cover
Contact Name
Munirah Tuli
Contact Email
munirahtuli@ung.ac.id
Phone
+62251-8622935
Journal Mail Official
marfish.journal@gmail.com
Editorial Address
Department of Fisheries Resources Utilization Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Bogor Agricultural University.
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
ISSN : 20874235     EISSN : -     DOI : https://doi.org/10.29244/jmf.6.2.109-117
Core Subject : Social,
Aims: MARINE FISHERIES aims to publish an original research focused on technology and management of capture fisheries, such as fishing equipment, management and transportation of fishing vessel, port management, and technology of capture fisheries.
Articles 310 Documents
KAPASITAS ADAPTIF EKOLOGIS GUGUS PULAU GURAICI KECAMATAN KAYOA, KABUPATEN HALMAHERA SELATAN, PROVINSI MALUKU UTARA (Ecological Adaptive Capacity of Guraici Islands Group Sub-District Kayoa, Southern Halmahera District, North Moluccas Province) Riyadi Subur; Fredinan Yulianda; Achmad Fahrudin; Setyo B. Susilo
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 4 No. 2 (2013): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.253 KB) | DOI: 10.29244/jmf.4.2.97-108

Abstract

ABSTRACTCoral reef, mangrove, and seagrass bed are important ecosystems in coastal areas and small islands which plays critical roles in maintenance of shorelines and lands on small islands. Those ecosystems have mutual relationships in providing effective protection of lands and lives on small islands. The objectives of the research are to calculate, to valuate, and to determine ecological adaptive capacity small islands of Guraici Islands. Field work was carried out at all 17 islands of Guraici Islands, where data collection and calculations of each ecosystem adaptive capacity of coral reef, mangrove and seagrass bed were made. Values of adaptive capacity for each ecosystem are found to range between 0.0 and 1.0 whereas values of the ecological adaptive capacity of every single island in Guraici Islands range between 0.0 and 3.0. The results of this research indicate that all small island ecosystems studied in Guraici Islands can be grouped into three categories of adaptive capacity, they are “medium, low, and very low”. Values of coral reefs adaptive capacity range between 0.0 and 0.58. Values of mangroves adaptive capacity range between 0.0 and 0.51. Values of seagrass beds adaptive capacity range between 0.0 and 0.51. Data analysis made also shows that small island ecological adaptive capacity in Guraici Islands has also belonged to three categories “medium, low, and very low”, where all their adaptive capacity values range between 0.37 and 1.64. Ten islands are in “Medium” category, six islands in “low” category, and one island is in “very low” category.Key words: coral reef, ecological adaptive capacity, mangrove, seagrass-------ABSTRAKTerumbu karang (coral reef), mangrove dan padang lamun (seagrass bed), merupakan ekosistem penting di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang memegang peranan penting dalam melindungi garis pantai serta daratan pulau kecil. Ekosistem tersebut cukup efektif sebagai pelindung terhadap keselamatan lahan daratan pulau-pulau kecil, dan memiliki keterkaitan dalam melindungi pulau-pulau kecil. Tujuan peneliltian ini adalah menghitung, menilai serta menentukan status kapasitas adaptif ekologi pulau-pulau kecil dalam Gugus Pulau Guraici. Penelitian dilakukan pada 17 pulau yang terdapat dalam Gugus Pulau Guraici, dengan menghitung kapasitas adaptif ekosistem terumbu karang, ekosistem mangrove dan ekosistem lamun. Nilai Kapastias adaptif setiap ekosistem tersebut berkisar 0,0-1,0, sedangkan nilai kapasitas adaptif ekologi pulau berkisar 0,0-3,0. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa seluruh ekosistem pesisir yang diteliti pada pulau-pulau dalam Gugus Pulau Guraici tergolong dalam tiga kategori kapasitas adaptif yaitu “sedang, rendah dan sangat rendah”. Nilai kapasitas adaptif ekosistem terumbu karang berkisar 0,0-0,58.Ekosistem mangrove memiliki nilai kapasitas adaptif berkisar 0,0-0,51, dan ekosistem lamun kapasitas adaptifnya berkisar 0,0-0,59. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa kapasitas adaptif ekologi pulau-pulau dalam Gugus Pulau Guraici tergolong kedalam tiga kategori yaitu “sedang, rendah dan sangat rendah”, dengan nilai kapasitas adaptif ekologi yang berkisar 0,37-1,64. Sebanyak sepuluh pulau tergolong memiliki kapasitas adaptif ekologi “sedang’, enam pulau memiliki kapasitas adaptif ekologi berkategori “rendah”, dan satu pulau berkategori kapasitas adaptif ekologi “sangat rendah”.Kata kunci: terumbu karang, kapasitas adaptif ekologis, mangrove, lamun
PENGGUNAAN BENTUK DAN POSISI CELAH PELOLOSAN PADA BUBU LIPAT KEPITING BAKAU (Shape and Position Escape Gap Application of Collapsible Mud Crab Trap) Adi Susanto; Ririn Irnawati
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 4 No. 2 (2013): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.741 KB) | DOI: 10.29244/jmf.4.2.109-114

Abstract

ABSTRACTThe use of capture technology is not environmentally friendly and low public awareness to restore the Mud crab (Scylla sp.) that still poses a threat to small crab in natural resource conservation. The use of a gap for passage of the mud crab trap folding is one of the fishing technology innovations that will increase the size of crabs caught making it more environmentally friendly. This study aims to determine the size, shape and position of mounting an effective escape gap on collapsible traps for mud crabs that have not passed a decent catch. The method used was a laboratory experiment conducted on Fisheries Department UNTIRTA using escape gap is 2 boxes (50x50) mm and rectangular (60x36) mm mounted on the top and bottom position of the mouth traps. The results showed that the folding rectangular traps more effective mud crab that has not passed a decent escape capture by the percentage reaches 65%. Position mounting a more effective escape gap is at the bottom position of the mouth traps with crab escape frequency percentage of 54%.Key words: collapsible trap, escape gap, fishing technology, mud crab-------ABSTRAKPenggunaan teknologi penangkapan yang tidak ramah lingkungan dan rendahnya kesadaran masyarakat untuk mengembalikan kepiting bakau yang masih berukuran kecil memberikan ancaman terhadap kelestarian sumberdaya kepiting di alam. Penggunaan celah pelolosan pada bubu lipat kepiting bakau merupakan salah satu inovasi teknologi penangkapan yang akan meningkatkan ukuran kepiting yang tertangkap sehingga lebih ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan ukuran, bentuk dan posisi pemasangan celah pelolosan yang efektif pada bubu lipat untuk meloloskan kepiting bakau yang belum layak tangkap. Metode penelitian yang digunakan adalah percobaan laboratorium yang dilakukan di Jurusan Perikanan UNTIRTA dengan menggunakan 2 celah pelolosan yaitu kotak (50x50) mm dan persegi panjang (60x36) mm yang dipasang pada posisi atas dan bawah mulut bubu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bubu lipat berbentuk persegi panjang lebih efektif meloloskan kepiting bakau yang belum layak tangkap dengan persentase pelolosan mencapai 65%. Posisi pemasangan celah pelolosan yang lebih efektif adalah pada posisi bawah mulut bubu dengan persentase pelolosan mencapai 54%.Kata kunci: bubu lipat, celah pelolosan, teknologi penangkapan, kepiting bakau
PENGELOLAAN BANGGAI CARDINALFISH (Pterapogon kauderni) MELALUI KONSEP ECOSYSTEM-BASED APPROACH (Banggai cardinalfish (Pterapogon kauderni) Management an Ecosystem-Based Approach) Samliok Ndobe; Abigail Moore; Al Ismi M. Salanggon; . Muslihudin; Daduk Setyohadi; Endang Y. Herawati; . Soemarno
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 4 No. 2 (2013): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (569.047 KB) | DOI: 10.29244/jmf.4.2.115-126

Abstract

ABSTRACTThe Banggai Cardinalfish (Pterapogon kauderni) or capungan Banggai (often abbreviated as BCF) is a marine fish endemic to the waters around the Banggai Archipelago, caught in large numbers for the marine aquarium trade. The conservation of this endemic species became an international issue, in 2007 the BCF was proposed for CITES listing by the USA and listed as Endangered in the IUCN Red List. The CITES proposal was withdrawn, with Indonesia committed to conserve the Banggai Cardinalfish through a sustainable ornamental fishery approach. The multi-stakeholder Banggai Cardinalfish Action Plan (2007-2012) and other initiatives have aimed towards this goal; however the initiative to secure limited protected status in 2011 failed. Studies during 2011-2012 found many positive developments in the BCF fishery, and if the carrying capacity (stocks and ecosystems) was similar to the early 2000’s, current official exploitation levels should be sustainable. However a stock assessment analysis using FISAT II revealed a high exploitation level (0.5), indicating catches may have reached or possibly exceeded sustainable limits. Survey/monitoring results indicate the endemic population is not in a steady state, with sharp declines in the past decade. There are strong indications that habitat degradation is the main cause of this decline, including over-exploitation of key BCF micro-habitat (sea urchins and sea anemones). Without an effective solution to protect the supporting ecosystem, P. Kauderni will be increasingly threatened with extinction, with or without fishing pressure. The case of the BCF highlights the importance of an ecosystem-based approach to fisheries policy and management.Key words: ecosystem-based approach to fisheries management, Pterapogon kauderni, stockassessment, sustainable ornamental fishery-------ABSTRAKBanggai cardinalfish (Pterapogon kauderni) yang sering disingkat BCF atau capungan Banggai merupakan ikan laut endemik di perairan Banggai Kepulauan dan sekitarnya yang ditangkap dalam jumlah besar untuk diperdagangkan sebagai ikan hias. Kelestarian spesies endemik tersebut menjadi isu internasional dan pada tahun 2007 diusulkan pada CITES oleh Amerika Serikat dan didaftarkan sebagai Endangered pada Red List IUCN. Status terdaftar pada CITES ditangguhkan, namun Indonesia berkomitmen untuk menjamin kelestarian Banggai cardinalfish dengan pola sustainable ornamental fishery. Rencana Aksi Banggai Cardinalfish multi-stakeholder (2007-2012) dan beberapa inisiatif lain bertujuan mewujudkan tujuan tersebut antara lain penetapan status jenis lindung terbatas, namun upaya yang diinisiasi pada tahun 2011 tersebut gagal. Berdasarkan data kajian 2011-2012, banyak perubahan positif dalam perikanan BCF, dan jika daya dukung alam (stok dan ekosistem) masih seperti pada awal tahun 2000-an tingkat pemanfaatan resmi seharusnya sustainable. Hasil kajian menggunakan FISAT II bahwa tingkat pemanfaatan (0,5) tergolong tinggi, dan merupakan indikasi bahwa tingkat pemanfaatan telah pada atau melebihi batas maksimal lestari. Hasil survey/monitoring menunjukkan bahwa populasi endemik tidak pada kondisi steady state dan menunjukkan penurunan tajam dalam dekade terakhir. Terindikasi kuat bahwa penyebab utama penurunan tersebut adalah degradasi habitat, antara lain akibat pemanfaatan lebih mikrohabitat (bulu babi dan anemon laut). Tanpa solusi efektif untuk melestarikan ekosistem pendukung, P. kauderni akan semakin terancam punah, dengan atau tanpa adanya penangkapan. Kasus BCF menunjukkan pentingya pendekatan ecosystem-based approach terhadap kebijakan dan manajemen perikanan tangkap.Kata kunci: ecosystem-based approach to fisheries management, Pterapogon kauderni,pengkajian stok, sustainable ornamental fishery
PENDAMPINGAN KONSTRUKSI DAN OPERASIONALISASI SETNET BERDASARKAN KAJI TERAP SETNET DI JENEPONTO, SULAWESI SELATAN . Zarochman
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 4 No. 2 (2013): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (959.597 KB) | DOI: 10.29244/jmf.4.2.127-139

Abstract

ABSTRACToperating days per year that ensures continuous operation setnet. Assistance during construction continued for operationalization setnet to sustain operations through cooperation setnet technical guidance and management: preparation of backup setnet, care unit set-net, set-net operation, handling set-net catch and utilization of the catch setnet. Research methodology is studied arranging for trials setnet operation in 2012. Based on the results of experiment applied in Jeneponto has inspired a variety of information developed measures setnet fisheries management towards an increasingly comprehensive. Sustainability setnet operation by a group of fishermen setnet followed by an increase in the number of operating days and catch fish to be an important indication for continued development efforts.Key words: days of operation, operationalization, setnet, the catch of fish-------ABSTRAKOperasionalisasi setnet merupakan tahapan selama pengoperasian setnet pada perairan yang bertepatan rute migrasi ikan yang memenuhi jumlah hari operasi per tahun yang menjamin pengoperasian setnet secara berkelanjutan. Pendampingan konstruksi setnet diteruskan selama operasionalisasi setnet untuk menjaga keberlanjutan pengoperasian setnet melalui kerjasama pembinaan bidang teknis dan manajemen: penyiapan cadangan setnet, perawatan unit set-net, pengoperasian set-net, penanganan hasil tangkapan setnet dan pendayagunaannya. Metodologi penelitian adalah kaji terap selama uji coba pengoperasian setnet pada 2012. Berdasarkan hasil kaji terap setnet di Jeneponto menginspirasikan informasi berbagai langkah-langkah yang berkembang kearah manajemen perikanan setnet yang semakin komprehensif. Keberlanjutan pengoperasian setnet oleh kelompok nelayan setnet dengan diikuti peningkatan jumlah hari operasi dan hasil tangkapan ikan menjadi indikasi penting untuk diteruskan upaya pengembangannya.Kata kunci: hari operasi, operasionalisasi, setnet, hasil tangkapan
PENGGUNAAN LIGHT EMITTING DIODE PADA LAMPU CELUP BAGAN (The Use of Light Emitting Diode on Sunked Lamps of Lift Net) Imanuel M. Thenu; Gondo Puspito; Sulaeman Martasuganda
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 4 No. 2 (2013): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (688.94 KB) | DOI: 10.29244/jmf.4.2.141-151

Abstract

ABSTRACTLift net fishermen usually use fluorescent lamp as attractor to lure fish. As price of fuel rise, fishermen are forced to find another option to change their attractor into some much lower cost and more energy-save lamp, or in other words, to change into LED lamp. This research are providing evidence that sunked LED lamps can be utilized as a helper tools, and also determined the best time for catching fish in the lift net. Two lift net used in this research, one of them used sunked LED lamps and the other used ordinary fluorescent lamps. Lift net are operated as long as 20 nights, with four catching times per night, between 18.00-21.00, 21.00-00.00, 00.00-03.00, and 03.00-06.00. Results showed that LED lamps give a better result with 11 organisms successfully catch (287,6 kg), compared to ordinary fluorescent lamps with only six organisms (238,3 kg). The best time for catching with LED lamps are between 18.00-21.00 (121 kg), while between 21.00-00.00 (67,4 kg), 00.00-03.00 (46,9 kg) and 03.00-06.00 (52,3 kg).Key words: fluorescent lamp, lift net, light emitting diode, Palabuhanratu,sunked lights-------ABSTRAKNelayan bagan biasa menggunakan lampu fluorescent sebagai atraktor untuk memanggil ikan. Harga bahan bakar yang mahal menyebabkan nelayan harus beralih memakai jenis lampu lain yang hemat energi, seperti lampu LED (light emitting diode) Penelitian bertujuan untuk membuktikan bahwa lampu celup LED dapat digunakan sebagai alat bantu penangkapan ikan pada bagan dan menentukan waktu operasi penangkapan terbaik. Dua bagan digunakan dalam penelitian ini. Masing-masing menggunakan lampu celup LED dan lampu fluorescent. Bagan dioperasikan selama 20 malam. Dalam 1 malam dilakukan 4 kali penangkapan, yaitu antara jam 18.00-21.00, 21.00-00.00, 00.00-03.00 dan 03.00-06.00. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan lampu celup LED pada bagan menghasilkan 11 jenis organisma tangkapan seberat 287,6 kg, atau lebih banyak dari lampu fluorescent sejumlah 6 organisma (238,3 kg). Adapun waktu penangkapan terbaik pada bagan yang menggunakan lampu LED adalah antara pukul 18.00-21.00 yang menghasilkan tangkapan seberat 121 kg, sedangkan 21.00-00.00 (67,4 kg), 00.00-03.00 (46,9 kg) dan 03.00-06.00 (52,3 kg).Kata kunci: lampu fluorescent, bagan, light emitting diode, Palabuhanratu, lampu celup
UPAYA PENANGANAN MUTU IKAN TUNA SEGAR HASIL TANGKAPAN KAPAL TUNA LONGLINE UNTUK TUJUAN EKSPOR (Fresh Tuna Handling Quality for Tuna Longliner Caching for Export Market) Tri W. Nurani; Rama P. S. Murdaniel; Muklis H. Harahap
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 4 No. 2 (2013): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.581 KB) | DOI: 10.29244/jmf.4.2.153-162

Abstract

ABSTRACTThe main purpose of fresh tuna longline fishing vessels operations is fresh tuna for export. The main market of these products are Japan, American and European Union. The markets require a high quality product that goes to the country. This paper is review of the research were conducted in 2007 and 2010, aims to compare the proportion of feasibility of tuna for export from fresh tunalongliner. The study is based on the research results that conducted in the PPS Muara Baru in April-Mei 2007 and September-Oktober 2010. Method of the research have used mapping control analysis. The results showed that the proportion of products that meet the standards of export in 2007 outside the control of the Central Line (GT): 50,40; Upper Line (BA): 51,45-54,14 and Bottom Line (BB): 47,46-49,35. Meanwhile, the research results of 2010 also showed out of control, with the GT: 21,50; BA: 24,55 and BB: 18,45. Thus although there is a decrease proportion for products that do not meet the export quality standards from 50,40% in 2007 to 21,50% in 2010. Based on these result, we can conclude that there is an increase the proportion of viable tuna export product, indicate that there were an improvement in quality control on fresh tuna longline fishing vessels.Key words: fresh tuna longliner, fresh tuna products, “mapping control”, the feasibility quality-------ABSTRAKTujuan utama operasi penangkapan ikan kapal fresh tuna longline adalah ikan tuna segar untuk tujuan ekspor. Pasar ekspor utama produk tuna segar adalah Jepang, Amerika dan Uni Eropa. Pasar ini mensyaratkan mutu yang tinggi untuk produk yang masuk ke negaranya. Naskah ini merupakan review terhadap hasil penelitian yang telah dilakukan pada tahun 2007 dan 2010, dengan tujuan untuk membandingkan proporsi ikan tuna yang layak ekspor hasil tangkapan kapal tuna longline. Penelitian telah dilakukan di PPS Muara Baru, yaitu pada bulan April-Mei tahun 2007 dan bulan September-Oktober tahun 2010. Metode analisis yang digunakan yaitu analisis peta kendali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi produk yang tidak memenuhi standar ekspor pada tahun 2007 diluar kendali dengan Garis Tengah (GT): 50,40; Batas Atas (BA): 51,45-54,14 dan Batas Bawah (BB): 47,46-49,35. Sementara itu hasil penelitian tahun 2010 juga menunjukan hasil diluar kendali, dengan GT: 21,50; BA: 24,55 dan BB: 18,45. Namun demikian terdapat penurunan proporsi produk yang tidak memenuhi standar kualitas ekspor dari 50,40% pada tahun 2007 menjadi 21,50% tahun 2010. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa, terdapat peningkatan proporsi produk yang layak ekspor, dengan adanya upaya peningkatan pengendalian mutu pada kapal fresh tuna longline.Kata kunci: kapal fresh tuna longline, produk tuna segar, peta kendali, kelayakan mutu
PENGUATAN CAHAYA PADA BAGAN MENGGUNAKAN REFLEKTOR KERUCUT SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN HASIL TANGKAPAN CUMI-CUMI (Light Strengthening on Lift Net with Conical Reflectors to Squid Catch Improvement) Supriono Ahmad; Gondo Puspito; M. Fedi A. Sondita; Roza Yusfiandayani
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 4 No. 2 (2013): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (838.387 KB) | DOI: 10.29244/jmf.4.2.163-173

Abstract

ABSTRACTStudy of light strengthening on lift net with conical reflectors was conducted in Kao Bay waters. Three units of lift net were operated 14 nights at the full moon condition. Every lift nets were completed with three different kind of lamp cover, called tudung, reflector αr23,3o and αr32,6o. Fishing operation time of lift net were divided into two intervals of time i.e 20.00-01.00 and 01.00-05.00 WIT (East Indonesian Timezone). Total yield of lift net with reflector αr23,3o was 5.774 kg (41,45%), while that of the lift net with reflector αr 32,6o was 4.977 kg (35,72%), and that of total yield of the lift net with tudung was 3.180 kg (22,83 %). Fishing operation time of lift net at 01.00-05.00 WIT (East Indonesian Timezone) produced 12.661 kg (91 %) weight of total catch, higher than fishing operation of lift net at 20.00-01.00 am that produced 1.270 kg (9 %) weight of total catch. However, statistical analysis concluded that design of the reflector did not significantly affect the catch per trip (Pvalue > 0,05) while fishing time significantly affected the catch per trip (Pvalue < 0,05).Key words: Kao Bay, light, reflector, squid-------ABSTRAKPenelitian tentang pengaruh penguatan cahaya pada bagan dengan reflektor kerucut terhadap hasil tangkapan cumi-cumi dilakukan di perairan Teluk Kao. Tiga unit bagan dioperasikan selama 14 malam pada saat kondisi terang bulan. Masing-masing bagan dilengkapi penutup lampu berbeda, yaitu tudung standar, reflektor kerucut αr23,3o dan αr32,6o. Setiap pengoperasian bagan dibagi dalam dua interval waktu, yaitu antara 20.00-01.00 WIT dan 01.00-05.00 WIT. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan reflektor αr23,3o memberikan hasil tangkapan cumi-cumi paling banyak dengan bobot total 5.774 kg (41,45%), sedangkan bagan dengan reflektor αr32,6o seberat 4.977 kg (35,72%), dan bagan dengan tudung 3.180 kg (22,83%). Pengoperasian bagan pada interval waktu penangkapan 01.00-05.00 WIT menghasilkan bobot tangkapan 12.661 kg (91%), atau lebih tinggi dari interval waktu penangkapan 20.00-01.00 WIT (1.270 kg) atau 9% dari total hasil tangkapan. Namun hasil uji statistik menyimpulkan bahwa faktor tudung tidak berpengaruh nyata terhadap tangkapan cumi-cumi per trip sedangkan faktor interval waktu penangkapan berpengaruh nyata (Pvalue = 0,05).Kata kunci: Teluk Kao, cahaya, reflektor, cumi-cumi
DINAMIKA PERIKANAN KERAPU DI TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA (Grouper Fishery Dynamics in Karimunjawa National Park) Irfan Yulianto; Budy Wiryawan; Am Azbas Taurusman; Prihatin I. Wahyuningrum; Vita R. Kurniawati
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 4 No. 2 (2013): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (513.465 KB) | DOI: 10.29244/jmf.4.2.175-181

Abstract

ABSTRACTKarimunjawa National Park is one of the national parks that have the objective to maintain fish populations in the Java Sea, where one of them is grouper. Grouper is one of the target fish in the national park. The objective of this study is to assess the conditions and dynamics of the grouper fishery in Karimunjawa National Park. Fish landing surveys were conducted to collect the data. Fishing gear types, grouper species, and weight of each species were collected. Calculation of Catch per Unit Effort (CPUE) per month and two-way ANOVA statistical tests were used for data analysis. Results of this study indicated that catches of grouper using speargun was significantly higher than the catch using handline. There was a seasonal cycle of the grouper catch, where the value of the highest CPUE occurred in transitional season between the west and east monsoon season, from March to May.Key words: CPUE, grouper fishery, Karimunjawa National Park-------ABSTRAKTaman Nasional Karimunjawa merupakan salah satu taman nasional yang salah satu tujuannya untuk mempertahankan populasi ikan di Laut Jawa, dimana salah satunya adalah perikanan kerapu. Ikan kerapu merupakan salah satu target penangkapan di perairan Taman Nasional Karimunjawa. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kondisi dan dinamika perikanan kerapu di Taman Nasional Karimunjawa. Survei pendaratan ikan dilakukan untuk pengumpulan data. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan kerapu, jenis hasil tangkapan, dan berat masing-masing jenis hasil tangkapan setiap trip. Perhitungan nilai Catch per Unit Effort (CPUE) setiap bulan dan uji statistik two ways ANOVA digunakan untuk analisis data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hasil tangkapan ikan kerapu dengan menggunakan speargun lebih tinggi dan berbeda nyata secara statistik dibandingkan hasil tangkapan dengan menggunakan pancing. Terdapat siklus musiman hasil tangkapan, dimana nilai CPUE tertinggi terjadi pada musim peralihan antara musim barat dan musim timur yakni dari bulan Maret hingga Mei.Kata kunci: CPUE, perikanan kerapu, Taman Nasional Karimunjawa
TATA MUATAN DAN VARIASI MUSIM PENANGKAPAN PENGARUHNYA TERHADAP STABILITAS PURSESEINER BULUKUMBA, SULAWESI SELATAN (Influence of Cargo Arrangement and Fishing Season Variation toward Bulukumba Purseseiner Stability in South sulawesi) Hery S. Nurdin; Budhi H. Iskandar; Mohammad Imron; Yopi Novita
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 4 No. 2 (2013): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (658.338 KB) | DOI: 10.29244/jmf.4.2.183-193

Abstract

of cargo arrangement so can they impact to quality stability of fishing vessel. The aim of this research is design and stability analysis Bulukumba purseseiner with three conditions cargo arrangement and two fishing seasons (peak fishing season and scarcity fisihing season). This research is done at Bulukumba regency, South Sulawesi province in February until April 2013 with measurements, observation and interview related of main dimension and cargo arrangement of Bulukumba purseseiner in field. Hydrostatic paramter analysis uses naval architecture formula and stability analysis uses PGZ software of three cargo arrangement conditions on two fishing seasons and then, these values will be compared with references value. The results of design analysis show that coefficient of finennes bulukumba purseseiner is Cb = 0.80 and Cp = 0.88 which its hull type bulukumba purseseiner is round bottom. Principal dimension ratio Bulukumba purseseiner have agreed with references of fishing vessel in Indonesia but it have not filled references of fishing vessel in Japan. The values of Bulukumba purseseiner stability have filled to IMO criteria of stability values. Stability of Bulukumba purseseiner on scarcity fishing season better than on peak fishing season and the best value of stability is PA-K3 condition (condition of purseseiner back to fishing base on scarcity fishing season).Key words: Bulukumba, cargo arrangement, design, purseseiner, stability-------ABSTRAKKabupaten Bulukumba merupakan salah satu daerah pembuatan kapal kayu dan masih besifat tradisional. Musim penangkapan ikan dapat mempengaruhi distribusi muatan di atas kapal sehingga dapat berakibat pada kualitas stabilitas kapal. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis desain dan stabilitas kapal purse seine Bulukumba berdasarkan tata muatan dengan tiga kondisi muatan dalam dua variasi musim penangkapan (musim puncak dan musim paceklik). Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Bulukumba Provinsi Sulawesi Selatan pada bulan Februari–April 2013 dengan melakukan pengukuran, pengamatan dan wawancara secara langsung di lapangan terkait dimensi utama dan distribusi muatan. Analisis parameter hidrostatis dilakukan menggunakan formula naval architecture sedangkan analisis stabilitas menggunakan software PGZ yang selanjutnya dibandingkan dengan nilai acuan. Hasil analisis desain menunjukkan, kapal purse seine Bulukumba memiliki nilai koefisien bentuk yaitu Cb = 0,80 dan Cp = 0,88 dengan kasko kapal berbentuk round bottom. Rasio dimensi utama kapal purse seine Bulukumba telah berada pada rentang nilai kapal purse seine di Indonesia namun belum berada pada rentang nilai kapal purse seine di jepang. Nilai stabilitas kapal purse seine Bulukumba telah memenuhi nilai kriteria stabilitas IMO. Stabilitas kapal purse seine Bulukumba pada musim paceklik lebih baik dibandingkan pada musim puncak dengan nilai stabilitas terbaik pada kondisi PA-K3 (kondisi kapal kembali ke fishing base pada musim paceklik).Kata kunci: Bulukumba, tata muatan, desain, kapal purse seine, stabilitas
PERIKANAN SKALA KECIL: PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN NELAYAN DALAM KAITANNYA DENGAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENANGKAPAN IKAN (Small-Scale Fishing: Fishers Decision-Making in Relation to Fishing Factors in Conserving Sustainability of Fishing) Agnes P. Sudarmo; Mulyono S Baskoro; Budy Wiryawan; Eko S. Wiyono; Daniel R. Monintja
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 4 No. 2 (2013): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.979 KB) | DOI: 10.29244/jmf.4.2.195-200

Abstract

ABSTRACTThe human element is an important key factor in the success of small-scale fishing activities. Knowledge of decision-making by fishermen in choosing the location of fishing will determine the sustainability of fisheries resources. There were two aims in this paper which are to explore factors that influenced the decision-making process and to determine how to choose fishing grounds. This method used content analysis to examine the relevant literature. Results showed that some factors that influence decision making process were weather, currents, familiarity with fishing grounds, sources and sharing information, available resources, recent catch effort, socio-historical-cultural and economic factors. Choosing fishing location was determined by the safely routes, travel costs, profit maximization, information, environmental factors, and individual personality.Key words: decision-making process, small-scale fishers-------ABSTRAKUnsur manusia merupakan faktor kunci penting dalam suksesnya kegiatan penangkapan ikan skala kecil. Pengetahuan tentang pengambilan keputusan yang dilakukan oleh nelayan dalam memilih lokasi penangkapan ikan akan menentukan keberlanjutan sumber daya perikanan. Ada dua tujuan yang ingin dicapai yaitu untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan yang dilakukan nelayan skala kecil dalam hal penangkapan ikan dan cara menentukan lokasi penangkapan ikan. Penelitian ini menggunakan metode kajian literatur / studi pustaka dari berbagai jurnal penelitian. Hasil telaah literatur menunjukkan bahwa faktor cuaca, arus angin, familiar dengan lokasi, berbagi pengalaman dengan nelayan lainnya, hasil tangkapan sebelumnya, ketersediaan sumberdaya, faktor lingkungan sosial, ekonomi, budaya, berpengaruh dalam proses pengambilan keputusan nelayan. Nelayan menentukan lokasi penangkapan ikan dilakukan dengan cara memilih rute perjalanan yang aman, memperhitungkan biaya operasional penangkapan ikan, mendapatkan keuntungan maksimal, informasi, faktor lingkungan, ataupun kepribadian individu.Kata kunci: proses pengambilan keputusan, nelayan skala kecil

Page 7 of 31 | Total Record : 310


Filter by Year

2010 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 17 No. 1 (2026): Marine Fisheries: Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 16 No. 2 (2025): Marine Fisheries: Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 16 No. 1 (2025): Marine Fisheries: Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 15 No. 2 (2024): Marine Fisheries: Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 15 No. 1 (2024): Marine Fisheries: Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 14 No. 2 (2023): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 14 No. 1 (2023): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 13 No. 2 (2022): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 13 No. 1 (2022): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 12 No. 2 (2021): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 12 No. 1 (2021): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 11 No. 2 (2020): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 11 No. 1 (2020): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 10 No. 2 (2019): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 10 No. 1 (2019): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 9 No. 2 (2018): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 9 No. 1 (2018): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 8 No. 2 (2017): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 8 No. 1 (2017): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 7 No. 2 (2016): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 7 No. 1 (2016): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 6 No. 2 (2015): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 6 No. 1 (2015): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 5 No. 2 (2014): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 5 No. 1 (2014): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 4 No. 2 (2013): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 4 No. 1 (2013): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 3 No. 2 (2012): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 3 No. 1 (2012): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 2 No. 2 (2011): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 2 No. 1 (2011): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Vol. 1 No. 2 (2010): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut More Issue