cover
Contact Name
Agus Ruliyansyah
Contact Email
agus.ruliyansyah@faperta.untan.ac.id
Phone
+62561-740191
Journal Mail Official
jsp.equator@gmail.com
Editorial Address
Jalan Prof. Dr. Hadari Nawawi
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
JURNAL SAINS PERTANIAN EQUATOR
ISSN : -     EISSN : 2964562X     DOI : http://dx.doi.org/10.26418/jspe.v12i1.59508
Jurnal Sains Pertanian Equator is open access, academic, citation indexed, and blind peer-reviewed journal. It covers original research articles, review, and short communication on diverse topics related to agriculture science. We accept submission from all over the world. All submitted articles shall never be published elsewhere, original and not under consideration for other publication
Articles 1,903 Documents
ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PADI SAWAH DENGAN PENERAPAN TEKNOLOGI HAZTON DI DESA KEPAYANG KECAMATAN ANJONGAN KABUPATEN MEMPAWAH Lawan, Teodorus Karmedi; Suyatno, Adi; Imelda, Imelda
Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 3 (2018): AGUSTUS 2018
Publisher : Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendapatan usahatani padi sawah dengan penerapan teknologi Hazton di Desa Kepayang, Kecamatan Anjongan, Kabupaten Mempawah. Responden dalam penelitian ini adalah petani padi sawah yang menerapkan teknologi Hazton. Metode yang digunakan adalah metode survey. Penentuan daerah penelitian dan penentuan responden ditentukan dengan cara purposive dengan jumlah 59 responden. Alat analisis yang digunakan adalah analisis pendapatan dan R/C Ratio. Hasil analisis menunjukan bahwa rata-rata pendapatan petani dengan penerapan teknologi Hazton yaitu sebesar Rp.13.114.521/Ha dengan produksi 5.155 Kg/Ha/MT dan total biaya Rp.8.535.911/Ha. Hasil perhitungan R/C Ratio menunjukan rata-rata  R/C Ratio >1, yaitu sebesar 3. Hal ini menunjukkan bahwa usahatani padi sawah dengan penerapan teknologi Hazton layak untuk diusahakan.Kata kunci: Padi sawah, Teknologi Hazton, Analisis Pendapatan
EFFECT OF DUCK MANURE ON THE GROWTH AND YIELD OF SWEET PEAPPER IN ALLUVIAL SOIL SONI, HAIRI MUZAINI
Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 3 (2018): AGUSTUS 2018
Publisher : Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

(1)Hairi  (2)Nurjani (2) Patriani(1)Students of the Faculty of Agriculture and (2)Lecturers of the Agriculture FacultyUniversity Tanjungpura PontianakJalan Prof . Dr. Hadari Nawawie-mail: hairi_vieroo@rocketmail.comABSTRACT This is to determine the effect and dose of duck manure the growth and yield of sweet peapper in alluvial soil. This research was conducted in the Kalimas Village, Sungai Kakap District, Kubu Raya Regency from January 29th,, 2017 to May 29th, 2017. This research used a Completely Randomized Design (CRD), consisting of six treatments and four replications. Each replication consisted of four plant samples. Dosage of duck manure as follows b0 (without treatment), b1 (150 g/polybag), b2 (300 g/polybag), b3 (450 g/polybag), b4 (600 g/polybag) and b5 (750 g/polybag). Variable of the research were on roots volume, plant height, productive branch, dry weight, number of fruit per plant and fruit weight per plant (g). The effect of duck manure impact on roots volume, plant height 8thweek, dry weight, productive branch, the number of fruit plant’s and fruit weight per plant’s.Keyword : Alluvial Soil, Manure Duck, Sweet Peppers
PENGARUH PEMBERIAN KOTORAN PUYUH TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BAWANG DAUN PADA TANAH PODSOLIK MERAH KUNING YESI APRILITA; PATRIANI PATRIANI; RAHMIDIYANI RAHMIDIYANI
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 7, No 3 (2018): AGUSTUS 2018
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.147 KB) | DOI: 10.26418/jspe.v7i3.26213

Abstract

PENGARUH PEMBERIAN KOTORAN PUYUH TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BAWANG DAUN PADA TANAH PODSOLIK MERAH KUNING Yesi Aprilita (1, Fatriani (2, Rahmidiyani (31)Mahasiswa Fakultas Pertanian, dan 2) Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpua Pontianakyesitrysya@gmail.comABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kotoran puyuh yang terbaik untuk pertumbuhan dan hasil bawang daun pada tanah podsolik merah kuning. Penelitian ini dilaksanakan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak. Penelitian ini dimulai dari tanggal 04 Oktober 2017 sampai dengan 27 November 2017. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL), yang terdiri dari 5 perlakuan dan 4 ulangan, masing-masing perlakuan terdiri dari 3 sampel, sehingga terdapat 60 tanaman. Perlakuan yang dimaksud yaitu : k1 = 1 ton/ha kotoran puyuh setara dengan 78 g/polybag, k2 = 6 ton/ha setara dengan 95 g/polybag, k3 = 11 ton/ha setara dengan 183 g/polybag, k4 = 16 ton/ha setara dengan 270 g/polybag, k5 = 21 ton/ha setara dengan 358 g/polybag. Variabel pengamatan yang diamati  adalah volume akar, jumlah anakan per rumpun, berat basah tanaman dan berat kering tanaman. Hasil penelitian menunjukkan pemberian kotoran puyuh berpengaruh tidak nyata terhadap semua variabel pengamatan.  Kata kunci : tanah podsolik merah kuning, bawang daun, kotoran puyuh
Kajian Kualitas Jelly Kering Lidah Buaya (Aloe vera) Dengan Substitusi Kulit Buah Naga Super Merah (Hylocereus costaricensis) ADE M HAKIKI; SUKO PRIYONO; DWI RAHARJO
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 6, No 2 (2017): Oktober 2017
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v6i2.19778

Abstract

Jelly Kering lidah buaya dengan subtitusi kulit buah naga super merahmerupakan variasi dari kue jelly yang mengutamakan manfaatnya untukkesehatan dengan menggunakan kulit buah naga yang selama ini dianggap sebagailimbah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan komposisi lidah buayadan Kulit Buah Naga terbaik pada pembuatan jelly kering lidah buaya dengansubstitusi Kulit Buah Naga berdasarkan sifat fisikokimia dan sensori. Penelitianini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan satu faktor yangterdiri dari tujuh perlakuan yaitu lidah buaya dengan substitusi Kulit Buah Naga80 g : 20 g, 70 g : 30 g, 60 g : 40 g, 50 g:50 g, 40 g:60 g,30 g: 70 g dan 20 g:80g. Setiap perlakuan diulang sebanyak empat kali. Variabel pengamatan meliputikadar air, kadar abu, pH, total padatan terlarut, vitamin C, total asam, tingkatkekerasan dan uji sensori yang meliputi tekstur, keasaman, dan warna. Hasilpenelitian terbaik jelly kering lidah buaya dengan substitusi kulit buah nagaadalah lidah buaya 30g dan kulit buah naga 70 g dengan hasil analisis kadar air(29,62%), kadar abu (0,69 %), pH (3,07), total padatan terlarut (25,82 0brix),vitamin C (30,80 mg/100), total asam (2,88%), tingkat kekerasan (0,03 %). Hasiluji organoleptik terbaik yaitu tekstur 3,44 (agak suka), rasa 3,80 (suka) dan warna3,68 (suka).Kata kunci : jelly kering, lidah buaya,buah naga super merah,substitusi
Kajian Hasil dan Komponen Hasil Beberapa Klon Lidah Buaya pada Dua Asal Media Tanah Gambut - - Agustina; - - Hidayat; Evi - Gusmayanti
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 5, No 3 (2016): Desember 2016
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v5i3.16365

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil dan komponen hasil klon lidah buaya pada dua asal media tanah gambut Rasau Jaya I dan Rasau Jaya II. Penelitian ini dilaksanakan di Kota Pontianak, Jl. Reformasi selama 6 bulan dimulai dari tanggal 2 Februari 2015 hingga 10 Agustus 2015. Rancangan  penelitian ini menggunakan metode eksperimen lapangan dengan pola Rancangan Petak Terbagi yang terdiri dari dua faktor, yakni faktor asal tanah  dan faktor klon lidah buaya. Faktor asal tanah yaitu Rasau Jaya I dan Rasau Jaya II sebagai main plot, dan faktor klon lidah buaya yaitu E4, E5, E6, E7, E8 sebagai sub plot. Perlakuan dikelompokkan sebanyak tiga kelompok, dan setiap unit perlakuan terdiri dari empat sampel tanaman, sehingga total keseluruhan sebanyak 120 tanaman. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah pertambahan tinggi tanaman (cm), pertambahan jumlah pelepah, pertambahan anakan, jumah pelepah hasil, berat total pelepah hasil (g), berat pelepah hasil (g), panjang pelepah hasil (cm), lebar pelepah hasil (cm), dan tebal pelepah hasil (cm). Berdasarkan penelitian, komponen hasil berupa panjang pelepah daun memiliki korelasi dengan hasil klon lidah buaya.   Kata  kunci: lidah buaya, klon, tanah gambut Kajian Hasil dan Komponen Hasil Beberapa Klon Lidah Buaya pada Dua Asal Media Tanah Gambut
PENGARUH PUPUK KANDANG KELINCI DAN ABU KAYU TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN PARE PADA TANAH ALUVIAL Jumiati, Jumiati; Nurjani, Nurjani; Harianti, Agus
Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 2 (2018): April 2018
Publisher : Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.068 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk kandang kelinci dan abu kayu terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman pare pada tanah aluvial. Penelitian bertujuan untuk mengetahui dosis kombinasi antara pupuk kandang kotoran kelinci dan abu kayu yang terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman pare pada tanah aluvial. Penelitian dilaksanakan di desa Parit Deraman, Punggur Besar Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya. Penelitian dilaksanakan selama ± 3 bulan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dalam bentuk faktorial dengan pola Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan terdiri dari dua faktor yaitu pupuk kandang kelinci dengan 3 taraf dan abu kayu sebanyak 3 taraf, sehingga diperoleh kombinasi 27 perlakuan. Tiap kombinasi perlakuan terdiri dari 3 sampel dan diulang sebanyak 3 kali, sehingga terdapat 81 unit percobaan. Variabel yang diamati dalam penelitian ini yaitu, jumlah daun per tanaman, volume akar, jumlah buah per tanaman, berat segar buah per tanaman, panjang buah per tanaman, diameter buah per tanaman dan berat kering tanaman. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa Interaksi antara pupuk kandang kelinci dan abu kayu berpengaruh nyata terhadap volume akar dan berat kering tanaman. menunjukan bahwa interaksi pemberian pupuk kandang kelinci dan abu kayu berpengaruh nyata terhadap jumlah daun per tanaman, volume akar, berat segar buah per tanaman, dan berat kering tanaman. Sedangkan untuk pemberian pupuk kandang kelinci berpengaruh nyata pada jumlah daun per tanaman, volume akar, berat segar buah per tanaman, dan berat kering tanaman. Pemberian abu kayu berpengaruh nyata pada variabel jumlah daun per tanaman, volume akar, jumlah buah per tanaman, berat segar buah per tanaman, panjang buah per tanaman, diameter buah per tanaman, dan berat kering tanaman.
PENGARUH LUMPUR LAUT DAN PUPUK NPK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL MELON PADA TANAH GAMBUT musni, safriadi
Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian Vol 8, No 2 (2019): April 2019
Publisher : Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the effect of sea mud and NPK fertilizer on the growth and yield of melon plants and to find out the interaction between sea mud and NPK fertilizers against growth and melon yield in peat soil. The research was carried out from January to May 2018, in the experimental garden of the Faculty of Agriculture, Tanjungpura University. The method used is a Complete Accurate Design (CRD) of two factors consisting of sea mud (l) with 4 levels namely l0 = 0 kg / plant, l1 = 0.6 kg / plant, l2 = 1.2 kg / plant, l3 = 1.8 kg / plant and NPK fertilizer factor (p) with 3 levels, namely p0 = 16.5 g / plant, p1 = 22.5 g / plant, p2 28.5 g / plant. Observation variables include, number of leaves, amount of chlorophyll, number of flowers, weight of dried plants, fruit diameter and weight. The results showed that the application of 1.2 kg of sea mud/plant was the best for growth and yield of melons in peatlands and NPK fertilizers of 22.5 g / plant was the best dose for dried plants variable, and there was an interaction between of sea mud and NPK fertilizer on variable amounts of chlorophyll and dry weight of melon plants in peat soil. Keywords: melons, NPK, peat, sea mud
Pengaruh Pupuk Kotoran Ayam Pada Berbagai Jarak Tanam Terhadap Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Ubi Jalar Ungu Di Tanah Gambut ARIYANTO, EKO; ZULFITA, DWI; SURACHMAN, SURACHMAN
Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 3 (2018): AGUSTUS 2018
Publisher : Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menemukan berapa jarak tanam dan dosis pupuk kotoran ayam terbaik pada ubi jalar ungu di tanah gambut, serta untuk mengetahui apakah terjadi interaksi antara jarak tanam dan dosis pupuk kotoran ayam pada ubi jalar  di tanah gambut. Penelitian ini menggunakan Rancangan Petak Terbagi (Split PlotDesign) pola faktorial dengan dua faktor perlakuan terdiri dari jarak tanam (J) sebagai petak utama (mainplot) dan pupuk kotoran ayam (P) sebagai anak petak (subplot). Adapun jarak tanam terdiri dari tiga taraf, yaitu : j1 = (70 cm x 20 cm) j2 = (70 cm x 25 cm) j3 = (70 cm x 30 cm)dan pupuk kotoran ayam terdiri dari tiga taraf, yaitu : p1 = (10 ton/ha) p2 = (15 ton/ha ) p3 = (30 ton/ha). Masing-masingperlakuan diulang sebanyak 3 kali.Variabel yang diamati pada penelitian ini adalah, panjang batang utama (cm), klorofil daun (spad unit), Berat kering tanaman (g), Jumlah umbi Per Tanaman, Berat umbi segar Per Tanaman, Berat umbi segar Per petak. Berdasarkan hasil penelitian ini tidak ditemukan perlakuan berbagai jarak tanam dan dosis pupuk kotoran ayam yang terbaik untuk pertumbuhan dan hasil tanaman ubi jalar ungu di tanah gambut serta tidak terjadi interaksi antara jarak tanam dan pupuk kotoran ayam terhadap pertumbuhan dan hasil ubi jalar ungu di tanah gambut. Kata kunci:JarakTanam,UbiJalarUngu, KotoranAyam, Tanah Gambut 
PENGARUH MEDIA TANAM TERHADAP KEBERHASILAN SETEK BATANG ROMBUSA PUTIH (Tabernaemountana coryimbusa) NUR KHOLIS; Sarbino Sarbino; Agus Hariyanti
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 7, No 3 (2018): AGUSTUS 2018
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.106 KB) | DOI: 10.26418/jspe.v7i3.25196

Abstract

INFLUENCE OF PLANTING MEDIA ON THE SUCCESS OF WHITE ROMBUSASTEM   CUTTINGS(Tabernaemontana coryimbusa)Nurkholis1, Sarbino2, Agus Hariyanti3 1Agriculture; Faculty University of Tanjungpura2Agriculture; Faculty University of Tanjungpura3Agriculture; Faculty University of Tanjungpurae-mail*nurkholis­_h@ymail.com ABSTRAKWhite rombusa is an ornamental plant that has a green-white leaf pattern as well as beautiful flowers with white color and has five crowns resembling a ship's propeller with the bottom shaped like a small pipe. This study aims to determine the effect of planting media on the success of  white rombusa stem cuttings and get the best planting media. The research was conducted at Bening Multi Flora Garden of Ampera Kota Baru Pontianak from March 30 - May 10, 2017. The design used Completely Randomized Design with treatment m1 = PMK soil (kontrol),  m2 = PMK soil andcharcoal husk(1:1), m3 = PMK soil andcow manure(1:1),        m4 = PMK soil and charcoal husk(2:1), m5 = PMK soil and cow manure(2:1),  m6 = PMK soil, charcoal husk, and cow manure. Observation parameters Percentage of live cuttings (%), Leaf emeration time (days), Number of shoots (fruit), Number of leaves (length), (cm), Root length (cm). Planting medium has an effect on to success of stem of  white rombusa and treatment PMK soil and cow manure (1:1) gives the best influence to the success percentage variable of live cut 70,85, Number of shoots 3,25,Number of leaves 8,00, Shoot length 6,05 and Root lengt 5,05 compared with other treatment. Keywords: Charcoal Husk, Cow Manure, Soil PMK 
STUDI INFILTRASI TANAH PADA LAHAN ENCLAVE DAN LAHAN KEBUN KELAPA SAWIT PTPN XIII DESA AMBOYO INTI KECAMATAN NGABANG KABUPATEN LANDAK budiriadi budiriadi
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 5, No 3 (2016): Desember 2016
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v5i3.16815

Abstract

STUDI INFILTRASI TANAH  PADA LAHAN ENCLAVE DAN LAHAN KEBUN KELAPA SAWIT PTPN XIII DESA AMBOYO INTI KECAMATAN NGABANG KABUPATEN LANDAK Budi Riadi(1), Riduansyah(2), dan Junaidi(2) (1)Mahasiswa fakultas pertanian dan (2)Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura ABSTRAK Tujuan penelitian ini untuk mempelajari laju dan kapasitas infiltrasi pada lahan enclave dan pada kebun kelapa sawit PTPN XIII kecamatan Ngabang kabupaten Landak.Metode yang digunakan dengan pengamatan langsung dilapangan dan pengambilan sampel di lapangan yang di analisis di laboratorium. Parameter yang diamati langsung di lapangan meliputi laju infiltrasi dan muka air tanah dan parameter pengamatan di laboratorium meliputi bobot isi, tekstur, berat jenis partikel, kadar air kapasitas lapangan, porositas, permeabilitas, dan C-organik. Pengukuran infiltrasi tanah dilapangan dilakukan dengan menggunakan infiltrometer ring ganda.Pengambilan sampel tanah yang dianalisis di laboratorium terdiri dari2 yaitu sampel tanah utuh dan sampel tanah terganggu dengan 2 kedalaman, kedalaman 0-20 cm dan 20-40 cm. Hasil penelitian menunjukan bahawa laju infiltrasi dan infiltrasi kumulatif pada lahan enclave lebih cepat dari pada lahan kebun kelapa sawit, kedalaman muka air tanah pada lahan kebun kelapa sawit lebih tinggi dari pada lahan enclave. Bobot isi tanah pada lahan enclave kedalaman 0 -20 cm dan 20 – 40 cm lebih tinggi dari pada lahankebun kelapa sawit kedalaman, kadar air kapasitas lapang pada lahan kelapa sawit kedalaman 0-20 cm dan 20-40 cm lebih tinggi di bandingkan kadar air kapasitas lapang lahan enclave, Porositas tanah pada kebun kelapa sawit lebih besar di bandingkan dengan lahan enclave baik pada kedalaman 0-20 cm maupun pada kedalaman 20-40 cm, C-organik tanah pada lahan kelapa sawit lebih tingggi dari lahan enclave sedangkan C-organik tanah. lahan kebun kelapa sawit dan lahan enclave pada kedalaman 20-40 lebih rendah dari kedalaman 0-20 cm,                   Kata kunci :Laju infiltrasi tanah,  lahan kebun kelapa sawit ,lahan enclave. SOIL INFILTRATION STUDY ON ENCLAVE LAND AND  PALM OIL LAND IN PTPN XIII AMBOYO INTI VILLAGE, NGABANG SUBDISTRICT, LANDAK REGENCY Budi Riadi(1), Riduansyah (2), dan Junaidi(2) (1), faculty of agriculture and (2)Lecturer of the faculty of agriculture,Universitas Tanjungpura Pontianak ABTRACT This study aims to of infiltration and infiltration rate a land enclave and a palm oil PTPN XIII  Ngabang District, Landak Regency. The method used is observation directly field and take samples in the field to analysis in laboratory. Obsevation parameters in the field is infiltration and the water soil dept surface. Obsevation parameters in laboratory is buld density , soil texture, specific gravity of the particles, the water content of field capacity, porosity, permeability, andC-organic.Themeasuring soil infiltration on the field used fold infiltrometres. The take samples for Analysis in laboratory there 2 namely intact sample  and disturbsample with 2 dept, a dept 0-20 cm and 20-40 cm. The results showed that infiltration rate and infiltration capacity on the lands enclave more quick than lands palm, the water soil dept surfaceon palm oil land  more than on the enclave land. The buld density on the enclave land at a dept 0-20 cm and 20 -40 cm more than on the palm oil lands,the water, content, of field capacity on the  palm oil land more than on the enclave land at a dept 0-20 cm and 20-40 cm, the soil porosity on the palm oil land at a dept 0-20 cm and 20-40 cm more than enclave land, the C-organic  on the palm oil land more than enclave land and C-organic on the palm oil land and enclave land at a dept 20-40lowets than at a dept 0-20 cm.                   Keywords. Soil infiltration rate, palm oil land, enclave land PENDAHULUAN Tanah (soil) merupakan kumpulan dari benda alam di permukaan bumi yang tersusun dalam horison-horison, terdiri dari campuran bahan mineral, bahan organik, air dan udara, dan merupakan media untuk tumbuhnya tanaman (Syamsuddin, 2012). Tanah mempunyai ciri fisik yang saling berbeda di suatu bidang dengan bidang lainnya. Setiap bidang tanah itu sangat unik dan letak atau lokasi tanah itu merupakan sifat/ciri yang sangat penting. Lahan kering adalah lahan yang dapat digunakan untuk usaha pertanian dengan menggunakan air secara terbatas dan biasanya hanya mengharapkan dari curah hujan atau menunggu hujan. Lahan ini mempunyai kondisi agro-ekosistem yang beragam, pada umumnya berlereng dan dengan kondisi kemantapan lahan yang labil (peka terhadap erosi) terutama bila pengelolaannya tidak memperhatikan kaidah konservasi tanah,  pertanian lahan kering : pertanian yang mengandalkan musim hujan karena hanya air hujan sebagai pasokan kebutuhan air bagi tanaman. Pada umumnya lahan kering berada pada ketinggin 500 - 1500 m diatas permukaan laut. Infiltrasi merupakan bagian dari siklus hidrologi yang berhubungan dengan kandungan air tanah dan simpanan air bawah tanah (ground water).Kapasitas infiltrasisuatu tanah dipengaruhi oleh sifat-sifat fisik tanah yaitu tekstur, struktur dan kandungan air tanah. Air hujan ketika jatuh diatas permukaan tanah, tergantung pada kondisi biofisik permukaan tanah, sebagian atau seluruh air hujan tersebut akan mengalir masuk kedalam tanah melalui pori-pori permukaan tanah. Penelitian ini bertujuan untukmempelajari laju infiltasi dan kapasitas infiltrasi pada lahan enclave dan kebun kelapa sawit.           METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di Desa Amboyo Inti Kabupaten Landak. Lokasi penelitian ini merupakan  perkebunan kalapa sawit. Penelitian berlangsung pada bulan desember 2015 sampai bulan januari 2016, mulai dari persiapan sampai penyajian data. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah ring sampel, meterán, kayu pengukur, penggaris, kamera, Kompas/GPS, karet gelang, infiltrometer ring ganda, oven, alat tulis dan kertas label, sedangkan Bahan yang digunakan adalah peta lokasi penelitian, peta titik pengamatan, peta jenis tanah, peta kelerengan, Sampel tanah utuh dan terganggu dan bahan-bahan kimia untuk analisis di laboratorium, Peta titik pengamatan dapat dilihat pada (hal 6). Pengukuran infiltrasi tanah dilapangan dilakukan dengan menggunakan infiltrometer ring ganda. Pengambilan sampel tanah untuk analisis di laboratorium diambil pada lahan enclave dan lahan kebun kelapa sawit dengan 2 kedalaman yaitu kedalaman 0-20 cm dan 20-40 cm. Penelitian dilakukan  dengan pengamatan langsung di lapangan dan pengambilan sampel di lapangan yang di analisis di laboratorium. Parameter yang diamati langsung di lapangan meliputi laju infiltrasi dan muka air tanah dan parameter pengamatan di laboratorium meliputi bobot isi, tekstur, berat jenis partikel, kadar air kapasitas lapangan, porositas, permeabilitas, dan C-organik.     Berdasarkan peta titik pengamatan di lapangan dapat dilihat pada gambar dibawah ini :   Gambar.Peta titik pengamatan HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Pengamatan di Lapangan­­ 1. Kedalaman Muka Air Tanah. Berdasarkan hasil pengamatan kedalaman muka air tanah di lapangan dapat dilihat pada gambar 2 di bawah ini :   Gambar 2. Kedalaman Muka Air Tanah Hasil penelitian menunjukan bahwa kedalaman muka air tanah kebun kelapa sawit lebih tinggi dari pada kedalaman muka air tanah lahan enclave pada pengamatan saat dilapangan.Kedalaman muka air tanah di dipengaruhi oleh tinggi muka air di saluran drainase.Semakin tinggi muka air tanah pada saluran drainase maka kedalaman muka air tanah semakin dangkal.Pada lahan enclave muka air tanah pada saluran drainase lebih tinggi dari pada di lahan kelapa sawit. Faktor lain yang mempengaruhi kedalaman muka air tanah pada lahan enclave lebih dangkal dari pada lahan kelapa sawit  adalah karena lahan enclave lebih dominan terdapat pada daerah cekungan atau daerah yang lebih rendah sedangkan kebun kelapa sawit terdapat pada pada dataran yang lebih tinggi. 2. Laju Infiltrasi Berdasarkan hasil pengamatan kedalaman muka air tanah di lapangan dapat dilihat pada gambar 3 di bawah ini :   Gambar 3. Laju infiltasi dan kapasitas infiltrasi kumulatif Berdasarkan data hasil penelitian di lapangan pada lahan kelapa sawit laju infiltrasi dan infiltrasi kumulatif masing-masing adalah 3,830 dan 8,084,  pada lahanenclave laju infiltrasi adalah 9,898 dan infiltrasi kumulatif adalah20,390. Berdasarkan hasil penelitian pada lahan enclave laju infiltrasi dan infiltrasi kumulatif lebih cepat dibadingankan dengan kebun kelapa sawit, hal ini disebabkan karena kandungan pasir pada lahan enclave lebih tinggi dibandingakn pada lahan kelapa sawit.Tanah dengan tekstur kasar (berpasir) memiliki pori-pori berukuran besar. Menurut Arsyad (1989), laju masuknya air ke dalam tanah ditentukan terutama oleh ukuran dan susunan pori-pori besar tersebut.  Pori-pori ini dinamai porositas aerasi karena mempunyai diameter yang cukup besar (sama dengan dan lebih besar dari 0,06 milimeter) yang memungkinkan air keluar dengan cepat sehingga tanah beraerasi baik. Pori-pori tersebut juga memungkinkan udara keluar dari tanah sehingga air dapat masuk. B. Hasil Analisis di Laboratorium 1. Tekstur Tanah Berdasarkan hasil analisis laboratorium maka dapat dilihata pada tabel 1 di bawah ini : Tabel 1. Fraksi tanah No. Lokasi Kedalaman (cm) Pasir (%) Debu (%) Liat (%) Kelas Tekstur Tanah 1 Kebun kelapa sawit 0-20 52,89 18,70 28,41 Lempung liat bepasir (Sandy clay loam) 20-40 47,04 20,78 32,18 Lempung liat berpasir (Sandy clay loam) 2 Lahan enclave 0-20 72,79 11,94 15,27 Lempung berpasir (sandy loam) 20-40 70,94 11,78 16,28 Lempung  berpasir (Sandy loam) Sumber : Hasil Pengukuran di Laboratorium (2015)   Dari hasil analisis tekstur di laboratorium dapat di lihat bahwa kelas tekstur tanah pada Kebun Kelapa Sawit dengan kedalaman 0-20cm dan 20-40 cm adalah lempung liat berpasir, sedangkan pada lahan enclave kedalaman 0-20 cm dan 20-40 cm adalah lempung berpasir. Dalam Hanafiah (2005) dikatakan bahwa, tanah yang didominasi pasir akan banyak mempunyai pori-pori makro (besar) di sebut lebih poreus, tanah yang di dominasi debu akan banyak mempunyai pori-pori meso(sedang) agak poreus, sedangkan yang didominasi liat akan mempunyai pori-pori mikro (kecil) atau tidak poreus, sehingga makin dominan fraksi pasir akan makin kecil daya menahan tanah terhadap air, energy atau bahan lain, dan sebaliknya jika liat yang dominan.   2. Bobot Isi Tanah(g/cm³) Berdasarkan hasil analisis laboratorium maka dapat dilihat pada gambar 4 di bawah ini :   Gambar 4.  Diagram Batang Nilai Rerata Bobot Isi Tanah Dari gambar di atas dapat diketahui bahwa rata-rata bobot isi pada lahan enclave sedikit lebih tinggi dari pada lahan kelapa sawit baik pada kedalaman 0-20 cm maupun pada kedalaman  20-40 cm, hal ini dipengaruhi oleh tekstur tanah pada kedua lahan tersebut. Tekstur tanah pada lahan kelapa sawit termasuk kedalam lempung liat berpasir dan tekstur tanah pada lahan enclave termasuk kedalam kelas liat berpasir. Soepardi (1983) menyatakan bahwa butir pasir biasanya berdekatan satu sama lain sehingga menghasilkan Bulk Density tinggi, di samping itu tanah berpasir kadar bahan organiknya rendah. Tanah dengan bahan organik yang tinggi mempunyai berat volume yang relatif rendah, ini sesuai dengan hasil penelitian yang menunjukan bahwa kandungan bahan orgaik  tanah pada lahan kelapa sawit lebih tinggi sehingga bobot isi tanh lebih rendah dari pada lahan enclave.     3. Porositas Total Tanah (%) Berdasarkan hasil analisis di laboratorium dapat dilihat pada gambar 5 di bawah ini :   Gambar 5.  Diagram Batang Nilai Rerata porositas total tanah (%) Dari hasil analisis dapat diketahui bahwa porositas tanah pada kebun kelapa sawit lebih besar di bandingkan dengan lahan enclave baik pada kedalaman 0-20 cm maupun pada kedalaman 20-40 cm,  hal ini disebakan oleh tekstur tanah pada kedua lahan tersebut. Tekstur tanah pada lahan kelapa sawit termasuk kedalam kelas lempung berliat dan tekstur tanah pada lahan enclave termasuk kedalam kelas liat berpasir, tanah yang berpasir porositasnya akan lebih rendah, hal ini sesuai dengan pernyataan  Foth (1994) yang menyatakan bahwa tanah permukaan yang berpasir mempunyai porositas lebih kecil dari pada tanah liat. Tanah berpasir mempunyai volume yang lebih sedikit yang ditempati oleh ruang pori. Air selalu  bergerak lebih cepat melalui tanah pasir daripada tanah liat. 4. Kadar Air Tanah (%Vol) Berdasarkan hasil analisis di laboratorium dapat dilihat pada gambar 6 di bawah ini :   Gambar 6.  Diagram Batang Nilai Rerata kadar air tanah (%) Dari gambar di atas dapat diketahui bahwa rata-rata persentase kadar air pada lahan kelapa sawit kedalaman 0-20 cm dan 20-40 cm lebih tinggi dibandingkan rata- rata persentase kadar air kapasitas lapang lahan enclave, hal ini disebabkan karena tekstur yang dimiliki oleh pada lahan kelapa sawit adalah tekstur liat berpasir sehingga kemampuan mengikat air rendah. Tanah yang bertekstur pasir, butir – butirnya berukuran lebih besar, maka setiap satuan berat mempunyai luas permukaan yang lebih kecil sehingga sulit menyerap atau menahan air. Hal ini sesuai dengan pendapat Hardjowigeno (2003), yang menyatakan bahwa  tanah–tanah bertekstur kasar mempunyai daya menahan air lebih kecil daripada tanah bertekstur halus. 5. Permeabiltas Tanah (cm/jam) Berdasarkan hasil analisis di laboratorium dapat dilihat pada gambar 7 dibawah ini :   Gambar 7.  Diagram Batang Nilai Rerata permeabilitas tanah (%) pada Kebun kelapa sawit dan lahan enclave Kedalaman Tanah 0-20cm dan  20-40cm. Hasil penelitian menunjukan bahwa permeabilitas tanah pada lahan enclavekedalaman 0-20cm dan 20-40cm lebih tinggi dibandingkan dengan permeabilitas tanah kebun kelapa sawit. Hal ini di sebabkan oleh tingginya kandungan pasir pada lahan enclave di bandingkan kandungan pasir pada kebun kelapa sawit. Tanah dengan kandungan pasir yang tingggi memiliki pori-pori makro sedikit, sehingga luas permukaan yang disentuh bahan menjadi sangat sempit, sehingga   daya   pegang   terhadap   air   sangat   lemah.   Kondisi   ini menyebabkan air dan udara mudah masuk keluar tanah,   hanya sedikit air yang tertahan. Sebagian besar ruang pori terisi oleh  udara sehingga pori-pori makro disebut juga pori drainase tinggi karena proses kehilangan airnya sangat cepat. (Hanafiah,2007). 6. Bahan organik tanah (%) Berdasarkan hasil analisis di laboratorium dapat dilihat pada gambar 8dibawah ini :   Gambar 8.  Diagram Batang Nilai Rerata Bahan Organik Tanah (%) Berdasarkan hasil analisis tanah di laboratorium menunjukkan bahwa tanah pada lokasi penelitian memiliki kandungan bahan organik tanah yang yang tergolong sangat rendah.Bahan organik yang paling tinggi di antara kedua lahan tersebut adalah pada kebun kelapa sawit di bandingkan dengan lahan enclave. Hal ini disebabkan karena pada kebun kelapa sawit daun-daun sisa proses pemanenan maupun rumput-rumput yang berada di sekitar kebun tertahan dan mengendap pada lahan tersebut dan tidak hanyut terbawa air hujan, sehingga serasah-serasah dari pohon akan menjadi bahan organik. Soepardi (1983) mengatakan, adanya humus dan tanah bertekstur halus sangat membantu mengurangi pengaruh buruk liat terhadap struktur tanah. Pengaruh bahan organik terhadap ciri tanah adalah pengaruh terhadap warna (coklat sampai hitam), pengaruh terhadap fisik seperti: merangsang granulasi; menurunkan plastisitas, dan kohesi; meningkatkan kemampuan menahan air. Dari warna itu kita dapat menarik kesimpulan tentang iklim daerah di mana tanah itu di jumpai.Satu hal yang perlu di ingat adalah tanah bukan suatu ukuran pasti mengenai jumlah humus yang terdapat dalam tanah.   Pengaruh menguntungkan dari serapan senyawa organik yang berjumlah sedikit ialah turut di serapnya beberapa zat tumbuh dan mungkin beberapa vitamin juga ikut terserap.Bahan organik mengandung sejumlah zat tumbuh dan vitamin dan pada waktu-waktu tertentu dapat merangsang pertumbuhan tanaman dan juga jasad mikro. PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, analisis di Laboratorium, analisis data, dan pembahasan yang terbatas pada lingkup penelitian ini, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : Tekstur tanah pada lokasi penelitian didominasi oleh fraksi pasir.Berdasarkan uji t bobot isi tanah dan porositas  pada kebun kelapa sawit dan lahan enclave menunjukkan bahwa dengan kedalaman 0-20 cm dan 20-40 cm berbeda tidak nyata. Kadar air tanah pada kedalaman 0-20 cm tidak berbeda nyata sedangkan pada kedalaman 20-40 cm berbeda nyata. Permeabilitas tanah, laju infiltrasi dan kapasitas infiltrasi kumulatif berbeda sangat nyata. Bobot isi tanah pada lahan enclave lebih tinggi dibandingkan dengan kebun kalapa sawit. Porositas pada lahan kebun kelapa sawit lebih tinggi dibandingkan lahan enclave. Kadar air tanah kapasitas lapang pada pada lahan kelapa sawit lebih tinggi dibandingkan dengan lahan enclave. Permeabilitas pada lahan enclave lebih tinggi dibandingkan dengan lahan kelapa sawit. Bahan organik tanah pada kedalaman 0-20 cm pada lahan kelapa sawit lebih tinggi dari pada lahan enclave baik pada kedalaman 0-20 maupun 20-40 cm.Kedalaman muka air tanah tiap titik pengamatan pada kebun kelapa sawit, Pada semua titik > 120 cm dan pada lahan enclave 89-99cm.Laju infiltrasi pada lahan enclave lebih cepat daripada lahan kelapa sawit. Pada lahan enclave laju infiltrasi sebesar 9,898 cm/jam dan pada kebun kelapa sawit sebesar 3,830 cm/jam. B.  Saran Pengukuran infiltrasi di lapangan harus memperhatikan kondisi lingkungan seperti persentase lereng dan kondisi pohon karena sangat menentukan tinggi rendahnya laju infiltrasi.2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang laju infiltrasi pada berbagai tipe pemanfatan lahan dan hubungan laju infiltrasi dengan sifat fisika dan kimia yang lain. DAFTAR PUSTAKA Arsyad S., 1989. Konservasi Tanah dan Air. IPB Press, Bogor. Foth H. D. 1994. Dasar-dasar Ilmu Tanah, Edisi 6. Adisoemarto S. Jakarta: Erlangga. Terjemahan dari: Fundamental of Soil Science Hakim N. M. Y., Nyakpa A. M., Lubis S. G., Nugroho M. R., Soil M. A., Diha G. B., Hong dan H.H. Barley. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung: Lampung. Hanafiah, K. A. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.Devisi Buku Perguruan Tnggi PT RajaGrafindo Persada. Jakarta. Hardjowigeno, S. 2003.  Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Jakarta: Akademika Pressindo. Soepardi. 1983.Sifat Dan Ciri Tanah.Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Page 69 of 191 | Total Record : 1903