cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Kimia Khatulistiwa
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 329 Documents
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN TOKSISITAS EKSTRAK BUAH BUAS-BUAS (Premna serratifolia Linn) Muhamad Agus Wibowo, Harlia, Vika Veronika,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 5, No 3 (2016): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Buas-buas (Premna serratifolia Linn) merupakan salah satu tumbuhan obat yang banyak terdapat di Indonesia. Oleh karena itu dilakukan uji fitokimia metabolit sekunder dan aktivitas buah buas-buas (Premna serratifolia Linn). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder serta aktivitas antioksidan dan toksisitas buah buas-buas. Langkah penelitian ini meliputi maserasi dan partisi menggunakan pelarut metanol, n-heksana dan etil asetat. Metabolit sekunder yang diuji meliputi alkaloid, saponin, flavonoid, terpenoid, steroid, dan polifenol. Aktivitas antioksidan secara spektrofotometri UV-Vis  menggunakan metode DPPH dan toksisitas menggunakan metode BSLT. Uji fitokimia pada ekstrak dan fraksi metanol mengandung senyawa saponin, flavonoid, polifenol, dan terpenoid. Fraksi etil asetat mengandung senyawa flavonoid, polifenol, dan terpenoid. Fraksi n-heksana mengandung senyawa steroid. Antioksidan dari fraksi n-heksana, fraksi metanol, ekstrak metanol, dan fraksi etil asetat menghasilkan nilai IC50 masing-masing sebesar 53,886 ppm; 39,343 ppm; 36,150 ppm; dan 10,286 ppm. Toksisitas dari fraksi n-heksana, fraksi metanol, ekstrak metanol, dan fraksi etil asetat menghasilkan nilai LC50 masing-masing sebesar 38,869 ppm; 1058,033 ppm; 2225,082 ppm; dan 2458,033 ppm. Hasil pengujian menunjukkan bahwa fraksi etil asetat memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat dan fraksi n-heksana memiliki toksisitas yang tinggi. Kata kunci: antioksidan, BSLT, buas-buas (Premna serratifolia Linn), DPPH, toksisitas
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN METODE DPPH DAN UJI SITOTOKSIK METODE BSLT PADA EKSTRAK METANOL DAUN BONGKAL(Nuacleasubdita (Korth) Steud) Muhamad Agus Wibowo, Nur Ika Asmiyarti,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 3, No 1 (2014): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang uji aktivitas antioksidan dan uji sitotoksik dari ekstrak daun bongkal (Nauclea Subdita(Korth) Steud). Ekstrak metanol daun bongkal diperoleh dari hasil ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut metanol. Ekstrak metanol dipekatkan menggunakan rotary evaporator kemudian dilakukan pengujian skrining fitokimia, uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH, danuji sitotoksik menggunakan metode BSLT. Hasil skrining fitokimia menunjukkan ekstrak metanol daun bongkal mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, steroid dan polifenol. Uji aktivitas antioksidan dilakukan pada panjang gelombng 515nm menghasilkan nilai IC50 sebesar 10 ppm. Uji aktivitas sitotoksik menghasilkan nilai LC50 sebesar 327 ppm. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkanbahwa daun bongkal mempunyai aktivitas antioksidan alami.   Kata Kunci: bongkal, antioksidan, sitotoksik, srining fitokimia
PENGARUH PENGGUNAAN EDIBLE COATING BERBAHAN PATI TALAS DAN KITOSAN TERHADAP KUALITAS KERUPUK BASAH KHAS KAPUAS HULU SELAMA PENYIMPANAN Nurlina, Intan Syahbanu, Misni,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 7, No 1 (2018): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kerupuk basah merupakan makanan yang terbuat dari ikan dan tepung sagu. Daya simpan makanan tersebut sangat terbatas. Salah satu cara untuk meningkatkan daya tahan kerupuk basah yaitu menggunakan edible coating. Bahan edible coating yang digunakan pada penellitian ini yaitu pati dan kitosan. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan karakteristik pati dan menjelaskan pengaruh penggunaan edible coating pati-kitosan, kitosan dan pati. Pati diperoleh dari umbi talas (Colacasia Esculenta (L) Shott) dengan kadar air, kadar abu dan kadar pati berturut-turut yaitu 13,5648%; 14,0421% dan 88,146%. Pembuatan edible coating pati-kitosan dan kitosan dilakukan dengan variasi massa kitosan 0, 1, 2, 3, 4, dan 5 gram dalam asam asetat 1% dan edible coating pati dengan variasi massa pati 0, 1, 2, 3, 4, dan 5 gram. Variabel pengujian penelitian ini yaitu massa kitosan dan lama waktu penyimpanan. Parameter analisis yang ditentukan yaitu kadar protein dan uji mikrobiologi. Analisis statistik menunjukan bahwa variasi massa kitosan dan massa pati tidak berpengaruh nyata terhadap lamanya waktu penyimpanan. Hasil penelitian menunjukan bahwa edible coating kitosan dengan massa 5 gram lebih baik dalam mempertahankan kualitas kerupuk basah selama dua hari waktu penyimpanan daripada edible coating pati-kitosan dan edible coating pati terhadap kerupuk basah. Kata Kunci : coating, edible, kerupuk basah, kitosan, pati
RECOVERY TIMBAL DENGAN EKSTRAKSI FASE PADAT MENGGUNAKAN KITOSAN TERIMOBILISASI DITIZON Lia Destiarti, Titin Anita Zaharah, Cicilia Valentia Allen,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 3, No 2 (2014): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberadaan logam berat di lingkungan perairan kebanyakan berada dalam jumlah yang relatif kecil sehingga tidak dapat terukur oleh alat analisis. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian tentang pengembangan teknik prekonsentrasi logam Pb(II) dengan menggunakan kolom prekonsentrasi yang berisi kitosan terimobilisasi ditizon untuk mengatasi persoalan tersebut. Kitosan terimobilisasi ditizon dibuat dengan mencetak larutan kitosan menggunakan syringe 3 mL menjadi kitosan bead kemudian diimobilisasi dengan ditizon dalam medium klorofom. Kitosan terimobilisasi ditizon yang diperoleh diuji kelarutannya dan dikarakterisasi dengan Fourier Transform Infra Red Spectrometer (FT-IR) yang menunjukkan spektrum baru pada bilangan gelombang 1080,14 cm-1 dan 2137,13 cm-1untukgugus S=C dan S-H.Adsorben ini selanjutnya digunakan sebagai pengisi fasa diam pada kolom prekonsentrasi. Sebanyak 20 mL larutan timbal 3 ppm diadsorpsi pada kolom prekonsentrasi dengan variasi pH 6, 7 dan 8; laju alir 0,15 ml/menit. Desorpsi dilakukan menggunakan 10 mL EDTA dengan variasi konsentrasi 0,05;0,10;0,15 dan 0,25 M. Penentuan kadar Pb pada larutan sisa adsorpsi dan hasil desorpsi dianalisis dengan spektrofotometer serapan atom. Penyerapan 20 mL larutan Pb(II) pada kolom prekonsentrasi mencapai optimum pada pH 6 dan konsentrasi EDTA 0,05 M dengan volume 10 mL. Kondisi optimum yang diperoleh selanjutnya diaplikasikan pada 20 mL larutan Pb(II) dan diperoleh persen recovery sebesar 79,75%.
UJI FOTOSTABILITAS FRAKSI ETIL ASETAT BUAH TOMAT (Solanum lycopersicum L.) TERIMPREGNASI SILIKA Rudiyansyah, Titin Anita Zaharah, Clarissa Alrizkia Yachmans,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 6, No 2 (2017): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ekstrak buah tomat (Solanum lycopersicum L.) mengandung pigmen zat warna yang memiliki ikatan rangkap terkonjugasi dan dapat menyerap energi dari sinar UV. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji fotostabilitas fraksi etil asetat buah tomat terimpregnasi silika. Penelitian ini dimulai dengan ekstraksi buah tomat yang kemudian diuji secara kualitatif dengan menggunakan KLT. Produk hasil ekstraksi kemudian diimpregnasi pada silika lalu dikarakterisasi menggunakan SEM. Uji fotostabilitas fraksi etil asetat buah tomat dan fraksi etil asetat buah tomat terimpregnasi silika dilakukan menggunakan sinar UV C selama 12 jam secara kontinu dan penurunan absorbansi ekstrak akibat fotodegradasi diamati dengan spektra UV-Vis. Hasil menunjukkan fotostabilitas fraksi etil asetat buah tomat terimpregnasi silika lebih tinggi dibandingkan fraksi etil asetat buah tomat. Hal ini ditandai dengan nilai konstanta laju degradasi fraksi etil asetat buah tomat terimpregnasi silika lebih kecil dibandingkan nilai konstanta laju penurunan konsentrasi fraksi etil asetat buah tomat akibat iradiasi UV selama 12 jam secara kontinu. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa impregnasi fraksi etil asetat buah tomat pada silika mampu meningkatkan fotostabilitas ekstrak buah tomat. Kata Kunci : fotostabilitas, fraksi etil asetat buah tomat, impregnasi, silika
KARAKTERISASI SENYAWA FENOLIK PADA KULIT BATANG JABON (Anthocephalus cadamba (ROXB.) MIQ Rudiyansyah, Harlia, Nadiah,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 7, No 2 (2018): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Senyawa fenolik telah diisolasi dari fraksi etil asetat kulit batang Jabon (Anthocephalus cadamba (Roxb)Miq). Tahapan isolasi senyawa fenolik adalah ekstraksi, fraksinasi, kromatografi vakum cair (KVC), dan kromatografi kolom gravitasi (KKG). Analisis isolat ditentukan menggunakan proton nuclear magnetic resonance (1H-NMR) (500 MHz). pergeseran kimia senyawa fenolik (δH ppm) : 1,10 (3H, s); 1,58 (9H, s); 2,04 (2H, t, J=7,8 Hz); 2,32 (2H, s); 3,98 (1H, s); 4,28 (2H, dd, J=7,8 Hz); 7,77 (1H, s). Berdasarkan data spektrum 1H-NMR dan uji fitokimia diketahui ekstrak kulit batang jabon positif mengandung senyawa fenolik. Kata Kunci : Fenolik, Kromatografi, Anthocephalus cadamba (Roxb)Miq, NMR.
PENAPISAN FRAKSI ANTIOKSIDAN DAUN BUAS-BUAS (Premna serratifolia Linn) M. Agus Wibowo, Nora Idiawati, Eka Oktaviani,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 4, No 3 (2015): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aktivitas antioksidan tumbuhan buas-buas (Premna serratifolia Linn) telah diketahui terdapat pada ekstrak akar, batang, serta daunnya.  Selain memiliki aktivitas antioksidan, daunnya juga aktif sebagai hepatoprotektif, antitumor, antibakteri, antifungi, dan larvasida terhadap larva nyamuk Aedes aegypti. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui aktivitas antioksidan fraksi n-heksana, kloroform, dan metanol daun buas-buas dan mengetahui golongan senyawa antioksidan yang telah difraksinasi berdasarkan uji fitokimia. Ekstraksi daun dilakukan dengan cara maserasi dan partisi. Hasil partisi dilakukan uji fitokimia dan uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil). Fraksi yang memiliki aktivitas antioksidan terbesar difraksinasi menggunakan metode kromatografi vakum cair, kromatografi lapis tipis, dan kromatografi kolom gravitasi. Hasil uji fitokimia menunjukkan fraksi  n-heksana mengandung senyawa steroid, fraksi kloroform mengandung senyawa alkaloid, polifenol, steroid, dan saponin. Fraksi metanol mengandung senyawa flavonoid, polifenol, terpenoid, dan saponin. Nilai IC50 dari fraksi n-heksana, kloroform, dan metanol  daun buas-buas adalah 15,2240 μg/ml, 8,7729 μg/ml, dan 20,3418 μg/ml, dimana fraksi kloroform menunjukkan aktivitas antioksidan terbesar. Hasil fraksinasi (fraksi E5.7.3.5) diidentifikasi menggunakan reagen Dragendorff yang menunjukkan adanya golongan senyawa alkaloid. Kata Kunci: Premna serratifolia Linn, antioksidan, alkaloid
PENENTUAN KONDISI OPTIMUM HIDROLISAT PROTEIN DARI LIMBAH IKAN EKOR KUNING (Caesio cuning) BERDASARKAN KARAKTERISTIK ORGANOLEPTIK ., Bernadeta, Puji Ardiningsih1, Imelda H
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hidrolisat protein ikan merupakan produk yang dihasilkan dari penguraian protein ikan menjadi senyawa-senyawa berantai pendek karena adanya proses hidrolisis baik oleh enzim, asam maupun basa. Tujuan penelitian ini adalah melakukan optimasi produksi hidrolisat protein dari limbah ikan ekor kuning secara enzimatis dan melakukan uji organoleptik. Produksi hidrolisat protein dari limbah ikan ekor kuning dilakukan dengan hidrolisis secara enzimatis menggunakan enzim papain kasar merek PAYA dengan variasi konsentrasi 0, 5, 10 dan 15% dan waktu inkubasi 3, 4, 5 dan 6 hari. Produk hidrolisat protein ikan terbaik dari pengujian organoleptik diperoleh pada konsentrasi enzim 5% dan waktu inkubasi 5 hari. Kata kunci: hidrolisat, Caesio cuning, enzim papain, organoleptik
EFEK PELARUT TERHADAP SPEKTRA ABSORPSI UV-VIS KURKUMINOID Afghani Jayuska, Winda Rahmalia, Sahri,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 8, No 1 (2019): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kurkuminoid termasuk salah satu pigmen yang terkandung di dalam rimpang kunyit (Curcuma longa) yang dapat menyerap cahaya pada daerah Ultra Violet-Visible (UV-Vis). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efek pelarut terhadap spektra absorpsi UV-Vis kurkuminoid menggunakan sembilan jenis pelarut yaitu dimetil sulfoksida, asetonitril, metanol, etanol, aseton, diklorometana, etil asetat, kloroform, dan n-heksana. Penelitian ini diawali dengan ekstraksi dan isolasi kurkuminoid dari kunyit, kemudian dikarakterisasi menggunakan instrumen Liquid Chromatography Mass Spectrometer (LCMS) dan spektrofotometer UV-Vis. Selanjutnya dilakukan scanning λmaks pigmen kurkuminoid yang dilarutkan dalam pelarut berbeda kemudian dilakukan pengukuran absorbansi pigmen kurkuminoid dengan variasi konsentrasi kurkuminoid. Rendemen kurkuminoid yang dihasilkan dari ekstraksi sampel kering kunyit adalah 1,25% (b/b) dengan komponen kurkumin sebagai komponen mayor dari isolat. Hasil analisis menggunakan hukum Lambert-Beer menunjukkan bahwa dalam pelarut asetonitril kurkuminoid memiliki koefisien absorpsi tertinggi yaitu 132,4 Lg-1cm-1. Pelarut n-heksana memiliki panjang gelombang maksimum (λmaks) terkecil (405 nm) sehingga terjadi pergeseran hipsokromik pada spektra absorbsi UV-Vis kurkuminoid. Sedangkan pelarut dimetil sulfoksida memiliki λmaks terbesar (433 nm) sehingga terjadi pergeseran batokromik. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa pengaruh penggunaan pelarut dapat diamati berdasarkan spektra absorpsi UV-Vis kurkuminoid. Kata Kunci : koefisien absorpsi, kurkuminoid, spektra UV-Vis
OPTIMASI REAKSI PERENGKAHAN MINYAK JELANTAH MENGGUNAKAN KATALIS ZEOLIT/NIKEL Endah Sayekti, Aladin Sianipar, Andrianus Imelda H.Silalahi
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 2, No 1 (2013): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Optimasi reaksi perengkahan katalitik minyak jelantah dengan sistem batch menggunakan katalis zeolit/nikel melalui variasi rasio katalis/umpan telah dilakukan. Zeolit alam hasil preparasi terlebih dahulu dimodifikasi melalui proses demineralisasi, dealuminasi, dan aktivasi yang dilanjutkan dengan impregnasi zeolit alam dengan NiCl2 0,4 M. Penentuan rasio optimal didasarkan pada produk perengkahan minyak jelantah dengan variasi katalis/umpan 10:30 w/w, 10:40 w/w, dan 10:50 w/w. Produk perengkahan adalah berupa cairan berwarna kuning muda, berbau menyengat dengan densitas dan viskositas kinematik (320C) setiap rasio katalis/umpan berturut-turut sebesar 0,7950 g/mL dan 2,6 cSt ; 0,7905 g/mL dan 2,315 cSt, serta 0,8057 g/mL dan 2,927 cSt. Analisis GC-MS menunjukkan bahwa komposisi produk perengkahan masing-masing katalis/umpan didominasi oleh senyawa hidrokarbon fraksi C9-C15. Konversi optimal ditunjukkan oleh produk perengkahan katalis/umpan 10:40 w/w dengan komposisi senyawa pentadekana (C15H32) sebesar 44,60 % dan senyawa nonana (C9H20) sebesar 4,47 % .