Cermin Dunia Kedokteran
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles
2,961 Documents
Hipotiroid Kongenital dan Hypertrophic Pyloric Stenosis: Pemantauan Selama 3 Bulan
Gultom, Lanny Christine;
The, Valensia Vivian
Cermin Dunia Kedokteran Vol 49, No 2 (2022): Infeksi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (421.81 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v49i2.1730
Angka kejadian hipotiroid kongenital (HK) berkisar 1 : 2000-4000 bayi. Deteksi dan tata laksana dini diperlukan agar fungsi neurologi dan perkembangan pasien optimal. Salah satu penyebab muntah berulang pada bayi adalah hypertrophic pyloric stenosis (HPS). Deteksi dan tatalaksana HPS penting karena HPS dapat menyebabkan gagal tumbuh hingga gizi buruk yang berdampak pada IQ. Kasus: Bayi usia 2 bulan tanpa skrining hipotiroid kongenital, masuk ke rumah sakit dengan gejala khas hipotiroid kongenital, yaitu ubun-ubun terbuka, wajah tampak kasar,makroglosia, kulit kering dan dingin, gagal tumbuh, dan hernia umbilikalis. Selain gejala HK, bayi juga memiliki keluhan muntah berulang yang kemudian didiagnosis HPS. Terapi medikamentosa yang tepat dengan levothyroxine, tindakan pembedahan, dan nutrisi yang adekuat harusdiberikan agar tumbuh kembang optimal.
Pengaruh Social Engagement terhadap Fungsi Kognitif Lanjut Usia di Jakarta
Wreksoatmodjo, Budi Riyanto
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 3 (2014): Farmakologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (617.314 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v41i3.1153
Peningkatan harapan hidup manusia akan menambah populasi lanjut usia diikuti dengan peningkatan masalah, antara lain penurunan fungsi kognitif. Salah satu faktor risiko penurunan fungsi kognitif ialah social engagement yang dipengaruhi oleh lingkungan tempat tinggal. Penelitian dilakukan menggunakan metode cross sectional di kelurahan Jelambar dan Jelambar Baru, Jakarta atas 286 lanjut usia yang tinggal di keluarga dan di panti werdha menunjukkan adanya pengaruh social engagement terhadap fungsi kognitif lanjut usia, terutama di kalangan panti werdha. Social engagement buruk berhubungan dengan gangguan fungsi kognitif, social engagement buruk berhubungan dengan fungsi kognitif yang lebih rendah. Komponen social engagement yang paling berperan terhadap fungsi kognitif para lanjut usia adalah aktivitas di masyarakat dan keanggotaan di kelompok masyarakat lain (selain posyandu).The improvement of life expectancy has increased old-age population in the world. This condition will increase the problems among elderly, among others is cognitive decline. One of the risk factors for cognitive decline is social engagement that can be influenced by living environment. This research was done with cross sectional method in kelurahan Jelambar and Jelambar Baru on 286 respondents living in family and institution. Social disengagement was associated with lower cognitive function The most important components of social engagement are to become a member of social/community society and to be active in the community.Â
Glaukoma Neovaskular: Deteksi Dini dan Tatalaksana
Leonardo, Kevin;
Priscilia, Florentina
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 2 (2020): Penyakit Infeksi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (296.108 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v47i2.349
Glaukoma neovaskular merupakan glaukoma sekunder dengan prognosis visus relatif buruk. Hal ini terkait dengan kerusakan saraf mata progresif akibat peningkatan tekanan intraokular (TIO) disertai gangguan aliran darah segmen posterior mata (retina). Penyakit diawali dengan kondisi iskemia retina yang merupakan komplikasi penyakit lain, khususnya retinopati diabetes atau oklusi vena sentral retina. Kondisi iskemia akan memicu neovaskularisasi dan pembentukan membran fibrovaskular di segmen anterior mata, terutama iris dan sudut iridokornea yang pada akhirnya akan mengobstruksi aliran humor akuos mata. Hal terpenting adalah deteksi dini dan mencegah kejadian glaukoma neovaskular.Neovascular glaucoma is a type of secondary glaucoma generally associated with relatively poor visual prognosis. It is characterized by progressive damage of optical nerve caused by increase of intraocular pressure and disturbance of retinal blood flow. The early stage starts with retinal ischemia as a complication from other diseases such as diabetic retinopathy and central retinal vein occlusion. This ischemic condition will drive neovascularization and form a fibrovascular membrane over the anterior segments of the eye, especially iris and iridocorneal angle which can obstruct the aqueous humor. Early detection and prevention are important.
Obstetric Antiphospholipid Syndrome: Etiologi Keguguran Berulang yang Sulit Dikenali
Djuanda, Jonathan Kevin
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 5 (2019): Pediatri
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (731.42 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v46i5.485
Keguguran atau abortus merupakan masalah ibu hamil trimester pertama. Penyebabnya bervariasi dari kelainan kromosom hingga penyakit kronis ibu hamil. Obstetric Antiphospholipid Syndrome (OAS) merupakan penyakit autoimun yang dapat muncul dalam kehamilan, menyebabkan keguguran berulang sehingga menimbulkan beban medis, sosial dan finansial yang besar. Pada kasus OAS murni tidak ada gejala lain.Miscarriage is a complication in the first trimester pregnancy. The common cause is chromosomal anomalies. Recurrent miscarriages warrants further examination. Obstetric Antiphospholipid Syndrome (OAS) is an autoimmune disease associated with Antiphospholipid Syndrome. A pure OAS yields no other sign and symptoms aside from pregnancy complications such as recurrent miscarriage.
Modulasi Neurogenesis untuk Pengembangan Terapi Depresi
-, Muthmainah;
Wiyono, Nanang
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 12 (2017): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (278.776 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v44i12.694
Depresi merupakan salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas yang paling sering, diperkirakan 10-15% penduduk dunia pernah mengalami episode depresi selama hidupnya. Patofisiologi depresi kompleks dan melibatkan tingkat molekuler, seluler dan jaringan. Salah satu teori mekanisme depresi dan kerja antidepresan adalah proses neurogenesis. Neurogenesis pada masa dewasa di gyrus dentatus hippocampus dipengaruhi oleh stres yang berperan dalam patofisiologi depresi; proses neurogenesis ini dapat dimodulasi oleh antidepresan sehingga dapat dimanfaatkan untuk penatalaksanaan depresi. Antidepresan tersebut adalah Selective Serotonine Reuptake Inhibitors (SSRIs) dan Norepinephrine Reuptake Inhibitors (NRIs).Depression is one of the most common causes of mortality and morbidity; it is estimated that 10-15% of world population ever experienced an episode of depression. The pathophysiology of depression is very complex involving mechanism in the molecular and cellular level. The neurogenesis hypothesis postulates that decreased neurogenesis results in depressive phenotype and that neurogenesis is crucial for the behavioural effect of antidepressant. Decreased adult neurogenesis in the dentate gyrus of the hippocampus is induced by stress. Modulation of neurogenesis in this area through administration of antidepressant such as SSRIs and NRIs has been used for the treatment of depression.
Terapi Psoriasis di Era Pandemi COVID-19
Kurniawan, Marsha;
Matthew, Franklind
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 7 (2021): Infeksi - [Covid - 19]
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (129.621 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v48i7.1449
Psoriasis merupakan penyakit inflamasi kronis kulit dengan predisposisi genetik dan autoimun yang kuat. Prevalensi psoriasis di seluruh dunia adalah 0,09% sampai 5,1%, bervariasi antar negara. Psoriasis dikarakteristikkan dengan lesi plak eritematosa yang dilapisi skuama tebal putih keabuan, biasanya memiliki predileksi simestris di siku, lutut, trunk, dan scalp. Terapi sebagian besar menggunakan imunomodulator atau imunosupresan untuk psoriasis derajat sedang hingga berat. Sudah terdapat beberapa penelitian efek samping dan rekomendasi dosis obat-obatan di era COVID-19. Penggunaan terapi tersebut dalam era pandemi COVID-19 harus hati-hati dan tetap menjaga imunitas pasien.Psoriasis is a chronic skin inflammatory disease with a strong genetic and autoimmune predisposition. The prevalence of psoriasis worldwide is 0.09% to 5.1%, varies among countries. Psoriasis is characterized by erythematous plaque lesions covered in thick gray-white scales, usually have a symmetrical predilection on the elbows, knees, trunk, and scalp. Immunomodulators or immunosuppressants are commonly used for moderate to severe psoriasis. There have been several studies on side effects and recommendations for the necessary dosage adjustments in the era of the COVID-19 pandemic. Careful use is important to maintain patient's immunity.
Sindrom De Quervain: Diagnosis dan Tatalaksana
Suryani, Adelia
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 8 (2018): Alopesia
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (279.274 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i8.624
Sindrom De Quervain adalah suatu bentuk peradangan selaput tendon di sarung sinovial yang menyelubungi otot extensor pollicis brevis dan otot abductor pollicis longus disertai nyeri. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Penatalaksanaan berupa cara non-bedah dan pembedahan.De Quervain syndrome is an inflammation of tendon sheath in synovial sheath covering extensor pollicis brevis muscle and abductor pollicis longus muscle accompanied with pain. Diagnosis is based on patient’s history and clinical findings. Management are non-surgical and surgical.
Tatalaksana Multiple Sclerosis
Jafar, Yohanes
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 3 (2017): Infeksi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (171.422 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v44i3.830
Multiple sclerosis adalah suatu kelainan autoimun, yaitu sistem kekebalan tubuh sendiri menyerang sistem saraf pusat. Gejalanya sangat beragam, seperti penurunan penglihatan pada salah satu mata, penglihatan ganda, kelainan sensorik, dan gangguan keseimbangan. Prevalensi global kelainan ini sangat beragam; di Indonesia, termasuk jarang. MRI dapat membantu menegakkan diagnosis. Belakangan ini banyak obat-obat golongan DMAMS (disease-modifying agents for MS) yang ditujukan untuk mengurangi progresivitas dan relaps penyakit ini. Pemilihan obat DMAMS sebaiknya juga memperhatikan efek samping obat dan kenyamanan pasien.Multiple Sclerosis is an autoimmune disorder that the body's own immune system attacks the central nervous system. The symptoms of these disorders are very diverse, such as loss of vision in one eye, double vision, sensory abnormalities, and balance disorders. Globally, the prevalence of this disorder varies between regions, it is considered rare in Indonesia. MRI can help diagnose this disorder. Drugs from DMAMS (disease-modifying agents for MS) group are intended to reduce progression and relapse. DMAMS drug selection should also consider potential side effects and patient comfort.
Gangguan Vena Menahun
Kartika, Ronald Winardi
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 1 (2015): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (435.683 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v42i1.1051
Gangguan vena menahun atau Chronic Venous Insufficiency (CVI) adalah gangguan aliran balik darah dari tungkai ke jantung yang bersifat menahun, dan sering dikaitkan dengan varises. Prevalensi varises diperkirakan antara 5-30% populasi dewasa. CVI dapat menyebabkan nyeri, bengkak, perubahan kulit, dan ulserasi pada ekstremitas bawah. Penatalaksanaan CVI meliputi pengobatan konservatif dan intervensi aktif.Chronic venous insufficiency (CVI) is a chronic disorder of backflow of blood from legs to the heart, and it is commonly associated with varicose veins. The prevalence of varicose vein is estimated between 5-30% of the adult population. CVI can cause pain, swelling, skin changes, and ulceration of the lower extremities. Management of CVI includes conservative treatment and active intervention.
Batu Buli-buli pada Anak
Wiryanatha, AA G Oka;
Mahartha, Gde Rastu Adi
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 4 (2019): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (521.011 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v46i4.493
Batu buli-buli masih sering dialami anak-anak di daerah miskin atau pedesaan, dengan insiden diperkirakan antara 1:10.000 dan 1:7.000 pada perawatan pasien anak.1 Etiologi pada anak-anak sebagian besar belum diketahui.2 Batu buli-buli meliputi 5% dari semua kasus batu saluran kemih.3 Anak laki-laki lebih sering terkena dibanding dengan wanita.4 Pada kasus ini dilaporkan anak laki-laki usia 15 tahun dengan batu buli-buli berukuran 5 cm x 3,5 cm.Bladder stones are still often experienced by children in poor or rural areas, with an estimated incidence of 1: 10,000 and 1: 7,000 in pediatric pracitce.1 The etiology in children is largely unknown.2 Bladder stones account for approximately 5% of all urinary system stones.3 Boys are more frequently affected than girls.4 This case is a 15-year-old boy with a 5 cm x 3.5 cm bladder stone.