Cermin Dunia Kedokteran
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles
2,961 Documents
Gambaran Klinis dan Patologi Melanoma Maligna Kutaneus
Rudi Chandra
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 11 (2020): Infeksi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v47i11.1193
Melanoma maligna (MM) merupakan keganasan sel-sel melanosit terutama di kulit. Paling sering didiagnosis pada pada wanita < 40 tahun, dan pada pria > 40 tahun. Predileksi MM tersering pada kulit punggung (pria) dan pada ekstremitas bawah (wanita). Secara klinis dan patologis, melanoma maligna diklasifikasikan sebagai superficial spreading melanoma, nodular melanoma, lentigo maligna melanoma, acral lentiginous melanoma, dan varian lain yang jarang.Malignant melanoma (MM) is melanocyte cells malignancy located mainly in the skin; most often diagnosed in women <40 years, and in men >40 years. MM predilection is in the back (men) and in lower extremities (women). Clinically and pathologically, malignant melanoma is classified as superficial spreading melanoma, nodular melanoma, malignant lentigo melanoma, acral lentiginous melanoma, and other rare variants.
Palmaris Longus Tendon Free Grafting in Neglected Extensor Pollicis Longus Tendon Rupture – case report
Nino Nasution;
Muhammad Bayu Rizaldy
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 5 (2018): Nutrisi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i5.680
A patient presented inability to use his right thumb properly after work accident due to ruptured right Extensor Pollicis Longus (EPL). A tendon free grafting from the Palmaris Longus (PL) was performed to repair the ruptured EPL.Pasien dengan keluhan tidak mampu menggunakan ibu jari tangan kanan setelah kecelakaan kerja, dicurigai mengalami ruptur Extensor Pollicis Longus (EPL) kanan. Kami memilih tindakan free tendon graft dari Palmaris Longus (PL) untuk memperbaiki tendon EPL yang telah ruptur.
Microneedling dengan Platelet-rich Plasma (PRP) untuk Skar Akne Atrofi
Restu Nur Rohmah
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 9 (2021): Nyeri Neuropatik
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v48i9.1500
Skar atrofi merupakan komplikasi umum akne dan sangat memengaruhi kualitas hidup pasien. Microneedling dengan PRP untuk memperbaiki skar akne atrofi tergolong sederhana, aman, dan efektif. Teknik ini menggunakan jarum mikro untuk menusuk kulit secara superfisial dan menghancurkan kolagen rusak di lapisan atas dermis, mengaktivasi kaskade penyembuhan luka secara normal yang menstimulasi pembentukan kolagen baru sehingga memperbaiki tampilan skar. Artikel ini memaparkan microneedling dengan PRP sebagai modalitas terapi untuk skar akne atrofi.Atrophic scars are common acne complication and affect patients’ quality of life. Microneedling with PRP is considered simple, safe, and effective for atrophic scars. The technique uses microneedles to puncture skin superficially and break damaged collagen in the superficial layer of dermis, resulting in activation of normal wound healing cascade which stimulates new collagen formation, thus improving scar appearance. This article describes microneedling with PRP as a treatment modality for atrophic acne scars.
Unravelling The Genetic Factors in The Pathogenesis of Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS)
Muthmainah -
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 2 (2017): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v44i2.818
Progressive degeneration of the large motor neurons in the brain and spinal cord is a common finding in Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS). Several factors considered to underlie the disease have been proposed including genetic and environmental factor. Genetic factor have been well known to be highly implicated in the pathogenesis of ALS. Today, more than 20 genes contribute to the development of ALS. The pathologic hallmark of ALS is the accumulation of ubiquitinated protein aggregates. TDP-43 (TAR DNA binding protein, 43 kD) encoded by TARDBP gene was found to be the major component of these aggregates in most patients. Disruption of RNA binding capacity of TDP-43, either in the presence or absence of mutations will lead to the dysregulation of its targeted RNAs. Misregulation of RNAs regulated by TDP-43 is possibly a major cause of the disease.Degenerasi progresif dari neuron motorik di otak dan sumsum tulang adalah karakteristik dari penyakit ALS. Beberapa factor yang dianggap menjadi penyebab ALS antara lain adalah factor genetic dan factor lingkungan. Factor genetik diketahui berperan penting dalam pathogenesis ALS. Saat ini, lebih dari 20 gen telah teridentifikasi dan terlibat dalam perkembangan penyakit ini. Penanda patologis kelainan ini adalah adanya agregrat proteinyang tersebar. Komponen utama dari agregat ini adalah protein TDP-43 yang diatur oleh gen TARDBP-43. Gangguan dalam kemampuan mengikat protein dari TDP-43 akan menyebabkan kelaianan regulasi RNA yang menjadi target TDP-43. Gangguan regulasi RNA-RNA yang terikat pada protein ini diperkirakan menjadi penyebab utama penyakit ini.
Rujukan Pasien
Mahesa Paranadipa M
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 12 (2018): Farmakologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i12.559
Dalam pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) terdapat banyak masalah dan tantangan. Di saat sistem kesehatan sedang bertahap ditata menuju pelayanan berjenjang, persoalan rujukan masih menjadi masalah utama dalam laporan yang disampaikan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Persoalan ini lebih banyak dikaitkan dengan aspek pembiayaan.
Nevus Melanositik Kongenital Raksasa dan Kelainan Kongenital Ekstremitas pada Bayi Baru Lahir
Cayadi Sidarta Antonius;
Linda Julianti Wijayadi
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 1 (2021): Penyakit Dalam
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v48i1.1261
Nevus Melanositik sejak lahir ditemukan pada satu persen anak di dunia dengan ukuran bervariasi. Salah satu varian nevus melanositik yang sangat jarang, berukuran sangat besar, yakni Nevus Melanositik Kongenital Raksasa (NMKR). Pada tulisan ini dilaporkan kasus NMKR disertai kelainan kongenital ekstremitas. Seorang bayi perempuan lahir di puskesmas dengan partus spontan dirujuk ke IGD, 3-4 jam setelah lahir. Terdapat bercak hitam di area perut, punggung, dan paha. Didapatkan juga perbedaan panjang tungkai, serta hanya ada 3 jari di kaki kanan. Tatalaksana diberi pelembap. Kasus ini jarang; diperlukan konsultasi dan observasi teratur untuk meningkatkan dan memperpanjang harapan hidup.Melanocytic Nevus since birth is found in one percent of children in the world with variable severity. One of the rare variant is very large melanocytic nevus variant called Giant Congenital Melanocytic Nevus (GCMN). This paper reported a case of GCNM accompanied with congenital abnormalities of the extremities. A baby girl who was born spontaneously in a clinic, was referred to the emergency department about 3-4 hours after her birth. The abnormalities were black spots in the abdominal area, back, and thighs. The patient also had different length of legs differences with only 3 toes on right foot. The patient was given moisturizer. GCMN case accompanied with congenital limb abnormalities is rare; regular consultation and observation are required to improve and prolong survival.
Perdarahan Saluran Cerna pada Anak
Leonirma Tengguna
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 10 (2017): Pediatrik
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v44i10.714
Perdarahan saluran cerna pada bayi dan anak perlu mendapatkan perhatian khusus karena keluhan bervariasi mulai dari ringan hingga mengancam nyawa. Gejala umum adalah hematemesis, melena, dan hematokezia. Diagnosis banding dikelompokkan berdasarkan usia pasien, lokasi dan karakteristik perdarahan, serta gejala penyerta. Pendekatan diagnostik yang teliti diperlukan untuk mengidentifikasi sumber perdarahan serta menghasilkan penatalaksanaan yang tepat.Gastrointestinal bleeding in infants and children is an alarming because the symptoms vary from mild to life-threatening. The most common signs are hematemesis, melena, and hematochezia. Differential diagnosis is based on the age of the patient, the localization and characteristics of bleeding with accompanying symptoms. Detailed diagnosis is necessary to identify the etiology of the bleeding and its treatment.
Clinical usefulness of telehealth: A literature review from the perspective of medical specializations
Gilbert Sterling Octavius;
Lie Rebecca Yen Hwei
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 12 (2021): General Medicine
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v48i12.1582
Telehealth uses interactive technology and telecommunication to provide health care and share medical knowledge between the users. Information is transferred from one site to another electronically. Telehealth enables physicians to access the integrated electronic medical records in treating patients. Telehealth can be used for diagnostic, therapeutic, and preventive measures and self-education and self-monitoring of patients' health. Telehealth enables users to interact collaboratively with each other. Telehealth enables multiple medical specialties in providing health care services to a more significant population of patients. Telehealth is also a cost-effective method in providing health care services in both urban and rural areas. Telehealth may be an answer to problems associated with poverty, rural areas, and lack of medical personnel. The purpose of this article is to give insights into the use of telehealth in multiple medical specialties and its positive outcomes.Telehealth memanfaatkan teknologi dan telekomunikasi yang interaktif untuk memberikan akses pelayanan kesehatan dan berbagi pengetahuan seputar dunia medis bagi penggunanya. Informasi ditransfer dari satu situs ke situs lain secara elektronik. Telehealth memungkinkan dokter untuk mengakses catatan medis elektronik terintegrasi saat merawat pasien. Telehealth dapat digunakan untuk tindakan diagnostik, terapeutik, pencegahan serta pendidikan dan pemantauan mandiri bagi para pasien. Telehealth memungkinkan pengguna untuk berinteraksi secara kolaboratif satu sama lain. Telehealth juga memungkinkan beberapa spesialisasi medis dalam memberikan layanan perawatan kesehatan kepada populasi pasien yang lebih banyak. Telehealth juga merupakan metode yang hemat biaya dalam menyediakan layanan perawatan kesehatan di daerah perkotaan dan pedesaan. Telehealth dapat menjadi jawaban atas masalah yang terkait dengan kemiskinan, daerah pedesaan, dan kurangnya tenaga medis. Tujuan artikel ini adalah untuk memberikan wawasan tentang penggunaan telehealth dalam berbagai spesialisasi medis dan hasil positifnya.
Malondialdehid sebagai Penanda Stres Oksidatif pada Berbagai Penyakit Kulit
Nurrachmat Mulianto
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 1 (2020): Bedah
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v47i1.341
Kulit merupakan sistem pertahanan pertama tubuh. Lapisan kulit menjadi pelindung organ dalam dari paparan luar baik paparan kimia maupun berbagai polutan dan racun. Paparan tersebut akan menyebabkan kondisi kulit rentan terkena stres oksidatif. Kondisi stres oksidatif yang terus-menerus dapat menjadi faktor risiko atau memperparah penyakit kulit. Malondialdehid (MDA) merupakan produk sekunder peroksidasi lipid pada kondisi stres oksidatif. Berbagai laporan penelitian menunjukkan kadar malondialdehid berbeda signifikan pada beberapa penyakit kulit seperti akne vulgaris, dermatitis atopi, melasma, psoriasis dan vitiligo jika dibandingkan kontrol. Nilai MDA juga berbanding lurus dengan derajat keparahan penyakit-penyakit kulit tersebut.Skin is the first defense system in the body. The skin layer provides protection from oxidative stress due to external chemical exposure and various pollutants and poisons.. Persistent oxidative stress can be a risk factor for skin disorders. Malondialdehyde (MDA) is a secondary product of lipid peroxidation under oxidative stress. Various researches show that the level of malondialdehyde differs significantly in some skin diseases such as acne vulgaris, atopic dermatitis, melasma, psoriasis and vitiligo as compared with controls. MDA value is also directly proportional to the severity of skin diseases.
Trombositopenia akibat Heparin
Roveny -
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v43i9.860
Trombositopenia akibat heparin merupakan komplikasi serius yang terjadi 5-10 hari setelah terapi kontinu heparin. Terjadinya trombositopenia ini dimediasi oleh sistem imun dan melibatkan kompleks antigen antibodi. Trombositopenia akibat heparin dapat asimptomatik atau dengan komplikasi trombosis. Tatalaksana dilakukan dengan menghentikan segera terapi heparin dan memulai terapi antikoagulan alternatif.Heparin-induced thrombocytopenia is a serious complication of heparin therapy, occurs within 5-10 days of continuous heparin therapy. It is immune-mediated, involving antigen antibody complexes. Heparin-induced thrombocytopenia can be asymptomatic, but can present with thrombosis events. Treatment involves prompt cessation of heparin and the initiation of alternative anticoagulant.