Articles
240 Documents
MOTIVASI PETANI DALAM PENERAPAN TEKNOLOGI JAJAR LEGOWO PADI SAWAH
Kusmiyati Kusmiyati;
Rudi Hartono
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 9 No 1 (2014)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (151.88 KB)
|
DOI: 10.51852/jpp.v9i1.320
Program SL-PTT telah didiseminasikan kepada 24.000 kelompoktani di tahun 2012 dandiharapkan mampu memotivasi petani untuk menerapkannya. Telah dilakukan penelitian untukmengetahui tingkat motivasi dan tingkat pengetahuan petani dalam penerapan teknologi jajarlegowo padi sawah di Desa Sumbaga Kecamatan Bumijawa Kabupaten Tegal pada bulan Meisampai Agustus 2013. Sampel penelitian adalah 50 orang petani pada Kelompoktani NgestuRahayu yang menerapkan teknologi tanam jajar legowo setelah mengikuti kegiatan SL-PTT padatahun 2012. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuisioner dan wawancara denganalternatif jawaban menggunakan skor 1-4. Tingkat motivasi dihitung berdasarkan persentasejumlah skor jawaban dibandingkan dengan jumlah skor maksimal. Hasil penelitian menunjukkanbahwa motivasi petani dalam menerapkan teknologi jajar legowo dan pengetahuannya tentangjajar legowo tergolong kriteria tinggi (rata-rata 68,31% dan 67,49%). Pendidikan sangat nyataberhubungan dengan motivasi (r=0,5003; p=0,0003) dan pengalaman sangat nyata berhubungandengan pengetahuan (r=0,6791; p=0,0000).
KEMANDIRIAN PETANI DALAM PROSES PEMASARAN HASIL TANAMAN KARET DI DESA GUNUNG BUNGSU KABUPATEN KAMPAR
Toha, Moh.;
Musyadar, Achmad
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 9 No 1 (2014)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (298.621 KB)
|
DOI: 10.51852/jpp.v9i1.321
Kegiatan penelitian dimulai dari Maret sampai dengan Mei 2013 di desa Gunung Bungsu, Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar Provinsi Riau. Tujuan Penelitian adalah mendeskripsikan kemandirian petani dalam proses pemasaran hasil tanaman karet dan menganalisis faktor yang berhubungan dengan kemandirian petani dalam pemasaran hasil tanaman karet. Data dikumpulkan dari 40 responden menggunakan kuesioner dalam bentuk pernyataan atau pertanyaan. Data diolah dalam bentuk tabulasi, kemudian dianalisis menggunakan rumus rata-rata ranking uji keselarasan Kendall’s W dan uji korelasi rank Spearmen menggunakan SPSS.18. Hasil analisis pada indikator pembinaan diri menunjukkan ranking tertinggi adalah kemampuan memanfaatkan penyuluh dan terendah kemampuan memanfaatkan peluang pelatihan. Indikator manajemen ranking tertinggi adalah kemampuan dalam membuat perencanaan dan ranking terendah kemampuan dalam melaksanakan kegiatan sesuai dengan rencana. Indikator sosial rangking tertinggi adalah kemampuan bekerjasamadalam kelompok dan terendah kemampuan menjaring kerjasama kemitraan. Indikator proses pemasaran ranking tertinggi adalah kemampuan mengakses informasi pasar dan ranking terendah kemampuan menjalin kemitraan. Indikator konsep pemasaran ranking tertinggi adalah pengetahuan keinginan pelanggan dan terendah pengetahuan permintaan pelanggan. Indikator bauran pemasaran ranking tertinggi adalah pengetahuan bauran tempat dan terendah pengetahuan bauran harga. Indikator pembinaan diri berkorelasi signifikan terhadap proses pemasaran dan konsep pemasaran akan tetapi tidak signifikan dengan bauran pemasaran.Indikator manajemen berkorelasi signifikan dengan proses pemasaran, konsep pemasaran dan bauran pemasaran. Indikator sosial berkorelasi sangat signifikan dengan proses pemasaran dansignifikan dengan konsep pemasaran serta tidak signifikan dengan bauran pemasaran.
PARTISIPASI ANGGOTA KELOMPOK TANI DALAM PENERAPAN TEKNOLOGI PADI TANAM SEBATANG DI DESA TARATAK BANCAH KECAMATAN SILUNGKANG KOTA SAWAH LUNTO
Fitri Fitri;
Dedy Kusnadi
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 9 No 1 (2014)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (171.001 KB)
|
DOI: 10.51852/jpp.v9i1.322
Padi Tanam Sebatang (PTS) menjadi teknologi baru untuk meningkatkan produktivitas. Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui partisipasi anggota kelompok tani dalam menerapkan teknologi di Budidaya Padi Tanam Sebatang (PTS) di Desa Taratak Bancah Kecamatan Silungkang Kota Sawah Lunto. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dari empat kelompok tani yang telah menerima Program SL PTS. Responden dipilih secara purposive sampling delapan orang di masing-masing kelompok yang memiliki lahan seluas 0,5 hektar dan aktif dalam kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 10 indikator penerapan teknologi PTS dalam budidaya padi setelah dianalisis Kendall W indikator tanam bibit muda umur 21 hari, tanam 1-3 batang/rumpun, dan panen tepat waktu tergolong kriteria tinggi.
KETERKAITAN ADOPSI TEKNOLOGI DENGAN SUBSISTEM AGRIBISNIS JAGUNG DI KECAMATAN SUKAMAKMUR KABUPATEN BOGOR
Rudi Hartono;
Soesilo Wibowo;
Endang Krisnawati
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 9 No 1 (2014)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (161.076 KB)
|
DOI: 10.51852/jpp.v9i1.323
Sebagian besar jagung ditanam pada lahan kering di daerah tertinggal dan produktivitasnya rendah. Telah dilakukan penelitian untuk : a) menelaah agribisnis jagung; b) mengetahui tingkat adopsi teknologi budidayanya; dan c) menganalisis keterkaitan antara adopsi teknologi budidaya dengan subsistem agribisnis. Lokasi penelitian dipilih secara sengaja (purposive sampling) di Kecamatan Sukamakmur. Sampel penelitian diambil dari populasi petani jagung di Desa Sukamakmur yang memiliki areal pertanaman jagung terluas. Responden berasal dari tiga kelompok yang memiliki areal pertanaman jagung terluas pertama, kedua, dan ketiga sebanyak 70 orang dan ditetapkan secara proporsional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Kecamatan Sukamakmur masih terdapat subsistem dalam agribisnis jagung yang tergolong tidak baik sehingga perlu pengembangan. Adopsi teknologi budidaya tergolong baik dan terdapat kertekaitan dengan subsistem agribisnis mulai rendah sampai sedang. Dalam rangka pengembangan agribisnis jagung di Kecamatan Sukamakmur, pioritas subsistem yang perlu pengembangan berturut-turut adalah subsistem agro-produksi, agro-input, agro-industri, agrosupporting services dan agro-marketing.
PARTISIPASI ANGGOTA KELOMPOKTANI DALAM PENYUSUNAN RENCANA DEFINITIF KELOMPOK/RENCANA DEFINITIF KEBUTUHAN KELOMPOK
Anis, Suwiton M.;
Effendy, Lukman;
Muslihat, Elih Juhdi
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 9 No 1 (2014)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (130.921 KB)
|
DOI: 10.51852/jpp.v9i1.324
Isu yang berkembang, petani tidak menyusun Rencana Definitif Kelompok/Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDK/RDKK) melainkan langsung dibuatkan oleh Dinas Pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana partisipasi petani dalam menyusun RDK-RDKK di Desa Tapada’a Kecamatan Suwawa Tengah Kabupaten Bone Bolango Provinsi Gorontalo. Secara sengaja sebanyak 24 orang dari tiga kelompok tani ditetapkan sebagai responden. Data dikumpulkan dengan wawancara kemudian dianalisis Kendall’s W. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyusunan RDK / RDKK di tingkat desa tidak menggunakan prinsip partisipatif. Partisipasi petani masih sangat rendah dalam penyusunan RDK / RDKK khususnya pada variabel pelaksanaan. Sementara itu peran Penyuluh Pertanian sebagai fasilitator dan inovator menunjukkan hasil yang maksimal pada variabel pelaksanaan.
PENGARUH PERSEPSI KARAKTERISTIK INOVASI TERHADAP EFEKTIFITAS PEMBELAJARAN SEKOLAH LAPANG PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU PADI SAWAH PADA BEBERAPA KOMUNITAS ETNIS PETANI DI LAMPUNG
Slameto Slameto;
F. Trisakti Haryadi;
Subej Subej
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 9 No 1 (2014)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (235.678 KB)
|
DOI: 10.51852/jpp.v9i1.325
Program peningkatan produksi beras di Indonesia ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat. Peningkatan produksi padi di Lampung dilakukan dengan implementasi inovasi pengelolaan tanaman terpadu (PTT) padi sawah. Percepatan pemasyarakatannya dengan sekolah lapang pengelolaan tanaman terpadu (SL-PTT) padi sawah. Pembelajaran sekolah lapang terjadi pada berbagai komunitas petani padi etnis Lampung, Jawa dan Bali serta mempunyai persepsi yang berbeda atas karakteristik inovasi. Diduga terdapat pengaruh persepsi atas karakteristik inovasi terhadap pembelajaran SL-PTT padi sawah. Tujuan Penelitian ini (a) mendeskripsikan persepsi petani atas karakteristik inovasi dalam pembelajaran SL-PTT padi sawah pada beberapa komunitas petani; (b) menganalisis pengaruh persepsi petani tentang karakteristik inovasi terhadap efektifitas proses pembelajaran SL-PTT padi sawah pada beberapa komunitas petani. Metode penelitian dengan survey pada petani peserta SL-PTT padi sawah. Jumlah sampel 286 petani. Lokasi penelitian di Kabupaten Lampung Tengah, Lampung Selatan dan Lampung Barat. Analisis data secara deskriptif dan regresi model logistik. Hasil penelitian menunjukkan: (a) probabilitas terjadinya efektifitas proses pembelajaran sekolah lapang pengelolaan tanaman terpadu padi sawah pada petani etnis Lampung, etnis Jawa, etnis Bali dipengaruhi oleh persepsi atas karakteristik inovasi; (b) persepsi semua etnis petani atas karakteristik inovasi PTT mempunyai kecenderungan sebaran penilaian pada kategori tidak rumit, tidak menghambat, mampu untuk diterapkan, sesuai, menguntungkan, cukup mudah untuk dicoba dan mudah diamati; (c) efektifitas proses pembelajaran ketiga etnis petani berada pada kategori sedang sampai tinggi. Implikasinya untuk meningkatkan adopsi inovasi pengelolaan tanaman terpadu padi sawah bagi petani etnis Lampung, Jawa dan Bali perlu dilakukan peningkatan efektifitas proses pembelajaran sekolah lapang pengelolaan tanaman terpadu padi sawah dan mendorong persepsi petani terhadap karakteristik inovasi lebih baik. Perlu penyebar luasan inovasi dengan mengintensifkan peran penyuluh, figur panutan petani, dan menyusun metode belajar yang memberikan kemudahan pemahaman sesuai etnis petani.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN ADOPSI SISTEM TANAM LEGOWO USAHATANI PADI SAWAH (Oryza sativa L.) DI KECAMATAN IV KOTO KABUPATEN AGAM PROVINSI SUMATERA BARAT
Firdaus Firdaus;
Elih Juhdi Muslihat;
Achmad Musyadar
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 11 No 1 (2016)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (203.728 KB)
|
DOI: 10.51852/jpp.v11i1.326
Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui karakteristik petani terhadap penerapan usaha tani padi sawah sistem legowo, (2) Mengetahui tahap adopsi inovasi teknologi usaha tani padi sawah sistem legowo yang diterapkan oleh petani, (3) Mengetahui tingkat adopsi petani terhadap proses penerapan usaha tani padi sawah sistem legowo. Metode penelitian ini adalah “ex post facto,†yaitu bentuk penelitian untuk menilai peristiwa yang telah terjadi untuk menemukan faktor-faktor penyebab melalui pengamatan atau penilaian kondisi faktual di lapangan. Pengamatan utama penelitian memusatkan perhatian pada pemecahan masalah yang ada pada masa sekarang dan bertitik tolak dari data yang dikumpulkan, dianalisis dan disimpulkan dalam konteks teori-teori hasil penelitian terdahulu. Data yang dikumpulkan dianalisis dengan analisis statistik deskriptif, dan untuk mengetahui hubungan faktor-faktor karakteristik petani dengan tingkat adopsi inovasi teknologi usahatani padi sawah (Oryza sativa L.) sistem legowo adalah dengan menggunakan uji korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik petani kategori pendidikan formal memiliki hubungan yang sangat signifikan, pendapatan memiliki hubungan yang sangat signifikan, dan tingkat kosmopolitan memiliki hubungan yang signifikan terhadap adopsi inovasi teknologi usaha tani padi sawah sistem legowo. Tahap adopsi menunjukkan, tahap menerapkan sebesar 2,5%, tahap mencoba sebesar 57,5 %, dan tahap evaluasi dan masih ragu-ragu sebesar 40 %. Sedangkan, tingkat adopsi inovasi teknologi usaha tani padi sawah sistem legowo menunjukkan, bahwa kekosmopolitan memiliki hubungan yang signifikan terhadap tingkat adopsi inovasi teknologi pada tahap penanaman. Pendapatan memiliki hubungan yang sangat signifikan terhadap tingkat adopsi inovasi teknologi pada tahap pemupukan dan pengendalian hama. Pendidikan formal memiliki hubungan yang sangat signifikan terhadap tingkat adopsi inovasi teknologi pada tahap panen dan pascapanen.
FAKTOR PENENTU PENGEMBANGAN BP3K SEBAGAI SIMPUL KOORDINASI PEMBANGUNAN PERTANIAN WILAYAH DI KABUPATEN MAJALENGKA
Wiwik Yuniarti;
Yoyon Haryanto
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 11 No 1 (2016)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (160.717 KB)
|
DOI: 10.51852/jpp.v11i1.327
Balai penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan (BP3K) memiliki peranan yang strategis dalam mengelola kegiatan penyuluhan pertanian di tingkat kecamatan. Terdapat beberapa faktor yang diduga mempengaruhi pengembangan BP3K sebagai simpul koordinasi yaitu adanya dukungan kelembagaan, manajemen fasilitas, manajemen sumberdaya insani dan manajemen mutu. Faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi pelaksanaan tugas dan fungsi BP3K dan sejauhmana pengaruh faktor penentu tersebut mempengaruhi koordinasi kerja di lingkungan BP3K, adalah pertanyaan-pertanyaan pada penelitian ini. Penelitian ini menggunakan desain survei terhadap 36 responden yang mewakili penyuluh pertanian yang berada di BP3K pada daerah dataran tinggi, dataran sedang dan dataran rendah di Kabupaten Majalengka. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Mei sampai dengan bulan Oktober 2015. Analisis data menggunakan teknik deskriptif dan Path Analysis. Kesimpulan penelitian ini adalah: (1) faktor dukungan kelembagaan, manajemen fasilitas dan manajemen sumberdaya insani secara bersama-sama mempengaruhi manajemen mutu dalam pelaksanaan tugas dan fungsi BP3K di wilayah kecamatan. (2) Dukungan kelembagaan menjadi satu-satunya faktor penentu yang tidak mempengaruhi secara langsung koordinasi kerja di lingkungan BP3K, dan (3) strategi yang dapat diimplementasi untuk meningkatkan efektivitas BP3K sebagai simpul koordinasi dan integrasi pembangunan pertanian di wilayah kecamatan adalah dengan menjadikan BP3K sebagai sekretariat bersama, baik bagi penyuluh pemerintah, penyuluh swadaya maupun penyuluh swasta serta mengaktifkan musrenbang tingkat kecamatan dan desa sebagai forum koordinasi pengelolaan pembangunan pertanian
DAMPAK PERILAKU PETANI DALAM BUDIDAYA BAWANG MERAH TERHADAP PERUBAHAN KONDISI AGROEKOSISTEM DI KABUPATEN BREBES
Bahar, Yul Harry
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 11 No 1 (2016)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (194.702 KB)
|
DOI: 10.51852/jpp.v11i1.328
Brebes adalah salah satu kawasan utama produksi bawang merah secara nasional. Petani sudah terbiasa melakukan praktek budidaya secara intensif dengan ketergantungan sangat tinggi pada bahan kimiawi pertanian (agrochemical), terutama pupuk dan pestisida. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari perubahan kondisi agroekosistem sebagai dampak dari perilaku petani dalam praktek budidaya bawang merah di Brebes. Kegiatan dilaksanakan pada beberapa sentra utama, bulan Oktober- November 2015. Perilaku petani dalam praktek budidaya bawang merah yang berpengaruh pada kondisi agroekosistem adalah: 1) penggunaan bahan kimiawi pertanian (agrochemical) secara intensif, tidak sesuai rekomendasi teknologi, baik jumlah, jenis dan cara aplikasinya, 2) ketergantungan tinggi akan bahan kimiawi pertanian, meskipun diperoleh dengan berhutang dan harga tinggi, 3) sedikit sekali kegiatan dan upaya untuk memperbaiki kualitas lahan dan air. Dampak negatif pada agroekosistem: 1) Pencemaran bahan kimiawi pertanian (agrochemical) pada sumber daya alam dan lingkungan, 2) Penurunan keanekaragaman hayati dan peningkatan kualitas serangan organisme pengganggu tanaman, dan 3) Kejenuhan produksi dan produktivitas serta penurunan daya dukung lingkungan. Rekomendasi untuk perubahan perilaku petani dan perbaikan agroekosistem antara lain adalah: 1) menerapkan teknologi budidaya sesuai rekomendasi teknis, 2) menerapkan budidaya dengan pendekatan GAP dan PHT, 3) mengintensifkan penggunaan pupuk organik dan amelioran, 4) meningkatkan dukungan program dan kegiatan untuk perbaikan kondisi agroekosistem dan penerapan budidaya yang baik, 5) peningkatan peranan lembaga penyuluhan.
MOTIVASI PETANI DALAM PENERAPAN PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU (PTT) PADI SAWAH DI KECAMATAN TALANG EMPAT KABUPATEN BENGKULU TENGAH PROVINSI BENGKULU
Wahyu Hidayat;
Dedy Kusnadi;
Ismi Puji Ruwaida
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 11 No 1 (2016)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (120.501 KB)
|
DOI: 10.51852/jpp.v11i1.329
Sebagian besar masyarakat Indonesia bermata pencaharian sebagai petani, khususnya komoditas padi sawah. Dalam rangka meningkatkan produktivitas padi sawah tersebut, dilakukan melalui pendekatan pengelolaan tanaman terpadu (PTT) Padi Sawah. Pendekatan PTT merupakan suatu pendekatan inovatif dalam upaya meningkatkan produktivitas dan efisiensi usahatani melalui perbaikan sistem/pendekatan dalam perakitan paket teknologi yang sinergis antar komponen teknologi, dilakukan secara partisipatif oleh petani serta bersifat spesifik lokasi. Penerapan pengelolaan tanaman terpadu padi sawah, pada kenyataannya masih menemui beberapa kendala. Oleh karena itu diperlukan motivasi petani dalam hal penerapan PTT padi sawah ini. Penelitian bertujuan menjelaskan motivasi petani dalam menerapkan PTT padi sawah, dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi petani dalam menerapkan PTT padi sawah. Hasil analisis uji mean rank Kendall’s W menunjukkan bahwa indikator pengalaman merupakan indikator terendah dengan nilai mean rank 1,57. Indikator inilah yang perlu ditingkatkan melalui kegiatan penyuluhan yaitu salah satunya dengan materi ciri-ciri varietas benih dan sistem tanam.