cover
Contact Name
Disnawati
Contact Email
disnawati@uho.ac.id
Phone
+6285299381110
Journal Mail Official
mediaakuatika@uho.ac.id
Editorial Address
Principal Contact Disnawati Universitas Halu Oleo HEA Mokodompit Kampus Baru UHO Phone: 085299381110 Email: mediaakuatika@uho.ac.id
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Media Akuatika: Jurnal Ilmiah Jurusan Budidaya Perairan
Published by Universitas Halu Oleo
ISSN : -     EISSN : 25034324     DOI : http://dx.doi.org/10.33772/jma.v7i1
Core Subject : Agriculture,
Media Akuatika : Jurnal Ilmiah Jurusan Budidaya Perairan fokus dalam lingkup budidaya perairan meliputi perikanan air tawar, air payau dan air laut yang mencakup beberapa kajian, antara lain: 1. Nutrisi dan pakan ikan 2. Manajemen kesehatan ikan 3. Identifikasi parasit dan penyakit ikan 4. Teknologi reproduksi ikan 5. Manajemen pembenihan ikan 6. Manajemen lingkungan budidaya perairan 7. Teknologi dan sistem budidaya perairan 8. Bioteknologi akuakultur
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 3 (2020): Juli" : 5 Documents clear
Studi Parameter Kimia Perairan Pada Kawasan Rencana Pengembangan Tambak Super-Intensif Udang Vaname (Litopenaeus vanamei) di Kabupaten Konawe Selatan Balubi, Abdul Muis; Purnama, Muhammad Fajar; Sirza, LM. Junaidin; Takwir, Amadhan; Disnawati, Disnawati; Erawan, Trial Fiar; Pratikino, A. Ginong
Jurnal Media Akuatika Vol 5, No 3 (2020): Juli
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1577.407 KB) | DOI: 10.33772/jma.v5i3.13749

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan selama 4 (empat) bulan, yaitu Oktober 2019 hingga Januari 2020, yang bertempat di perairan pantai dan laut kecamatan Laine dan kecamatan Kolono kabupaten Konawe Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi parameter kimia (salinitas, oksigen terlarut (DO) ammonia, nitrogen, phopat, dan bahan organik) pada kawasan rencana pengembangan tambak super-intesif udang vaname (Litopenaeus vanamei). Lokasi pengukuran dan pengambilan sampel secara garis besar dibagi menjadi 4 stasiun yang melintasi perairan 2 kecamatan (Lainea dan Kolono) dengan potensi dan potensial lahan tambak yang tersebar. Setiap stasiun terdiri dari 4 spot pengamatan yang berjumlah 16 spot penelitian. Stasiun I spot 1 dan 2 desa Lainea, spot 3 dan 4 desa Molinese. Stasiun II spot 1, 2, 3, dan 4 semuanya desa Polewali. Stasiun III spot 1, 2, dan 3 desa Molinese, dan spot 4 desa Polewali. Stasiun IV spot 1, 2, 3, dan 4 semuanya terletak di desa Puupi kecamatan Kolono. Pemilihan stasiun dan spot ini setelah dilakukan monitoring sekitar 3 (tiga) bulan merupakan kondisi yang baik untuk kegiatan industri tambak super intensif udang vaname. Kualitas hidrologi perairan laut dengan derajat keasaman 7,44-8,30, oksigen terlarut 4,40-12,7 mg/liter dan kisaran salinitas air laut 31,3-41,3 ppt, masih dalam keadaan layak bagi industri tambak superintensif udang vaname. Kesuburan perairan tambak selama penelitian berupa kosentrasi nitrat 0,0544-0,0881 mg/liter, phospat 0,0053-0,0093 mg/liter, amonia 0,0101-0,0239 mg/liter, dan bahan organik 16,620-27,625 mg/liter. Konsentrasi parameter kimia perairan pada lokasi penelitian pada dasarnya berada pada kisaran optimal dan layak bagi pengembangan industri tambak superintensif udang vaname.Kata Kunci : Studi Kelayakan, Parameter Kimia, Tambak Super-Intensif, Udang Vaname
Pengaruh Dosis Pupuk Kotoran Sapi yang Berbeda Terhadap Pertumbuhan Keong Bakau (Telescopium telescopium) yang Dipelihara pada Substrat Lumpur Asban Asban; Agus Kurnia; Ruslaini Ruslaini
Jurnal Media Akuatika Vol 5, No 3 (2020): Juli
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (488.957 KB) | DOI: 10.33772/jma.v5i3.15646

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis kotoran sapi yang berbeda terhadap pertumbuhan keong bakau (Telescopium telescopium) yang dipelihara pada substrat lumpur. Tiga dosis pupuk kotoran sapi ditambahkan kedalam subtrat lumpur sebanyak 500 g/m2, 1000 g/m2 ,1500 g/m2 dan kontrol.  Masing-masing 20 ekor keong bakau (rata-rata bobot awal rata-rata 7,63±0,19 g) dimasukkan kedalam 12 wadah baskom dan dipelihara selama 56 hari.  Variabel yang diamati adalah pertumbuhan mutlak, laju pertumbuhan spesifik, pertumbuhan panjang cangkang dan kelangsungan hidup keong bakau. Hasil penelitian menunjukan pemberian pupuk kotoran sapi dengan dosis yang berbeda memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata terhadap pertumbuhan mutlak, pertumbuhan panjang cangkan, laju pertumbuhan spesifik dan kelangsungan hidup keong bakau. Pemberian pupuk kotoran sapi dengan dosis 500 g/m2, 1000 g/m2 dan 1500 g/m2 memberikan pertumbuhan mutlak rata-rata masing-masing sebesar 0,30 g, 0,56 g dan 0,41 g, secara berturut-turut. Laju pertumbuhan spesifik berkisar 0,10-0,35% pada hari ke-14, 0,08-0,22% pada hari ke-28, 0,06-0,16% pada hari ke-42 dan 0,06-0,13% pada hari ke-56. Pertumbuhan mutlak panjang cangkang keong bakau pada tiga perlakuan dosis pupuk masing-masing sebesar 0,09 cm pada dosis 500 g/m2, 0,12 cm pada dosis 1000 g/m2 dan 0,05 cm pada dosis 1500 g/m2. Kelangsungan hidup keong berkisar antara 98,3-100%.  Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemberian pupuk kotoran sapi dapat meningkatkan pertumbuhan keong bakau.Kata kunci: pupuk, kotoran sapi, pertumbuhan keong bakau, Telescopium telescopium
Kandungan Nutrisi dan Aktivitas Antioksidan Daun Nipah (Nypa Fruticans Wurmb) Sebagai Bahan Pakan Ikan Mukti, Retno Cahya; Amin, Mohamad; Sari, Melia Intan
Jurnal Media Akuatika Vol 5, No 3 (2020): Juli
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jma.v5i3.13247

Abstract

Tanaman nipah (Nypa fruticans Wumb) dikelompokkan ke dalam tanaman hutan mangrove yang tumbuh di daerah pantai di muara sungai yang berair payau. Penggunaan daun nipah pada ikan baru sebagai antibakteri sedangkan kandungan nutrisi daun nipah dan aktivitas antioksidan daun nipah muda dan tua belum diketahui. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan nutrisi dan aktivitas antioksidan daun nipah muda dan tua sebagai bahan pakan ikan. Penelitian dilakukan dengan analisis proksimat dan uji aktivitas antioksidan menggunakan metode 1,1-difenil-2 pikrilhidrazil (DPPH). Hasil penelitian menunjukkan bahwa daun nipah mengandung kandungan nutrisi terutama karbohidrat yang tinggi dan antioksidan sangat kuat sehingga berpotensi menjadi bahan pakan ikan. Kandungan nutrisi daun nipah muda yang dihasilkan yaitu protein 10,64%, lemak 1,27%, bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) 41,07%, serat kasar 38,82%, abu 8,20%  dan nilai aktivitas antioksidan IC50 sebesar 29,04 µg/mL sedangkan kandungan nutrisi daun nipah tua yang dihasilkan yaitu protein 14,23%, lemak 2,33%, bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN)  49,99%, serat kasar 20,5*%, abu 12,88% dan nilai aktivitas antioksidan IC50 sebesar 43,59 µg/mL.Kata Kunci:  Antioksidan, Daun Nipah, Nutrisi, Pakan Ikan
Budidaya Abalon di Asia: Teknologi dan Manajemen Budidayanya Nur, Kurniati Umrah
Jurnal Media Akuatika Vol 5, No 3 (2020): Juli
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (845.713 KB) | DOI: 10.33772/jma.v5i3.13188

Abstract

Abalon merupakan salah satu produk makanan dari laut yang paling mahal. Abalon banyak dibudidayakan di beberapa negara, namun industri budidaya abalon di Asia merupakan yang terbesar di dunia, dengan Tiongkok dan Korea Selatan sebagai dua negara penghasil abalon terbesar di dunia.  Secara umum, terdapat dua sistem budidaya yang dikembangkan di Asia yaitu land-based dan sea-based, dengan beberapa inovasi dan penyesuaian untuk menghasilkan abalon yang berkualitas dan bernilai jual tinggi. Benih abalon biasanya dipelihara di kolam-kolam pemeliharaan yang telah dilengkapi oleh lembaran plastik bergelombang, plastik polythene, pipa PVC maupun genteng tanah liat, yang telah ditumbuhi lapisan diatom sebagai sumber makanan bagi larva yang menempel. Pada tahap pembesaran, Korea Selatan dan Tiongkok  hanya menggunakan rumput laut sebagai pakan bagi abalon, sedangkan Filipina dan Indonesia, selain pakan alami berupa rumput laut, kedua negara juga sedang mengembangkan pakan buatan yang dapat memberikan pertumbuhan yang signifikan bagi abalon budidaya.Kata Kunci : Budidaya abalon, Industri abalon, manajemen benih, manajemen induk, teknologi budidaya.
Substitusi Tepung Ikan dengan Tepung Keong Mas dalam Pakan Buatan Terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Kepiting Bakau (Scylla serrata) Raznawati, Raznawati; Hamzah, Muhaimin; Astuti, Oce
Jurnal Media Akuatika Vol 5, No 3 (2020): Juli
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.932 KB) | DOI: 10.33772/jma.v5i3.12730

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan kepiting bakau (S. serrata) yang diberi pakan buatan dengan bahan tepung keong mas (TKM) sebagai bahan substitusi tepung ikan (TI). Kepiting bakau yang digunakan dalam penelitian ini memiliki bobot rata-rata 72,65±8 g. Kepiting bakau dipelihara selama 45 hari dalam akuarium yang berukuran 30 x 30 x 40 cm dan ketinggian air 10 cm dengan kisaran salinitas 27-30 ppt. Setiap unit berisikan 3 ekor kepiting bakau. Pakan uji yang digunakan adalah pakan buatan berbetuk pelet dengan komposisi sesuai dengan perlakuan. Perlakuan yang diterapkan adalah A (100% TI), B (50% TI + 50% TKM) dan C (100% TKM). Selama pemeliharaan, pakan uji diberikan dengan frekuensi dua kali sehari yaitu pada pagi dan sore hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa substitusi tepung ikan dengan tepung keong mas memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap laju pertumbuhan spesifik pada hari ke-15, tetapi memberikan pengaruh yang sama terhadap pertumbuhan mutlak rata-rata, laju pertumbuhan spesifik hari ke-30 dan 45, pertumbuhan panjang karapaks, pertumbuhan lebar karapaks, rasio konversi pakan, efisiensi pakan, dan kelangsungan hidup kepiting bakau. Pertumbuhan mutlak rata-ratayang didapatkan berkisar antara 4,11-18,56 g, laju pertumbuhan spesfik berkisar antara 0,11-0,75%, pertumbuhan panjang karapaks berkisar antara 0,1-0,5 cm, pertumbuhan lebar karapaks berkisar antara 0,1-0,4 cm, rasio konversi pakan berkisar antara 10,71-58,75%, efisiensi pakan berkisar antara 1,70-9,34 dan kelangsungan hidup berkisar antara 33,33-100%. Tepung keong mas dapat dijadikan sebagai bahan baku alternatif penggganti tepung ikan dalam pakan buatan kepiting bakau (S. serrata).Kata kunci : Tepung keong mas, Tepung ikan, Kepiting bakau (S. serrata), Pertumbuhan, Kelangsungan hidup. 

Page 1 of 1 | Total Record : 5