cover
Contact Name
Firdaus M Yunus
Contact Email
alqonz90@gmail.com
Phone
+6281360424407
Journal Mail Official
alqonz90@gmail.com
Editorial Address
Gedung Fakultas Ushuluddin Lantai 1, Program Studi Aqidan dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry. Jln. Lingkar Kampus, Kopelma Darussalam Banda Aceh, Aceh 23111.Telp. (0651)7551295. eMail: jpi@ar-raniry.ac.id
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Pemikiran Islam (JPI)
ISSN : 27989747     EISSN : 27989534     DOI : 10.22373/jpi
Jurnal Pemikiran Islam (JPI) published by Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh. This journal published twice a year, that is July-December and January-June. Jurnal Pemikiran Islam focuses on studies of Islamic thought, theology, philosophy, and Sufism. Jurnal Pemikiran Islam (JPI) diterbitkan oleh Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Jurnal ini terbit dua kali dalam setahun, yaitu bulan Januari-Juni dan Juli-Desember Setiap tahunnya. Jurnal Pemikiran Islam berfokus pada kajian Pemikiran Islam, Teologi, Filsafat, dan Tasawuf.
Articles 90 Documents
Qadim dalam Perspektif Ilmu Falak: Studi Analisis Pemikiran Albert Einstein M. Anzaikhan
Jurnal Pemikiran Islam Vol 1, No 1 (2021): Januari-Juni
Publisher : Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.874 KB) | DOI: 10.22373/jpi.v1i1.10355

Abstract

The debate about the qadim of nature is one of the theological issues that has never been found in agreement among  Muslim Scholars. This understanding is based on the way of their thinking and the scientific frame developed among Muslim scholars. If the concept of qadim is related to the context of time, qadim means a reality that is considered to have existed before time. Based on that argument, the question arised  is whether that the time existed before nature or did that time occur due to the movement of the nature? This study uses a qualitative approach, while data obtained from the study of literature and some related documents. The data verification process is carried out by comparing the study of Kalam and Falaq. In the perspective of Kalam, qadim is understood by the scholars rationally (philosophy) while the scholar of Kalam acknowledged it scientifically. This research concludes that Kalam scholars consider time exists due to the movement of the universe, so that nature is considered to have existed before time. Therefore, Kalam scholar  regards the nature is qadim.
Karamah dan Rabitah Mursyid dalam Perspektif Tarekat Naqsyandiyah Faisal Muhammad Nur
Jurnal Pemikiran Islam Vol 1, No 2 (2021): Juli-Desember
Publisher : Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (496.237 KB) | DOI: 10.22373/jpi.v2i1.11379

Abstract

Karamah for the murshid of the tarekat serves to glorify the lovers of Allah, and to support them in preaching according to the guidance of Islamic Shari'a, because the karamah comes from the miracles of the Prophet Muhammad. The purpose of this study is to find out the forms of karamah of the murshid of the tarekat and their practice in the naqsyabandiyah tarekat. As a qualitative research, researchers collect data through literature review to find the data needed for research purposes. The results of the study show that with the appearance of karamah in murshid, it becomes a glory because of their faith and sincerity in implementing Islamic Shari'a perfectly. The practice of rabitah murshid in the Naqshbandiyah congregation is under the guidance of Islamic Shari'a and is not classified as shirk, because of the beliefs of the followers of the Naqshbandiyah congregation do not have any authority in carrying out all their activities but are based on the provisions of Allah SWT. Those provisions are what they call karamah, and karamah is based on the will of Allah.AbstrakKaramah bagi para mursyid tarekat berfungsi untuk memualiakan para kekasih Allah Swt, serta untuk mendukung mereka dalam berdakwah sesuai dengan tuntunan Syariat Islam, sebab karamah itu bersumber dari mu’jizat Nabi Muhammad Saw. Tujuan penelitian ini ingin mengetahui bentuk-bentuk karamah para mursyid tarekat dan pengamalan mereka dalam tarekat naqsyabandiyah. Sebagai penelitian kualitatif, peneliti mengumpulkan data melalui penelusuran kepustakaan guna menemukan data-data yang dibutuhkan untuk keperluan penelitian. Adapun hasil penelitian yang didapatkan bahwa dengan munculnya karamah pada diri para mursyid menjadi kemuliaan dikarenakan keimanan serta keihklasan mereka dalam menjalankan Syariát Islam secara sempurna. Pengamalan rabitah mursyid dalam tarekat naqsyabandiyah sesuai dengan tuntunan syariát Islam dan tidak tergolong dalam perbuatan syirik, sebab keyakinan para penganut tarekat naqsyabandiyah tidak memiliki otoritas apapun dalam melakukan segala aktifitas mereka melainkan berdasarkan pada ketentuan Allah Swt. Ketentuan itu yang mereka namakan dengan karamah, dan karamah itu terjadi berdasarkan kehendak Allah Swt.
Paham Radikal dalam Pandangan Tokoh Agama di Banda Aceh Rini Marlina; Suraiya IT; Syarifuddin Syarifuddin
Jurnal Pemikiran Islam Vol 1, No 2 (2021): Juli-Desember
Publisher : Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.935 KB) | DOI: 10.22373/jpi.v2i1.11475

Abstract

Radicalism is one of the notions that can damage the social order in society, especially when it comes to religion. This study aims to find out specifically about the understanding of Islamic religious leaders in Banda Aceh City about the teachings and movements of religious radicalism, the factors that influence the development of religious radicalism, and the response of Islamic religious leaders in Banda Aceh City in responding to the development of religious radicalism today. This study uses a qualitative approach and the research method is descriptive. Data collection techniques were carried out by interview, documentation, and literature study. The results of this study indicate that the teachings and movements of radicalism are understood by Islamic religious leaders in Banda Aceh City as an understanding that will change the politics of Muslim and social communities through violence, this perspective is contrary to Islamic values and cannot be tolerated, because the characteristics of This movement tends to blame the other party. Attitudes like blasphemy, loud-speaking style, imposing will on others, like to blame and disbelieve in others. Factors causing radicalism include the lack of understanding about Islam and the country. Politically, certain politicians use religion as a tool to promote themselves to gain power. In addition, this research states that there is incitement and bribery to the community to commit violence for a fee. The Islamic religious leaders of Banda Aceh City responded strongly to the teachings and movements of radicalism by showing an attitude of rejection of the existence of the movement because it was considered contrary to the teachings of religion and the state. This movement can harm other people and damage good relations in the life of the nation, religion, and state.AbstrakRadikalisme merupakan paham yang dapat  menggoyahkan tatanan sosial dalam masyarakat terutama jika berkaitan dengan agama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara khusus tentang pemahaman tokoh agama Islam Kota Banda Aceh tentang ajaran dan gerakan radikalisme agama, faktor yang mempengaruhi perkembangan radikalisme agama dan respon tokoh agama Islam Kota Banda Aceh dalam menyikapi berkembangnya radikalisme agama dewasa ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, metode penelitian bersifat deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, dokumentasi dan studi kepustakaan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ajaran dan gerakan radikalisme dipahami oleh tokoh agama Islam Kota Banda Aceh sebagai suatu paham yang ingin mengadakan suatu perubahan baik secara politik maupun sosial melalui jalan kekerasan, dan ini bertentangan dengan nilai-nilai keislaman. Hal ini tidak dapat ditoleril, karena ciri gerakannya bersifat merugikan pihak lain seperti suka menghujat, gaya bicara yang keras, memaksakan kehendak pada orang lain, suka menyalahkan dan mengkafirkan orang. Faktor penyebab terjadinya radikalisme antara lain minimnya pemahaman mengenai agamanya maupun tentang negaranya. Pada faktor politik oleh para politikus tertentu, memakai agama sebagai benteng untuk mempromosikan dirinya demi kepentingan kekuasaan, adanya hasutan dan penyogokan kepada golongan awam dengan cara dibayar. Para tokoh agama Islam Kota Banda Aceh merespon keras ajaran dan gerakan radikalisme yakni dengan menunjukkan sikap penolakan keberadaan gerakan tersebut karena dianggap bertentangan dengan ajaran agama dan negara. Gerakan ini dapat merugikan orang lain serta merusak hubungan baik kehidupan berbangsa, agama dan negara.
Hamzah Fanshuri tentang Konsep Wujud Damanhuri Damanhuri
Jurnal Pemikiran Islam Vol 1, No 1 (2021): Januari-Juni
Publisher : Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.698 KB) | DOI: 10.22373/jpi.v1i1.10356

Abstract

The purpose of this research is to explain about Sufism formulated by Sheikh Hamzah Fanshuri. He is quite famous in the 16th century AD Although the concept of Sufism Hamzah Fansuri already very old, but until now, this teaching is still studied in Aceh and in several other regions in Indonesia. Among the concepts of Hamzah Fansuri's Sufism that are still studied by many people is about the concept of existence. In the opinion of Sheikh Hamzah Fansuri, the essence of existence is one, namely the existence of God. Apart from the existence of God everything is not a real existence, but a reflection of the real existence. While this form is a relationship beamong matter, nature, asthma and af'al Allah. Regarding the existence of human beings, Sheikh Hamzah Fansuri  explained that human beings are the lowest form, even so,  they still have the opportunity to rise to a higher dignity.
Pengaruh Tradisi Khanduri Toet Apam di Kecamatan Delima, Kabupaten Pidie Suci Dihanna; Suci Fajarni
Jurnal Pemikiran Islam Vol 2, No 1 (2022): Januari-Juni
Publisher : Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jpi.v2i1.13142

Abstract

Khanduri Apam is a tradition that has been practiced for generations by the community of Pidie Regency. In the ancient times,  this tradition was very Islamic. Over the years, this tradition has changed. This study aims to determine the procession of the khanduri apam tradition and its influence on social, cultural, and religious values in society. The purpose of this study was to explain  the Khanduri Apam tradition in the Delima community, Pidie. This study uses a qualitative method. Data collection was carried out from observations, interviews, and relevant literatures. The results showed that the Khanduri Apam  had an influence on the religious life of the community in terms of Khanduri Apam considered as worship, especially when it regarded as sedekah, besides the Khanduri Apam tradition also gave a feeling of happiness to those who carried it out and who received the sedekah. For the Delima community, the Khanduri Apam tradition has been entrenched and carried out for generations by the community, and they set the month of Ra'jab as the month of practising this tradition.  AbstrakKhanduri Apam merupakan salah satu tradisi yang dijalankan secara turun-temurun oleh masyarakat di Kabupaten Pidie. Pada zaman dahulu Tradisi Khanduri Apam ini sangat kental dengan Budaya Islami. Seiring perkembangan zaman tradisi ini telah mengalami perubahan dari sisi pelaksanaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prosesi tradisi khanduri apam dan pengaruh dari pelaksanaan tradisi tersebut terhadap kehidupan sosial, agama, dan kebudayaan masyarakat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tradisi Khanduri Apam dalam masyarakat Delima, Pidie. Dalam penelitian ini, pendekatan metode yang digunakan adalah pendekatan metode kualitatif. Adapun teknik pengumpulan data dilakukan mulai dari observasi, wawancara, hingga pengumpulan dokumen yang diperlukan untuk mendukung hasil penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa tradisi Khanduri Apam di Kecamatan Delima Kabupaten Pidie memberikan pengaruh terhadap kehidupan agama masyarakat, yang mana Khanduri Apam akan menjadi nilai ibadah jika diniatkan untuk bersedekah, selain itu tradisi Khanduri Apam juga berpengaruh terhadap kebahagiaan bagi mereka yang melaksanakan teot apam dan yang menerima sedekah apam, mereka yang menerima selain masyarakat umum, anak yatim, fakir maskin dan para tetangga di sekitar rumah. Bagi masyarakat Delima Tradisi Khanduri Apam sudah membudaya dan dilaksanakan secara turun-temurun oleh masyarakat, dan mereka menetapkan bulan Ra’jab sebagai bulan teot apam dan Khanduri Apam.
Muhammad Abduh dan Pemikiran Pembaharuannya Iskandar Usman
Jurnal Pemikiran Islam Vol 2, No 1 (2022): Januari-Juni
Publisher : Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jpi.v2i1.13718

Abstract

The fall of Egypt, which was one of the centers of Islamic culture and civilization, into the hands of the West in 1798 CE, inspired the Islamic world of its weaknesses and made Muslims aware that in the West a new higher civilization had arisen and was a threat to Islam. The kings and leaders of Islam began to think about how to improve the quality and strength of Muslims again. So were born the ideas of renewal in Islam, which began in Egypt with one of its famous characters, Muhammad Abduh. This study aims to examine how Muhammad's reformed thoughts and the influence of his reformed thoughts on the Islamic world. This research uses a qualitative research method with a literature review technique and uses library study data. According to Abduh, the reasons for the weakness of Muslims are mental poverty and the incorrect direction of thinking, but the main reasons are stupidity and misunderstanding of Islam and life. And to improve the situation of the people as a whole, it must be restored to the soul of togetherness, nationality, Islam, and humanity in general with the development of religion and religious teaching in Education from the basic level. Muhammad Abduh's reform thinking includes four core aspects: politics and nationality, social, belief, education and general teaching. Abduh's thoughts influence in Egypt has given birth to modern scholars, religious writers, political leaders, and Arab litterateur. His opinions and teachings have influenced the Islamic world through his own essays and through the writings of his students.AbstrakJatuhnya Mesir yang merupakan salah satu pusat kebudayaan dan peradaban Islam ke tangan Barat pada 1798 M, menginsafkan dunia Islam akan kelemahannya dan menyadarkan umat Islam bahwa di Barat telah timbul peradaban baru yang lebih tinggi dan merupakan ancaman bagi Islam. Raja-raja dan pemuka-pemuka Islam mulai memikirkan bagaimana meningkatkan mutu dan kekuatan umat Islam kembali. Maka lahirlah ide-ide pembaharuan  dalam Islam, yang dimulai di Mesir dengan salah satu tokohnya yang terkenal, Muhammad Abduh. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana pemikiran-pemikiran pembaharuan Muhammad dan bagaimana pengaruh pemikiran-pemikiran pembaharuannya bagi dunia Islam. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik literature review dan menggunakan data studi kepustakaan. Menurut Abduh, sebab-sebab kelemahan umat Islam adalah kemiskinan jiwa dan salahnya arah berpikir, namun sebab utamanya adalah kebodohan dan pemahaman yang salah terhadap Islam dan kehidupan. Dan untuk memperbaiki keadaan umat secara menyeluruh mesti dikembalikan jiwa kebersamaan, kebangsaan, Islam, dan kemanusiaan secara umum dengan pengembangan agama dan pengajaran agama pada Pendidikan sejak dari tingkat dasar. Pemikiran pembaharuan Muhammad Abduh mencakup empat segi inti: politik dan kebangsaan, sosial, keyakinan, Pendidikan dan pengajaran umum. Pengaruh pemikiran Abduh di Mesir telah melahirkan ulama-ulama modern, pengarang-pengarang dalam bidang agama, pemimpin politik, dan sastrawan-sastrawan Arab. Pendapat-pendapat dan ajarannya telah mempengaruhi dunia Islam melalui karangan-karangannya sendiri dan melalui tulisan-tulisan murid-muridnya.
Dinamika Intelektual dan Peradaban Islam pada Masa Rasulullah Muhamad Ainun Najib; Dzulkifli Hadi Imawan
Jurnal Pemikiran Islam Vol 2, No 1 (2022): Januari-Juni
Publisher : Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jpi.v2i1.12527

Abstract

The role of the Prophet Muhammad in spreading the teachings of Islam not only influenced the dynamics of the rule of law (shari'ah) but also the formation of world civilization. This article will explain the role of Rasulullah in building civilization and intellect in the Islamic world. This study is a literature review using a descriptive analysis method with a qualitative approach. This research concludes that Muhammad saw. has succeeded in changing the civilization of the Arabs into a more civilized nation. In terms of thought, the Prophet Muhammad was the center of all Islamic teachings in the process of the early formation of Islamic society. The existence of the Prophet is the only human being who has the authority to justify the thought of Islamic law in that society.AbstrakPeran Rasulullah Muhammad saw dalam menyebarkan ajaran Islam tidak hanya memberikan pengaruh pada dinamika aturan hukum (syari’at) an sich, melainkan memberikan pengaruh terhadap pembentukan peradaban dunia yang berjalan beriringan. Artikel ini akan mengetengahkan sejauh mana peran Rasulullah dalam membangun peradaban dan intelektualitas dunia Islam. Kajian ini sebuah kajian kepustakaan dengan menggunakan metode deskriptif analisis dengan pendekatan kualitatif. Dari Kajian yang dilakukan ditemukan bahwa: Dari sudut pandang peradaban, Muhammad saw telah berhasil mengubah peradaban bangsa Arab dengan segala kompleksitas persoalan sosialnya menjadi bangsa yang lebih beradab. Sementara dari sudut pandang pemikiran, Rasulullah saw adalah pusat dari segala ajaran Islam yang pada masa itu sedang dalam proses pembentukan awal. Keberadaan Rasulullah merupakan satu-satunya manusia yang memiliki otoritas untuk memberikan justifikasi terhadap pemikiran hukum Islam, meskipun dalam lingkup yang sangat kecil memungkinkan bagi sahabat tertentu untuk melakukan ijtihad.
Arah Pengembangan Pemikiran Arab-Islam: Tawaran Arkoun pasca Difitisme 1967 Yuangga Kurnia Yahya
Jurnal Pemikiran Islam Vol 2, No 1 (2022): Januari-Juni
Publisher : Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jpi.v2i1.13192

Abstract

This study aims to look at socio-religious conditions in the Arab world after the 1967 Difitism in Arkoun's view. This view then gave birth to various basic assumptions and offers of thought development in order to address the decline of Arab-Islamic thought. This study will highlight two ideas from Arkoun, both are Applied Islamology and its application in understanding the discourse of the Qur'an. This study uses a qualitative method with data collection through literature study. This study shows that Arkoun offers an offer in the form of Applied Islamology, which requires a dialogical relationship between Islamic religious knowledge (ulum al-din) and social science methodology. This is intended to make Islamic religious texts relevant according to the context of the times and the Qur'anic discourse can be understood its relevance in different spaces and times. Arkoun's offer needs to be followed up receptively critically in order to be able to apply it within the framework of thinking about the philosophy of Islamic sciences as a solution to various problems of the people today.AbstrakStudi ini bertujuan untuk melihat kondisi sosial keagamaan di dunia Arab pasca Difitisme 1967 dalam pandangan Arkoun. Pandangan tersebut kemudian melahirkan berbagai asumsi dasar dan tawaran pengembangan pemikiran dalam rangka menyikapi kemunduran pemikiran Arab-Islam. Studi ini akan menyoroti dua ide dari Arkoun, yaitu Islamologi Terapan dan penerapannya dalam memahami wacana al-Qur’an. Studi ini menggunakan metode kualitatif dengan pengumpulan data melalui studi pustaka. Studi ini menunjukkan bahwa  Arkoun memberikan tawaran berupa Islamologi Terapan, yang mensyaratkan hubungan dialogis antara ilmu agama Islam (ulum al-din) dengan metodologi ilmu sosial. Hal ini dimaksudkan untuk membuat teks-teks keagamaan Islam dapat relevan sesuai dengan konteks perkembangan zaman dan wacana al-Qur’an dapat dipahami relevansinya dalam ruang dan waktu yang berbeda. Tawaran Arkoun tersebut perlu ditindaklanjuti secara reseptif kritis untuk dapat mengaplikasikannya dalam kerangka berpikir filsafat ilmu-ilmu keislaman sebagai solusi atas berbagai permasalahan umat saat ini.
Persepsi Masyarakat atas Kepemimpinan Perempuan di Kecamatan Darussalam Aceh Besar Hilmiati Hilmiati; Ernita Dewi; Zuherni Zuherni
Jurnal Pemikiran Islam Vol 2, No 1 (2022): Januari-Juni
Publisher : Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jpi.v2i1.13140

Abstract

Women's leadership is kind of women's participation in community leading intellectually and emotionally, which is contribute their energy, thoughts, and material to realize a certain goal. Therefore, in history, women’s leadership come up as a significant issue until now days from local and global approach. However women leader especially in Aceh Besar District founded very rare, particularly the position as a village leader.  To figure out the problem, this study try to describe the philosophical values in society toward women's leadership, and to find out the perception of the people of Darussalam Subdistrict, Aceh Besar Regency around the issue.  In this sense, as a field research this research apply a qualitative type of research by using data collection techniques such as documentation, observation.and direct interviews. The results showed that the value of the philosophy of women's leadership displayed from the understanding of the community toward position of a woman, where women also have rights and freedoms in carrying out their obligations. Hence, women have important foundations in family life, organizations and the community.AbstrakKepemimpinan perempuan merupakan suatu bentuk keikutsertaan perempuan dalam memimpin secara intelektual serta emosional dalam suatu kelompok yang dapat memberikan sumbangan yang baik dalam bentuk tenaga, pikiran, maupun materiil guna untuk dapat mewujudkan suatu tujuan tertentu. Kepemimpinan perempuan khususnya di Kabupaten Aceh Besar, kepala desa yang dipimpin oleh perempuan menjadi hal yang sangat jarang dijumpai. Tujuan dalam penelitian ini yaitu mendeskripsikan nilai filosofis dalam kepemimpinan perempuan, serta mengetahui persepsi masyarakat Kecamatan Darussalam Kabupaten Aceh Besar terhadap kepemimpinan perempuan. Penelitian ini bersifat kualitatif yang berbasis penelitian lapangan, serta menggunakan teknik pengumpulan data, wawancara langsung dengan masyarakat Kecamatan Darussalam Kabupaten Aceh Besar. Selain itu, teknik pengumpulan data lainnya seperti dokumentasi dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai filosofi kepemimpinan perempuan dapat dilihat dari pemahaman masyarakat yaitu terletak pada kedudukan seorang perempuan. Dimana perempuan juga mempunyai hak dan kebebasan dalam menjalankan kewajibannya, serta Perempuan tidak lagi dipandang sebagai sosok yang lemah, akan tetapi memiliki fondasi penting dalam kehidupan keluarga, organisasi maupun lingkungan masyarakat.
Sekularisme dalam Pendidikan di Malaysia Nurul Farhanah Binti Masri
Jurnal Pemikiran Islam Vol 2, No 1 (2022): Januari-Juni
Publisher : Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jpi.v2i1.13426

Abstract

The majority of the population of Malaysia is Muslim. However, Islam does not regulate all aspects of state life in this country. The education aspect, for example, is more directed to the western education system and model than the Islamic education system, as well as in the Malaysian state government and political system. The purpose of this study is to classify the idea of secularism that is applied in policy or development in Malaysia, especially in the field of education. This research is a field research, using interviews, observation and documentation as data collection techniques. The results of this study indicate that the Malaysian state has implemented secularism in the government system in Malaysia. This is due to the influence of British colonialism which replaced the model of government based on Malay culture into a democratic system of government, political, social, economic and educational systems. This resulted in the Islamic model slowly starting to be erased, especially in education.AbstrakMayoritas penduduk negara Malaysia menganut agama Islam. Namun tidak semua aspek kehidupan bernegara di negara ini dilaksanakan berdasarkan ajaran islam.  Aspek pendidikan misalnya, sistem pendidikan lebih mengarah pada model dan sistem pendidikan barat dan tidak menganut pada sistem pendidikan Islam, begitu juga dalam sistem pemerintahan dan politik negara Malaysia. Tujuan penelitian ini juga untuk mengklasifikasikan tentang ide sekularisme yang diterapkan dalam kebijakan atau pembangunan di Malaysia khususnya dibidang pendidikan.. Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan menggunakan metode wawancara, observasi dan dokumentasi sebagai teknik pengumpulan data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa negara Malaysia telah menerapkan sekularisme dalam sistem pemerintahan di Malaysia. Hal ini disebabkan oleh pengaruh penjajahan Inggris yang menggantikan model pemerintahan yang berbasis pada budaya melayu menjadi sistem demokrasi sistem pemerintahan, politik, sosial, ekonomi dan pendidikan.  Hal ini mengakibatkan secara perlahan model islami mulai terhapus khususnya dalam pendidikan.