cover
Contact Name
Hadiyanto
Contact Email
hadiyanto@che.undip.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jakawindarta@lecturer.undip.ac.id
Editorial Address
Program Studi Magister Energi Sekolah Pascasarjana Universitas Diponegoro Jl. Imam Bardjo, SH-No 3, Semarang 50241
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Energi Baru dan Terbarukan
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 27226719     EISSN : 27226719     DOI : https://doi.org/10.14710/jebt
Jurnal Energi Baru dan Terbarukan dimaksudkan sebagai media publikasi hasil-hasil penelitian yang ditulis dalam bentuk artikel review, full artikel penelitian dan short communication dalam bidang pengembangan energi baru dan terbarukan. Artikel dapat ditulis dalam bahasa Indonesia maupun dalam Bahasa Inggris. Jurnal memiliki fokus pada pengembangan energi baru dan terbarukan namun tidak menutup kemungkinan pada energi fosil dan yang tidak terbarukan. Jurnal menerima artikel dari kajian energi dari berbagai aspek multidisiplin keilmuan seperti manajemen, energi, teknologi energi, diversifikasi energi, kebijakan energi, ekonomi energi.
Articles 126 Documents
Analisis Pengaruh Perubahan Pembebanan Listrik Terhadap Konsumsi Spesifik Bahan Bakar Pembangkitan, Heat Rate dan Efisiensi Pada Unit 1 PLTU Kendari-3 Ivan Darren Alber; Berkah Fajar Tamtomo Kiono
Jurnal Energi Baru dan Terbarukan Vol 3, No 3 (2022): Oktober 2022
Publisher : Program Studi Magister Energi, Sekolah Pascasarjana, Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jebt.2022.13371

Abstract

Permbangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Kendari-3 merupakan PLTU di Indonesia yang memanfaatkan energi batubara sebagai bahan bakar dengan kapasitas 2x50 MW. Beban yang dibangkitkan pada PLTU Kendari-3 tidak selalu konstan karena adanya fluktuasi beban pada jaringan listrik sesuai dengan permintaan konsumen (Ilham & Aksar, 2021). Konsumsi spesifik bahan bakar merupakan parameter yang penting untuk melihat efisiensi pembangkit listrik terhadap konsumsi dari bahan bakar yang digunakan untuk menghasikan energi listrik (Putra et al., 2021). Pada penelitian ini menganalisa pengaruh pembebanan listrik unit PLTU Kendari-3 terhadap nilai Specific Fuel Consumption (SFC), Net Plant Heat Rate (NPHR), Gross Plant Heat Rate (GPHR), dan efisiensi termal dengan menggunakan metode pendekatan analisis termodinamika dan metode input-output energi. Data yang dianalisis adalah data aktual saat operasi normal yang diambil dari Distributed Control System (DCS). Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa semakin besar beban unit PLTU Kendari-3 akan semakin semakin baik performa plantnya. Hal tersebut ditunjukan dengan kenaikan efisiensi 25,30 % pada beban 30 MW Net naik menjadi 29,89 % pada beban 40 MW Net, dan naik menjadi 30,40 % pada beban 50 MW Net. Selain itu naiknya performa plant juga ditunjukan dengan turunnya nilai Gross Plant Heat Rate (GPHR) dari 3.399,06 kkal/kWh pada beban 30 MW Net turun menjadi 2.876,62 kkal/kWh pada beban 40 MW Net, dan turun menjadi 2.828,46 kkal/kWh pada 50 MW Net.
Dampak Program LTSHE Tahun 2017 Terhadap Peningkatan Banyaknya Usaha Rumah Tangga Desa Terpencil di Papua Khairun Nisa; Riyanto Riyanto
Jurnal Energi Baru dan Terbarukan Vol 3, No 3 (2022): Oktober 2022
Publisher : Program Studi Magister Energi, Sekolah Pascasarjana, Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jebt.2022.16240

Abstract

Program Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE) merupakan program elektrifikasi nasional kepada rumah tangga yang belum menggunakan listrik, khususnya yang berada di Papua mengingat sebagian besar desa yang belum menggunakan listrik berada di pulau ini. Dengan program ini, masyarakat mendapatkan penerangan dengan tingkat pencahayaan yang jauh lebih baik tanpa harus mengeluarkan biaya bahan bakar. Hal ini berdampak pada peningkatan peluang masyarakat untuk melakukan kegiatan di malam hari, salah satunya dengan melakukan kegiatan usaha skala rumah tangga. Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak program LTSHE terhadap peningkatan banyaknya usaha skala rumah tangga di desa, yaitu usaha rumah tangga anyaman, toko kelontong dan warung makanan di desa terpencil di Papua. Dengan menggunakan data PODES 2014 dan 2020 serta menggunakan metode Difference in Difference, penelitian ini menemukan bahwa program LTSHE tidak berdampak terhadap peningkatan banyaknya usaha rumah tangga toko kelontong dan warung makanan. Bahkan dampaknya terhadap banyaknya usaha rumah tangga berbasis anyaman, malah negatif dan signifikan.
Analisis Prakiraan Kebutuhan Energi Nasional Jangka Panjang Untuk Mendukung Program Peta Jalan Transisi Energi Menuju Karbon Netral Yudiartono Yudiartono; Jaka Windarta; Adiarso Adiarso
Jurnal Energi Baru dan Terbarukan Vol 3, No 3 (2022): Oktober 2022
Publisher : Program Studi Magister Energi, Sekolah Pascasarjana, Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jebt.2022.14264

Abstract

Berdasarkan peta jalan transisi energi, strategi utama yang disusun Pemerintah untuk menuju karbon netral di sisi kebutuhan energi adalah pemanfaatan kompor induksi dan pengembangan jaringan gas perkotaan di sektor Rumah Tangga serta penerapan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) untuk sektor transportasi. Selama periode 2020-2050, laju pertumbuhan PDB rata-rata sebesar 5,03% per tahun dan pertumbuhan penduduk sebesar 0,63% per tahun, mengakibatkan total kebutuhan energi final (tanpa biomasa ) untuk skenario BAU meningkat dari 845 juta SBM pada tahun 2020 menjadi 2.889 juta SBM pada tahun 2050 atau meningkat rata-rata sebesar 4,2% per tahun. Sedangkan untuk skenario transisi energi (TE), kebutuhan energi final tersebut hanya tumbuh sebesar 3,8% per tahun, atau naik menjadi hanya 2.593 juta SBM pada tahun 2050. Terlihat bahwa terjadi penurunan sekitar 10% pada total kebutuhan energi final, apabila dibandingkan dengan skenario BAU. Hal ini terjadi karena efisiensi kompor induksi dan kompor berbahan bakar gas jauh lebih efisien apabila dibandingkan efisiensi kompor LPG, karena itu akan menurunkan konsumsi LPG secara signifikan, yaitu sebesar 10,12 juta ton per tahun. Disamping itu percepatan penerapan program KBLBB di sektor transportasi juga akan menghemat penggunaan BBM secara signifikan bila diterapkan secara konsisten, dimana pada tahun 2050 tersebut terjadi penghematan kebutuhan bensin dan solar berturut turut sebesar 68 juta kilo liter dan 2,7 juta kilo liter. Di sisi lain, pada tahun yang sama, diprediksi akan terjadi kenaikan kebutuhan listrik untuk sektor transportasi dan sektor rumah tangga, berturut turut mencapai 232 TWh dan 74 TWh.
Front Matter Vol 3 No. 3 (2022): Oktober 2022 Jaka Windarta
Jurnal Energi Baru dan Terbarukan Vol 3, No 3 (2022): Oktober 2022
Publisher : Program Studi Magister Energi, Sekolah Pascasarjana, Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jebt.2022.16368

Abstract

-
Desain Pompa Air Tenaga Surya DC di Mata Air Aroen, Kabupaten Manatuto, Timor Leste Budiman Kamil; Jaka Windarta; Oo Abdul Rosyid
Jurnal Energi Baru dan Terbarukan Vol 3, No 3 (2022): Oktober 2022
Publisher : Program Studi Magister Energi, Sekolah Pascasarjana, Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jebt.2022.14266

Abstract

Teknologi Pompa Air Tenaga Surya (PATS) saat ini dapat menjadi solusi penyediaan air untuk keperluan rumah tangga yang ramah lingkungan tertama di daerah terpencil yang belum tersedia listrik. Desain sistem yang tepat sangat tergantung pada kondisi geografis, penyinaran matahari yang tersedia, kebutuhan air domestik dan konfigurasi yang tepat dari sistem yang diusulkan. Oleh karena itu, tujuan dari studi ini adalah untuk membuat desain Pompa Air Tenaga Surya submersibel DC yang optimal yang mampu memasok sistem pompa surya untuk memenuhi kebutuhan air domestik dari desa terpencil yang terletak di kabupaten Manatuto, Timor Leste. Pendekatan rinci untuk desain PATS, disimulasikan berdasarkan data kebutuhan air penduduk dari hasil survei. Selain itu, studi desain PATS dilakukan dengan memperhatikan kondisi geografis. Berdasarkan kondisi tersebut dan letak pemukiman, maka desain sistem pemasokan air direncanakan menggunakan 2 metoda yaitu dengan sistem pemompaan dan sistem gravitasi. Dari hasil perhitungan jarak dan ketinggian antara sumber air dengan pemukiman penduduk yang membutuhkan pompa dengan total head statis yang besar tetapi debit kecil, maka jenis pompa yang cocok adalah pompa submersibel rotor heliks dengan arus DC. Hal ini karena listrik dari panel surya adalah listrik DC sehingga akan lebih efisien jika menggunakan pompa DC. Selain itu Pompa DC memiliki keunggulan lebih efisien karena memberikan output maksimum dengan panel surya yang lebih sedikit. Pompa surya AC membutuhkan lebih banyak panel surya karena listrik harus diubah menjadi AC untuk digunakan. Akibatnya, efisiensi sistem berkurang.
Economic Feasibility Study of Rooftop Solar Power Plant 32 kWp in PT KPJB Office Building, PLTU Tanjung Jati B, Kabupaten Jepara Sensa Ritzky Cinicy, Oky; Windarta, Jaka; Saptadi, Singgih
Jurnal Energi Baru dan Terbarukan Vol 4, No 2 (2023): Juli 2023
Publisher : Program Studi Magister Energi, Sekolah Pascasarjana, Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jebt.2023.17574

Abstract

Strategic initiatives in an effort to increase the role of New and Renewable Energy in the energy mix as a supply of power plants, one of which is the development of Solar Power Plants (PLTS) for own use at PLN's existing Power Plants. In 2021, the percentage of self-use power at PLTU Tanjung Jati B reaches 5.25% or the equivalent of 543 GWh, where PT. KPJB office building is one of the loads that receives self-use from the PLTU grid. Rooftop Solar Power Plant (PLTS) has been implemented on to replace the role of supplying electrical energy from the PLTU to several equipment to support the company's operations. After conducting an economic feasibility study with 3 calculation methods, namely Net Present Value (IDR. 210,436,003.12), Benefit Cost Ratio (1.17), and Payback Period (16.90), theoretically implementing a 32 kWp PLTS Rooftop can indeed said worthy. But with the three calculation results that can be considered very low with an estimated return on investment reaching almost 17 years.
Efektifitas Perpres No 35/208 untuk Mepercepat Pembangun PLTSa di Indonesia Adang Sudrajat; Syafrudin Syafrudin; Endang Kusdiyantini
Jurnal Energi Baru dan Terbarukan Vol 4, No 1 (2023): Maret 2023
Publisher : Program Studi Magister Energi, Sekolah Pascasarjana, Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jebt.2023.16791

Abstract

Progres pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Indonesia sampai saat ini tidak terlalu signikan, padahal sudah banyak peraturan yang diterbitkan untuk mendukung percepatannya termasuk Peraturan Presiden RI yang diterbitkan beruntun, termasuk yang terakhir nomor 35 tahun 2018 untuk percepatan pembangunan  PLTSa di 12 kota besar yang volume sampahnya rata-rata sudah melebihi 1000 MT/hari. Sampai saat ini, baru PLTSa Benowo di Surabaya yang sudah sukses dibangun dan beroperasi secara komersial, sementara yang lainnya masih dalam tahap konstruksi 2 lokasi dan sisanya masih dalam proses perencanaan pengadaan dan penysunsan studi kelayakan. Mengapa pembangunan PLTSa ini berjalan sangat lambat, padahal tariff listrik yang dijual kepada PLN sudah ditetapkan jauh diatas tariff listrik PLN yang dijual kepada pelanggannya? Sudah banyak dilakukan penelitian terkait kendala dalam pembangunan PLTSa ini namun sampai saat ini belum memberikan dampak signifikan terhadap pelaksanaan pembangunannya. Mungkin masih banyak risiko yang harus dihadapi oleh Pemerintah Daerah, Pengembang maupun PLN dan belum ada mitigasi yang dalam kendali mereka sehingga mereka ‘enggan’ untuk aktif dalam proses pembangunan PLTSa ini. Untuk itu dilakukan kajian risiko terhadap pasal-pasal dalam Peraturan Presiden nomor 35 tahun 2018 untuk mengalwali proses penelitian ini, kemudian dilakukan konfirmasi melalui pertanyaan  yang dituangkan dalam kuisioner kepada Pemerintah Daerah, Pengembang dan PLN. Setelah dilakukan Analisa data hasil penelitian yang sudah divalidasi, disimpulkan kendala terhambatnya pembangunan PLTSa dimaksud dan disiapkan saran untuk mengatasi kendalanya
Peranan Gasifikasi Batubara Menjadi Dimetil Eter (DME) dalam Bauran Energi Baru dan Kontribusinya pada Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca di Indonesia Fadhilla, Putri Nur; Nazarudin, Sinaga
Jurnal Energi Baru dan Terbarukan Vol 4, No 2 (2023): Juli 2023
Publisher : Program Studi Magister Energi, Sekolah Pascasarjana, Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jebt.2023.17420

Abstract

Bauran energi primer di Indonesia masih didominasi oleh energi fosil, salah satunya batubara. Indonesia tercatat memiliki sumber daya batubara sebesar 110,07 Milyar Ton dan cadangan sebesar 36,28 Milyar Ton, yang didominasi oleh batubara kalori rendah dan sedang. Sekitar 72% dari produksi batubara dalam negeri dilakukan ekspor. Saat ini Pemerintah tengah mendorong pemanfaatan batubara untuk peningkatan nilai tambah (PNT) melalui gasifikasi batubara menjadi Dimetil Eter (DME). DME memiliki karakteristik yang serupa dengan Liquefied Petroleum Gas (LPG) sebagai bahan bakar untuk memasak rumah tangga. Pemanfaatan batubara melalui gasifikasi batubara menjadi DME diharapkan mampu mengurangi impor LPG yang pada tahun 2021 mencapai 6,33 juta ton (75,84%). Melalui beberapa regulasi dan insentif yang telah disiapkan oleh Pemerintah, gasifikasi batubara diharapkan dapat menekan import LPG hingga 1,9 juta ton pada tahun 2050. Selain terciptanya ketahanan energi nasional, upaya ini juga berkontribusi terhadap peningkatan bauran energi baru sebesar 3% pada tahun 2025 dan 1,9% pada tahun 2050, serta berkontribusi pada penurunan gas rumah kaca hingga 14,03% pada tahun 2025 dan 33,35% pada tahun 2050 pada pembakaran DME sebagai bahan bakar memasak rumah tangga. Untuk mengurangi timbulan emisi CO2, perlu dilakukan beberapa pengembangan dalam produksi DME diantaranya menggunakan biomassa sebagai bahan baku, penangkapan CO2, dan yang baru-baru ini dikembangkan adalah memanfaatkan CO2 yang ditangkap sebagai bahan baku untuk memproduksi DME.
Telaah Kebijakan Green Economy di Provinsi Kalimantan Utara Jumario, Noptri; Marianus, Albertus Stefanus
Jurnal Energi Baru dan Terbarukan Vol 4, No 2 (2023): Juli 2023
Publisher : Program Studi Magister Energi, Sekolah Pascasarjana, Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jebt.2023.17393

Abstract

Abstrak : Provinsi Kaltara merupakan provinsi termudah di Indonesia dengan mengandalkan sumber daya alam seperti fosil yang tidak terbarukan, sebagai penopang pertumbuhan ekonomi. Pada tahun 2021, sektor pertambangan dan penggalian lebih mendominasi. Hal tersebut bertolak belakang dangan konsep green economy, dimana ekonomi hijau perpaduaan yang selaras antara pengetasan kemiskinan, peningkatan pertumbuhan ekonomi dengan stabilitas kualitas lingkungan dalam pemanfaatan sumber daya alam yang terbarukan dan rendah karbon untuk kepentingan penghidupan saat ini tanpa mengancam kebutuhan generasi yang akan datang. Tujuan penulisan paper ini adalah menganalisa kebijakan green economy di Provinsi Kalimantan Utara. Dalam upaya menginternalisasi konsep ekonoi hijau dalam proses perencanaan pembangunan. Penulisan paper ini menggunakan metode eksplorasi literatur. Di mana metode eksplorasi literatur di gunakan untuk mencari literatur yang berkaitan dengan konsep green economy. Hasil analisis dari paper ini yaitu ada 2 (dua) hal penting, yaitu pertama mendorong energi terbarukan sebagai sumber energi listrik, kedua memanfaatkan potensi hutan khususnya lahan gambut dan mangrove untuk dijadikan perdagangan karbon. Kedua upaya ini, dapat menjadi katalisator dalam pertumbuhan perekonoian hijau di Kalimantan Utara.
Dekarbonisasi Sektor Ketenagalistrikan Sampai 2050 Dalam Kerangka Kebijakan Energi Nasional Yudiartono, Yudiartono; Jaka, Windarta; Adiarso, Adiarso
Jurnal Energi Baru dan Terbarukan Vol 4, No 2 (2023): Juli 2023
Publisher : Program Studi Magister Energi, Sekolah Pascasarjana, Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jebt.2023.16966

Abstract

Dekarbonisasi sektor ketenagalistrikan akan bertumpu pada pembangkit EBT jenis PLTS, PLTA dan PLTA pumped storage, PLTP, PLTBm serta PLTN. Pada tahun 2025, produksi listrik dari EBT pada skenario transisi energi (TE) maupun nuklir (NK) diperkirakan  sebesar 145,35 TWh, lebih tinggi 28% dibanding skenario BAU. Pembangkit EBT  yang berkontribusi adalah PLTA dan PLTA pumped storage (62,24 TWh), PLTS (12,26 TWh), PLTP (29,76 TWh) dan EBT lainnya (41,09 TWh). Adapun PLTN akan mulai berkontribusi pada tahun 2035. Pada tahun 2050 diprediksi produksi listrik EBT pada skenario TE dan NK berturut-turut akan mencapai 566,93 TWh dan 722,33 TWh, masing-masing lebih tinggi 77% dan 126% dibanding skenario BAU yang hanya sebesar 319,44 TWh. Khusus untuk PLTN, pada skenario TE, total energi listrik yang akan dihasilkan pada tahun 2050 tersebut adalah sebesar 29,78 TWh. Sedangkan pada skenario NK, kontribusi dari PLTN naik signifikan menjadi 186,15 TWh. Selanjutnya, proyeksi bauran energi primer EBT  pada tahun 2025 dan 2050, untuk skenario BAU, pangsanya berturut turut sebesar 18,17% dan 19,48%, jauh lebih rendah dari target KEN. Namun hal yang berbeda terjadi pada skenario TE, dimana kontribusi EBT mencapai 23,09% (2025) dan 31,33% (2050), sesuai dengan target KEN. Pada skenario NK, dimana penerapan PLTN mencapai 25 GW pada tahun 2050, bauran energi primer berbasis EBT naik signifikan menjadi 36,69%, serta emisi GRK turun menjadi 695,28 juta metric ton CO2eq , lebih rendah berturut turut sebesar 7% dan 17% dibanding dengan skenario BAU dan skenario TE.

Page 6 of 13 | Total Record : 126