cover
Contact Name
Ahmad Rustam
Contact Email
ahmad.rustam1988@gmail.com
Phone
+6285399507330
Journal Mail Official
ahmad.rustam1988@gmail.com
Editorial Address
http://jurnal.ardenjaya.com/index.php/ajsh/1
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora
Published by Arden Jaya Publisher
ISSN : 28081447     EISSN : 28081307     DOI : 10.57250
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora (AJSH) menerbitkan karya hasil penelitian dan kajian ilmiah pada ruang lingkup ilmu sosial dan ilmu humaniora diantaranya: antropologi, kajian bisnis, kajian komunikasi, tata kelola perusahaan, kriminologi, kajian lintas budaya, demografi, kajian ekonomi pembangunan, studi pendidikan dan etika, geografi sosial, studi manajemen teknologi informasi, hubungan industrial, hubungan internasional, studi hukum, studi media, ilmu politik, studi dinamika kependudukan, studi psikologi, studi administrasi publik, sosial kesejahteraan, studi agama dan linguistik. Nama terbitan berkala : Arus Jurnal Sosial dan Humaniora (AJSH) Bulan dan tahun pertama kali terbit : Agustus (2021) Edisi berlaku ISSN yang di ajukan : Vol. 1, No. 2, Aguatus (2021) Frekuensi terbitan : 3 Kali dalam Setahun Bahasa untuk artikel yang diterbitkan : Indonesia dan Inggris Media terbitan (cetak/elektronik) : Cetak dan Elektronik Alamat url terbitan : http://jurnal.ardenjaya.com/index.php/Ajsh
Articles 1,253 Documents
Hegemoni Kekuasaan Adat Dalam Akses Kepemimpinan Desa di Kedepatian Semerap Alif Ferianda; Muliono; Zakly Hanafi Ahmad
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 6 No 2: Agustus (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v6i2.3290

Abstract

Kekuasaan adat masih memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat di Kedepatian Semerap, termasuk dalam menentukan kepemimpinan desa. Peran tersebut terlihat dari keterlibatan tokoh adat dalam proses pencalonan kepala desa serta adanya ketentuan yang berkaitan dengan kedudukan seseorang dalam struktur adat. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana kekuasaan adat memengaruhi kesempatan masyarakat untuk mengakses kepemimpinan desa di Kedepatian Semerap. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara kualitatif dengan menggunakan teori hegemoni Antonio Gramsci. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur adat memiliki posisi penting dalam menentukan akses terhadap pencalonan kepala desa. Pengaruh tersebut tidak hanya berjalan melalui aturan adat, tetapi juga melalui penerimaan masyarakat terhadap kedudukan tokoh adat dan aturan yang berlaku. Penerimaan tersebut dapat dipahami melalui konsep consent dan common sense dalam pemikiran Gramsci. Pada saat yang sama, muncul kritik dari sebagian masyarakat dan upaya warga di luar struktur adat untuk mengikuti pencalonan kepala desa. Meskipun kritik tersebut belum mengubah pola pencalonan yang berlaku, keberadaannya menunjukkan bahwa pembatasan akses terhadap kepemimpinan desa mulai dipertanyakan oleh sebagian masyarakat. Kekuasaan adat tetap memiliki pengaruh kuat dalam menentukan akses terhadap kepemimpinan desa karena didukung oleh aturan adat dan penerimaan masyarakat terhadap kedudukan tokoh adat.
Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce : Representasi Makna Kesedihan Pada Lirik Dan Bait Lagu “Gala Bunga Matahari” Karya Sal Priadi Anandita Rahmadania; Meiyanti Nurchaerani; Arie Nugraha; Endang Roh Suciati
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 6 No 2: Agustus (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v6i2.3291

Abstract

Penelitian ini mengkaji representasi makna kesedihan dalam lirik dan Bait lagu “Gala Bunga Matahari” karya Sal Priadi dengan pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dalam paradigma konstruktivis. Data diperoleh melalui observasi berulang terhadap lirik dan dokumentasi, sedangkan unit analisis berupa kata, frasa, kalimat, dan bait yang memuat ekspresi simbolik serta emosional. Analisis menggunakan hubungan triadik representamen, objek, dan interpretant serta klasifikasi tanda berupa ikon, indeks, dan simbol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesedihan dibangun melalui tanda kehilangan, kerinduan, rasa sakit, tangisan, kenangan, penerimaan, dan harapan untuk bertemu kembali. Indeks menonjol pada ungkapan yang memiliki hubungan sebab-akibat atau eksistensial dengan duka, sedangkan simbol dominan pada ungkapan yang berkaitan dengan keyakinan spiritual dan keberlanjutan ikatan emosional. Bunga matahari menjadi simbol utama yang merepresentasikan harapan, keteguhan kasih sayang, dan kehadiran orang tercinta dalam ingatan. Secara keseluruhan, lirik merepresentasikan duka sebagai perjalanan emosional dari ketidakpastian dan kerinduan menuju penerimaan, sukacita, dan harapan spiritual.
Peran Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana dalam Pengelolaan Akun Instagram Program Kilas Sepekan: Studi Kasus Rendahnya Keterlibatan Publik Mariatul Qibthia
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 6 No 2: Agustus (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v6i2.3292

Abstract

Program Kilas Sepekan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merupakan produk komunikasi publik berkala yang dipublikasikan melalui Instagram untuk merangkum kejadian bencana, penanganan, mitigasi, dan aktivitas kelembagaan. Meskipun informasi yang disampaikan dinilai bermanfaat dan kredibel, keterlibatan publik pada Kilas Sepekan relatif lebih rendah dibandingkan beberapa konten BNPB lainnya. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran Humas BNPB dalam pengelolaan Kilas Sepekan serta menjelaskan faktor komunikasi yang berkaitan dengan rendahnya engagement publik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan paradigma konstruktivis. Data diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dengan tiga informan internal BNPB dan dua pengikut Instagram, observasi konten, serta dokumentasi. Keabsahan data diperkuat melalui triangulasi sumber dan teknik, sedangkan analisis dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Analisis menggunakan proses manajemen Public Relations Cutlip, Center, dan Broom yang diperkuat perspektif government public relations, komunikasi dialogis, dan media richness. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Humas BNPB memiliki alur kerja terstruktur yang meliputi pengumpulan dan verifikasi informasi, perencanaan konten, produksi, publikasi, monitoring, dan evaluasi. Namun, keberhasilan informatif belum otomatis menghasilkan keterlibatan aktif. Hambatan utama meliputi pola komunikasi yang dominan satu arah, visual yang formal, durasi video relatif panjang, pemanfaatan fitur interaktif yang belum optimal, serta kecenderungan menempatkan Instagram sebagai kanal highlight menuju platform lain. Salience isu turut mempengaruhi engagement, tetapi bukan satu-satunya penyebab. Humas BNPB perlu menjadikan respons audiens sebagai dasar perencanaan dan evaluasi serta memperkuat desain konten yang dialogis dan sesuai dengan karakter Instagram.
Analisis Personal Branding Paul Jason Klein dalam Membangun Engagement Penggemar Menggunakan Fitur Video dan Komentar di Sosial Media Tiktok Farhan Syahrul Ramadhan; Lianda Rahmadany Sinaga; Meiyanti Nurchaerani; Amar Nugraha
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 6 No 2: Agustus (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v6i2.3293

Abstract

Media sosial telah mengubah cara figur publik membangun hubungan dengan audiensnya. Di antara berbagai platform digital, TikTok menjadi salah satu media yang paling efektif bagi musisi untuk menampilkan identitas diri, berkomunikasi secara langsung dengan penggemar, serta memperkuat keterlibatan audiens. Paul Jason Klein sebagai vokalis utama band LANY secara aktif memanfaatkan TikTok untuk membagikan proses kreatif, pengalaman pribadi, dan aktivitas kesehariannya sehingga penggemar dapat mengenalnya tidak hanya melalui karya musik, tetapi juga melalui karakter personal yang ditampilkan. Penelitian ini bertujuan menganalisis personal branding Paul Jason Klein di TikTok serta menjelaskan bagaimana personal branding tersebut meningkatkan engagement penggemar. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik analisis tematik. Data diperoleh melalui observasi digital terhadap akun TikTok Paul Jason Klein, wawancara mendalam dengan satu key informan dan lima informan pendukung yang merupakan penggemar LANY, serta dokumentasi. Keabsahan data dilakukan melalui triangulasi sumber, sedangkan analisis data dilakukan melalui proses pengorganisasian data, pengkodean, identifikasi tema, penelaahan tema, pendefinisian tema, hingga interpretasi hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa personal branding Paul Jason Klein dibangun melalui tiga dimensi utama, yaitu keunikan (uniqueness), autentisitas (authenticity), dan konsistensi (consistency). Keunikan terlihat melalui karakter komunikasi dan identitas artistiknya sebagai musisi. Autentisitas ditunjukkan melalui konten yang menampilkan emosi, pengalaman pribadi, serta proses kreatif secara terbuka. Konsistensi diwujudkan melalui penyampaian nilai, identitas visual, dan pola komunikasi yang berkelanjutan. Ketiga dimensi tersebut mendorong terbentuknya engagement emosional, kognitif, dan perilaku penggemar yang tercermin melalui interaksi pada TikTok, partisipasi dalam pembuatan konten, penggunaan lagu LANY, kehadiran pada konser, serta loyalitas terhadap karya Paul Jason Klein. Penelitian ini menunjukkan bahwa personal branding pada media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana membangun citra diri, tetapi juga sebagai strategi komunikasi yang mampu memperkuat hubungan jangka panjang antara musisi dan penggemarnya.
Penegakan Hukum terhadap Pelanggaran Prinsip Netralitas Aparatur Sipil Negara dalam Pelaksanaan Kontestasi Politik pada Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Konawe Selatan Tahun 2024 Farhan Putra Rahman; Winner Siregar; Wa Ode Intan Kurniawati
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 6 No 2: Agustus (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v6i2.3295

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penegakan hukum terhadap pelanggaran prinsip netralitas Aparatur Sipil Negara dalam pelaksanaan kontestasi politik pada Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Konawe Selatan Tahun 2024 serta menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi penegakan hukum tersebut. Penelitian menggunakan tipe penelitian hukum empiris dengan pendekatan yuridis empiris. Pendekatan yang digunakan mencakup pendekatan perundang-undangan, konseptual, sosiologis, dan kasus. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan Hasni, S.Pi., M.H. pada bidang Hukum, Pencegahan dan Partisipasi Masyarakat Bawaslu Kabupaten Konawe Selatan, Siambu, S.Pd., C.Med. selaku Ketua Bawaslu Kabupaten Konawe Selatan, serta Bahrun Musu, S.H. pada bidang penanganan pelanggaran. Data sekunder diperoleh dari peraturan perundang-undangan, literatur, dokumen penelitian, dan Laporan Akhir Pengawasan Tahapan Pemilihan Tahun 2024. Analisis dilakukan secara yuridis kualitatif dengan menghubungkan fakta empiris dengan ketentuan hukum yang berlaku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penegakan hukum terhadap dugaan pelanggaran netralitas ASN dilakukan melalui rangkaian pencegahan, pengawasan aktif, penerimaan temuan dan laporan, pemeriksaan persyaratan, klarifikasi, pengumpulan fakta dan alat bukti, kajian hukum, pembahasan, penentuan bentuk tindak lanjut, penerusan hasil kepada instansi yang berwenang, dan koordinasi antarlembaga. Penegakan hukum tidak hanya bersifat represif, melainkan juga preventif melalui sosialisasi, imbauan, koordinasi, pengawasan tahapan, dan penguatan pengawasan partisipatif. Faktor yang memengaruhi penegakan hukum terdiri atas faktor hukum, penegak hukum, sarana atau fasilitas, masyarakat, dan kebudayaan atau budaya hukum. Kelima faktor tersebut saling berkaitan. Penguatan penegakan hukum karena itu perlu dilakukan secara terpadu melalui peningkatan konsistensi penerapan norma, koordinasi kelembagaan, kapasitas pengawasan dan pembuktian, dukungan administrasi serta teknologi, pemahaman masyarakat terhadap mekanisme pelaporan, dan pembinaan profesionalitas ASN secara berkelanjutan.
Pengaruh Personal Branding dan Partisipasi Charity Windah Basudara terhadap Kepercayaan Penggemar Friska Fricillia Samudra; Ratna Sari Dewi Wattimena; Euis Heryati; Erman Anom
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 6 No 2: Agustus (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v6i2.3296

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh personal branding dan partisipasi charity Windah Basudara terhadap kepercayaan penggemar. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan survei eksplanatif terhadap 100 responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Model regresi telah memenuhi uji asumsi klasik dan layak digunakan untuk analisis. Hasil deskriptif menunjukkan bahwa personal branding, partisipasi charity, dan kepercayaan penggemar berada dalam kategori sangat baik dengan TCR masing-masing sebesar 88,84%, 84,77%, dan 88,48%. Indikator tertinggi pada personal branding adalah ciri khas (91,2%), partisipasi charity adalah keterbukaan informasi (88,0%), dan kepercayaan penggemar adalah reputasi (90,6%). Sementara itu, konsistensi konten gaming dan keterlibatan audiens dalam kegiatan charity menjadi aspek yang masih perlu diperhatikan. Hasil uji t menunjukkan bahwa personal branding (X1) dan partisipasi charity (X2) berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepercayaan penggemar (Y), dengan nilai t hitung masing-masing sebesar 7,308 dan 3,944 serta signifikansi 0,000 < 0,05. Hasil uji F menunjukkan kedua variabel secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap kepercayaan penggemar, dengan R² sebesar 0,711 atau 71,1%. Temuan ini memperkuat Theory of Reasoned Action dan Source Credibility Theory, dengan personal branding sebagai fondasi dan partisipasi charity sebagai penguat kepercayaan penggemar.
Representasi Gangguan Mental Pseudobulbar Affect Karakter Arthur Fleck di Film Joker (2019) pada Unsur Sinematografi (Analisis Semiotika Roland Barthes) Dimas Nur Riffa’i; Yumelda Sari
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 6 No 2: Agustus (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v6i2.3303

Abstract

Film sebagai produk media komunikasi massa memiliki kekuatan besar untuk merepresentasikan isu sosial secara mendalam, termasuk memengaruhi pandangan publik terhadap fenomena gangguan mental. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis representasi gangguan mental karakter Arthur Fleck yang digambarkan secara eksklusif melalui operasionalisasi unsur sinematografi visual dalam film fiksi Joker (2019). Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan metode analisis Semiotika Roland Barthes melalui tiga tahapan signifikasi: denotasi, konotasi, dan mitos. Unit analisis difokuskan pada sekuens adegan yang secara eksplisit memperlihatkan momen serangan gangguan saraf Pseudobulbar Affect (PBA). Analisis data ditekankan pada pembedahan bahasa kamera, seperti ukuran gambar, sudut pandang, tata cahaya, dan komposisi warna, dalam merepresentasikan paradoks emosi tawa, tangis, sedih, dan bahagia. Hasil penelitian membuktikan bahwa instrumen sinematik beroperasi secara otonom sebagai sistem tanda untuk mengonstruksi evolusi mental karakter, dari isolasi dan penderitaan mendalam hingga lahirnya identitas anarki. Secara tingkat mitos, penelitian ini membongkar ideologi bahwa penolakan masyarakat dan kegagalan institusi sosial secara sistematis memproduksi kekerasan akibat ketiadaan ruang empati bagi penyandang disabilitas mental.
Representasi Eskapisme Dan Kritik Sutradara Hideaki anno Terhadap Fandom Evangelion (Analisis Semiotika Film Neon Genesis Evangelion: The End Of Evangelion) Muhammad Zidane Amarullah; Indriati Yulistiani
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 6 No 2: Agustus (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v6i2.3304

Abstract

Penelitian ini mengkaji film Neon Genesis Evangelion: The End of Evangelion karya Hideaki Anno sebagai representasi eskapisme dan kritik terhadap tekanan fandom pascakontroversi episode akhir serial televisinya. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan analisis Semiotika Roland Barthes pada tataran denotasi, konotasi, dan mitos, penelitian ini membedah lima unit analisis semiotik yang terdiri atas empat sekuens utama dan satu unit relasional antarscene. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interupsi teks, coretan krayon, montase live-action, visual audiens, dokumen ancaman, serta hubungan antara pertanyaan “Apa Terasa Nyaman?” dan dialog penutup “Menjijikkan” membentuk pola konfrontasi yang mengganggu kenyamanan sinematik dan mempertemukan dunia fiksi dengan realitas audiens. Pada tataran mitos, rangkaian tanda tersebut menggugat gagasan bahwa fiksi merupakan ruang pelarian yang absolut serta mengkritik anggapan bahwa penggemar memiliki hak untuk mendikte arah kreatif karya. Teori Auteur digunakan sebagai lensa kontekstual untuk membaca posisi kreatif sutradara, sedangkan kesimpulan mengenai makna tetap diturunkan dari tanda-tanda yang dianalisis dan triangulasi sumber.
Analisis Hukum Penegakan Hak Berdaulat Indonesia terhadap Praktik Illegal Fishing Kapal Vietnam di Laut Natuna Utara Adimas Rahadian Kautsar; Athina Kartika Sari; Horadin Saragih
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 6 No 2: Agustus (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v6i2.3305

Abstract

Praktik Illegal Fishing oleh kapal ikan Vietnam di Laut Natuna Utara masih menjadi tantangan bagi Indonesia dalam menegakkan hak berdaulat atas pemanfaatan sumber daya perikanan di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Meskipun Indonesia dan Vietnam telah menandatangani Persetujuan Penetapan Batas ZEE pada 2022, proses pengesahannya pada periode penelitian belum selesai sehingga menimbulkan ketidakpastian hukum dalam penindakan terhadap pelanggaran perikanan. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan mengkaji peraturan perundang-undangan, perjanjian internasional, dan bahan hukum yang berkaitan dengan hak berdaulat serta penegakan hukum di ZEE. Rumusan masalah dalam penelitian ini meliputi: 1. Bagaimanakah kerangka hukum internasional dan hukum nasional mendukung hak berdaulat Indonesia dalam melakukan penegakan hukum terhadap aktivitas penangkapan ikan ilegal di Laut Natuna Utara? 2. Apa kendala yuridis dan implementatif yang dihadapi Indonesia dalam menegakkan hak berdaulat terhadap praktik Illegal Fishing oleh kapal Vietnam di Laut Natuna Utara? Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa: 1. UNCLOS 1982, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1983, serta Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 telah memberikan dasar hukum bagi Indonesia untuk melaksanakan hak berdaulat dan menegakkan hukum di ZEE. Namun, masih diperlukan sinkronisasi antara hukum nasional dan ketentuan yurisdiksi ZEE dalam hukum internasional. 2. Penegakan hukum masih terkendala oleh belum tuntasnya pengesahan Persetujuan ZEE Indonesia-Vietnam 2022, strategi gray zone, keterbatasan armada pengawasan, dan tumpang tindih kewenangan antarinstansi. Oleh karena itu, percepatan pengesahan dan penguatan koordinasi antarlembaga perlu menjadi prioritas.
Strategi Personal Branding Virtual Youtuber Mikazuki Arion dalam Membangun Citra Positif di Media Sosial Youtube Kirana Ariesandra Milania Subiyantoro; Nurmala
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 6 No 2: Agustus (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v6i2.3307

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi personal branding Virtual YouTuber (VTuber) Indonesia, Mikazuki Arion, dalam membangun citra positif di media sosial YouTube. Penelitian menggunakan paradigma postpositivisme dengan pendekatan kualitatif dan desain studi kasus tunggal berunit terbenam (embedded single-case study) yang merujuk pada Yin (2018). Kasus dibatasi pada praktik personal branding Mikazuki Arion sejak debut 2023 hingga periode pengumpulan data 2026. Sumber bukti mencakup lima video siaran langsung YouTube yang dipilih secara purposif, dokumentasi digital, serta wawancara semi-terstruktur dengan tiga moderator Mikazuki Arion, yaitu Cuji, Seven, dan Mine pada 22 Agustus 2026. Analisis dilakukan secara deduktif menggunakan delapan hukum personal branding Peter Montoya sebagai kategori yang ditetapkan di muka, kemudian dipadankan melalui pattern matching antar-sumber bukti. Keabsahan studi kasus diperkuat melalui validitas konstruk, validitas internal, validitas eksternal, dan reliabilitas sebagaimana dikemukakan Yin (2018), terutama dengan penggunaan multiple sources of evidence dan rantai bukti. Hasil penelitian menunjukkan pola yang kuat dan konsisten pada delapan hukum Montoya. Spesialisasi dan perbedaan dibangun melalui konsep Prime Minister, Primordial Demon, suara khas, lore, serta identitas visual; kepemimpinan terlihat dalam pengelolaan alur siaran, batas komunitas, dan respons terhadap kritik; kepribadian tampak melalui komunikasi spontan, hangat, humoris, dan natural; kenampakan dijaga melalui live streaming dan interaksi lintas platform; kesatuan dan keteguhan terlihat pada keberlanjutan identitas meskipun terjadi redebut dan pembaruan model; sedangkan goodwill dibangun melalui apresiasi, empati, ketegasan yang proporsional, dan kepedulian terhadap audiens. Wawancara moderator mengonfirmasi mayoritas pola yang teramati pada video sekaligus memperluas pemahaman tentang pengelolaan komunitas di luar momen siaran. Temuan ini pada dasarnya mengonfirmasi teori Montoya, tetapi memperluas pemaknaan personality dan unity pada konteks identitas berbasis avatar, karena konsistensi yang dapat diuji adalah konsistensi persona publik dan praktik komunikasinya, bukan identitas privat talent di balik avatar.