cover
Contact Name
Mikson M. D. Nalle
Contact Email
danierni@yahoo.co.id
Phone
+6281353820540
Journal Mail Official
jvip@politanikoe.ac.id
Editorial Address
Jl. Prof. Dr. Herman Yohanes Kupang. Kotak Pos 1152, Kupang 85011 Telp. 0380-881600 » Tel / fax : 081353820540 / 0380-881601
Location
Kota kupang,
Nusa tenggara timur
INDONESIA
JURNAL VOKASI ILMU-ILMU PERIKANAN (JVIP)
ISSN : -     EISSN : 27454363     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
JVIP adalah jurnal peer review, jurnal ini menerbitkan artikel berkualitas tinggi dalam ilmu akuatik dan perikanan pada umumnya. Tujuan jurnal ini adalah untuk mempublikasikan dan menyebarluaskan temuan penelitian saat ini atau yang baru, dan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pengembangan perikanan dan ilmu perairan dalam beberapa topik, tetapi tidak terbatas pada: Perikanan (Akuakultur, Perikanan Tangkap, Pengolahan Ikan dan Sosial Ekonomi Perikanan) Ekologi Akuatik (Air Tawar, Laut, dan Air Payau) Biologi Akuatik (Ikan, Moluska, Crustacea, Plankton, Terumbu Karang) Ilmu Kelautan
Articles 119 Documents
Komposisi dan Distribusi Gastropoda pada Ekosistem Mangrove di Pantai Utara Atapupu Kabupaten Belu Provinsi Nusa Tenggara Timur Salu, Susanti Maria Yosefa; Seran, Klaudia Nia
JURNAL VOKASI ILMU-ILMU PERIKANAN (JVIP) Vol 5, No 2 (2024): April 2025
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35726/jvip.v5i2.7433

Abstract

Mangrove adalah sumber daya alam potensial yang ditemukan pada zona intertidal di daerah tropis dan subtropis.Salah satu organisme laut yang hidup pada ekosistem mangrove adalah gastropoda. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komposisi dan distribusi gastropoda di ekosistem mangrove pantai utara Atapupu Kabupaten Belu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei mencakup pengumpulan data yang ada di lapangan sedangkan penentuan transek garis dan plot sampling menggunakan purpose sampling sebanyak 18 transek dan 54 plot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengukuran kualitas air (pH, suhu, salinitas dan oksigen terlarut (DO))sesuai untuk kelangsungan hidup gastropoda. Jenis gastropoda yang ditemukan pada lokasi penelitian sebanyak 20 famili dan 48 spesies. Stasiun dengan kepadatan tertinggi ditemukan pada stasiun 3 (634 individu/m2), kepadatan terendah pada stasiun 1 (335 individu/m2). Kepadatan gastropoda tertinggi sebanyak 413 individu/m2pada famili potamididae sedangkan kepadatan terendah sebanyak 1 individu/m2pada famili volutidae. Indeks keanekaragaman gastropoda termasuk ke dalam kategori tercemar ringan, penyebaran individu setiap jenis tidak sama dan tidak ada spesies gastropoda yang mendominasi ketiga stasiun pengamatan. Mangrove yang ditemukan sebanyak 6 jenis yaitu Sonneratia alba, Ceriops tagal, Rhizophora stylosa, Avicennia alba, Bruguiera gymnorhiza dan Avicennia officinalisKata kunci : Gastropoda; kualitas air; mangrove ; komunitas
Sinergi Dosis Effective Microorganisms 4 (EM4) dan Vitamin C dalam Pakan Komersial terhadap Pertumbuhan dan Keseimbangan Media Budidaya Benih Ikan Lele (Clarias sp.) Usman, Ali
JURNAL VOKASI ILMU-ILMU PERIKANAN (JVIP) Vol 6, No 1 (2025): November 2025
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35726/jvip.v6i1.7529

Abstract

Budidaya ikan lele (Clarias sp.) masih menghadapi kendala utama berupa tingginya biaya pakan, terutama pada fase benih yang menentukan keberhasilan produksi selanjutnya. Optimalisasi pemanfaatan pakan melalui penambahan suplemen fungsional menjadi salah satu strategi yang potensial. Effective Microorganisms 4 (EM4) diketahui berperan dalam meningkatkan kecernaan pakan melalui aktivitas enzimatik dan perbaikan mikroflora usus, sedangkan vitamin C berfungsi sebagai antioksidan dan imunomodulator yang mendukung pertumbuhan ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sinergi variasi dosis EM4 dengan dosis tetap vitamin C dalam pakan komersial terhadap pertumbuhan berat mutlak serta stabilitas kualitas air pada benih ikan lele umur 14 hari. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan empat perlakuan, yaitu kontrol dan tiga dosis EM4 (10, 15, dan 20 ml/kg pakan) yang dikombinasikan dengan vitamin C 150 mg/kg pakan, masing-masing dengan enam ulangan. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa perlakuan pakan berpengaruh sangat nyata terhadap pertumbuhan berat mutlak (P<0,01). Perlakuan EM4 15 ml/kg pakan menghasilkan pertumbuhan tertinggi dan berbeda nyata dibandingkan perlakuan lainnya. Parameter kualitas air selama pemeliharaan berada dalam kisaran optimal dan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan antar perlakuan. Disimpulkan bahwa kombinasi EM4 15 ml/kg pakan dan vitamin C 150 mg/kg pakan merupakan dosis sinergis optimal untuk meningkatkan pertumbuhan benih ikan lele tanpa mengganggu kestabilan media budidaya.Kata kunci: Clarias sp.; EM4; vitamin C; pertumbuhan mutlak; kualitas air
Potensi Dan Prospek Ekonomi Udang Berdasarkan Hasil Tangkap Di Perairan Pariti, Kabupaten Sulamu Meyners, Reynald; Jasmanindar, Yudiana; Tjendanawangi, Agnette
JURNAL VOKASI ILMU-ILMU PERIKANAN (JVIP) Vol 6, No 1 (2025): November 2025
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35726/jvip.v6i1.7429

Abstract

Perairan Pariti merupakan salah satu perairan yang dijadikan sebagai tempat untuk menangkap udang oleh para nelayan dan masyarakat sekitar sebagai mata pencaharian. Keberadaan udang di wilayah Pariti di dukung oleh lingkungan perairan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, ditemukan dua (2) spesies udang dengan famili yang sama yaitu Penaeidae, yakni udang jerbung (Penaeus merguiensis) dan udang windu (Penaeus monodon). Desa Pariti, Kabupaten Sulamu Kupang dikatakan bahwa kebanyakan penduduk disana memiliki mata pencaharian yaitu sebagai nelayan. Nelayan di desa Pariti menggunakan alat tangkap berupa pukat atau sorong. Hasil tangkap yang mereka dapatkan biasanya bisa sampai 18 kg bahkan bisa mencapai 20 kg/hari. Berdasarkan Harga jual udang di pasar internasional mencapai harga yang cukup tinggi yaitu berkisar antara Rp.134.355/Kg dengan rata-rata jumlah total ekspor udang yaitu 116 ton/tahun (Luneto, 2022). Berdasarkan hasil survey, pengepul langsung menjualnya dipasar dengan harga untuk udang putih atau udang jerbung yaitu Rp. 50.000 hingga Rp. 80.000/kg dan untuk udang windu atau yang biasa disebut udang loreng oleh masyarakat lokal dijual dengan harga Rp. 90.000/kg. bandingkan dengan (Furqan, 2018) mengemukakan bahwa harga udang putih di pasar berkisar Rp. 42.226/kg, sementara udang windu dihargai sekitar Rp. 75.696/kg. Harga udang putih dengan ukuran 70-30 berkisar antara Rp. 115.000 hingga Rp. 147.000, sedangkan untuk udang windu dengan ukuran 30-10, harga berkisar antara Rp. 185.000 hingga Rp. 225.000. Oleh karena itu, harga udang di pasar tergolong tinggi (Adji, 2023)
Pengaruh Bobot Bibit Awal Kappaphycus alvarezii terhadap Pertumbuhan, Kandungan Karagenan dan Komposisi Proksimat Ngaddi, Melati; Oedjoe, Marcelien Dj. Ratoe; Turupadang, Welem L.
JURNAL VOKASI ILMU-ILMU PERIKANAN (JVIP) Vol 6, No 1 (2025): November 2025
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35726/jvip.v6i1.7489

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh bobot bibit awal Kappaphycus alvarezii terhadap pertumbuhan, kandungan karagenan, dan komposisi metabolit primer. Penelitian dilaksanakan selama 45 hari (Mei–Juli 2024) di Perairan Hansisi-Semau, Kabupaten Kupang. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan bobot bibit awal, yaitu 50 g (A), 100 g (B), dan 150 g (C), masing-masing tiga ulangan. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan berat mutlak, laju pertumbuhan spesifik (SGR), dan kadar karagenan. Data dianalisis menggunakan ANOVA pada taraf kepercayaan 95% dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) apabila berbeda nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bobot bibit berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan berat mutlak (p<0,05). Pertumbuhan tertinggi diperoleh pada perlakuan 150 g (115,0 g), diikuti 100 g (111,3 g), dan 50 g (93,3 g). Sebaliknya, laju pertumbuhan spesifik tertinggi diperoleh pada bobot 50 g (2,34%/hari). Kandungan karagenan tertinggi terdapat pada perlakuan 100 g (32,7%) dan terendah pada 150 g (28,6%). Analisis proksimat pada perlakuan dengan pertumbuhan terbaik menunjukkan kandungan karbohidrat 45,9%, protein 8,2%, lemak 5,7%, dan abu 39,9% (berat kering). Disimpulkan bahwa bobot bibit awal mempengaruhi pertumbuhan dan kandungan karagenan K. alvarezii, dengan bobot 100 g direkomendasikan sebagai bobot optimal karena menghasilkan keseimbangan antara pertumbuhan dan kandungan karagenan.Kata kunci: bobot bibit, pertumbuhan, karagenan, proksimat, Kappaphycus alvarezii
Respons Pertumbuhan, Moulting, dan Kelulushidupan Kepiting Bakau (Scylla serrata) terhadap Dosis Vitamin C Berbeda pada Pakan Berbasis Pila ampullacea Yulistiani, Veronika; Linggi, Yulianus; Tjendanawangi, Agnette
JURNAL VOKASI ILMU-ILMU PERIKANAN (JVIP) Vol 6, No 1 (2025): November 2025
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35726/jvip.v6i1.7539

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi respons pertumbuhan, frekuensi moulting, dan kelulushidupan kepiting bakau (Scylla serrata) yang diberi pakan berbasis keong sawah (Pila ampullacea) dengan dosis vitamin C berbeda. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan dosis vitamin C, yaitu 12 mg/100 g pakan (A), 24 mg/100 g pakan (B), dan 36 mg/100 g pakan (C), masing-masing dengan lima ulangan. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan berat mutlak, survival rate (SR), frekuensi moulting, serta kualitas air. Hasil analisis sidik ragam menunjukkan terdapat pengaruh nyata (P<0,05) dosis vitamin C terhadap pertumbuhan, moulting, dan kelulushidupan kepiting bakau. Perlakuan C menghasilkan pertumbuhan rata-rata tertinggi sebesar 48,2 g, frekuensi moulting terbanyak (3 ekor), serta tingkat kelulushidupan 100%. Peningkatan performa biologis pada perlakuan C menunjukkan bahwa suplementasi vitamin C mampu meningkatkan efisiensi metabolisme, mendukung pembentukan eksoskeleton, serta meningkatkan respons imun kepiting bakau. Parameter kualitas air selama pemeliharaan masih berada dalam kisaran optimal untuk budidaya kepiting bakau. Dengan demikian, suplementasi vitamin C sebesar 36 mg/100 g pakan berbasis Pila ampullacea direkomendasikan sebagai dosis optimal dalam meningkatkan performa budidaya kepiting bakau.Kata kunci: vitamin C, Scylla serrata, moulting, pertumbuhan, kelulushidupan
Pemanfaatan Pupuk Organik Rumput Laut (Ulva Sp.) Terhadap Produktivitas dan Kandungan Protein Chlorella pyrenoidosa Septiani, Lusi; Tartila, Shobrina Silmi Qori; Mujtahidah, Tholibah
JURNAL VOKASI ILMU-ILMU PERIKANAN (JVIP) Vol 6, No 1 (2025): November 2025
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35726/jvip.v6i1.7458

Abstract

Chlorella pyrenoidosa sering dimanfaatkan sebagai pakan alami larva ikan maupun udang. Tingginya pemanfaatan C. pyrenoidosa menyebabkan adanya upaya untuk mendukung banyaknya permintaan yang berkesinambungan. Beberapa jenis bahan alami dapat dimanfaatkan sebagai pupuk untuk memenuhi kebutuhan nutrien bagi C. pyrenoidosa, salah satunya yaitu rumput laut jenis Ulva sp. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dan perlakuan terbaik pupuk Ulva sp. terhadap produktivitas dan kandungan protein C. pyrenoidosa. Penelitian dilakukan di Laboratorium Terpadu Universitas Tidar. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan empat kali ulangan, meliputi perlakuan pupuk Walne yaitu P1 (1 ml/L), P2 (1 ml/L Ulva sp.), P3 (2 ml/L Ulva sp.), P4 (3 ml/L Ulva sp.). Parameter yang diamati yaitu kepadatan C. pyrenoidosa, laju pertumbuhan spesifik, biomassa dan protein, serta parameter kualitas air. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Analysis of variance (ANOVA) yang dilanjutkan dengan uji Duncan pada taraf kesalahan 5%, sedangkan nilai kandungan protein dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa P2 mampu meningkatkan kepadatan sebesar 5,06±1,91x106 sel/ml, laju pertumbuhan spesifik sebesar 0,34±0,09 individu/hari, dan biomassa sebanyak 0,60±0,06 gr/L, tetapi kadar protein tertinggi diperoleh pada P3 sebesar 13,64%.Kata kunci : C. pyrenoidosa; pupuk Ulva sp.; produktivitas; protein
Sistem Pengelolaan Kapal Pole and Line di Pangkalan Pendaratan Ikan Amaragapati Kabupaten Flores Timur Rajab, Resky Amalia; Rasdam, Rasdam; Leway, Martinus Mukeni; Siregar, Septin M. Jhon Septin M. Siregar; Saputra, Aman; Nugraha, I Made Aditya; Mau, Yesaya
JURNAL VOKASI ILMU-ILMU PERIKANAN (JVIP) Vol 6, No 1 (2025): November 2025
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35726/jvip.v6i1.7485

Abstract

Ikan cakalang merupakan salah satu hasil laut potensial yang dimiliki oleh Kabupaten Flores Timur, dimana dalam pemanfaatannya nelayan menggunakan alat tangkap pole and line pada saat melakukan operasi penangkapan. Untuk itu diperlukan sistem pengelolaan kapal pole and line yang baik dalam memaksimalkan pemanfaatan sumber daya perikanan (cakalang) yang ada di Kabupaten Flores Timur, menjaga kelestarianya dan meningkatakan taraf hidup nelayan sekitar. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan sistem pengelolaan kapal pole and line di pangkalan pendaratan ikan Amagarapati, Larantuka. Adapun metode yang digunakan adalah deskriptif yakni melalui pengamatan atau observasi terhadap objek yang dijadikan sumber data, wawancara terhadap pihak-pihak yang terkait dan telibat secara langsung pada setiap kegiatan yang berkaitan tentang pengelolaan pangkalan pendaratan ikan, dalam hal ini pengelolaan kapal pole and line. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa sistem pengelolaan kapal pole and line di pangakalan pendaratan ikan Amagarapati terdiri dari pengelolaan kapal, pengelolaan pelabuhan, pengelolaan anggaran dan pemasaran hasil tangkapan.Kata kunci: Cakalang; Sistem Pengelolaan; Pole and Line
Pemanfaatan Tepung Daun Lamtoro Gung (Leucaena leucocephala) Fermentasi dan Tepung Bekicot (Achatina fulica) sebagai Bahan Baku Pakan Alternatif untuk Meningkatkan Pertumbuhan Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Angul, Betrisia Geliana; Tobuku, Ridwan; Tjendanawangi, Agnette
JURNAL VOKASI ILMU-ILMU PERIKANAN (JVIP) Vol 6, No 1 (2025): November 2025
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35726/jvip.v6i1.7448

Abstract

Kenaikan harga pakan komersial menjadi kendala utama dalam kegiatan budidaya ikan nila (Oreochromis niloticus). Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menekan biaya produksi adalah pemanfaatan bahan baku lokal sebagai sumber pakan alternatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh kombinasi tepung daun lamtoro (Leucaena leucocephala) terfermentasi dan tepung bekicot (Achatina fulica) dalam pakan terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan nila. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga ulangan, yaitu: A (40% tepung lamtoro terfermentasi + 10% tepung bekicot), B (30% tepung lamtoro terfermentasi + 20% tepung bekicot), C (20% tepung lamtoro terfermentasi + 30% tepung bekicot), dan D (100% pakan pelet komersial). Ikan nila berukuran 4–6 cm dipelihara selama 60 hari dengan feeding rate 3% bobot biomassa per hari. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan berat mutlak, laju pertumbuhan spesifik (SGR), rasio konversi pakan (FCR), dan tingkat kelangsungan hidup (SR). Hasil analisis menunjukkan bahwa penambahan tepung daun lamtoro terfermentasi dan tepung bekicot dalam pakan berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap pertumbuhan berat mutlak, laju pertumbuhan spesifik, dan kelangsungan hidup ikan nila. Perlakuan C memberikan hasil terbaik dengan pertumbuhan berat mutlak sebesar 8,98 g, SGR 2,31%/hari, dan tingkat kelangsungan hidup sebesar 80%. Dengan demikian, kombinasi tepung daun lamtoro terfermentasi dan tepung bekicot berpotensi digunakan sebagai pakan alternatif untuk meningkatkan kinerja pertumbuhan ikan nila.Kata kunci: daun lamtoro terfermentasi, tepung bekicot, pakan alternatif, pertumbuhan, ikan nila
Studi Keragaman, Prevalensi, Intensitas dan Kelimpahan Endoparasit pada Ikan Tongkol (Euthynnus affinis) dan Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus) yang dijual di Kota Kupang Fajrudin, Nur Asril Yuda; Halija, Sitti
JURNAL VOKASI ILMU-ILMU PERIKANAN (JVIP) Vol 6, No 1 (2025): November 2025
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35726/jvip.v6i1.7497

Abstract

Indonesia merupakan salah satu produsen ikan di dunia karena wilayah perairan Indonesia jauh lebih besar daripada wilayah daratnya. Ikan hasil tangkapan tidak dapat terlepas dari infeksi parasit, terutama ikan karnivora yang sering terinfeksi cacing endoparasit karena memakan inang perantara cacing tersebut. Tujuan penelitian ini adalah Mengetahui perbandingan keragaman, prevalensi, intensitas dan kelimpahan jenis endoparasit pada ikan tongkol dan ikan kerapu yang dijual di Kota Kupang dan hubungannya terhadap faktor lingkungan dengan menggunakan metode campuran (Mixed methods) menggunakan desain eksplanatif, dimana data kuantitatif menjadi data awal penelitian. Pengambilan sampel yang dilakukan dalam kurun waktu satu bulan yaitu di nelayan PPI Oeba Kota Kupang untuk ikan tongkol dan di nelayan pantai Namosain untuk ikan kerapu, sedangkan data sekunder yang digunakan berupa suhu permukaan laut dan klorofil-a diambil dari situs oceancolor.gsfc.nasa.gov sesuai dengan waktu pengambilan ikan tongkol di nelayan PPI Oeba dan ikan kerapu di nelayan pantai Namosain. Data sekunder lokasi penangkapan ikan didapat dari wawancara beberapa nelayan pada saat pengambilan sampel ikan, bertujuan mendapatkan informasi untuk uji kualitas air laut sebagai indikator faktor lingkungan. Parasit yang mendominasi pada penelitian ini adalah filum Nemathelminthes, terdapat Anisakis simplex dan Anisakis physeteris dan ditemukan jenis cacing parasit yang berasal dari filum Acanthocephala, diantaranya Rhadinorhynchus sp. sedangkan pada Ikan Kerapu macan, beberapa ikan tersebut ditemukan terinfeksi oleh endoparasit pada organ dalam terutama di saluran pencernaan di bagian usus, lambung dan organ dalam hati.Cacing yang ditemukan merupakan larva stadium tiga danditemukan menempel dipermukaan dan di dalam organ usus, lambung dan hati. Parasit yang mendominasi adalah filum Nemathelminthes, terdapat Anisakis simplex dan Anisakis physeteris. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa ada perbedaan signifikan antara jumlah jenis Nematoda dan Acanthocephala Sampel Ikan Tongkol dan Ikan Kerapu dan ada hubungan antara faktor lingkungan dengan prevalensi, intensitas dan kelimpahan endoparasit pada ikan tongkol dan ikan kerapu.Kata kunci: Ikan Kerapu macan, Ikan Tongkol, Endoparasit, Intensitas, Kelimpahan rataan, Prevalensi

Page 12 of 12 | Total Record : 119