cover
Contact Name
Azharsyah Ibrahim
Contact Email
jurnal.share@ar-raniry.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.share@ar-raniry.ac.id
Editorial Address
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh, 2nd Floor Jln. Syech Abdur Rauf Banda Aceh 23111, Aceh, Indonesia Email: jurnal.share@ar-raniry.ac.id
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam
ISSN : 20896239     EISSN : 25490648     DOI : https://doi.org/10.22373/share
Core Subject : Religion, Economy,
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam [SHARE] is a double-blind peer-reviewed journal published by the Faculty of Islamic Economics and Business, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia. SHARE publishes research and concept papers pertaining to the field of Islamic economics and finance in open access format, which enables readers to freely access and download the articles under the CC BY SA license. Since 2017, SHARE has become a CrossRef Member, meaning that each article published by the journal will have a unique DOI number. SHARE has been indexed in many trusted indexing sites, such as DOAJ, Index Copernicus, Scilit, WorldCat, Google Scholar, Dimensions, EBSCO, and many others. In Indonesia, SHARE is listed among the top-notch journals by the Indonesian journal accreditation body officialized with the Decree of Director General of Research Strengthening and Advancement, Ministry of Research, Technology, and Higher Education, No. 21/E/KPT/2018, starting from 9 July 2018 until 9 July 2023. Currently, SHARE is under consideration for inclusion in SCOPUS.
Articles 17 Documents
Search results for , issue "Vol. 14 No. 2 (2025): IN PROGRESS" : 17 Documents clear
Localizing the SDGs: A Case Study of Collaborative Models between BUM Desa and Pesantren in Central Java Marimin, Agus; Ardiansyah, Misnen; Indra Jaya, Pajar Hatma
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol. 14 No. 2 (2025): IN PROGRESS
Publisher : Faculty of Islamic Economics and Business, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/share.31500

Abstract

Achieving the Sustainable Development Goals (SDGs) at the village level requires collaboration across institutions. However, such collaboration is often hindered by differing institutional orientations and interests. Village-Owned Enterprises (BUM Desa), which aim to strengthen the local economy, hold significant potential for strategic partnerships. Unfortunately, cooperation between BUM Desa and other institutions such as Islamic boarding schools (pesantren), remains limited. Pesantren, as socio-religious institutions, have strong community networks and considerable influence. This study explores a collaboration model between BUM Desa and the Modern Islamic Boarding School (PPMI) Assalam in Sukoharjo Regency. It aims to analyze how these institutions, despite their distinct orientations, work together to support SDG implementation. Using a qualitative case study approach, data were gathered through interviews with BUM Desa managers, pesantren leaders, village officials, and community figures, alongside observations and document analysis. Thematic analysis was conducted through data collection, condensation, presentation, and conclusion stages. Findings reveal nine joint initiatives: four in the economic sector, three in the social sector, and two in the environmental sector. The success of this collaboration is driven by five key factors: (1) initial conditions, (2) institutional design, (3) facilitative leadership, (4) collaborative dynamics such as trust, dialogue, and shared understanding, and (5) tangible outcomes aligned with SDG targets. This study integrates collaborative governance, social enterprise, stewardship, and sharia enterprise theories. Practically, it offers guidance for policymakers and local leaders to develop culturally grounded partnerships that connect economic innovation with social and spiritual legitimacy, accelerating SDG achievement at the village level. Abstrak Mewujudkan SDGs di Tingkat Lokal: Studi Kasus Model Kolaborasi antara BUM Desa dan Pesantren di Jawa Tengah. Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) di tingkat desa memerlukan kolaborasi antar-lembaga. Namun, kolaborasi ini sering terhambat oleh perbedaan orientasi dan kepentingan kelembagaan. Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa), yang bertujuan memperkuat ekonomi lokal, memiliki potensi besar untuk membangun kemitraan strategis. Sayangnya, kerja sama antara BUM Desa dan lembaga lain seperti pesantren, masih terbatas. Padahal, pesantren sebagai lembaga sosial-keagamaan memiliki jaringan kuat dan pengaruh besar di masyarakat. Penelitian ini mengkaji model kolaborasi antara BUM Desa dan Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalam di Kabupaten Sukoharjo. Tujuannya adalah menganalisis bagaimana kedua lembaga dengan orientasi berbeda dapat bekerja sama dalam mendukung implementasi SDGs. Pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus digunakan, dengan pengumpulan data melalui wawancara dengan pengelola BUM Desa, pimpinan pesantren, aparat desa, dan tokoh masyarakat, serta observasi dan analisis dokumen. Analisis tematik dilakukan melalui tahapan pengumpulan, kondensasi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan sembilan inisiatif bersama: empat di sektor ekonomi, tiga di sektor sosial, dan dua di sektor lingkungan. Keberhasilan kolaborasi ini didorong oleh lima faktor utama: (1) kondisi awal, (2) desain kelembagaan, (3) kepemimpinan fasilitatif, (4) dinamika kolaboratif seperti kepercayaan, dialog, dan pemahaman bersama, dan (5) hasil nyata yang selaras dengan target SDGs. Studi ini menggabungkan teori tata kelola kolaboratif, kewirausahaan sosial, stewardship, dan kewirausahaan syariah. Secara praktis, studi ini memberikan panduan bagi pembuat kebijakan dan pemimpin lokal untuk merancang kemitraan berbasis budaya yang menghubungkan inovasi ekonomi dengan legitimasi sosial dan spiritual dalam percepatan SDGs di tingkat desa.
Islamic Social Finance and MSME Performance: A Moderated-Mediation Analysis across Aceh and North Sumatera Firdaus, Rayyan; Soemitra, Andri; Marliyah, Marliyah
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol. 14 No. 2 (2025): IN PROGRESS
Publisher : Faculty of Islamic Economics and Business, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/share.31610

Abstract

Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) are vital to Indonesia’s economy but continue to face barriers in financing, mentorship, and managerial capacity. Islamic Social Finance (ISF), implemented through Micro Waqf Banks (BWM), offers an inclusive solution by integrating joint liability schemes, mentoring, and capital assistance. While prior research affirms the role of ISF in enhancing access to finance and entrepreneurial growth, comparative evidence across regions with differing socio-cultural contexts remains limited. This study examines the differential effects of mentoring, joint liability, and capital provision on micro-entrepreneurial success in Aceh and North Sumatera. Using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) and Multi-Group Analysis (MGA) on responses from 350 micro-entrepreneurs, the results reveal that joint liability consistently supports enterprise performance, mentoring is more effective in Aceh, and capital provision is most beneficial in less developed areas. The findings indicate that local culture and institutional strength moderate ISF outcomes. Therefore, ISF programs should integrate standardized financial instruments with context-sensitive non-financial interventions to maximize their empowerment potential. This study contributes to the ISF literature and offers practical insights for designing regionally adaptive MSME empowerment policies. Abstrak Keuangan Sosial Islam dan Kinerja UMKM: Analisis Moderasi–Mediasi di Aceh dan Sumatera Utara. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berperan penting dalam perekonomian Indonesia, namun masih menghadapi kendala akses pembiayaan, pendampingan, dan peningkatan kapasitas manajerial. Keuangan Sosial Islam (Islamic Social Finance/ISF) melalui Bank Wakaf Mikro (BWM) menjadi alternatif inklusif dengan menggabungkan skema tanggung renteng, pendampingan, dan bantuan modal. Meskipun ISF terbukti meningkatkan akses permodalan dan kinerja usaha, bukti komparatif lintas wilayah dengan karakter sosial berbeda masih terbatas. Studi ini meneliti pengaruh pendampingan, tanggung renteng, dan bantuan modal terhadap keberhasilan usaha mikro di Aceh dan Sumatera Utara menggunakan metode Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dan Multi-Group Analysis (MGA) terhadap 350 responden. Hasil menunjukkan bahwa tanggung renteng berpengaruh positif di kedua provinsi, pendampingan lebih efektif di Aceh, dan bantuan modal lebih bermanfaat di daerah dengan keterbatasan ekonomi. Temuan ini menegaskan bahwa budaya lokal dan kekuatan kelembagaan memoderasi hasil ISF. Oleh karena itu, program ISF perlu mengombinasikan instrumen keuangan baku dengan dukungan non-keuangan yang peka terhadap konteks lokal untuk meningkatkan efektivitas pemberdayaan. Studi ini memperkaya literatur ISF dan memberikan rekomendasi kebijakan bagi strategi pemberdayaan UMKM yang adaptif wilayah.
Accountability of Cash Waqf Institutions Post the Implementation of Accounting Standard 412 Hendra, Grandis Imama; Asnawi, Nur; Ekowati, Vivin Maharani
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol. 14 No. 2 (2025): IN PROGRESS
Publisher : Faculty of Islamic Economics and Business, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/share.29531

Abstract

Indonesia has one of the largest potentials for cash waqf collection in the world due to its majority Muslim population and growing Islamic social finance sector. However, this potential remains largely unrealized, partly due to weak financial transparency and inconsistent reporting practices among waqf institutions. This study aims to assess the level of accountability practices among waqf institutions in Indonesia following the issuance of the Accounting Standard for Waqf (PSAK 412). Data were collected from 432 waqf institutions registered with the Indonesian Waqf Board (BWI), of which only nine institutions had published their 2023 financial statements. Using a content analysis based on PSAK 412 and an accountability index adapted from the Internet Financial Reporting (IFR) model, this study evaluates the extent of compliance and disclosure practices. The findings reveal that most institutions have not yet implemented PSAK 412 adequately. Only three institutions, namely Baitul Maal PLN, Dompet Dhuafa, and Yayasan Wakaf Produktif Pengelola Aset Islami Indonesia (PPAII), demonstrated moderate compliance under PSAK 412, with Baitul Maal PLN achieving the highest overall accountability score and a very high IFR index category. These results emphasize the need for stronger government supervision, socialization, and capacity-building initiatives through BWI to improve waqf accountability and transparency. This study contributes to mapping the post-PSAK 412 accountability landscape and provides a foundation for strengthening governance in Indonesia’s waqf sector. Abstrak Akuntabilitas Lembaga Wakaf Tunai setelah Implementasi PSAK 412. Indonesia memiliki potensi terbesar di dunia dalam penghimpunan wakaf tunai karena mayoritas penduduknya beragama Islam dan sektor keuangan sosial Islam yang terus berkembang. Namun, potensi tersebut belum terealisasi secara optimal akibat lemahnya transparansi keuangan dan praktik pelaporan yang belum seragam di antara lembaga-lembaga wakaf. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat praktik akuntabilitas lembaga wakaf di Indonesia setelah diterbitkannya Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 412 tentang Akuntansi Wakaf. Data diperoleh dari 432 lembaga wakaf yang terdaftar di Badan Wakaf Indonesia (BWI), dengan hanya sembilan lembaga yang mempublikasikan laporan keuangan tahun 2023. Analisis dilakukan menggunakan analisis konten berdasarkan PSAK 412 dan indeks akuntabilitas yang diadaptasi dari model Internet Financial Reporting (IFR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar lembaga wakaf belum menerapkan PSAK 412 secara memadai. Hanya tiga lembaga, yaitu Baitul Maal PLN, Dompet Dhuafa, dan Yayasan Wakaf Produktif Pengelola Aset Islami Indonesia (PPAII), yang menunjukkan tingkat kepatuhan menengah, dengan Baitul Maal PLN memperoleh skor akuntabilitas tertinggi dan tergolong dalam kategori sangat tinggi pada indeks IFR. Temuan ini menegaskan pentingnya intervensi, sosialisasi, dan pengawasan pemerintah melalui BWI untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan wakaf. Penelitian ini berkontribusi dalam memetakan tingkat akuntabilitas pasca penerapan PSAK 412 serta memberikan dasar bagi penguatan tata kelola lembaga wakaf di Indonesia.
The Role of Zakat, Waqf, and Education in Reducing Urban Poverty: Evidence from Jakarta Lestari, Widya Indri; Busnety, Ida; Esya, Lavlimatria; Ratnawati, Nirdukita
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol. 14 No. 2 (2025): IN PROGRESS
Publisher : Faculty of Islamic Economics and Business, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/share.29625

Abstract

Jakarta, the capital and most densely populated region of Indonesia, continues to struggle with urban poverty despite consistent economic growth. Factors such as high migration, limited employment opportunities, and unequal access to education and social services have deepened socio-economic inequality. This study investigates the key drivers of poverty in DKI Jakarta from 2012 to 2022, incorporating insights from Islamic economics. Utilizing time-series data and the Error Correction Model (ECM), the research explores both short-term and long-term impacts of education, Gross Regional Domestic Product (GRDP), zakat, and waqf on poverty levels. Findings reveal that all variables significantly affect poverty in the long run, while GRDP shows no notable short-term influence. Education and waqf are positively correlated with poverty over time, indicating that structural issues—such as low labor absorption and inefficient waqf management—limit their effectiveness in reducing poverty. In contrast, zakat demonstrates a strong negative relationship with poverty, highlighting its role as a powerful redistributive tool in Islamic economics. The study emphasizes the importance of inclusive education and economic policies, alongside better governance of zakat and waqf through formal institutions like BAZNAS, to improve transparency, optimize resource use, and support sustainable poverty reduction in Jakarta. Abstrak Peran Zakat, Wakaf, dan Pendidikan dalam Mengurangi Kemiskinan Perkotaan: Studi Kasus Kota Jakarta. Jakarta, ibu kota sekaligus provinsi terpadat di Indonesia, masih menghadapi tantangan kemiskinan perkotaan meskipun pertumbuhan ekonomi terus berlangsung. Tingginya angka migrasi, terbatasnya daya serap tenaga kerja, serta ketimpangan akses terhadap pendidikan dan layanan sosial memperparah kesenjangan sosial-ekonomi. Studi ini menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kemiskinan di Provinsi DKI Jakarta selama periode 2012–2022 dengan pendekatan ekonomi Islam. Menggunakan data runtun waktu dan model Error Correction Model (ECM), penelitian ini menelaah dampak jangka pendek dan jangka panjang dari pendidikan, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), zakat, dan wakaf terhadap tingkat kemiskinan. Hasil menunjukkan bahwa seluruh variabel berpengaruh signifikan dalam jangka panjang, sementara PDRB tidak menunjukkan pengaruh berarti dalam jangka pendek. Pendidikan dan wakaf memiliki hubungan positif dengan kemiskinan dalam jangka panjang, yang mengindikasikan adanya hambatan struktural seperti rendahnya daya serap tenaga kerja dan pengelolaan wakaf yang belum optimal. Sebaliknya, zakat menunjukkan hubungan negatif yang kuat dan signifikan terhadap kemiskinan, menegaskan efektivitasnya sebagai instrumen distribusi dalam ekonomi Islam. Temuan ini menyoroti perlunya kebijakan pendidikan dan ekonomi yang lebih inklusif, serta peningkatan tata kelola zakat dan wakaf melalui lembaga formal seperti BAZNAS untuk meningkatkan transparansi, efisiensi pemanfaatan sumber daya, dan mendukung pengentasan kemiskinan yang berkelanjutan di Jakarta.
Mapping the Intersection of Money Taxonomy, Blockchain, and Islamic Finance: A Bibliometric Co-Occurrence Analysis Thaha, Fathurrahman; Yunus, Ayu Ruqayyah
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol. 14 No. 2 (2025): IN PROGRESS
Publisher : Faculty of Islamic Economics and Business, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/

Abstract

Islamic finance has grown significantly in recent decades, offering a Shariah-compliant alternative to conventional financial systems. However, its engagement with the evolving classification of money and the disruptive potential of blockchain technology remains limited. This study presents a comprehensive bibliometric analysis of 284 peer-reviewed journal articles published between 2019 and 2024, sourced from the Dimensions AI database and analyzed using VOSviewer. The process involved data cleaning, keyword normalization, co-occurrence mapping, and cluster visualization to identify key themes and research gaps. Findings reveal that Islamic finance literature continues to emphasize sustainable and ethical finance through instruments such as zakat, waqf, and sukuk, while money taxonomy and digital innovation receive minimal attention. Thematic clusters highlight the dominance of sustainability, the rise of bibliometric and systematic reviews, the emergence of cryptocurrency, and ongoing regulatory challenges. Although blockchain remains a dynamic and debated topic, visualizations show a temporal shift from sustainability to digital transformation. This study contributes by redefining money classification within a Shariah-compliant digital context and underscores the need for a robust digital infrastructure, consistent regulation, Shariah certification, and the integration of ethics and technology in education. It lays the groundwork for future research to expand empirical studies, enhance bibliometric scope, and develop comprehensive frameworks for a sustainable digital Islamic finance ecosystem. Abstrak Pemetaan Persimpangana antara Taksonomi Uang, Blockchain, dan Keuangan Islam: Analisis Ko-okurensi Bibliometrik. Dalam beberapa dekade terakhir, keuangan syariah telah berkembang pesat sebagai alternatif terhadap sistem keuangan konvensional yang ada. Namun, keterlibatannya dengan klasifikasi uang yang terus berkembang dan potensi disruptif teknologi blockchain masih terbatas. Studi ini menyajikan analisis bibliometrik komprehensif terhadap 284 artikel jurnal yang terbit antara 2019 dan 2024, yang diperoleh dari basis data Dimensions AI menggunakan VOSviewer. Proses analisis mencakup pembersihan data, nomalisasi kata kunci, pemetaan ko-okurensi, dan visualisasi kluster untuk mengidentifikasi tema utama dan celah penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa literatur keuangan Islam masih berfokus pada keuangan berkelanjutan dan etis melalui instrumen seperti zakat, waqf, dan sukuk, sementara taksonomi uang dan inovasi digital kurang mendapat perhatian. Kluster tematik menyoroti dominasi keberlanjutan, meningkatnya tinjauan bibliometrik dan sistematis, munculnya cryptocurrency, serta tantangan regulasi yang berkelanjutan. Meskipun blockchain tetap menjadi topik yang dinamis dan diperdebatkan, visualisasi menunjukkan pergeseran temporal dari keberlanjutan ke transformasi digital. Studi ini berkontribusi dengan mendefinisikan ulang klasifikasi uang dalam konteks digital yang sesuai syariah, serta menekankan pentingnya infrastruktur digital yang kuat, regulasi yang konsisten, sertifikasi syariah, dan integrasi etika serta teknologi dalam pendidikan. Studi ini menjadi dasar bagi penelitian selanjutnya untuk memperluas studi empiris, meningkatkan cakupan bibliometrik, dan mengembangkan kerangka kerja komprehensif untuk ekosistem keuangan Islam digital yang berkelanjutan.
Islamic Financial Literacy and the Shaping of Consumption Patterns Among Indonesian Muslim Students Subhan, Muhamad; Delvianti, Sintia; Septianti, Andini
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol. 14 No. 2 (2025): IN PROGRESS
Publisher : Faculty of Islamic Economics and Business, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/

Abstract

The rapid growth of the digital economy in Indonesia has increasingly exposed Muslim university students to consumerist ideologies that frequently conflict with the ethical foundations of Islamic finance. Despite the efforts of student organizations like the Forum Silaturahmi Studi Ekonomi Islam (FoSSEI) to promote Islamic financial literacy through education and experiential learning, many students continue to exhibit consumptive behaviors shaped by peer influence, digital culture, and low financial awareness. This study aims to examine the role of Islamic financial literacy and lifestyle in shaping the consumptive behavior of Muslim students, with a specific focus on FoSSEI members in West and Central Sumatra. Utilizing a quantitative approach, data were collected through a validated questionnaire from 210 students, with 206 valid responses analyzed using Partial Least Squares Structural Equation Modelling (PLS-SEM). The results show that Islamic financial literacy affects consumption behavior both directly and indirectly through lifestyle. Furthermore, lifestyle significantly influences consumptive behavior and serves as a mediator that strengthens or weakens the effect of financial literacy. These findings reveal that knowledge alone is insufficient; instead, lifestyle serves as a crucial behavioral channel through which financial literacy manifests. Theoretically, the study contributes by integrating lifestyle as a key mechanism in Islamic financial behavior models. Practically, the findings suggest that financial education programs must go beyond knowledge transfer to include lifestyle transformation, fostering more ethical and sustainable consumption aligned with sharia principles. Recommendations are offered to educators, policymakers, and Islamic financial institutions for designing more holistic interventions. Abstrak Literasi Keuangan Syariah dan Pola Konsumsi Mahasiswa Muslim di Indonesia. Di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi digital, mahasiswa Muslim di Indonesia semakin terpapar gaya hidup konsumtif yang sering kali bertentangan dengan etika keuangan Islam. Meskipun beberapa organisasi, seperti Forum Silaturahmi Studi Ekonomi Islam (FoSSEI) telah berupaya meningkatkan literasi keuangan syariah melalui program edukasi dan pembelajaran berbasis pengalaman, masih banyak mahasiswa dengan pola konsumsi berlebihan akibat pengaruh tekanan sosial, budaya digital, dan rendahnya kesadaran finansial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran literasi keuangan syariah dan gaya hidup dalam membentuk perilaku konsumtif mahasiswa Muslim, dengan fokus khusus pada anggota FoSSEI di Sumatera Barat dan Sumatera Tengah. Menggunakan pendekatan kuantitatif, studi ini mengumpulkan data-data penelitian dengan kuesioner yang terstandarisasi dari 210 mahasiswa, dengan 206 respons yang valid. Hasil analisis dengan metode Partial Least Squares - Structural Equation Modelling (PLS-SEM) menunjukkan bahwa literasi keuangan syariah berpengaruh terhadap perilaku konsumtif secara langsung dan tidak langsung melalui gaya hidup. Gaya hidup juga terbukti memiliki pengaruh signifikan dan menjadi mediator penting yang memperkuat atau melemahkan efek literasi keuangan. Temuan ini menegaskan bahwa pengetahuan saja tidak cukup; gaya hidup menjadi saluran perilaku yang penting dalam mengaktualisasikan literasi keuangan. Kontribusi teoretis studi ini adalah integrasi gaya hidup sebagai mekanisme utama dalam model perilaku keuangan syariah. Secara praktis, studi ini merekomendasikan agar program literasi keuangan syariah tidak hanya berfokus pada pengetahuan, tetapi juga transformasi gaya hidup untuk mendorong konsumsi yang lebih etis dan berkelanjutan sesuai prinsip syariah.
Zakat for Economic Empowerment in Aceh: Evaluating Qanun No. 3/2021 through a SWOT-Maqasid Framework Siregar, Pani Akhiruddin; Pakpahan, Elpianti Sahara; Lubis, Muhammad Arif Fadhillah; Nasution, Yenni Samri Juliati; Akmal, Akmal
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol. 14 No. 2 (2025): IN PROGRESS
Publisher : Faculty of Islamic Economics and Business, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/

Abstract

ABSTRACT - Zakat is a fundamental instrument in promoting Islamic economic justice and alleviating poverty. In Aceh, Indonesia’s only province with the authority to implement Islamic law through public policy, this role is institutionalized via Qanun No. 3/2021. This study examines the effectiveness of zakat management under this regulation in fostering economic empowerment. Adopting a qualitative-descriptive approach, the research integrates SWOT analysis with maqasid shariah principles to align spiritual objectives with socio-economic outcomes. Data were collected through in-depth interviews with key stakeholders, including Baitul Mal officials, muzakki, mustahik, and Islamic economists in Banda Aceh and Langsa, supported by field observations and secondary data from Baitul Mal and BPS Aceh (2023–2024). Thematic analysis using SWOT quadrants and triangulation revealed that the strong legal framework has increased public trust and zakat collection from IDR 85 billion to IDR 90 billion. However, only 6% of the estimated potential (IDR 1.4–1.5 trillion) is realized due to limited human resources and outdated technology. Opportunities include digital transformation and alignment with the SDGs, with productive zakat programs boosting household income by 10% for 70% of 4,895 micro-enterprises. Threats such as informal zakat channels and economic instability (inflation 5.2%, unemployment 6.1%) persist. Zakat contributed to a slight poverty reduction (from 15% to 14.5%), though uneven distribution limits broader impact. The findings highlight the need for digitalization, institutional capacity building, and culturally sensitive outreach. Integrating maqasid shariah offers a replicable model for aligning Islamic philanthropy with sustainable development in other Muslim-majority regions. Abstrak Zakat sebagai Instrumen Pemberdayaan Ekonomi di Aceh: Evaluasi Qanun No. 3/2021 dengan Pendekatan SWOT-Maqasid. Zakat merupakan instrumen utama dalam mewujudkan keadilan ekonomi Islam dan pengentasan kemiskinan. Provinsi Aceh sebagai wilayah di Indonesia yang memiliki kewenangan untuk menerapkan hukum Islam dalam kebijakan publik mengatur peran zakat secara formal melalui Qanun No. 3 Tahun 2021. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pengelolaan zakat dalam mendorong pemberdayaan ekonomi berdasarkan regulasi tersebut. Dengan pendekatan kualitatif-deskriptif, penelitian ini mengintegrasikan analisis SWOT dan prinsip maqasid syariah guna menyelaraskan tujuan spiritual dengan hasil sosial-ekonomi. Data penelitian dikumpulkan melalui wawancara dengan para pemangku kepentingan utama, yaitu pejabat Baitul Mal, muzakki, mustahik, dan ekonom Islam, yang berlokasi di Banda Aceh dan Langsa serta didukung oleh observasi lapangan dan data sekunder dari laporan Baitul Mal dan BPS Aceh (2023–2024). Analisis tematik dengan kuadran SWOT dan triangulasi menunjukkan bahwa kerangka hukum yang kuat meningkatkan kepercayaan publik dan penghimpunan zakat dari Rp85 miliar menjadi Rp90 miliar. Namun, hanya 6% dari potensi zakat (Rp1,4–Rp1,5 triliun) yang terealisasi akibat keterbatasan SDM dan teknologi yang belum memadai. Peluang seperti transformasi digital dan keselarasan dengan SDGs terlihat, dengan program zakat produktif meningkatkan pendapatan rumah tangga sebesar 10% bagi 70% dari 4.895 usaha mikro. Ancaman seperti saluran zakat informal dan ketidakstabilan ekonomi (inflasi 5,2%, pengangguran 6,1%) masih menjadi tantangan. Zakat berkontribusi pada penurunan kemiskinan dari 15% menjadi 14,5%, meskipun distribusi yang belum merata membatasi dampak luasnya. Temuan ini menekankan pentingnya digitalisasi, penguatan kapasitas kelembagaan, dan pendekatan komunikasi yang peka budaya. Integrasi maqasid syariah menawarkan model replikatif untuk menyelaraskan filantropi Islam dengan pembangunan berkelanjutan di wilayah mayoritas Muslim.

Page 2 of 2 | Total Record : 17