cover
Contact Name
Ali Mustofa
Contact Email
alimustofa@unesa.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
alimustofa@unesa.ac.id
Editorial Address
The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya T4 Building, 2nd floor Lidah Wetan Campus Surabaya 60213
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Litera Kultura
ISSN : -     EISSN : 23562714     DOI : -
Litera Kultura : Journal of Literary and Cultural Studies accepts articles within the scope of Literature and Cultural Studies. The journal is published three times in a year: April, August, and December.
Articles 362 Documents
The Representation of Literacy as Power and Danger in J.K. Rowling’s Harry Potter and theHalf-blood Prince AFIYAH MAGHFIROH
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 4 No 2 (2016)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v4i2.15023

Abstract

Abstrak Literasi kebanyakan dihubungkan dengan kekuatan yang dapat membuat seseorang menjadi lebih baik atau menyediakan pelarian diri, padahal sebenarnya literasi juga dapat membuat seseorang menjadi lebih buruk dan membahayakan dengan cara yang lain. Perbedaan pandangan tersebut telah membawa literasi ke sudut pandang akademik baru yang dinamakan Studi Literasi Baru. Literasi-literasi dalam Harry Potter dan Pangeran Berdarah Campuran karya J.K. Rowling merepresentasikan lebih banyak bahaya daripada daya karena lebih banyak tokoh yang melihat literasi sebagai bahaya daripada daya. Literasi dimaknai sebagai daya hanya dimata Harry Potter, dalam hal ini, literasi direpresentasikan melalui penghindaran dari kenyataan, perbaikan kelas sosial dan peningkat popularitas. Daya dalam literasi behubungan erat dengan kapital literasi yang telah memungkinkan Harry mendapatkan kapital-kapital lain dengan praktek dan artifaknya. Bahaya dalam literasi adalah kebalikannya; Hermione adalah tokoh yang sering melihat literasi dari sudut pandang ini. Meskipun demikian, Harry dan Ron dalam saat-saat tertentu juga merasa demikan. Bahaya dalam literasi ini direpresentasikan melalui pemicu perlakuan yang berat sebelah, memberikan kesempatan untuk menipu, penurunan kelas sosial dan pemicu bullying. Setengah dari representasi tersebut disebabkan oleh propaganda kementrian sihir dan setengah lainnya disebabkan oleh buku Pangeran Berdarah Campuran. Kata Kunci: representasi, literasi, daya, bahaya Abstract Literacy is mostly associated with power that can upgrade people in some ways or provide them escapism while it can also degrade and endanger people in other ways. These different views in literacy have brought it to new perspective of study named New Literacy Studies (NLS). Literacy in J.K. Rowling’s Harry Potter and the Half-Blood Prince is stronger represented as danger than power since more characters see it as danger than as power. Literacy is seen as power only in the eyes of Harry Potter; in this case, the powers of literacy are represented through escapism providing, social class upgrading and entertainments creating. Powers in literacy are hugely related to literacy capital in which enables Harry to acquire more capitals by using literacy practices and artifacts. However, dangers in literacy are the opposite; it is mostly seen by Hermione but in some cases, Harry and Ron also feel it too. Biased-treatment, providing chance-of-fraud, degrading social class and triggering bullying are the representation of literacy as danger. Half of the representations are caused by Ministry of Magic Propaganda and another half is caused by Half-Blood Prince Book. Keywords: representation, literacy, power, danger
AN ABSURDIST’S DESIRES IN ALBERT CAMUS’ THE STRANGER ALAN IRAWAN
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 4 No 2 (2016)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v4i2.15866

Abstract

DEXTER’S AND EMMA’S LOVE IN DAVID NICHOLLS’ ONE DAY FITRIA INDAH SUSANTI
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 4 No 2 (2016)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v4i2.15867

Abstract

SOCIAL MOBILITY IN CHARLES DICKENS’ OUR MUTUAL FRIEND RIA ASTRINI
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 4 No 2 (2016)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v4i2.15868

Abstract

Abstrak Mobilitas sosial adalah kemampuan individu atau kelompok untuk berpindah status sosialnya dengan arah ke bawah atau ke atas. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti ekonomi, pendidikan dan pernikahan. Seperti dalam novel karya Charles Dickens yang berjudul ‘Our Mutual Friend’ yang lebih banyak menonjolkan tentang mobilitas sosial yang terjadi dalam masyarakat. Beberapa karakter dalam novel mengalami mobilitas sosial dengan arah ke atas maupun ke bawah. Penelitian ini mengguanakan konsep mobilitas sosial sebagai pendekatan untuk menganalisis penelitian ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan faktor-faktor yang mempengaruhi beberapa karakter dalam cerita untuk mendapatkan perpindahan kelas sosial dan untuk menggambarkan mobilitas sosial yang merubah gaya hidup beberapa karakter dalam novel tersebut. Data dari penelitian tersebut diklasifikasikan berdasarkan faktor-faktor penyebab mobilitas sosial serta dampak dari mobilitas sosial tersebut yang berpengaruh pada gaya hidup. Jadi, hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa beberapa karakter dalam novel mengalami mobilitas sosial yang disebabkan oleh faktor tersebut serta memiliki dampak pada gaya hidup mereka. Kata Kunci: mobilitas sosial, konsep mobilitas sosial, faktor penyebab mobilitas sosial, gaya hidup Abstract Social mobility is the ability of the individual or group to move the social statues in downward or upward direction. It is caused by some factors such as economic, education and marriage. Like in Charles Dickens’ novel with the title of Our Mutual Friend who showed more about social mobility that occurred in society. Some characters in the novel got the social mobility in downward or upward direction. This study used concept of social mobility as the approach to analyse this study. The purpose of this study are to depict the factors that influence characters to achieve social mobility and to depict the characters’ lifestyle from the social mobility. The data from this study is classified based on the factors of social mobility and its impact on lifestyle. So, the result of this study showed that some characters in this novel got the social mobility because of those factors and got the impacts on their lifestyle. Keywords: social mobility, concept of social mobility, factors of social mobility, lifestyle.
CAL/CALLIOPE’S UNDOING GENDER IN JEFRREY EUGENIDES’MIDDLESEX ISMI FIRDIANY
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 4 No 2 (2016)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v4i2.15869

Abstract

Abstrak Skripsi ini fokus pada permasalahan undoing gender, karakter utama memiliki kelamin ganda. Masyarakat masih menganggap bahwa fenomena gender yang terjadi kepada seseorang yang mengalami intersex menjadi sebuah permasalahan gender di berbagai aspek masyarakat. Sebagian masyarakat menilai intersex adalah sebuah gangguan. Menurut konsep Judith Butler tentang undoing gender, permasalah utama adalah konsep gender dalam masyarakat. Jenis kelamin adalah sebuah wacana gender yang dibuat oleh itu sendiri. Sehingga manusia yang memiliki dua gender dalam satu tubuh mengalami ketidakstabilan gender, mereka dituntut untuk menampilkan gender sesuai dengan performa mereka. Masalah utama yang diangkat oleh penulis adalah : (1) Bagaimana gender Cal/Calliope terbentuk didalam novel Middlesex oleh Jeffrey Eugenides? (2) Bagaimana undoing gender terjadi kepada Cal/Calliope didalam novel Middlesex oleh Jeffrey Eugenides?. Penulis menggunakan teori Judith Butler tentang Undoing Gender untuk menjelaskan fenomena yang terjadi pada Cal/Calliope. Selain itu penulis menggunakan teori performance and performartivity untuk mendukung teori utama. Hasil dari analisis penulis adalah Cal/Calliope tetap mempertahankan kondisi intersex karena gender adalah sebuah wacana Cal/Calliope memilihi tidak menuruti norma masyrakat yang menilai manusia dari performanya. Sehingga Cal/Calliope memilih jenis kelamin laki-laki. Kata Kunci: jenis kelamin, gender, intersex, undoing gender, performance dan performrtivity Abstract This thesis focus on the undoing gender in the main character who has double sexes. The phenomenon of gender issues that still regard the people as the intersex is gender problem in many aspect in society. Most of people still judge the intersex as a disorder.. According to Judith Butler’s concept of undoing gender, the main case of this problem is gender, while gender is a discourse. If gender, for singular sexual genital subject, is unstable, thus for intersex the gender’s instability precisely goes to be reinforced because the subject has to perform two genders as the result of two sexes in one body as it is exposed in Jeffrey Eugenides’ Middlesex. Looking at this case, the analysis of this thesis is grounded on these two main questions: (1) How is Cal/Calliope gender can be formed depicted in Jeffrey Eugenides’ Middlesex? (2) How does undoing gender happen in Cal/Calliope as reflected in Jeffrey Eugenides’ Middlesex?.The analysis data of this thesis taken from the novel, and using Undoing Gender theory which analyzes Cal/Calliope’s gender in society. Beside, the performance and performartivity approach support to analyze Cal/Calliope to stays in his/her intersex condition. The result of analysis proved that both sex and gender are discourse. The way Cal/Calliope receives two discourses of gender is caused by two sexes in one body, it means he/she will understand of how to become woman and man, therefore an intersex strengthens that gender is unstable as it is performed and it can be undone. It means that Cal/Calliope has undo the gender construction by the way he/she rejects to be like what social norm wants; neither becoming woman and man, he/she remains silent of this construction, and he/she stays in intersex condition. Keywords: sex, gender, intersex, undoing gender, performance dan performrtivity.
Gender Issue : Celie’s Lesbian Aspects in Alice Walker’s The Color Purple
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 4 No 2 (2016)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v4i2.15870

Abstract

Abstrak Jurnal ini fokus pada aspek yang memengaruhi Celie untuk menjadi seorang lesbian pada di novel yang berjudul The Color Purple. Lebih lanjut lagi, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkap aspek-aspek yang menyebabkan Celie menjadi seorang lesbian. Penelitian ini menggunakan teori gender, konsep lesbianisme and juga beberapa teori yang berhubungan dengan pembentukan identitas seksual pada individu. Penelitian ini metode deskripsi kualitatif untuk menganalisa permasalahan. Penelitian ini mengungkapkan bahwa lesbian pada Celie dipengaruhi oleh tiga hal yaitu aspek biologis, aspek psikologis dan aspek social. Aspek biologis Celie berkenaan dengan kesamaan dan kemiripan gen dengan saudara biologisnya yang bernama nettie yang juga bisa dikategorikan sebagai seorang lesbian sehingga disimpulkan bahwa terdapat kemiripan dan kesamaan gen pada keduanya. Selanjutnya, aspek psikoligis Celie berhubungan dengan ketakutan, kemarahan dan kebencian Celie terhadap laki-laki terutama Pa sebagai ayah angkatnya dan Mr. Albert sebagai suaminya dan juga perasaan nyaman terhadap wanita terutama Nettie dan Shug Avery. Aspek terakhir yaitu aspek sosial yang mana berhubungan dengan lingkungan sosial Celie yang menganut sistem partiarkal yang mana memposisikan pria lebih dominan daripada wanita. Kata Kunci: Lesbian, sistem partiarkal Abstract This journal focuses on the aspects that influence Celie to be lesbian in the novel entitled The Color Purple. Moreover, the aim of this research is to reveals the aspects that influence Celie to be a lesbian. This study operates the theory of gender, a concept of lesbianism, and also the theory that influences and constructs the sexual identity of an individual. Descriptive qualitative method is applied to analyze the problems in this thesis. The study reveals that Celie’s lesbian is influenced by three aspects. They are biological aspect, psychological aspect and social aspects. Celie’s biological aspect deals with the sameness of Celie’s genes with her sister Nettie who is also considered as lesbian so both of Celie and Nettie has the sameness and similarity at their genes. Secondly, the psychological aspect of Celie deals with her fear, hate and hatred to men especially Pa as her step father and Mr. Albert as her husband and her comfortable feeling to women especially Nettie and Shug Avery. The last aspect is social and environmental aspect dealing with Celie’s environment which still follows partiarchal system of family that put man more dominant than woman. Key words: Lesbian, Partiarchal System
Prejudice Against Japanese-Americans in David Guterson’s Snow Falling on Cedars CORNELIA FIBULA R
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 4 No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (2016)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v4i3.16313

Abstract

FEMALE MASCULINITY OF FA MULAN AND ITS IMPACT TOWARDS HER RELATIONSHIP WITH MALE CHARACTERS IN DISNEY MOVIE MULAN RETNO SULISTIA
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 4 No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (2016)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v4i3.16319

Abstract

Abstract This study is aims at revealing the female masculinity or masculine character reflected in the character of Fa Mulan as depicted in Disney Movie Mulan and how the masculinity of her influences her idea in the relationship with the opposite gender. This literary study employs the concept of masculinity and female masculinity, the concept of gender role and those theories are used to analyze Fa Mulan’s masculinity and its impact on her relationship with male characters. The main data of this study is taken from Disney Movie Mulan in the form of captured scenes that represent the problems of the study. Based on the analysis, this study reveals that: Fa Mulan has more masculine character than feminine. She almost has the entire masculine characteristic in gender stereotypes. Her masculinity also gives impact towards her idea of relationship with her opposite gender. Keywords: gender stereotype, masculinity, femininity, female masculinity, the concept of masculinity Abstrak Tujuan ditulisnya skripsi ini adalah untuk membongkar apakah Fa Mulan yang notabenenya seorang gadis, memiliki karakteristik seorang pria dan dia memiliki sikap dan sifat yang kepria-prian. Sangat diketahui bahwa yang memiliki kemaskulinan ialah mereka yang berjender pria dan mereka yang memiliki kefeminitasan ialah mereka yang berjender wanita. Tujuan kedua ialah untuk mengungkapkan bahwa kemaskulinan yang ia miliki juga memiliki andil besar terhadap perkembangan perasaan dan pandangannya terhadap hubungan yang melibatkan asmara terhadap lawan jenisnya. Beberapa teori dan konsep telah disajikan untuk membantu dan mempermudah analisa terhadap karakter Mulan, seperti konsep maskulinitas oleh Peter Lehman dan wanita maskulin oleh Judith Halberstam, selain itu pandangan tentang stereotype terhadap jender juga dihadirkan untuk mempermudah analisa. Sedangkan data data di peroleh dari film animasi garapan Disney dalam bentuk tangkapan per scene dalam film. Dari hasil analisa didapatkan hasil bahwa Mulan memiliki karakteristik seorang pria dalam dirinya lebih banyak daripada kewanitaannya. Dia hampir memiliki semua karakteristik pria yang disebutkan dalam stereotype jender. Dan, diketahui pula bahwa kemaskulinannya memberikan dampak terhadap prkembangan perasaan dan pandangannya terhadap hubugan berbau asmara dengan lawan jenisnya. Kata Kunci: jender, maskulin, feminism, wanita masculine, konsep kemaskulinan.
Watanabe’s Bad Faith in Haruki Murakami’s Norwegian Wood
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 4 No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (2016)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v4i3.16322

Abstract

Abstrak Analisis eksistensial digunakan dalam studi ini untuk mendiskusikan fenomena keyakinan buruk atau bad faith yang dialami oleh tokoh utama, Watanabe, dalam novel Norwegian Wood karya Haruki Murakami. Analisis ekistensial berfokus pada pengalaman tokoh yang berhubungan dengan sikap tokoh dalam membuat keputusan dan memikul tangungjawab dalam hidupnya. Bad faith yang disebut juga sikap menipu diri sendiri merupakan sikap memungkiri kebebasan dan melimpahkan tanggung jawab dari setiap tindakan pada faktor dari luar diri tokoh. Penelitian ini menggunakan teori eksistensialisme dari Jean Paul Sartre tentang konsep bad faith untuk menganalisa aksi dan emosi tokoh Watanabe dalam novel dan menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk menganalisa bagaimana keyakinan buruk Watanabe digambarkan dalam novel. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa keyakinan buruk Watanabe diwujudkan dalam tindakan menyangkal kebebasan dan membiarkan dirinya dipengaruhi oleh peristiwa maupun orang-orang tertentu, memainkan peran dan mengabaikan pilihan atau kesempatan yang ada dalam hidupnya. Keyakinan buruk Watanabe bersumber dari rasa takut akan beban tanggungjawab dari kenyataan menyedihakn masa lalunya. Kata Kunci: bad faith, keautentikan, ekistensialisme. Abstract An existential analysis is applied in this study to discuss the phenomenon of bad faith experienced by the main character named Watanabe in Haruki Murakami’s Norwegian Wood. The existential analysis examines the character’s experiences related with his attitude dealing with making decisions and taking responsibility as an authentic human being. Watanabe is regarded as operating the attitude of living in bad faith. Bad faith, also called as self-deception, is an attitude of denying one’s innate freedom and relaying one’s actions on external determination. This study employs Jean Paul Sartre’s concept of bad faith in examining Watanabe’s action and emotion throughout the novel and uses descriptive-qualitative method to analyse how Watanabe’s bad faith is depicted in the novel. The result shows that Watanabe’s bad faith can be seen in the action of having no freedom in his life and letting himself to be determined by certain people and circumstances, playing role and denying choices in his life. Watanabe’s bad faith emerges from the fear of being responsible in facing the pathetic reality of his past. Keywords: bad faith, authenticity, existentialism.
Discrimination in Alison Cherry’s Red PRITA DYANTI PUTRI
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 4 No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (2016)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v4i3.16325

Abstract

Abstrak Diskriminasi adalah kasus umum yang dimiliki oleh setiap negeri, dengan berjalannya waktu orang-orang menggunakan diskriminasi dengan cara mereka sendiri. Sama halnya yang dilakukan Alison Cherry dalam novelnya, diskriminasi yang dia gunakan adalah diskriminasi berdasarkan warna rambut, disaat pada umumnya, hal yang biasanya menjadi topik dalam diskriminasi ada jenis kulit atau ras. Diskriminator mengekspresikan diskriminasi mereka dalam berbagai cara, dalam bentuk pola berpikir, sikap, pembicaraan, dan aksi mereka. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengungkap diskriminasi yang terjadi dalam sosial di novel, mengungkap penyebab diskriminasi, dan mengungkap reaksi Felicity, sebagai tokoh utama dalam novel. Studi ini menggunakan diskriminasi sebagai konsep umumnya dan menggunakan stereotipe dan prasangka sebagai konsep pendukung, yang mana dapat mendorong sikap diskriminasi dalam keseharian orang-orang. Studi ini menunjukkan bahwa diskriminasi yang ada dalam novel adalah diskriminasi terhadap orang berambut merah dan orang lain yang mempunyai warna rambut yang berbeda, fakta penyebab yang terkandung dalam novel ini adalah media massa yang mencuci otak, pidato walikota, dan menempatkan frasa yang sama di beberapa tempat vital di kota. Hal-hal tersebut membuat orang berambut merah merasa bahwa mereka lebih tinggi daripada orang lain, kemudian mereka mengekspresikan perasaan mereka dengan mendiskriminasi orang lain dalam kehidupan sehari-hari mereka. Kata Kunci: diskriminasi, stereotipe, prasangka, psikologi sosial. Abstract Discrimination is the general case that every country has, by the time people make discrimination in their own ways. As if Alison Cherry use in her novel, the discrimination that she use is discrimination based on hair color, while in general, the thing that usually become the topic of discrimination is skin type or race. Discriminatory expresses his or her discrimination in many ways; it could be by their attitude, behavior, talks, and their action. The purpose of this study is to reveal out the discrimination that happen in the society of the novel, to reveal out the cause of discrimination, and to reveal out the reaction of Felicity, as the main character in novel. This study use discrimination in social psychology as the general concept and use stereotype and prejudice as the supporting concept, which can stimulate discrimination behavior in people’s daily life. This study shows that discrimination, which exist in novel is about discrimination toward redhead people and other people who have different hair color, the causing facts that include in this novel are brain washing mass media, major’s speech, and putting the same phrase in the vital places in the city. Those facts make redheads feel that they are higher than other people, and then they express their feeling by discriminating other people in their daily life. Keywords: discrimination, stereotype, prejudice, social psychology.