cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Kimia Khatulistiwa
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 329 Documents
PERBANDINGAN METODE HIDROLISIS ASAM DAN BASA TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN ASAM OKSALAT Harlia, Andi Hairil Alimuddin, Irma Ramadhani Febriaty,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 5, No 4 (2016): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.939 KB)

Abstract

Asam oksalat merupakan senyawa dikarboksilat yang dapat digunakan sebagai bahan dasar dalam sintesis berbagai produk kimia pada industri hilir. Telah dilakukan pada penelitian ini sintesis asam oksalat dari tandan kosong kelapa sawit. Sintesis dilakukan dengan menggunakan dua metode hidrolisis yaitu dengan metode asam (asam nitrat) dan metode basa (natrium hidroksida). Konsentrasi asam nitrat dan natrium hidroksida yang digunakan masing-masing 3, 4, 5 dan 6 M. Waktu reaksi divariasikan 60, 75, 90 dan 105 menit. Kondisi terbaik untuk pembuatan asam oksalat diperoleh dari oksidasi selulosa menggunakan asam nitrat 6 M dengan waktu reaksi 75 menit, rendemen yang dihasilkan sebesar 79,58%. Hasil tersebut lebih banyak daripada reaksi hidrolisis selulosa menggunakan NaOH 6 M dengan waktu reaksi 105 menit. Reaksi hidrolisis pada kondisi tersebut hanya menghasilkan  5,22% rendemen. Berdasarkan rendemen yang dihasilkan, metode hidroilisi asam lebih baik dari pada metode basa. Karakterisasi asam oksalat dilakukan menggunakan Fourier Transform Infra Red (FTIR) dan Spektrofotometer Massa (MS). Hasil FTIR metode basa menunjukkan adanya serapan OH (3411,8 cm-1), C=O (1687,6 cm-1), C-O (1263,3 cm-1), C-H alifatik (2925,8 cm-1), Sedangkan untuk metode asam  menunjukkan adanya serapan OH (3402,43 cm-1), C=O (1620,21 cm-1), C-O (1126,43 cm-1), C-H alifatik (2939,52 cm-1). Hasil Analisis GC-MS menunjukkan berat molekul sampel sesuai dengan berat molekul dari asam oksalat. Kata kunci : asam oksalat, TKKS, asam, basa
KARAKTERISASI SENYAWA FENOLIK DARI BIJI BUAH RAMBUTAN (Nephelium lappaceum L.) Rudiyansyah, Muhamad Agus Wibowo, Jennifer Mulia,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 8, No 1 (2019): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (482.011 KB)

Abstract

Biji rambutan yang umumnya dianggap sebagai limbah memiliki potensi sebagai sumber metabolit sekunder yang dimanfaatkan dalam bidang kesehatan sebagai obat-obatan. Telah dilakukan isolasi dan karakterisasi senyawa metabolit sekunder golongan fenolik dari biji buah rambutan dengan menggunakan metode maserasi, partisi, kromatografi, uji fitokimia dan analisis NMR-1H. Fraksi yang digunakan dalam isolasi merupakan fraksi etil asetat hasil KVC. Uji fitokimia menunjukkan bahwa isolat biji rambutan positif mengandung metabolit sekunder golongan fenolik. Isolat berupa kristal kekuningan sebanyak 12,6 mg yang merupakan senyawa golongan fenolik. Data spektrum NMR-1H (CDCl3, 500 MHz) menunjukkan pergeseran kimia δH (ppm) 7,99 (2H, d, J=8,8 Hz), δH (ppm) 6,87 (2H, d, J=8,8 Hz) dan δH (ppm) 4,6 (1H, d, J=2,2 Hz) yang merupakan pergeseran kimia senyawa turunan benzoat dengan jenis substituen yang berbeda pada posisi para. Berdasarkan perbandingan literatur dan hasil analisis, diketahui bahwa senyawa yang terkandung pada biji buah rambutan adalah senyawa asam-p-hidroksi benzoat. Kata Kunci : Asam benzoat, fenolik, rambutan
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN TOKSISITAS KULIT BIJI PINANG SIRIH (Areca catechu L.) Andi Hairil Alimuddin, Harlia, Revina Petrina,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 6, No 2 (2017): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (489.643 KB)

Abstract

Tanaman pinang sirih (Areca catechu Linn) telah digunakan secara tradisional dalam bidang pengobatan. Oleh karena itu, pada penelitian ini dilakukan pengujian potensi antioksidan dan toksisitas dari ekstrak kulit biji pinang sirih (Areca catechu L.). Aktivitas antioksidan diuji dengan metode DPPH dengan reagen 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil. Pengujian toksisitas dilakukan dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Aktivitas antioksidan dinyatakan dengan nilai IC50. nilai IC50 ekstrak kental kulit biji pinang sirih sebesar 30,39 ppm, fraksi metanol  29,42 ppm, fraksi etil asetat 45,11 ppm, dan fraksi n-heksana 17,85 ppm. Hasil tersebut menunjukkan bahwa ekstrak dan semua fraksi mempunyai sifat antioksidan yang kuat. Aktivitas yang paling kuat ditunjukkan pada fraksi n-heksana. Efek toksistas dinyatakan dengan nilai LC50. Nilai LC50 ekstrak kental metanol kulit biji pinang sirih sebesar 7,695 ppm, fraksi metanol 5,481 ppm, fraksi etil asetat 6,323 ppm, dan fraksi n-heksana 5,727 ppm. Fraksi metanol menunjukkan tingkat toksisitas yang lebih tinggi dibandingkan ekstrak kental metanol, fraksi etil asetat dan fraksi n-heksana. Hasil pengujian ini menunjukkan bahwa ekstrak kulit biji pinang sirih (Areca catechu L.) mengandung senyawa yang memiliki potensi sebagai antioksidan dan sitotoksik. Kata Kunci: antiokisdan, Areca catechu Linn, BSLT, DPPH, toksisitas
IDENTIFIKASI ISOLAT AKTINOMISETES YANG DIISOLASI DARI TANAH GAMBUT PONTIANAK UTARA Puji Ardiningsih, Dwi Lidiani,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 8, No 2 (2019): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.952 KB)

Abstract

Telah dilakukan isolasi dan identifikasi isolat  aktinomisetes dari tanah gambut. Tujuan dari penelitian ini adalah memperoleh dan mengidentifikasi isolat aktinomisetes. Isolat aktinomisetes diinokulasikan  ke  media  ISP2  dengan  menggunakan metode tuang dan dimurnikan dengan media yang sama hingga diperoleh 1 isolat murni dengan kode FAI2. Isolat aktinomisetes tersebut diidentifikasi dengan mengikuti panduan dari Bergey’s Determinative Bacteriology menggunakan dua metode yaitu:  pewarnaan  Gram  dan  slide  culture. Hasil pewarnaan Gram menunjukkan bahwa isolat adalah bakteri Gram positif berbentuk batang dan bewarna ungu. Hasil slide culture menunjukkan bahwa isolat mempunyai karakteristik dengan streptomyces. Berdasarkan hasil pewarnaan Gram dan slide culture diperoleh satu isolat aktinomisetes dengan kode FAI2 yang merupakan bakteri Gram positif bewarna ungu dengan genus Streptomyces. Kata Kunci:  tanah gambut, aktinomisetes, Streptomyces
SENYAWA FENOLIK DARI FRAKSI METANOL BATANG TANAMAN ANDONG (Cordyline fruticosa) DAN AKTIVITAS SITOTOKSIKNYA TERHADAP SEL HeLa Ari Widiyantoro, Afghani Jayuska, Franciskus Tri Jaka Sentosa,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 6, No 4 (2017): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.578 KB)

Abstract

Tanaman andong (Cordyline fruticosa) merupakan salah satu tanaman yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai sumber obat dengan aktivitas sebagai antimikroba, antihelmintik, antioksidan, dan sitotoksik. Batang tanaman andong mengandung senyawa golongan terpenoid, steroid, flavonoid, saponin, alkaloid dan tanin. Penelitian ini bertujuan mengetahui struktur senyawa fenolik yang terdapat pada fraksi metanol batang tanaman andong dan aktivitas sitotoksik senyawa fenolik tersebut terhadap sel kanker HeLa. Pemisahan fraksi metanol dilakukan dengan kromatografi kolom dan diidentifikasi menggunakan spektroskopi inframerah yang kemudian diuji aktivitas sitotoksiknya terhadap sel kanker HeLa yang dilakukan baik terhadap ekstrak kental metanol, fraksi maupun isolat.Hasil penelitian menunjukkan bahwa spektrum IR isolat FM4.2.1menunjukkan serapan 3410,15 cm-1 (OH), 2854,65-2924,09 cm-1 (CH), 1750cm-1 (C=O), 1465,90-1627,92 cm-1 (C=C), 1111,00cm-1 (C-O-C). Isolat FM4.2.1memiliki aktivitas sitotoksik terhadap sel kanker HeLa sebesar 249,246 μg/mL yang tergolong potensial moderat.  Kata kunci : Cordyline fruticosa, fenolik, inframerah, isolat FM4.2.1, sel HeLa
BIOAKTIVITAS MINYAK ATSIRI DAUN JERUK PURUT (Citrus hystrix) TERHADAP RAYAP TANAH (Coptotermes sp.) Afghani Jayuska, Yulianti Indriyani, Sri Lestari,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 4, No 4 (2015): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.298 KB)

Abstract

Minyak atsiri merupakan minyak yang mudah menguap yang diperoleh dari tanaman dengan cara destilasi. Salah satu tanaman penghasil minyak atsiri adalah tanaman daun jeruk purut (Citrus hystrix) yang berpotensi sebagai antirayap. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan konsentrasi dan bioaktivitas minyak atsiri dari daun jeruk purut terhadap kematian rayap tanah (Coptotermes sp.). Penelitian dilakukan dengan mendestilasi daun jeruk purut kemudian dilakukan uji GC-MS dan uji bioaktivitasnya terhadap rayap tanah (Coptotermes sp). Pada uji bioaktivitas minyak atsiri daun jeruk purut terhadap rayap tanah (Coptotermes sp.) digunakan variasi konsentrasi 0%, 0,5%, 1%, 1,5%, 2% serta pestisida buatan (fipronil) dengan konsentrasi 0,5% dan 2%. Hasil GC-MS menunjukkan senyawa yang terkandung dalam minyak atsiri daun jeruk purut adalah sitronelal sebesar 65,63% dan rendemen kadar minyak atsiri sebesar 0,92% (b/b%). Konsentrasi minyak atsiri daun jeruk purut 2% menunjukkan mortalitas tertinggi yaitu 46%, sedangkan konsentrasi minyak atsiri daun jeruk purut 0,5% menyebabkan mortalitas terendah yaitu 8%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bioaktivitas minyak atsiri daun jeruk purut yang berpengaruh terhadap mortalitas rayap tanah adalah pada konsentrasi 2% dengan total kematian rayap tanah sebesar 46 % dalam waktu 4 hari.   Kata kunci : daun jeruk purut, minyak atsiri, sitronelal, antirayap
PENGARUH VOLUME ANHIDRIDA ASETAT PADA SINTESIS SELULOSA ASETAT DARI SABUT KELAPA (Cocos nucifera L.) Intan Syahbanu, Andi Hairil Alimuddin, Hesti Asparingga,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 7, No 3 (2018): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.978 KB)

Abstract

Kelapa merupakan tanaman serba guna, seluruh bagian tanaman ini bermanfaat bagi kehidupan manusia mulai dari buah, daun, air, bahkan serat sabut kelapa. Serat sabut kelapa mengandung selulosa. Selulosa dapat dijadikan selulosa asetat melalui reaksi esterifikasi dengan prekursor anhidrida asetat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh volume anhidrida asetat terhadap karakteristik selulosa asetat dari sabut kelapa. Karakterisasi selulosa asetat dilakukan dengan spektrofotometri FTIR, penentuan derajat substitusi (DS) dan penentuan massa molekul rata-rata viskositas (Mv). Hasil penelitian menunjukkan asetilasi selulosa dari sabut kelapa telah berhasil dilakukan, diindikasikan dengan munculnya puncak khas pada daerah antara 1738 cm-1 dan 1227 cm-1 yang merupakan puncak dari C=O dan C-O asetil. Volume anhidrida asetat berpengaruh terhadap kadar asetil dan DS dimana diperoleh nilai yaitu pada variasi 20 kadar asetil= 26,6914%; DS= 1,3601, variasi selulosa asetat 40 kadar asetil= 39,6899%; DS= 2,4419, variasi selulosa asetat 60 kadar asetil= 50,8737%; DS= 3,8126 dan selulosa asetat komersial sebagai pembanding kadar asetil= 39,87%; DS= 2,4601.  Kata Kunci: sabut kelapa, selulosa asetat, FTIR, derajat substitusi
UJI KUALITATIF HISTAMIN MENGGUNAKAN KIT HISTAKIT PADA IKAN PATIN JAMBAL (Pangasius djambal) SELAMA PENYIMPANAN SUHU DINGIN Muhamad Agus Wibowo, Rudi Rianto, Evi Mauliyani,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 5, No 3 (2016): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.913 KB)

Abstract

Ikan patin jambal (Pangasius djambal) merupakan jenis ikan kelompok spesies pangasius yang sekarang mulai popular dibudidayakan di Indonesia. Keberhasilan suatu usaha budidaya ikan tidak terlepas dari masalah penyakit dan parasit ikan. Penyakit ikan yang disebabkan oleh bakteri sangat mempengaruhi hasil budidaya karena penyakit tersebut dapat menurunkan hasil ikan budidaya. Diantaranya penyebaran penyakit yang disebabkan oleh bakteri adalah melalui luka ikan yang dapat menghasilkan histamin. Histamin merupakan salah satu bahan kimia bersifat toksik yang dihasilkan dari proses dekarboksilasi histidin bebas oleh aktivitas enzim L-histidin  decarboxylase (HDC). Pembentukan histamin dapat terus berlangsung walaupun dengan lambat pada penyimpanan suhu dingin yang dapat menyebabkan reaksi alergi dan keracunan pada konsumen. Penelitian kadar histamin secara uji kualitatif menggunakan kit histakit pada ikan patin jambal selama penyimpanan suhu dingin telah dilakukan untuk menentukan ada atau tidaknya histamin pada ikan patin jambal selama penyimpanan suhu dingin oleh ikan setelah mati dan intensitas pembentukan warna yang di hasilkan pada sampel. Ikan dimatikan dengan cara hipotermal menggunakan es curah dan disimpan dalam coolbox selama 14 hari dengan selang waktu 2 hari setiap analisis kemudian dianalisis dengan menggunakan kit histakit secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa kit histakit dapat mendeteksi histamin pada fillet ikan patin jambal sesuai dengan intensitas warna yang di hasilkan antara reaksi kit dengan sampel. Ikan patin jambal sebanyak 48 ekor yang di analisis setiap 2 hari selama 14 hari dinyatakan positif mengandung histamin sejak hari pertama (hari ke-0) hingga hari terakhir (hari ke-14) pembentukan.   Kata kunci: histamin, ikan patin jambal, kit histakit, uji kualitatif, penyimpanan
ISOLASI DAN KARAKTERISASISENYAWA TERPENOID EKSTRAK KLOROFORM KULIT BIJI PINANG SIRIH (Areca Catechu L) Andi Hairil Alimuddin, Harlia, Eka Puspita Ningrum,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 7, No 4 (2018): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.813 KB)

Abstract

Isolasi senyawa metabolit sekunder pada ekstrak kulit biji pinang sirih (Areca Catechu L) dilakukan untuk menentukan golongan senyawa isolat. Proses isolasi dilakukan dengan metode sokletasi, kromatografi lapis tipis, kromatografi vakum cair, kromatografi lapis tipis preparatif, dan kromatografi lapis tipis 2 dimensi, dan dikarakterisasi menggunakan metode uji fitokimia. Hasil kromatografi vakum cair menghasilkan 11 fraksi, dengan fraksi B1terdapat spot yang hampir tunggal. Uji kemurnian senyawa diperoleh dari uji KLT preparatif dan KLT 2 dimensi, serta dianalisis dengan menyemprotkan reagen Lieberman Burchard sehingga tampak noda berwarna merah kecoklat-coklatan yang menandakan isolat tersebut mengandung senyawa terpenoid dengan massa yang diperoleh sebesar 0,0073 gram Kata kunci : isolasi, karakterisasi, kulit biji pinang, terpenoid
PEMANFAATAN KOMPOSIT AMPAS SAGU-KAOLIN UNTUK ADSORPSI Fe(II) Lia Destiarti, Anis Shofiyani, Inoarci Cici,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 6, No 2 (2017): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.387 KB)

Abstract

Ampas sagu merupakan salah satu serat pangan yang memiliki banyak gugus fungsi sehingga dapat digunakan sebagai adsorben. Gugus fungsi pada serat pangan umumnya bersifat tidak stabil secara termal dan mekanik, oleh karena itu diperlukan material pengemban seperti kaolin  untuk menstabilkannya. Penelitian ini menggunakan komposit ampas sagu-kaolin teraktivasi untuk mengadsorpsi Fe(II). Karakterisasi ampas sagu teraktivasi H3PO4 30% dan kaolin teraktivasi H2SO4 3 M dilakukan menggunakan spektroskopi IR. Spektrum IR ampas sagu teraktivasi memperlihatkan terdapat gugus fungsi –OH (hidroksil) pada bilangan gelombang 3448,72 cm-1. Spektrum IR kaolin teraktivasi memperlihatkan bahwa gugus fungsional khas kaolin masih tetap dipertahankan yaitu pada bilangan gelombang  1103,28 cm-1 (vibrasi regangan Si-O), 1026,13 cm-1 (vibrasi regangan Al-O), 918,12 cm-1 (vibrasi tekuk Al-O-H), 694,37 cm-1 (vibrasi tekuk Si-O-Si), dan 540,07 cm-1 (vibrasi regangan Si-O-Al). Hasil penelitian menunjukkan komposit ampas sagu-kaolin mengikuti model kinetika adsorpsi pseudo-orde dua dengan koefisien korelasi yaitu 0,987 dan konstanta laju 0,502 mg g-1 menit-1, jenis isoterm adsorpsinya mengikuti model isoterm Langmuir dengan koefisien korelasi 0,986 dan kapasitas adsorpsi maksimum 1,689 mg/g dan pH maksimum adsorpsi Fe(II) terjadi pada pH 4. Kata Kunci : adsorpsi, komposit  ampas sagu-kaolin, Fe(II)

Page 9 of 33 | Total Record : 329