cover
Contact Name
Hasanuddin
Contact Email
prismafisika@physics.untan.ac.id
Phone
+65895372682757
Journal Mail Official
prismafisika@physics.untan.ac.id
Editorial Address
Kantor Jurusan Fisika, Komplek Fakultas MIPA, Universitas Tanjungpura Jl. Proff. Dr. Hadari Nawawi
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
PRISMA FISIKA
ISSN : 23378204     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Jurnal ini berisi publikasi ilmiah hasil penelitian di bidang fisika baik yang bersifat teoritis maupun terapan.
Articles 409 Documents
Analysis of the Density Variation on Thermal Conductivity Wood Plastic Composite Made from Lamtoro Wood (Leucaena leucocephala) And Polypropylene Waste Hazlina Hazlina; Azrul Azwar; Asifa Asri
PRISMA FISIKA Vol. 10 No. 1 (2022)
Publisher : FMIPA, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/pf.v10i1.62867

Abstract

The thermal conductivity of Wood Plastic Composite (WPC) made with lamtoro wood and polypropylene (PP) was studied by varying its density. The PP was obtained from 240 ml mineral plastic glasses, and the lamtoro wood particles were shieved in 6 mesh sizes. In this study, we considered the composition ratio between PP and wood particles to be 70:30, and the thermal conductivity was measured using a thermal conductivity apparatus. Based on the data analysis, we found that the density of WPC made with PP and lamtoro wood influenced its thermal conductivity. The results showed that the thermal conductivity of sample A is 0.2 W/m ºC, sample B is 0.4 W/m ºC, and sample C is 0.5 W/m ºC, for the densities of 0.4 g/cm3, 0.5 g/cm3, 0.6 g/cm3, respectively. In conclusion, as the density increases, the thermal conductivity of WPC also increases. Thus, based on it thermal conductivity, the WPC made from PP and lamtoro wood is classified as an isolator.
Effectiveness of Mussel Shells (Polymesoda erosa) as an Adsorbent to Improve Water Quality Sari Larosa
PRISMA FISIKA Vol. 10 No. 1 (2022)
Publisher : FMIPA, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/pf.v10i1.62868

Abstract

From a quality point of view, peat water cannot be used for clean water resources, therefore it is necessary to improve the quality of peat water. An alternative effort to treat peat water can be done by adsorption process using seashell shell adsorbents. This study aims to analyze the effectiveness of mussel shells (Polymesoda erosa) as an adsorbent to improve the quality of peat water. The size of the adsorbent particles is varied, namely 8 mesh, 50 mesh, and 200 mesh. We used 30 grams of adsorbent for 300 ml water sample. The results were that the adsorbent for clam shells was able to reduce the TDS level from 402 mg/l to 112 mg/l, increase the pH level from 3.43 to 7.6 from an acidic state to an alkaline state. In this case, peat water is then suitable for use. Based on the test results, within 12 hours of contact time there was an increase in levels for all parameters along with the increase in the size of the adsorbent particles. Whereas in the contact time of 7 days, the test results experienced a decrease in levels for all parameters along with the increase in the size of the adsorbent particles which is a good optimum contact time in the adsorption process. However, the adsorbent of seashell shell has not been used effectively to adsorb turbidity and color parameters.1
Prediksi Luas Area Terbakar Menggunakan Fire Weather Index dan Frekuensi Titik Panas di Jambi Presli Panusunan Simanjuntak
PRISMA FISIKA Vol. 11 No. 2 (2023)
Publisher : FMIPA, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/pf.v11i2.64550

Abstract

Forest fires occur every year in Indonesia, one of the regions with the highest forest fires is Jambi Province. Significant losses and negative impacts due to forest fires cause the need for an effort to prevent forest fires early on with the detection of forest and land fires. One method that can provide information about the level of forest fire based on daily weather data input is the Fire Weather Index (Fire Weather Index / FWI) system, which was first developed by Canada. This study aims to estimate burn area in the Jambi region by using temperature, rainfall, humidity, and wind speed data. Other supporting data are hotspot frequency data from NASA-FIRMS satellites and data fraction of burn area from GFED satellites on a daily scale of the period 2006-2016. In this study an analysis of the relationship between these data variables and burn area estimation was carried out using multiple linear regression methods then validated to see the level of suitability of the output model forecasts. The results showed that the predictor variables that had the highest relationship were hotspots frequency, Buildup Index (BUI), and FWI index with correlation values of 0.888, 0.739 and 0.753, respectively. The estimation model of the resulting burnt area is: Burned Area = -966.6146918 + (7.519631195 × BUI) + (147.4865469 × FWI) + (14.5373858 × Hotspots) + 116, with an RMSE value of 635.524 and MAE of 491.38
Studi Kebergantungan Indeks Bias Air Terhadap Suhu dan Panjang Gelombang Berdasarkan Model Empiris Sugito, Candra
PRISMA FISIKA Vol. 12 No. 1 (2024)
Publisher : FMIPA, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/pf.v12i1.65431

Abstract

Telah dilakukan studi kebergantungan indeks bias air terhadap suhu dan panjang gelombang berdasarkan model empiris. Penelitian ini menggunakan perangkat lunak MATLAB. Data indeks bias bergantung suhu dan panjang gelombang yang digunakan berupa data sekunder yang didapatkan dari penelitian Bashkatov dan Genina. Data ini diolah menggunakan persamaan Cauchy orde 2 dan Sellmeier orde 2 untuk mendapatkan koefisien Cauchy orde 2 dan Sellmeier orde 2. Koefisien tersebut digunakan untuk mendapatkan fungsi Cauchy dan Sellmeier. Fungsi tersebut kemudian digunakan untuk mengetahui nilai indeks bias pada suhu tertentu menggunakan persamaan Cauchy orde 2 dan Sellmeier orde 2. Hasil yang didapatkan pada penelitian ini adalah model Cauchy dan Sellmeier menggunakan fungsi eksponensial. Koefisien Cauchy orde 2 dapat digunakan untuk mengetahui nilai indeks bias pada rentang panjang gelombang mulai dari 400 nm hingga 750 nm. Sedangkan koefisien Sellmeier orde 2 dapat digunakan untuk mengetahui nilai indeks bias pada rentang panjang gelombang mulai dari 200 nm hingga 900 nm. Dari penelitian ini membuktikan bahwa semakin tinggi suhu, maka koefisien Cauchy ataupun koefisien Sellmeier akan semakin rendah. Begitu pula dengan semakin tinggi suhu, maka semakin kecil indeks bias air.
Pengaruh Luas Lubang Pada Koefisien Bocoran Pipa Silinder Terbuka Marsalihawati, Anis
PRISMA FISIKA Vol. 12 No. 2 (2024)
Publisher : FMIPA, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/pf.v12i2.65794

Abstract

Koefisien bocoran merupakan perbandingan antara debit aliran eksperimen dan teoritis. Hukum Bernoulli merupakan hukum tentang energi kinetik dan energi potensial yang diterapkan pada fluida bergerak. Pada penelitian ini, pengaruh luas lubang pada koefisien bocoran pipa silinder terbuka dilakukan dengan menggunakan sensor ultrasonik untuk mengukur tinggi permukaan air. Dengan menggunakan pencocokan kurva dapat diperoleh nilai A2eksperimen dan koefisien bocoran (Cd). Penelitian ini menunjukkan bahwa waktu pengurasan air dan nilai koefisien bocoran berbanding terbalik dengan luas lubang. Hasil ini diharapkan bisa memberi informasi terkait pengaruh luas lubang dan dapat diterapkan dalam industri-industri yang menggunakan pipa-pipa pada produksinya. Kata Kunci : Koefisien Bocoran, Persamaan Bernoulli, Silinder Terbuka
Pengaruh Transpor Uap Air Terhadap Kejadian Hujan Ekstrem di Supadio Kalimantan Barat Eva, Theresia; Muliadi, Muliadi; Adriat, Riza
PRISMA FISIKA Vol. 12 No. 1 (2024)
Publisher : FMIPA, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/pf.v12i1.67679

Abstract

Cuaca ekstrem merupakan keadaan atau fenomena fisik atmosfer pada waktu tertentu, berskala jangka pendek dan bersifat ekstrem. Hujan ekstrem terjadi karena suhu permukaan air laut meningkat sehingga mempercepat terjadinya penguapan yang membentuk awan hujan. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui pengaruh transpor uap air terhadap kejadian hujan ekstrem di Supadio yang didukung dengan keterkaitan berdasarkan nilai korelasi antara uap air dan curah hujan bulanan pada saat hujan ekstrem di Kalimantan Barat. Data yang digunakan adalah data online Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) dan European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF) ERA-5 yang divisualisasikan dengan kejadian hujan ekstrem, pola angin, transpor uap air, dan analisis korelasi uap air pada saat curah hujan ekstrem di Kalimantan Barat melalui perangkat lunak The Grid Analysis and Display System (GrADS). Hasil dari analisis transpor uap air menunjukkan pengaruh transpor uap air pada saat kejadian hujan ekstrem disebabkan adanya pola pergerakan angin yang membawa uap air cukup basah sebesar 400-800 kg/(ms). Hasil analisis korelasi uap air dan curah hujan bulanan pada saat hujan ekstrem dominan berkorelasi positif. Uap air sangat berpengaruh terhadap curah hujan di Kalimantan Barat yang cenderung memiliki nilai koefisien korelasi sebesar 0.2-0.8 dengan tingkat hubungan tinggi. Kata Kunci : Kejadian hujan ekstrem, Pola angin, Transpor uap air, Korelasi uap air dan curah hujan
Studi Teoretis Respon Optis Dimer Simetris Yuliana Nurmala Dewi; Bintoro Siswo Nugroho; Zulfian Zulfian
PRISMA FISIKA Vol. 11 No. 2 (2023)
Publisher : FMIPA, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/pf.v11i2.65005

Abstract

Telah dilakukan studi secara teoretis untuk mempelajari respons optis sistem yang terdiri dari dua SQD yang dieksitasi dengan cahaya monokromatik. SQD dimodelkan sebagai three-level system dengan menggunakan formalisme density matrix 3 x 3. Respons optis tersebut didapatkan dengan menyelesaikan persamaan gerak elemen density matrix. Elemen density matrix diselesaikan secara numerik dengan metode Runge-Kutta (4,5). Elemen density matrix menghasilkan nilai populasi dan nilai koheren yang digunakan untuk menghitung respons optis sistem quantum dimer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas medan pengeksitasi memberikan pengaruh pada respons optis SQD. Respons optis tersebut berupa dinamika waktu populasi dan spektrum serapan. Pada dinamika waktu populasi, sistem menunjukkan bahwa meningkatnya intensitas medan pengeksitasi menyebabkan osilasi populasi juga meningkat. Pada spektrum serapan, semakin besar intensitas yang digunakan menyebabkan semakin lebar interval daya serapan dan semakin tinggi puncak spektrum serapan yang dihasilkan.Kata Kunci : SQD, Dimer, Spektrum serapan, osilasi Rabi
Pemodelan Pola Arus Pada Musim Barat Di Perairan Selat Sunda Menggunakan Pendekatan Komputasi Dinamika Fluida (Studi Kasus : 11 "“ 17 Januari 2023) Azrrue, Tsa Tsa Aisyha Yuditha; Putra, Yoga Satria; Ardianto, Randy
PRISMA FISIKA Vol. 12 No. 2 (2024)
Publisher : FMIPA, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/pf.v12i2.79332

Abstract

Selat Sunda merupakan salah satu perairan yang tergolong dalam jalur pelayaran laut internasional terpadat di Indonesia dan jalur dari Indonesian Throughflow (ITF). Perairan ini terletak di antara Pulau Jawa dan Samudera Hindia yang memiliki peran penting dalam sirkulasi massa air di Indonesia dengan kondisi fisik yang dinamis sehingga berpengaruh terhadap pembentukan pola arus permukaan. Pergerakan arus di Indonesia secara umum dipengaruhi oleh angin musim dan pasang surut. Tujuan dari penelitian ini yaitu memberikan informasi mengenai pola arus permukaan laut pada musim barat yang dapat digunakan sebagai acuan berbagai aktivitas maritim yang terjadi pada jalur pelayaran Selat Sunda. Metode pada penelitian adalah pemodelan menggunakan pendekatan komputasi dinamika fluida yaitu software DELFT3D untuk menghasilkan gambaran pola arus permukaan laut. Data yang digunakan yaitu data pasang surut (BMKG), batimetri (GEBCO), angin (ECMWF), komponen pasut (TPXO 08). Simulasi dilakukan selama tujuh hari mewakili musim barat (11 "“ 17 Januari 2023). Validasi dilakukan dengan berdasarkan data HF Radar BMKG dan data pasang surut AWS BMKG. Hasil yang didapatkan yaitu pada skala harian arus dominan bergerak dari Laut Jawa menuju Samudera Hindia. Pada visualisasi akumulasi selama tujuh hari menggunakan wind rose dan current rose arus yang bergerak tidak mengikuti pola pergerakan angin. Rata-rata kecepatan arus dominan pada periode musim barat yaitu berkisar 0,5 hingga 0,8 m/s dengan kecepatan maksimum hingga 1 m/s yang berada pada bagian tengah selat.
Identifikasi Penyakit COVID-19 dan Tuberkulosis Menggunakan Metode Convolutional Neural Network Arsitektur GoogLeNet Berdasarkan Citra Rontgen Thorax Abdillah, Retry Asykurani; Hasanuddin, Hasanuddin; Wahyuni, Dwiria
PRISMA FISIKA Vol. 11 No. 3 (2023)
Publisher : FMIPA, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/pf.v11i3.65228

Abstract

Penelitian identifikasi penyakit COVID-19 dan tuberkulosis berdasarkan rontgen thorax dengan metode convolutional neural network (CNN) arsitektur GoogLeNet telah dilakukan untuk menganalisis dan meningkatkan nilai akurasi dari penelitian CNN GoogLeNet dalam mengidentifikasi penyakit COVID-19 dan tuberkulosis. Data penelitian diperoleh dari situs Kaggle yang terdiri dari 700 citra COVID-19, 700 citra normal, dan 700 citra tuberkulosis. Metode CNN GoogLeNet dalam mengidentifikasi citra dimulai dari tahapan augmentasi, pelatihan, dan pengujian. Tahap augmentasi diawali dengan mengecilkan dan memotong citra hingga berukuran 224×224 piksel, membuat citra dirotasi secara acak 5⁰ dan citra dibalik posisinya secara horizontal serta citra akan digeser secara acak sebesar 0,08 berdasarkan kemiringan 0,2⁰. Tahapan pelatihan dan pengujian menggunakan hyperparameter yang terdiri atas batch size (16, 32, dan 64), epoch (10, 30, dan 50), cross entropy loss, optimizer (Adam), dan learning rate 0,0001. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CNN GoogLeNet mengidentifikasi penyakit berdasarkan derajat keabuan yang dimiliki oleh citra melalui proses feature learning dan classification. Derajat keabuan pada citra berkisar antara 0-255 sedangkan yang dimiliki penyakit COVID-19 dominan pada >200-255, penyakit tuberkulosis dominan pada >100-255, dan kondisi paru-paru normal dominan pada >0-100. Hasil penelitian berdasarkan proses klasifikasi pengujian menghasilkan akurasi 97% (batch size 16 dan epoch 10), 98% (batch size 16 dan epoch 30), 97% (batch size 16 dan epoch 50), 96% (batch size 32 dan epoch 10), 98% (batch size 32 dan epoch 30), 96% (batch size 32 dan epoch 50), 96% (batch size 64 dan epoch 10), 96% (batch size 64 dan epoch 30), dan 97% (batch size 64 dan epoch 50). Kata Kunci : Citra Rontgen, CNN, COVID-19, GoogLeNet, Tuberkulosis
The Effectiveness of Blood Clam Shell (Anadara granosa) as an Adsorbent to Improve Peat Water Quality Aqifa Arifah
PRISMA FISIKA Vol. 11 No. 1 (2023)
Publisher : FMIPA, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/pf.v11i1.62869

Abstract

Research has been carried out to determine the effectiveness of blood clam (Anadara granosa) shell adsorbents in improving the quality of peat water. Blood clam shells were mashed with variations in particle size of 8 mesh, 50 mesh and 150 mesh, then an adsorption process was carried out with a mass ratio of adsorbent and peat water of 1:10. The physical and chemical parameters tested in this study included turbidity, color, Total Dissolved Solid (TDS), and pH. Based on the test results with a contact time of 12 hours, peat water levels increased for all parameters along with increasing particle size. Meanwhile, within 7 days of contact time, the results of the peat water test experienced a decrease in levels for all parameters along with increasing particle size and was a good optimum contact time in the adsorption process. The results obtained show that for the parameters of turbidity, Total Dissolvesd Solid (TDS), and pH have met the standard set by the Minister of Health of the Republic of Indonesia No. 32 of 2017, only the color parameter does not meet the standard in improving the quality of peat water.