cover
Contact Name
Dita Archinirmala
Contact Email
dorotea.ditaarchinirmala@kalbe.co.id
Phone
+6281806175669
Journal Mail Official
cdkjurnal@gmail.com
Editorial Address
http://www.cdkjournal.com/index.php/CDK/about/editorialTeam
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Cermin Dunia Kedokteran
Published by PT. Kalbe Farma Tbk.
ISSN : 0125913X     EISSN : 25032720     DOI : 10.55175
Core Subject : Health,
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles 2,961 Documents
Vaksinasi SARS-CoV-2 dalam Perspektif Hukum di Indonesia Purnomo, Ika Cahyo; Suharto, Gatot
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 9 (2021): Nyeri Neuropatik
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (94.846 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v48i9.1494

Abstract

Pandemi COVID-19 sampai saat ini belum menunjukkan tanda akan berakhir. Vaksin diharapkan dapat menjadi solusi; oleh karena itu, vaksinasi massal dilakukan di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Kebijakan imunisasi massal ini menuai pro dan kontra; tidak hanya di masyarakat awam, melainkan juga di kalangan tenaga kesehatan. Penelitian efikasi vaksin, program vaksinasi wajib, pengadaan vaksin, dan efek samping vaksin adalah beberapa hal yang menjadi isu hangat. Sebagai profesional kesehatan, seorang dokter wajib mengetahui perihal vaksin SARS-CoV-2 dalam kacamata hukum positif yang berlaku di Indonesia. Tinjauan pustaka ini membahas vaksinasi SARS CoV 2 dari berbagai perspektif regulasi; sejawat dokter diharapkan dapat mengetahui dasar-dasar hukum kebijakan terkait vaksinasi SARS CoV 2 di Indonesia.The COVID-19 pandemic has yet to show its end. Vaccines are expected to be a solution; mass vaccination is carried out in various countries, including Indonesia. This policy reaps pros and cons; not only in the general public, but also among health workers. Vaccine efficacy research, mandatory vaccination programs, vaccine procurement, and vaccine side effects have became critical issues. As a health professional, knowledge on the SARS CoV 2 vaccine in the light of Indonesia’spositive laws is mandatory. This literature review discusses SARS-CoV-2 vaccination programme from various regulatory perspectives; medical colleagues are expected to understand the legal basis of policies related to SARS-CoV-2 vaccination in Indonesia.
Teknik –teknik Biopsi Kulit Sitorus, Erlina Pricilla; Julianto, Indah
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 6 (2018): Penyakit Dalam
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (477.224 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v45i6.663

Abstract

Prosedur biopsi merupakan tahap penting diagnosis di bidang dermatologi, karena informasi histopatologis dapat dengan mudah diperoleh dari sampel kulit. Teknik biopsi kulit terdiri dari biopsi snip atau gunting, kuretase, shave, plong, eksisi dan biopsi insisi. Biopsi kulit perlu penjelasan dan mendapat persetujuan pasien. Dokumentasi lesi bertujuan untuk mencegah kekeliruan lokasi biopsi, meningkatkan kepercayaan pasien dan dapat memantau ketepatan pengobatan. Seorang dermatologis hendaknya dapat mengaplikasikan tindakan ini secara aman dan tepat dalam praktik sehari-hari.Biopsy is an important step in dermatology diagnosis, because histopathology information is easy to obtain from skin samples. Six type of skin biopsy are snip, curettage, shave, punch, exsicion, and incision biopsy. Explanation and informed consent is necessary. Documentation of lesion should prevent misplaced biopsy, enhance patient’s confidence, and monitoring the accuracy of treatment. A dermatologist should apply these procedures safely and appropriately in daily practice.
Pemeriksaan Imunohistokimia untuk Mengungkap Patogenesis Vitiligo Sandhika, Willy; Novarina, Ryski Meilia; Setyaningrum, Trisniartami
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 10 (2016): Anti-aging
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v43i10.872

Abstract

Vitiligo merupakan penyakit kulit yang ditandai dengan area putih yang makin luas. Patogenesis penyakit vitiligo melibatkan berbagai etiologi yang saling berkaitan seperti genetik, autoimun dan inflamasi. Pemeriksaan imunohistokimia pada bahan biopsi kulit penderita vitiligo meliputi pemeriksaan antibodi CD3, CD8, TNF-α, IL-17 dan IL-17RA, CD117, NALP1, Langerin serta CD11c dapat mengungkap patogenesis penyakit sehingga dapat membuka jalan untuk terapi yang sesuai.Vitiligo is a skin disorder characterized by progressive white macules. The pathogenesis involves various interrelated etiologies such as genetic, autoimmune and inflammation. Immunohistochemical examination on skin biopsy using antibody CD3, CD8, TNF-α, IL-17 and IL-17RA, CD117, NALP1, Langerin and CD11c may reveal the pathogenesis of the disease to facilitate appropriate therapy.
Tinjauan atas Angiotensin Receptor Blocker Generasi Baru Cherub, Jane
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.425 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v47i10.1088

Abstract

Angiotensin receptor blockers (ARB) yang bekerja menghambat reseptor AngII-AT1 secara selektif direkomendasikan sebagai agen antihipertensi lini pertama. Saat ini terdapat 8 varian ARB di pasaran. Selain efek antagonisasinya terhadap AT1, ARB generasi baru memiliki mekanisme tambahan yang dapat menarget hipertensi, penyakit kardiovaskular, dan diabetes. ARB generasi baru juga memblokir reseptor endotelin, berfungsi sebagai donor oksida nitrat, menghambat aktivitas neprilysin dan meningkatkan kadar peptida natriuretik, atau merangsang peroxisome proliferatoractivated receptor gamma (PPARγ). ARB generasi baru dapat memiliki nilai klinis dan manfaat terapeutik lebih besar daripada hanya melalui penghambatan reseptor AT1.Angiotensin receptor blockers (ARBs) works by selectively blocking AngII-AT1 receptors; it is recommended as a first-line antihypertensive agent. Currently there are 8 variants of ARB in the market. In addition to its AT1 antagonist effect, new generation of ARB can have additional mechanisms on hypertension, cardiovascular disease and diabetes. New generation ARBs also block endothelial receptors, as nitric oxide donors, inhibit neprilysin activity and increase levels of natriuretic peptides, or stimulate peroxisome proliferator-activated gamma receptors (PPARγ). New generation of ARBs can have considerable clinical value and provide greater therapeutic benefits.
Teknologi Cryonics dalam Perspektif Etika dan Hukum Budiyanti, Rani Tiyas
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 8 (2016): Infeksi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.121 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v43i8.98

Abstract

Konsep anti-aging dan immortality meyakini bahwa kehidupan dapat diperpanjang serta kematian dapat diperlambat. Pesatnya perkembangan teknologi kedokteran menghasilkan teknologi cryonics yang dikembangkan berdasarkan konsep tersebut. Cryonics merupakan metode pengawetan pada suhu dingin menggunakan zat cryoprotectant dalam nitrogen cair. Perkembangan cryonics berpotensi menimbulkan dilema etika dan hukum. Tinjauan dari berbagai sudut ilmu diperlukan agar teknologi tersebut tidak menimbulkan dilema etika dan hukum di masa depan.
Diagnosis dan Tatalaksana Demam Tifoid pada Dewasa Hartanto, Darius
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 1 (2021): Penyakit Dalam
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.385 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v48i1.1255

Abstract

Demam enterik (demam tifoid dan paratifoid) adalah penyakit yang disebabkan oleh Salmonella enterica serovar typhi (S. typhi) dan paratyphi (S. paratyphi) A dan B. Gejala klinis bervariasi dari ringan sampai berat. Pemeriksaan gold standard untuk demam tifoid adalah kultur darah. Pemeriksaan serologi seperti Widal, Dot Enzyme Immunoassay (EIA), dan uji IgM dipstick juga dapat digunakan untuk diagnosis. Pilihan utama antibiotik tergantung kerentanan kuman S.typhi dan S.paratyphi di area tertentu; golongan fluorokuinolon adalah yang paling efektif.Enteric fever (typhoid and paratyphoid fever) is infection caused by Salmonella enterica serovar typhi (S. typhi) and paratyphi (S. paratyphi) A dan B. Clinical symptoms are varied from mild to severe. Gold standard for diagnosis is blood culture; serological examination such as Widal, Dot Enzyme Immunoassay (EIA), and IgM dipstick test can be used for diagnosis. Drug of choice depends on antibiotic susceptibility of S. typhi and S. paratyphi in certain area; fluoroquinolone is the most effective antibiotic class.
Penggunaan Media Informasi yang Bijak untuk Anak Usia Dini di Era Digital Limardi, Suryadi; Widinugroho, Sardono; Ribuan, Consistania
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 11 (2019): Kesehatan Anak
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.577 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v46i11.415

Abstract

Usia dini merupakan masa penting bagi anak untuk membangun hubungan erat dengan orang lain dan lingkungan sekitar, membentuk kebiasaan hidup sehat, serta menjadi masa emas perkembangan otak. Inovasi teknologi telah mengubah pola penggunaan media oleh anak usia dini. Penggunaan media digital yang berlebihan saat usia dini dapat mengakibatkan gangguan fisik, psikologis, dan perkembangan anak. Orang tua memiliki peranan penting dalam membentuk kebiasaan penggunaan media yang sehat pada anak. Pembatasan durasi penggunaan media, pemantauan aktivitas media anak, serta interaksi antara orang tua dan anak saat penggunaan media merupakan langkah-langkah penting untuk menciptakan kebiasaan penggunaan media yang bijak bagi anak usia dini.Early age is a golden period for brain development; it is an important period for children to build a close relationship with other person and their surrounding environment, to form a healthy living habit. Excessive digital media use in this period could lead to impairment in children’s physical, psychological and developmental condition. Parents have an important role in forming a healthy media use habit in children. Restriction on media use duration, monitoring on children’s media activities, as well as interactions between parents and children while using the media are important steps to create a healthy habit in promoting wise media use in young children. 
Cancer Immunotherapy and CAR T Cells Ong, Khing S.; Lim, Zack ST.; Setiawan, Boenjamin
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 12 (2018): Farmakologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.278 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v45i12.551

Abstract

Within the past decade, radical changes of idea emerged from the works of research scientists, medical experts and oncologists. Instead of treating cancers with man-made chemicals or chemotherapy and radiotherapy, or surgically remove the tumor, we should unleash the power of our own body immune system. Indeed, such approach has borne fruits and benefited at least for some cancer patients. This review described various types of immunotherapy known to date, with its beneficial effects, albeit some with serious harmful effects. To understand how immunotherapies worked, we also review some biologic characteristic of cancer cell that let them evade attacks from our immune system; cancer microenvironment that works in favor or protecting the growth of cancer against our immune system will also be discussed.Hanya dalam jangka 10 tahun terakhir, telah terjadi perubahan radikal hasil penelitian penyakit kanker. Di samping cara klasik penyembuhan kanker seperti obat-obat kimia sintetik, kemoterapi dan radiologi atau pembedahan, kini para ahli telah menggunakan sistim imunitas tubuh penderita sendiri. Cara ini telah terbukti dalam pengobatan beberapa pasien kanker. Dalam ulasan ini kami akan memaparkan beberapa immunoterapi saat ini dengan hasil baik meskipun masih terdapat beberapa kesalahan dan efek samping. Akan diulas dan dijelaskan sifat-sifat biologi sel kanker, dan bagaimana kanker sel bisa menghindari serangan sistim imun; dan lingkungan mikrokanker (cancer microenviroment) yang melindungi kanker dari sistim imun. 
Perbandingan Efektivitas dan Efek Samping Albendazole dengan Kombinasi Mebendazole-Pyrantel Pamoat untuk Terapi Soil-transmitted Helminthiasis Anak Sekolah Dasar di Kecamatan Medan Tembung Wijaya, Jovita Silvia
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 6 (2017): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (599.778 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v44i6.758

Abstract

Soil Transmitted Helminthiasis adalah infeksi cacing yang banyak dijumpai di Indonesia. Infeksi ini dapat menyebabkan malnutrisi, anemia, radang kronis saluran pencernaan, gangguan tumbuh kembang anak, gangguan proses belajar dan kehadiran di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektifitas dan efek samping albendazole dengan kombinasi mebendazole-pyrantel pamoate. Uji klinik acak tersamar ganda (double blind randomized trial) pada bulan April-Agustus 2015 terhadap anak Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Medan Tembung Kotamadya Medan. Besar sampel 217 anak dengan ascariasis 47,5%, trichuriasis 19,8% dan infeksi campuran 32,7%. Pada hasil pemeriksaan feses, angka kesembuhan 93,11% di kelompok albendazole dan 97,4% di kelompok kombinasi mebendazole-pyrantel pamoate. Perbedaan tidak signifikan pada pemeriksaan hari ke 7, 14 dan 21 (P=0,390, P=0,077, P=0,136) tetapi angka kesembuhan klinis di kelompok kombinasi mebendazole-pyrantel pamoate lebih tinggi dibandingkan di kelompok albendazole.Soil Transmitted Helminthiasis is a helminthic infection, frequently found in Indonesia. This infection can cause malnutrition, anemia, chronic inflammation of digestive system, child growth disturbance, reduced school presence. This study compared the effectiveness and side-effects between abendazole and mebendazole-pyrantel pamoate combination treatment. Double-blind randomized trial has been done in April-August 2015 on 217 primary students in Medan Tembung. The incidence of ascariasis is 47,5%, trichuriasis 19,8% and mixed infection 32,7%. Based on faeces examination, cure in albendazole group was 93,11% and 97,4% in mebendazole-pyrantel pamoate group. Results on the 7th, 14th and 21st day after treatment were statistically not significant (P= 0,390 ; P= 0,077 ; P= 0,136). Clinically, the cure in mebendazole-pyrantel pamoate group is higher than in albendazole group.
Peranan Analog Somatostatin sebagai Terapi Adjuvan pada Diare Refrakter Terkait AIDS Suryajaya, Paskalis Indra
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 8 (2015): Nutrisi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.227 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v42i8.982

Abstract

AIDS merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi HIV yang menyebabkan penurunan kekebalan tubuh penderita, sehingga meningkatkan risiko infeksi sekunder. Diare merupakan salah satu manifestasi klinis yang sering ditemukan pada penderita AIDS, sering bersifat refrakter dengan etiologi multifaktorial dan sering mengakibatkan penurunan keadaan umum dan kualitas hidup penderitanya. Analog somatostatin memiliki efek luas di seluruh tubuh, salah satunya ialah inhibisi motilitas usus serta menurunkan proses sekresi cairan oleh sel kripta usus, sehingga dapat membantu penatalaksanaan diare refrakter, salah satunya adalah diare terkait AIDS.AIDS is a disease caused by HIV infection resulting in a decrease of immunity that leads to a higher risk of secondary infection. Diarrhea is one of the most common clinical manifestations in AIDS; it is mostly refractory and has multifactorial etiologies, leads to a poor condition and lower quality of life. Somatostatin analogues exert an effect of inhibition of gut motility and crypt cells secretion, which may aid in the management of refractory diarrhea, as in AIDS related diarrhea.

Page 18 of 297 | Total Record : 2961


Filter by Year

2014 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 50 No 11 (2023): Pediatri Vol 50 No 10 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 9 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 8 (2023): Dermatiologi Vol 50 No 7 (2023): Kardiovaskular Vol 50 No 6 (2023): Edisi CME Vol 50 No 5 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 4 (2023): Anak Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi Vol 50 No 2 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 1 (2023): Oftalmologi Vol 49, No 4 (2022): Infeksi - COVID-19 Vol 49 No 12 (2022): Dermatologi Vol. 49 No. 11 (2022): Neurologi Vol 49 No 10 (2022): Oftalmologi Vol. 49 No. 9 (2022): Neurologi Vol. 49 No. 8 (2022): Dermatologi Vol 49, No 7 (2022): Vitamin D Vol 49 No 7 (2022): Nutrisi - Vitamin D Vol 49 No 6 (2022): Nutrisi Vol 49, No 6 (2022): Nutrisi Vol 49 No 5 (2022): Neuro-Kardiovaskular Vol 49, No 5 (2022): Jantung dan Saraf Vol 49 No 4 (2022): Penyakit Dalam Vol 49, No 3 (2022): Saraf Vol 49 No 3 (2022): Neurologi Vol 49 No 2 (2022): Infeksi Vol 49, No 2 (2022): Infeksi Vol 49 (2022): CDK Suplemen-2 Vol 49 (2022): CDK Suplemen-1 Vol 49, No 1 (2022): Bedah Vol 49 No 1 (2022): Bedah Vol 48 No 11 (2021): Penyakit Dalam - COVID-19 Vol 48, No 7 (2021): Infeksi - [Covid - 19] Vol 48 No 1 (2021): Infeksi COVID-19 Vol. 48 No. 10 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 4 Vol 48 No 8 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 3 Vol 48 No 5 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 2 Vol. 48 No. 2 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 1 Vol 48, No 12 (2021): General Medicine Vol 48 No 12 (2021): Penyakit Dalam Vol 48, No 11 (2021): Kardio-SerebroVaskular Vol 48, No 10 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48, No 9 (2021): Nyeri Neuropatik Vol 48 No 9 (2021): Neurologi Vol 48, No 8 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 7 (2021): Infeksi Vol 48, No 6 (2021): Kardiologi Vol 48 No 6 (2021): Kardiologi Vol 48, No 5 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 4 (2021): Dermatologi Vol 48, No 4 (2021): Dermatologi Vol 48, No 3 (2021): Obstetri dan Ginekologi Vol. 48 No. 3 (2021): Obstetri - Ginekologi Vol 48, No 2 (2021): Farmakologi - Vitamin D Vol 48, No 1 (2021): Penyakit Dalam Vol 47, No 12 (2020): Dermatologi Vol 47, No 11 (2020): Infeksi Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi Vol. 47 No. 10 (2020): Dermatologi Vol 47 No 9 (2020): Infeksi Vol 47, No 9 (2020): Neurologi Vol. 47 No. 8 (2020): Oftalmologi Vol 47, No 8 (2020): Kardiologi Vol. 47 No. 7 (2020): Neurologi Vol 47, No 7 (2020): Bedah Vol 47 No 6 (2020): Kardiologi & Pediatri Vol. 47 No. 5 (2020): Bedah Vol 47, No 5 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol. 47 No. 4 (2020): Interna Vol 47, No 4 (2020): Arthritis Vol. 47 No. 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 2 (2020): Penyakit Infeksi Vol 47 No 2 (2020): Infeksi Vol 47, No 1 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol 47, No 1 (2020): Bedah Vol 47 No 1 (2020): Bedah Vol. 46 No. 7 (2019): Continuing Medical Education - 2 Vol 46 No 12 (2019): Kardiovakular Vol 46, No 12 (2019): Kardiovaskular Vol. 46 No. 11 (2019): Pediatri Vol 46, No 11 (2019): Kesehatan Anak Vol 46, No 10 (2019): Farmasi Vol. 46 No. 10 (2019): Farmakologi - Continuing Professional Development Vol 46 No 9 (2019): Neurologi Vol 46, No 9 (2019): Neuropati Vol. 46 No. 8 (2019): Pediatri Vol 46, No 8 (2019): Kesehatan Anak Vol 46, No 7 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46 No 6 (2019): Endokrinologi Vol 46, No 6 (2019): Diabetes Mellitus Vol 46, No 5 (2019): Pediatri Vol. 46 No. 5 (2019): Pediatri Vol. 46 No. 4 (2019): Dermatologi Vol 46, No 4 (2019): Dermatologi Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi Vol. 46 No. 3 (2019): Nutrisi Vol 46, No 2 (2019): Penyakit Dalam Vol. 46 No. 2 (2019): Interna Vol 46 No 1 (2019): Obstetri-Ginekologi Vol 46, No 1 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46, No 1 (2019): Obstetri - Ginekologi Vol 45, No 12 (2018): Farmakologi Vol 45 No 12 (2018): Interna Vol. 45 No. 11 (2018): Neurologi Vol 45, No 11 (2018): Neurologi Vol. 45 No. 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45 No 9 (2018): Infeksi Vol 45, No 9 (2018): Infeksi Vol 45, No 8 (2018): Alopesia Vol. 45 No. 8 (2018): Dermatologi Vol 45, No 7 (2018): Onkologi Vol 45 No 7 (2018): Onkologi Vol. 45 No. 6 (2018): Interna Vol 45, No 6 (2018): Penyakit Dalam Vol 45, No 5 (2018): Nutrisi Vol. 45 No. 5 (2018): Nutrisi Vol 45, No 4 (2018): Cedera Kepala Vol 45 No 4 (2018): Neurologi Vol 45, No 4 (2018): Cidera Kepala Vol. 45 No. 3 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 3 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 2 (2018): Urologi Vol. 45 No. 2 (2018): Urologi Vol 45, No 1 (2018): Dermatologi Vol 45 No 1 (2018): Dermatologi Vol 45, No 1 (2018): Suplemen Vol 44, No 12 (2017): Neurologi Vol 44, No 11 (2017): Kardiovaskuler Vol 44, No 10 (2017): Pediatrik Vol 44, No 9 (2017): Kardiologi Vol 44, No 8 (2017): Obstetri-Ginekologi Vol 44, No 7 (2017): THT Vol 44, No 6 (2017): Dermatologi Vol 44, No 5 (2017): Gastrointestinal Vol 44, No 4 (2017): Optalmologi Vol 44, No 3 (2017): Infeksi Vol 44, No 2 (2017): Neurologi Vol 44, No 1 (2017): Nutrisi Vol 43, No 12 (2016): Kardiovaskular Vol 43, No 11 (2016): Kesehatan Ibu - Anak Vol 43, No 10 (2016): Anti-aging Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler Vol 43, No 8 (2016): Infeksi Vol 43, No 7 (2016): Kulit Vol 43, No 6 (2016): Metabolik Vol 43, No 5 (2016): Infeksi Vol 43, No 4 (2016): Adiksi Vol 43, No 3 (2016): Kardiologi Vol 43, No 2 (2016): Diabetes Mellitus Vol 43, No 1 (2016): Neurologi Vol 42, No 12 (2015): Dermatologi Vol 42, No 11 (2015): Kanker Vol 42, No 10 (2015): Neurologi Vol 42, No 9 (2015): Pediatri Vol 42, No 8 (2015): Nutrisi Vol 42, No 7 (2015): Stem Cell Vol 42, No 6 (2015): Malaria Vol 42, No 5 (2015): Kardiologi Vol 42, No 4 (2015): Alergi Vol 42, No 3 (2015): Nyeri Vol 42, No 2 (2015): Bedah Vol 42, No 1 (2015): Neurologi Vol 41, No 12 (2014): Endokrin Vol 41, No 11 (2014): Infeksi Vol 41, No 10 (2014): Hematologi Vol 41, No 9 (2014): Diabetes Mellitus Vol 41, No 8 (2014): Pediatrik Vol 41, No 7 (2014): Kardiologi Vol 41, No 6 (2014): Bedah Vol 41, No 5 (2014): Muskuloskeletal Vol 41, No 4 (2014): Dermatologi Vol 41, No 3 (2014): Farmakologi Vol 41, No 2 (2014): Neurologi Vol 41, No 1 (2014): Neurologi More Issue