cover
Contact Name
Agus Ruliyansyah
Contact Email
agus.ruliyansyah@faperta.untan.ac.id
Phone
+62561-740191
Journal Mail Official
jsp.equator@gmail.com
Editorial Address
Jalan Prof. Dr. Hadari Nawawi
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
JURNAL SAINS PERTANIAN EQUATOR
ISSN : -     EISSN : 2964562X     DOI : http://dx.doi.org/10.26418/jspe.v12i1.59508
Jurnal Sains Pertanian Equator is open access, academic, citation indexed, and blind peer-reviewed journal. It covers original research articles, review, and short communication on diverse topics related to agriculture science. We accept submission from all over the world. All submitted articles shall never be published elsewhere, original and not under consideration for other publication
Articles 1,903 Documents
ENHANCEMENT OF SELEDRI SEED VIABILITY THROUGH EXTRACT EXTRACTS SEAWEED Kosmas Ladora Gase; Tantri Palupi; Sri Rahayu
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 7, No 3 (2018): AGUSTUS 2018
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.731 KB) | DOI: 10.26418/jspe.v7i3.25216

Abstract

Celery seeds are seeds that choose dueti low viability becouse has hard seed shells, small buds and relatively recalcitrant seeds. This study aims to find out the best method to increase the viability of seeds of celery. This study used a Completely Randomized Design (CRD) with 6 treatments, namely (Soaking in Aquades), B (Soaking in Seaweed Extract 1,500 ppm), C (Soaking in Seaweed Extract 2,000 ppm), D (Soaking in Seaweed Extract 2,500 ppm), E (Soaking in Seaweed Extract 3,000 ppm), F (Soaking in Seaweed Extract 3,500 ppm). Each treatment used 50 celery seeds and consisted of 4 replications. The study was conducted in PKH Green Villa breeding. The results of this study indicate that the method of invigoration through soaking of seaweed extract had been able to increase viability of seeds of celery. Soaking in seaweed extract of 3,000 ppm was the best concentration to increase celery seed viability with 84,50% germination power germination, seed vigor reach 51.50%, growth rate 6.39% / etmal and similirity grow to 71,00%.   Keywords: Seed Celery, Immersion, Recruitment, Seaweed, Viability
Potensi Ekstrak Fenolat Dari Daun San-sangk (Albertisia papuana Becc.) Terhadap Kerusakan lemak Pada Daging Sapi EQBAL, MUHAMMAD; PURWAYANTI, SULVI; SHOLAHUDDIN, SHOLAHUDDIN
Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian Vol 6, No 2 (2017): Oktober 2017
Publisher : Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masyarakat Dayak di Kalimantan Barat memanfaatkan daun san-sangk sebagai salah satu bumbu masakan. Daun san-sangk mengandung asam galat senyawa kimia alami dari golongan fenolat yang berfungsi sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui metode dan jenis pelarut ekstraksi yang menghasilkan senyawa fenolat tertinggi dari daun san-sangk dan diujikan ekstrak daun san-sangk terhadap kerusakan lemak pada daging sapi. Penelitian dilakukan 2 tahap yaitu tahap I ekstraksi fenolat dan tahap II uji kerusakan lemak pada daging sapi. Rancangan penelitian tahap I menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan dua faktor yaitu metode ekstraksi (dekoksi dan maserasi) dan jenis pelarut ekstraksi (aquades, etanol dan campuran aquades dan etanol). Hasil penelitian tahap I diperoleh rendemen tertinggi 17,82 % (metode dekoksi dan pelarut aquades), dan total fenol tertinggi 19,90 mg GAE/g (metode dekoksi dan pelarut etanol). Hasil ekstraksi yang menghasilkan senyawa fenolat tertinggi diujikan pada daging sapi yang disimpan pada temperatur dingin (0-5ºC) selama 4 hari. Hasil penelitian tahap II menunjukkan semakin tinggi konsentrasi ekstrak daun san-sangk (0%, 5%, 7,5% dan 10%) menghasilkan angka peroksida dan angka TBA lebih rendah dari batas ambang kerusakan. Dengan demikian, ekstrak fenolat dari daun san-sangk berpotensi untuk menurunkan kerusakan lemak pada daging sapi yang disimpan pada suhu dingin.Kata kunci : daging sapi, daun san-sangk, ekstraksi, kerusakan lemak, senyawa fenolat
pengaruh PGPR (plant growth promotion rhizobacter) terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai pada tanah gambut jumadiperigi, jumadiperigi
Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian Vol 5, No 3 (2016): Desember 2016
Publisher : Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.029 KB)

Abstract

it-text-size-adjust: auto; -webkit-texPENGARUH PGPR (Plant Growth Promotion Rhizobacter) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KEDELAI PADA TANAH GAMBUT ARTIKEL ILMIAH Oleh : JUMADI NIM. C51110011 FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA PONTIANAK 2016 THE EFFECT OF PGPR (Plant Growth Promotion Rhizobacter)ON THE GROWTH AND YIELD OFSOYBEAN ON PEAT SOILJumadi1) Dwi Zulfita and Ahmad Mulyadi 2)1) students, 2)lecturers of Faculty of Agriculture, University Tanjungpura.ABSTRACTSoybean is an important food crop as a source of vegetable protein. As food crops,100 grams soybean contains 330 calories, 35% protein, 18% fat, 35% carbohydrateand 8% water, the rest is composed of minerals and vitamins. This study aimed todetermine the effect of different types of PGPR and kinds of PGPR on the growth andyield of soybean in peat. Research using experimental methods with completelyrandomized design (CRD) consisting of 7 treatment’s, each treatment consist of fourreplications and three plant, as total sample 84 plant’s. The treatment in this studywas P0 = without PGPR + Legin, P1 = PGPR bamboo roots, P2 = PGPR bambooroots + Legin, P3 = PGPR weeds roots, P4 = PGPR weeds roots + Legin, P5 =PGPR elephant grass roots and P6 = PGPR elephant grass + Legin. PGPR typeassignments do as much as 2 times during the time soaking soybean seeds (mixed 5mlPGPR) and in, week after planting with a dose of 10ml /liter water that watered eachtreatment.Variable observations in this study were plant height, root nodules, rootvolume, dry weight of plants, the amount of chlorophyll of leaves, number of pods,weight of 100 seeds and planting seed weight. The results showed that application ofPGPR have significant effect on the growth of plant 2 and 5 weeks after planting , thenumber of nodules, plant dry weight, and the weight of dry seed have significanteffect on plant, height 3 and 4 weeks no significant effect after planting, root volume,the amount of chlorophyll leaves, number of pods, plant dry weight of 100 seeds.Keywords: Peat, plant growth promotion rhizobacter, soybeanPENDAHULUANKedelai merupakan tanaman pangan yang penting sebagai sumber protein nabati.Sebagai tanaman pangan, setiap 100 gr kedelai mengandung 330 kalori, 35% protein, 18%lemak, 35% karbohidrat dan 8% air, sisanya terdiri dari mineral-mineral dan vitamin(Suprapto, 2002).Kebutuhan akan kedelai terus meningkat dari tahun ke tahun seiring denganpertumbuhan penduduk dan kesadaran masyarakat akan kecukupan gizi. Kebutuhan kedelaipada kurun waktu lima tahun (tahun 2010-2014), setiap tahunnya ± 2.300.000 ton biji kering,akan tetapi kemampuan produksi dalam negeri saat ini baru mampu memenuhi sebanyak807.568 ton (Anggoro, 2013)Gambut merupakan suatu ekosistem lahan basah yang dicirikan oleh adanya akumulasibahan organik yang berlangsung dalam kurun waktu lama. Tanah gambut terbentukdidataran rendah berawa-rawa. Sebagian kecil, ditemukan pada daerah pasang surut yangumumnya berupa gambut topogen dangkal sampai sedang.Tingkat kesuburan gambutditentukan oleh kandungan bahan dasar gambut dan ketebalan lapisan gambut, tingkatkematangan atau dekomposisi bahan organik.Upaya dalam membudidayakan kedelai di tanah gambut memiliki bermacam-macamkendala seperti tingkat kemasaman yang tinggi, kapasitas tukar kation yang tinggi, kejenuhanbasa rendah, kadar N,P,Kyang rendah dan bahan organik yang tersedia belum terdekomposisidengan sempurna.PGPR merupakan bakteri yang hidup disekitar perakaran tanaman yang mampumeningkatkan petumbuhan tanaman melalui produksi hormon pertumbuhan dalammemfiksasi N untuk peningkatan penyediaan N di dalam tanah dan juga berfungsi membantumineralisasi sehingga proses dekomposisi tanah gambut lebih cepat berlangsung.PGPRberfungsi memacu pertumbuhan tanaman dan fisiologi akar serta mampu mengurangipenyakit atau kerusakan oleh serangga. Secara langsung PGPR mampu memproduksi zatpengatur tumbuh dan meningkatkan pengambilan nutrisi oleh tumbuhan (Kloepper 1999).PGPR berfungsi memacu pertumbuhan tanaman dan fisiologi akar serta mampumengurangipenyakit atau kerusakan oleh serangga.Diduga pemberian berbagai jenis PGPR akan memberikan pengaruh terhadappertumbuhan dan hasil kedelai pada tanah gambut serta salah satu jenis PGPR akanmemberikan pertumbuhan dan hasil kedelai yang terbaik pada tanah gambut.METODE PENELITIANPenelitian dilaksanakan di kebun percobaan Fakultas Pertanian UniversitasTanjungpura Pontianak dimulai dari tanggal 1 Desember 2015 sampai dengan 29 Februari2016. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : benih kedelai,tanahgambut,polybag,PGPR,kapur,drum dan pupuk dasar. Sedangkan alat yang digunakan adalah :paranet,kayu cerucuk, oven, cangkul, pisau, gergaji, paku, palu, buku tulis, klorofilmeter,gelas ukur, timbangan digital, ember, pisau, timbangan tanah, pulpen, kantong es,oven, mistar, termometer, jerigen 20 liter,corong 25 diameter cm dan kamera.Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan 1 faktor yaituperlakuan berbagai jenis PGPR yang terdiri dari 7 perlakuan dan 4 ulangan, setiap ulanganterdiri dari 3 tanaman sampel dengan jumlah tanaman seluruhnya 84 tanaman, Perlakuanyang dimaksud adalah:p0 : Tanpa PGPR + Legin, p1 : PGPR Akar Bambu, p2 : PGPR AkarBambu + Legin, p3 : PGPR Akar Rumput Ilalang, p4: PGPR Akar Rumput Ilalang + Legin,p5: PGPR Akar Rumput Gajah, p6 : PGPR Akar Rumput Gajah + Legin. Pelaksanaan1penelitian dimulai dari mengayak tanah gambut,mengukus tanah selama 5-6 jam selama 5hari pengkukusan,membersihkan lahan percobaan fakultas pertanian,mencampur tanahgambut dengan kapur,merendam benih kedelai ke dalam larutan PGPR,menyemai benihkedelai,memindahkan tanaman kedelai yang berumur 1 minggu kedalam polybag,pemupukandan pemeliharaan tanaman serta pemanenan kedelai. Variabel yang diamati pada masavegetatif maksimum adalah : tinggi tanaman (cm),jumlah bintil akar efektif (bintil),volumeakar (cm3),jumlah klorofil daun (spead unit) dan berat kering tanaman. Sementara untukpengamatan yang dilakukan pada masa generatif maksimum adalah: jumlah polong isi(polong),berat biji kering tanaman (g) dan berat 100 biji kering (g).HASIL DAN PEMBAHASANHasil Analisis Keragaman menunjukkan bahwa pemberian berbagai jenis PGPRberpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman seperti : tinggi tanaman pada minggu ke-2, minggu ke-5, bintil akar efektif, Berat kering tanaman dan Berat Biji Kering Tanamansedangkan pada tinggi tanaman minggu ke-3,minggu ke-4,volume akar, jumlah klorofil daun,Jumlah Polong Isi dan Berat 100 Biji kering pemberian berbagai jenis PGPR berpengaruhtidak nyata pada pertumbuhan tanaman kedelai. untuk mengetahui perbedaan antaraperlakuan yang berpengaruh nyata dilakukan uji nyata jujur (BNJ) yang dapat dilihat padaTabel 1.Tabel 1. Uji Nyata Jujur Pengaruh Jenis PGPR Terhadap Tinggi Tanaman padaMinggu Ke-2 (M2), Minggu Ke-5 (M5), Bintil Akar Efektif (B.A), Biji KeringTanaman (B.K.T) dan Berat Biji Kering Tanaman (B.B.K.T).RerataPGPR M2 (cm) M5 (cm) B.A (biji) B.K.T (g) B.B.K.T (g)Tanpa PGPR+legin P0 9,00 b 21,64 b 9,25 bc 3,56 b 19,88 bPGPR akar bambu P1 10,23 ab 23,50 ab 7,75 c 3,68 ab 26,29 bPGPR akar bambu+legin P2 10,16 1b 26,92 a 7,25 c 3,97 ab 24,59 bPGPR ilalang P3 10,33 a 23,46 ab 12,25 ab 4,70 ab 42,27 aPGPR Ilalang+legin P4 10,19 ab 23,71 ab 15,00 a 5,25 a 29,99 bPGPR rumput gajah P5 10,33 a 25,42 ab 9,00 c 3,83 ab 31,11 abPGPR Rumput gajah+legin P6 10,71 a 25,00 ab 8,50 c 3,98 ab 26,20 bBNJ (5%) 1,3 4,62 3,62 1,61 11,4Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama berbeda nyatapada Uji Beda Nyata (BNJ) taraf 5%Tabel 1. Menunjukkan tinggi tanaman kedelai minggu ke-2 dan minggu ke-5 padapemberian PGPR rumput ilalang berbeda nyata dengan perlakuan tanpa pemberian PGPRditambah legin namun berbeda tidak nyata jika dibandingkan pemberian PGPR lain. Jumlahbintil akar pada pemberian PGPR akar ilalang berbeda tidak nyata dengan pemberian PGPRakar ilalang ditambah legin namun berbeda nyata dengan tanpa pemberian PGPR ditambahlegin dan juga berbeda nyata terhadap perlakuan pemberian jenis PGPR lain. Berat keringtanaman pada tanpa pemberian PGPR ditambah legin berbeda nyata terhadap pemberianPGPR lain. Berat biji kering tanaman pada pemberian PGPR akar ilalang berbeda tidak nyatadengan pemberian PGPR rumput gajah namun berbeda tidak nyata jika dibandingkan2pemberian PGPR lainnyaPerlakuan PGPR dapat dilihat Pada Gambar 1.Gambar 1. Grafik rerata Tinggi Tanaman pada Berbagai Perlakuan Jenis PGPR Tanaman dariMinggu ke-2 sampai Minggu kePada minggu ke-3 dan keberbagai jenis PGPR. minggu ketiga Tanaman yang memiliki rerata tertinggi terdapat padapemberian PGPR akar rumput gajah dan akar rumput gajah ditambah legin dengan rerata12.29 cm sedangkan yang terendah terdapat pada tanpa pemberian PGPdengan rerata 11.25 cm.Pada variabel lain, pemberian PGPR pada semuaseperti volume akar (V.A) dan jumlah klorofil daun (J.K.D). Nilai rerata volume akar danjumlah klorofil daun pada berbagai perlakuan PGambar 2. Grafik rerata Volume AkGambar 2 menunjukkan nilai rerata volume akar tertinggi dihasilkan oleh kedelai padapemberian PGPR rumput ilalangyang terendah terdapat pada tanpa pemberian PGPR ditambah legin dengan rerata 7.00 cmGambar 3 menunjukkan nilai rerata jumlah klorofil daun tertinggi dihasilkan olehkedelai pada pemberian PGPR ryang terendah terdapat pada perlakuan tanpa pemberian PGPR namun di tambah legindengan rerata 35.78 spad unit0,005,0010,0015,0020,0025,0030,00Rerata tinggi tanaman (cm)0,005,0010,00v P₀ P₁ P₂olume akar (cm3)7,00 7,185,93Jenis PGPR.Pola Pertumbuhan Tinggi Tanaman Kedelai pada Berbagai-5 pada Semua Perlakuan.-4 tinggi tanaman berpengaruh tidak nyata dengan pemberianR ditambah leginjenis PGPR berpengaruhGPR dapat dilihat pada gambar 2 dan 3.ar Gambar 3. Grafik rerata Jumlah Klorofilditambah legin dengan rerata tertinggi 8.88 cmumput gajah dengan rerata tertinggi 37.97.2 3 4 5tanpa PGPR+leginPGPR bambuPGPR bambu+leginPGPR ilalangPGPR ilalang+leginPGPR rumputPGPRgajah+leginPengamatan minggu keP₃ P₄ P₅ P₆8,65 8,887,40 8,1002040P₀ P₁ P₂ P₃ P₄klorofil daun(spad unit)Jenis PGPR35,7 36,0 36,4 37,9 37,2tidak nyataDaun3,sedangkan3.spead unit, dangajahRumputP₅ P₆37,9 37,53Pada variabel lainnyanyata seperti jumlah polong isi (P.Ijumlah polong isi dan berat 100 biji keringgambar 4 dan 5.Gambar 4. Grafik rerata jumlah polong isiGambar 4 menunjukkan bahwa nilai rerata jumlah polong isi dihasilkan olehpemberian PGPR rumput ilalang ditambah legin dengan rerata jumlah tertinggi 120.63polong,sedangkan yang terendah dihasilkan oleh kedelditambah legin dengan rerata 86.25 polong.Gambar 5 menunjukkan bahwa nilai rerata berat 100 biji kering dihasilkan olehpemberian PGPR akar bambu dengan rerata tertinggi 14.02 g, dan yang terendah terdapatpada perlakuan pemberian PGPR rumput gajah dengan rerata 13.41 g.Hasil analisis keragaman pengaruh jenis PGPR berpengaruh nyata terhadap tinggitanaman minggu ke-2,minggu ketanaman dan berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman minggu ke4,volume akar, 100 biji kering, jumlah klorofil daun dan polong isi.Pada tabel 1 menunjukkan bahwa pemberian PGPR berpengaruh nyata terhadap tinggitanaman pada minggu kenyata kemungkinan disebabkan olehberkoloni menyelimuti akar tanaman sehingga dapat berpengaruh langsung terhadappertumbuhan tanaman.Hal ini juga dikemukakan oleh Rahni (2012) bahwa bakteri dariPseudomonas, Azotobacter, Bacillusfitohormon yang mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman terutama hormonauksin yang berperan dalam meningkatkan atau memacu tinggi tanaman.minggu ke-3 dan ke-4 tidak berpengaruh nytanaman tertinggi terdapat pada perlakuan akar rumput gajah dan rumput gajah ditambahlegin dengan rata-rata memiliki tinggi 12.29 cm per tanamarerata data tinggi tanaman tertirata-rata memiliki tinggi 16.610,0050,00100,00150,00P₀ P₁jumlah polong isi (biji)Jenis PGPR86,297,0, pemberian PGPR pada semua jenis PGPR berpengaruh) dan berat 100 biji kering (B.100.B.K1). Nilai reratapada berbagai perlakuan PGPR dapat dilihat padaGambar 5. Grafik rerata berat 100 bijiai pada tanpa pemberian PGPRPEMBAHASAN-5, bintil akar, berat kering tanaman dan berat biji kering--2 dan minggu ke-5setelah tanam. Tinggi tanamanbakteri dalam PGPR, karena bakteri PGPR hidup secaradan Seratia diidentifikasi sebagai PGPR penghasilSedangkata. Dari rerata data tinggi tanaman minggu ken. Sedangkan pada minggu kenggi terdapat pada perlakuan tanpa pemberian PGPR dengancm per tanaman.Data volume akar menunjukan nilai rerataP₂ P₃ P₄ P₅ P₆104,6117,5 120,6104,392,25 01015B P₀ P₁ P₂ P₃ P₄erat 100 biji kering (g)13,7 13,8 14,0 13,7Jenis PGPRtidakkering3,minggu ke -berpengaruhgenusan pada-3-4P₅ P₆13,6 13,4 13,84tertinggi volume akar terdapat pada perlakuan PGPR rumput ilalang ditambah legin dengan8,88 cm3,sedangkan yang terendah terdapat pada pemberian akar bambu ditambah legindengan 5,93 cm3. Data jumlah bintil akar juga menunjukkan nilai rerata terbanyak terdapatpada perlakuan akar rumput gajah dengan rata-rata memiliki 15,00 bintil sedangkan nilairerata yang terendah terdapat pada perlakuan akar bambu ditambah legin dengan rata-ratamemiliki 7,25 bintil dan nilai ada pada BNJ taraf 15% adalah 3,62. Unsur hara yang tersediamenyebabkan tanah menjadi subur sehingga akar dapat berfotosintesis dengan baik.Padapengamatan jumlah klorofil daun menunjukkan nilai rerata tertinggi terdapat pada perlakuanakar rumput gajah dengan nilai 37,97 spad unit,sedangkan yang terendah terdapat padaperlakuan tanpa pemberian PGPR ditambah legin dengan nilai 35,78 spead unit.Fotosintesis dapat dipengaruhi oleh faktor lain seperti suhu, kelembaban dan curahhujan. Dari data rerata suhu,kelembaban dan curah hujan selama penelitian menunjukkanbahwa rerata suhu pada bulan Desember 27,25 0C, Kelembaban 76,67 % dan curah hujan370,20 mm. pada bulan Januari 27,150C Kelembaban 76,70 % dan curah hujan 455,20 mm.pada bulan Februari 27,230C, Kelembaban 77,47 % dan curah hujan 403,90 mm. MenurutAdisarwanto (2007), suhu yang ideal pada musim kemarau berkisar antara 20-300C,kelembaban udara berkisar antara 75-90 % dan kebutuhan air untuk tanaman kedelai berkisarantara 350-550 mm per tahun. Suhu,kelembaban dan curah hujan yang sesuai dengan syaratpertumbuhan tanaman kedelai akan menyebabkan fotosintesis berjalan dengan optimal.Menurut Mustamu (2009), berat atau besarnya berat daun disebabkan oleh kegiatanfotosintesis yang tetap dipertahankan tinggi oleh tanaman. Selanjutnya, distribusi fotosintatjuga banyak didistribusikan ke bagian akar, batang dan polong. Hasil tersebut sesuai dengandata dari tabel 3 yang menunjukkan bahwa berat kering tanaman memiliki rerata tertinggiterdapat pada perlakuan rumput ilalang ditambah legin dengan 5,25 g,sedangkan yangterendah terdapat pada perlakuan tanpa pemberian PGPR dengan 3,56 g dan nilai pada BNJtaraf 15% adalah 1,61.Data berat biji kering,berat 100 biji kering dan polong isi menunjukkan pengaruh darifotosintat yang di translokasikan ke organ generatif berpengaruh baik terhadap berat bijikering,berat 100 biji kering dan jumlah polong isi. Data berat biji kering menunjukkan bahwaperlakuan akar ilalang dengan 42,27 g,sedangkan yang terendah terdapat pada perlakuantanpa pemberian PGPR ditambah legin dengan 19,88 g dan nilai ada pada BNJ taraf 15%adalah 11,40. Pada berat 100 biji kering dan polong isi nilai rerata tertinggi terdapat padaperlakuan akar bambu ditambah legin dengan 14,02 g dan perlakuan akar rumput gajahdengan 104,38 polong pertanaman, sedangkan yang terendah terdapat pada perlakuan akarrumput gajah dengan 13,41 g dan perlakuan tanpa pemberian PGPR dengan 86,25 polongpertanaman. Menurut Elidar (2000), tingginya hasil berat biji tanaman dipengaruhi olehkemampuan polong dalam menampung fotosintat yang dihasilkan.Meningkatnya prosesfotosintesis dapat mempengaruhi berat biji tanaman, karena semua hasil fotosintesis(fotosintat) ditransfer keseluruh bagian tanaman untuk pertumbuhan dan sebagian besardisimpan dalam biji. Selain itu perbedaan kandungan air yang tersimpan didalam biji jugamemberikan perbedaan berat biji kering kedelai.KESIMPULANPemberian PGPR dapat memberikan perbedaan pertumbuhan dan hasil tanamankedelai pada tanah gambut terhadap berbagai variabel pengamatan antara lain tinggi tanamanminggu ke-2 dan ke-5,jumlah bintil akar efektif,berat kering tanaman dan berat biji keringtanaman. Perlakuan PGPR akar ilalang ditambah legin memberikan rerata tertinggi padajumlah polong isi jumlah klorofil daun dan volume akar untuk berat 100 biji kering rerata5tertinggi terdapat pada perlakuan PGPR akar bambu ditambah legin dengan rerata 14.02 grper tanaman. Semua jenis PGPR menunjukkan perbedaan atas hasil yang tidak beragam padapenelitian ini.DAFTAR PUSTAKAAdisarwanto, T. 2007. Kedelai. Cetakan ke-3. Penebar Swadaya. Jakarta.Anggoro, U.K. 2013. Pedoman Teknis Pengelolaan Produksi Kedelai 2013.DirektoratJenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian. Jakarta.Elidar. Y. 2000. Jurnal Budidaya Pertanian. Vol.7. No 1. Samarinda.Kloepper et al. 1999. Plant root-bacterial interactions in biological control ofsoilbirnedisease and potential extention to systemic and foliar disease.Australia PlantPathology.Mustamu YA. 2009. Seleksi kedelai generasi F4 terhadap intensitas cahaya rendah di dualingkungan [Tesis]. Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.Pitojo, S. 2007. Benih Kedelai. Kanisius. Yogyakarta.Rahni, N.M. 2012. Efek Fitohormon PGPR Terhadap Pertumbuhan Tanaman jagung(Zea mays). J. Agribisnis dan Pengembangan Wilayah.3 (2):27-35p.SSuprapto, 2002. Bertanam Kedelai. Penebar Swadaya. Jakarta.6
Pengaruh Kompos Daun Matoa Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Petsai (Brassica chinensis L.) Pada Tanah Aluvial / The Effect of Matoa Leaf Compost to Growth and Yield of Chinese Cabbage on Alluvial Soil rusima rusima; siti hadijah; tatang abdurrahman
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 7, No 2 (2018): April 2018
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.835 KB) | DOI: 10.26418/jspe.v7i2.24302

Abstract

The Effect of Matoa Leaf Compost to Growth and Yield of Chinese Cabbage on Alluvial Soil Rusima (1), Siti Hadijah (2), Tatang Abdurrahman (2) (1) Students Faculty of Agriculture and (2) Lecturers Faculty of Agriculture University Tanjungpura Pontianak ABSTRACTThis research aimed to determine the effect of matoa leaf compost to growth  and yield of chinese cabbage on alluvial soil. The research at the experimental garden  in Faculty of Agriculture University Tanjungpura Pontianak, which taken 1,5 months, it was conducted on the 28th March 2017 to 11th Mei 2017. The research used a completely randomized design (CRD), which consists of a single factor, with six treatments, four replications and three samples of plant. The treatments in the research are: m1 (matoa leaf compost 92 g/polybag), m2 (matoa leaf compost 315 g/polybag),  m3 (matoa leaf compost 539 g/polybag),  m4 (matoa leaf compost 762 g/polybag), m5 (matoa leaf compost 986 g/polybag), dan m6 (matoa leaf compost 1.210 g/polybag). The variables observed in this research included the total leaf area, leaf chlorophyll, root volume, plant fresh weight, and dry weight of plant. The results showed that the matoa leaf compost treatment gave the same response to variables of root volume, leaf chlorophyll, and dry weight. Matoa leaf compost had a real response to total leaf area and fresh weight,  dose 539 g/polybag is an effective dose to increase the growth and yield of chinese cabbage plant on alluvial soil. Keywords: Alluvial, Chinese Cabbage, Matoa Leaf Compost.
PENGARUH BOKASI MUCUNA SP TERHADAP PERTUMBUUHAN DAN HASIL TANAMAN PETSAI PADA TANAH ALUVIAL kristianto, wahyudi
Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian Vol 8, No 2 (2019): April 2019
Publisher : Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

  This study aims were to determine the effect of the best dose of Mucuna sp for the growth and yield of Chinese cabbage on alluvial soil. This research was conducted from April 2018 to May 2018 at the Experimental Garden of the Faculty of Agriculture, Tanjungpura University. This study used a Completely Randomized Design (CRD) consisting of 6 treatments with 4 replications and each replication consisted of 4 samples. The treatment were of: 800g / polybag Bocation Mucuna sp; 1,200g / polybag Bocation ;Mucuna Sp, 1,600g / polybag Bocation Mucuna sp;2000g / polybag Bocation Mucuna sp, 2,400g / polybag . Bocation Mucuna sp, 2,800g / polybag Bocation Mucuna Sp. Variables observed in this study were the number of leaves (strands), greenish leaf content (spad unit), leaf area (cm2), root volume (cm3), fresh weight (g), and dry weight (g). The results indieated  that opplication statically, there were no significant  of Mucunasp  various dose used  did not increase the growth and yield of Chinese cabbage statically, there were no significant difference a mong treatment. In this a mong the variable observed, its showed that no best dosis of Mucuna sp.Keywords :Aluvial, Bocation Mucuna sp,Mustard petsai 
PENGARUH KONSENTRASI ZAT PENGATUR TUMBUH TERHADAP PERTUMBUHAN TUNAS ASAL MAHKOTA NANAS NORMALA NORMALA; Agustina Listiawati; Evi Gusmayanti
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 7, No 1 (2018): Februari 2018
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v7i1.22245

Abstract

PENGARUH KONSENTRASI ZAT PENGATUR TUMBUH TERHADAP PERTUMBUHAN TUNAS ASAL MAHKOTA NANAS  Normala 1), Agustina Listiawati 2), Evi Gusmayanti 2)1)Mahasiswi Fakultas Pertanian 2)Dosen Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak ABSTRAK Tanaman nanas yang diperbanyak dengan menggunakan tunas asal mahkota memiliki kemampuan berakar yang rendah sehingga perlu adanya perlakuan pemberian ZPT untuk memacu pertumbuhan perakaran tanaman tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah  untuk mendapatkan konsentrasi zat pengatur tumbuh (ZPT) yang terbaik untuk pertumbuhan tunas asal mahkota nanas. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Anjongan Melancar Kecamatan Anjongan  Kabupaten Mempawah yang berlangsung sejak Februari hingga Mei 2017. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 taraf perlakuan, 4 ulangan dan setiap ulangan terdapat 4 sampel tanaman. Perlakuan yang dimaksud adalah pemberian konsentrasi ZPT 50, 100, 200, 300 dan 400 ppm. Variabel yang diamati adalah tinggi tanaman (cm), jumlah daun (helai), panjang akar (g), berat basah akar (g) dan berat kering akar (g). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ZPT 100 ppm menunjukan hasil yang terbaik terhadap seluruh variabel yang diamati. Kata kunci : Zat pengatur tumbuh, Mahkota Nanas
Pengaruh Kotoran Bebek Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Selada Pada Tanah Ultisol rupiana ana
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 3, No 2: Agustus 2014
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v3i2.5265

Abstract

ABSTRACT DUCK DIRT EFFECT ON THE GROWTH AND RESULTS TO LETTUCE PLANTS ON ULTISOL SOIL Rupiana(1), Siti Hadijah2), Setia Budi(2) (1) Student Of Agriculture Faculty(2) The Lecturer Of Agriculture Faculty Of Tanjungpura University Pontianak The utilization of ultisol soil lettuce plants was limited in some factors which are poor physical, ehemical, and biological condition. Giving duck manure on ultisol soil is one way to solve this problem. This study was done to determine the effect and optimal dose of duck manure to growth and yield of lettuce plants in ultisol soil. The experiment was conducted the experimental farm of Agriculture faculty, Tanjungpura Universitas. The study from date twenty two October arrive twenty tree year November two thousand and thirteen. The method used in this research is completely randomized desigs (CRD) which consist of 6 treatment level, repeated 4 times and each treatment contained 3 plant samples the provision of duck dirt treatments given here are: (b0:0g/polybag), (b1:300g/polybag), (b2:600g/polybag), (b3:900g/polybag), (b4:1200g/polybag), (b5:1500g/polybag), the variables observation was undertaken here consist of: number of leaver, leaf area, fresh weight, dry weight, root volume, leaf greenness. Revel temperature, humidity and soil ph was also taken in addition to the observation variables. Result of the variance analysis shows that the number leaves on the second to the fourth week and the root volume didnt give significant effect while significant effect showed on leaf area, fresh weight, dry weight, leaf greenness level. The best dose of duck dirt is on b5 treatment, which is 1500/polybag. Keywors : duck dirt, ultisol, lettuce,
Studi Status Hara Ca dan Mg Sawah Tadah Hujan Desa Malek Kecamatan Paloh Kabupaten Sambas gunawan, denny; Ir. Rita Hayati, M.Si, Ir. Rita Hayati, M.Si; Ir. Ismahan Umran, M.Si, Ir. Ismahan Umran, M.Si
Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian Vol 5, No 3 (2016): Desember 2016
Publisher : Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the nutrient status of calcium and magnesium for rice crops in rainfed rice cultivation Malek village Paloh District of Sambas district. Study nutrient status Ca and Mg conducted extensive research sites 8 ha, followed by soil analysis in the laboratory. The method used in this research is to use the survey method. The experiment was conducted in November 2015 until January of 2016. The study variables: (1) calcium exchanged, (2) magnesium exchanged, (3) the pH of the soil, (4) test pyrite. Based on the analysis of chemical properties and soil fertility in the laboratory that the calcium levels between 2.26 to 3.36 with the criteria of low levels of magnesium values ​​between 0.73 to 0.89 with the criteria of low. As it is known that rice plants can be grown on soil pH ranging from 4.5 to 8.2 because the neutral pH conditions of Ca and Mg nutrients available to plants, so the nutrients needed by the rice crop are met.
THE EFFECT OF SPACING PLANT ON GROWTH AND RESULTS OF SOME SUPERIOR RICE VARIETIES WITH SRI METHOD Maulidi, Soniari Nurjani
Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian Vol 8, No 2 (2019): April 2019
Publisher : Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the effect of plants spacing and waiting for rice varieties on the growth and yield of rice plants using the SRI method and their interactions. The study was carried out in Kalimas Village, Sungai Kakap Subdistrict, Kubu Raya District, on tidal land. This study was conducted the month of May 2018 to August 2018, using a divided plot design consisting of plant spacing of 20 cm x 20 cm, 30 cm x 30 cm, and 40 cm x 40 cm as sub plots and superior rice varieties Situbagendit and Inpari 32 as a main plot. Each treatment was repeated 4 times, with 5 sample plants per map. The observation variables in this study were plant height, maximum number of tillers, number of productive tillers, panicle length, number of grains per panicle, percentage of filled grains per panicle, weight of 1000 grains of grain, weight of grain per clump and weight of grain per plot.               The results showed that the treatment of spacing significantly affected the variable number of productive tillers and weight of grain per clump. The results of the analysis of the diversity of superior rice varieties had a significant effect on panicle length and the percentage of grain content and the interaction of the two treatments had no significant effect. Effective spacing is found at a spacing of 40 cm x 40 cm, and the best superior rice varieties are found in the Situbagendit variety. Keywords: Inpari 32 varieties, plants spacing, rice, Situbagendit varieties, SRI method  
KARAKTERISASI PADI BERAS MERAH ASAL KABUPATEN SEKADAU PADA FASE GENERATIF DI TANAH PODZOLIK MERAH KUNING ( PMK ) MAINANDO, MAINANDO; WASI'AN, WASI'AN; ASTINA, ASTINA
Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 1 (2018): Februari 2018
Publisher : Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (669.193 KB)

Abstract

THE GENERATIVE PHASE CHARACTERIZATION OF RED RICE FROM SEKADAU REGENCY IN RED-YELLOW PODZOLIC SOIL (RYP) Mainando (1), Wasi'an (2) and Astina (2)(1) Student at the Faculty of Agriculture and (2) Lecturers at the Faculty of Agriculture University of Tanjungpura ABSTRACTThe morphological characteristics of Ensalang and Nanga Taman of red rice needed to be record. This is to provide an identity, in the assembly of varieties with desirable characters. This research aims to determine the morphological characters of the generative phase of Ensalang and Nanga Taman red rice which were grown Red Yellow Podzolik (RYP). The research was conducted in experimental garden of the Faculty of Agriculture of Tanjungpura University Pontianak for 66 days, from June 25th to August 29th 2017. The research used a complete Randomized Design Pattern (RDP), consisting of 2 treatment rice type i,e Ensalang and Nanga Taman. Each treatment was repeated 8 times, and each replication consisted of 5 plant samples. These observation variables were flowering time, grain tip color, panicle bud, panicle type, plant height, plant age, maximum number of tillers, number of productive tillers, panicle length, 100 g weight, number of per panicle grain, yield per polybag and environmental observation. The result of the characterization of red rice morphology of Ensalang and Nanga Taman in generative phase have different characteristic and characteristic on the color of grain tip, panicle outlet, and weight of 100 grains. Quantitative character differences are based on the T test results. The same morphological characteristics between the two types of red rice rice are panicle type, plant height, panicle length ,time of flowering of plant age, number of productive tillers, number of grain of proboscis and number of paddy unhulled rice.Keywords: Generative phase, morphological character, red rice, Ensalang and Nanga Taman.

Page 71 of 191 | Total Record : 1903