cover
Contact Name
Dita Archinirmala
Contact Email
dorotea.ditaarchinirmala@kalbe.co.id
Phone
+6281806175669
Journal Mail Official
cdkjurnal@gmail.com
Editorial Address
http://www.cdkjournal.com/index.php/CDK/about/editorialTeam
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Cermin Dunia Kedokteran
Published by PT. Kalbe Farma Tbk.
ISSN : 0125913X     EISSN : 25032720     DOI : 10.55175
Core Subject : Health,
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles 17 Documents
Search results for , issue "Vol 44, No 5 (2017): Gastrointestinal" : 17 Documents clear
Aspirin Dosis Rendah untuk Pencegahan Preeklampsia dan Komplikasinya Iskandar, Ferdy; Limardi, Suryadi; Padang, Astrid Fransisca
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 5 (2017): Gastrointestinal
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (90.945 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v44i5.802

Abstract

Preeklampsia merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas ibu hamil (bumil), persalinan prematur, kematian perinatal, dan pertumbuhan janin terhambat (PJT). Aspirin dosis rendah dapat mengurangi risiko tersebut, terutama pada kehamilan risiko tinggi. Terapi ini menghambat vasokonstriksi yang diperantarai tromboksan dan mencegah kegagalan transformasi fisiologis arteri spiralis. Penggunaannya tidak berhubungan dengan komplikasi yang signifikan.Preeclampsia is the major cause of morbidity and mortality of pregnant women, premature delivery, perinatal mortality, and intrauterine growth retardation (IUGR). Low-dose aspirin can reduce the risk, especially in high-risk pregnancies. This therapy inhibits thromboxane-mediated vasoconstriction and prevents the failure of a physiological transformation of spiral arteries. Its use is not associated with significant complications.
Hubungan Jenis Operasi dengan Angka Ketahanan Hidup Sepuluh-tahun Penderita Kanker Tiroid Diferensiasi Baik di RSUP Dr. M. Djamil, Padang -, Azamris
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 5 (2017): Gastrointestinal
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.385 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v44i5.792

Abstract

Latar Belakang : Kanker tiroid merupakan keganasan endokrin tersering dan diperkirakan 1,1 % dari seluruh keganasan manusia, pertumbuhan dan perjalanan penyakitnys umumnya lambat, morbiditas dan mortalitas rendah, terutama pada kanker berdiferensiasi baik. Jenis tindakan bedah untuk kanker tiroid berdiferensiasi baik (KTD) masih kontroversial. Penelitian ini mencari hubungan jenis operasi dengan angka ketahanan hidup 10 tahun penderita kanker tiroid berdiferensiasi baik di RSUP Dr.M.Djamil Padang. Metode : Penelitian retrospektif pada penderita kanker tiroid di RSUP Dr.M.Djamil Padang dari tanggal 1 Januari 2004 sampaidengan 31 Desember 2013. Pengambilan data di bagian rekam medik, langsung pada pasien poliklinik bedah, melalui kunjungan rumah ataupun via telepon. Analisis data secara analitik komparatif, untuk mencari hubungan 2 variabel digunakan uji chi square dengan derajat kepercayaan 95%. Hasil : Dari 62 sampel penelitian, 27 penderita termasuk kelompok risiko rendah. Masih terdapat perbedaan jenis operasi KTD kelompok risiko rendah. Pada jenis operasi yang lebih konservatif tidak ditemukan komplikasi operasi dengan perbedaan angka ketahanan hidup 10 tahun tidak bermakna dibandingkan tiroidektomi total. Background: Thyroid cancer is the most frequent endocrine malignancy, approximately 1,1% among all malignancies in human. Most thyroid cancers are slowly developing and progressing with low morbidity and mortality, mainly in well-differentiated cancer. Surgical treatment choices for well-differentiated thyroid cancer are still controversial. This study tried to find out relationship between type of surgeries and 10-year survival in well differentiated cancer patients in RSUP. Dr. M. Djamil Padang. Method: This study is a retrospective study on data from thyroid cancer patients in RSUP Dr. M. Djamil Padang from January 1st 2004 until December 31st 2013. Data was collected from medical record, directly from patients in the clinic, home visit and by phone call. Comparative analysis was used to find correlation between two variables, chi square test was used with 95% accuracy. Result: From 62 individuals, 27 patients had low risk well-differentiated thyroid cancer. There are still some variations of surgery methods in low-risk well-differentiated thyroid cancer patients, No postsurgery complication in more conservative surgery; the 10-year survival rate isn't statistically different compared to total thyroidectomy.
Prevalensi dan Karakteristik Rinitis Alergi Anak 13-14 Tahun di Pontianak pada Maret 2016 Berdasarkan Kuesioner ISAAC dan ARIA-WHO 2008 Pasaribu, Putri Sondang; Nurfarihah, Eva; Handini, Mitra
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 5 (2017): Gastrointestinal
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.185 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v44i5.798

Abstract

Latar Belakang: Rinitis alergi adalah gejala inflamasi yang diperantarai sistem imun (IgE) saat membran mukosa hidung terpapar alergen. Belum ada penelitian prevalensi rinitis alergi di Pontianak. Objektif: Menghitung prevalensi dan karakteristik rinitis alergi anak usia 13-14 tahun di Pontianak pada bulan Maret 2016.Metodologi: Penelitian potong lintang pada 100 siswa SMP di Kota Pontianak. Data diperoleh menggunakan kuesioner ISAAC dan ARIA-WHO. Lima karakteristik yang dinilai: jenis kelamin, derajat, sifat, klasifikasi ARIA-WHO dan gejala utama rinitis alergi. Hasil: Bersin adalah keluhan utama (34,2%). Prevalensi rinitis alergi adalah 38% (laki-laki 55,3% dan perempuan 44,7%). Sebagian besar derajat ringan (52,6%) dan intermiten (97,4%). Berdasarkan klasifikasi ARIA, terutama rinitis alergi ringan intermiten (52,6%). Simpulan: Prevalensi rinitis alergi di Pontianak pada usia 13-14 tahun adalah 38%. Anak laki-laki lebih banyak dibandingkan perempuan. Sebagian besar penderita diklasifikasikan ringan intermiten dengan gejala utama adalah bersin.Background: Allergic rhinitis is symptoms caused by immunologically mediated (IgE) inflammation after nasal mucous membrane exposed by allergens. No research has been conducted on allergic rhinitis prevalence in Pontianak. Objective: To estimate the prevalence and characteristics of allergic rhinitis among 13-14 year-old children in Pontianak in March 2016. Methods: One hundred junior high school students in Pontianak were included in this cross-sectional research. Data was obtained using ISAAC questionnaire and ARIA-WHO. Five characteristics were assessed: gender, allergic rhinitis severity, duration, ARIA classification and main symptom. Results: Sneezing is the most common main symptom (34,2%). The prevalence of allergic rhinitis was 38% (55,3% in boy and 44,7% in girl). Mostly mild (52,6%) and intermittent (97,4%); 52,6% classified as mild-intermittent allergic rhinitis based on ARIA-WHO classification. Conclusion: The allergic rhinitis prevalence among 13-14 year-old children in Pontianak was 38%. Boys were more frequent than girls. Most children with allergic rhinitis were classified into mild-intermittent with sneezing as the main symptom. 
The Efficacy and Safety of Two Depo Medroxyprogesterone Acetate Injection Preparations as Contraception: An Open-Label, Randomized Controlled Study Rosdiana, Dewi Selvina; K. Suherman, Suharti; Affandi, Biran; Gunadi, E. Rusdianto; Amelia, Dwirani; Baharrudin, Mohammad
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 5 (2017): Gastrointestinal
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.93 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v44i5.794

Abstract

Latar belakang: Kontrasepsi hormonal injeksi masih banyak digunakan di berbagai negara berkembang, termasuk di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan efikasi dan keamanan kontrasepsi hormonal injeksi mengandung 150 mg/mL medroxyprogesterone acetate (DMPA) (obat A) yang akan digunakan untuk program Keluarga Berencana Nasional, dibandingkan dengan inovatornya (obat B). Metode: penelitian ini open-label, acak, multisenter, 2 kelompok, melibatkan 400 subjek usia produktif, yang diacak untuk mendapatkan obat A atau obat B. Injeksi diberikan sekali setiap 3 bulan, selama 1 tahun. Hasil: Setelah 4 kali injeksi kontrasepsi periode satu tahun, tidak didapatkan kehamilan pada kedua kelompok, nilai Pearl-Index masing-masing kelompok nol. Insidensi kejadian tidak diinginkan sebanding pada kedua kelompok dan dapat ditoleransi, dengan kejadian paling sering adalah amenore, spotting, sakit kepala dan menstruasi memanjang. Simpulan: Kontrasepsi hormonal injeksi yang akan digunakan untuk program KB nasional (obat A) memiliki efikasi dan keamanan yang sebanding dengan inovatornya (obat B).Backgroud: Injectable hormonal contraceptives remain in extensive use in many developing countries, including Indonesia. This study was intended to compare the efficacy and safety of injectable hormonal contraception contain 150 mg/mL DMPA injection (Drug A), that will be used for national Family Planning Program, versus the innovator product (Drug B). Methods: This study was an open-label, randomized, multicenter, 2-parallel group study, involving 400 women of childbearing age, who received Drug A or Drug B four times at 3-month intervals. Results: No pregnancies occur in both groups after 4 injections of Drug A or Drug B over a period of 12 months, the Pearl-Index value for each group was zero. The incidence of adverse events between groups were comparable and tolerable, the most common events were amenorrhea, spotting, headache, and prolonged menstruation. Conclusion: The efficacy and safety of injectable DMPA (Drug A) produced for National Family Planning program was comparable with the innovator DMPA drug (Drug B).
Sirenomelia “The Mermaid Syndrome “ - Kasus Serial Sutopo, Mediana; Uli, Tiarma
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 5 (2017): Gastrointestinal
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (818.857 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v44i5.799

Abstract

Sirenomelia adalah kelainan kongenital yang jarang, angka kejadiannya 0,8 – 1 kasus / 100.000 kelahiran. Sirenomelia bersifat lethal dan biasanya bayi meninggal setelah lahir akibat kelainan kongenital multipel. Etiologi dan patogenesis sirenomelia masih belum diketahui, diduga akibat defek formasi embrional saat pembentukan regio kaudal. Dalam satu tahun kami menemukan 2 kasus sirenomielia. Pada kasus pertama didapatkan gambaran ultrasonografi hipoplasia thorak dan anhidramnion. Pada kasus kedua didapatkan gambaran horseshoe kidney, tidak tampak vesika urinaria, anhidramnion dan penumpukan long bones daerah caudal (femur, tibia dan fibula). Kedua kasus dirujuk dalam keadaan lanjut (trimester dua dan tiga), Jila diketahui dini (pada trimester satu), dapat dilakukan terminasi kehamilan dini pervaginam sehingga dapat mengurangi morbiditas ibu.Sirenomelia is a rare congenital disorder, the incidence is 0.8-1 case/100,000 births. Sirenomelia is lethal, the baby usually die after birth due to multiple congenital anomaly. The etiology and pathogenesis of sirenomelia is suspected due to a defect in the embryonic formation of the caudal region. We found two cases of sirenomielia in a year. The first case was found with thoracic hypoplasia and anhidramnion. The second case was found with horseshoe kidney, without clear bladder appearance, anhidramnion and piled long bones the caudal region (femur, tibia and fibula ). Both cases were referred to our hospital in second and third trimesters of pregnancy. Identification in early stage can reduce maternal morbidity by earlier vaginal termination of pregnancy.
Peran Anti Mullerian Hormone pada Penilaian Kapasitas Reproduksi Wanita Kurniawan, Liong Boy
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 5 (2017): Gastrointestinal
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.639 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v44i5.795

Abstract

Unit fungsional ovarium pada manusia adalah folikel ovarium. Jumlah folikel pada pool folikel primordial merupakan faktor penentu penting lamanya usia reproduksi pada wanita. Kadar Anti Mullerian Hormone (AMH) serum secara esensial merefleksikan cadangan folikuler ovarium dan menjadi tidak terdeteksi pada saat menopause. Variasi kadar AMH sepanjang siklus menstruasi tidak berbeda signifikan sehingga pemeriksaan dapat dilakukan kapan saja. Pemeriksaan AMH plasma pada wanita subur digunakan untuk menilai cadangan ovarium dan dapat digunakan sebagai tes skrining status fertilitas wanita yang ingin memiliki anak pada usia di atas 35 tahun.Ovarian follicle is the functional unit of ovaries. The quantity of follicles in primordial follicle pool is important determinant of woman’s reproduction capacity. The serum Anti Mullerian Hormone (AMH) level essentially reflects ovarian follicular reserve capacity and become undetectable after menopause. AMH level does not vary significantly during menstruation cycle. AMH level in fertile woman refers to ovarian reserve capacity and can be used to measure fertility status of women above 35 years old who want to become pregnant.
Magnesium Sulfat untuk Asma Anak -, Handoyo
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 5 (2017): Gastrointestinal
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.783 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v44i5.801

Abstract

Asma adalah penyakit kronis saluran napas yang paling sering pada anak-anak. Sampai saat ini belum ada obat untuk menyembuhkan asma. Magnesium adalah antagonis kalsium fisiologis yang berperan dalam relaksasi otot polos. Tinjauan pustaka ini mengkaji magnesium sulfat sebagai salah satu pilihan terapi eksaserbasi akut asma yang aman dan mudah didapat.Asthma is a chronic airway disease mostly found in pediatric population. There is no cure for this disease until now. Magnesium is a calcium antagonist which has a role in smooth muscle relaxation. This article review the use of safe and easily available magnesium sulfate for acute asthma exacerbation
Diagnosis dan Tata Laksana Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) di Pusat Pelayanan Kesehatan Primer Saputera, Monica Djaja; Budianto, Widi
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 5 (2017): Gastrointestinal
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (575.572 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v44i5.797

Abstract

Diagnosis GERD di pusat pelayanan kesehatan primer ditegakkan berdasarkan gejala klinis berupa heart burn, regurgitasi, dan tes PPI. Terapi awal adalah PPI dosis tunggal selama 8 minggu, dilanjutkan PPI dosis ganda selama 4 – 8 minggu jika keluhan tidak membaik. Obat lain yang juga digunakan adalah antagonis reseptor H2, antasida, dan prokinetik (antagonis dopamin dan antagonis reseptor serotonin).Diagnosis of GERD in primary health care service is confirmed by clinical symptoms of heart burn, regurgitation and PPI test. Initial therapy is a once-daily PPI for 8 weeks, continued if necessary with double dose PPI for 4-8 weeks. Alternative drugs are H2 antagonist receptor, antacid, and prokinetic (serotonin receptor antagonist and dopamine antagonist).
Uji Koagulasi Point-of-Care Perioperatif Dimas Kusnugroho Bonardo Pardede
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 5 (2017): Gastrointestinal
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v44i5.803

Abstract

Manajemen koagulasi perioperatif berdampak signifikan terhadap luaran perioperatif pasien. Anestesiologis memegang peran penting sebagai pengambil keputusan terapi hemostatika dan/atau transfusi komponen darah. Uji koagulasi point-of-care (POC) membuka dimensi baru dalam manajemen koagulasi perioperatif yang bermanfaat memperbaiki luaran perioperatif pasien.Perioperative coagulation management has significant impact on perioperative outcome of patient. Anesthesiologist plays a critical role in the decision making on hemostatic therapy and/or transfusion in the surgical setting. Point-of-care (POC) coagulation tests have given a new dimension in perioperative coagulation management.
Prevalensi dan Karakteristik Rinitis Alergi Anak 13-14 Tahun di Pontianak pada Maret 2016 Berdasarkan Kuesioner ISAAC dan ARIA-WHO 2008 Putri Sondang Pasaribu; Eva Nurfarihah; Mitra Handini
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 5 (2017): Gastrointestinal
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v44i5.798

Abstract

Latar Belakang: Rinitis alergi adalah gejala inflamasi yang diperantarai sistem imun (IgE) saat membran mukosa hidung terpapar alergen. Belum ada penelitian prevalensi rinitis alergi di Pontianak. Objektif: Menghitung prevalensi dan karakteristik rinitis alergi anak usia 13-14 tahun di Pontianak pada bulan Maret 2016.Metodologi: Penelitian potong lintang pada 100 siswa SMP di Kota Pontianak. Data diperoleh menggunakan kuesioner ISAAC dan ARIA-WHO. Lima karakteristik yang dinilai: jenis kelamin, derajat, sifat, klasifikasi ARIA-WHO dan gejala utama rinitis alergi. Hasil: Bersin adalah keluhan utama (34,2%). Prevalensi rinitis alergi adalah 38% (laki-laki 55,3% dan perempuan 44,7%). Sebagian besar derajat ringan (52,6%) dan intermiten (97,4%). Berdasarkan klasifikasi ARIA, terutama rinitis alergi ringan intermiten (52,6%). Simpulan: Prevalensi rinitis alergi di Pontianak pada usia 13-14 tahun adalah 38%. Anak laki-laki lebih banyak dibandingkan perempuan. Sebagian besar penderita diklasifikasikan ringan intermiten dengan gejala utama adalah bersin.Background: Allergic rhinitis is symptoms caused by immunologically mediated (IgE) inflammation after nasal mucous membrane exposed by allergens. No research has been conducted on allergic rhinitis prevalence in Pontianak. Objective: To estimate the prevalence and characteristics of allergic rhinitis among 13-14 year-old children in Pontianak in March 2016. Methods: One hundred junior high school students in Pontianak were included in this cross-sectional research. Data was obtained using ISAAC questionnaire and ARIA-WHO. Five characteristics were assessed: gender, allergic rhinitis severity, duration, ARIA classification and main symptom. Results: Sneezing is the most common main symptom (34,2%). The prevalence of allergic rhinitis was 38% (55,3% in boy and 44,7% in girl). Mostly mild (52,6%) and intermittent (97,4%); 52,6% classified as mild-intermittent allergic rhinitis based on ARIA-WHO classification. Conclusion: The allergic rhinitis prevalence among 13-14 year-old children in Pontianak was 38%. Boys were more frequent than girls. Most children with allergic rhinitis were classified into mild-intermittent with sneezing as the main symptom. 

Page 1 of 2 | Total Record : 17


Filter by Year

2017 2017


Filter By Issues
All Issue Vol 50 No 11 (2023): Pediatri Vol 50 No 10 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 9 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 8 (2023): Dermatiologi Vol 50 No 7 (2023): Kardiovaskular Vol 50 No 6 (2023): Edisi CME Vol 50 No 5 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 4 (2023): Anak Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi Vol 50 No 2 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 1 (2023): Oftalmologi Vol 49, No 4 (2022): Infeksi - COVID-19 Vol 49 No 12 (2022): Dermatologi Vol. 49 No. 11 (2022): Neurologi Vol 49 No 10 (2022): Oftalmologi Vol. 49 No. 9 (2022): Neurologi Vol. 49 No. 8 (2022): Dermatologi Vol 49, No 7 (2022): Vitamin D Vol 49 No 7 (2022): Nutrisi - Vitamin D Vol 49 No 6 (2022): Nutrisi Vol 49, No 6 (2022): Nutrisi Vol 49, No 5 (2022): Jantung dan Saraf Vol 49 No 5 (2022): Neuro-Kardiovaskular Vol 49 No 4 (2022): Penyakit Dalam Vol 49 No 3 (2022): Neurologi Vol 49, No 3 (2022): Saraf Vol 49 No 2 (2022): Infeksi Vol 49, No 2 (2022): Infeksi Vol 49 (2022): CDK Suplemen-2 Vol 49 (2022): CDK Suplemen-1 Vol 49, No 1 (2022): Bedah Vol 49 No 1 (2022): Bedah Vol 48 No 11 (2021): Penyakit Dalam - COVID-19 Vol 48, No 7 (2021): Infeksi - [Covid - 19] Vol 48 No 1 (2021): Infeksi COVID-19 Vol. 48 No. 10 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 4 Vol 48 No 8 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 3 Vol 48 No 5 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 2 Vol. 48 No. 2 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 1 Vol 48, No 12 (2021): General Medicine Vol 48 No 12 (2021): Penyakit Dalam Vol 48, No 11 (2021): Kardio-SerebroVaskular Vol 48, No 10 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48, No 9 (2021): Nyeri Neuropatik Vol 48 No 9 (2021): Neurologi Vol 48, No 8 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 7 (2021): Infeksi Vol 48, No 6 (2021): Kardiologi Vol 48 No 6 (2021): Kardiologi Vol 48, No 5 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 4 (2021): Dermatologi Vol 48, No 4 (2021): Dermatologi Vol 48, No 3 (2021): Obstetri dan Ginekologi Vol. 48 No. 3 (2021): Obstetri - Ginekologi Vol 48, No 2 (2021): Farmakologi - Vitamin D Vol 48, No 1 (2021): Penyakit Dalam Vol 47, No 12 (2020): Dermatologi Vol 47, No 11 (2020): Infeksi Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi Vol. 47 No. 10 (2020): Dermatologi Vol 47 No 9 (2020): Infeksi Vol 47, No 9 (2020): Neurologi Vol. 47 No. 8 (2020): Oftalmologi Vol 47, No 8 (2020): Kardiologi Vol. 47 No. 7 (2020): Neurologi Vol 47, No 7 (2020): Bedah Vol 47 No 6 (2020): Kardiologi & Pediatri Vol. 47 No. 5 (2020): Bedah Vol 47, No 5 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol. 47 No. 4 (2020): Interna Vol 47, No 4 (2020): Arthritis Vol. 47 No. 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 2 (2020): Penyakit Infeksi Vol 47 No 2 (2020): Infeksi Vol 47, No 1 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol 47, No 1 (2020): Bedah Vol 47 No 1 (2020): Bedah Vol. 46 No. 7 (2019): Continuing Medical Education - 2 Vol 46 No 12 (2019): Kardiovakular Vol 46, No 12 (2019): Kardiovaskular Vol. 46 No. 11 (2019): Pediatri Vol 46, No 11 (2019): Kesehatan Anak Vol 46, No 10 (2019): Farmasi Vol. 46 No. 10 (2019): Farmakologi - Continuing Professional Development Vol 46 No 9 (2019): Neurologi Vol 46, No 9 (2019): Neuropati Vol 46, No 8 (2019): Kesehatan Anak Vol. 46 No. 8 (2019): Pediatri Vol 46, No 7 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46, No 6 (2019): Diabetes Mellitus Vol 46 No 6 (2019): Endokrinologi Vol. 46 No. 5 (2019): Pediatri Vol 46, No 5 (2019): Pediatri Vol. 46 No. 4 (2019): Dermatologi Vol 46, No 4 (2019): Dermatologi Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi Vol. 46 No. 3 (2019): Nutrisi Vol 46, No 2 (2019): Penyakit Dalam Vol. 46 No. 2 (2019): Interna Vol 46 No 1 (2019): Obstetri-Ginekologi Vol 46, No 1 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46, No 1 (2019): Obstetri - Ginekologi Vol 45, No 12 (2018): Farmakologi Vol 45 No 12 (2018): Interna Vol 45, No 11 (2018): Neurologi Vol. 45 No. 11 (2018): Neurologi Vol. 45 No. 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45 No 9 (2018): Infeksi Vol 45, No 9 (2018): Infeksi Vol. 45 No. 8 (2018): Dermatologi Vol 45, No 8 (2018): Alopesia Vol 45, No 7 (2018): Onkologi Vol 45 No 7 (2018): Onkologi Vol. 45 No. 6 (2018): Interna Vol 45, No 6 (2018): Penyakit Dalam Vol 45, No 5 (2018): Nutrisi Vol. 45 No. 5 (2018): Nutrisi Vol 45, No 4 (2018): Cedera Kepala Vol 45 No 4 (2018): Neurologi Vol 45, No 4 (2018): Cidera Kepala Vol. 45 No. 3 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 3 (2018): Muskuloskeletal Vol. 45 No. 2 (2018): Urologi Vol 45, No 2 (2018): Urologi Vol 45 No 1 (2018): Dermatologi Vol 45, No 1 (2018): Suplemen Vol 45, No 1 (2018): Dermatologi Vol 44, No 12 (2017): Neurologi Vol 44, No 11 (2017): Kardiovaskuler Vol 44, No 10 (2017): Pediatrik Vol 44, No 9 (2017): Kardiologi Vol 44, No 8 (2017): Obstetri-Ginekologi Vol 44, No 7 (2017): THT Vol 44, No 6 (2017): Dermatologi Vol 44, No 5 (2017): Gastrointestinal Vol 44, No 4 (2017): Optalmologi Vol 44, No 3 (2017): Infeksi Vol 44, No 2 (2017): Neurologi Vol 44, No 1 (2017): Nutrisi Vol 43, No 12 (2016): Kardiovaskular Vol 43, No 11 (2016): Kesehatan Ibu - Anak Vol 43, No 10 (2016): Anti-aging Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler Vol 43, No 8 (2016): Infeksi Vol 43, No 7 (2016): Kulit Vol 43, No 6 (2016): Metabolik Vol 43, No 5 (2016): Infeksi Vol 43, No 4 (2016): Adiksi Vol 43, No 3 (2016): Kardiologi Vol 43, No 2 (2016): Diabetes Mellitus Vol 43, No 1 (2016): Neurologi Vol 42, No 12 (2015): Dermatologi Vol 42, No 11 (2015): Kanker Vol 42, No 10 (2015): Neurologi Vol 42, No 9 (2015): Pediatri Vol 42, No 8 (2015): Nutrisi Vol 42, No 7 (2015): Stem Cell Vol 42, No 6 (2015): Malaria Vol 42, No 5 (2015): Kardiologi Vol 42, No 4 (2015): Alergi Vol 42, No 3 (2015): Nyeri Vol 42, No 2 (2015): Bedah Vol 42, No 1 (2015): Neurologi Vol 41, No 12 (2014): Endokrin Vol 41, No 11 (2014): Infeksi Vol 41, No 10 (2014): Hematologi Vol 41, No 9 (2014): Diabetes Mellitus Vol 41, No 8 (2014): Pediatrik Vol 41, No 7 (2014): Kardiologi Vol 41, No 6 (2014): Bedah Vol 41, No 5 (2014): Muskuloskeletal Vol 41, No 4 (2014): Dermatologi Vol 41, No 3 (2014): Farmakologi Vol 41, No 2 (2014): Neurologi Vol 41, No 1 (2014): Neurologi More Issue