cover
Contact Name
Dita Archinirmala
Contact Email
dorotea.ditaarchinirmala@kalbe.co.id
Phone
+6281806175669
Journal Mail Official
cdkjurnal@gmail.com
Editorial Address
http://www.cdkjournal.com/index.php/CDK/about/editorialTeam
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Cermin Dunia Kedokteran
Published by PT. Kalbe Farma Tbk.
ISSN : 0125913X     EISSN : 25032720     DOI : 10.55175
Core Subject : Health,
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles 2,961 Documents
Pendekatan Terapi Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) Dewi, Ni Luh Putu Rustiari
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 11 (2020): Infeksi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.239 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v47i11.1201

Abstract

Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) juga dikenal sebagai hyperandrogenic anovulation (HA), merupakan kelainan sistem endokrin yang menyebabkan gangguan kesuburan wanita usia reproduktif. PCOS melibatkan ketidakseimbangan kadar luteinizing hormone (LH) dan follicle-stimulating hormone (FSH), resistensi insulin, dan kelainan metabolisme. Clomiphene citrate masih menjadi pilihan terapi utama untuk menstimulasi ovulasi pada kasus PCOS. Metformin juga menurunkan kadar androgen yang dapat meningkatkan terjadinya ovulasi spontan. Terapi lini kedua adalah gonadotropin dan bedah laparoskopi ovarium.Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS), also referred to as hyperandrogenic anovulation (HA), is an endocrine system disorders that affect women in their reproductive age. PCOS typically involves hormonal imbalances between luteinizing hormone (LH) and follicle-stimulating hormone (FSH), insulin resistance, and metabolic abnormalities. Clomiphene citrate (CC) is considered the first line treatment for ovulation induction in women with Polycystic Ovary Syndrome (PCOS). Metformin also decreases androgens in both lean and obese women, leading to increased rates of spontaneous ovulation. Second choice is gonadotropin and ovarianlaparoscopy. 
Uji Efek Antiinflamasi Ekstrak Etanol Rimpang Jeringau Merah (Acorus Sp.) terhadap Radang Kaki Tikus Jantan Galur Wistar yang Diinduksi Karagenan Safrina, Nina; Susanti, Ressi; Sari, Rafika
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 6 (2018): Penyakit Dalam
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1015.46 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v45i6.653

Abstract

Jeringau merah (Acorus sp.) telah digunakan secara empiris oleh masyarakat suku Dayak Kalimantan Barat untuk menyembuhkan penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek antiinflamasi dan dosis optimum ekstrak etanol rimpang Jeringau merah pada tikus jantan galur Wistar. Perlakuan pada lima kelompok, yaitu kelompok kontrol positif diberi natrium diklofenak, kontrol negatif diberi CMC-Na 1%, dan kelompok uji diberi ekstrak etanol rimpang Jeringau merah 225 mg/kgBB, 450 mg/kgBB, dan 675 mg/kgBB. Pengujian dengan metode rat hindpaw edema pada telapak kaki kiri tikus jantan galur Wistar dengan induksi karagenan 2%. Nilai AUC digunakan untuk menghitung besarnya daya antiinflamasi tiap kelompok perlakuan dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif. Data dianalisis dengan uji ANOVA dan uji LSD. Hasil menunjukkan ekstrak etanol rimpang Jeringau merah mempunyai aktivitas antiinflamasi dengan dosis optimum ekstrak 450 mg/kgBB dan daya antiinflamasi sebesar 34,20%.Red Jeringau (Acorus sp.) has been used empirically to cure diseases in West Kalimantan. This study aims to examine the antiinflammatory effects and optimum dose of ethanol extract of Red Jeringau rhizomes in Wistar male rats. The samples were divided into five groups, positive control group was given diclofenac sodium, negative control group was given CMC-Na 1%, and the extract groups were given 225 mg/bw, 450 mg/bw and 675 mg/bw ethanol extract of red Jeringau rhizomes. The test was on artificial inflammation in left foot of Wistar male rats induced with carrageenan 2%. AUC values were used calculate the antiinflammatory effects on each group compared to control group. Data were analyzed by one-way ANOVA and LSD test. The results showed that ethanol extract of Red Jeringau rhizomes has antiinflammatory activity and the optimum dose was 450 mg/kgBB with antiinflammatory percentage 34,20%.
Potensi Virtual Reality Berbasis Smartphone sebagai Media Belajar Mahasiswa Kedokteran Mahardika Herlambang, Penggalih; Aryoseto, Lukman
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 6 (2016): Metabolik
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (533.981 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v43i6.67

Abstract

Latar belakang: Pemanfaatan virtual reality (VR) di bidang kedokteran, khususnya sebagai wahana simulator bedah, psikoterapi, hingga terapi non-farmakologi sudah menunjukkan hasil keluaran yang baik. Google cardboard (GC) merupakan teknologi VR berbasis smartphone Android yang baru dan relatif terjangkau dibanding simulator VR konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi penerapan teknologi VR berbasis smartphone tersebut bagi pendidikan kedokteran untuk mencapai kompetensi di tengah keterbatasan wahana pada mahasiswa kedokteran. Metode: Penelitian observasional deskriptif dengan kuesioner online pada 110 responden mahasiswa preklinik Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS). Hasil: Didapatkan 88% responden menggunakan smartphone Android, 10% iOS Apple, dan 2% Blackberry OS. Versi Android yang digunakan 43% Kitkat, 30% Jellybean, 17% Lollypop, 6% Ice Cream Sandwich, dan 4% Gingerbread. Berdasarkan ukuran layar, sensor Gyroscope dan sensor magnetometer, hanya 24% smartphone respoden yang kompatibel menjalankan VR. Sejumlah 100% responden mengaku terbantu dengan smartphone Android dalam aktivitas belajar meliputi membaca jurnal/ebook (92 orang), menonton video (50 orang),menggunakan aplikasi kedokteran (41 orang), berkomunikasi lewat instant messaging (79 orang), dan mencari informasi di media sosial (62 orang). Simpulan: Berdasarkan data penggunaan smartphone, teknologi VR berbasis smartphone seperti GC tampaknya memiliki potensi sebagai media belajar mahasiswa kedokteran.
Pemeriksaan Neurologis pada Kesadaran Menurun Aprilia, Maureen; Wreksoatmodjo, Budi Riyanto
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 10 (2015): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (755.814 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v42i10.961

Abstract

Dengan kemajuan teknologi medis beberapa puluh tahun terakhir ini, saat ini fungsi vital dapat dipertahankan secara “buatan”, meskipun fungsi otak telah berhenti. Hal tersebut akhirnya berimplikasi terhadap definisi kematian secara medis, yang kemudian memunculkan suatu konsep kematian batang otak sebagai penanda kematian. Pasien dalam kondisi koma harus menjalani pemeriksaan fisik umum, neurologi, dan pemeriksaan penunjang untuk menentukan penyebab kehilangan kesadarannya. Keadaan koma tanpa perbaikan dapat berlanjut masuk dalam keadaan mati batang otak. Kriteria kematian batang otak antara lain koma dinyatakan positif, penyebab koma diketahui, arefleks batang otak dinyatakan positif, tidak adanya respons motorik, dan apnea dinyatakan positif.With the advancement of technology, human vital functions can be artificially maintained eventhough the brain ceased to function. This condition raised a concern for a new concept of death. Patients in coma need to be thoroughly evaluated to find the cause, and the diagnosis of brain death needs certain criteria to be fulfilled. Coma without improvements can continue entering in a state of brain stem death. The criteria of brain stem death include positive coma, known causes of coma, positive brain stem arefleks, the absence of motor responses, and apnea.
Kesehatan Mental Anak Selama Pandemi COVID-19 Isella, Virly; Suarca, I Kadek; Sari, Nena Mawar
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 11 (2021): Kardio-SerebroVaskular
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.61 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v48i11.1561

Abstract

Saat ini seluruh dunia sedang menghadapi pandemi COVID-19, tidak terkecuali Indonesia. Berbagai kebijakan telah dijalankan sebagai upaya untuk menekan pertambahan kasus COVID-19. Kebijakan ini membawa perubahan signifikan pada rutinitas sehari-sehari. Pada anak, perubahan tiba-tiba ini dapat sulit dimengerti meskipun anak cenderung tanggap terhadap perubahan situasi. Perubahan rutinitas dan situasi yang sulit ini dapat memberikan dampak negatif pada kesehatan mental anak. Risiko ini makin besar pada anak terinfeksi COVID-19, dan anak dengan riwayat gangguan mental. Gangguan kesehatan mental selama situasi pandemi antara lain perubahan emosi dan perilaku, depresi, ansietas, dan peningkatan screen time. Tinjauan pustaka ini disertai tiga ilustrasi kasus hasil wawancara terhadap tiga remaja di Bali, sebagai gambaran situasi kesehatan mental anak selama pandemi COVID-19.  World are now still in the COVID-19 pandemic situation, including Indonesia. Some policies were made as an effort to suppress this increment. These policies bringsignificant changes to daily routine activities. For some children, this sudden change is hard to be understood even though they tend to be responsive to changes. The risk of mental health disruption are higher in children with COVID-19, and those who have history of mental health problems. Some mental health problems during this pandemic are emotional and behavioral change, depression, anxiety, and increase of screen time. This literature review includes case illustrations of three adolescents in Bali as a portrayal of children’s mental health during this COVID-19 pandemic situation.
Karsinoma Serviks: Gambaran Radiologi dan Terapi Radiasi Puteri, Arini Pramodavardhani
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 4 (2020): Arthritis
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (975.294 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v47i4.385

Abstract

Kanker serviks merupakan keganasan berasal dari serviks. Penyebab kanker serviks diketahui adalah virus HPV (Human Papilloma Virus) sub tipe onkogenik, terutama sub tipe 16 dan 18. Gambaran radiologi tumor terlihat setidaknya pada stadium IB. MRI adalah modalitas pencitraan pilihan untuk menggambarkan tumor primer dan menilai persebaran lokal sedangkan persebaran metastasis jauh terbaik dinilai dengan CT atau PET. Radioterapi terdiri atas kombinasi radiasi eksterna daerah pelvis dan brakiterapi. Kombinasi pembedahan dan radiasi maupun kemoradiasi pada stadium I dan II merupakan tindakan radikal dan dapat memberikan hasil memuaskan.Cervical cancer is a malignancy originating from the cervix. The cause of cervical cancer is HPV (Human Papilloma Virus) oncogenic sub-type, especially sub-types 16 and 18. Radiological features of the tumor are seen at least at stage IB. MRI is the imaging modality of choice for primary tumors description and assessing local distribution while distant metastatis is best assessed by CT or PET. Radiotherapy consists of a combination of external radiation for the pelvic region and brachytherapy. Combination of surgery and radiation as well as chemoradiation in stages I and II is a radical treatment and can provide satisfactory results.
Analisis Kaitan Jumlah Trombosit dengan Mortalitas Pasien Infark Miokard Akut selama Perawatan Kurniawan, Liong Boy; Bahrun, Uleng; Arif, Mansyur; ER, Darmawaty
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 9 (2014): Diabetes Mellitus
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.615 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v41i9.1102

Abstract

Latar belakang Trombosit berperan dalam aterotrombosis dengan menghasilkan enzim yang dapat mendegradasi matriks sehingga plak aterosklerosis mudah ruptur. Ruptur plak akan menyebabkan adhesi, aktivasi dan agregasi trombosit sehingga membentuk trombus yang dapat mematikan sel otot jantung. Jumlah trombosit diduga berkaitan dengan mortalitas pasien infark miokard akut. Tujuan Untuk mengetahui jumlah trombosit pasien infark miokard akut saat masuk rumah sakit dan menilai kaitannya dengan mortalitas pasien selama perawatan di rumah sakit. Metode Penelitian ini merupakan studi retrospektif dengan analisis potong silang, menggunakan data sekunder rekam medik 81 pasien infark miokard akut yang dirawat di Unit Perawatan Jantung Intensif Rumah Sakit dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar periode Juli 2010 hingga Juni 2011. Jumlah trombosit yang diteliti adalah jumlah trombosit saat pasien masuk rumah sakit. Uji statistik dengan Uji T dan Mann Whitney. Hasil Rerata jumlah trombosit penderita infark miokard akut yang survive dan meninggal selama perawatan adalah 245,02+69,58/µL dan 259,18+111,17/µL (p=0,543). Tidak ditemukan hubungan antara tingkat mortalitas dengan jumlah trombosit secara keseluruhan (p=0,433). Pasien dengan trombositosis memiliki risiko mortalitas 4,27 kali dibandingkan dengan jumlah trombosit normal (p=0,256, 95%IK 0,368-49,676) sedangkan pasien dengan trombositopenia memiliki risiko mortalitas 1,71 kali dibandingkan dengan pasien dengan jumlah trombosit normal (p=0,471, 95%IK 0,418-6,993). Simpulan Tidak ditemukan perbedaan bermakna jumlah trombosit pasien yang survive dan yang meninggal selama perawatan, tetapi ditemukan kecenderungan peningkatan mortalitas pada pasien infark miokard akut dengan trombositosis dan trombositopenia dibandingkan dengan pasien dengan jumlah trombosit normal.Background Platelet has important role in atherothrombosis by producing enzymes which may degrade matrix leading to plaque rupture. Rupture of plaques induces platelet adhesion, activation and aggregation forming thrombus which can cause myocardial infarction. Platelet counts are thought to correlate with mortality of acute myocardial infarction patients. Objective To observe platelet counts at admission among acute myocardial patients and to evaluate its influence to in-hospital mortality. Method A retrospective study with cross sectional approach was performed using secondary data from 81 acute myocardial infarction patients hospitalized in Intensive Cardiac Care Unit of dr. Wahidin Sudirohusodo Hospital Makassar from June 2010 to July 2011. Platelet counts at admission were analyzed and statistical analysis was performed using T and Mann Whitney Tests. Results The mean platelet counts at admission in the in-hospital survived and non survived acute myocardial infarction patients were 245.02+69.58/µL and 259.18+111.17/µL respectively (p=0,543). No correlation found between mortality rate and overall platelet count (p=0.433). Patients with thrombocytemia had 4.27 times mortality rate compared to normal platelet counts patients (p=0.256, 95% CI =0.368-49.676) while thrombocytopenia patients had 1.71 times mortality rate compared to those with normal platelet counts (p=0.471, 95% CI =0.418-6.993). Conclusion No significant difference of platelet counts at admission in the in-hospital survived and non survived acute myocardial infarction patients; patients with thrombocytemia and thrombocytopenia had tendency of higher mortality compared to patients with normal platelet counts. 
Kaitan Nyeri Kepala pada Wanita dengan Perubahan Kadar Hormon Wibisono, Yusuf
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 1 (2019): Obstetri - Ginekologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (616.737 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v46i1.541

Abstract

Nyeri kepala pada wanita berhubungan dengan hormonal milestones, yaitu menarche, kehamilan, pasca-persalinan dan menyusui, perimenopause, dan penggunaan pil kontrasepsi oral. Banyak bukti yang menghubungkan hormon (estrogen dan progesteron) dengan nyeri kepala pada wanita. Terapi dapat dimulai sejak pubertas saat awal siklus haid, sepanjang tahun reproduksi, dan juga perimenopause dan postmenopause. Menetapkan diagnosis nyeri kepala dipicu hormon sangat penting untuk perancangan strategi pengobatan secara efektif.Female headache is related to hormonal milestones throughout the reproductive life cycle and the use of oral contraceptive pills (OCPs). Considerable evidences have accumulated on the links between female ovarian steroid hormones estrogen and progesterone with headache. Therapeutic intervention may become necessary during puberty as menstrual cycles begin, throughout reproductive years, and at perimenopause and postmenopause. Establishing the historical features of hormonal triggered headache is critical in designing effective treatment strategies.
Pemeriksaan Ultrasonografi Paru Emergensi di era COVID-19 Oka Wijaya, I Gusti Bagus; Atmaja, I Nyoman Teri
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 1 (2021): Penyakit Dalam
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.003 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v48i1.1272

Abstract

Saat pandemi COVID-19 diperlukan tindakan diagnostik yang cepat. Pemeriksaan penunjang yang umum adalah Foto Polos dan CT scan toraks. Pada teknik tersebut alatnya terfiksasi dan mempunyai risiko radiasi. Metode lain evaluasi kelainan paru adalah dengan ultrasonografi. Ultrasonografi aman, tanpa ada kontra indikasi absolut dan mudah dikerjakan di manapun, karena alatnya mobile dan portabel. Ultrasonografi paru dapat dilakukan untuk deteksi dan diagnosis kelainan paru.COVID-19 needs a fast and accurate diagnosis. The imaging procedure commonly used is chest X-ray and chest CT scan. But those techniques have relative immobility and risk of radiation exposure. Other method of lung evaluation is ultrasound. Ultrasound is safe with no absolute contraindication, easy to use because the device is mobile and portable. Lung ultrasound can be used for detection and diagnosis of lung abnormalities.
Hubungan antara Pengetahuan mengenai Pityriasis versicolor dan PHBS dengan Kejadian Pityriasis versicolor pada Santri Madrasah Tsanawiyah Pondok Pesantren X Kecamatan Mempawah Hilir Natalia, Diana; Rahmayanti, Sari; Nazaria, Riska
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 1 (2018): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.812 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v45i1.148

Abstract

Pityriasis versicolor merupakan penyakit infeksi kulit yang disebabkan oleh jamur spesies Malassezia, ditemukan pada 20-25% penduduk dunia, lebih sering di area lembap dan temperatur cukup tinggi, seperti Kalimantan Barat dengan suhu rata-rata 25,8-28,33oC dan kelembapan 60- 98%. Penelitian ini menganalisis hubungan antara pengetahuan mengenai pityriasis versicolor dan PHBS dengan kejadian pityriasis versicolor di kalangan santri Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Pondok Pesantren X Kecamatan Mempawah Hilir, menggunakan metode analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah sampel sebanyak 139 orang, di mana 45 orang di antaranya menderita pityriasis versicolor. Sebanyak 57,6% subjek memiliki pengetahuan baik tentang penyakit pityriasis versicolor dan 93,3% subjek memiliki Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang baik. Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan pityriasis versicolor dan PHBS dengan kejadian pityriasis versicolor pada santri MTs di Pondok Pesantren X Kecamatan Mempawah Hilir.Pityriasis versicolor is fungal skin infection caused by Malassezia, found in 20-25% human population, mostly in moist and high temperature area, such as in West Borneo with an average temperature 25,8-28,33°C and humidity 98%. This cross-sectional study analyzed the correlation between knowledge on pityriasis versicolor and clean and healthy behavior with pityriasis versicolor incidence among Madrasah Tsanawiyah (MTs) students in Islamic Boarding School X Subdistrict Mempawah Hilir, using an observational analytical method with a cross-sectional approach. A total of 139 students were included, 45 diagnosed with pityriasis versicolor. A proportion of 57,8% subjects had a good knowledge on pityriasis versicolor and 93,3% had a good clean and healthy behavior. No correlation between knowledge on pityriasis versicolor and clean and healthy behavior with pityriasis versicolor incidence among MTs students in Islamic Boarding School X Subdistrict Mempawah Hilir

Page 24 of 297 | Total Record : 2961


Filter by Year

2014 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 50 No 11 (2023): Pediatri Vol 50 No 10 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 9 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 8 (2023): Dermatiologi Vol 50 No 7 (2023): Kardiovaskular Vol 50 No 6 (2023): Edisi CME Vol 50 No 5 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 4 (2023): Anak Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi Vol 50 No 2 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 1 (2023): Oftalmologi Vol 49, No 4 (2022): Infeksi - COVID-19 Vol 49 No 12 (2022): Dermatologi Vol. 49 No. 11 (2022): Neurologi Vol 49 No 10 (2022): Oftalmologi Vol. 49 No. 9 (2022): Neurologi Vol. 49 No. 8 (2022): Dermatologi Vol 49, No 7 (2022): Vitamin D Vol 49 No 7 (2022): Nutrisi - Vitamin D Vol 49 No 6 (2022): Nutrisi Vol 49, No 6 (2022): Nutrisi Vol 49 No 5 (2022): Neuro-Kardiovaskular Vol 49, No 5 (2022): Jantung dan Saraf Vol 49 No 4 (2022): Penyakit Dalam Vol 49, No 3 (2022): Saraf Vol 49 No 3 (2022): Neurologi Vol 49, No 2 (2022): Infeksi Vol 49 No 2 (2022): Infeksi Vol 49 (2022): CDK Suplemen-2 Vol 49 (2022): CDK Suplemen-1 Vol 49, No 1 (2022): Bedah Vol 49 No 1 (2022): Bedah Vol 48 No 11 (2021): Penyakit Dalam - COVID-19 Vol 48, No 7 (2021): Infeksi - [Covid - 19] Vol 48 No 1 (2021): Infeksi COVID-19 Vol. 48 No. 10 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 4 Vol 48 No 8 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 3 Vol 48 No 5 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 2 Vol. 48 No. 2 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 1 Vol 48, No 12 (2021): General Medicine Vol 48 No 12 (2021): Penyakit Dalam Vol 48, No 11 (2021): Kardio-SerebroVaskular Vol 48, No 10 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48, No 9 (2021): Nyeri Neuropatik Vol 48 No 9 (2021): Neurologi Vol 48, No 8 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 7 (2021): Infeksi Vol 48, No 6 (2021): Kardiologi Vol 48 No 6 (2021): Kardiologi Vol 48, No 5 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 4 (2021): Dermatologi Vol 48, No 4 (2021): Dermatologi Vol 48, No 3 (2021): Obstetri dan Ginekologi Vol. 48 No. 3 (2021): Obstetri - Ginekologi Vol 48, No 2 (2021): Farmakologi - Vitamin D Vol 48, No 1 (2021): Penyakit Dalam Vol 47, No 12 (2020): Dermatologi Vol 47, No 11 (2020): Infeksi Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi Vol. 47 No. 10 (2020): Dermatologi Vol 47 No 9 (2020): Infeksi Vol 47, No 9 (2020): Neurologi Vol. 47 No. 8 (2020): Oftalmologi Vol 47, No 8 (2020): Kardiologi Vol 47, No 7 (2020): Bedah Vol. 47 No. 7 (2020): Neurologi Vol 47 No 6 (2020): Kardiologi & Pediatri Vol 47, No 5 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol. 47 No. 5 (2020): Bedah Vol. 47 No. 4 (2020): Interna Vol 47, No 4 (2020): Arthritis Vol. 47 No. 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 2 (2020): Penyakit Infeksi Vol 47 No 2 (2020): Infeksi Vol 47, No 1 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol 47, No 1 (2020): Bedah Vol 47 No 1 (2020): Bedah Vol. 46 No. 7 (2019): Continuing Medical Education - 2 Vol 46 No 12 (2019): Kardiovakular Vol 46, No 12 (2019): Kardiovaskular Vol. 46 No. 11 (2019): Pediatri Vol 46, No 11 (2019): Kesehatan Anak Vol 46, No 10 (2019): Farmasi Vol. 46 No. 10 (2019): Farmakologi - Continuing Professional Development Vol 46 No 9 (2019): Neurologi Vol 46, No 9 (2019): Neuropati Vol. 46 No. 8 (2019): Pediatri Vol 46, No 8 (2019): Kesehatan Anak Vol 46, No 7 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46 No 6 (2019): Endokrinologi Vol 46, No 6 (2019): Diabetes Mellitus Vol 46, No 5 (2019): Pediatri Vol. 46 No. 5 (2019): Pediatri Vol. 46 No. 4 (2019): Dermatologi Vol 46, No 4 (2019): Dermatologi Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi Vol. 46 No. 3 (2019): Nutrisi Vol 46, No 2 (2019): Penyakit Dalam Vol. 46 No. 2 (2019): Interna Vol 46 No 1 (2019): Obstetri-Ginekologi Vol 46, No 1 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46, No 1 (2019): Obstetri - Ginekologi Vol 45, No 12 (2018): Farmakologi Vol 45 No 12 (2018): Interna Vol. 45 No. 11 (2018): Neurologi Vol 45, No 11 (2018): Neurologi Vol. 45 No. 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45 No 9 (2018): Infeksi Vol 45, No 9 (2018): Infeksi Vol 45, No 8 (2018): Alopesia Vol. 45 No. 8 (2018): Dermatologi Vol 45, No 7 (2018): Onkologi Vol 45 No 7 (2018): Onkologi Vol. 45 No. 6 (2018): Interna Vol 45, No 6 (2018): Penyakit Dalam Vol 45, No 5 (2018): Nutrisi Vol. 45 No. 5 (2018): Nutrisi Vol 45, No 4 (2018): Cedera Kepala Vol 45 No 4 (2018): Neurologi Vol 45, No 4 (2018): Cidera Kepala Vol. 45 No. 3 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 3 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 2 (2018): Urologi Vol. 45 No. 2 (2018): Urologi Vol 45, No 1 (2018): Dermatologi Vol 45 No 1 (2018): Dermatologi Vol 45, No 1 (2018): Suplemen Vol 44, No 12 (2017): Neurologi Vol 44, No 11 (2017): Kardiovaskuler Vol 44, No 10 (2017): Pediatrik Vol 44, No 9 (2017): Kardiologi Vol 44, No 8 (2017): Obstetri-Ginekologi Vol 44, No 7 (2017): THT Vol 44, No 6 (2017): Dermatologi Vol 44, No 5 (2017): Gastrointestinal Vol 44, No 4 (2017): Optalmologi Vol 44, No 3 (2017): Infeksi Vol 44, No 2 (2017): Neurologi Vol 44, No 1 (2017): Nutrisi Vol 43, No 12 (2016): Kardiovaskular Vol 43, No 11 (2016): Kesehatan Ibu - Anak Vol 43, No 10 (2016): Anti-aging Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler Vol 43, No 8 (2016): Infeksi Vol 43, No 7 (2016): Kulit Vol 43, No 6 (2016): Metabolik Vol 43, No 5 (2016): Infeksi Vol 43, No 4 (2016): Adiksi Vol 43, No 3 (2016): Kardiologi Vol 43, No 2 (2016): Diabetes Mellitus Vol 43, No 1 (2016): Neurologi Vol 42, No 12 (2015): Dermatologi Vol 42, No 11 (2015): Kanker Vol 42, No 10 (2015): Neurologi Vol 42, No 9 (2015): Pediatri Vol 42, No 8 (2015): Nutrisi Vol 42, No 7 (2015): Stem Cell Vol 42, No 6 (2015): Malaria Vol 42, No 5 (2015): Kardiologi Vol 42, No 4 (2015): Alergi Vol 42, No 3 (2015): Nyeri Vol 42, No 2 (2015): Bedah Vol 42, No 1 (2015): Neurologi Vol 41, No 12 (2014): Endokrin Vol 41, No 11 (2014): Infeksi Vol 41, No 10 (2014): Hematologi Vol 41, No 9 (2014): Diabetes Mellitus Vol 41, No 8 (2014): Pediatrik Vol 41, No 7 (2014): Kardiologi Vol 41, No 6 (2014): Bedah Vol 41, No 5 (2014): Muskuloskeletal Vol 41, No 4 (2014): Dermatologi Vol 41, No 3 (2014): Farmakologi Vol 41, No 2 (2014): Neurologi Vol 41, No 1 (2014): Neurologi More Issue