Cermin Dunia Kedokteran
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles
22 Documents
Search results for
, issue
"Vol 44, No 12 (2017): Neurologi"
:
22 Documents
clear
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Daya Ingat Anak dengan Epilepsi
Andreas, Scorpicanrus Tumpal;
H Saing, Johannes;
Prima, Cynthea
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 12 (2017): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (337.793 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v44i12.688
Abstrak. Daya ingat merupakan salah satu aspek kognitif terpenting. Obat anti epilepsi, faktor psikososial, dan komorbiditas pada epilepsi dapat menyebabkan gangguan daya ingat pada anak. Gangguan daya ingat harus dideteksi sedini mungkin agar dapat diintervensi untuk memperbaiki atau mencegah perburukan fungsi kognitif anak dengan epilepsi.Abstract. Memory is one of the most important aspect of cognitive function. Anti epileptic drugs, psychosocial factors, and comorbidity in epilepsy can cause memory impairment. Memory impairment should be detected as early as possible to allow intervention to improve or prevent cognitive worsening.
Modulasi Neurogenesis untuk Pengembangan Terapi Depresi
-, Muthmainah;
Wiyono, Nanang
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 12 (2017): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (278.776 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v44i12.694
Depresi merupakan salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas yang paling sering, diperkirakan 10-15% penduduk dunia pernah mengalami episode depresi selama hidupnya. Patofisiologi depresi kompleks dan melibatkan tingkat molekuler, seluler dan jaringan. Salah satu teori mekanisme depresi dan kerja antidepresan adalah proses neurogenesis. Neurogenesis pada masa dewasa di gyrus dentatus hippocampus dipengaruhi oleh stres yang berperan dalam patofisiologi depresi; proses neurogenesis ini dapat dimodulasi oleh antidepresan sehingga dapat dimanfaatkan untuk penatalaksanaan depresi. Antidepresan tersebut adalah Selective Serotonine Reuptake Inhibitors (SSRIs) dan Norepinephrine Reuptake Inhibitors (NRIs).Depression is one of the most common causes of mortality and morbidity; it is estimated that 10-15% of world population ever experienced an episode of depression. The pathophysiology of depression is very complex involving mechanism in the molecular and cellular level. The neurogenesis hypothesis postulates that decreased neurogenesis results in depressive phenotype and that neurogenesis is crucial for the behavioural effect of antidepressant. Decreased adult neurogenesis in the dentate gyrus of the hippocampus is induced by stress. Modulation of neurogenesis in this area through administration of antidepressant such as SSRIs and NRIs has been used for the treatment of depression.
Peran Channelopathy pada Tatalaksana Nyeri
Meliala, Lucas;
Pinzon, Rizaldy Taslim;
Sanyasi, Rosa De Lima Renita
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 12 (2017): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (157.067 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v44i12.689
Latar Belakang: Tata laksana nyeri yang efektif sampai saat ini masih belum memuaskan. Pemahaman channelopathy diharapkan dapat meningkatkan kualitas penanganan nyeri. Tujuan: Kajian peran channelopathy pada nyeri. Pembahasan: Kanal ion yang terlibat dalam channelopathy pada nyeri adalah kanal natrium, kalsium, kalium, dan transient receptor potential (TRP). Channelopathy beberapa subtipe kanal TRP memicu penyakit FEPS tipe I dan berbagai gangguan sensitivitas nyeri. Channelopathy beberapa subtipe kanal kalsium dan kalium menimbulkan berbagai gangguan sensitivitas nyeri. Channelopathy kanal klorida tidak memicu gangguan sensitifitas nyeri. Saat ini telah ditemukan berbagai obat yang bekerja sebagai penghambat kerja kanal, sehingga dapat digunakan untuk terapi nyeri. Penelitian masih terus dilakukan hingga saat ini.Background: Treatment of pain remains challenging. Understanding channelopathy will hopefully improve pain treatment. Objective: To identify the role of channelopathy in pain mechanism. Discussion: Ion channels involved in channelopathy i.e: sodium channels, calcium channel, potassium channel, and transient receptor potential (TRP) channel. Channelopathy on some sodium channel subtypes lead to various diseases. Channelopathy on some TRP channels lead to FEPS type I and pain sensitivity disorder. Channelopathy on calcium and potassium channels lead to many pain sensitivity disorder. Channelopathy on chloride channels do not lead to pain sensitivity disorder. Many channels blocker drugs have been discovered. Knowledge of channelopathies will improve the quality of pain treatment.
Efektivitas dan Peran Montelukast (LTRA) pada Pasien Asma Kronis
-, Adhitya;
-, Effendi
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 12 (2017): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (224.357 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v44i12.695
Asma merupakan penyakit saluran nafas kronik dengan gejala obstruksi akibat respon inflamasi. Pedoman tatalaksana asma saat ini menyatakan kortikosteroid sebagai terapi lini pertama untuk mengontrol penyakit. Namun, kortikosteroid memiliki banyak efek samping. Berdasarkan patofisiologi asma yang beragam, beberapa obat lain dapat digunakan untuk mengontrol asma, salah satunya adalah montelukast yang termasuk golongan Leukotriene Receptor Antagonist (LTRA).Asthma is a chronic respiratory disease with airway obstruction as the main symptom, caused by inflammation responses. Asthma management guidelines state that corticosteroid is the mainstay therapy for asthma. But, corticosteroid has many side effects. Based on the patophysiology of asthma, other drugs can be used to control asthma, one of them is montelukast which belongs to leukotriene receptor antagonist (LTRA) group.
Hubungan Disomnia dan Tekanan Darah pada Remaja
Sembiring, Krisnarta;
Ramayani, Oke Rina;
Lubis, Munar;
Siregar, Rosmayanti;
Siregar, Beatrix
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 12 (2017): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (751.519 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v44i12.690
Disomnia merupakan gangguan tidur yang sering dijumpai pada remaja, disebabkan oleh faktor internal dan eksternal, serta faktor medis dan nonmedis. Disomnia dapat berdampak buruk pada kesehatan remaja. Disomnia dapat didiagnosis secara objektif maupun subjektif. Salah satu komplikasi disomnia adalah peningkatan tekanan darah. Peningkatan tekanan darah pada remaja akan menyebabkan hipertensi saat dewasa serta berbagai masalah kardiovaskuler lainnya.Dyssomnia is a common sleep disturbance in adolescents; it is caused by internal and external factors along with medical and nonmedical factors. Dyssomnia may have negative impact on adolescent’s health. One of it’s complications is increased blood pressure. Increased blood pressure in adolescent will lead to hypertension in adult together with other cardiovascular problems.
Wireless Microcurrent Stimulation Therapy for Wound Healing
Dewi Lumanauw, Debryna;
A. Pangayoman, Roys
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 12 (2017): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (353.965 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v44i12.696
Wound healing is a complex process to restore the normal function, structure and integrity of body cells after injury. All wounds will advance to three phases: inflammatory, proliferative and maturation. When the sequence of healing does not go in timely and orderly manner, the wound becomes chronic and more difficult to heal. Chronic, nonhealing wounds require a tailored management. The most fundamental pillars are adequate debridement, managing underlying diseases/factors and applying proper dressings. Additional novel adjuvant therapies, such as electrical stimulation, hyperbaric chamber and ultrasound, are currently being developed. Wireless microcurrent stimulation (WMCS) is a new method for wound healing. Studies have recommended the use of WMCS, considering the safety, easy to use, and benefits.Penyembuhan luka adalah proses kompleks untuk mengembalikan fungsi dan integritas seluler dan biokimiawi normal jaringan setelah terjadi luka. Semua luka akan melewati fase inflamasi, proliferasi dan maturasi hingga tercapai penyembuhan. Apabila proses penyembuhan tidak teratur dan tidak sesuai dengan waktu yang diharapkan, luka dapat menjadi kronis. Penanganan luka kronis memerlukan pendekatan yang sesuai dan dinamis. Pilar terpenting adalah debridement adekuat, mengatasi faktor-faktor predisposisi lain dan pemilihan dressing yang tepat. Terapi tambahan lain seperti electrical stimulation (ES), hyperbaric chamber dan ultrasound. Wireless microcurrent stimulation (WMCS) merupakan perkembangan terbaru terapi ES. Beberapa penelitian membuktikan bahwa manfaat WMCS sama dengan metode konvensional, bahkan dapat menjadi pilihan terbaik karena aman, tidak mengiritasi, mudah dipindahkan dan digunakan.
Skor ICH-GS untuk Prediksi Prognosis Pasien Stroke Perdarahan Intraserebral di Rumah Sakit Islam Jakarta Pondok Kopi
Pandhita S, Gea;
-, Samino;
Bustami, Mursyid
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 12 (2017): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1113.965 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v44i12.686
Latar Belakang dan Tujuan. Prediksi prognosis yang akurat pada kasus stroke perdarahan intraserebral (PIS) sangat penting untuk menentukan pilihan terapi. Penelitian ini bertujuan menguji manfaat klinis skor ICH-GS untuk memprediksi prognosis pasien stroke PIS selama rawat inap di Rumah Sakit Islam Jakarta Pondok Kopi (RSIJPK). Metode. Seluruh pasien rawat inap yang tercatat di bagian rekam medis RSIJPK dengan diagnosis stroke PIS pada periode Januari-Desember 2013 diikutkan dalam penelitian ini. Diagnosis stroke PIS ditegakkan berdasarkan gambaran klinis defisit neurologis mendadak dan memiliki gambaran perdarahan intraserebral berdasarkan pemeriksaan CT scan kepala. Skor ICH-GS diukur pada semua subjek penelitian saat di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Skor tersebut kemudian dievaluasi untuk memprediksi angka mortalitas pasien stroke PIS selama rawat inap di rumah sakit. Hasil. Terdapat 47 pasien stroke PIS yang dianalisis dalam penelitian ini. Kisaran skor ICH-GS yang didapatkan adalah 5-12. Angka mortalitas keseluruhan selama rawat inap adalah 34%. Makin tinggi skor ICH-GS, makin tinggi mortalitasnya. Mortalitas pasien stroke PIS dengan skor ICH-GS 7-9 lebih rendah pada kelompok pasien yang mendapat terapi operatif dibandingkan kelompok pasien yang mendapatkan terapi non-operatif. Sebaliknya, mortalitas pasien stroke PIS dengan skor ICH-GS 10-11 lebih tinggi pada kelompok operatif dibandingkan kelompok non-operatif. Pasien stroke PIS dengan skor ICH-GS 6 pada kedua kelompok memiliki mortalitas yang sama. Simpulan. Skor ICH-GS dapat digunakan untuk memprediksi prognosis sehingga diharapkan dapat membantu tenaga medis dalam menentukan pilihan strategi terapi operatif atau non-operatif.Background. Accurate prediction of outcome after primary ICH is necessary to distinguish patients who will benefit from particular therapeutic strategies. The aim of the present study was to test the clinical usefulness of the ICH-GS score in predicting the prognosis of ICH patients in PK-JIH. Methods. Patients diagnosed with ICH between January to December 2013 were screened and enrolled in this study. ICH-GS score was evaluated to predict in-hospital mortality. Results. A total of 47 patients were included in the final analysis. Craniotomy was performed in 26% patients (surgery group). In-hospital mortality rates for patients with ICH-GS scores of 5 to 12 were 0%, 0%, 20%, 29%, 33%, 40%, 86%, and 100%, respectively. In the adjusted analysis, in-hospital mortality rates for patients with ICH-GS scores of 7-9 were lower in surgery group (p<0,05). Among patients with ICH-GS scores of 10-11 in-hospital mortality rates were higher in surgery group (p<0,05). In-hospital mortality rates for patients with ICH-GS scores of 6 in surgery group were equal to patients in non-surgery group. Conclusion. ICH-GS is a simple scale for predicting in-hospital mortality. ICH-GS can give a simple overview to distinguish patients who would benefit from specific therapeutic strategies.
Faktor Risiko, Klasifikasi dan Terapi Sindrom Dispepsia
Purnamasari, Lina
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 12 (2017): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (132.734 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v44i12.691
Dispepsia merupakan sindrom saluran pencernaan atas yang banyak dijumpai di seluruh dunia. Banyak faktor yang diduga berkaitan seperti riwayat penyakit, riwayat keluarga, pola hidup, makanan maupun faktor psikologis. Dispepsia diklasifikasikan menjadi organik dan fungsional. Gejala dapat berlangsung kronis dan kambuhan sehingga berdampak bagi kualitas hidup penderita.Dyspepsia is an upper gastrointestinal tract syndrome that is common in the world. Many factors are believed to be related, including medical history, family history, lifestyle, diet and psychological factors. Dyspepsia is classified into organic and functional. Symptoms may be chronic and relapsing that can influence the quality of life.
Diagnosis dan Tatalaksana Acute Kidney Injury (AKI) pada Syok Septik
-, Melyda
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 12 (2017): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (330.044 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v44i12.697
Lebih dari 50% pasien ICU di dunia dengan syok septik mengalami Acute Kidney Injury (AKI). AKI pada syok septik meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Oleh karena itu, dibutuhkan diagnosis dan tatalaksana yang cepat dan tepat untuk mencapai hasil maksimal.More than 50% ICU patients with septic shock all over the world suffered from Acute Kidney Injury (AKI). AKI in septic shock increases morbidity and mortality. Prompt and precise diagnosis and management are needed to obtain maximum outcome.Â
Primary Amebic Meningoenciphalitis (PAM)
Sutiono, Dias Rima;
Aisyah, Siti
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 12 (2017): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (192.32 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v44i12.687
Naegleria fowleri is one of free-living amoeba that can be found around the world. It is also known as the causative agent of Primary Amebic Meningoencephalitis (PAM). PAM is a rare Central Nervous System (CNS) infection and can lead to fatal outcome. Since the first discovery, it becomes the problem worldwide. Misdiagnoses are common in PAM patient. The causative agent of PAM is living in the warm freshwater. Thus, the occurrence of this infection is high in summer and warmest season through the year. Due to its living characteristics, this amoeba has the potential to live in the Indonesia waters. The purpose of this review is to describe the difference between PAM and bacterial meningitis, epidemiology, diagnosis and prevention of PAM.Naegleria fowleri adalah salah satu amuba yang hidup bebas dan dapat ditemukan di seluruh dunia. N. fowleri dikenal sebagai agen penyebab Primary Amebic Meningoencephalitis (PAM). PAM merupakan infeksi langka yang menyerang sistem saraf pusat (SSP) dan dapat fatal. Sejak ditemukan telah menjadi masalah global. PAM sering salah didiagnosis. Agen penyebab PAM hidup di air tawar hangat; kejadian infeksi tertinggi saat cuaca terpanas. Karakteristik tersebut sesuai dengan iklim di Indonesia. Kajian ini diharapkan mampu menggambarkan perbedaan antara PAM dan meningitis yang disebabkan bakteri, epidemiologi, diagnosis dan pencegahan PAM.