cover
Contact Name
Nursan
Contact Email
mnursan@yahoo.co.id
Phone
+6281915849785
Journal Mail Official
jurnal.agroteksos@unram.ac.id
Editorial Address
Jl. Majapahit No 62 Mataram, NTB, Indonesia
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Agroteksos
Published by Universitas Mataram
ISSN : 08528268     EISSN : 26854368     DOI : https://doi.org/10.29303/agroteksos
Agroteksos merupakan jurnal pertama yang diterbitkan oleh Fakultas Pertanian Universitas Mataram. Agroteksos terdaftar di LIPI dengan p-ISSN (p-ISSN No. 0852-8268) pada 25 Mei 2007, dan e-ISSN (e-ISSN No. 2685-4368) pada 19 Juli 2019, Agroteksos menerbitkan minimal 6 artikel dalam satu edisi yang terbit 3 kali dalam setahun. Untuk peningkatan kualitas, Agroteksos telah menggunakan sistem jurnal online OJS 3. Agroteksos adalah Jurnal Ilmiah Pertanian yang memuat tulisan-tulisan hasil penelitian dan gagasan ilmiah di bidang Ilmu Pertanian, yang meliputi aspek Agronomi (termasuk kajian Pemuliaan, Produksi dan Perlindungan Tanaman, dan Ilmu Tanah), Teknologi dan Sosial Ekonomi Pertanian ( Agroteksos). Agroteksos diterbitkan oleh Fakultas Pertanian Universitas Mataram tiga kali dalam setahun (April, Agustus, dan Desember). Redaksi menerima artikel dalam bahasa Indonesia dan Inggris, baik dari universitas maupun luar universitas, baik dari dalam maupun dari luar negeri.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 442 Documents
Sistem Pengupahan Tenaga Kerja Pada Usahatani Padi di Kecamatan Brang Rea Kabupaten Sumbawa Barat Pristi anugrah putri
AGROTEKSOS, Jurnal Ilmiah Ilmu Pertanian Vol 29 No 3 (2019): Jurnal Agroteksos Desember 2019
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.971 KB) | DOI: 10.29303/agroteksos.v29i3.244

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk Mengidentifikasi penggunaan tenaga kerja pada usahatani padi di Kecamatan Brang Rea kabupaten Sumbawa Barat, Untuk mengetahui penetapan besaran upah dan sistem pengupahan tenaga kerja pada usahatani padi di Kecamatan Brang Rea Kabupaten Sumbawa Barat, Mengetahui Kendala yang dihadapi petani dalam usahatani padi di Kecamatan Brang Rea Kabupaten Sumbawa Barat. Metode penelitian yang digunakan adalah menggunakan metode Deskriptif. sebanyak 30 responden, 12 petani dari Desa Tepas dan 18 petani dari Desa Tepas Sepakat. Masing-masing ditentukan secara accidental sampling yaitu tekhnik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu responden yang secara kebetulan atau incidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sumber data. Hasil penelitian menunjukkan : 1) Penggunaan rata-rata tenaga kerja sebanyak 34,93 HKO/LLG dengan upah Rp 2.576.756/LLG. Rata-rata biaya atau upah per aktivitas terbesar yang dikeluarkan pada usahatani padi di Kecamatan Brang Rea Kabupaten Sumbawa Barat yaitu pada kegiatan panen sebesar Rp 1.080.000/LLG. 2). Sistem pengupahan di Kecamatan Brang Rea Kabupaten Sumbawa Barat yaitu sistem upah harian dan borongan. Upah borongan hanya digunakan pada kegiatan pembajakan sawah sebesar Rp 642.000 per LLG, sedangkan upah harian digunakan pada saat kegiatan penanaman, penyiangan, pemupukan, penyemperotan sebesar Rp 50.000 per LLG, dan pada kegiatan panen menggunakan upah bagi hasil dengan rata-rata produksi padi yang dikeluarkan petani 3 karung atau sama dengan 225 kg gabah dengan upah sebesar Rp 1.080.000 per LLG.
ANALISIS STRATEGI PENGEMBANGAN PRODUK KERAJINAN ANYAMAN BAMBU DI PULAU LOMBOK, NUSA TENGGARA BARAT Nani Junaeni1; Abu bakar2
AGROTEKSOS, Jurnal Ilmiah Ilmu Pertanian Vol 26 No 1 (2015): Jurnal Agroteksos 3 Desember 2015
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.739 KB)

Abstract

Abstrak Pulau Lombok memiliki potensi aneka kerajinan anyaman bambu yang cukup baik pada sentra-sentra kerajinan anyaman bambu, tapi belum dikembangkan secara optimal. Kajian ini bertujuan untuk menentukan strategi prioritas dalam pengembangan kerajinan anyaman bambu di Pulau Lombok. Penelitian ini dilakukan di Pulau Lombok dengan lokasi penelitian pada Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur dan Lombok Utara. Metode penelitan menggunakan metode deskriptif dengan pengumpulan data primer melalui wawancara mendalam (indepth interview) dengan stakeholders dari dinas instansi terkait dan pelaku usaha, serta wawancara terstruktur dengan pengrajin anyaman bambu terpilih pada lokasi penelitian. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan menggunakan analisis SWOT (Strength, Weaknesess Opportunities dan Treath). Kajian ini menyimpulkan bahwa strategi pada tingkat pengrajin adalah : (1) Meningkatkan kerjasama antara stakeholders terkait baik pengepul maupun pengusaha untuk pengembangan produk agar dapat bersaing di pasar (5,657); (2) Meningkatkan kemampuan SDM dengan mengikuti pelatihan dari dinas instansi terkait (5,099) dan (3) Memperkuat organisasi dan kelompok-kelompok pengrajin (3,482). Sedangkan strategi pada tingkat pemerintah adalah : (1) Mengembangkan infrastruktur (6,756); (2) Mempermudah perijinan (5,889); (3) Menerapkan kebijakan pemerintah pusat melalui peraturan yang dapat dipedomani oleh pemerintah daerah (5,614); (4) Memfasilitasi pelatihan keterampilan pengrajin (5,097); (5) Memperluas akses informasi (4,634); (6) Mengundang investor baru (3,837); (7) Memperluas akses pasar (3,426) dan (8) Memperbesar kredit untuk investasi (2,572). Abstract Lombok woven bamboo handicraft industry has the potential, but has not yet been developed optimally. This research aims to : analysis and recommend strategies for the development of these craft industry in Lombok Island. This research was conducted on the island of Lombok, in the locations of the West Lombok, Central Lombok, East Lombok and North Lombok. The study used a descriptive method. Data was collected through in-depth interviews with stakeholders from related institutions as well as businessmen, and structured interviews with woven bamboo craft workers. Data was analyzed in accordance with the objectives of the research, SWOT (Strenght, Weaknesess, Opportunities and Treath) analysis to strategies for the industry development. This research concludes that the strategies for developing the bamboo woven crafts are (1) Enhance the cooperation between relevant stakeholders both collectors and entrepreneurs to develop products that can compete in the market (5.657); (2) Increasing the capacity of the training of the human resources department related institutions (5.099) and (3) Strengthen organizations and groups of artisans (3.482). While the strategy at government level are: (1) Develop infrastructure (6.756); (2) Facilitate the permitting (5.889); (3) Implement policies of the central government through legislation that can be guided by the local government (5.614); (4) To facilitate training in the skills of craftsmen (5,097); (5) Expanding access to information (4.634); (6) Inviting new investors (3.837); (7) Expanding market access (3.426) and (8) Zoom credit for investment (2.572).
STANDARISASI SAPI BALI PEJANTAN DALAM MEMPERCEPAT PERBAIKAN MUTU GENETIK DAN PENINGKATAN PRODUKSI UNTUK MENJAGA KETAHANAN PANGAN NASIONAL Ni Putu sukanteri; Mikhael Rahmat Ranta; Putu Fajar Kartika Lestari; I Made Budiasa
AGROTEKSOS, Jurnal Ilmiah Ilmu Pertanian Vol 31 No 3 (2021): Jurnal Agroteksos Desember 2021
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.761 KB) | DOI: 10.29303/agroteksos.v31i3.706

Abstract

Studi ini bertujuan untuk mengetahui standarisasi sapi Bali pejantan di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Inseminasi Buatan Provinsi Bali. Data primer diperoleh dengan teknis survey, wawancara, dan pelatihan kerja, sedangkan data sekunder diperoleh melalui catatan hasil pengukuran parameter pada sapi Bali pejantan pada bulan Mei 2021 di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Inseminasi Buatan Daerah Provinsi Bali. Variabel yang diamati dalam kegiatan penelitian ini antara lain: asal usul pejantan, kondisi kesehatan pejantan, penampilan kualitatif berupa warna bulu, dan bentuk kepala, serta kuantitatif individu berupa tinggi gumba (TG), panjang badan (PB), lingkar dada (LD), lingkar scrotum (LSC), dan berat badan (BB). Hasil pengamatan menunjukkan bahwa asal usul pejantan sudah terekording, kondisi kesehatan pejantan sudah baik, penampilan kualitatif sudah sesuai SNI penampilan kuantitatif individu pejantan sesuai SNI. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa secara umum sapi Bali pejantan di UPT BIBD Provinsi Bali memenuhi standar SNI yaitu asal usul pejantan jelas, kondisi kesehatan pejantan secara umum dalam keadaan sehat, penampilan kualitatif dan kuantitatif individu pejantan sesuai SNI.
ANALISIS KEBIJAKAN PROGRAM PENINGKATAN KETAHANAN PANGAN RUMAH TANGGA DI KABUPATEN LOMBOK TENGAH Suparmin .
AGROTEKSOS, Jurnal Ilmiah Ilmu Pertanian Vol 24 No 3 (2014): jurnal Agroteksos 3 Desember 2014
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.72 KB)

Abstract

ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah 1) Mengkaji kebijakan, program dan pelaksanaan program ketahanan pangan yang sudah dan sedang berjalan, dan 2) Menganalisisis faktor-faktor determinan yang mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan program-program ketahanan pangan. Penelitian ini didesain sebagai Cross Sectional Study. Dipilih Kabupaten Lombok Tengah sebagai lokasi penelitian dengan pertimbangan bahwa Kabupaten Lombok Tengah tergolong daerah rawan pangan dengan tipologi wilayah dataran rendah lahan kering. Sampel dalam penelitian ini adalah sampel rumahtangga. Dipilih sebanyak 40 rumahtangga secara purposive dari dua desa terpilih. Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan metode analisis data kualitatif dan kuantitatif. Secara umum analisis data kualitatif yang digunakan adalah analisis deskripitif dan untuk menganalisis faktor-faktor penentu yang mempengaruhi ketahanan pangan digunakan model regresi logistik. Hasil penelitian ini menyimpulkan: 1) Dalam rangka peningkatan ketahanan pangan rumahtangga dan wilayah, pemerintah Kabupaten Lombok Tengah membuat kebijakan peningkatan produksi pangan melalui peningkatan luas areal tanam komoditi utama yaitu padi, jagung, kedele, ubi kayu, ubi jalar, 2) Program-program ketahanan pangan yang dilaksanakan pemerintah Kabupaten Lombok Tengah adalah penyusunan Neraca Bahan Makanan, Pengembangan Desa Mandiri Pangan, Lumbung Pangan, Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi, Cadangan Pangan, Raskin, dan Penanganan Daerah Rawan Pangan, 3) Berdasarkan analisis data Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) dapat disimpulkan bahwa kondisi Kabupaten Lombok Tengah sejak bulan Januari hingga Agustus 2011 secara komposit (ketersediaan pangan, akses pangan dan pemanfaatan) dalam kondisi rawan. Namun sampai bulan Desember 2011 masih ada 5 desa dari 12 desa dalam kondisi rawan, 4) Faktor-faktor yang mempengaruhi ketahanan pangan rumah tangga di Kabupaten Lombok Tengah adalah pendapatan perkapita per bulan, pendidikan ibu rumah tangga, pendidikan kepala rumah tangga, dan keterlibatan rumahtangga dalam program ketahanan pangan. Abstract The purpose of this research is to 1) examines the policies, programs and the implementation of food security programmes which have been and are being run, and 2) Analysis the determinant factors affect the success and failure of food security programs. This study was designed as a Cross Sectional Study. Selected central Lombok Regency as a location for research with the consideration that the central Lombok Regency is a regional food insecurity with typology lowland dry land. The sample in this research is the household samples. Chosen by purposive household as much as 40 of the two selected villages. The data collected is analyzed using the methods of qualitative and quantitative data analysis. Qualitative data analysis in general use are deskripitif and analysis to factors the determinants that influence food security logistics regression model used. Results of this study conclude: 1) in order to increase household food security and territory, the Government's policy making central Lombok Regency increased food production through improved planting acreage area of main commodities are rice, corn, cassava, sweet potatoes, 2) food security programmes which the Government implemented central Lombok Regency is a compilation of the balance of food ingredients, Food Self-sufficient Village Development, Food Barn, Vigilance system for food and nutrition, Food Reserves, Raskin, and handling The food insecurity, 3) based on the data analysis system of food and nutrition Awareness it can be concluded that the condition of the central Lombok Regency since January to August 2011 in composite (food availability, access and utilization of food) in conditions of insecurity. But until December 2011 there are still 5 village from 12 villages in conditions of insecurity, 4) factors affecting the food security of households in central Lombok Regency is income per capita per month, education of housewives, head of household, education and household involvement in food security programmes.
10. PROBLEMA PETANI DI DESA BATU LANGKAH BESAR RIAU DALAM MENGEMBANGKAN KEBUN SAWIT Maryadi Maryadi
AGROTEKSOS, Jurnal Ilmiah Ilmu Pertanian Vol 13 No 3 (2003): Jurnal Agroteksos 3 Oktober 2003
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Pada saat ini luas kebun sawit di Indonesia telah mencapai 2,2 juta hektar. Sebelum tahun 1979 sebagian besar kebun tersebut dimiliki oleh perkebunan milik negara dan perkebunan swasta besar. Namun setelah itu kebun milik rakyat berangsur-angsur semakin luas. Perkebunan sawit yang ada di Propinsi Riau merupakan yang terbesar kedua di Indonesia. Di propinsi ini 30% dari luas areal yang ada dikuasai oleh rakyat, namun di Desa Batulangkah Besar luas kebun milik rakyat mencapai 90%. Penelitian yang dilakukan di desa ini menunjukkan bahwa budidaya kelapa sawit telah menjadi pilihan utama penduduk. Hal ini dapat dilihat dari semakin banyaknya petani yang menanam sawit serta mengganti beberapa tanaman perkebunan lainnya dengan sawit. Namun budidaya yang mereka lakukan ternyata masih belum optimal, terutama dalam hal pemberian pupuk. Mahalnya harga pupuk merupakan penyebab utama rendahnya dosis pemupukan yang mereka lakukan. ABSTRACT Presently, oil palm plantation has reached more than 2.2 million hectar’s. Until or to up 1979 only governmentowned and large private estate companies had handled the plantation. Since then, the government policy has focused on the development of small holders or small farmers. State province of Riau is the second largest of oil palm plantation in the country. With more than 30% of plantation area managed by small farmers. In the village of Batulangkah Besar they managed more than 90%. Unfortunatelly, their production of empty fruit bunch (EFB) is still low. Lack of fertilizer (highs price of fertilizer) is one of the reasons. This paper analyzed farmers, problems in that village in developing their plantation.
Analysis of Fine Salt Business in Ketapang Raya Village Keruak District, East Lombok baiq tania widya purnama
AGROTEKSOS, Jurnal Ilmiah Ilmu Pertanian Vol 29 No 2 (2019): Jurnal Agroteksos Agustus 2019
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.378 KB) | DOI: 10.29303/agroteksos.v29i2.385

Abstract

The purpose of this study is to analyze (1) Costs and revenues of refined salt business. (2) Feasibility of fine salt business. (3) Constraints faced by entrepreneurs in the fine salt business. The method used in this research is descriptive method. While the determination of the sample area is done by Purposive Sampling and the determination of respondents using the Census method. The results showed that 1) The average cost incurred by fine salt entrepreneurs in Ketapang Raya Village, Keruak District, East Lombok Regency was Rp 29,010,509 / month and income was Rp 3,423,691 / month. 2) The feasibility of refined salt business in Ketapang Raya Village in terms of: a) Technical aspects, refined salt business still uses traditional production processes (boiling). However, the fine salt business is still feasible to try because it provides an income of Rp 3,423,619. b) The financial aspect of explaining that the business of fine salt is feasible, with an R / C ratio of 1.12, which means that the manufacture of fine salt is able to produce costs greater than the cost of capital. With BEP (Break Even Point) receipts of IDR 1,446,783, production BEP of 621 kg and BEP of prices of IDR 2,330 / kg. c) The marketing aspects viewed from the marketing channel found that channel II was more efficient (feasible) because the purchase volume was greater than the marketing channel I. 3) The biggest obstacle faced by fine salt entrepreneurs in Ketapang Raya Village was capital of 14 respondents with a percentage of 70 % and wood as many as 12 respondents with a percentage of 60%.
ANALISIS PENDAPATAN DAN PENYERAPAN TENAGA KERJA PADA USAHATANI MELON DAN SEMANGKA DI KABUPATEN LOMBOK TENGAH Andy Mujianingsih; Asri Hiadayati; Taslim Sjah
AGROTEKSOS, Jurnal Ilmiah Ilmu Pertanian Vol 25 No 1 (2015): Jurnal Agroteksos 2 Agustus 2015
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.293 KB)

Abstract

ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah : (1) membandingkan pendapatan usahatani melon dan semangka di Kabupaten Lombok Tengah; (2) membandingkan penyerapan tenaga kerja pada usahatani melon dan semangka di Kabupaten Lombok Tengah; (3) membandingkan produktivitas tenaga kerja pada usahatani melon dan semangka di Kabupaten Lombok Tengah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif, dan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik survei. Penelitian ini dilakukan di dua desa yaitu Desa Ganti untuk usahatani melon dan Desa Tanak Awu untuk usahatani semangka, dan ditentukan secara “purposive sampling” atas pertimbangan bahwa desa tersebut memiliki usahatani melon dan semangka terbanyak. Dalam penelitian ini yang menjadi responden adalah petani melon dan semangka di Kabupaten Lombok Tengah. Jumlah responden ditentukan secara “quota sampling” yakni 60 orang responden dengan rincian 30 orang responden usahatani melon dan 30 orang responden usahatani semangka. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: (1) pendapatan usahatani semangka tidak berbeda nyata dengan pendapatan usahatani melon. Pendapatan usahatani semangka sebesar Rp. 61.297.831, dan usahatani melon sebesar Rp. 63.594.628 per hektar; (2) penyerapan tenaga kerja per hektar pada usahatani melon lebih besar secara nyata dari usahatani semangka. Penyerapan tenaga kerja usahatani melon sebanyak 145 HKO dan penyerapan tenaga kerja usahatani semangka sebanyak 89 HKO; (3)produktivitas tenaga kerja per hektar usahatani semangka lebih besar secara nyata dari usahatani melon.Produktivitas tenaga kerja usahatani semangka adalah 389 kg/HKO, dan produktivitas tenaga kerja usahatani adalah melon 113 kg/HKO. ABSTRACT The aims of this study are: (1) comparing rock melon and watermelon farm income in Central Lombok; (2) comparing absorption of labor in rock melon and watermelon farm in Central Lombok; (3) comparing productivity of labor in rock melon and watermelon farm in Central Lombok. The method used in this research is descriptive, and data collection technique used is survey technique. This research was conducted on two villages, namely, Ganti and Tanak Awu. Ganti is for rock melon and Tanak Awu for watermelon farming. This was determined by "purposive sampling", for the villages have the largest farming areas for melon and watermelon. In this study, the respondents were rock melon and watermelon growers in Central Lombok. The number of respondents was determined by "quota sampling" i.e., by setting 60 respondents consisted of 30 respondents farming rock melon and 30 water melon. Results from this study show that: (1) Per hectare income were not significantly different between rock melon and water melon. Per hectare, rock melon farm income was Rp. 61,297,831, and water melon was Rp. 63,594,628; (2) Absorption of labor per hectare on rock melon farm were more than watermelon farm. Rock melon farm absorped labor as much as 145 mandays, and watermelon as much as 89 mandays; (3) Labour productivity per hectare of watermelon farm larger than rock melon farm. Watermelon farm labor productivity was 389 kg/mandays, and melon farm labor productivity was 113 kg/mandays.
PENGARUH PEMBERIAN BERBAGAI JENIS ABU MINERAL TERHADAP PERTUMBUHAN BEBERAPA VARIETAS PADI (Oryza sativa L.) DAN SERAPAN Si Islamul Homsi; R. Sri Tejo Wulan; I Ketut Ngawit
AGROTEKSOS, Jurnal Ilmiah Ilmu Pertanian Vol 30 No 3 (2020): Jurnal Agroteksos Desember 2020
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.288 KB) | DOI: 10.29303/agroteksos.v30i3.585

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian berbagai jenis pupuk abu mineral terhadap pertumbuhan beberapa varietas padi (Oryza sativaL.,) dan serapan silikat (Si).Percobaan ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai bulan Juli 2018 menggunakan pot percobaan di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Mataram. Rancangan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial yang terdiri dari dua (2) faktor yaitu faktor abu (abu sekam padi, abu kulit kacang tanah dansampah kota) dan faktor varietas (Inpari 32 dan Ciherang), dan setiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak tiga (3) kali. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Analisis of Varians (ANOVA) dan jika terdapat perbedaan antar perlakuan maka dilakukan uji lanjut dengan menggunakan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) BV tertinggi ditunjukkan oleh abu sampah kota, pH tertinggi ditunjukkan oleh abu sampah kota, C-Organik tertinggi ditunjukkan oleh abu sampah kota, N Total tertinggi ditunjukkan oleh abu sekam padi, dan C-N rasiotertinggi ditunjukkan oleh abu sampah kota. 2) perlakuan abu (abu sekam padi, kuit kacang tanah, dan abu sampah kota) (A) dan kombinasi abu (A) dan varietas (V) tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter yang diamati. 3) perlakuan varietas Inpari 32 (V1) berpengaruh nyata terhadap berat berangkasan basah dan berat berangkasan kering. Seain itu varietas Inpari 32 lebih responsif; dan varietas Inpari 32 ini lebih superior dibandingkan dengan varietas Ciherang. 4) perlakuan abu sampah kota (A3) dan interaksi abu sampah kota dan varietas Ciherang (A3V2) menunjukkan serapan Silika tertinggi jika dibandingkan abu yang lain.
PERAN KONSTRUKTIF LINGKUNGAN SOSIAL IBU HAMIL DALAM MEMBANGUN PERILAKU KONSUMSI PANGAN DI PERDESAAN LOMBOK BARAT Budiman Aliansyah
AGROTEKSOS, Jurnal Ilmiah Ilmu Pertanian Vol 25 No 1 (2015): jurnal agroteksos 1 April 2015
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.034 KB)

Abstract

ABSTRAK Ibu hamil merupakan salah satu kelompok masyarakat yang sangat sensitif dan beresiko tinggi (high risk) terhadap dampak negatif kurang konsumsi pangan, yang salah satunya disebabkan oleh lingkungan sosialnya yang kurang mendukung.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) peran konstruktif lingkungan sosial ibu hamil dalam membangun perilaku konsumsi pangan, (2) perilaku konsumsi pangan di kalangan ibu hamil, (3) keragaan pola konsumsi pangan di kalangan ibu hamil, dan (4) ketahanan konsumsi pangan ibu hamil. Penelitian ini dilakukan di wilayah Kabuapten Lombok Barat, yaitu di desa Tanaq Beaq Kecamatan Narmada, desa Dasan Geres Kecamatan Gerung, dan di desa Sesela Kecamatan Gunungsari.Seluruh responden berjumlah 60oang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksploratif-deskriptif (explorative-deskriptive research), sedangkan pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) di lingkungan keluarga, suami, ibu kandung, dan ibu mertua dinilai sebagai individu yang cukup berperan dalam membangun perilaku konsumsi pangan di kalangan ibu hamil. Sementara, di lingkungan luar keluarga, yang dinilai cukup berperan adalah kader posyandu, bidan desa, dan penyuluh gizi/kesehatan, (2) umumnya ibu hamil memiliki pengetahuan tentang gizi dan kesehatan tergolong baik, sikap yang positif, dan tindakan yang juga relatif baik, (3) pada umumnya jumlah asupan zat gizi ibu hamil di perdesaan masih belum mencukupi kebutuhan, dan (4) ibu hamil umumnya tahan konsumsi pangan, khususnya untuk pangan pokok beras sebagai sumber energi utama dan pangan sumber protein terutama protein nabati. ABSTARCT THE CONSTRUCTIVE ROLES OF THE SOCIAL ENVIRONMENT OF PREGNANT MOTHERS IN DEVELOPING FOOD CONSUMPTION BEHAVIORS IN WEST LOMBOK RURAL AREAS (By: Ridwan, M. Rasyidi, and Syarifuddin) Pregnant mothers are one of the community groups who are very sensitive and highly risky to the negative impacts of lack of food consumption, which is among others caused by unsupportive social environment. This study aims to identify: (1) the constructive roles of the social environment of pregnant mothers in developing food consumption behaviors, (2) food consumption behaviors among pregnant mothers, (3) performanceof food consumption behaviors among pregnant mothers, and (4) pregnant mothers’ food security. The study was conducted in West Lombok Regency area, namely TanaqBeaqvillage of Narmada sub-district, DasanGeresvillage of Gerungsubdistrict, and Seselavillage of Gunungsarisubdistrict. The total number of respondents was 60. The research employed explorative-descriptive method, and data was collected through interviews. Findings of the study show that: (1) within family environment, husbands, mothers, and mothers-in-law played significant roles in developing food consumption behaviors among pregnant mothers. Outside of family environment, posyandu (health service unit) cadres, village midwives, and nutrition/health staff were viewed to have quite significant role; (2) pregnant mothers generally have good knowledge on nutrition and health, have good attitude, and relatively good behaviors; (3) the amount of nutrition intake of pregnant mothers in rural areas was not sufficient yet; and (4) pregnant mothers generally had food consumption security, especially rice being the staple food as the main source of energy and vegetables as the source of proteins.
Analisis Gender Dalam Kesediaan dan Pengambilan Keputusan Rumah Tangga Petani untuk Membudidayakan Sorgum Rian Alfian Abdi Anggara
AGROTEKSOS, Jurnal Ilmiah Ilmu Pertanian Vol 28 No 2 (2018): Jurnal Agroteksos Agustus 2018
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.492 KB) | DOI: 10.29303/agroteksos.v28i2.324

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk : (1) Mengetahui kesediaan rumah tangga petani untuk membudidayakan sorgum; (2) Mengetahui faktor yang mempengaruhi kesediaan rumah tangga petani; (3) mengetahui pengambil keputusan di rumah tangga petani pada kegiatan domestik dan kegiatan produktif; (4) mengetahui hubungan antara pengambilan keputusan dengan kesediaan petani untuk membudidayakan sorgum. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, dimana penelitian ini dilakukan di Kecamatan Bayan yang ditetapkan secara “purposive sampling” dengan jumlah responden sebanyak 50 orang. Analisis data yang digunakan yaitu analisis skoring, analisis deskriptif, dan analisis chi-square. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Kesediaan rumah tangga petani untuk membudidayakan sorgum ialah 19 orang menyatakan bahwa mereka bersedia untuk membudidayakan sorgum, 14 orang ragu-ragu dan 17 orang menyatakan tidak bersedia untuk membudidayakan sorgum; (2) Faktor-faktor yang mempengaruhi petani responden bersedia untuk membudidayakan sorgum yakni: Teknik bercocok tanam mudah, pemeliharaan mudah, manfaat yang dihasilkan, bisa bertahan dilahan kering, peluang pengembangan, bisa ditanam secara tumpang sari, kondisi lahan. Faktor yang mempengaruhi petani ragu untuk membudidayakan sorgum adalah pemasaran. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi petani sehingga mereka tidak bersedia adalah pemasaran, kondisi lahan, tidak ada lahan, bibit susah didapat, hama burung; (3) Pola pengambilan keputusan rumah tangga petani pada kegiatan domestik termasuk dalam kategori tinggi dan pola pengambilan keputusan pada kegiatan produktif termasuk kategori sedang. Secara umum, pola pengambilan keputusan pada rumah tangga petani termasuk dalam kategori sedang; (4) Terdapat hubungan pada pola pengambilan keputusan produktif yang seimbang antara suami dan istri dengan kesediaan petani untuk membudidayakan sorgum.

Page 4 of 45 | Total Record : 442


Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 35 No 2 (2025): Jurnal Agroteksos Agustus 2025 Vol 35 No 1 (2025): Jurnal Agroteksos April 2025 Vol 34 No 3 (2024): Jurnal Agroteksos Desember 2024 Vol 34 No 2 (2024): Jurnal Agroteksos Agustus 2024 Vol 34 No 1 (2024): Jurnal Agroteksos April 2024 Vol 33 No 3 (2023): Jurnal Agroteksos Desember 2023 Vol 33 No 2 (2023): Jurnal Agroteksos Agustus 2023 Vol 33 No 1 (2023): Jurnal Agroteksos April 2023 Vol 32 No 3 (2022): Jurnal Agroteksos Desember 2022 Vol 32 No 2 (2022): Jurnal Agroteksos Agustus 2022 Vol 32 No 1 (2022): Jurnal Agroteksos April 2022 Vol 31 No 1 (2021): Jurnal Agroteksos April 2021 Vol 31 No 3 (2021): Jurnal Agroteksos Desember 2021 Vol 31 No 2 (2021): Jurnal Agroteksos Agustus 2021 Vol 30 No 2 (2020): Jurnal Agroteksos Agustus 2020 Vol 30 No 3 (2020): Jurnal Agroteksos Desember 2020 Vol 30 No 1 (2020): Jurnal Agroteksos April 2020 Vol 29 No 3 (2019): Jurnal Agroteksos Desember 2019 Vol 29 No 2 (2019): Jurnal Agroteksos Agustus 2019 Vol 29 No 1 (2019): Jurnal Agroteksos April 2019 Vol 28 No 2 (2018): Jurnal Agroteksos Agustus 2018 Vol 24 No 3 (2014): jurnal Agroteksos 3 Desember 2014 Vol 13 No 3 (2003): Jurnal Agroteksos 3 Oktober 2003 Vol 28 No 3 (2018): Jurnal Agroteksos Desember 2018 Vol 28 No 1 (2018): Jurnal Agroteksos April 2018 Vol 13 No 4 (2003): Jurnal Agroteksos januari 2003 Vol 7 No 3 (1997): JURNAL ILMIAH AGROTEKSOS 1997 Vol 26 No 2 (2016): Jurnal Agroteksos 2 Agustus 2016 Vol 26 No 1 (2016): jurnal agroteksos 1 April 2016 Vol 26 No 1 (2015): Jurnal Agroteksos 3 Desember 2015 Vol 25 No 1 (2015): Jurnal Agroteksos 2 Agustus 2015 Vol 25 No 1 (2015): jurnal agroteksos 1 April 2015 More Issue