cover
Contact Name
Rudy Pramono
Contact Email
rudypramono@gmail.com
Phone
+6285171561966
Journal Mail Official
registration@pkm-csr.org
Editorial Address
LPPM Universitas Pelita Harapan, Tangerang Banten
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
Prosiding Konferensi Nasional PKM-CSR
ISSN : -     EISSN : 26553570     DOI : https://doi.org/10.37695/pkmcsr.v4i0
Prosiding PKM-CSR merupakan rangkuman hasil Konferensi Nasional Pengabdian kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibilty (PKM-CSR) yang diselenggarakan setiap tahun oleh kolaborasi beberapa Perguruan Tinggi yaitu Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Universitas Pelita Harapan (UPH), Swiss German University (SGU), Universitas Sebelas Maret (UNS), Universitas Pradipta, Universitas Wijaya Putra (UWP), Universtas Lambung Mangkurat (ULM) dan Tahun 2021 bekerjasama dengan Universitas Dyana Pura Bali (Undhira) sebagai Co Host. Prosiding PKM-CSR memuat artikel mengenai kegiatan pengabdian kepada masyarakat dan corporate social responsibility, dengan topik sebagai berikut : Teknologi Tepat Guna Teknologi Komunikasi dan Informasi Kesehatan Ekonomi Pendidikan Lingkungan dan Kebencanaan
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 1,378 Documents
Meningkatkan Keterampilan Mengajar Guru Sma Di Kabupaten Tangerang – Banten Prayekti Prayekti; Dodi Sukmayadi; Widiasih Widiasih
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 1 (2018): Prosiding PKM-CSR Konferensi Nasional Pengabdian kepada Masyarakat dan Corporate Socia
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.323 KB)

Abstract

Tangerang merupakan wilayah perkembangan Jakarta. Kabupaten Tangerang banyak mengalami pertumbuhan, yakni: (1) Pusat Pertumbuhan Balaraja dan Tigaraksa, difokuskan sebagai daerah sentra industri, permukiman, dan pusat pemerintahan; (2) Pusat Pertumbuhan Teluk Naga, berada di wilayah pesisir, mengedepankan industri pariwisata alam dan bahari, industri maritim, perikanan, pertambakan, dan pelabuhan; (3) Pusat Pertumbuhan Curug, Kelapa Dua, Legok dan Pagedangan difokuskan sebagai pusat pemukiman, dan kawasan bisnis. Sedangkan guru Sekolah Menengah Atas yang ada di Kabupaten Tangerang seakan terpisah dengan keadaan disekelilingnya. Banyak guru yang hanya mengajar saja dan langsung pulang ke rumahnya atau mengajar di sekolah lain. Untuk itu dilakukan pengabdian kepada masyarakat ditujukan bagi guru SMA yang ada di Kabupaten Tangerang. Abdimas ini dilakukan mengikuti alur pengembangan sumber daya guru dalam pembelajaran yaitu: tahun pertama Pencerahan tentang Pendekatan kontruktivisme; tahun kedua Pendekatan keterampilan Proses dan tahun ketiga adalah Pendekatan Student Team Achievement Division (STAD). Sekarang telah memasuki tahun ketiga yaitu tentang STAD yang dimulai pada bulan Agustus sampai dengan bulan Oktober 2018. Hasil pada tahun pertama, selesai pendampingan oleh dosen FKIP-UT terhadap guru SMA di kabupaten Tangerang telah terampil menerapkan pendekatan kontruktivis dalam pembelajarn di kelasnya. Begitu juga dengan hasil tahun kedua dengan dilakukan pendampingan para guru SMA secara aktif telah menerapkan keterampilan proses pada setiap pembelajarannya. Semoga guru SMA di Balaraja selalu menerapkan pendekatan konstruktivisme dan keterampilan proses pada setiap pembelajaran di kelasnya.
Penerapan Model Konstruktivisme Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pada Mata Pelajaran Fisika Pokok Bahasan Usaha Dan Energi Muh. Fatkhul Ma’arij
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 1 (2018): Prosiding PKM-CSR Konferensi Nasional Pengabdian kepada Masyarakat dan Corporate Socia
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (759.358 KB)

Abstract

Sekolah lanjutan tingkat atas, dalam hal ini Sekolah Menengah Atas (SMA), memiliki seluruh mata pelajaran yang dapat mengembangkan potensi anak, dan dapat membekali dirinya untuk menghadapi kehidupan nyata pascapendidikan formal. Salah satu mata pelajaran kelompok peminatan adalah fisika yang merupakan bagian dari rumpun sains. Melalui mata pelajaran fisika peserta didik diharapkan dapat: (1) mengembangkan kemampuan berfikir analitis deduktif dengan menggunakan berbagai peristiwa alam; (2) menyelesaikan masalah baik secara kualitatif maupun kuantitatif dengan menggunakan matematika; (3) mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap percaya diri. Ketiga sasaran pembelajaran fisika, di atas menuntut kemampuan logika matematika yang tinggi. Tuntutan ini menyebabkan tidak semua peserta didik dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Rata-rata hasil belajar fisika hampir di setiap sekolah umumnya berada dibawah mata pelajaran lain sesama rumpun sains. Disisi lain fisika adalah salah satu mata pelajaran yang merupakan sarana (conten vehicle) peserta didik melaksanakan pembelajaran (leaning actitivities) sehingga memperoleh pengalaman belajar (learning experience) dan mampu mengembangkan sendiri ilmu yang diperolehnya (knowledge generation) sehinga secara komulatif pengalaman dan pengembangan belajar tersebut membentuk kompetensi (mengetahui, menguasai, mengamalkan) yang menjadi bekal dalam kehidupannya di masyarakat (Fatkhul Ma’arij, 2010:4). Apa jadinya jika masyarakat belajar tersebut dididik dengan metode drill, metode dikte, metode ceramah atau kita kenal dengan metode konvensional ? bagaimana mungkin mereka bisa berkompetisi jika tingkat berfikir masih LOTS (Low Order of Thingking Skills) buah dari metode konvensional ? Pengalaman menjadi guru fisika SMA, sejak tahun 1992 hingga saat ini, masih menemukan bahwa metode konvensional menjadi metode favorit untuk pelaksanaan pembelajaran fisika terutama kelas-kelas dengan jumlah peserta didik lebih dari 40 peserta didik. Pembelajaran fisika di SMA secara umum masih terfokus pada transfer ilmu (knowledge transmission), guna memenuhi tuntutan kurikulum dan usaha meningkatkan nilai peserta didik saat ujian. Dampak langsung yang ditemui adalah mereka menjadi (banking consept) berorientasi pada hasil. Dampak tidak langsungnya adalah persepsi peserta didik terhadap mata pelajaran fisika rendah, fisika menjadi mata pelajaran yang menakutkan, bahkan sikap menghargai produk ilmiah, tidak terjadi sama sekali ( jauh panggang dari api). Secara spesifik, masalah yang dirasakan dalam pembelajaran fisika diantaranya: jika diminta tanya jawab pada proses pembelajaran peserta didik cenderung menghindar, dan berusaha menjauh dari lalu lintas pembelajaran. Peserta didik membaca pada ringkasan materi seperti kumpulan rumus “LKS” tanpa memaknai variabel variabel yang terdapat pada rumus tersebut. Peserta didik mencatat pelajaran fisika tidak pada buku yang khusus (catatan atau latihan fisika), peserta didik cenderung cepat bosan mengikuti pelajaran, kemudian bercengkrama dengan teman pasangan duduknya, tidak mengerjakan pekerjaan rumah (PR) di rumah, melainkan di kelas menjelang pelajaran dimulai dan sebagian besar peserta didik menyalin PR dari peserta didik yang pandai dan rajin. Kemampuan berfikir rasional peserta didik sangat lemah dalam mengerjakan soal-soal fisika, tidak dapat melihat hubungan antara pelajaran yang satu dengan yang lainnya. Peserta didik tidak berusaha mengkaitkan formula fisika dengan kehidupan sehari-hari, dan lingkungan tempatnya tinggalnya. Dengan kata lain pembelajaran fisika di SMA belum memberikan hasil seperti yang diharapkan di atas. Ada beberapa faktor yang menjadikan guru fisika masih dominan dalam menggunakan pembelajaran konvensional, diantaranya adalah sarana praktikum masih kurang lengkap, alat dan bahan yang dibutuhkan untuk melakukan sebuah eksperimen atau demonstrasi belum memadai, ruang laboratorium dijadikan ruang kelas karena keterbatasan jumlah kelas, sementara jumlah partisipasi peserta didik baru melebihi kapasitas sekolah. Dengan kondisi ini umumnya guru fisika mengajar fisika mengunakan spidol/kapur atau hanya gambar sebagai model. Pembelajaran seperti ini belum mencukupi, sebab hanya menuntut peserta didk pada tingkat mengingat yang lebih dominan atau senantiasa memaparkan fakta, tanpa melangkah kepada konsep, prosedural apalagi metakognitif. Sebagai contoh peserta didik hafal rumus energi kinetik, energi potensial, teorema energi, hukum kekekalan energi, tetapi peserta didik masih lemah dalam memahami dan memberikan contoh, atau mengaplikasikan konsep yang telah dipelajari, sehingga peserta didik kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal usaha dan energi. Faktor lain yang menyebabkan terjadinya pembelajaran seperti disampaikan di atas adalah, belum terbiasanya guru melakukan banyak pendekatan, model, metode, strategi, menguasai media pembelajaran atau berimprovisasi terhadap kurangnya alat dan bahan yang dibutuhkan dalam pembelajaran, sehingga guru mengajar dengan apa adanya. Disisi lan tuntutan sertifikasi guru hanya mengajar minimal 24 jam pelajaran seminggu, tanpa menakar lebih rinci apa yang dilakukan guru selama 24 jam pelajaran tersebut, menjadi pemicu guru malas melakukan improvisasi, mengunakan model-model pembelajaran yang membuat peserta didik aktif belajar. Kembali lagi pada masalah pembelajaran fisika pada umumnya, dimana peserta didik banyak yang hanya duduk (pasif) di tempat masing-masing, memperhatikan guru mengajar (menjelaskan) materi pelajaran yang diajarkan, peserta didik belajar dengan mendengarkan dan mencatat sendiri-sendiri apa yang diterangkan oleh guru. Peserta didik jarang sekali dilibatkan untuk bekerja sama dalam proses pembelajaran yang menyenangkan, tetapi masing-masing peserta didik dituntut untuk berpacu dan mengerti apa yang dijelaskan guru. Maka terjadilah persaingan antar individu, bekerja keras untuk mengalahkan teman sekelasnya. Hal di atas adalah, sebuah fenomena pembelajaran yang perlu mendapat perhatian, di tengah situasi masyarakat yang rentan dengan masalah-masalah sosial saat ini. Perlu sebuah upaya pembelajaran yang menyenangkan melalui interaksi peserta didik dengan peserta didik lainnya, peserta didik berinteraksi dengan guru dan peserta didik, guru, berinteraksi dengan bahan ajar, sehingga proses pembelajaran menjadi menyenangkan dan efektif. Sebagaimana telah diutarakan, faktor-faktor yang cukup mendasar dalam pembelajaran fisika adalah proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang baik dan benar diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar peserta didik. Salah satu model pembelajaran yang berorientasi pada proses adalah model belajar konstruktivisme, pembelajaran yang tidak dirasakan sebagai suatu proses pembebanan dengan mengubah pola belajar peserta didik pasif menjadi peserta didik aktif dalam pembelajaran sehingga kemampuan berfikir dari LOTS menjadi HOTS (berfikir tingkat tinggi) dapat tercapai. Merujuk pada pengalaman, dalam menerapkan berbagai model pembelajaran sebelumnya, untuk mengatasi rendahnya proses belajar perlu diterapan model pembelajaran alternatif lain. Model Konstruktivisme adalah salah satu pandangan tentang proses pembelajaran (perolehan pengetahuan) diawali dengan terjadinya konflik kognitif. Konflik kognitif ini hanya dapat diatasi melalui pengetahuan diri (self regulation). Pada akhir proses belajar, pengetahuan akan dibangun sendiri oleh anak melalui pengalamannya dari hasil interaksi dengan lingkungannya (Prayekti & Irwanof, 2016). Materi usaha dan energi sudah didapat peserta didik sejak SD, SMP, di SMA guru harus berulang kali mengajarkan kembali, hal ini dikarenakan adanya konflik kognitif yang membuat peserta didik belum dapat menghayati materi usaha dan energi dengan baik. Peserta didik hanya ingat ketika mereka belajar dan setelah ulangan mereka lupa. Oleh karena itu, peneliti ingin melaksanakan penelitian dengan judul “ Penerapan Model Konstruktivisme untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Mata Pelajaran Fisika Pokok Bahasan Usaha dan Energi “
Pelatihan Pembuatan Alat Peraga Hewan Bagi Guru Biologi Tingkat Sma Di Kecamatan Balaraja – Tangerang Iryani K; Ratnaningsih A; Rokhyah I; Wahyuningsih T; Rahayu U; Hutasoit L.R
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 1 (2018): Prosiding PKM-CSR Konferensi Nasional Pengabdian kepada Masyarakat dan Corporate Socia
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.938 KB)

Abstract

Tantangan yang dihadapi guru Biologi saat ini termasuk guru Biologi SMA di antaranya adalah bagaimana menguasai teknologi pembelajaran dan teknik mengajar yang membuat siswa tertarik serta lebih mudah memahami dalam mempelajari materi yang dipelajari. Selain itu guru yang sudah lama menyelesikan pendidikannya dari perguruan tinggi asalnya, banyak yang mengalami penurunan keterampilan dan kemampuan dalam memberikan pembelajaran. Berdasarkan survey dan analisis kebutuhan guru-guru Biologi SMA di Tangerang, maka perlu dilakukan pembekalan bagi guru untuk menghadapi tantangan dalam pembelajaran serta menambah pengetahuan dan kemampuan keterampilan antara lain melalui pembuatan alat peraga. Tujuan pelatihan difokuskan untuk memberikan bekal kepada guru Biologi cara membuat alat peraga awetan hewan sehingga mereka terampil untuk dapat membuat sendiri alat peraga awetan untuk keperluan pembelajaran di sekolahnya. Kegiatan pelatihan diikuti oleh guru Biologi SMA dari beberapa sekolah di Kecamatan Balaraja, Tangerang. Metoda pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui pelatihan pola 3 x 8 jam dengan materi pembuatan awetan hewan baik awetan basah maupun awetan kering. Hasil yang diperoleh dari kegiatan ini adalah para guru yang dilatih terampil dalam membuat awetan hewan yang tampak dari produk akhir model hasil kerja kelompok. Terdapat peningkatan keterampilan peserta yang signifikan sebelum dengan sesudah pelatihan. Peserta merasakan manfaat pelatihan dan mereka puas terhadap pelatihan dalam membuat awetan hewan baik basah maupun kering. Hasil produk akhir model hasil kerja kelompok dari pelatihan ini antara lain dapat dimanfaatkan juga dalam bentuk asesoris yang dapat dijadikan sebagai hiasan.
Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia Melalui Pelatihan Ketrampilan Teknik Listrik Tenaga Surya Siti Nurul Hijah; Mohammad Komarudin
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 1 (2018): Prosiding PKM-CSR Konferensi Nasional Pengabdian kepada Masyarakat dan Corporate Socia
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.294 KB)

Abstract

Potensi sumber energi matahari yang begitu besar belum termanfaatkan secara optimal. Sebagai sumber energi yang terbarukan dan bebas emisi, pemanfaatan energi surya sebagai penghasil listrik sangat potensial untuk dikembangkan di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kita ketahui bahwa harga listrik yang diperoleh dari energi tak terbarukan ini jauh lebih mahal dalam jangka waktu pendek, namun jauh lebih berharga ketika dihitung dalam jangka waktu panjang khususnya dari aspek perlindungan lingkungan hidup. Untuk itu sudah selayaknya kita memahami lebih lanjut isu energi terbarukan, salah satunya energi panas matahari atau tenaga surya. Akan tetapi besarnya potensi sumber energy terbarukan tersebut belum mampu dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat luas, oleh karena terbatasnya kompetensi sumber daya manusia yang mampu memanfaatkan energy tersebut. Fakultas Teknik Universitas Islam Al-Azhar bekerjasama dengan Vlok Foundation Holland dan Balai Latihan Kerja Provinsi NTB, berusaha memberikan sumbangsih guna peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia melalui pemberdayaan dan pelatihan masyarakat melalui proses yang terpadu dan berkelanjutan. Salah satu kegiatan peningkatan kompetensi yang dilaksanakan adalah pelatihan ketrampilan Pertukangan Listrik Tenaga Surya (PLTS). Tujuan dari pelatihan ini adalah memberikan pemahaman dalam perencanaan, perancangan, instalasi, pengoperasian dan pemeliharaan PLTS dengan benar sesuai dengan kaidah teknik yang ditetapkan. Pelaksanaan praktik pemasangan instalasi PLTS dilaksanakan di Desa Pemongkong Kab. Lombok Timur. Desa Pemongkong merupakan desa yang berada didaerah pesisir dengan potensi paparan sinar matahari yang sangat baik. Hasil akhir yang diharapkan dari pelatihan ini adalah mampu memberikan pendidikan, peningkatan ketrampilan dan kompetensi serta kesempatan/peluang kerja kepada masyarakat kurang terampil untuk meningkatkan ketrampilan teknis sesuai keahlian, serta meningkatkan produktivitas kerja sehingga mampu membantu meningkatkan ekonomi keluarga.
Peningkatan Jiwa Wirausaha Berbasis Budaya Lokal Bagi Siswa Sekolah Dasar Di Wilayah Klaten Jawa Tengah Umi Yuliati; Nanang Rizali
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 1 (2018): Prosiding PKM-CSR Konferensi Nasional Pengabdian kepada Masyarakat dan Corporate Socia
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.269 KB)

Abstract

Kegiatan Pengabdian dilandasi oleh UU Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 pasal 13 dan Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 tentang peningkatan daya saing nasional melalui Pengembangan Kewirausahaan Nasional. Mitra dari pengabdian ini adalah SDIT Ibnu Shina dan SDN 1 Balak Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten. Tujuan dari pengabdian ini adalah membangkitkan semangat kemandirian sejak dini melalui program kewirausahaan; melestarikan budaya lokal yaitu gerabah dan batik tulis; dan memperluas peluang usaha dalam bidang kerajinan tradisional. Lembaga pendidikan dan pemerintah memiliki peran untuk mendorong terwujudnya pendidikan yang berorientasi wirausaha berbasis budaya lokal sebagai sebuah solusi bagi kemakmuran bangsa. Mitra pertama yaitu SDIT Ibnu Shina memiliki program unggulan “Ibnu Shina Berkarya dan Mandiri”. Mitra kedua adalah SDN Balak yang merupakan sekolah dengan keperdulian terhadap kemadirian siswa yang diwujudkan dengan adanya ekstra kulikuler tata boga dan pengenalan berwirausaha dengan koperasi sekolah. Metode yang digunakan dalam pengabdian yaitu metode observasi, diskusi, operasional kerja, dan pendampingan secara langsung. Metode diskusi, operasional kerja dan pendampingan diterapkan dalam pembuatan desain gerabah dan batik untuk produk souvenir, kegiatan pemasaran produk meliputi pembuatan mini showroom, bazar, dan pameran. Target khusus yang ingin dicapai dalam pengabdian ini adalah SDM yang memiliki semangat berwirausaha, dan mumpuni dalam bidang gerabah dan batik tulis, buku ajar tentang “Berwirausaha dengan Gerabah dan Batik Tulis bagi Siswa Sekolah Dasar”dan publikasi ilmiah.
Pengenalan Isu-Isu Global Yang Mempengaruhi Indonesia Bagi Siswa/Siswi SMA Di Jabodetabek Reggiannie Christy Natalia
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 1 (2018): Prosiding PKM-CSR Konferensi Nasional Pengabdian kepada Masyarakat dan Corporate Socia
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.541 KB)

Abstract

Di era ini, terdapat begitu banyak isu-isu internasional yang memberikan dampak langsung maupun tidak langsung bagi Indonesia. Dengan kekuatan media, segala hal yang terjadi di belahan dunia manapun dapat diakses oleh masyarakat di belahan dunia lainnya. Hal ini membuat begitu mudahnya penyebaran maupun duplikasi isu-isu tersebut di negara-negara lainnya, seperti Indonesia. Sehingga, setiap masyarakat harus dibekali tentang pemahaman yang mendalam mengenai isu-isu dunia yang sedang terjadi. Menaggapi permasalahan yang ada, Program Studi Hubungan Internasional merancang suatu Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) yang berupa suatu Eksibisi yang bertemakan Kontribusi Pemuda dalam Isu Global. Segmen yang dipilih adalah siswa dan siswi dari berbagai SMA di daerah Jabodetabek, yang merupakan generasi-generasi penentu masa depan Indonesia. PkM ini sendiri memiliki tujuan untuk (1). memberikan pengetahuan mendalam mengenai isu-isu internasional yang terjadi di Indonesia saat ini, (2). mengembangkan rasa peduli terhadap lingkungan dan komunitas sekitar agar dapat terciptanya suatu Perdamaian dan (3). membekali siswa dengan berbagai solusi aplikatif, agar mereka mampu menyikapi maupun berkontribusi dalam menanggulangi berbagai permasalahan yang diangkat dalam eksibisi. Para siswa/siswi disajikan dengan informasi mengenai isu yang diangkat dari berbagai macam perspektif, serta bagaimana seorang muda mampu membawa perubahan terhadap isu-isu seperti Dialog antar Agama, LGBT, Terorisme dan berbagai isu lainnya. Selain itu, PkM ini juga menghasilkan suatu video pendek yang diunduh di media sosial, yang berisikan inti sari dari setiap isu dan cara penanggulangannya. Berdasar pada hasil angket evaluasi respons para peserta sangatlah baik. 33% peserta menyatakan bahwa topik dan materi yang diberikan sangat baik dan 50% menyatakan baik. 42% peserta menyatakan bahwa pembicara menyalurkan materi dengan sangat baik dan 52% menyatakan baik. Oleh karena itu PkM ini akan terus dilakukan secara berkala kepada kelompok-kelompok siswa/siswi lainnya.
Pelatihan Manajemen Acara Bagi Warga Belajar Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Ristek Nusantara Jaya Jakarta Sebagai Bentuk Pengabdian Kepada Masyarakat Nani Kurniasari
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 1 (2018): Prosiding PKM-CSR Konferensi Nasional Pengabdian kepada Masyarakat dan Corporate Socia
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.725 KB)

Abstract

Keberhasilan karir seseorang di dunia kerja bergantung pada banyak hal, di antaranya bisa diukur dari latar belakang pendidikan formal maupun nonformalnya. Survei National Association of Colleges and Employers tahun 2002 di Amerika Serikat dengan subjek penelitian 457 pimpinan menyatakan bahwa Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) bukanlah hal yang dianggap penting di dunia kerja. Soft skill dianggap jauh lebih penting, antara lain berupa kemampuan berkomunikasi, kejujuran, kerja sama, motivasi, adaptasi, dan kecakapan interpersonal lain dengan orientasi nilai yang menjunjung kinerja efektif. Pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola sebuah acara merupakan salah satu soft skill yang penting dimiliki, mengingat berbagai event—baik formal, semiformal, maupun nonformal—kerap digelar di setiap bidang pekerjaan atau bisnis seperti pemerintahan, keuangan, pendidikan, hiburan, retail, fashion, dan sebagainya. Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan keterampilan praktis tentang dasar-dasar proses merancang, memproduksi, mengkoordinasikan pelaksanaan, menyusun anggaran, mempromosikan, dan mengelola sebuah event. Berbagai keterampilan tersebut diharapkan dapat menjadi modal pengetahuan dan keterampilan bagi warga belajar Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Ristek Nusatara Jaya dan dapat menjadi peluang usaha para lulusan lembaga pendidikan nonformal kejar paket C tersebut agar mampu bersaing di masa depan.
Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi Pada Siswa Sekolah Dasar Di Wilayah Binong Dan Kelapa Dua Alice Pangemanan; Jessie Yunus; Ronald Roringpandey
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 1 (2018): Prosiding PKM-CSR Konferensi Nasional Pengabdian kepada Masyarakat dan Corporate Socia
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.132 KB)

Abstract

Insiden penularan penyakit akibat kelalaian dalam melakukan perilaku hidup sehat dan kontak langsung maupun tidak langsung dengan individu yang telah terinfeksi patogen semakin meningkat. Salah satu penyakit menular yang paling sering diderita oleh masyarakat adalah penyakit infeksi saluran pernapasan atas, dan laporan hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 menunjukkan bahwa angka kejadian paling tinggi terjadi pada anak usia <14 tahun, dengan persentase tertinggi pada usia balita (1-4 tahun), yaitu sebesar 25.8%, usia bayi (<1 tahun) 22%, dan usia sekolah (5-14 tahun) sebesar 15.4%. Manifestasi klinis yang ditimbulkan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari seseorang, dan bahkan menjadi penyebab paling sering ketidakhadiran seseorang di sekolah maupun di tempat kerja. Perilaku hidup sehat, misalnya melakukan etika batuk dan mencuci tangan dengan cara yang benar, dapat memutuskan rantai penyebaran infeksi. Sebagai upaya untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, maka dosen dan mahasiswa fakultas keperawatan Universitas Pelita Harapan melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat kepada siswa sekolah dasar di wilayah Binong dan Kelapa Dua selama dua minggu. Jumlah peserta yang terdaftar adalah 226 siswa, namun hanya 211 siswa (93.36%) yang mengikuti penyuluhan kesehatan, dengan jumlah peserta berjenis kelamin perempuan sebanyak 112 orang (53%) dan laki-laki sebanyak 99 orang (47%). Penyuluhan dilakukan dengan berbagai metode, seperti drama singkat, pemberian materi dan demonstrasi menggunakan lagu dan gerakan yang menyenangkan bagi para siswa. Sebanyak 95% peserta aktif dalam mengajukan dan merespon pertanyaan, serta 100% peserta dapat mendemonstrasikan etika batuk dan mencuci tangan dengan benar. Pihak sekolah kemudian memberikan rekomendasi agar program penyuluhan dapat diadakan secara rutin.
Pemberdayaan Wirausahawan Sosial Dalam Pengembangan Kewirausahaan Sosial Berbasis Komunitas Di Desa Biboki, Kefamenanu, NTT Suharsono Suharsono; Agung Nugroho
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 1 (2018): Prosiding PKM-CSR Konferensi Nasional Pengabdian kepada Masyarakat dan Corporate Socia
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (593.997 KB)

Abstract

Isu tentang pengentasan kemiskinan pada dasarnya merupakan tanggungjawab seluruh komponen bangsa Indonesia baik pemerintah maupun swasta dan Perguruan Tinggi melalui Tri Dharma (Pengajaran, Penelitian dan Pengabdian). NTT memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan menjadi sumber pendapatan masyarakat. Salah satu potensinya adalah tenun. NTT secara umum merupakan salah satu wilayah yang perlu mendapat perhatian dari berbagai pihak di atas. Masyarakat NTT khususnya kaum perempuan di desa Biboki Kefamenanu memiliki budaya menenun yang diwariskan secara turun temurun. Disisi lain, minat anak-anak dan generasi muda terhadap budaya menenun sangatlah rendah. Pengabdian ini merupakan upaya pemberdayaan yang dilakukan dengan tujuan untuk mendorong para penenun agar dapat menghasilkan kualitas tenun yang lebih baik dan untuk melestarikan budaya menenun kepada generasi muda. Pengabdian ini dilakukan bekerjasama dengan seorang wirausahawan sosial sebagai pendamping yang tinggal di daerah tersebut. Pengabdian ini dilakukan dengan memberikan penyuluhan tentang peningkatan kapasitas pengembangan kewirausahaan sosial melalui tiga dimensi modal sosial (struktural, relasional dan kognisi) kepada wirausahawan sosial dan komunitas penenun serta pentingnya regenerasi. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa ada peningkatan pengetahuan dan komitmen untuk meningkatkan baik jumlah maupun kualitas produksi serta pengembangan jejaring pemasaran. Selain itu juga dilakukan kerjasama untuk peningkatan jejaring pemasaran produk tenun dengan Unika Atma Jaya.
Pelatihan Pembuatan Manisan Kering Tomat Dan Terong Sebagai Peluang Usaha Dalam Rangka Meningkatkan Pendapatan Pada Kelompok Usaha Bersama (Kube) Wanita Kreatif Di Kota Bengkulu Muhamad Sil; Isma Coryanata; Darius Darius
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 1 (2018): Prosiding PKM-CSR Konferensi Nasional Pengabdian kepada Masyarakat dan Corporate Socia
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.451 KB)

Abstract

Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Wanita Kreatif termasuk kelompok keluarga miskin sehingga perlu adanya pengupayaan untuk memberdayakan mereka dalam memanfaatkan potensi yang ada. Salah satu upaya pemberdayaan masyarakat di daerah Kelurahan Bentiring diantaranya melalui kegiatanpembuatan manisan tomat dan terong. Hal ini mudah dialksanakan oleh masyarakat dan mudah memasarkannya di sekita lingkangan tempat tinggalnya disamping itu tanaman tomat dan terong mudahdidapat karena mudah ditanam di sekitar pekarangan rumah, tidak membutuhkan lahan yang luas, mudah dalam pemelihara, dan waktu panen yang cepat. Permasalahan yang harus segera dicarikan solusinya dalam program Abdimas ini adalah bagaimana memberikan pengetahuandan keterampilan kepada para anggota KUBE Wanita Kreatif dalam budidaya serta pengolahan buah tomat dan terong menjadi produk manisankering yang bernilai ekonomis. Adapun tujuan program Abdimas ini sebagai berikut: (1) memberikan pengetahuan dan keterampilan bagi para anggota KUBE Wanita Kreatif dalam pengolahan manisan kering buah tomat dan terong agar dapat bernilai ekonomis, dan (2) memberikan pengetahuan bagi paraanggota KUBE Wanita Kreatif mengenai kewirausahaan dan manajemen pemasaran. Manfaat dari kegiatan Abdimas ini adalah: menambah sumber pengetahuan tentang pendidikan kecakapan hidup dan wirausaha khususnya bagi penyelenggara, para praktisi, akademisi, dan lembaga-lembaga yang peduli terhadap program abdimaspada umumnya; dan sebagai masukan dalam upaya pengembangan program pengabdian masyarakat oleh UPBJJ-UT Bengkulu yang berhubungan dengan penyelenggaraan program pendidikan kecakapan hidup. Adapun metode pelaksanaan abdimas ceramah bervariasi, diskusi, tanya jawab, demonstrasi, dan praktik yaitu: membantu peserta pelatihan dalam mempraktikkan materi secara langsung dalam melakukan budidaya tomat dan terong serta dapat memprosesnya menjadi manisan yang bernilai ekonomis sehingga dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta serta dapat meningkatkan pendapatan anggota KUBE Wanita Kreatif. Hasil program abdimas ini memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan kepada peserta pelatihan untuk mampu mengolah buah tomat dan terong yang mempunyai nilai jual tinggi. Pelatihan yang berhasil dan efektif, yaitu dengan telah dihasilkan produk manisan kering tomat rasa kurma (torakur) dan manisan kering terong. Setelah pelatihan, peserta telah mulai memasarkan produk tersebut kepada warga sekitar, teman kerabat, serta titip di warung dan toko sehingga dapat menambah penghasilan dan kesejahteraan peserta.

Page 7 of 138 | Total Record : 1378