cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Kimia Khatulistiwa
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 329 Documents
SINTESIS KOMPOSIT POLIMER KONDUKTIF POLIPIROL (PPY)/SELULOSA BAKTERI DENGAN METODE SPRAY DAN RENDAM Harlia, Intan Syahbanu, Bayu Santoso Widodo,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 7, No 1 (2018): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (637.607 KB)

Abstract

Sintesis komposit polimer konduktif PPy/selulosa bakteri telah berhasil dilakukan dengan metode spray dan metode rendam. Sintesis dilakukan dengan menggunakan pirol 0,5 M, inisiator FeCl3.6H2O 0,5 M serta dopan HCl 0,6 M. Komposit PPy/selulosa bakteri dikarakterisasi dengan instrumen Scanning Electron Microscope (SEM), four point probe dan Fourier Transform Infra Red (FTIR). Komposit PPy/selulosa bakteri hasil sintesis dengan metode spray menunjukkan morfologi yang berpori. Konduktivitas hasil sintesis PPy/selulosa bakteri dengan metode spray  sebesar 0,52 x 10-2 S.m-1 dan konduktivitas hasil sintesis PPy/selulosa bakteri dengan metode rendam sebesar 7,87 x 10-2 S.m-1. Hasil FTIR komposit PPy/selulosa bakteri menunjukkan adanya serapan karakteristik polipirol yaitu 1539 cm-1 (C=C), 1424 cm-1 (C-N) untuk metode spray serta 1526 cm-1 (C=C), 1444 cm-1 (C-N) untuk metode rendam. Serapan karakteristik dari selulosa bakteri muncul pada 3337 cm-1 (O-H), 2918 cm-1 (C-H) dan 1039 cm-1 (C-O-C) untuk metode spray serta 3073 cm-1 (O-H), 2904 cm-1 (C-H) dan 1019 cm-1 (C-O-C) untuk metode rendam. Komposit PPy/selulosa bakteri yang disintesis tergolong bahan semikonduktor. Kata Kunci : komposit, metode rendam, metode spray, PPy/selulosa bakteri
SKRINING FITOKIMIA DAN UJI TOKSISITAS EKSTRAK AKAR MENTAWA (Artocarpus anisophyllus) TERHADAP LARVA Artemia salina Nora Idiawati, Andi Hairil Alimuddin, Natia Afriani,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 5, No 1 (2016): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.133 KB)

Abstract

Daun dan batang mentawa sebagai tanaman obat diketahui mengandung flavonoid yang berpotensi dilihat dari aktivitas antimikroba, antikanker dan antioksidannya yang tinggi, namun belum ditemukan informasi tentang bioaktivitas pada bagian akarnya.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi akar mentawa sebagai zat yang mempunyai efek sitotoksik terhadap larva Artemia salina dan kandungan metabolit sekundernya. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak kasar metanol akar mentawa mengandung alkaloid, flavonoid, steroid/terpenoid dan tannin/polifenol. Fraksi metanol mengandung alkaloid dan tannin/polifenol. Fraksi etil asetat mengandung alkaloid, flavonoid, dan steroid/terpenoid. Fraksi kloroform mengandung alkaloid dan flavonoid. Fraksi n-heksana mengandung alkaloid dan steroid/terpenoid. Uji toksisitas dilakukan dengan metode BSLT. Hasil uji toksisitas menunjukkan nilai LC50 ekstrak kasar metanol, fraksi metanol, fraksi etil asetat, fraksi kloroform, dan fraksi n-heksana berturut-turut adalah  583 ppm, 2167 ppm, 328 ppm,  1318 ppm, 2167 ppm. Berdasarkan nilai LC50 tersebut dapat disimpulkan ekstrak kasar metanol dan fraksi etil asetat bersifat  toksik terhadap larva Artemia.   Kata kunci: mentawa, toksisitas, Artemia salina, skrining fitokimia
PENENTUAN KADAR BESI (FE) PADA AIR GAMBUT MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETER ULTRA VIOLET-VISIBLE DENGAN PERBANDINGAN PENGOMPLEKS FENANTROLIN DAN ALIZARIN RED S Lia Destiarti, Nora Idiawati, Tri Morti,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 7, No 3 (2018): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.481 KB)

Abstract

Telah dilakukan penentuan kadar besi (Fe) pada air gambut dilakukan menggunakan spektrofotometer ultra violet-visible dengan perbandingan pengompleks fenantrolin dan Alizarin Red S (ARS). Kompleks yang dihasilkan Fe-fenantrolin berwarna merah jingga dengan panjang gelombang maksimum 510 nm. Sedangkan Fe-ARS membentuk kompleks berwarna kuning dengan panjang gelombang maksimum 420 nm. Penelitian ini juga dilakukan validasi metode untuk melihat perbandingan nilai yang dihasilkan kedua pengompleks. Validasi metode yang dilakukan yaitu penentuan parameter akurasi, presisi, LOD, LOQ, dan linieritas.  Hasil penelitian untuk kompleks Fe-fenantrolin diperoleh nilai akurasi 0,60%-4,05%, presisi 0,03%-0,24%, LOD 0,3, LOQ 1 dan linieritas 0,99. Parameter analitik yang dihasilkan oleh kompleks Fe-ARS yaitu, akurasi 2,11%-30,89%), presisi 0,21%-5,82%dan linieritas 0,975. Hasil penentuan rata-rata kadar Fe menggunakan pengompleks Fe-fenantrolin dan Fe-ARS berturut-turut adalah 3,4 ppm dan 19,2 ppm. Berdasarkan uji-t penentuan kadar Fe pada air gambut menggunakan spektrofotometer ultra violet-visible dengan perbandingan pengompleks fenantrolin dan ARS adalah berbeda secara signifikan. Berdasarkan hasil pengujian parameter analitiknya,dapat disimpulkan bahwa pengompleks fenantrolin lebih selektif dan sensitif dibanding pengompleks ARS. Kata kunci: Besi, air gambut, fenantrolin, ARS
UJI TOTAL FENOL, AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN SITOTOKSITAS DAUN AKAR BAMBAK ( Ipomoea sp.) Titin Anita Zaharah, Muhamad Agus Wibowo, Dyan Fermanasari,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 5, No 4 (2016): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.493 KB)

Abstract

Akar bambak merupakan salah satu tumbuhan dari genus Ipomoea yang berpotensi sebagai antioksidan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan total fenol, aktivitas antioksidan dan aktivitas toksisitas ekstrak kasar metanol, fraksi n-heksana, fraksi etil asetat dan fraksi metanol daun tapak kuda. Uji total fenol menggunakan metode Folin-Ciocalteu, aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikril-hidrazil) dan sitotoksisitas menggunakan metode BSLT (brine shrimp lethality test). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa  hasil skrining fitokimia semua fraksi mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, polifenol dan steroid. Kandungan total fenol dan aktivitas antioksidan tertinggi  terdapat pada fraksi metanol yaitu sebesar 20,51 μg/mL dan nilai IC50 42,54 ppm. Uji toksisitas menunjukkan bahwa fraksi etil asetat memiliki aktivitas toksisitas yang tertinggi dengan nilai LC50 93,317 ppm. Berdasarkan hasil penelitian mengindikasikan bahwa fraksi metanol daun akar bambak bersifat aktif sebagai antioksidan dan fraksi etil asetat bersifat aktif sebagai antikanker. Kata Kunci :  akar bambak (Ipomoea sp.),  skrinning fitokimia, total fenol, antioksidan, sitotoksitas
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN SITOTOKSISITAS FRAKSI DAUN KENTUTAN (Paederia foetida L.) Muhamad Agus Wibowo, Djoko Parwanto,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 4, No 1 (2015): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (522.67 KB)

Abstract

Kentutan (Paederia foetida L.) termasuk tumbuhan famili Rubiaceae.Tumbuhan ini telah diketahui memiliki sifat antioksidan dan sitotoksisitas pada ekstrak kasar metanol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan kandungan metabolit sekunder, kandungan total fenol, aktivitas penangkapan radikal 2,2-difenil-1-pikrilhidrazin (DPPH) dan aktivitas sitotoksik terhadap larva Artemia salina oleh fraksi-fraksi nya. Fraksi yang digunakan pada penelitian ini adalah fraksi n-heksana, fraksi kloroform, dan fraksi metanol. Berat sampel ekstrak daun P.foetida adalah 46,326 gram dengan rendeman dari masing-masing fraksi adalah 0,3084%, 0,5369%, dan 2,1243%. Hasil skrining fitokimia dan kromatografi lapis tipis (KLT) menunjukkan bahwa semua fraksi mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, polifenol, dan terpenoid. Fraksi metanol pada penelitian ini telah diketahui memiliki kandungan total fenol dan IC50 paling baik yaitu sebesar 37,960 µgTAE/mg dan 39,836. Sedangkan pada fraksi n-heksana memiliki nilai LC50 paling baik yaitu sebasar 291,031. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pada fraksi-fraksi daun P.foetida berpotensi sebagai antioksidan dan sitotoksisitas. Kata kunci:Kentutan (Paederia foetida L), Total fenol,  Antioksidan, Sitotoksisitas.
PENGARUH KONSENTRASI PELARUT DAN PRAPERLAKUAN DENGAN LARUTAN ASAM KLORIDA TERHADAP EKSTRAKSI ASAM HUMAT DARI KOMPOS KOTORAN SAPI Intan Syahbanu, Nurlina, Chyntia Nabela,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 6, No 3 (2017): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.704 KB)

Abstract

Potensi humat di Indonesia cukup tinggi karena sumber asam humat yang berasal dari lahan gambut melimpah. Asam humat dapat  diperoleh dari kompos yang sudah matang. Kompos merupakan bahan organik yang terdiri dari sisa-sisa tanaman, hewan, ataupun sampah-sampah yang telah mengalami pelapukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi pelarut KOH dan praperlakuan dengan larutan HCl pada proses ekstraksi asam humat dari kompos terhadap asam humat hasil ekstraksi dan karaktersitik yang diperoleh. Asam humat diekstraksi dengan pelarut  KOH, dan terendapkan dengan penambahan HCl, kemudian dicuci dengan akuades dan diuji dengan AgNO3 hingga tidak terbentuk endapan, selanjutnya dilakukan penentuan nilai keasaman, karboksil dan fenolik. Asam humat yang paling banyak didapat pada konsentrasi 0,25 M, dengan hasil tanpa praperlakuan sebesar 4,486 %, dan dengan hasil praperlakuan sebesar 6,699 %. Asam humat hasil ekstraksi dengan praperlakuan memperoleh nilai total keasaman, karboksil dan fenolik yaitu masing-masing 812,5 cmol/kg, 287,5 cmol/kg dan 525 cmol/kg. Kata Kunci : asam humat, variasi konsentrasi, praperlakuan, nilai keasaman
UJI FOTOSTABILITAS TiO2-KLOROFIL DARI MIRKOALGA (Chlorella sp.) Nelly Wahyuni, Andi Hairil Alimuddin, Rahmi Pratiwi,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 4, No 3 (2015): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.161 KB)

Abstract

Klorofil merupakan pigmen utama yang terdapat pada mikroalga (Chlorella sp). Pigmen klorofil mudah terdegradasi akibat suhu, oksigen dan cahaya. Penambahan TiO2 diketahui dapat meningkatkan fotostabilitas klorofil karena selain sebagai fotoprotektor, TiO2­­ merupakan bahan semikonduktor yang umum digunakan dalam sel surya tersensitasi pewarna. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan fotostabilitas pigmen klorofil dari mikroalga (Chlorella sp.) dengan cara mengembankannya pada titanium dioksida (TiO2) melalui proses imobilisasi. Interaksi antara klorofil dan TiO2 sebelum dan setelah imobilisasi, dikarakterisasi menggunakan spektrofotometer inframerah (IR). Uji fotostabilitas TiO2-klorofil dilakukan menggunakan sinar UV selama 12 jam secara kontinu dan penurunan konsentrasi klorofil akibat fotodegradasi dianalisis menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Spektra IR menunjukkan bahwa imobilisasi TiO2-klorofil ditandai dengan terjadinya penurunan signifikan puncak 3417,86 cm-1 akibat ikatan hidrogen antara gugus amina (-NH) dengan gugus (TiO), penurunan pada puncak 1712,79 cm-1 karena interaksi antara gugus karbonil (C=O) dengan gugus (TiO), dan adanya serapan pita Ti-O-O pada pucak 678,94 cm-1. Uji fotostabilitas menunjukkan bahwa TiO2-klorofil memiliki stabilitas yang lebih tinggi dibandingkan klorofil murni. Hal ini ditandai dengan nilai konstanta degradasi TiO2-klorofil lebih kecil dibandingkan dengan absorbansi klorofil murni setelah iradiasi kontinu selama 12 jam. Dari penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa imobilisasi pigmen klorofil pada TiO2 mampu meningkatkan fotostabilitas pigmen klorofil. Kata kunci: fotostabilitas, imobilisasi, klorofil, titanium dioksida (TiO2)
KARAKTERISASI SENYAWA FENOLIK DARI FRAKSI METANOL BUNGA NUSA INDAH (Mussaenda erythrophylla) Ari Widiyantoro, Afghani Jayuska, Sri Utami,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 6, No 4 (2017): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.831 KB)

Abstract

Bunga nusa indah (Mussaenda erythrophylla) merupakan tanaman yang hidup di daerah tropis. Penelitian ini bertujuan untuk mengarakterisasi senyawa fenolik dari fraksi metanol pada bunga nusa indah. Penelitian ini dilakukan dengan berbagai metode pemisahan yaitu fraksinasi dan pemurnian. Isolat relatif murni diperoleh 438,9 mg berbentuk amorf. Kemurnian isolat diuji menggukanan kromatografi lapis tipis 1 dan 2 dimensi yang menunjukkan noda tunggal dan uji fitokimia yang menunjukkan positif fenolik. Spektrum ultraviolet visible (UV-Vis) dengan menggunakan pelarut metanol memberikan serapan maksimum pada panjang gelombang 221,0 nm menunjukkan adanya transisi elektronik π→π*. Pada 267,5 nm menunjukkan adanya transisi elektronik *. Spektrum infrared (IR) menunjukkan bilangan gelombang (cm-1) : 3120,82 – 3514,30 (cm-1) (OH) stretching; 1454,33 cm-1 (C=C aromatic) stretching; 1128,36 cm-1 (C-O-C) stretching; 2922,16-2858,51 cm-1 (C-H alifatic), 1730,15 cm-1 (C=O), 1583, 56 cm-1 (C=C alifatic),  827,46 cm-1 C-H alifatic. Berdasarkan hasil uji fitokimia, spektrum UV-Vis dan IR, maka isolat F2.6 diindikasi merupakan senyawa fenolik.  Kata kunci : fenolik, isolat, Mussaenda erythrophylla
TRANSESTERIFIKASI LANGSUNG MIKROALGA (Chlorella, Sp.) DENGAN RADIASI GELOMBANG MIKRO Thamrin Usman, Andi Hairil Alimuddin, Ade Faisal,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 4, No 2 (2015): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.064 KB)

Abstract

Transesterifikasi langsung terhadap mikroalga (Chlorella, Sp.) telah dilakukan tanpa melakukan proses ekstraksi asam lemak dan menggunakan abu tandan kosong kelapa sawit (TKS) sebagai katalis yang direaksikan dalam microwave rumah tangga 400 watt. Penggunaan microwave berpengaruh terhadap laju reaksi transesterifikasi dan waktu reaksi yang lebih singkat. Pada penelitian ini telah dipelajari pengaruh besarnya ratio konsentrasi antara minyak mikroalga dan alkohol serta pengaruh waktu reaksi terhadap produk metil ester yang dihasilkan. Randemen hasil terbaik 95,03 % pada perbandingan minyak mikroalga : metanol 1 : 12 selama 10 menit. Karakteristik produk meliputi viskositas 10,281 cSt, dengan kerapatan 0,9077 g ml-1, serta indek bias 1,46. Hasil GC-MS menunjukan komposisi metil ester terdiri dari metil oleat (64,68%), metil palmitat (19,63%), dan metil linoleat (7,81%). Kata Kunci: transesterifikasi, metil ester, mikroalga, katalis
BIOAKTIVITAS MINYAK ATSIRI SERAI DAPUR (Cymbopogon citratus (DC.) Stapf) TERHADAP RAYAP (Coptotermes curvignathus sp) Afghani Jayuska, Lia Destiarti, Sufyan,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 7, No 3 (2018): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (639.746 KB)

Abstract

Cymbopogon citratus (DC.) Stapf merupakan tanaman dari famili Poaceae yang telah lama dikenal sebagai penghasil minyak atsiri. Pemanfaatan minyak atsiri serai dapur telah banyak diteliti sebagai pestisida nabati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bioaktivitas minyak atsiri dari serai dapur terhadap rayap dan menentukan konsentrasi optimum dari minyak atsiri serai dapur terhadap rayap. Minyak atsiri serai dapur diperoleh menggunakan distilasi uap air dengan waktu distilasi 4 jam. Minyak atsiri yang dihasilkan berwarna kekuning-kuningan dengan rendemen 0,12%. Hasil identifikasi GC-MS menunjukkan bahwa minyak atsiri serai dapur mengandung 33 puncak senyawa dengan 3 puncak senyawa mayor yaitu 1-β-pinen (12,78%), Z-sitral (28,24%) dan E-sitral (35,43%). Hasil pengujian aktivitas minyak atsiri serai dapur terhadap rayap dengan konsentrasi 0% (Kontrol negatif), 5%, 10%, 15%, 20%, 25% (v/v) minyak atsiri dan 0,25% (v/v) reagen fibronil  membuktikan bahwa semakin tinggi konsentrasi minyak atsiri yang diberikan maka mortalitas rayap semakin besar seiring dengan penurunan persentase berat kertas umpan. Data dianalisis menggunakan uji one way anova dengan tingkat kepercayaan 95% dan uji lanjut menggunakan uji LSD (Least Significance Difference). Hasil pengujian membuktikan bahwa konsentrasi 25% minyak atsiri serai dapur tidak memiliki perbedaan yang signifikan terhadap kontrol positif sehingga konsentrasi 25% minyak atsiri serai dapur adalah konsentrasi optimum dalam pengendalian rayap.  Kata Kunci : Cymbopogon citratus (DC.)Stapf, serai dapur, minyak atsiri, mortalitas rayap

Page 8 of 33 | Total Record : 329