cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+6289681071805
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik
ISSN : 28072294     EISSN : 28071808     DOI : https://doi.org/10.51878/academia.v1i2.649
Core Subject : Education,
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Academic Research
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 2 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 4 (2025)" : 2 Documents clear
PERBEDAAN PERBANDINGAN KOMPRESI TERHADAP TORSI, DAYA DAN KONSUMSI BAHAN BAKAR SPESIFIK BERBAHAN BAKAR PREMIUM, PERTALITE, DAN PERTAMAX PLUS PADA SEPEDA MOTOR EMPAT LANGKAH Leoparlin, Alfridho; Maksum, Hasan; Sugiarto, Toto; Novaliendry, Dony
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v5i4.8087

Abstract

The purpose of this study was to determine the differences in torque, power, and specific fuel consumption produced by four-stroke motorcycles with different compression ratios and using different fuels. This study used an experimental method. The results of the study at a standard compression ratio of 9.6:1, the highest torque was 12.17 Nm using Pertamax Plus fuel, while the highest power was 5.77 Kw using Pertamax Plus fuel, and the lowest specific fuel consumption was in the use of Pertamax Plus fuel at 0.1192 Kg/kWh. At a compression ratio reduced to 8.9:1, the highest torque was 9.38 Nm using Pertamax Plus fuel, while the highest power was 4.03 Kw using Pertalite and Pertamax Plus fuel, while the lowest specific fuel consumption was in the use of Pertamax Plus fuel at 0.1537 Kg/kWh. When the compression ratio is increased to 10.3:1, the highest torque is 20.19 Nm using Pertamax Plus fuel, while the highest power is 6.67 Kw using Pertamax Plus fuel, while the lowest specific fuel consumption is when using Pertamax Plus fuel at 0.1258 Kg/kWh. ABSTRAK Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui perbedaan torsi, daya dan konsumsi bahan bakar spesifik yang dihasilkan dari sepeda motor empat langkah dengan perbandingan kompresi berbeda dan menggunakan bahan bakar yang berbeda. penelitian ini menggunakan metode eksperimental. Hasil penelitian pada perbandingan kompresi standar 9,6:1 torsi tertinggi sebesar 12,17 Nm menggunakan bahan bakar pertamax plus, sedangkan daya tertinggi sebesar 5,77 Kw menggunakan bahan bakar pertamax plus, dan konsumsi bahan bakar spesifik terendah pada penggunaan bahan bakar pertamax plus 0,1192 Kg/kWh. Pada paat perbandingan kompresi diturunkan 8,9:1 torsi tertinggi sebesar 9,38 Nm menggunakan bahan bakar pertamax plus, sedangkan daya tertinggi sebesar 4,03 Kw menggunakan bahan bakar pertalite dan pertamax plus, sedangkan konsumsi bahan bakar spesifik terendah pada penggunaan bahan bakar pertamax plus 0,1537 Kg/kWh. Pada saat perbandingan kompresi dinaikkan 10,3:1 torsi tertinggi sebesar 20,19 Nm menggunakan bahan bakar pertamax plus, sedangkan daya tertinggi sebesar 6,67 Kw menggunakan bahan pertamax plus, sedangkan konsumsi bahan bakar spesifik terendah pada penggunaan bahan bakar pertamax plus 0,1258 Kg/kWh.  
MENGHADIRKAN KETENTERAMAN JIWA DI SEKOLAH: IMPLEMENTASI PRINSIP TASAWUF DALAM PENDIDIKAN KARAKTER Fadil, Achmad; Gifari, Hafid Al; Alfarizi, M Nauval; Sofiah, Annur; Rahmawati, Adelia Tri; Umaroh, Khusni
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v5i4.8221

Abstract

The current moral and spiritual crisis in education indicates a gap between intellectual achievement and character formation. Phenomena such as low empathy, dishonesty, and high academic stress demonstrate that education still prioritizes cognitive development while neglecting spiritual dimensions. This study focuses on the implementation of Sufism principles in character education as a means to cultivate inner peace within the school environment. Employing a library research method, data were collected from classical and contemporary literature related to Sufism and character education. The data were analyzed using a content analysis approach through the stages of collection, classification, interpretation, and synthesis. The findings reveal that Sufi values such as tazkiyatun nafs (self-purification), muraqabah (spiritual awareness), ikhlas (sincerity), sabr (patience), and muhasabah (self-reflection) effectively shape students’ moral, emotional, and spiritual integrity. These values can be implemented through teachers’ moral exemplarity, regular spiritual practices, and the integration of spiritual principles into the curriculum. In conclusion, Sufism-based education fosters inner balance and contributes to the formation of insan kamil, an ideal human being who is intellectually enlightened and morally upright. ABSTRAKKrisis moral dan spiritual di dunia pendidikan saat ini menandakan adanya ketimpangan antara pencapaian intelektual dan pembentukan karakter. Fenomena seperti rendahnya empati, perilaku tidak jujur, serta tekanan akademik menunjukkan bahwa pendidikan lebih menekankan aspek kognitif daripada dimensi ruhani. Penelitian ini berfokus pada penerapan prinsip-prinsip tasawuf dalam pendidikan karakter untuk menghadirkan ketenteraman jiwa di sekolah. Menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research), data dikumpulkan dari literatur klasik dan kontemporer yang relevan dengan tasawuf dan pendidikan karakter. Analisis dilakukan melalui pendekatan content analysis dengan tahapan pengumpulan, klasifikasi, interpretasi, dan sintesis literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai tasawuf seperti tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), muraqabah (kesadaran spiritual), ikhlas, sabar, dan muhasabah (refleksi diri) berperan penting dalam membentuk karakter peserta didik yang berakhlak, empatik, dan tenang. Implementasi prinsip-prinsip ini dapat dilakukan melalui keteladanan guru, pembiasaan kegiatan spiritual, dan integrasi nilai-nilai ruhani dalam kurikulum. Kesimpulannya, pendidikan berbasis tasawuf mampu menumbuhkan keseimbangan batin serta membentuk insan kamil yang cerdas dan beradab.

Page 1 of 1 | Total Record : 2