cover
Contact Name
Dita Archinirmala
Contact Email
dorotea.ditaarchinirmala@kalbe.co.id
Phone
+6281806175669
Journal Mail Official
cdkjurnal@gmail.com
Editorial Address
http://www.cdkjournal.com/index.php/CDK/about/editorialTeam
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Cermin Dunia Kedokteran
Published by PT. Kalbe Farma Tbk.
ISSN : 0125913X     EISSN : 25032720     DOI : 10.55175
Core Subject : Health,
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles 2,961 Documents
Gambaran Klinis dan Patologi Melanoma Maligna Kutaneus Rudi Chandra
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 11 (2020): Infeksi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v47i11.1193

Abstract

Melanoma maligna (MM) merupakan keganasan sel-sel melanosit terutama di kulit. Paling sering didiagnosis pada pada wanita < 40 tahun, dan pada pria > 40 tahun. Predileksi MM tersering pada kulit punggung (pria) dan pada ekstremitas bawah (wanita). Secara klinis dan patologis, melanoma maligna diklasifikasikan sebagai superficial spreading melanoma, nodular melanoma, lentigo maligna melanoma, acral lentiginous melanoma, dan varian lain yang jarang.Malignant melanoma (MM) is melanocyte cells malignancy located mainly in the skin; most often diagnosed in women <40 years, and in men >40 years. MM predilection is in the back (men) and in lower extremities (women). Clinically and pathologically, malignant melanoma is classified as superficial spreading melanoma, nodular melanoma, malignant lentigo melanoma, acral lentiginous melanoma, and other rare variants.
Palmaris Longus Tendon Free Grafting in Neglected Extensor Pollicis Longus Tendon Rupture – case report Nino Nasution; Muhammad Bayu Rizaldy
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 5 (2018): Nutrisi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v45i5.680

Abstract

A patient presented inability to use his right thumb properly after work accident due to ruptured right Extensor Pollicis Longus (EPL). A tendon free grafting from the Palmaris Longus (PL) was performed to repair the ruptured EPL.Pasien dengan keluhan tidak mampu menggunakan ibu jari tangan kanan setelah kecelakaan kerja, dicurigai mengalami ruptur Extensor Pollicis Longus (EPL) kanan. Kami memilih tindakan free tendon graft dari Palmaris Longus (PL) untuk memperbaiki tendon EPL yang telah ruptur.
Microneedling dengan Platelet-rich Plasma (PRP) untuk Skar Akne Atrofi Restu Nur Rohmah
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 9 (2021): Nyeri Neuropatik
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v48i9.1500

Abstract

Skar atrofi merupakan komplikasi umum akne dan sangat memengaruhi kualitas hidup pasien. Microneedling dengan PRP untuk memperbaiki skar akne atrofi tergolong sederhana, aman, dan efektif. Teknik ini menggunakan jarum mikro untuk menusuk kulit secara superfisial dan menghancurkan kolagen rusak di lapisan atas dermis, mengaktivasi kaskade penyembuhan luka secara normal yang menstimulasi pembentukan kolagen baru sehingga memperbaiki tampilan skar. Artikel ini memaparkan microneedling dengan PRP sebagai modalitas terapi untuk skar akne atrofi.Atrophic scars are common acne complication and affect patients’ quality of life. Microneedling with PRP is considered simple, safe, and effective for atrophic scars. The technique uses microneedles to puncture skin superficially and break damaged collagen in the superficial layer of dermis, resulting in activation of normal wound healing cascade which stimulates new collagen formation, thus improving scar appearance. This article describes microneedling with PRP as a treatment modality for atrophic acne scars.
Unravelling The Genetic Factors in The Pathogenesis of Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) Muthmainah -
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 2 (2017): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v44i2.818

Abstract

Progressive degeneration of the large motor neurons in the brain and spinal cord is a common finding in Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS). Several factors considered to underlie the disease have been proposed including genetic and environmental factor. Genetic factor have been well known to be highly implicated in the pathogenesis of ALS. Today, more than 20 genes contribute to the development of ALS. The pathologic hallmark of ALS is the accumulation of ubiquitinated protein aggregates. TDP-43 (TAR DNA binding protein, 43 kD) encoded by TARDBP gene was found to be the major component of these aggregates in most patients. Disruption of RNA binding capacity of TDP-43, either in the presence or absence of mutations will lead to the dysregulation of its targeted RNAs. Misregulation of RNAs regulated by TDP-43 is possibly a major cause of the disease.Degenerasi progresif dari neuron motorik di otak dan sumsum tulang adalah karakteristik dari penyakit ALS. Beberapa factor yang dianggap menjadi penyebab ALS antara lain adalah factor genetic dan factor lingkungan. Factor genetik diketahui berperan penting dalam pathogenesis ALS. Saat ini, lebih dari 20 gen telah teridentifikasi dan terlibat dalam perkembangan penyakit ini. Penanda patologis kelainan ini adalah adanya agregrat proteinyang tersebar. Komponen utama dari agregat ini adalah protein TDP-43 yang diatur oleh gen TARDBP-43. Gangguan dalam kemampuan mengikat protein dari TDP-43 akan menyebabkan kelaianan regulasi RNA yang menjadi target TDP-43. Gangguan regulasi RNA-RNA yang terikat pada protein ini diperkirakan menjadi penyebab utama penyakit ini.
Rujukan Pasien Mahesa Paranadipa M
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 12 (2018): Farmakologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v45i12.559

Abstract

Dalam pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) terdapat banyak masalah dan tantangan. Di saat sistem kesehatan sedang bertahap ditata menuju pelayanan berjenjang, persoalan rujukan masih menjadi masalah utama dalam laporan yang disampaikan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Persoalan ini lebih banyak dikaitkan dengan aspek pembiayaan.
Nevus Melanositik Kongenital Raksasa dan Kelainan Kongenital Ekstremitas pada Bayi Baru Lahir Cayadi Sidarta Antonius; Linda Julianti Wijayadi
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 1 (2021): Penyakit Dalam
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v48i1.1261

Abstract

Nevus Melanositik sejak lahir ditemukan pada satu persen anak di dunia dengan ukuran bervariasi. Salah satu varian nevus melanositik yang sangat jarang, berukuran sangat besar, yakni Nevus Melanositik Kongenital Raksasa (NMKR). Pada tulisan ini dilaporkan kasus NMKR disertai kelainan kongenital ekstremitas. Seorang bayi perempuan lahir di puskesmas dengan partus spontan dirujuk ke IGD, 3-4 jam setelah lahir. Terdapat bercak hitam di area perut, punggung, dan paha. Didapatkan juga perbedaan panjang tungkai, serta hanya ada 3 jari di kaki kanan. Tatalaksana diberi pelembap. Kasus ini jarang; diperlukan konsultasi dan observasi teratur untuk meningkatkan dan memperpanjang harapan hidup.Melanocytic Nevus since birth is found in one percent of children in the world with variable severity. One of the rare variant is very large melanocytic nevus variant called Giant Congenital Melanocytic Nevus (GCMN). This paper reported a case of GCNM accompanied with congenital abnormalities of the extremities. A baby girl who was born spontaneously in a clinic, was referred to the emergency department about 3-4 hours after her birth. The abnormalities were black spots in the abdominal area, back, and thighs. The patient also had different length of legs differences with only 3 toes on right foot. The patient was given moisturizer. GCMN case accompanied with congenital limb abnormalities is rare; regular consultation and observation are required to improve and prolong survival.
Perdarahan Saluran Cerna pada Anak Leonirma Tengguna
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 10 (2017): Pediatrik
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v44i10.714

Abstract

Perdarahan saluran cerna pada bayi dan anak perlu mendapatkan perhatian khusus karena keluhan bervariasi mulai dari ringan hingga mengancam nyawa. Gejala umum adalah hematemesis, melena, dan hematokezia. Diagnosis banding dikelompokkan berdasarkan usia pasien, lokasi dan karakteristik perdarahan, serta gejala penyerta. Pendekatan diagnostik yang teliti diperlukan untuk mengidentifikasi sumber perdarahan serta menghasilkan penatalaksanaan yang tepat.Gastrointestinal bleeding in infants and children is an alarming because the symptoms vary from mild to life-threatening. The most common signs are hematemesis, melena, and hematochezia. Differential diagnosis is based on the age of the patient, the localization and characteristics of bleeding with accompanying symptoms. Detailed diagnosis is necessary to identify the etiology of the bleeding and its treatment.
Clinical usefulness of telehealth: A literature review from the perspective of medical specializations Gilbert Sterling Octavius; Lie Rebecca Yen Hwei
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 12 (2021): General Medicine
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v48i12.1582

Abstract

Telehealth uses interactive technology and telecommunication to provide health care and share medical knowledge between the users. Information is transferred from one site to another electronically. Telehealth enables physicians to access the integrated electronic medical records in treating patients. Telehealth can be used for diagnostic, therapeutic, and preventive measures and self-education and self-monitoring of patients' health. Telehealth enables users to interact collaboratively with each other. Telehealth enables multiple medical specialties in providing health care services to a more significant population of patients. Telehealth is also a cost-effective method in providing health care services in both urban and rural areas. Telehealth may be an answer to problems associated with poverty, rural areas, and lack of medical personnel. The purpose of this article is to give insights into the use of telehealth in multiple medical specialties and its positive outcomes.Telehealth memanfaatkan teknologi dan telekomunikasi yang interaktif untuk memberikan akses pelayanan kesehatan dan berbagi pengetahuan seputar dunia medis bagi penggunanya. Informasi ditransfer dari satu situs ke situs lain secara elektronik. Telehealth memungkinkan dokter untuk mengakses catatan medis elektronik terintegrasi saat merawat pasien. Telehealth dapat digunakan untuk tindakan diagnostik, terapeutik, pencegahan serta pendidikan dan pemantauan mandiri bagi para pasien. Telehealth memungkinkan pengguna untuk berinteraksi secara kolaboratif satu sama lain. Telehealth juga memungkinkan beberapa spesialisasi medis dalam memberikan layanan perawatan kesehatan kepada populasi pasien yang lebih banyak. Telehealth juga merupakan metode yang hemat biaya dalam menyediakan layanan perawatan kesehatan di daerah perkotaan dan pedesaan. Telehealth dapat menjadi jawaban atas masalah yang terkait dengan kemiskinan, daerah pedesaan, dan kurangnya tenaga medis. Tujuan artikel ini adalah untuk memberikan wawasan tentang penggunaan telehealth dalam berbagai spesialisasi medis dan hasil positifnya.
Malondialdehid sebagai Penanda Stres Oksidatif pada Berbagai Penyakit Kulit Nurrachmat Mulianto
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 1 (2020): Bedah
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v47i1.341

Abstract

Kulit merupakan sistem pertahanan pertama tubuh. Lapisan kulit menjadi pelindung organ dalam dari paparan luar baik paparan kimia maupun berbagai polutan dan racun. Paparan tersebut akan menyebabkan kondisi kulit rentan terkena stres oksidatif. Kondisi stres oksidatif yang terus-menerus dapat menjadi faktor risiko atau memperparah penyakit kulit. Malondialdehid (MDA) merupakan produk sekunder peroksidasi lipid pada kondisi stres oksidatif. Berbagai laporan penelitian menunjukkan kadar malondialdehid berbeda signifikan pada beberapa penyakit kulit seperti akne vulgaris, dermatitis atopi, melasma, psoriasis dan vitiligo jika dibandingkan kontrol. Nilai MDA juga berbanding lurus dengan derajat keparahan penyakit-penyakit kulit tersebut.Skin is the first defense system in the body. The skin layer provides protection from oxidative stress due to external chemical exposure and various pollutants and poisons.. Persistent oxidative stress can be a risk factor for skin disorders. Malondialdehyde (MDA) is a secondary product of lipid peroxidation under oxidative stress. Various researches show that the level of malondialdehyde differs significantly in some skin diseases such as acne vulgaris, atopic dermatitis, melasma, psoriasis and vitiligo as compared with controls. MDA value is also directly proportional to the severity of skin diseases. 
Trombositopenia akibat Heparin Roveny -
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v43i9.860

Abstract

Trombositopenia akibat heparin merupakan komplikasi serius yang terjadi 5-10 hari setelah terapi kontinu heparin. Terjadinya trombositopenia ini dimediasi oleh sistem imun dan melibatkan kompleks antigen antibodi. Trombositopenia akibat heparin dapat asimptomatik atau dengan komplikasi trombosis. Tatalaksana dilakukan dengan menghentikan segera terapi heparin dan memulai terapi antikoagulan alternatif.Heparin-induced thrombocytopenia is a serious complication of heparin therapy, occurs within 5-10 days of continuous heparin therapy. It is immune-mediated, involving antigen antibody complexes. Heparin-induced thrombocytopenia can be asymptomatic, but can present with thrombosis events. Treatment involves prompt cessation of heparin and the initiation of alternative anticoagulant.

Filter by Year

2014 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 50 No 11 (2023): Pediatri Vol 50 No 10 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 9 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 8 (2023): Dermatiologi Vol 50 No 7 (2023): Kardiovaskular Vol 50 No 6 (2023): Edisi CME Vol 50 No 5 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 4 (2023): Anak Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi Vol 50 No 2 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 1 (2023): Oftalmologi Vol 49, No 4 (2022): Infeksi - COVID-19 Vol 49 No 12 (2022): Dermatologi Vol. 49 No. 11 (2022): Neurologi Vol 49 No 10 (2022): Oftalmologi Vol. 49 No. 9 (2022): Neurologi Vol. 49 No. 8 (2022): Dermatologi Vol 49, No 7 (2022): Vitamin D Vol 49 No 7 (2022): Nutrisi - Vitamin D Vol 49, No 6 (2022): Nutrisi Vol 49 No 6 (2022): Nutrisi Vol 49 No 5 (2022): Neuro-Kardiovaskular Vol 49, No 5 (2022): Jantung dan Saraf Vol 49 No 4 (2022): Penyakit Dalam Vol 49, No 3 (2022): Saraf Vol 49 No 3 (2022): Neurologi Vol 49, No 2 (2022): Infeksi Vol 49 No 2 (2022): Infeksi Vol 49 (2022): CDK Suplemen-2 Vol 49 (2022): CDK Suplemen-1 Vol 49, No 1 (2022): Bedah Vol 49 No 1 (2022): Bedah Vol 48 No 11 (2021): Penyakit Dalam - COVID-19 Vol 48, No 7 (2021): Infeksi - [Covid - 19] Vol 48 No 1 (2021): Infeksi COVID-19 Vol. 48 No. 10 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 4 Vol 48 No 8 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 3 Vol 48 No 5 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 2 Vol. 48 No. 2 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 1 Vol 48, No 12 (2021): General Medicine Vol 48 No 12 (2021): Penyakit Dalam Vol 48, No 11 (2021): Kardio-SerebroVaskular Vol 48, No 10 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48, No 9 (2021): Nyeri Neuropatik Vol 48 No 9 (2021): Neurologi Vol 48, No 8 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 7 (2021): Infeksi Vol 48, No 6 (2021): Kardiologi Vol 48 No 6 (2021): Kardiologi Vol 48, No 5 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 4 (2021): Dermatologi Vol 48, No 4 (2021): Dermatologi Vol 48, No 3 (2021): Obstetri dan Ginekologi Vol. 48 No. 3 (2021): Obstetri - Ginekologi Vol 48, No 2 (2021): Farmakologi - Vitamin D Vol 48, No 1 (2021): Penyakit Dalam Vol 47, No 12 (2020): Dermatologi Vol 47, No 11 (2020): Infeksi Vol. 47 No. 10 (2020): Dermatologi Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi Vol 47 No 9 (2020): Infeksi Vol 47, No 9 (2020): Neurologi Vol. 47 No. 8 (2020): Oftalmologi Vol 47, No 8 (2020): Kardiologi Vol 47, No 7 (2020): Bedah Vol. 47 No. 7 (2020): Neurologi Vol 47 No 6 (2020): Kardiologi & Pediatri Vol 47, No 5 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol. 47 No. 5 (2020): Bedah Vol. 47 No. 4 (2020): Interna Vol 47, No 4 (2020): Arthritis Vol. 47 No. 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 3 (2020): Dermatologi Vol 47 No 2 (2020): Infeksi Vol 47, No 2 (2020): Penyakit Infeksi Vol 47, No 1 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol 47, No 1 (2020): Bedah Vol 47 No 1 (2020): Bedah Vol. 46 No. 7 (2019): Continuing Medical Education - 2 Vol 46, No 12 (2019): Kardiovaskular Vol 46 No 12 (2019): Kardiovakular Vol. 46 No. 11 (2019): Pediatri Vol 46, No 11 (2019): Kesehatan Anak Vol 46, No 10 (2019): Farmasi Vol. 46 No. 10 (2019): Farmakologi - Continuing Professional Development Vol 46 No 9 (2019): Neurologi Vol 46, No 9 (2019): Neuropati Vol. 46 No. 8 (2019): Pediatri Vol 46, No 8 (2019): Kesehatan Anak Vol 46, No 7 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46 No 6 (2019): Endokrinologi Vol 46, No 6 (2019): Diabetes Mellitus Vol 46, No 5 (2019): Pediatri Vol. 46 No. 5 (2019): Pediatri Vol. 46 No. 4 (2019): Dermatologi Vol 46, No 4 (2019): Dermatologi Vol. 46 No. 3 (2019): Nutrisi Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi Vol 46, No 2 (2019): Penyakit Dalam Vol. 46 No. 2 (2019): Interna Vol 46, No 1 (2019): Obstetri - Ginekologi Vol 46 No 1 (2019): Obstetri-Ginekologi Vol 46, No 1 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 45, No 12 (2018): Farmakologi Vol 45 No 12 (2018): Interna Vol. 45 No. 11 (2018): Neurologi Vol 45, No 11 (2018): Neurologi Vol 45, No 10 (2018): Muskuloskeletal Vol. 45 No. 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 9 (2018): Infeksi Vol 45 No 9 (2018): Infeksi Vol. 45 No. 8 (2018): Dermatologi Vol 45, No 8 (2018): Alopesia Vol 45, No 7 (2018): Onkologi Vol 45 No 7 (2018): Onkologi Vol. 45 No. 6 (2018): Interna Vol 45, No 6 (2018): Penyakit Dalam Vol 45, No 5 (2018): Nutrisi Vol. 45 No. 5 (2018): Nutrisi Vol 45, No 4 (2018): Cidera Kepala Vol 45, No 4 (2018): Cedera Kepala Vol 45 No 4 (2018): Neurologi Vol. 45 No. 3 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 3 (2018): Muskuloskeletal Vol. 45 No. 2 (2018): Urologi Vol 45, No 2 (2018): Urologi Vol 45, No 1 (2018): Suplemen Vol 45, No 1 (2018): Dermatologi Vol 45 No 1 (2018): Dermatologi Vol 44, No 12 (2017): Neurologi Vol 44, No 11 (2017): Kardiovaskuler Vol 44, No 10 (2017): Pediatrik Vol 44, No 9 (2017): Kardiologi Vol 44, No 8 (2017): Obstetri-Ginekologi Vol 44, No 7 (2017): THT Vol 44, No 6 (2017): Dermatologi Vol 44, No 5 (2017): Gastrointestinal Vol 44, No 4 (2017): Optalmologi Vol 44, No 3 (2017): Infeksi Vol 44, No 2 (2017): Neurologi Vol 44, No 1 (2017): Nutrisi Vol 43, No 12 (2016): Kardiovaskular Vol 43, No 11 (2016): Kesehatan Ibu - Anak Vol 43, No 10 (2016): Anti-aging Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler Vol 43, No 8 (2016): Infeksi Vol 43, No 7 (2016): Kulit Vol 43, No 6 (2016): Metabolik Vol 43, No 5 (2016): Infeksi Vol 43, No 4 (2016): Adiksi Vol 43, No 3 (2016): Kardiologi Vol 43, No 2 (2016): Diabetes Mellitus Vol 43, No 1 (2016): Neurologi Vol 42, No 12 (2015): Dermatologi Vol 42, No 11 (2015): Kanker Vol 42, No 10 (2015): Neurologi Vol 42, No 9 (2015): Pediatri Vol 42, No 8 (2015): Nutrisi Vol 42, No 7 (2015): Stem Cell Vol 42, No 6 (2015): Malaria Vol 42, No 5 (2015): Kardiologi Vol 42, No 4 (2015): Alergi Vol 42, No 3 (2015): Nyeri Vol 42, No 2 (2015): Bedah Vol 42, No 1 (2015): Neurologi Vol 41, No 12 (2014): Endokrin Vol 41, No 11 (2014): Infeksi Vol 41, No 10 (2014): Hematologi Vol 41, No 9 (2014): Diabetes Mellitus Vol 41, No 8 (2014): Pediatrik Vol 41, No 7 (2014): Kardiologi Vol 41, No 6 (2014): Bedah Vol 41, No 5 (2014): Muskuloskeletal Vol 41, No 4 (2014): Dermatologi Vol 41, No 3 (2014): Farmakologi Vol 41, No 2 (2014): Neurologi Vol 41, No 1 (2014): Neurologi More Issue