cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Kimia Khatulistiwa
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 329 Documents
PENGARUH PENAMBAHAN ASAM ASKORBAT PADA EDIBLE COATING PEKTIN TERHADAP KUALITAS KERUPUK BASAH SELAMA PENYIMPANAN Intan Syahbanu, Nurlina, Ningsih Sepniar Lumban Toruan,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 8, No 2 (2019): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (446.243 KB)

Abstract

Kerupuk basah merupakan makanan khas dari Kapuas Hulu berbahan dasar ikan air tawar. Olahan ini memiliki rasa yang enak, namun kualitasnya mudah berubah selama penyimpanan. Salah satu solusi mempertahankan kualitas kerupuk basah yaitu menggunakan edible coating dari pektin. Penelitian ini bertujuan menjelaskan pengaruh variasi penambahan asam askorbat dalam edible coating pektin kerupuk basah selama penyimpanan terhadap nilai ALT dan pH kerupuk basah. Kerupuk basah disimpan pada temperatur ruang selama 1, 2 dan 3 hari. Kerupuk basah tanpa perlakuan (sampel A) dan kerupuk basah yang dicelupkan ke dalam larutan pektin yang dicampur asam askorbat 0 g (B), 1 g (C), 3 g (D) dan 5 g (E). Uji ALT dan pH dilakukan pada kerupuk basah yang disimpan pada hari ke-1, ke-2 dan ke-3. Kadar air, kadar abu dan kadar protein kerupuk basah berturut-turut adalah 59,94%; 1,39%; dan 5,23%. Hasil uji pH menunjukkan semakin banyak asam askorbat ditambahkan, semakin asam kerupuk basah dan hal ini mampu menurunkan nilai ALT kerupuk basah. Nilai ALT sampel A, B dan C yang diuji pada hari ke-1 hingga hari ke-3 tidak memenuhi SNI, sedangkan ALT D pada hari ke-1 dan ke-2, juga sampel E yang diuji pada hari ke-1 sampai hari ke-3 menunjukkan ALT memenuhi SNI.  Kata kunci: asam askorbat, edible coating, kerupuk basah, pektin
STABILITAS EKSTRAK PIGMEN DARI BUAH LAKUM (Cayratia trifolia (L.) Domin) DAN APLIKASINYA SEBAGAI PEWARNA PANGAN Nora Idiawati, Hilaria Defena Panarigas,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 4, No 3 (2015): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.426 KB)

Abstract

Pigmen dari buah lakum berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai pewarna alami pada produk pangan. Ekstraksi pigmen buah lakum telah dilakukan menggunakan pelarut air selama 2 jam pada suhu 70oC. Uji stabilitas warna dilakukan terhadap penambahan gula sukrosa 0, 10, 20, 30, 40 dan 50%, penambahan garam NaCl 0, 2, 4, 6, 8 dan 10%, lama penyimpanan selama 18 hari pada suhu ruang dan pada suhu refrigerator serta pemanasan pada suhu air mendidih selama 0, 30, 60, 90 dan 120 menit. Analisis stabilitas warna dilakukan dengan mengukur perubahan absorbansi larutan pigmen menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 531 nm. Kondisi dengan stabilitas terbaik diperoleh dari penambahan gula 10%, penambahan garam 4%, penyimpanan pada suhu 4oC dan lama pemanasan 30 menit, masing-masing dengan presentase perubahan absorbansi sebesar 0,10%, 2,88%, 5,58% dan 17,05%. Ekstrak pigmen kemudian diaplikasikan pada produk minuman dingin dan agar-agar. Berdasarkan uji organoleptik, diketahui bahwa penambahan ekstrak pigmen yang paling disukai untuk minuman dingin dan agar-agar adalah 7,5% V/V masing-masing dengan nilai 3,40 dan 3,20. Karakteristik dari produk yang dihasilkan adalah berbau sedikit harum khas buah lakum, berasa sedikit asam dan berwarna merah. Kata kunci: buah lakum, pigmen, stabilitas, organoleptik
PEMBUATAN BIOETANOL MENGUNAKAN Zymomonas mobilis DARI LIMBAH TONGKOL JAGUNG Nora Idiawati, Rudiyansyah, Albert,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 4, No 2 (2015): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.292 KB)

Abstract

Bioetanol adalah cairan yang dihasilkan dari proses fermentasi gula dari sumber karbohidrat menggunakan bantuan mikroorganisme. Sampel tongkol jagung didelignifikasi terlebih dahulu menggunakan NaOH 10% selama 28jam, yang kemudian dihidrolisis menggunakan HClO4 30%. Kemudian sampel di fermentasi dengan mikroorganisme Z. mobilis  menggunakan variasi pH 4, 5, dan 6 kemudian dengan waktu 4 hari, 5 hari, dan 6 hari. Kondisi optimum hasil fermentasi adalah dengan pH 5 dan pada hari ke-5. Pada kondisi optimum tersebut diperoleh randemen etanol sebesar 20% dan dengan kadar 100% yang diukur menggunakan alkoholmeter dan kromatografi gas-spektroskopi massa.   Kata Kunci : Tongkol Jagung, Bioetanol, Fermentasi, Z. mobilis
KARAKTERISASI SENYAWA SITOTOKSIK DARI FRAKSI ETIL ASETAT DAUN KRATOM (MITRAGYNA SPECIOSA KORTH.) DAN AKTIVITASNYA TERHADAP SEL KANKER PAYUDARA T47D Harlia, Ari Widiyantoro, Darul Ikhwan,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 7, No 2 (2018): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.441 KB)

Abstract

Senyawa sitotoksik sebanyak 3,1 mg berwarna hijau kecoklatan dan titik leleh 130-135 oC telah diisolasi dari fraksi etil asetat daun kratom (Mitragyna speciosa Korth.). Analisis sitotosik terhadap sel kanker payudara T47D menunjukan senyawa tersebut tergolong dalam sitotoksik moderat dengan nilai IC50 161,67 µg/mL. Karakterisasi senyawa sitotoksik menggunakan spektrofotometri Uv-Vis memberikan serapan maksimum pada panjang gelombang 284, 308, dan 318 nm yang menunjukan adanya transisi elektronik ???*, n??*, dan n??*. Data Uv-Vis menunjukan adanya kromofor C=O dan C=C. Analisis IR menunjukan serapan ?OH (3226-3029 cm-1), C=C aromatik (1557-1474 cm-1), C=O (1738 cm-1), C-O (1233 dan 1043 cm-1). Analisis 1H-NMR (CDCl3, 500 MHz) menunjukan ?H 3,30-3,80 ppm (glukosa), ?H 4,91 ppm (1H, d, J= 10,5 Hz, H-1??), ?H 6,88 ppm (1H, d, J=8,0 Hz, H-5?), ?H (1H, d, J=9,0 Hz, H-6?) dan ?H 7,68 ppm (1H, br). Berdasarkan hasil analisis Uv-Vis, IR, 1H-NMR serta uji metabolit sekunder diprediksi senyawa sitotoksik merupakan kuersetin-3-O-?-glukopiranosida. Kata Kunci : kratom, kanker payudara, sitotoksik, sel T47D
AKTIVITAS ANTIJAMUR EKSTRAK DAUN SAGA POHON (Adenanthera Pavonina L.) TERHADAP JAMUR Candida albicans M. Agus Wibowo, Nora Idiawati, Ferny Indrayati,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 5, No 2 (2016): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.571 KB)

Abstract

Masyarakat Indonesia khususnya Kalimantan Barat telah sejak dulu mengenal berbagai tanaman berkhasiat yang digunakan sebagai obat tradisional untuk penanggulangan terhadap masalah kesehatan. Salah satu jenis tanaman obat yang digunakan adalah tanaman saga rambat (Abrus precatorius L.). Saga rambat digunakan secara tradisonal sebagai obat batuk, epilepsi dan sariawan. Jenis tanaman ini termasuk kedalam famili fabaceae. Tanaman lain yang memiliki kesamaan famili dengan saga rambat yaitu tanaman saga pohon (Adenanthera pavonina L.). Tanaman saga pohon memiliki potensi sebagai antijamur yang menginfeksi sariawan. Oleh karena itu dilakukannya penelitian ini, untuk menentukan golongan senyawa metabolit sekunder yang terdapat dalam daun saga pohon serta mengetahui aktivitas antijamur daun saga pohon terhadap jamur candida albicans. Penelitian ini dilakukan tiga tahapan yaitu ekstraksi dan fraksinasi, penentuan aktivitas antijamur terhadap candida albicans, serta KHM dan KBM. Ekstrak kasar mengandung senyawa metabolit sekunder berupa steroid, alkaloid, saponin dan polifenol. Fraksi metanol mengandung steroid, alkaloid dan polifenol. Sedangkan fraksi etil asetat dan n-heksana mengandung steroid dan polifenol.  Fraksi yang memiliki aktivitas antijamur paling baik yaitu fraksi metanol dengan zona bening sebesar 16,725 mm pada kosentrasi 2000 ppm. KHM fraksi metanol yakni pada kosentrasi 125 ppm, dan memiliki sifat fungistatik, sehingga dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun saga pohon dapat digunakan sebagai pengobatan infeksi jamur. Kata Kunci: Antijamur, Candida albicans, Adenanthera pavonina L., KBM, KHM
KARAKTERISASI SENYAWA FENOLIK DARI FRAKSI ETIL ASETAT KAYU BATANG TUMBUHAN CERIA (Baccaurea hookeri) Andi Hairil Alimuddin, Rudiyansyah, Adventus Reno Dwiyantoro,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 7, No 4 (2018): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.997 KB)

Abstract

Tumbuhan ceria (Baccaurea hookeri) merupakan tumbuhan genus Baccaurea dengan famili Euphorbiaceae (sekarang Phyllanthaceae). Tumbuhan ceria (B. hookeri) merupakan salah satu tanaman yang sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai tanaman obat, karena memberikan manfaat berbagai bioaktivitas dan efek farmakologi. Kayu batang tumbuhan ceria (B. hookeri) mengandung senyawa terpenoid, flavonoid, saponin, polifenol, dan tanin. Penelitian ini bertujuan mengisolasi dan mengkarakterisasi senyawa fenolik pada kayu batang tumbuhan ceria (B. hookeri). Isolasi fraksi etil asetat dilakukan dengan menggunakan maserasi, fraksinasi, kromatografi kolom vakum cair, kromatografi kolom tekan, kromatografi preparatif, dan dikarakterisasi secara kualitatif (skrining fitokimia). Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi F2 merupakan isolat murni berbentuk kristal jarum (tidak berwarna) dengan massa 0,8 mg. Fraksi F2 merupakan senyawa fenolik setelah diuji fitokimia dengan larutan FeCl3 5% yang ditandai timbulnya warna menjadi kuning kehijauan. Kata Kunci : Baccaurea hookeri, etil asetat, fenolik, fitokimia, Phyllanthaceae
ENKAPSULASI DAN UJI STABILITAS EKSTRAK METANOL DAUN PEPAYA (Carica papaya. Linn) Muhamad Agus Wibowo, Lia Destiarti, Priskila Wanda,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 6, No 1 (2017): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.901 KB)

Abstract

Daun pepaya merupakan tanaman yang kaya akan manfaatnya dalam pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengenkapsulasi ekstrak daun pepaya serta menguji fotostabilitas dan termostabilitas enkapsulat yang diperoleh. Hasil enkapsulat dilakukan melalui metode freeze drying untuk menentukan efisiensi pigmen yang terkapsul pada variasi konsentrasi maltodekstrin dan uji stabilitas enkapsulat. Hasil penelitian menunjukan efisiensi pigmen daun pepaya dalam enkapsulat dengan konsentrasi maltodekstrin 10%, 20%, dan 30% masing-masing adalah 26,84%, 17,66% dan 15,03%. Konstanta degradasi pigmen enkapsulasi pada uji fotostabilitas oleh sumber radiasi polikromatis dan UV-C masing-masing 0,0037 dan 0,0058 dengan waktu paruh sebesar 187,29 dan 119,48 jam. Pigmen dalam enkapsulat 0,0033 dan 0,0034 dengan waktu paruh 210 dan 203,83 jam. Konstanta degradasi pigmen enkapsulasi pada uji termostabilitas dengan suhu 30oC, 40oC, dan 50oC yaitu 0,0025, 0,0031, dan 0,0038 dengan waktu paruh masing-masing 277,2, 223,55, dan 216,56 jam. Pigmen dalam ekapsulat 0,0015, 0,0029, dan 0,0032 dengan waktu paruh sebesar 462, 238,96 dan 216,56 jam. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa efisiensi tertinggi pada daun pepaya ialah pada konsentrasi maltodekstrin 10% dengan nilai sebesar 26,84%. Pada uji fotostabilitas dan termostabilitas, enkapsulat pigmen klorofil lebih terlindungi daripada ekstrak pigmen.   Kata kunci : daun pepaya, Maltodekstrin, freeze drying, enkapsulasi
FOTOSTABILITAS DAN TERMOSTABILITAS PIGMEN BUAH TOMAT (Solanum lycopersicum L.) HASIL ENKAPSULASI MENGGUNAKAN MALTODEKSTRIN Adhitiyawarman, Lia Destiarti, Sirojuddin
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 4, No 2 (2015): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.191 KB)

Abstract

Pigmen buah tomat mudah mengalami oksidasi karena udara bebas dan dipercepat oleh paparan cahaya dan suhu tinggi, baik selama proses pengolahan maupun penyimpanan. Enkapsulasi dengan penyalut maltodekstrin dilakukan untuk meningkatkan stabilitas pigmen yang diketahui dari parameter nilai waktu paruh (t1/2). Pada proses enkapsulasi kecepatan pengadukan optimum ditentukan melalui parameter nilai efisiensi. Pigmen diperoleh melalui ekstraksi buah tomat menggunakan pelarut n-heksana:aseton:etanol = 2:1:1 (v/v). Enkapsulasi pigmen dilakukan dengan konsentrasi maltodekstrin 45% b/v dan variasi kecepatan pengadukan 600, 700, dan 800 rpm. Penentuan kadar pigmen dilakukan dengan menggunakan spektrofotometer UV-Visibel pada panjang gelombang 457 nm. Efisiensi optimum enkapsulasi diperoleh dengan menggunakan kecepatan pengadukan 700 rpm yaitu 89,64%. Enkapsulat yang diperoleh diuji fotostabilitasnya terhadap cahaya polikromatis (236-355 lux) dan UV-C (87-111 lux) serta termostabilitasnya pada suhu 50o, 60o, dan 70oC selama 4 hari. Berdasarkan data penurunan absorbansi pigmen diperoleh nilai t1/2 oleh penyinaran cahaya polikromatis yaitu 138,6 jam dan UV-C yaitu 115,5 jam. Nilai t1/2 untuk suhu 50o, 60o, dan 70oC secara berturut-turut adalah 138,6; 60,0, dan 30,1 jam. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa enkapsulasi pigmen buah tomat dengan penyalut maltodekstrin melalui metode koaservasi mencapai optimum diperoleh pada kecepatan pengadukan 700 rpm. Kestabilan pigmen selama proses pengolahan dan penyimpanan dihasilkan pada paparan cahaya polikromatis dan suhu 50oC.   Kata Kunci : Pigmen Buah Tomat, Enkapsulasi, Maltodekstrin, Stabilitas, Koaservasi.
PEMBUATAN MEMBRAN KOMPOSIT Si/PVA/PEG BERBAHAN DASAR SILIKA BATU PADAS SINGKUP UNTUK MENURUNKAN KONSENTRASI ION FOSFAT DALAM LARUTAN Anis Shofiyani, Nurlina, Edi Sukirno,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 6, No 4 (2017): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (662.054 KB)

Abstract

Batu padas merupakan mineral alam yang banyak ditemukan di Kalimantan Barat, terutama di Kecamatan Singkup, Kabupaten Ketapang. Batu padas mengandung silika sebagai kandungan kimia utamanya. Silika dapat diekstrak dan dimanfaatkan lebih lanjut sebagai bahan pada pembuatan membran silika. Pada penelitian ini silika dikompositkan dengan PVA dan PEG menjadi membran Si/PVA/PEG. Penelitian ini bertujuan menjelaskan pengaruh massa silika terhadap koefisien rejeksi, fluks, derajat swelling, struktur serta morfologi membran Si/PVA/PEG yang dibuat. Membran Si/PVA/PEG diaplikasikan untuk menurunkan konsentrasi fosfat dalam larutan. Membran Si/PVA/PEG dibuat dengan memvariasikan massa silika yaitu 0 gram, 1 g, 2 g, 3 g, dan 5 g. Karakterisasi membran dilakukan dengan FT-IR serta SEM. Spektrum FT-IR menunjukkan puncak serapan karakteristik gugus Si-OH, dan Si-O-Si dari silka. Membran komposit dengan komposisi 5 gram silika memiliki struktur morfologi pori yang lebih rapat dan teratur. Karakteristik tersebut berimplikasi pada kinerja membran, yang dapat dibuktikan bahwa membran komposit dengan massa silika 5 g paling baik dalam merejeksi ion fosfat hingga 33,73 %, derajat swelling paling rendah yaitu 60,45 % dan fluksnya terhadap air paling rendah yaitu 5,754 L/m2. Kata Kunci : batu padas, fosfat, membran, silika
UJI FOTOSTABILITAS PIGMEN BIXIN TERIMOBILISASI BENTONIT TERAKTIVASI HCl Andi Hairil Alimuddin, Titin Anita Zaharah, Reza Febrianto,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 4, No 4 (2015): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (500.671 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peranan bentonit teraktivasi sebagai material pengemban untuk meningkatkan fotostabilitas pigmen bixin melalui proses imobilisasi. Aktivasi bentonit yang dilakukan dengan metode refluks menggunakan asam klorida mampu meningkatkan rasio Si/Al mencapai 8,691 dibandingkan dengan bentonit yang belum diaktivasi yaitu 4,081 yang dianalisis dengan fluoresensi sinar-X (XRF). Proses imobilisasi pigmen bixin pada bentonit teraktivasi dilakukan dengan variasi penambahan massa bentonit dan dianalisis menggunakan spektrum inframerah (IR). Interaksi bixin dan bentonit ditunjukan dengan adanya serapan gugus karbonil (C=O) dan hidroksil (OH) karboksilat dengan bilangan gelombang secara berturut-turut 1700 dan 3400-3600 cm-1pada spektrum inframerah (IR produk imobilisasi. Uji fotostabilitas dilakukan dengan penyinaran produk imobilisasi dengan sinar UV selama 10 jam secara kontinu. Hasil memperlihatkan bahwa bentonit-bixin memiliki stabilitas lebih baik dibandingkan bixin yang ditunjukan melalui nilai konstanta laju penurunan konsentrasi. Konstanta degradasi bentonit-bixin lebih kecil yaitu 0,026 jam-1 dibandingkan dengan bixin yaitu sebesar 0,040 jam-1. Dari penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa imobilisasi pigmen bixin pada bentonit teraktivasi asam klorida mampu meningkatkan fotostabilitas pigmen bixin. Kata kunci : bentonit teraktivasi, bixin, fotostabilitas, imobilisasi

Page 10 of 33 | Total Record : 329