cover
Contact Name
Muhammad Sandi Rosyadi
Contact Email
muasarah@uin-antasari.ac.id
Phone
+6281253539509
Journal Mail Official
muasarah@uin-antasari.ac.id
Editorial Address
https://jurnal.uin-antasari.ac.id/index.php/muasharah/about/editorialTeam
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Muẚṣarah: Jurnal Kajian Islam Kontemporer
ISSN : -     EISSN : 28287746     DOI : -
Fokus dalam jurnal ini adalah "Islam Kontemporer" dan lingkupnya adalah: Islam sebagai Ajaran Islam sebagai lembaga Islam sebagai praktik ekonomi Islam dan politik Islam dan kebudayaan Penerapan Islam oleh penganutnya
Articles 73 Documents
AGAMA SIAP SAJI DI KALANGAN MILLENIAL Wardah Wardah
Muẚṣarah: Jurnal Kajian Islam Kontemporer Vol 2, No 1 (2020): Juli
Publisher : UIN ANTASARI BANJARMASIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.209 KB) | DOI: 10.18592/msr.v2i1.3675

Abstract

 AbstractMillennial comes from English, Millennium which means a thousand years. Millennials are described as a generation that cannot be far from technology users including "You Tube" and "Instagram" social media. The development of technology is now increasing, information is becoming more easily known including in studying theology. Problems that often occur, religion that is presented instantaneously through these two media gives more positive and negative implications, in one side of the media it provides an alternative as a means of knowledge of religion, but on the other hand the media provides a superficial understanding of religion as a whole. According to the Republika Data Center from the Ministry of Communication and Information in Indonesia, a number of adolescents are so aggressive in consuming streaming video entertainment and religious content. Ericson noted that in 2011 around 7% of teens between the ages of 16-19 years watched a lot of videos through You Tube. At this time the business is to consume the internet for 18 hours a day. From these data it is interesting to study the religious studies obtained by the millennials from Instagram and You Tube accounts. The focus of this research is to know in comprehensively and in-depth the practical religion of the millennials from the influence of social media, Instagram and You Tube. The researcher conducted interviews with UIN Antasari Banjarmasin students from five faculties represented by each faculty totaling two people. Sampling uses purposive sampling method. This study aims to add understanding in taking a wise attitude to address the phenomenon of understanding religion instantly. The research method used is qualitative, the technique of data collection is done in triangulation, a combination of observation, interviews and documentation. The results of this qualitative study are to understand the uniqueness in constructing the phenomenon and the results of virtual da'wah containing scriptural content−those who understand religion without interpretation−because it refers to the Qur'an and hadith in text an sich). In addition, it also concludes that there is a hybridization of religious identity in the millennials. Therefore, this study provides recommendations that are expected to grow the awareness of the millennial generation so that understanding religion must be comprehensive and do not always make instant things a source of consumption for their religious studies.AbstrakMillenial berasal dari bahasa Inggris, Millennium yang berarti masa seribu tahun. Millenial digambarkan sebagai generasi yang sangat lekat dengan penggunaan media  sosia1  “You  Tube“  dan  “Instagram“. Perkembangan  teknologi  kini  semakin  meningkat,  informasi  semakin  mudah  diketahui  termasuk  dalam mengkaji  ilmu  agama.  Permasalahan  yang  kerap  terjadi,  agama  yang  disajikan  secara  instan  melalui  kedua media tersebut sedikit banyak memberikan implikasi positif dan negatif, dalam salah satu sisi media tersebut memberikan   alternatif   sebagai   sarana   pengetahuan   ilmu   agama,   namun   di   sisi   lain     media   tersebut memberikan  pemahaman  yang  dangkal  terhadap  agama  secara  utuh.  Menurut  Pusat  Data  Republika  dari Kementerian  Kominfo  di  Indonesia,  sejumlah  remaja  begitu  gencar  dalam  mengkonsumsi  streaming  video hiburan maupun konten agama. Ericson mencatat pada tahun 2011 silam sekitar 7% remaja antar usia 16-19 tahun banyak menonton video melalui You Tube. Pada saat ini urusan untuk mengkonsumsi internet selama 18 jam dalam sehari. Dari data tersebut menarik untuk diteliti mengenai kajian rkeagamaan yang didapat para millenial dari akun Instagram dan You Tube. Fokus penelitian ini adalah mengetahui secara komprehensif dan mendalam  bagaimana  keagamaan  praktis  dari  para  millenial  dari  pengaruh  sosial  media  Instagram  dan  You Tube.  Peneliti  melakukan  wawancara  kepada  mahasiswa  UIN  Antasari  Banjarmasin  dari  lima  fakultas  yang diwakili  setiap  fakultasnya  berjumlah  dua  orang.  Pengambilan  sampel  menggunakan  metode   purpossive sampling.  Penelitian  ini  bertujuan  untuk  menambahkan  pemahaman  dalam  mengambil  sikap  bijak  untuk menyikapi  fenomena  memahami  agama  secara  instan.  Metode  penelitian  yang  digunakan  adalah  kualitatif, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi, gabungan observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian  kualitatif  ini  adalah  untuk  memahami  keunikan  dalam  mengkonstruksi  fenomena  dan  hasilnya dakwah  virtual  yang  berisi konten  yang  bersifat  skriptual—yang memahami  agama  tanpa  interpretasi—karena merujuk al-Qur’an dan hadis secara teks an sich). Selain itu juga secara kesimpulan muncul gerakan hibridasi identitas keagamaan di kalangan millenial. Oleh karena itu, penelitian ini memberikan rekomendasi yaitu diharapkan tumbuh kesadaran generasi millenial agar dalam memahami agama haruslah komprehensif dan tidak selalu menjadikan hal yang instan sebagai sumber konsumsi rujukan studi agama mereka.
KESENIAN DAN TEKNOLOGI SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI DAKWAH (STUDI TERHADAP AKUN INSTAGRAM @gazali_rumi) Rahmi Hartati
Muẚṣarah: Jurnal Kajian Islam Kontemporer Vol 3, No 1 (2021): Juli
Publisher : UIN ANTASARI BANJARMASIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.387 KB) | DOI: 10.18592/msr.v3i1.4954

Abstract

Instagram is one of the most popular social media in today's new media era, and Indonesian people are no exception. A survey released by Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) shows that in 2016 there were 19.9 million registered Instagram accounts. If it is linked in the context of dakwah communication, Instagram can be a very promising dakwah medium with a very large potential for dakwah communicants (mad'u). However, in its delivery, the right method is needed so that dakwah communication is effective. One interesting method to use is to combine technology with art. This method is applied by the Instagram account @gazali_rumi. The account conveys Madihin's art through a video feature themed on the latest social issues and inserts dakwah messages in his poetry. The dakwah communication of the @gazali_rumi account is interesting to research in the context of developing the theory and methodology of dakwah communication in accordance with the times and technology. The purpose of this research is to find out and describe how Madihin art is presented through Instagram videos as a medium of dakwah communication and how netizens respond to the dakwah communication method. This research is a case study with a descriptive method which find the results that dakwah communication on the @gazali_rumi account is through two media at once, these are Instagram as social media and Madihin traditional art media. The number of followers on this Instagram account is more than 46,600, the videos are watched by more than 26,700 viewers and are liked by more than 8000 times for each post. This shows the enthusiasm and interest of netizens for the content and methods.Instagram adalah salah satu media sosial terpopuler di masyarakat zaman new media saat ini, termasuk  masyarakat Indonesia.  Survei  yang dikeluarkan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukan bahwa di tahun 2016 saja sudah ada 19,9 juta akun Instagram yang terdaftar. Jika dikaitkan dalam konteks komunikasi dakwah, Instagram dapat menjadi media dakwah yang sangat menjanjikan dengan potensi komunikan dakwah (mad’u)  yang sangat besar.  Namun  dalam penyampaiannya diperlukan metode yang tepat agar komunikasi dakwah tersebut efektif. Salah satu metode yang menarik untuk digunakan ialah memadukan teknologi dengan kesenian. Metode inilah yang diaplikasikan oleh akun Instagram @gazali_rumi. Akun tersebut menyampaikan kesenian Madihin melalui fitur vidgram bertema isu sosial terkini dan menyelipkan pesan dakwah dalam syairnya. Komunikasi dakwah akun @gazali_rumi ini menarik untuk diteliti dalam rangka pengembangan teori dan metodologi komunikasi dakwah yang sesuai dengan perkembangan zaman dan teknologi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan bagaimana kesenian Madihin disajikan melalui video Instagram sebagai media komunikasi dakwah dan bagaimana tanggapan warga net (netizen) terhadap metode komunikasi dakwah tersebut. Penelitian ini adalah kajian studi kasus dengan metode deskriptif yang menghasilkan temuan bahwa komunikasi dakwah pada akun @gazali_rumi melalui dua media sekaligus, yaitu media sosial Instagram dan media kesenian tradisional Madihin. Jumlah pengikut akun Instagramnya lebih dari 46.600 orang, video kirimannya ditonton oleh lebih dari 26.700 orang dan disukai oleh 8000 orang lebih setiap kirimannya. Ini menunjukan antusias dan ketertarikan netizen atas konten dan metodenya.
SASTRA LISAN MENOLAK MATI: CERITA DAN PANTUN ISLAMI SEBAGAI MEDIA DAKWAH DI PUNGGUR, PONTIANAK Saripaini Saripaini
Muẚṣarah: Jurnal Kajian Islam Kontemporer Vol 1, No 1 (2019): Desember
Publisher : UIN ANTASARI BANJARMASIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (553.895 KB) | DOI: 10.18592/msr.v1i1.3268

Abstract

Abstract: Nowadays, television and gadget are so dominant in public and private places. The culture of watching TV and smart phones sidelines the tradition of listening to storytelling. But oral literature is not extinct with the advancement of communication and information technology. The case that this author found in Punggur Village, Pontianak, showed that oral literature, specifically, the religious genre, survived despite the bombardment of various entertainments broadcasted through electronic and digital media. Religious instructors in the village deliver moral messages to children learning al-Qur’an recitation through poems and stories. In fact, the method of storytelling has its own attraction in fostering children's interests to learn about religion. Abstrak: Dewasa ini, kehadiran televisi dan gawai begitu dominan di ruang publik dan privat. Budaya menonton TV dan ponsel pintar menggeser tradisi mendengarkan penuturan cerita secara lisan. Namun sastra lisan tidak punah diterjang perkembangan teknologi komunikasi dan informasi. Kasus yang penulis temukan di Desa Punggur, Pontianak, menunjukan bahwa sastra lisan, spesifiknya, yang bergenre agama, bertahan di tengah gempuran tontonan dan hiburan yang disiarkan melalui media elektronik dan digital. Di sana, guru-guru agama menyampaikan pesan moral kepada anak-anak yang belajar membaca al-Qur’an dengan menggunakan pantun dan cerita. Metode bercerita memiliki daya tarik tersendiri dalam menumbuhkan minat anak-anak untuk belajar agama.
TREN KARANTINA TAHFIZH ALQURAN DALAM KELUARGA MILENIAL: Studi Kasus Karantina Tahfizh Alquran Yayasan Amanah Umat Banua Kalimantan Selatan Syarifah Nur Aini
Muẚṣarah: Jurnal Kajian Islam Kontemporer Vol 2, No 2 (2020): Desember
Publisher : UIN ANTASARI BANJARMASIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.767 KB) | DOI: 10.18592/msr.v2i2.4315

Abstract

Quarantine Tahfizh Alquran is a program that aims to help Muslims memorize 30 chapters of the Qur'an in a focused manner in a short time. Even though it costs a lot, this quarantine program is becoming a trend, especially among millennial families. The Amanah Umat Banua Foundation of South Kalimantan in Banjarmasin is one of the quarantine organizations that has graduated nearly 1800 hafiz Alquran people. This research is a case study, with the research location at the Amanah Umat Banua Foundation, South Kalimantan. The data collection technique used was in-depth interviews and observation. The data analysis used were data reduction, data display, and verification. The results of this study indicate that 70% of parents' motivation to enter their child in the Tahfizh Alquran quarantine program is on their desire so that their children always adhere to the Koran with various perceptual variables. Karantina Tahfizh Alquran adalah program yang bertujuan untuk membantu muslim menghafalkan 30 juz Alquran secara fokus dalam waktu singkat. Kendati memerlukan biaya yang besar, program karantina ini mulai menjadi tren, utamanya dikalangan keluarga milenial. Yayasan Amanah Umat Banua Kalimantan Selatan di Banjarmasin adalah salah satu lembaga karantina yang telah meluluskan hampir 1800 orang hafizh Alquran. Jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus, dengan lokasi penelitian di yayasan Amanah Umat Banua Kalimantan Selatan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam serta observasi. Analisis data yang digunakan adalah deskriptif kualitatif menurut Miles dan Huberman dengan membuat sajian data, memasukkan data, dan menganalisis data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 70% motivasi orang tua memasukkan anak mereka dalam program karantina Tahfizh Alquran ialah atas keinginan mereka sendiri agar anaknya selalu menda’wamkan Alquran dengan variabel persepsi yang beragam
WUJUD PENGAPLIKASIAN MODERASI BERAGAMA DI TENGAH PANDEMI COVID-19 DALAM KACAMATA MAHASISWA FTIK UINSI SAMARINDA Dewi Maria
Muẚṣarah: Jurnal Kajian Islam Kontemporer Vol 3, No 2 (2021): Desember
Publisher : UIN ANTASARI BANJARMASIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/msr.v3i2.5705

Abstract

Keberagaman merupakan salah satu ciri khas bangsa Indonesia, dimana perbedaan ras, agama, budaya, suku, etnis, dan tradisi menyatu di negeri ini.Konsep moderasi beragama menjadi topik hangat yang dianggap mampu menengahi keberagaman melalui pemikiran yang moderat sehingga terciptanya karakter bangsa yang kuat.Moderasi beragama sendiri merupakan sikap tengah yang tidak memihak dalam artian tidak liberal maupun radikal.Berkenaan dengan dengan hal itu ditambah merambahnya wabah Covid-19, penulis melakukan penelitian terkait konsep moderasi beragama di tengah pandemi Covid-19. Penelitian ini ditujukan guna mengetahui bagaimana sudut pandangmahasiswa FTIK di UINSI Samarinda terhadap pemaknaan, pemahaman serta pengaplikasian konsep moderasi beragama di tengah pandemi Covid-19, bagaimana bentuk aplikatif yang mahasiswa praktikkan dikehidupan sehari-hari dalam mendukung hal ini. Model penelitian yang diangkat adalah kualitatif deskriptif. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa FTIK angkatan 2018 yang terdiri atas enam prodi, yaitu PAI, MPI, PGMI, PIAUD, PBA, dan TBI. Setiap prodi menjawab angket yang dibagikan secara random.Instrument penelitian yang dipakai ialah wawancara singkat dan angket yang dikorelasikan menjadi satu dalam bentuk survey melalui Google Form guna menjadikannya mudah dan efisien. Dari hasil data yang didapat, ditarik kesimpulan bahwa 95% mahasiswa sepakat moderasi beragama adalah jalan tengah untuk mendapatkan keharmonisan dalam bermasyarakat dan sangat baik diimplementasikan di tengah pandemi covid-19 yang notabene perbedaan semakin meningkat baik dari perbedaan paham keberagaman, pemikiran maupun perbedaan dalam bermuamalah terkait beragama. Sedangkan 5% menolak moderasi beragama dengan alasan hal ini akan merusak agama itu sendiri. Kenyataannya perbedaan akan selalu ada di tengah keberanekaragaman, oleh karenanya kita harus sadar dan peka akan konsep moderat. Dalam pengaplikasiannya mayoritas mahasiswa FTIK2018 tergolong aktif dalam menerapkan konsep ini, salah satunyamenanamkan sikap toleransi dengan menghargai perbedaan serta mendukung pemerintah dalam menerapkan protokol kesehatan. Sedangkan minoritas acuh tak acuh dalam mengaplikasikan hal ini karena menentang adanya konsep moderasi beragama dalam Islam
MODERASI ISLAM DALAM KITAB SABILAL MUHTADIN: KEARIFAN LOKAL TANAH BANJAR A. Syaifullah
Muẚṣarah: Jurnal Kajian Islam Kontemporer Vol 2, No 1 (2020): Juli
Publisher : UIN ANTASARI BANJARMASIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (482.973 KB) | DOI: 10.18592/msr.v2i1.3676

Abstract

AbstractThis writing discusses the moderation of Islam in the Sabilal Muhtadin scripture as one of the local wisdom manuscripts of the Banjar land. This book was written by a great Islamic Borneo scholar named Sheikh Muhammad Arsyad Al-Banjari, he wrote many books during his life and one of them was the Sabilal Muhtadin scripture, in this book he wrote about the law of worship, muamalah, and the habits of the Banjarese people. Banjar community habits that are found in the Sabilal Muhtadin scripture and occurred during his time writings, such as, burying a corpse with Tabala, the concept of latrines in taking care of and providing food for mourners. Some of the habits of the Banjarese people in fiqh scriptures written by ulama in Arab countries are identified as illegal or Haram. But in the Sabilal Muhtadin scripture it allows the ones. The habits are still practiced by the Banjar community until modern times now. Therefore it is important to know comprehensively and deeply about the moderate or moderation of Islam contained in the Sabilal Muhtadin scripture. Furthermore, the concept of moderation with wrapping local wisdom in the Sabilal Muhtadin scripture will be assessed using literature research methods and reading material relevant to the research as the source. The result of this study is that Sheikh Muhammad Arsyad Al-Banjari provided legal clarity by considering the condition of the Banjar community at that time. The conclusion of the study is that Sheikh Muhammad Arsyad in the Sabilal Muhtadin scripture provides a middle ground (as mediator) between the habits of the people and the Islamic religion in order to live in synergy and harmony. AbstrakTulisan ini membahas tentang moderasi Islam dalam kitab Sabilal Muhtadin sebagai salah satu manuskrip kearifan lokal tanah Banjar. Kitab ini ditulis oleh seorang ulama besar asal Kalimantan bernama syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, beliau banyak menulis kitab semasa hidupnya dan salah satunya adalah kitab Sabilal Muhtadin, dalam kitab ini beliau menulis tentang hukum ibadah, muamalah, dan kebiasaan masyarakat banjar. Kebiasaan masyarakat banjar yang terdapat di dalam kitab Sabilal Muhtadin dan terjadi pada masa beliau menulis kitab tersebut seperti mengubur mayat dengan Tabala, konsep jamban dalam buang hajat dan menyediakan makanan untuk pelayat. Kebiasaan orang banjar yang dilakukan tersebut sebagian dalam kitab fikih tulisan ulama di negara Arab hukumnya haram. Tetapi dalam kitab Sabilal Muhtadin membolehkan kebiasaan masyarakat banjar. Kebiasaan tersebut masih dipraktikkan oleh masyarakat banjar sampai zaman modern sekarang. Oleh karena itu penting untuk dikethaui secara komprehensif dan mendalam mengenai Moderat atau moderasi Islam yang terdapat dalam kitab Sabilal Muhtadin. Selanjutnya konsep moderasi dengan balutan kearifan lokal dalam kitab Sabilal Muhtadin ini akan dikaji dengan menggunakan metode penelitian studi pustaka dan bahan bacaan yang relevan dengan penelitian sebagai sumbernya. Hasil penelitian ini adalah bahwa syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari memberikan kejelasan hukum dengan mempertimbangkan keadaan masyarakat banjar saat itu. Kesimpulan dari penelitian adalah bahwa Syekh Muhammad Arsyad dalam kitab Sabilal Muhtadin memberikan jalan tengah (sebagai perantara) antara kebiasaan masyarakat dengan agama Islam untuk bisa hidup bersinergi dan harmoni.
POPULARISASI IHYÂ ‘ULÛM AL-DÎN DI NUSANTARA: MELACAK AKAR HISTORIS MELALUI SUDUT PANDANG SUFISTIK DAN HADIS In’amul Hasan
Muẚṣarah: Jurnal Kajian Islam Kontemporer Vol 3, No 1 (2021): Juli
Publisher : UIN ANTASARI BANJARMASIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.425 KB) | DOI: 10.18592/msr.v3i1.4955

Abstract

al-Ghazali as the author of the Ihyâ ‘Ulûm al-Dîn has an interesting life journey background. He had been an ahlu al-ra'yi (philosopher) then turned into a Sufi in his old age. This change is indicated by several his books (kitab). One of them is Ihyâ ‘Ulûm al-Dîn. This literature later became popular in the Nusantara. Ihyâ ‘Ulûm al-Dîn is also used as the main reference for a Muslim's life guide. However, behind the popularity of this book, many hadith scholars (muhadditsîn) gave controversial comments on the hadis that contained in this book. Although there are many critical comments, the popularity of Ihyâ ‘Ulûm al-Dîn has not been forgotten in Nusantara, and it still exists today. This was seen during the Musabaqah Qiraah al-Kutub (MQK). At the event, this book was used as one of the books contested for the branch of morality. This article discusses the reasons or causes for this book to still exist, especially in Nusantara. The research was conducted with a historical approach. Then the history of the arrival of Islam to Nusantara will be explored, which is accompanied by Sufi and muhadditsîn interpretations of the hadis that contained in this book. So this article will show the popularization of Ihyâ 'Ulûm al-Dîn in Nusantara.Imam al-Ghazali sebagai pengarang kitab Ihyâ ‘Ulûm al-Dîn memiliki latar belakang yang menarik. Ia pernah menjadi ahlu al-ra’yi  (filsuf) kemudian beralih menjadi seorang sufi pada masa tuanya. Perubahan tersebut ditunjukan oleh beberapa karangannya (kitab). Salah satunya adalah Ihyâ ‘Ulûm al-Dîn ini. Literatur inilah di kemudian hari menjadi populer di Nusantara. Ihyâ ‘Ulûm al-Dîn juga dijadikan sebagai rujukan utama panduan hidup seorang muslim.  Namun, dibalik kepopuleran kitab ini, banyak ulama hadis (muhadditsîn) memberikan komentar yang kontroversial terhadap hadis-hadis yang dimuat dalam kitab ini. Walaupun komentar miring tersebut banyak, kepopuleran kitab Ihyâ ‘Ulûm al-Dîn tidak lusuh di Nusantara, bahkan bisa bertahan hingga saat ini. Hal itu terlihat pada saat Musabaqah Qiraah al-Kutub (MQK). Pada event tersebut, kitab ini dijadikan sebagai salah satu kitab yang dilombakan pada cabang akhlak. Artikel ini membahas alasan atau penyebab kitab ini tetap eksis, terutama di Nusantara. Penelitian dilakukan dengan pendekatan historis. Maka sejarah masuknya Islam ke Nusantara akan digali, yang diiringi dengan interpretasi sufi dan muhadditsîn terhadap hadis-hadis yang ada dalam kitab ini. Sehingga artikel ini akan menunjukan popularisasi Ihyâ ‘Ulûm al-Dîn di Nusantara
JURNAL ONLINE SEBAGAI ALTERNATIF SUMBER PEMBELAJARAN DI IAIN SAMARINDA Heisma Yulianita Sari
Muẚṣarah: Jurnal Kajian Islam Kontemporer Vol 1, No 1 (2019): Desember
Publisher : UIN ANTASARI BANJARMASIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (380.324 KB) | DOI: 10.18592/msr.v1i1.3270

Abstract

Abstract: IAIN Samarinda is one of the higher educational institutions that have used online journals in teaching and learning. This article investigates student attitudes and behavior with regard to the use of internet for the search of references that support the discussion in the classrooms and the writing of papers. This study involves 39 students and 6 lecturers from IAIN Samarinda, who gave data through questionaires. The author finds that the majority of respondents from students used internet for learning. This is in line with the use of digital sources by all lecturers interviewed for this study. The majority of student samples also agreed with the use of online journals for the courses they took. This is in line with the practice of most lecturers in the sample that makes compulsory the use of academic articles for assignments. Finally, the majority of the students in the sample also reported that they found online articles suitable for their courses. This study shows signs that digital literacy has began to entrench in IAIN Samarinda. Abstrak: IAIN Samarinda merupakan perguruan tinggi yang mulai menggunakan jurnal online dalam proses pembelajaran. Penulis artikel ini menginvestigasi bagaimana sikap dan perilaku mahasiswa terkait pemanfaatan internet untuk mencari referensi yang bisa mendukung proses diskusi di kelas dan pembuatan tugas kuliah. Penelitian ini melibatkan 39 mahasiswa dan 6 dosen di lingkungan IAIN Samarinda, di mana mereka memberikan data-data melalui angket. Penulis menemukan bahwa mayoritas sampel mahasiswa menggunakan internet dalam proses pembelajaran. Ini sejalan dengan penggunaan materi perkuliahan berformat digital oleh semua sampel dosen. Mayoritas sampel mahasiswa juga menyetujui penggunaan jurnal online sebagai materi perkuliahan dan pembuatan tugas. Ini juga seirama dengan praktik sebagian besar sampel dosen yang mewajibkan mahasiswa merujuk kepada artikel ilmiah untuk tugas kuliah. Mayoritas sampel mahasiswa juga melaporkan bahwa artikel online yang mereka dapatkan dari internet sesuai dengan kebutuhan mata kuliah. Studi ini menunjukkan tanda-tanda bahwa literasi digital mulai menggeliat di kampus IAIN Samarinda.
RELEVANSI PENERAPAN KONSEP PENDIDIKAN ISLAM MENGGUNAKAN FILOSOFI IBNU KHALDUN DALAM MENGHADAPI REVOLUSI INDUSTRI 4.0 Aina Rosyida
Muẚṣarah: Jurnal Kajian Islam Kontemporer Vol 2, No 2 (2020): Desember
Publisher : UIN ANTASARI BANJARMASIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.58 KB) | DOI: 10.18592/msr.v2i2.4316

Abstract

The phenomenon of combining digital and internet technology with conventional industry is known as the era of industrial revolution 4.0, which has a big impact on all aspects of life. The measure of success in facing the industrial revolution 4.0 is Human Resources (HR). So that, education is a relevant way to deal with it. Islam requires to study and become an educated people. Therefore, researchers found the formulation of Islamic education has its own uniqueness with Ibn Khaldun's prominent ideas in terms of originality and beyond time. Based on this, the purpose of this research is to find out the relevance of the implementation of the concept of Islamic education which contains philosophy of Ibn Khaldun in facing the industrial revolution 4.0. The method used by the researcher is library research and described through qualitative - descriptive. To support the research, researcher uses two data sources namely primary data sources and secondary data sources. The technique of data collection is through library research, books, journals and references that support the research. The results showed that the concept of education that contained philosophy of Ibn Khaldun is relevant for dealing with the industrial revolution 4.0 with (1) development of proficiency (al-malakah or skill) (2) mastery of professional skills good thinking coaching. The conclusion of this study is that with the changing times that exist and the emergence of the latest innovations in education implicitly and explicitly have been designed in Islamic education.
DIGITALISASI PENDIDIKAN LUAR BIASA DI MASA PANDEMI COVID-19: STUDI KASUS SLB NEGERI 1 PALANGKA RAYA Muhammad Ishaac
Muẚṣarah: Jurnal Kajian Islam Kontemporer Vol 3, No 2 (2021): Desember
Publisher : UIN ANTASARI BANJARMASIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/msr.v3i2.6279

Abstract

The COVID-19 pandemic has resulted the learning in Sekolah Luar Biasa Negeri 1 Palangkaraya doing distance and online in the form of digital learning. It is interesting for researchers to know the steps of digitizing education at the Sekolah Luar Biasa Negeri 1 Palangkaraya, which is known as an Special School based on an integrated curriculum of technology and international standards. This study uses a qualitative approach with descriptive data analysis methods by Miles and Hubberman. The subjects of this study were teachers and parents of students with special needs at the State Special School 1 Palangkaraya. The results of this study indicate that the process of digitalizing education at the Sekolah Luar Biasa Negeri 1 Palangkaraya in the implementation of digitalizing its learning has implemented the 4 principles of digital learning set by Kemendikbud RI, namely education in the context of providing meaningful experiences, focused on life skills, varying considering facilities, and providing appropriate feedback. useful for students, with 3 complex factors that hinder its implementation, namely the factor of children with special needs, parental factors, and environmental factors with various digitalization steps that are variants by each class teacher in accordance with the 4 principles of digital learning.