cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Kimia Khatulistiwa
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 329 Documents
PENGARUH VARIASI WAKTU DAN UKURAN SAMPEL TERHADAP KOMPONEN MINYAK ATSIRI DARI DAUN JERUK PURUT(Citrus hystrix DC.) M. Agus Wibowo, Dewi Mayasari, Afghani Jayuska,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 2, No 2 (2013): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daun jeruk purut berpotensi sebagai penghasil minyak atsiri. Salah satu metode untuk mendapatkan minyak atsiri yaitu menggunakan destilasi uap. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh variasi waktu dan ukuran sampel terhadap komponen senyawa minyak atsiri terkandung dalam daun jeruk purut asal Terentang dengan menggunakan metode detilasi uap. Ukuran sampel daun jeruk purut segar dalam keadaan utuh dan rajang, kemudian didestilasi selama 4 dan 8 jam dengan menggunakan metode destilasi uap. Randemen minyak atsiri daun jeruk purut yang tertinggi yaitu pada daun utuh selama 4 jam sebesar 0,88095%. Hasil uji statistik dengan ANAVA satu jalan dengan tingkat signifikan 0,05 dan dilanjutkan uji BNT (Beda Nyata Terkecil) diperoleh daun utuh 4 jam berbeda nyata terhadap daun utuh 8 jam, daun rajang 4 jam dan daun rajang 8 jam. Hasil dari analisis GC-MS menunjukkan kandungan senyawa pada daun utuh 4 jam yaitu sitronelal 39,65%, ?-sitronelol 3,72%, isopulegol 3,47% dan geranil asetat 3,38%. Kata kunci : Citrus hystrix, sitronelal, minyak atsiri, destilasi uap
PENGARUH VARIASI MASSA NATRIUM HIDROKSIDA PADA PEMBUATAN ZIRKONIUM OKSIDA DARI PASIR MINERAL ZIRKON ASAL MANDOR KABUPATEN LANDAK Harlia, Hermanus Senyan, Imelda H. Silalahi,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 2, No 3 (2013): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembuatan zirkonium oksida (ZrO2) telah dilakukan dengan variasi massa natrium hidroksida (NaOH) terhadap perbandingan massa pasir mineral zirkon (ZrSiO4) yakni 1:2, 2:2, 3:2, dan 4:2. Teknik ini dilakukan dengan menggunakan natrium hidroksida untuk mendestruksi pasir zirkon pada temperatur 900 0C selama 2 jam. Fasa padat hasil destruksi yang telah digerus ditambahkan aquademineral untuk memisahkan natrium silikat dengan natrium zirkonat. Filtrat (natrium silikat) dan residu (natrium zirkonat) dipisahkan dengan penyaringan. Residu ditambahkan HCl pekat dalam kondisi panas pada suhu 80 0C untuk mengkonversi natrium zirkonat menjadi zirkonoksi klorida. Larutan zirkonoksi klorida diendapkan menggunakan larutan ammonium hidroksida (NH4OH) 12,5%. Pemisahan endapan dilakukan dengan penyaringan. Endapan yang dihasilkan dicuci dengan aquademineral panas, lalu dikeringkan, kemudian dikalsinasi pada suhu 900 0C selama 1 jam. Zirkonium oksida yang dihasilkan dikarakterisasi dengan X-Ray Diffraction (XRD) untuk mengetahui komposisi struktur dan bentuk kristal. Hasil karakterisasi zirkonium oksida dengan intensitas tertinggi dan bentuk kristal terbaik adalah untuk perbandingan massa natrium hidroksida terhadap pasir mineral zirkon yakni 4:2, dengan intensitas = 971,88 pada sudut 2? = 30,27 O dan bentuk kristal yakni 100% tetragonal. Kata kunci : zirkon, zirkonium oksida, destruksi, kristalisasi, XRD
OPTIMASI WAKTU KONTAK MODIFIKASI SILIKA GEL DARI LIMBAH KACA MENGGUNAKAN TRIBUTILAMINA Nelly Wahyuni., Rizki Febriyanti, Titin Anita Zaharah,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 3, No 3 (2014): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan optimasi waktu kontak modifikasi silika gel dari limbah kaca menggunakan tributilamina. Penelitian ini meliputi pembuatan natrium silikat, pembuatan silika gel dan modifikasi silika gel menggunakan tributilamina. Natrium silikat dihasilkan dari reaksi antara serbuk kaca dengan larutan NaOH melalui proses pelarutan yang kemudian dikalsinasi pada suhu 400oC. Padatan natrium silikat kemudian dilarutkan dalam akuades hingga terbentuk larutan natrium silikat. Larutan natrium silikat ditambahkan HCl 3 M tetes demi tetes hingga pH 8-10 dan terbentuk silika gel. Hasil analisis spektrofotometer IR menujukkan bahwa silika gel yang dihasilkan mengandung gugus silanol (Si-OH) dan siloksan (Si-O-Si) dan memiliki puncak serapan yang mirip dengan Silika Gel Kiesel 60. Berdasarkan hasil analisis analisis XRF silika gel memiliki kandungan SiO2 sebesar 74,98% serta hasil  XRD menunjukkan silika gel yang dihasilkan bersifat amorf dengan nilai 2θ = 23,29o. Silika gel kemudian dimodifikasi menggunakan tributilamina 0,001M dengan variasi waktu kontak 2, 3 dan 4 jam. Waktu kontak optimum dalam modifikasi permukaan silika gel adalah 3 jam dengan konsentrasi tributilamina yang terserap adalah 5,6 × 10-4 M. Kata kunci : limbah kaca, modifikasi silika gel, silika gel, tributilamina
KARAKTERISASI SENYAWA FENOLIK DARI FRAKSI ETIL ASETAT PADA KULIT BATANG TUMBUHAN CERIA (Baccaurea hookeri) Andi Hairil Alimuddin, Rudiyansyah, Tjia Fu Min,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 6, No 4 (2017): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tumbuhan ceria merupakan salah satu tumbuhan tropis yang tumbuh liar di alam dan memiliki buah yang bernilai ekonomis rendah. Banyaknya pembukaan lahan perkebunan menyebabkan tumbuhan ceria terancam punah. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian terhadap tumbuhan ceria agar dapat memberikan informasi ilmiah, terutama mengenai isolasi dan karakterisasi senyawa fenolik. Penelitian ini adalah bertujuan untuk mengisolasi dan mengarakterisasi senyawa fenolik yang terkandung dalam kulit batang tumbuhan ceria. Salah satu senyawa fenolik dari fraksi etil asetat kulit batang tumbuhan ceria telah berhasil diisolasi dan dikarakterisasi. Isolat murni dengan kode Pre 2R* merupakan isolat berbentuk kristal jarum (berwarna bening) dengan massa 11,2 mg. Isolat Pre 2R* diisolasi menggunakan metode maserasi, fraksinasi, dan kromatografi, sedangkan untuk karakterisasi menggunakan uji fitokimia. Isolat Pre 2R* positif berbentuk senyawa fenolik, berdasarkan uji fitokimia dengan menggunakan larutan FeCl3 5%, yaitu dengan ditandai perubahan warna menjadi hitam kebiruan. Kata Kunci: fenolik, isolat Pre 2R*, kulit batang tumbuhan ceria
SINTESIS POLIANILINA PADA MATRIKS SELULOSA SEBAGAI ELEKTROLIT PADAT PADA MODEL BATERAI SEDERHANA Mariana Bara’allo Malino, Ricco Andrean William, Berlian Sitorus,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 3, No 4 (2014): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sintesis polimer konduktif polianilina pada matriks selulosa menghasilkan komposit polianilina-selulosa (PANI-selulosa) sebagai elektrolit padat telah dilakukan. Selulosa yang digunakan berasal dari hasil isolasi tandan kosong kelapa sawit melalui proses pulping dan bleaching. Komposit PANI-selulosa disintesis dengan melakukan variasi terhadap jumlah anilina, yaitu 2 g dan 4 g. Komposit PANI-selulosa dibuat dengan penambahan dopan HCl 1 M dan inisiator (NH4)2S2O8 dengan perbandingan (NH4)2S2O8 terhadap anilina yaitu 3:4. Karakterisasi komposit PANI-selulosa dilakukan menggunakan metode X-Ray Diffraction (XRD) dan Scanning Electron Microscope (SEM). Hasil XRD menunjukkan adanya daerah kristal polianilina yang bersifat semikristalin dan daerah amorf selulosa pada nilai 2θ = 14,87o; 19,98o; dan 25,46o serta diketahui ukuran kristal polianilina sebesar 8,22 nm berdasarkan persamaan Scherrer. Hasil SEM menunjukkan citra polianilina nanokristal berbentuk granular yang terdispersi ke serat selulosa. Komposit PANI-selulosa kemudian diaplikasikan sebagai elektrolit padat pada model baterai sederhana. Komposit PANI-selulosa dengan massa anilina 2 g dan 4 g berturut-turut menghasilkan nilai konduktivitas 0,1259-0,1422 S/cm dan 0,2342-0,3644 S/cm. Pengujian baterai dengan elektrolit padat PANI-selulosa untuk massa anilina 2 g menghasilkan tegangan 0,875-0,876 V dan arus 9,5-10,5 mA. Sedangkan untuk baterai dengan massa anilina 4 g memperoleh tegangan 1,014-1,016 V dan arus 10,5-11,0 mA.   Kata Kunci : Komposit, polianilina (PANI), selulosa, elektrolit padat
KARAKTERISASI SENYAWA ANTIMALARIA DARI FRAKSI ETIL ASETAT HERBA PAKU Lygodium microphyllum TERHADAP Plasmodium falciparum Harlia, Ari Widiyantoro, Tiara Ritma Ratri,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 7, No 2 (2018): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lygodium microphyllum merupakan paku-pakuan dari family Lygodiciaea yang telah dimanfaatkan oleh masyarakat Kalimantan Barat dalam pengobatan tradisional untuk menyembuhkan demam, disentri, hepatitis, batuk dan kanker. Penelitian ini bertujuan untuk  mengetahui karakter senyawa dari fraksi etil asetat herba paku dan  aktivitasnya terhadap Plasmodium falciparum. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi sehingga diperolehi ekstrak kental metanol. Ekstrak kental metanol selanjutnya dipartisi dengan beberapa pelarut sehingga diperoleh fraksi n-heksana, fraksi diklorometana, fraksi etil asetat dan fraksi metanol. Ekstrak dan masing-masing fraksi serta isolat dilakukan uji antimalaria terhadap Plasmodium falciparum sehingga diperoleh nilai IC50  berturut-turut yaitu 9,95 ; 13,67 ; 1,33 ; 9,05; 30,78 dan 1,23 µg/mL.  Fraksi etil asetat kemudian dilakukan pemisahan dan pemurnian sehingga diperoleh isolat FE8.1 dengan massa 4,8 mg berwarna kuning dan titik leleh 129-133 oC. Analisis spektrofotometer UV-Vis diperoleh serapan maksimum pada 305 dan 254 nm yang menunjukan adanya transisi elektronik n→π* ; π→π* dan π→ σ. Panjang gelombang maksimum tersebut juga menunjukkan adanya pita I dan pita II yang merupakan karakteristik golongan senyawa flavonoid. Hasil analisis spektrometer IR menunjukan gugus fungsi pada 3275-3115 cm-1 (-OH), 1707; 1606 cm-1(C=O) lakton,1516-1448 cm-1(C=C)dan 1033 cm-1 (C-O-C). Uji fitokimia isolat menunjukkan positif terhadap FeCl3 1% sehingga diprediksi senyawa tersebut golongan fenolik bergugus lakton.  Kata kunci: Lygodium microphylllum, Plasmodium falciparum, senyawa antimalaria
PENGARUH WAKTU FERMENTASI CAMPURAN Trichoderma reesei DAN Aspergillus niger TERHADAP KANDUNGAN PROTEIN DAN SERAT KASAR AMPAS SAGU ., Ria Fransistika, Nora Idiawati, Lia Dest .
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ampas sagu merupakan limbah hasil industri pertanian yang belum dimanfaatkan secara optimal sebagai pakan ternak unggas, karena memiliki kadar protein yang rendah dan kandungan serat kasar yang tinggi. Pada penelitian ini dilakukan fermentasi campuran dengan menggunakan trichoderma reesei dan Aspergillus niger untuk mengetahui pengaruhnya terhadap kandungan protein dan serat kasar ampas sagu. Fermentasi dipengaruhi oleh dua variable, yaitu waktu penundaan pencampuran kedua kapang dan waktu fermentasi. Pada penelitian ini yang diujikan yaitu bilamana A.niger diinokulasikan setelah fermentasi oleh T.reesei berjalan 0 hari (D0)1 hari (D1) dan 2 hari (D2 ), serta waktu fermentasi yang digunakan yaitu 2 hari (T2), 4 hari (T4) dan 6 hari (T6). Secara umum, kadar protein dan serat kasar meningkat dengan variasi waktu yang diberikan. Kadar protein dan serat kasar ampas sagu sebelum difermentasi yaitu 1,54% dan 11,16%. Peningkatan kadar protein tertinggi diperoleh pada kondisi D1T6 yaitu sebesar 16,27%. Peningkatan protein disebabkan oleh penambahan protein yang disumbangkan oleh sel mikroba akibat pertumbuhnnya yang menghasilkan produk protein sel tunggal (PST). Kadar serat paling rendah diperoleh pada D1T2 yaitu sebesar 26,76%. Hasil ini menunjukkan bahwa pemanfaatan kedua kapang dapat meningkatkan kandungan protein ampas sagu, namun tidak dapat menurunkan kadar serat yang tinggi. Kata kunci : Ampas Sagu, Protein Kasar, Serat Kasar, Trichoderma reesei, Aspergillus niger
Karakterisasi Pori Adsorben Berbahan Baku Kaolin Capkala dan Zeolit Dealuminasi Adhitiyawarman, Ruth Febriana Kesuma Berlian Sitorus
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 2, No 1 (2013): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karakterisasi pori adsorben hasil kombinasi antara kaolin capkala dan zeolit dealuminasi telah dilakukan. Adsorben dibuat dengan mencampurkan kaolin dan zeolit dealuminasi dengan perbandingan komposisi kaolin dan zeolit 3:1, 1:1, dan 1:3. Variasi komposisi dilakukan untuk mengetahui pengaruh komposisi kaolin dan zeolit dealuminasi terhadap karakteristik pori adsorben yang meliputi luas permukaan, rerata jejari pori dan volume total pori. Tahapan pembuatan adsorben meliputi preparasi kaolin dan zeolit serta dealuminasi zeolit. Karakterisasi material menggunakan Gas Sorption Analyzer untuk mengetahui karakter pori kaolin, zeolit dan adsorben hasil kombinasi dan X-Ray Diffraction untuk mengetahui tingkat kristalinitas zeolit. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa adsorben dengan perbandingan komposisi kaolin dan zeolit dealuminasi 1:3 memiliki luas permukaan dan volume total pori terbesar yaitu 120,57 m2/g dan 0,1369 cc/g serta rerata jejari pori terkecil yaitu 22,7 . Jika dibandingkan dengan material awalnya, luas permukaan adsorben 1:3 meningkat 149% dan volume total pori 59% dan diikuti penurunan rerata jejari pori sekitar 36%.
Aktivitas Antirayap Minyak Atsiri Kulit Buah Jeruk Bali (Citrus maxima (Burm.) Merr.) Terhadap Rayap Coptotermes sp. Afghani Jayuska, Harlia, Viana Sari,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 5, No 1 (2016): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanaman Jeruk Bali (Citrus maxima (Burm.) Merr.) famili Rutaceae merupakan salah satu tanaman penghasil minyak atsiri terutama pada bagian kulit buahnya. Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas  minyak atsiri kulit buah jeruk bali (C. maxima (Burm.) Merr.) sebagai antirayap terhadap rayap Coptotermes sp. dengan uji penghambatan makan yang dilakukan selama 7 hari. Minyak atsiri kulit buah jeruk bali (C. maxima (Burm.) Merr.)  diperoleh dengan metode destilasi uap yang dilakukan selama 4 jam. Rendemen minyak atsiri kulit buah jeruk bali (C. maxima (Burm.) Merr.)  diperoleh sebesar 0,2%. Hasil identifikasi GC-MS menunjukkan bahwa minyak atsiri kulit buah jeruk bali (C. maxima (Burm.) Merr.) mengandung senyawa terbesar dl-limonen (41,98%) dan senyawa lain yaitu β-mirsen (15,34%),(E,E,E)-3,7,11,15-Tetrametil hexadeka 1,3,6,10,14-pentena (2,07%), δ-elemen (2,05%), dan Germakren D (0,78%). Hasil yang diperoleh menunjukkan minyak atsiri kulit buah jeruk bali (C. maxima (Burm.) Merr.) berpotensi sebagai antirayap dengan konsentrasi 8% sudah tergolong memiliki aktivitas antirayap yang sangat kuat terhadap rayap Coptotermes sp. dan menyebabkan  mortalitas rayap sebesar 97,33%. Kata Kunci: Citrus maxima (Burm.) Merr., Rutaceae, Minyak atsiri, Antirayap, Coptotermes sp.
PENGARUH KONSENTRASI KATALIS DAN WAKTU REAKSI PADA TRANSESTERIFIKASI MINYAK SAWIT MENTAH Nelly Wahyuni, Sy. M. Jamal Syukran, Harlia,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 2, No 3 (2013): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan sintesis metil ester dari Crude Palm Oil (CPO) dengan metode transesterifikasi menggunakan katalis abu tandan kosong sawit. Pada proses ini dikaji variasi konsentrasi (% b/v) abu tandan kosong sawit dalam metanol dan waktu reaksi. Konsentrasi abu tandan kosong sawit divariasikan pada 3, 4, 5, 6, 7 dan 8 % sedangkan waktu reaksi divariasikan pada 1, 2, 3 dan 4 jam. Reaksi dilakukan dengan menggunakan refluks pada temperatur didih metanol, yaitu 67oC. Hasil reaksi dianalisis dengan kromatografi lapis tipis dan GC-MS. Reaksi transesterifikasi CPO memberikan konversi produk terbaik pada konsentrasi katalis 6 % b/v dan waktu reaksi 3 jam, yaitu mencapai 96,60 % dari kandungan CPO. Sifat kimia dan fisika produk yang dihasilkan diantaranya memiliki kerapatan 0,872 g/mL (temperatur 25oC), viskositas 6,835 cSt dan indeks bias 1,4548. Analisis GC-MS menunjukkan bahwa komponen penyusun utama metil ester hasil reaksi transesterifikasi CPO dengan katalis abu tandan kosong sawit adalah metil laurat, metil miristat, metil palmitat, metil eikosadienat dan metil stearat. Kata Kunci : metil ester, transesterifikasi, minyak sawit, abu tandan kosong sawit