cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Kimia Khatulistiwa
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 329 Documents
SKRINING FITOKIMIA DAN UJI AKTIVITAS SITOTOKSIK PADA KULIT BATANG TAMPOI (Baccaurea macrocarpa) TERHADAP Artemia Salina LeachDENGAN METODE BSLT Andi Hairil Alimuddin, Muhamad Agus Wibowo, Eka Dwijayanti,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 3, No 4 (2014): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tampoi (Baccaurea macrocarpa) merupakan salah satu tanaman dari genus Baccaurea.Beberapa informasi ilmiah tentang aktivitas dari tanaman genus ini diantaranya antioksidan, antimikroba dan sitotoksik.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas sitotoksik ekstrak metanol kulit batang tampoi dan hasil fraksinasinya. Penelitian diawali dengan penyediaan ekstrak metanol kental melalui maserasi sampel menggunakan pelarut metanol. Ekstrak metanol dipartisi dengan pelarut n-heksana, klorofom dan etil asetat yang diikuti dengan uji fitokimia kemudian dilakukan uji toksisitas ekstrak kental metanol dan hasil partisi terhadap Artemia Salina L dengan metode Brine Shrimp Lethality test (BSLT).Hasil uji fitokimia ekstrak kulit batang tampoi dan fraksinasiya positif mengandung metabolit sekunder yaitu ekstrak metanol dan fraksi etil asetat positif mengandung flavonoid, steroid, polifenol dan alkaloid sedangkan pada fraksi klorofom dan fraksi n-heksana positif mengandung alkaloid dan pada fraksi metanol positif mengandung flavonoid, polifenol, dan alkaloid. Data kematian Artemia salina dianalisis dengan analisis probit untuk mengetahui nilai LC50. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai LC50 dari ekstrak kental metanol kulit batang tampoi adalah 318,150 ppm dan fraksinasinya adalah fraksi etil asetat 310,443 ppm, fraksi n-heksana 500,160 ppm,  fraksi metanol 602,869 ppm  dan fraksi klorofom 640,471 ppm.Berdasarkan hasil uji aktivitas sitotoksik yang dilakukan, kulit batang tampoi mempunyai aktivitas sitotoksik dengan tingkat aktivitas yang tergolong sedang.   Kata kunci: Tampoi ,Baccaurea macrocarpa,Fitokimia, Sitotoksik, Artemia Salina, BSLT.
PERBANDINGAN PEROLEHAN ASAM HUMAT HASIL EKSTRAKSI CAIR-CAIR TANAH GAMBUT SECARA SPEKTROFOTOMETRI UV-VISIBLE Nora Idiawati, Lia Destiarti, Annisa Tafsiriah,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 5, No 4 (2016): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gambut terbentuk dari berbagai bahan organik tanaman yang telah membusuk dan terdekomposisi. Gambut terbagi pada berbagai tingkat kematangan yaitu gambut fibrik dan hemik yang mengandung bahan humat salah satunya yaitu asam humat. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan perolehan asam humat dari gambut fibrik dan hemik melalui metode ekstraksi cair-cair menggunakan pelarut Metil-Isobutil Keton (MIBK) murni yang dianalisis menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Hasil validasi metode meliputi akurasi, presisi, batas deteksi, batas kuantisasi, dan koefisien korelasi diperoleh masing-masing sebesar 98,34%-101,77%, 1,11%-4,26%, 2,43 mg/L, 8,08 mg/L dan 0,998. Hasil karakterisasi menunjukkan adanya gugus-gugus fungsi pada asam humat hasil ektraksi yaitu vibrasi ulur N-H pada serapan 3757,33 cm-1, –OH fenolik dan ikatan H pada serapan 3425,58 cm-1, rentangan C-H alifatik pada serapan 2924,09 cm-1, rentangan C=O pada serapan 1712,79 cm-1, rentangan C=C aromatik pada serapan 1627,92 cm-1,dan rentangan C-O pada serapan 1265,30 cm-1. Hasil perolehan asam humat dalam gambut fibrik dan hemik masing-masing sebesar 0,18% dan 0,22%. Hasil perolehan asam humat dalam gambut hemik lebih besar dibandingkan asam humat dalam gambut fibrik. Kata kunci : Tanah gambut, ekstraksi cair-cair, MIBK, asam humat, spektrofotometer UV-Vis
PENENTUAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI KULIT BUAH CERIA (BaccaureapolyneuraHook.f.) TERHADAP Escherichia coli dan Staphylococcus aureus Andi Hairil Alimuddin, Savante Arreneuz, Marta Hendra Susanti,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 3, No 3 (2014): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ceria merupakan salah satu tanaman dari genus Baccaurea.Tanaman ini hidup di daerah tropis di Kalimantan Barat dan buahnya dapat dikonsumsi.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kandungan golongan senyawa metabolit sekunder dan aktivitas antibakteri kulit buah ceria. Senyawa metabolit sekunder diperoleh dari proses ekstraksi yaitu maserasi dan partisi.Pengujian aktivitas antibakteriyang dilakukan pada penelitian ini yaitu terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus dengan metode difusi agar menggunakan sumur, kemudian dilanjutkan dengan penentuan nilai MIC.Hasil uji fitokimia menunjukan bahwa kulit buah ceria mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, fenol, terpenoid dan steroid. Hasil penelitian dari ekstrak metanol, dan ketiga fraksi yaitu : kloroform, etil asetat dan metanol memiliki aktivitas antibakteri terhadap E.coli dengannilai MICadalah 0,44%, 0,405%, 0,407%, dan 0,415%, dan terhadap S.aureus  adalah 0,438%, 0,391%, 0,421%, dan 0,412%. Dari keempat sampel uji tersebut yang paling efektif menghambat pertumbuhan bakteri uji adalah pada fraksi kloroform yaitu terhadap E.coli sebesar 0,405% dan pada S.aureus sebesar 0,391%.   Kata kunci : Aktivitas Antibakteri, Fitokimia, Ceria (B.polyneuraHook.f.)
UJI AKTIVITAS ANTIRAYAP MINYAK ATSIRI KULIT JERUK PURUT (Cytrus hystric D.C) TERHADAP RAYAP TANAH (Coptotermes sp) Afghani Jayuska, Andi Hairil Alimuddin, Noverita,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 3, No 2 (2014): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ekstraksi minyak atsiri kulit jeruk purut (Cytrus hystric D.C) telah dilakukan melalui destilasi uap. Penelitian ini bertujuan untuk  menentukan komponen yang terdapat dalam minyak kulit jeruk purut yang diisolasi dengan destilasi uap serta menguji aktivitas termisida dari kandungan zat dalam minyak atsiri kulit jeruk purut terhadap rayap tanah. Kulit jeruk purut yang telah dipotong-potong didestilasi selama 5 jam. Minyak atsiri yang diperoleh diterapkan untuk menentukan aktivitas antirayap dengan metode  cellulose pads yang telah dimodifikasi menggunakan rayap tanah (Coptotermes sp). Minyak atsiri yang diperoleh dari proses destilasi uap memiliki rendemen 0,5%. Hasil analisis menggunakan GC-MS menunjukkan bahwa minyak jeruk purut mengandung beberapa senyawa utama (citronella 14,18%, cyclohexene 10,10%, β-citronella8,54%, beta phellandrene 4,47%, citronellyl acetate 1,95%). Hasil uji aktivitas antirayap dengan pelarut dietil eter pada konsentrasi  0%, 5%, 10%, 15%, 20%, dan 25% menunjukkan bahwa minyak jeruk purut memiliki aktivitas antirayap terhadap rayap tanah (Coptotermes sp). Aktivitas paling tinggi sebesar 100% kematian pada konsentrasi  20% dan 25% dalam waktu uji selama kurang dari 5 hari. Kata Kunci : Minyak atsiri, Cytrus hystric. D.C, Aktivitas antirayap, GC-MS
KARAKTERISASI STRUKTUR SENYAWA KUMARIN GLIKOSIDA DARI BIJI BUAH RAMBUTAN (Nephelium lappaceum L.) Harlia, Rudiyansyah, Siti Nurhajar Sukmawati,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 6, No 3 (2017): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rambutan (Nephelium lappaceum L.) merupakan tanaman musiman yang banyak hidup di daerah tropis. Senyawa fenolik kumarin glikosida telah isolasi dari biji buah N. lappaceum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur senyawa kumarin glikosida pada biji buah N. lappaceum. Proses isolasi senyawa dilakukan dengan beberapa metode ekstraksi dan kromatografi. Fraksi yang sebagai sumber senyawa kumarin glikosida adalah fraksi etil asetat. Isolat murni yang diperoleh sebanyak 17,6 mg berbentuk kristal berwarna kuning dengan hasil uji fitokimia positif golongan fenolik. Data NMR-1H (CD3OD, 500 MHz) menunjukkan geseran kimia δ (ppm) 8,15 (1H, brs, H-2), 6,91 (1H, d, J=8,2 Hz, H-3), 6,77 (1H, s, H-6), dan 6,44 (1H, s, H-8), 5,57 (1H, s, H-1’), 4,04 (1H, s, H-2’), 3,85 (1H, dd, J=9,25;3,45 Hz, H-3’), 3,49 (1H, t, J=9,55 Hz, H-4’), 3,61 (1H, m, H-5’), 1,27 (3H, d, J=6,15 Hz, H-6’). Data  TOF-ESI-MS m/z memberikan massa molekul 348,28 [M+Na+H]+. Berdasarkan hasil analisis senyawa yang diperoleh dari fraksi etil asetat biji buah N. lappaceum adalah senyawa 5-O-α-L-ramnosa-7-hidroksikumarin. Kata Kunci : Nephelium lappaceum, kumarin, fenolik, glikosida
AKTIVITAS ANTIJAMUR EKSTRAK TERIPANG BUTOH KELING (Holothuria leucospilota) DARI PULAU LEMUKUTAN TERHADAP Candida albicans Puji Ardiningsih, Savante Arreneuz, Rahman Firdaus,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 4, No 4 (2015): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teripang merupakan biota laut yang banyak ditemukan di perairan Indonesia dan diketahui mengandung metabolit sekunder yang salah satunya berfungsi sebagai antijamur. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan golongan metabolit sekunder yang terdapat pada ekstrak H.leucospilota yang berasal dari perairan pulau Lemukutan dan mendapatkan fraksi ekstrak H.leucospilota yang paling aktif sebagai antijamur serta mengetahui kemampuan antijamurnya terhadap jamur C. albicans. Analisis golongan metabolit sekunder menggunakan analisis fitokimia sedangkan menentukan kemampuan bioaktivitas antijamur menggunakan metode difusi agar. Metabolit sekunder yang diduga memiliki kemampuan sebagai antijamur adalah saponin. Fraksi yang memiliki aktivitas antijamur C. albicans paling baik yaitu fraksi etil asetat dengan zona bening sebesar 25,06 mm pada konsentrasi 100 g/ml. Kadar hambat minimum (KHM) fraksi etil asetat yakni pada konsentrasi 0,005 g/ml dan pada konsentrasi 100 g/ml dan 10 g/ml memiliki aktivitas fungisidal. Fraksi etil asetat dari ekstrak H. leucospilota yang berasal dari perairan pulau Lemukutan dapat menjadi alternatif antijamur. Kata Kunci: Analisis fitokimia, Candida albicans, Difusi agar, Holothuria leucospilota
SINTESIS KOMPOSIT POLIANILINA-SELULOSA MENGGUNAKAN MATRIKS SELULOSA DARI TANDAN KOSONG SAWIT Harlia, Eko Saputra Berlian Sitorus
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 2, No 1 (2013): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sintesis komposit polianilina-selulosa menggunakan matriks selulosa yang berasal dari tandan kosong sawit telah dilakukan dalam penelitian ini. Jumlah polianilina yang terkomposit pada matriks selulosa dapat ditingkatkan dengan cara memasukkan polianilina ke dalam ruang antar struktur selulosa. Adanya ikatan hidrogen antar struktur selulosa menyebabkan polianilina sulit masuk. Proses swelling dilakukan untuk memperbesar ruang antar struktur selulosa sehingga molekul anilina dapat masuk. Sintesis komposit polianilina-selulosa dilakukan dengan variasi perlakuan awal swelling pada selulosa menggunakan dimetil sulfoksida (DMSO) dan tanpa perlakuan awal swelling pada selulosa. Selain itu, sintesis komposit polianilina-selulosa juga dilakukan dengan variasi massa anilina yaitu 0,5 g, 1 g, dan 1,5 g. Konduktivitas komposit polianilina-selulosa ditentukan dengan menggunakan Electrochemical Impedance Spectroscopy. Berdasarkan hasil pengukuran konduktivitas, komposit polianilina-selulosa yang dihasilkan bersifat semikonduktor. Nilai konduktivitas tertinggi dimiliki oleh komposit dengan variasi jumlah anilina 1,5 g, yakni 1,35 x 10-2 1,54 x 10-2 S/cm untuk komposit yang disintesis tanpa perlakuan awal swelling dan 3,58 x 10-3 3,87 x 10-3 S/cm untuk komposit yang disintesis melalui perlakuan awal swelling. Hasil pengukuran konduktivitas menunjukkan bahwa komposit polianilina-selulosa yang disintesis melalui perlakuan awal swelling memiliki nilai konduktivitas lebih tinggi dibandingkan dengan komposit yang disintesis tanpa melalui perlakuan awal swelling.
IMPREGNASI PIGMEN NORBIXIN DALAM BENTONIT TERAKTIVASI HCl Andi Hairil Alimuddin, Nelly Wahyuni, Indra Jemain,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 4, No 2 (2015): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pigmen norbixin pada Kesumba mampu menyerap energi UV dan mengubahnya menjadi energi karena memiliki ikatan rangkap konjugasi. Namun ikatan rangkap konjugasi juga dapat mempercepat norbixin mengalami fotodegradasi sehingga perlu diembankan dalam suatu material padat. Penelitian ini bertujuan mempelajari karakteristik interkalasi pigmen norbixin pada bentonit teraksivasi HCl serta menentukan konstanta degradasi bentonit teraktivasi-norbixin dan ekstrak norbixin akibat paparan sinar UV. Tahapan perlakuan meliputi pembuatan bentonit teraktivasi menggunakan larutan asam klorida dan dikarakterisasi menggunakan XRD. Selanjutnya dilakukan impregnasi pigmen norbixin pada bentonit teraktivasi dengan variasi massa tertentu dan dianalisis menggunakan spektrofotometer inframerah. Hasil XRD menunjukkan bahwa terjadi peningkatan daerah antarlapis pada bentonit (fresh clay) sebesar 19,36 Å pada 2θ=4,56 . Spektra inframerah menunjukkan bahwa terdapat serapan C-O asam karboksilat pada daerah 1381,03 nm diikuti dengan pembentukan ikatan hidrogen antara gugus hidroksil (-OH) norbixin dengan gugus silikat (-SiO) bentonit setelah imobilisasi. Produk impregnasi terbaik diperoleh pada variasi massa bentonit 1 gram ditandai dengan peningkatan paling besar pada intensitas gugus hidroksil (-OH).   Kata kunci : aktivasi, bentonit, norbixin
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI DAN ANALISIS EKSTRAK n-HEKSANA RIMPANG CHENGKENAM (Alpinia mutica Endah Sayekti, Noviana Ipi, Rudiyansyah,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 2, No 2 (2013): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Chengkenam (Alpinia mutica Roxb.) tergolong dalam famili Zingiberaceae yang biasa dikenal sebagai tanaman hias. Rimpang tanaman ini biasanya digunakan sebagai obat sakit perut. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan aktivitas antibakteri ekstrak n-heksana rimpang chengkenam (A. mutica Roxb.) terhadap Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa. Ekstraksi metabolit sekunder dengan menggunakan metode maserasi. Aktivitas antibakteri dilakukan dengan mengukur daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri. Hasil analisis GC-MS ekstrak n-heksana rimpang A. mutica menunjukkan adanya 17 komponen senyawa. Lima senyawa mayor yang memiliki luas area atau kelimpahan besar yaitu senyawa 4-tert-butil-2-(1-metil-2-nitro-etil)-sikloheksanon, pentadekana, sikloheksanon 3-(3,3-dimetil),1-oktin-3-ol-4-etil dan tetrakosana. Ekstrak n-heksana rimpang A. mutica mampu menghambat pertumbuhan S. aureus dan P. aeruginosa. Ekstrak n-heksana rimpang A. mutica dan antibiotik siprofloksasin sebagai kontrol postif lebih sensitiv terhadap bakteri Gram negatif P. aeruginosa dibandingkan terhadap bakteri Gram positif S. aureus. Kata kunci : Alpinia mutica Roxb., Rimpang, Antibakteri, Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa, GC-MS
SINTESIS HIDROKSIAPATIT DARI CANGKANG KERANG KEPAH (Polymesoda erosa) DENGAN VARIASI WAKTU PENGADUKAN Lia Destiarti, Rini Purwo Ningsih, Nelly Wahyuni,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 3, No 1 (2014): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hidroksiapatit (HAp) merupakan mineral apatit yang telah banyak digunakan sebagai bahan substitusi tulang dan gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi HAp yang disintesis dari cangkang kerang kepah (Polymesoda erosa). Hidroksiapatit disintesis dengan cara mereaksikan serbuk cangkang kerang dengan diamonium hidrogen fosfat dengan metode presipitasi. Sintesis HAp dilakukan dengan dua tahap. Tahap pertama dilakukan dengan dan tanpa penambahan HNO3 dan tahap kedua dilakukan variasi waktu pengadukan 30, 60 dan 90 menit. Berdasarkan hasil analisis X-ray Diffraction, HAp terkandung pada sampel dengan penambahan HNO3, sedangkan waktu 90 menit merupakan waktu maksimum pengadukan dengan persentase HAp 71%. Kata kunci: hidroksiapatit, cangkang kerang kepah, waktu pengadukan