cover
Contact Name
Reni Suryanti
Contact Email
jpppolbangtanbogor@gmail.com
Phone
+628128822179
Journal Mail Official
renisuryanti@pertanian.go.id
Editorial Address
Bogor Agricultural Develpoment Polytechnic Jln. Aria Surialaga No 1, Pasir Kuda Bogor 16119
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penyuluhan Pertanian
ISSN : 19075893     EISSN : 25990403     DOI : https://doi.org/10.51852/jpp.v16i1.460
This journal contains the results of research related to developing issues in the field of agricultural extension based on the needs of the community or farmer groups. published articles include research articles and literature studies.
Articles 240 Documents
PERSEPSI PETANI TERHADAP PENGGUNAAN MEDIA AUDIO VISUAL DALAM PELAKSANAAN PENYULUHAN (Studi Implementasi Penyuluhan di Kec. Junrejo Kota Batu Jawa Timur) Ugik Romadi; Hamyana Hamyana
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 11 No 1 (2016)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.233 KB) | DOI: 10.51852/jpp.v11i1.330

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi petani terhadap penggunaan media audio visual dalam pelaksanaan penyuluhan pertanian serta menganalisis perubahan pengetahuan petani setelah pelaksanaan penyuluhan dengan menggunakan media audio visual. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen yang merupakan bagian dari metode kuantitatif, dan memiliki ciri khas tersendiri terutama dengan adanya kelompok kontrol. Dalam bidang sains, penelitian dapat menggunakan desain eksperimen karena variabel dapat dipilih dan variabel-variabel lain yang dapat mempengaruhi proses eksperimen itu dapat dikontrol secara ketat. Sehingga dalam metode ini, peneliti memanipulasi paling sedikit satu variabel, mengontrol variabel lain yang relevan, dan mengobservasi pengaruhnya terhadap variabel terikat. Manipulasi variabel bebas inilah yang merupakan salah satu karakteristik yang membedakan penelitian eksperimental dari penelitian-penelitian lain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan penyuluhan dengan menggunakan media audio visual (video penyuluhan) dapat diterima oleh petani secara lebih luas dari semua kalangan, selain lebih mudah dalam memahami isi materi yang disampaikan, petani juga dapat langsung melihat proses/ tahapan dari isi materi tersebut karena melibatkan lebih banyak indera untuk menerima rangsangan yang disampaikan.
UPAYA PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PTT TANAMAN KEDELAI MELALUI BEBERAPA METODE PENYULUHAN DI BOGOR Neni Musyarofah
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 11 No 1 (2016)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.388 KB) | DOI: 10.51852/jpp.v11i1.331

Abstract

Pemahaman pengelolaan tanaman terpadu pada petani masih terbatas, sehingga perlu sosialisasi kepada petani untuk mengaplikasikan teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) pada budidaya kedelai. Dibutuhkan upaya pengembangan teknologi ini agar diterima masyarakat melalui penelitian ini. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui sejauhmana penerapan paket teknologi PTT pada komoditas tanaman kedelai oleh petani dan untuk menganalisis metode penyuluhan yang bisa diterima oleh petani dalam rangka upaya pengembangan paket teknologi PTT dalam budidaya kedelai. Penelitian ini dilakukan pada bulan September sampai Desember 2013 di Leuwiliang Kabupaten Bogor. Desain penelitian yang digunakan survei deskriptif korelasional. Lokasi penelitian adalah Desa Karyasari, Leuwiliang - Bogor.Hasil penelitian ini adalah bahwa penerapan teknologi PTT pada budidaya kedelai dikategorikan Cukup Baik/sedang (49,35%). Penerapan teknologi dasar mencapai 56,61% dan penerapan teknologi pilihan mencapai 46,57%. Aspek teknologi budidaya kedelai yang rendah tingkat adopsinya adalah 1) VUB, 2) Mutu benih, 3) Penerapan jarak tanam/ populasi tanaman, 4) Penyiapan lahan, 5) Pemupukan, 6) Pemberian kapur pertanian, dan 7) Pengairan. Metode penyuluhan yang diterima oleh petani (1) Kursus tani / pelatihan bagi petani, (2) Temu Usaha/pertemuan bisnis, (3) Temu Lapangan/hari lapangan petani, dan (4) Kunjungan / studi tour.
ANALISIS PENDAPATAN DAN KELAYAKAN USAHA BUDIDAYA RUMPUT GAJAH MELALUI REHABILITASI KESUBURAN TANAH Maspur Makhmudi
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 11 No 1 (2016)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.516 KB) | DOI: 10.51852/jpp.v11i1.332

Abstract

Faktor yang mempengaruhi rendahnya dinamika bisnis hijauan pakan ternak diantaranya tingkat kesuburan tanah yang rendah berakibat rendahnya produksi dan pendapatannya. Permasalahan tersebut dapat diatasi melalui perbaikan tingkat kesuburan tanah dengan penambahan bahan organik (pupuk kandang) dan bahan anorganik (pupuk urea, TSP, KCl). Tujuan penelitian: (1) mengetahui produksi segar rumput gajah dengan rehabilitasi kesuburan tanah; (2) menganalisis pendapatan usaha hijauan pakan ternak rumput gajah dengan rehabilitasi kesuburan tanah; dan (3) mengetahui kelayakan usaha HPT rumput gajah dengan rehabilitasi kesuburan tanah. Hasil penelitian diketahui (1.a) rerata produksi segar rumput gajah persatuan luas (kg/8 m²) perlakuan pemberian non pupuk urea/kontrol dan pemberian pupuk urea pada defoliasi ke dua berjumlah 43,25 kg/8m² lebih besar dari defoliasi ke satu berjumlah 19,625 kg/8m². (1.b) produksi rumput gajah yang dihasilkan melalui perlakuan non pupuk urea PO = 135,133 ton/ha/th dan perlakuan pupuk urea berturut-turut berjumlah 147.260 ton/ha/th, 171 ton/ha/ th, dan 187,155 ton/ha/th belum mencapai batas kenaikan produksi maksimum hingga mencapai 226,9 ton/ha/th, dan 376 ton/ha/th sesuai rekomendasi hasil penelitian sebelumnya; (2.a). Pendapatan rumput gajah untuk perlakuan pemberian pupuk urea P3 = Rp43.622.500,- (Empat puluh juta enam ratus dua puluh dua ribu lima ratus rupiah) lebih besar dari perlakuan pemberian pupuk urea P1= Rp 31.763.500,- (Tiga puluh satu juta tujuh ratus enam puluh tiga ribu lima ratus rupiah), dan P2 = Rp38.881.500,- (Tiga puluh delapan juta delapan ratus delapan puluh satu ribu lima ratus rupiah) ditentukan oleh faktor input produksi berupa jumlah pemberian pupuk N (urea) berjumlah 12,222 gram urea/rumpun/defoliasi (75 kg urea/ha/defoliasi lebih besar bila dibandingkan dengan jumlah pemberian pupuk N (urea) untuk P1 dan P2 masing-masing berjumlah 4,074 gram urea/rumpun/defoliasi (25 kg urea/ha/defoliasi), dan 8,148 gram urea/rumpun/defoliasi (50 kg urea/ha/defoliasi); (2.b) rerata pendapatan per bulan usaha budidaya rumput gajah dengan perlakuan pupuk urea P1 = Rp 2.646.958,- P2 = Rp 3.240.125,- dan P3 = Rp 3.635.208,- yang lebih besar bila dibandingkan dengan upah per bulan pekerja non pertanian berdasarkan Upah Minimum Regional (UMR) di Kabupaten Bogor tahun 2015, yaitu Rp 2.590.000,-; (3) kelayakan usaha rumput gajah diketahui untuk non pupuk urea/kontrol (PO)= 3,28 dan perlakuan pupuk urea (P1 = 3,56), ( P2 = 4,12), dan (P3 = 4,48) memenuhi batasan nilai layak usaha π ≥1 yang dapat diartikan bahwa penambahan biaya sebesar Rp 1,- dapat meningkatkan penerimaan non pupuk urea/kontrol (PO)= Rp 3,28,- dan perlakuan pupuk urea (P1 = Rp 3,56,-), ( P2 = Rp 4,12,-), dan (P3 = Rp 4,48,-).
PERMBERDAYAAN PETANI DALAM UPAYA PENCEGAHAN KONVERSI LAHAN PERTANIAN DENGAN PENDEKATAN KELEMBAGAAN DAN INKONSISTENSI RENCANA TATA RUANG WILAYAH Tri Ratna Saridewi
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 11 No 1 (2016)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.455 KB) | DOI: 10.51852/jpp.v11i1.333

Abstract

Pencegahan konversi lahan pertanian merupakan kegiatan yang harus dilakukan untuk mewujudkan peran sektor pertanian secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis inkonsistensi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) kabupaten/kota yang dilalui DAS Ciliwung dengan penutupan lahan dan menganalisis pemberdayaan petani dalam upaya perlindungan lahan pertanian dengan pendekatan kelembagaan. Metode yang digunakan adalah analisis spasial menggunakan teknik perhitungan berbasis sistem informasi geografis. Data yang digunakan adalah citra satelit landsat 7+ETM Tahun 2014, RTRW Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kota Depok dan DKI Jakarta. Analisis komponen kelembagaan meliputi komponen property right, batas yuridiksi dan aturan representasi. Hasil penelitian ini adalah terdapat inkonsistensi RTRW dengan pola penutupan lahan, meliputi hutan, lahan pertanian, lahan terbangun dan badan air. Lahan pertanian seluas 3098,48 ha dalam RTRW direncanakan sebagai lahan terbangun, sehingga harus dilakukan revisi terhadap RT RW. Berdasarkan aspek kelembagaan, pemerintah daerah harus mampu mengimplementasikan perencanaan yang telah disusun. Keterlibatan petani sangat diperlukan dalam upaya pencegahan konversi lahan. Pemberdayaan petani untuk mencegah konversi lahan dapat dilakukan melalui pemberian insentif, sosialisasi program dan kegiatan pendampingan.
ADOPSI PETANI DALAM MENERAPKAN SEPULUH PENANDA PADI SAWAH (Oryza sativa. L) DI DESA NEGARARATU KECAMATAN NATAR KABUPATEN LAMPUNG SELATAN Tri Kusnanto; Wahyu Trisnasari
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 11 No 1 (2016)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.91 KB) | DOI: 10.51852/jpp.v11i1.334

Abstract

Salah satu strategi dalam upaya pencapaian produksi usahatani padi adalah penerapan inovasi teknologi yang sesuai dengan sumberdaya pertanian pada spesifik lokasi. Penanda Padi didefinisikan sebagai pendekatan pengelolaan tanaman padi yang dinamis dengan menampilkan teknologi dan pengelolaan budidaya terbaik sebagai penanda kunci; membandingkan budidaya petani dengan hasil budidaya terbaik; dan pembelajaran mandiri melalui diskusi kelompok, untuk keberlanjutan peningkatan produktivitas, pendapatan dan kelestarian lingkungan. Sepuluh penanda padi terdiri: 1). Varietas anjuran, 2). Benih berlabel, 3). Tinggi pematang minimal 25 cm, 4). Semai serentak, 5). Rumpun tanaman optimum, 6). Tingkatkan jumlah anakan dengan pupuk berimbang, 7). Pastikan tidak ada kekurangan atau kelebihan air, 8). Pastikan tidak ada kehilangan hasil karena hama dan penyakit, 9). Panen tepat waktu, dan 10). Perontokan gabah secepatnya. Penelitian bertujuan: 1) Menjelaskan tingkat adopsi petani dalam menerapkan sepuluh penanda padi sawah, 2) Membantu upaya pemecahan masalah yang dihadapi petani berdasarkan indikator nilai terendah dalam menerapkan sepuluh penanda padi sawah. Penelitian dilaksanakan Bulan Maret sampai dengan April 2015 berlokasi di Desa Negararatu Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan. Sampel kelompok dipilih secara purposive sampling sebanyak 4 kelompoktani yaitu RejoI (35 orang), RejoII (30 orang), RejoIII (25 orang), dan Mekar Sari (35 orang). Total sampel 125 orang. Teknik pengambilan sampel responden menggunakan Random sampling. Untuk mengetahui derajat keeratan hubungan diantara variabel yang diukur digunakan Tabel Koefisien Konkordansi dan untuk mengetahui mean rank menggunkan Kendall’s W. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa hasil analisis data menggunakan Kendall’s W Test mean rank masing-masing indikator adopsi memiliki nilai: Sadar (3.63), Minat (3.45), Menilai (1.81), Mencoba (3.06), dan Menerapkan (3.05). Indikator terendah adalah menilai (1.81). Untuk uji sepuluh penanda padi sawah, peringkat terendah pada kelebihan/kekurangan air dengan mean rank 1,30. Dengan demikian materi penyuluhan diarahkan pada topik yang berkaitan dengan indikator “menilai” pada khususnya dan adopsi sepuluh penanda padi sawah secara umum.
EVALUASI EFEKTIVITAS DIKLAT INSEMINASI BUATAN DALAMPENINGKATAN KINERJA DAN PENDAPATAN INSEMINATOR,SERTA PRODUKTIVITAS SAPI DAN PENDAPATAN PETERNAK Euis Nia Setiawati
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 12 No 1 (2017)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.399 KB) | DOI: 10.51852/jpp.v12i1.336

Abstract

Penelitian ini  bertujuan  untuk  mengetahui  efektivitas  penyelenggaraan   Diklat Inseminasi Buatan (IB) terhadap  peningkatan kinerja  inseminator       dan  keberhasilan Diklat IB terhadap peningkatan  pendapatan  dan produktivitas sapi. Subyek penelitian ini  adalah alumni Diklat IB  yang  diselenggarakan oleh Balai Besar Pelatihan Hewan Cinagara Bogor  pada tahun 2013   dan 2014.   Sampel / Responden dilakukan secara acak (random sapling) dan diambil sebanyak 67 orang atau  40  persen dari total alumni sebanyak 150 orang. .Jenis penelitian   deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Alat ukur  yang digunakan   kuesioner selanjutnya  data  dianalisa dengan model interaktif Hasil penelitian menunjukkan Efektivitas Penerapan Materi Diklat IB di wilayah kerja responden adalah 9,72 persen menerapkan Sangat Lengkap, 83,3% menerapkan Lengkap dan  6,94%   Cukup Lengkap. Kinerja  responden   dalam efisiensi reproduksi adalah S/C  2,05, CR 46,14% dan calving inteval 15,7 bulan Hasil Pelayanan IB  Responden, dapat meningkatkan populasi  sapi dewasa betina  di wilayah kerjanya yaitu rata-rata sebanyak 19%  selama dua tahun. Kegiatan Diklat IB dapat meningkatkan pendapatan responden  rata-rata sebesar  Rp  3.469.000 / bulan  dengan kelayakan usaha adalah R/C ratio 2,3. B/C ratio 0,56  dan ROI  8,87% / bulan  dan meningkatkan pendapatan peternak    rata-rata  sebesar Rp 3 500.000,- sampai Rp 4.000.000 dalam kurun waktu dua tahun.
FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEMANDIRIAN PETANI DALAM PENERAPAN INOVASI PTT PADI SAWAH DI KABUPATEN GARUT Dedy Kusnadi
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 12 No 1 (2017)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.161 KB) | DOI: 10.51852/jpp.v12i1.338

Abstract

Petani yang menggeluti usaha tani padi khususnya padi sawah masih jauh dari kriteria petani yang mandiri. Berbagai upaya juga telah dilakukan untuk mencapai kemandirian petani, khususnya oleh penyuluh. Petani pada dasarnya senantiasa berusaha mencari peluang-peluang dalam meningkatkan kesejahteraannya diantaranya melalui penerapan inovasi, sehingga seharusnya petani dan keluarganya mampu mandiri dalam usaha taninya. Beberapa faktor penentu kemandirian pada hakekatnya menyangkut aspek kualitas hidup, aspek kerja, aspek karya, dan aspek pikir. Faktor faktor penentu tersebut akan memungkinkan seseorang meningkatkan kualitas dirinya. Penelitian bertujuan mendeskripsikan faktor penentu kemandirian petani dalam penerapan inovasi Pengelolaaan Tanaman Terpadu (PTT) padi sawah dan menjelaskan hubungan antara karakteristik petani, akses informasi dan kinerja penyuluhan dengan kemandirian petani di Kabupaten Garut. Penelitian dilakukan dengan pendekatan survei. Analisis data menggunakan statistik deskriptif, dan uji korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor penentu kemandirian petani dalam menerapkan inovasi PTT padi sawah yaitu karakteristik petani, akses informasi dan kinerja penyuluh. Faktor-faktor penentu tersebut juga mempunyai hubungan yang nyata dengan kemandirian petani dalam menerapkan inovasi PTT padi sawah.
PERSEPSI PENYULUH PERTANIAN DALAM PENYELENGGARAAN PENYULUHAN ERA OTONOMI DAERAH Dayat Dayat
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 12 No 1 (2017)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.803 KB) | DOI: 10.51852/jpp.v12i1.339

Abstract

Era otonomi daerah ditandai dengan berpindahnya pengelolaan penyuluhan petanian dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Peristiwa tersebut tidak segera membuat penyelenggaraan penyuluhan kembali berjalan optimal. Namun demikian, pemerintah kabupaten bogor telah berusaha melakukan pengelolan dan penyelenggaraan penyuluhan. Penelitian bertujuan mendeskripsikan penyelenggaraan penyuluhan pertanian berbasis petani di era otonomi daerah di Kabupaten Bogor. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Responden penelitian adalah seluruh penyuluh pertanian di Kabupaten Bogor. Data dianalisis dengan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan penyelenggaraan penyuluhan pertanian di Kabupaten Bogor belum sepenuhnya mencerminkan otonomi daerah dan berbasis petani. Sebagian besar indikator penyelenggaraan penyuluhan belum sepenuhnya dilaksanakan. Pengelolaan dan pengambilan keputusan belum mencerminkan kewenangan pemerintah daerah. Pendekatan penyuluhan belum mencerminkan bottom up, pola belum berorientasi spesifik lokalita, stakeholder belum terjalin sinergis, program belum berorientasi kebutuhan petani, materi belum sepenuhnya sesuai kebutuhan petani, pengembangan pendidikan belum sepenuhnya difasilitasi, pendanaan belum optimal, luaran penyuluhan belum sepenuhnya berpihak pada perubahan perilaku dan pemberdayaan. Namun demikian beberapa indikator telah dilaksanakan diantaranya tujuan penyuluhan sudah
DAMPAK BANTUAN PROGRAM CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR)PERTANIAN PT AGRICONTERHADAP PENDAPATAN/KESEJAHTERAAN PETANI JAGUNG DI BOGOR, JAWA BARAT Azhar Azhar
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 12 No 1 (2017)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (507.981 KB) | DOI: 10.51852/jpp.v12i1.340

Abstract

Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh bentuk implementasi program CSR perusahaan terhadap penurunan tingkat kemiskinan di pedesaan yaitu pendapatan petani yang mendapatkan program CSR Jagung Silase dari PT Agricon. Lokasi penelitian adalah Wilayah kerja PT Agricon di Kabupaten Bogor yaitu Kecamatan Ciseeng Desa Bungur dan Desa Bantar Kambing. Dari kedua Desa diketahui bahwa jumlah kelompok tani yang mendapatkan program CSR dari PT Agricon adalah dua kelompok dengan jumlah anggota keseluruhan 50 anggota. Penelitian ini bersifat explanatory study dan korelasional dengan metode pengambilan sampel survei/sensus. Hasil penelitian menunjukkan: 1) Konsep program CSR PT Agricon adalah pemberdayaan petani dalam berusahatani tanaman jagung dan mengolahnya sebagai bahan pakan ternak silase. 2) Terdapat korelasi positif pada tingkat kesalahan sebesar 1% yang menggambarkan bahwa a) Variabel Program CSR PT Agricon terhadapCitra Perusahaan sebesar 0,561; b) Variabel Citra Perusahaan terhadap Partisipasi Masyarakat sebesar 0,563; c) Variabel Partisipasi Masyarakat terhadap Proses Pemberdayaan sebesar 0,737; dan d) Proses Pemberdayaan terhadap Peningkatan kesejahteraaan petanisebesar 0,695.
PERAN KELEMBAGAAN DAN ATRIBUT INOVASI DALAM ADOPSI TEKNOLOGI PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU PADI SAWAH DI KABUPATEN BANDUNG BARAT DAN SUMEDANG Effendy, Lukman
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 12 No 1 (2017)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.21 KB) | DOI: 10.51852/jpp.v12i1.341

Abstract

Penelitian peran kelembagaan dan atribut inovasi dalam mempengaruhi adopsi teknologi PTT telah dilakukan di beberapa kecamatan di Kabupaten Bandung Barat dan Sumedang. Tujuan penelitian untuk mendiskripsikan peran kelembagaan penyuluhan, kelompok tani dan atribut inovasi dalam adopsi PTT. Penelitian menggunakan pendekatan survei, di mana seluruh anggota kelompok tani yang mengikuti program peningkatan produksi padi jagung dan kedelei sebagai populasi. Penetapan sampel dilakukan secara acak sederhana (Simple Random Sampling), dan dengan rumus Slovin banyaknya sampel berjumlah 124 orang responden. Berdasarkan analisis diskriptif diperoleh bahwa; tingkat kerumitan inovasi, peran kelembagaan penyuluhan dalam memberikan percontohan usahatani, peran kelompok tani sebagai unit produks, dan penggunaan varietas unggul baru pada teknologi PTT, memperoleh nilai rata-rata terendah baik di Sumedang maupun di Bandung Barat.