ukuran mata pancing yang berbeda telah dilakukan di perairan Palabuhanratu. Jenis umpan yang dipakai adalah layur (Trichiurus sp.), tembang (Sardinella sp.), dan kembung (Rastrelliger sp.). Adapun ukuran mata pancing yang digunakan terdiri atas nomor 8, 9 dan 10. Operasi penangkapan dilakukan di atas bagan apung. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa umpan tembang paling efektif untuk menangkap layur bedog (Trichiurus savala), selanjutnya layur dan kembung. Masing-masing menghasilkan 69; 54 dan 46 ekor. Adapun umpan layur lebih efektif untuk menangkap layur meleu (Trichiurus haumela) dibandingkan dengan tembang dan kembung. Masing-masing menangkap 11, 7 dan 1 ekor layur meleu. Mata pancing nomor 8 menghasilkan jumlah tangkapan layur bedog dan layur meleu terbanyak, yaitu 62 dan 11 ekor.Kata kunci: Layur, rawai tegak, umpan, nomor mata pancing dan Palabuhanratu
TREND TINGKAT KESEJAHTERAAN NELAYAN DI WILAYAH PESISIR KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA (Trend of Welfare Fishermen at Coastal Area of Kutai Kartanegara Regency) . Juliani
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 3 No. 2 (2012): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.091 KB) | DOI: 10.29244/jmf.3.2.177-183

Abstract

The factors affecting the welfare can be classified into economic factors, social, and psychological. One measurement welfare from an economic perspective can done with the exchange rate approach. Value. The exchange must be able to describe the fishery ability of fisheries (catching and aquaculture) to meet the needs of (goods and services) with resources derived from fisheries activities. Measurements with this concept is considered more reflect the actual conditions, because measurements by just looking at the changes income (households) without notice changes in the costs not comprehensively describe their welfare. When the concept of exchange rate fishermen (NTN) and exchange rate farmers fish (NTPi) describes the indicators for measuring the purchasing power of the need goods and services required, then when the value the higher the index of the exchange rate will be more welfare. Location of activities carried out in coastal areas Kutai Kartanegara regency covers Sub District of Muara Badak, Anggana, Sanga-Sanga, Muara Jawa, Samboja, and Marangkayu. The data obtainedin the field (primary) and secondary data is then compiled, categorized and analyzed. The focus of the study consisted of two analytical resultsare Exchange Fishermen (NTN) and Fishermen Exchange RateIndex (INTN) were divided into 3groups: Household Fishermen, fishing by fishing fleet, and fishing based on the type of fishing gear. The exchange rate fisherman (NTN) in total revenues and receipts fishery in 2012 based on their fishing geareach consisting of mini trawl of 1.13 and 1.76; trammel net of 1.16 and 1.69; guiding barrier was 1.04 and 1.94; bottom longline 1.28 and 2.07; crab traps of 1.02 and 1.97; troll line of 1.04 and 1.50; and step on the chart of 1.14 and 1.88. Exchange Rate Index fishermen (INTN) total revenues and receipts fishery in 2012 by fishing geareach consisting of mini trawl of 80.65 and 82.19; trammel net of 74.90 and 72.32; guiding barrier at 68.89 and 68.06; bottom longline at 62.78 and 62.20; crabs traps of 75.01 and 75.17; troll line for 71.64 and 69.18; and step on the chart at 69.29 and 69.76.Key words: fishermen, trend, welfare,

Page 6 of 31 | Total Record : 306


Filter by Year

2010 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 16 No. 2 (2025): Marine Fisheries: Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 16 No. 1 (2025): Marine Fisheries: Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 15 No. 2 (2024): Marine Fisheries: Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 15 No. 1 (2024): Marine Fisheries: Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 14 No. 2 (2023): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 14 No. 1 (2023): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 13 No. 2 (2022): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 13 No. 1 (2022): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 12 No. 2 (2021): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 12 No. 1 (2021): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 11 No. 2 (2020): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 11 No. 1 (2020): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 10 No. 2 (2019): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 10 No. 1 (2019): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 9 No. 2 (2018): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 9 No. 1 (2018): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 8 No. 2 (2017): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 8 No. 1 (2017): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 7 No. 2 (2016): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 7 No. 1 (2016): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 6 No. 2 (2015): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 6 No. 1 (2015): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 5 No. 2 (2014): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 5 No. 1 (2014): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 4 No. 2 (2013): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 4 No. 1 (2013): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 3 No. 2 (2012): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 3 No. 1 (2012): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 2 No. 2 (2011): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 2 No. 1 (2011): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 1 No. 2 (2010): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut More Issue