cover
Contact Name
Ahmad Rustam
Contact Email
ahmad.rustam1988@gmail.com
Phone
+6285399507330
Journal Mail Official
ahmad.rustam1988@gmail.com
Editorial Address
http://jurnal.ardenjaya.com/index.php/ajsh/1
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora
Published by Arden Jaya Publisher
ISSN : 28081447     EISSN : 28081307     DOI : 10.57250
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora (AJSH) menerbitkan karya hasil penelitian dan kajian ilmiah pada ruang lingkup ilmu sosial dan ilmu humaniora diantaranya: antropologi, kajian bisnis, kajian komunikasi, tata kelola perusahaan, kriminologi, kajian lintas budaya, demografi, kajian ekonomi pembangunan, studi pendidikan dan etika, geografi sosial, studi manajemen teknologi informasi, hubungan industrial, hubungan internasional, studi hukum, studi media, ilmu politik, studi dinamika kependudukan, studi psikologi, studi administrasi publik, sosial kesejahteraan, studi agama dan linguistik. Nama terbitan berkala : Arus Jurnal Sosial dan Humaniora (AJSH) Bulan dan tahun pertama kali terbit : Agustus (2021) Edisi berlaku ISSN yang di ajukan : Vol. 1, No. 2, Aguatus (2021) Frekuensi terbitan : 3 Kali dalam Setahun Bahasa untuk artikel yang diterbitkan : Indonesia dan Inggris Media terbitan (cetak/elektronik) : Cetak dan Elektronik Alamat url terbitan : http://jurnal.ardenjaya.com/index.php/Ajsh
Articles 1,268 Documents
Pendidikan Inklusif di Sekolah Reguler: Meta-Sintesis Kualitatif Tentang Hambatan, Dukungan, dan Pengalaman Belajar Waode Nurmuhaemin
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i3.3415

Abstract

Pendidikan inklusif menempatkan setiap peserta didik sebagai individu yang berhak memperoleh akses, partisipasi, dan dukungan belajar yang bermakna. Namun, penerimaan siswa berkebutuhan pendidikan khusus di sekolah reguler belum selalu diikuti perubahan sistem pembelajaran dan penyediaan dukungan yang memadai. Artikel ini bertujuan menyintesis temuan penelitian mengenai hambatan implementasi pendidikan inklusif, kesiapan guru, dukungan kelembagaan, serta pengalaman peserta didik. Penelitian menggunakan meta-sintesis kualitatif dengan pendekatan sintesis tematik terhadap sepuluh artikel jurnal terpilih yang membahas konteks Indonesia dan kajian internasional. Temuan dikelompokkan ke dalam tema kesiapan dan pengembangan kompetensi guru, keterbatasan sumber daya dan tenaga pendukung, adaptasi kurikulum dan pembelajaran, budaya sekolah serta sikap sosial, kolaborasi keluarga-profesional, dan suara peserta didik. Sintesis menunjukkan bahwa pendidikan inklusif tidak dapat bergantung pada komitmen individual guru saja. Pelaksanaannya memerlukan kepemimpinan sekolah, pelatihan berkelanjutan, aksesibilitas lingkungan, dukungan tenaga ahli, serta mekanisme kolaborasi yang jelas. Pengalaman siswa juga perlu menjadi sumber utama evaluasi, karena keberadaan di kelas reguler belum tentu menjamin rasa memiliki, partisipasi, atau dukungan yang sesuai. Artikel ini menyimpulkan bahwa inklusi perlu dipahami sebagai transformasi sistem sekolah untuk mengurangi hambatan belajar dan partisipasi, bukan sekadar penempatan peserta didik dalam ruang kelas yang sama.
Pertanggungjawaban Pidana terhadap Penggunaan Kode QR Palsu dalam Transaksi Elektronik di Indonesia Niken Yulian Yusuf; Virya Suprayogi Yusuf
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 6 No 2: Agustus (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v6i2.3419

Abstract

Penggunaan Quick Response Code (QR Code) dalam transaksi elektronik, khususnya melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), memberikan kemudahan, kecepatan, dan efisiensi bagi pelaku usaha maupun konsumen. Namun, perkembangan tersebut juga memunculkan modus kejahatan siber berupa penggunaan kode QR palsu. Modus tersebut antara lain dilakukan melalui penggantian kode QR asli milik merchant dengan kode QR pelaku, penyebaran aplikasi dompet digital palsu, phishing, dan penggunaan rekening atau akun pembayaran dengan identitas fiktif. Penelitian ini bertujuan menganalisis pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku penggunaan kode QR palsu dalam transaksi elektronik di Indonesia. Penelitian menggunakan metode hukum empiris dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus. Data diperoleh melalui studi kepustakaan dan hasil wawancara dengan aparat kepolisian pada Polres Kendari, kemudian dianalisis secara deskriptif-kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaku dapat dimintai pertanggungjawaban pidana apabila terbukti melakukan perbuatan melawan hukum, mempunyai kemampuan bertanggung jawab, melakukan perbuatan dengan kesengajaan, serta tidak memiliki alasan penghapus pidana. Penggunaan QR Code palsu pada dasarnya dapat memenuhi unsur penipuan dan/atau manipulasi informasi atau dokumen elektronik. Bentuk pertanggungjawaban dapat berupa pidana penjara, pidana denda, serta pemulihan kerugian korban melalui restitusi sesuai ketentuan yang berlaku. Pembuktian perkara membutuhkan keterpaduan alat bukti konvensional dan bukti elektronik, seperti keterangan korban dan saksi, riwayat transaksi, identitas rekening penerima, rekaman kamera pengawas, serta pemeriksaan digital forensik. Hambatan utama penegakan hukum meliputi penggunaan identitas palsu, rekening penampung, lintas wilayah, cepatnya pemindahan dana, dan rendahnya kesadaran korban untuk segera melapor. Oleh karena itu, pertanggungjawaban pidana perlu didukung oleh penguatan kapasitas digital forensik, koordinasi antara aparat penegak hukum dan penyelenggara sistem pembayaran, serta edukasi publik mengenai verifikasi penerima transaksi.
Pengaturan Hukum terhadap Penipuan Kode QR Palsu dalam Transaksi Elektronik di Indonesia Niken Yulian Yusuf
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 6 No 2: Agustus (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v6i2.3421

Abstract

Transformasi sistem pembayaran digital telah meningkatkan penggunaan kode Quick Response (QR) sebagai instrumen pembayaran yang praktis, termasuk melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Bersamaan dengan manfaat tersebut, penggunaan kode QR membuka ruang bagi penipuan melalui penggantian kode QR milik pedagang, pembuatan kode QR palsu, pengalihan dana ke rekening pelaku, maupun pengiriman kode QR yang mengarahkan pengguna pada tautan berbahaya. Artikel ini bertujuan menganalisis pengaturan hukum terhadap penipuan kode QR palsu dalam transaksi elektronik di Indonesia serta menilai kecukupan konstruksi hukumnya. Penelitian menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Bahan hukum primer meliputi Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Undang-Undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, regulasi sistem pembayaran Bank Indonesia, dan ketentuan perlindungan konsumen. Analisis dilakukan secara preskriptif-kualitatif melalui identifikasi unsur perbuatan, kepentingan hukum yang dilindungi, dan relasi antarregulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki delik yang secara eksplisit diberi nomenklatur “penipuan kode QR palsu”. Namun, perbuatan tersebut dapat dijangkau secara kumulatif atau alternatif melalui ketentuan penipuan dalam KUHP, larangan manipulasi atau penciptaan informasi dan/atau dokumen elektronik yang seolah-olah otentik dalam UU ITE, serta pengaturan keamanan dan manajemen risiko dalam sistem pembayaran. Fragmentasi pengaturan menimbulkan kebutuhan harmonisasi norma, pedoman kualifikasi modus, penguatan mekanisme pengamanan QRIS, dan peningkatan literasi keamanan digital bagi pengguna serta pedagang.
Analisis Kepuasan Tenant Terhadap Sistem Penanganan Keluhan Oleh Building Management Menggunakan Customer Satisfaction Index Pada Gedung Gold Coast Office Syahdani; Irwin Ananta Vidada; Rina Lestari
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 6 No 2: Agustus (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v6i2.3423

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengukur tingkat kepuasan tenant terhadap sistem penanganan keluhan yang diterapkan Building Management Gold Coast Office serta mengidentifikasi atribut pelayanan yang masih memerlukan perbaikan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan desain evaluatif noninferensial. Data primer diperoleh melalui kuesioner kepada 123 tenant yang dipilih menggunakan purposive sampling. Instrumen terdiri atas 22 butir pernyataan yang mengukur tingkat kepentingan dan kinerja 11 atribut pelayanan berdasarkan lima dimensi SERVQUAL, yaitu tangibles, reliability, responsiveness, assurance, dan empathy. Data dianalisis menggunakan Customer Satisfaction Index (CSI) melalui perhitungan Mean Importance Score, Mean Satisfaction Score, Weight Factor, dan Weight Score. Hasil penelitian menunjukkan total Mean Importance Score sebesar 44,43 dan Mean Satisfaction Score sebesar 42,41. Total Weight Score mencapai 385,66 sehingga diperoleh nilai CSI sebesar 77,13% dan termasuk kategori puas. Atribut dengan gap terbesar adalah ketepatan waktu penyelesaian keluhan sebesar 0,25, sedangkan gap terendah terdapat pada kompetensi petugas sebesar 0,09. Kemudahan komunikasi dan sikap ramah petugas memperoleh kinerja tertinggi dengan nilai MSS masing-masing 4,00. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Building Management perlu mempertahankan kualitas komunikasi dan keramahan petugas serta meningkatkan konsistensi waktu penyelesaian keluhan melalui penerapan SLA dan monitoring complaint handling.
Pengaruh Budaya Organisasi, Motivasi Kerja dan Komitmen Organisasi terhadap Kinerja Karyawan pada Gedung Gold Coast Office Ilhamudin
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 6 No 2: Agustus (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v6i2.3425

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh budaya organisasi, motivasi kerja, dan komitmen organisasi terhadap kinerja karyawan pada Gedung Gold Coast Office. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada pentingnya peran sumber daya manusia dalam mencapai tujuan organisasi, dimana kinerja karyawan sangat dipengaruhi oleh faktor internal organisasi seperti budaya, motivasi, serta komitmen yang terbangun. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian asosiatif. Data diperoleh melalui penyebaran kuesioner kepada sejumlah responden yang merupakan karyawan Gedung Gold Coast Office. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda untuk menguji pengaruh simultan maupun parsial dari variabel bebas terhadap variabel terikat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya organisasi, motivasi kerja, dan komitmen organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan, baik secara parsial maupun simultan. Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin kuat budaya organisasi yang diterapkan, semakin tinggi motivasi kerja, serta semakin besar komitmen organisasi yang dimiliki karyawan, maka kinerja karyawan akan semakin meningkat. Implikasi dari penelitian ini adalah perlunya manajemen Gedung Gold Coast Office memperkuat nilai-nilai budaya organisasi, meningkatkan strategi motivasi, serta membangun komitmen yang berkelanjutan agar kinerja karyawan dapat terus optimal.
Determinants of the Quality of Women's Development on Women's Welfare in West Kalimantan Fauziah; Firman; Nurul Rahmawati
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 6 No 2: Agustus (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v6i2.3429

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kualitas pembangunan perempuan terhadap kesejahteraan perempuan di Kalimantan Barat. Menggunakan panel data tahun 2019–2024 dari 14 kabupaten/kota di Kalimantan Barat yang bersumber dari BPS. Menggunakan variabel Indeks Pembangunan Gender (IPG), Indeks Ketimpangan Gender (IKP), Kontribusi Pendapatan Perempuan (%), Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Perempuan (%), dan Tingkat Ketergantungan Perempuan (%) dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Perempuan (%). Data diolah menggunakan perangkat lunak statistik E-views dengan metode GLS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa IPG berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemiskinan di Kalimantan Barat; IKP dan TPAK berpengaruh negatif namun signifikan terhadap kemiskinan di Kalimantan Barat; kontribusi pendapatan perempuan berpengaruh negatif namun tidak signifikan terhadap kemiskinan di Kalimantan Barat; rasio ketergantungan perempuan berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap kemiskinan; serta secara bersama-sama, IPG, IKP, kontribusi pendapatan perempuan, TPAK, dan tingkat ketergantungan perempuan tidak berpengaruh signifikan terhadap kemiskinan di Kalimantan Barat.
Describing The Language Used and Multilingual Texts on Tourist Signboards in Sambangan Village, North Bali Ni Kadek Puspita Sugiantari; Made Dharma Susena Suyasa; Putu Ayu Prabawati Sudana
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 6 No 2: Agustus (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v6i2.3440

Abstract

Dunia pariwisata, khususnya di Bali, berkembang pesat baik di kota maupun desa. Berkaitan dengan hal itu, wisatawan yang datang, terutama wisatawan mancanegara di Desa Wisata Sambangan, membutuhkan arahan informatif, direksional, maupun regulatif. Kebutuhan tersebut memunculkan signboards untuk mendukung kegiatan wisata mereka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang mengkaji what languages are used, language function, dan multilingual text type dalam signboards tersebut menggunakan kerangka Landry and Bourhis serta teori Jakobson dan Reh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa Inggris adalah bahasa dominan yang digunakan pada signboards di Desa Wisata Sambangan agar dapat menjangkau wisatawan secara luas, dengan fungsi yang dominan yaitu referensial karena signboards di desa wisata umumnya memberikan informasi yang jelas mengenai fasilitas yang ditawarkan. Sementara itu, tipe teks multilingual yang paling sering digunakan yaitu complementary untuk menyampaikan komunikasi yang saling melengkapi dari dua bahasa yang berbeda sehingga memberikan informasi yang utuh. Berdasarkan hasil tersebut, penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat terutama bagi pihak yang terlibat dalam pariwisata dalam menciptakan signboards yang lebih baik.
How Do Generation Z EFL Learners Perceive English As a Marker of Identity and Social Status? A Critical Language Awareness Perspective Munawaroh
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 6 No 2: Agustus (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v6i2.3444

Abstract

English is no longer viewed solely as a medium of global communication but also as a social resource that shapes identity, social status, and power relations. In the digital era, Generation Z interacts extensively with English through formal education, social media, and various global platforms, allowing the language to acquire meanings beyond its communicative function. This study aims to explore how Generation Z English as a Foreign Language (EFL) learners interpret English as a symbol of social status, a marker of identity, and a factor related to power and social inequality. A qualitative approach with a case study design was employed. The participants were students of the English Language Education Study Program at the Muhammad Azim Islamic Institute in Jambi, selected through purposive sampling. Data were collected through open-ended questionnaires and semi-structured interviews and analyzed using thematic analysis informed by the perspective of Critical Language Awareness (CLA). The findings indicate that participants perceive English as a form of symbolic capital associated with intelligence, educational achievement, professionalism, and opportunities for upward social mobility. English is also understood as an important marker of identity, reflecting learners’ experiences, aspirations, and sense of belonging to global and digital communities. In addition, participants demonstrated critical awareness of the social implications of English language proficiency, recognizing that unequal access to education, learning resources, and technological facilities can contribute to social inequality. The study concludes that English functions not only as a linguistic system but also as a social practice closely connected to identity construction, prestige, and power relations. Therefore, English language education should promote critical awareness, inclusivity, and equitable access to learning opportunities so that English can serve as a means of empowerment rather than social exclusion.