cover
Contact Name
Dita Archinirmala
Contact Email
dorotea.ditaarchinirmala@kalbe.co.id
Phone
+6281806175669
Journal Mail Official
cdkjurnal@gmail.com
Editorial Address
http://www.cdkjournal.com/index.php/CDK/about/editorialTeam
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Cermin Dunia Kedokteran
Published by PT. Kalbe Farma Tbk.
ISSN : 0125913X     EISSN : 25032720     DOI : 10.55175
Core Subject : Health,
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles 25 Documents
Search results for , issue "Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi" : 25 Documents clear
Retinopati Diabetes -, Elvira; Suryawijaya, Ernes Erlyana
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (999.923 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v46i3.514

Abstract

Retinopati diabetes (RD) merupakan kelainan retina pada pasien diabetes melitus dan menjadi penyebab utama kebutaan pada usia produktifdi negara Barat. Kejadian RD pada populasi diabetes meningkat seiring durasi penyakit. Selain pengendalian gula darah, tindakan invasif berupafotokoagulasi laser, injeksi anti-VEGF, atau tindakan bedah, mungkin diperlukan sesuai derajat keparahan RD. Skrining pada pasien DM diperlukan agar mendapat penanganan yang cepat dan tepat. Artikel ini membahas patofisiologi dan tatalaksana retinopati diabetes.Diabetic retinopathy (DR) is a retinal disorder in patients with diabetes mellitus and one of the leading causes blindness in Western world,particularly among working-age individuals. The incidence of DR was increased along with the duration of disease. Along with blood sugarcontrol, invasive procedures such as laser photocoagulation, anti-VEGF injection, or surgery may be needed. Eye screening in diabetic patientis needed to provide prompt treatment. The pathophysiology and treatment of diabetic retinopathy will be discussed. 
Peranan Mikronutrien terhadap Perkembangan Otak Siregar, Gursal Rai Gandra; Saing, Johannes Harlan; Dimyati, Yazid; Destariani, Cynthea Prima
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (610.365 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v46i3.504

Abstract

Perkembangan otak dimulai saat konsepsi sampai masa dewasa muda. Nutrisi berperan penting dalam perkembangan saraf, mulai dari neurulasi sampai mielinasi. Penelitian telah menunjukkan hubungan antara kadar mikronutrien dengan perkembangan otak, baik bersifat sementara maupun permanen dan dalam jangka pendek maupun jangka panjang.Brain development begin from conception through young adult period. Nutrition plays a main role in the brain development from neurulation until myelination process. Studies showed the relationship between micronutrient status and brain development.
Nonreperfused Inferior Wall Myocardial Infarction with Total Atrioventricular Block Sitohang, Patricia Feliani
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (593.971 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v46i3.509

Abstract

Inferior wall myocadial infarction (IWMI) with total atrioventricular block (TAVB) is associated with poor clinical status, such as right ventricular infarction (RVI). In IWMI patients with RVI and TAVB, coronary reperfusion using primary percutaneous coronary intervention (PCI) or fibrinolysis can preserve ventricular function and reduce mortality and morbidity. Bradyarrhythmia with hypotension and TAVB is one of the main indications to temporary pacing. This is a case of infero-posterior wall myocardial infarction, RVI, with TAVB. Primary PCI or fibrinolysis and temporary pacing was suggested, but the patient refused. Treatments were atropine sulfate and dopamine for bradycardia and hypotension. Dual-antiplatelet with aspirin and clopidogrel along with fondaparinux was given for antithrombotic therapy.The ECG showed resolution of STEMI and improvement in heart rhythm after 48h.Infark miokardial dinding inferior dengan blok atrioventrikular total dikaitkan dengan status klinis buruk, seperti infark ventrikel kanan. Pada pasien infark miokardial dinding inferior dengan infark ventrikel kanan dan blok atrioventrikular total, reperfusi koroner dengan intervensi koroner perkutan primer atau fibrinolisis dapat melindungi fungsi ventrikel dan mengurangi mortalitas serta morbiditas. Bradiaritmia dengan hipotensi dan blok atrioventrikular total adalah salah satu prioritas utama pemasangan pacu jantung sementara. Kasus ini pria dengan infark miokard infero-posterior, infark ventrikel kanan, dengan blok atrioventrikular total. Pasien menolak intervensi koroner perkutan primer atau fibrinolisis serta pacu jantung sementara. Terapi atropin sulfat dan dopamin untuk bradikardia dan hipotensi; terapi antitrombotik berupa dual-antiplatelet dengan aspirin dan clopidogrel bersama fondaparinux. ECG menunjukkan resolusi STEMI dan perbaikan irama jantung setelah 48 jam. Pada pasien non-reperfusi, diperlukan antitrombotik yang tepat.
Penulisan Resep Paranadipa M, Mahesa
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.267 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v46i3.515

Abstract

Pemberian obat kepada pasien dengan tujuan untuk mengobati penyakit atau gejala-gejala yang muncul dan dirasakan oleh pasien merupakan satu langkah penting dalam upaya pengobatan. Pemberian obat kepada pasien tentunya didasarkan kepada dasar diagnosis serta yang terpenting adalah keselamatan pasien (patient safety). 
Profile of Pediatric Nephrotic Syndrome in Wahidin Sudirohusodo Hospital, Makassar, Indonesia Albar, Husein; Bilondatu, Fadel
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (487.673 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v46i3.505

Abstract

Introduction: Nephrotic syndrome is a common and important pediatric chronic renal disease, characterized by massive proteinuria, hypoalbuminemia, edema and hypercholesterolemia. This study was to assess the profile of pediatric nephrotic syndrome at Wahidin Sudirohusodo Hospital Makassar over a 7-year period. Methods: A retrospective study on hospitalized nephrotic syndrome patients at pediatric nephrology ward in Wahidin Sudirohusodo Hospital Makassar from January 2011 to December 2017. Demographic, clinical and laboratory data were extracted from medical records. Results: A total of 142 children with nephrotic syndrome who fulfilled the inclusion criteria was analyzed. Age at onset ranged from 1.4 to 17.5 years (mean 8.5 years), the majority (66.2%) was 5 year-old and above, predominantly boy (66.2%) with a boy to girl ratio of 1,95:1 and well-nourished (56.3%). Upper respiratory infections were observed in 36.6% cases. The predominant clinical signs and symptoms were edema (100%), hypertension (26.8%). Patients with relapse were 56.3%, and the mortality was 2.12%. The prevalent laboratory findings were microscopic hematuria (50.7%), massive proteinuria (100%), hypoalbuminemia (100%), hypercholesterolemia (100%), and elevated serum creatinine (9.9%). Conclusion: The profile of pediatric nephrotic syndrome at Wahidin Sudirohusodo Hospital Makassar was similar to typical children nephrotic syndrome and did not significantly differ from other studies.Introduksi : Sindrom nefrotik adalah penyakit kronis anak yang sering dan penting di seluruh dunia, ditandai oleh proteinuria masif, hipoalbuminemia, edema dan hiperkolesterolemia. Studi ini untuk menentukan profil sindrom nefrotik anak di rumah sakit Wahidin Sudirohusodo Makassar. Metode : Penelitian retrospektif 7 tahun pada pasien sindrom nefrotik di bangsal nefrologi anak rumah sakit Wahidin Sudirohusodo Makassar dari bulan Januari 2011 sampaidengan Desember 2017. Data diambil dari rekam medik terdiri dari data demografi dan temuan klinis dan laboratorium. Hasil: Total 142 pasien sindrom nefrotik anak yang memenuhi kriteira inklusi dianalisis. Umur pasien saat onset mulai dari 1,4 sampai dengan 17,5 tahun dengan rerata umur 8,5 tahun. Kebanyakan berumur 5 tahun atau lebih (66.2%) didominasi pasien laki-laki (66,2%) dengan rasio jenis kelamin 1,95:1. Status gizi baik (56,3%). Infeksi saluran napas atas ditemukan pada 36,6% kasus. Gejala dan tanda klinis utama adalah edema (100%), hipertensi (26,8%), Relaps pada 56,3% kasus dan 2,12% pasien meninggal. Temuan laboratorium utama adalah hematuria mikroskopik (50,7%), proteinuria masif (100%), hipoalbuminemia (100%), hiperkolesterolemia (100%), dan peningkatan kreatinin serum (9,9%). Simpulan: Profil sindrom nefrotik anak di rumah sakit Wahidin Sudirohusodo Makassar pada umumnya serupa dan tidak berbeda bermakna dari penelitian lain. 
Penyakit Autoimun dan Terapi Herbal: Peran Nanoteknologi terhadap Efektivitas Obat Herbal Purba, Jan Sudir
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.392 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v46i3.511

Abstract

Penyakit autoimun adalah penyakit akibat kesalahan pengenalan sistem imun dalam tubuh sehingga sel yang sewajarnya dilindungi malah dianggap musuh. Salah satu yang termasuk dalam kelompok penyakit autoimun adalah Myasthenia gravis (MG). Obat kortikosteroid seperti prednisolon, obat imunosupresan seperti azathioprine, bisa digunakan untuk membantu menekan respon imun tubuh yang berlebihan. Kholinesterase inhibitor, seperti pyridostigmine, dapat memperbaiki komunikasi antara sel saraf dan otot. Penggunaan jangka panjang obat-obat di atas dapat menimbulkan masalah yang berkaitan dengan efikasi, dosis serta efek samping dan biaya pengobatan. Pada beberapa penelitian hewan coba, ekstrak herbal Acalypha indica Linn (AI) memperlihatkan efek hampir sama dengan pyridostigmine pada MG. Untuk meningkatkan efikasinya, ekstrak AI ini perlu diproses melalui pengembangan nano teknologi. Penggunaan sediaan dalam bentuk nano diharapkan dapat meningkatkan efek terapeutik dan meminimalkan dampak negatif serta pembiayaan.Autoimmune disease is an illness in which the immune system produce antibodies that attack normal body tissues. Myasthenia gravis (MG) is an autoimmune disease of the neuromuscular junction (NMJ). Corticosteroid drugs such as prednisolone, and immunosuppressant drugs such as azathioprine, can be used to help suppress the body's excessive immune response. Cholinesterase inhibitors, such as pyridostigmine, can improve communication between nerve cells and muscles, but long-term use can cause problems related to efficacy, doses, side effects and medical costs. Studies in experimental animals show the effect of Acalypha indica Linn (AI) extract is almost the same as pyridostigmine. In the future, research needs to be done to improve the efficacy of this drug through the development of nano technology. 
Diagnosis dan Tatalaksana Intususepsi Surya Djaya, Alfonsus Mario Eri
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (674.485 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v46i3.507

Abstract

Intususepsi adalah keadaan inversi segmen usus ke segmen usus lainnya. Intususepsi dapat terjadi pada segala usia, terutama pada anak anak. Penyebab intususepsi pada anak mayoritas idiopatik. Sedangkan intususepsi pada orang dewasa mayoritas bersifat sekunder, disebabkan penyakit lain seperti polip, neoplasma, striktur, atau divertikulum. Diagnosis berdasarkan pemeriksaan klinis dan penunjang radiologis. Terapi selain operasi, bisa menggunakan enema.Intussusception is characterized by the inversion of an intestinal segment into another segment. Intussusception is found mostly in children. The etiology in children is mostly idiopathic. In adult, intussusception is usually secondary to other disease like polyp, neoplasm, stricture, or diverticulum. Diagnosis is clinical and radiological. Treatment is with enema, or surgical.
Potensi Zink untuk Terapi Osteoporosis Fajar, Adam; Ismiarto, Yoyos Dias
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1475.319 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v46i3.512

Abstract

Osteoporosis ditandai dengan pengurangan massa tulang dan gangguan mikro-arsitektur jaringan tulang, mengakibatkan tulang menjadi rapuh dan meningkatkan risiko fraktur. Terapi osteoporosis meliputi perubahan gaya hidup dan obat-obatan yang dapat meningkatkan kekuatan tulang. Zink berpotensi mengurangi proses penyerapan tulang dan merangsang pembentukan tulang. Penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk mengetahui efektivitas zink dalam tatalaksana osteoporosis.Osteoporosis is characterized by bone mass reduction and bone tissue micro-architectural disorders that result in brittle bone and increased risk of fracture. Osteoporosis therapy includes lifestyle changes and drugs to increase bone strength. Zinc has the potential to decrease bone resorption and stimulate bone formation. Further study are needed to determine the efectivity of zinc is osteoporosis therapy.
Karakteristik Pasien Stroke Usia Muda di RSUD Kota Surakarta Mahendrakrisna, Daniel; Windriya, Drestha Pratita; Chandra GTS, Aria
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.682 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v46i3.502

Abstract

Latar Belakang. Kejadian stroke pada usia muda kurang dari 5% dari seluruh kejadian stroke. Beberapa penelitian melaporkan peningkatan angka kejadian stroke pada usia kurang dari 45 tahun. Penelitian ini untuk mengetahui angka kejadian dan karakteristik pasien stroke usia muda di RSUD Kota Surakarta. Metode. Penelitian deskriptif observatif pada populasi semua penderita stroke usia muda (18-45 tahun) di RSUD Kota Surakarta dari bulan Januari 2017 hingga Juni 2018. Data diambil dari rekam medis berupa usia, jenis kelamin, jenis stroke, hasil CT scan, serta faktor risiko. Hasil. Dari 420 pasien stroke pada rentang waktu Januari 2017-Juni 2018, didapatkan 28 penderita stroke usia muda, rerata usia 39.6 tahun dengan rentang usia 29 sampai 45 tahun, 53.6 % laki-laki, 78.6% menderita stroke non hemoragik, 39.3% menderita kelemahan sisi kanan. Didapatkan riwayat hipertensi pada 85.7%, diabetes mellitus pada 14.3%, hiperkolesterolemia 17.9%, hiperurisemia 21.4%, gagal jantung 7.1%, epilepsi 7.1%, dan riwayat stroke 3.6%. Tidak ada yang mempunyai riwayat penyakit jantung koroner dan aritmia jantung. Simpulan. Stroke usia muda jarang, sebagian besar non hemoragik. Hipertensi dan dislipidemia juga merupakan faktor risiko utama stroke di usia muda.Introduction. Stroke in young adults is less than 5% of all incidence of stroke; but it is increasing among less than 45 years old. The purpose of this study was to determine the incidence and characteristics of young stroke patients in RSUD Kota Surakarta. Method. A descriptive analytic study on all stroke patients aged between 18-45 years in RSUD Kota Surakarta during January 2017 to June 2018. Data was collected from medical record consist of age, gender, type of stroke, CT scan data and risk factors. Result. From 420 stroke patients in the period of January 2017-June 2018, there were 28 young stroke patients in the range of 29 to 45 years old, the average was 39.6 years old; 53.6% were male and 78.6% suffered a non-hemorrhagic stroke, 39.3% had right hemiparesis. Hypertension was found in 85.7%, diabetes mellitus in 14.3%, dyslipidemia in 17.9%, high uric acid in 21.4%, heart failure in 7.1%, epilepsy in 7.1%, and previous stroke history in 3.6% patients. No patients has a history of coronary heart disease and cardiac arrhythmias. Conclusion.The young adults stroke incidence is low. Ischemic stroke is the most common type. Hypertension and dyslipidemia are the most common found stroke risk factors.
Sindrom Rubela Kongenital Kurniawan, Ruby
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (790.829 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v46i3.508

Abstract

Sindrom rubela kongenital (SRK) adalah kondisi bayi baru lahir dengan berbagai defek akibat infeksi virus rubela selama awal kehamilan. Gejala klasik SRK yaitu tuli, katarak, dan penyakit jantung bawaan. Diagnosis ditegakkan saat baru lahir, melalui anamnesis, pemeriksaan fisik awal mata dan pendengaran, serta pemeriksaan antibodi terhadap rubela pada bayi asimptomatik. Tatalakasana suportif dan perawatan multidispilin jangka panjang. Pencegahan dengan vaksinasi ibu sebelum kehamilan.Congenital rubella syndrome (CRS) is the condition of a newborn with various defects caused by rubella virus during early pregnancy. The classic symptoms of CRS are deafness, cataracts, and congenital heart disease. Diagnosis is made at birth through history, physical examination of the eyes and hearing, and examination of rubella antibodies in asymptomatic infants. Treatment is supportive with long-term multidiscipline management. Prevention can be done by vaccination to mothers before pregnancy.

Page 1 of 3 | Total Record : 25


Filter by Year

2018 2019


Filter By Issues
All Issue Vol 50 No 11 (2023): Pediatri Vol 50 No 10 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 9 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 8 (2023): Dermatiologi Vol 50 No 7 (2023): Kardiovaskular Vol 50 No 6 (2023): Edisi CME Vol 50 No 5 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 4 (2023): Anak Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi Vol 50 No 2 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 1 (2023): Oftalmologi Vol 49, No 4 (2022): Infeksi - COVID-19 Vol 49 No 12 (2022): Dermatologi Vol. 49 No. 11 (2022): Neurologi Vol 49 No 10 (2022): Oftalmologi Vol. 49 No. 9 (2022): Neurologi Vol. 49 No. 8 (2022): Dermatologi Vol 49, No 7 (2022): Vitamin D Vol 49 No 7 (2022): Nutrisi - Vitamin D Vol 49 No 6 (2022): Nutrisi Vol 49, No 6 (2022): Nutrisi Vol 49 No 5 (2022): Neuro-Kardiovaskular Vol 49, No 5 (2022): Jantung dan Saraf Vol 49 No 4 (2022): Penyakit Dalam Vol 49, No 3 (2022): Saraf Vol 49 No 3 (2022): Neurologi Vol 49, No 2 (2022): Infeksi Vol 49 No 2 (2022): Infeksi Vol 49 (2022): CDK Suplemen-2 Vol 49 (2022): CDK Suplemen-1 Vol 49, No 1 (2022): Bedah Vol 49 No 1 (2022): Bedah Vol 48 No 11 (2021): Penyakit Dalam - COVID-19 Vol 48, No 7 (2021): Infeksi - [Covid - 19] Vol 48 No 1 (2021): Infeksi COVID-19 Vol. 48 No. 10 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 4 Vol 48 No 8 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 3 Vol 48 No 5 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 2 Vol. 48 No. 2 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 1 Vol 48, No 12 (2021): General Medicine Vol 48 No 12 (2021): Penyakit Dalam Vol 48, No 11 (2021): Kardio-SerebroVaskular Vol 48, No 10 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48, No 9 (2021): Nyeri Neuropatik Vol 48 No 9 (2021): Neurologi Vol 48, No 8 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 7 (2021): Infeksi Vol 48, No 6 (2021): Kardiologi Vol 48 No 6 (2021): Kardiologi Vol 48, No 5 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 4 (2021): Dermatologi Vol 48, No 4 (2021): Dermatologi Vol 48, No 3 (2021): Obstetri dan Ginekologi Vol. 48 No. 3 (2021): Obstetri - Ginekologi Vol 48, No 2 (2021): Farmakologi - Vitamin D Vol 48, No 1 (2021): Penyakit Dalam Vol 47, No 12 (2020): Dermatologi Vol 47, No 11 (2020): Infeksi Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi Vol. 47 No. 10 (2020): Dermatologi Vol 47 No 9 (2020): Infeksi Vol 47, No 9 (2020): Neurologi Vol. 47 No. 8 (2020): Oftalmologi Vol 47, No 8 (2020): Kardiologi Vol 47, No 7 (2020): Bedah Vol. 47 No. 7 (2020): Neurologi Vol 47 No 6 (2020): Kardiologi & Pediatri Vol 47, No 5 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol. 47 No. 5 (2020): Bedah Vol. 47 No. 4 (2020): Interna Vol 47, No 4 (2020): Arthritis Vol. 47 No. 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 2 (2020): Penyakit Infeksi Vol 47 No 2 (2020): Infeksi Vol 47, No 1 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol 47, No 1 (2020): Bedah Vol 47 No 1 (2020): Bedah Vol. 46 No. 7 (2019): Continuing Medical Education - 2 Vol 46 No 12 (2019): Kardiovakular Vol 46, No 12 (2019): Kardiovaskular Vol. 46 No. 11 (2019): Pediatri Vol 46, No 11 (2019): Kesehatan Anak Vol 46, No 10 (2019): Farmasi Vol. 46 No. 10 (2019): Farmakologi - Continuing Professional Development Vol 46 No 9 (2019): Neurologi Vol 46, No 9 (2019): Neuropati Vol. 46 No. 8 (2019): Pediatri Vol 46, No 8 (2019): Kesehatan Anak Vol 46, No 7 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46 No 6 (2019): Endokrinologi Vol 46, No 6 (2019): Diabetes Mellitus Vol 46, No 5 (2019): Pediatri Vol. 46 No. 5 (2019): Pediatri Vol. 46 No. 4 (2019): Dermatologi Vol 46, No 4 (2019): Dermatologi Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi Vol. 46 No. 3 (2019): Nutrisi Vol 46, No 2 (2019): Penyakit Dalam Vol. 46 No. 2 (2019): Interna Vol 46 No 1 (2019): Obstetri-Ginekologi Vol 46, No 1 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46, No 1 (2019): Obstetri - Ginekologi Vol 45, No 12 (2018): Farmakologi Vol 45 No 12 (2018): Interna Vol. 45 No. 11 (2018): Neurologi Vol 45, No 11 (2018): Neurologi Vol. 45 No. 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45 No 9 (2018): Infeksi Vol 45, No 9 (2018): Infeksi Vol 45, No 8 (2018): Alopesia Vol. 45 No. 8 (2018): Dermatologi Vol 45, No 7 (2018): Onkologi Vol 45 No 7 (2018): Onkologi Vol. 45 No. 6 (2018): Interna Vol 45, No 6 (2018): Penyakit Dalam Vol 45, No 5 (2018): Nutrisi Vol. 45 No. 5 (2018): Nutrisi Vol 45, No 4 (2018): Cedera Kepala Vol 45 No 4 (2018): Neurologi Vol 45, No 4 (2018): Cidera Kepala Vol. 45 No. 3 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 3 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 2 (2018): Urologi Vol. 45 No. 2 (2018): Urologi Vol 45, No 1 (2018): Dermatologi Vol 45 No 1 (2018): Dermatologi Vol 45, No 1 (2018): Suplemen Vol 44, No 12 (2017): Neurologi Vol 44, No 11 (2017): Kardiovaskuler Vol 44, No 10 (2017): Pediatrik Vol 44, No 9 (2017): Kardiologi Vol 44, No 8 (2017): Obstetri-Ginekologi Vol 44, No 7 (2017): THT Vol 44, No 6 (2017): Dermatologi Vol 44, No 5 (2017): Gastrointestinal Vol 44, No 4 (2017): Optalmologi Vol 44, No 3 (2017): Infeksi Vol 44, No 2 (2017): Neurologi Vol 44, No 1 (2017): Nutrisi Vol 43, No 12 (2016): Kardiovaskular Vol 43, No 11 (2016): Kesehatan Ibu - Anak Vol 43, No 10 (2016): Anti-aging Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler Vol 43, No 8 (2016): Infeksi Vol 43, No 7 (2016): Kulit Vol 43, No 6 (2016): Metabolik Vol 43, No 5 (2016): Infeksi Vol 43, No 4 (2016): Adiksi Vol 43, No 3 (2016): Kardiologi Vol 43, No 2 (2016): Diabetes Mellitus Vol 43, No 1 (2016): Neurologi Vol 42, No 12 (2015): Dermatologi Vol 42, No 11 (2015): Kanker Vol 42, No 10 (2015): Neurologi Vol 42, No 9 (2015): Pediatri Vol 42, No 8 (2015): Nutrisi Vol 42, No 7 (2015): Stem Cell Vol 42, No 6 (2015): Malaria Vol 42, No 5 (2015): Kardiologi Vol 42, No 4 (2015): Alergi Vol 42, No 3 (2015): Nyeri Vol 42, No 2 (2015): Bedah Vol 42, No 1 (2015): Neurologi Vol 41, No 12 (2014): Endokrin Vol 41, No 11 (2014): Infeksi Vol 41, No 10 (2014): Hematologi Vol 41, No 9 (2014): Diabetes Mellitus Vol 41, No 8 (2014): Pediatrik Vol 41, No 7 (2014): Kardiologi Vol 41, No 6 (2014): Bedah Vol 41, No 5 (2014): Muskuloskeletal Vol 41, No 4 (2014): Dermatologi Vol 41, No 3 (2014): Farmakologi Vol 41, No 2 (2014): Neurologi Vol 41, No 1 (2014): Neurologi More Issue